You are on page 1of 6

ASUHAN KEPERAWATAN INTRA DIALITYC HYPOTENSION

Pendahuluan

Hemodialisis merupakan salah satu terapi ginjal pengganti yang banyak dilakukan pada
pasien gagal ginjal kronik, dengan tujuan menghilangkan gejala yaitu uremia , kelebihan
cairan dan gangguan keseimbangan elektrolit. ( Kallenbach, etal 2005 ) .
Meskipun hemodialysis relative aman bagi pasien, namun tindakan ini juga dapat
menimbulkan komplikasi.
Adapun komplikasi intradialisis pada umumnya adalah hipotensi, kram, mual muntah, nyeri
dada, gatal demam dan menggigil ( Holly, et al , 2007 ; Barkan et al , 2006 ). Komplikasi
intradialisis lain yang dapat terjadi yaitu hipertensi , DDS ( Hudak dan Gallo 1999 ).
Hipotensi intradialisis adalah salah satu komplikasi yang banyak terjadi sekitar 25% 55 %
( Holley , Berns 2007 ) Sedangakan dari data yang lain menununjukan 20% 35 %
( Daugridas 2007 )

Definisi

Banyak definisi yang menyebutkan tentang hipotensi intradialisis, menurut Shahgholian,


Ghafourifard dan Mortazavi ( 2008 ) hipotensi intradialisis adalah penurunan tekanan darah
dari sistolik > 30 % atau penurunan tekanan diastolic sampai dibawah 60 mmHg yang terjadi
pada saat pasien menjalani hemodialysis.
Hipotensi intradialisis juga dapat di definisikan sebagai penurunan tekanan darah sistolik >
40 mmHg atau diastolic > 20 mmHg dalam waktu 15 menit ( Teta 2006 ). Sedangkan
menurut National Kidney Foundation 2002 Hipotensi intradialisis didefinisikan sebagai
penurunan tekanan darah sistolik > 20 mmHg atau penurunan MAP > 10 mmHg saat pasien
hemodialysis yang dihubungkan dengan gejala; perut tidak nyaman, menguap, mual muntah
kram otot, pusing dan cemas. ( diambil dari tesis Yunie Armiaty )
Banyak faktor yang menyebabkan hipotensi intradialisis yaitu berhubungan dengan volume,
vasokontriksi yang tidak adekuat, faktor jantung dan lainya ( Daugridas , Blake & Ing, 2007 )

Adapun faktor hipotensi intradialisis ( diambil dari tesis Yunie Armiaty )menurut Thomas,
2003; Kallenbach, et al, 2005 ; Sulowicz dan Radziszaweski , 2006; FMCNCA , 2007 dan
Daugridas Blake dan Ing , 2007 yaitu :
1. Kecepatan ultrafiltrasi yang tinggi
2. Waktu dialysis yang pendek dengan ultrafiltrasi yang tinggi
3. Disfungsi Jantung
4. Disfungsi otonom ( diabet , uremia )
5. Terapi anti hipertensi
6. Makan selama hemodialysis
7. Tidak akuratnya dalam penentuan berat badan kering pasien
8. Luasnya permukaan membrane dialyzer
9. Hipokalsemia dan hipokalemi
10. Kadar natrium yang rendah dan penggunaan dialisat asetat
11. Perdarahan, Amenia dan sepsis serta hemolysis

Tanda dan Gejala


Tanda dan gelaja hipotensi intradialis yang terjadi pada mumumnya :
1. Tekanan darah < 90 / 60 mmHg
2. Sering pusing, dan menguap,
3. Penglihatan terkadang dirasakan kurang jelas (kunang-kunang) terutama sehabis duduk
lama lalu berjalan
4. Keringat dingin
5. Merasa cepat lelah tak bertenaga
6. Bahkan mengalami pingsan yang berulang.
7. Pada pemeriksaan secara umum detak/denyut nadi teraba lemah,
8. Penderita tampak pucat, hal ini disebabkan suplai darah yang tidak maksimum keseluruh
jaringan tubuh.

Pencegahan Hipotensi Intradialisis


1. Evaluasi Pasien
a. Pednilaian berat badan kering
b. Pengukuran tekanan darah dan nadi selama dialysis
c. Evaluasi kardiovaskuler

2. Intervensi Gaya Hidup


3. Faktor- Faktor yang Terkait dengan Terapi Dialisis
a. Optimalisasi UF : UF profiling
b. Waktu dialysis yang pendek dengan ultrafiltrasi yang tinggi
b. Komposisi dialisat
c. Makan selama hemodialysis
d. Alih program ke dialysis peritoneal
Penatalaksanaan Hipotensi Intradialisis
1. Posisi Trendelenberg
a. Pada pasien non-uremik yang mengalami hipotensi, posisi Trendelenberg ini tidak
meningkatkan TD
b. Volume darah yang kembali ke jantung bertambah
c. Efikasi?
penelitian : meningkatkan TD hanya 0,4%
2. Hentikan ultrafiltrasi
Mencegah penurunan volume darah dan diharapkan pengisian kembali volume darah dari
ruang interstitial Meningkatkan volume darah 2-2,3%
Perlambat Qb. tidak ada laporan perbedaan Qb terhadap parmeter
3. Hemodinamik Pemberian cairan
Pemberian cairan isotonik (saline)
Pemberian cairan koloid bila tidak respon terhadap saline
Tidak ada perbedaan efikasi antara infus albumin dan NaCl 0,9% pada terapi IDH
Terdapat perbaikan TD pada pemberian kombinasi dextran/salin hipertonik dibandig saline
3%
Respon TD (+) pada HES (hydroxyethylstarch) 10% dibanding saline hipertonik
HES terakumulasi pada PGK (3x lebih panjang) 100 ml HES 10%/minggu aman diberikan
pada IDH

Berdasarkan penyebab penanganan hipotensi dapat dilakukan :


1. Meningkatkan berat kering:
Salah satu penyebab hipotensi adalah penarikan cairan yang berlebihan ( Over Ultrafiltrasi ) ,
Tindakan yang dilakukan adalah dengan meningkatkan berat badan kering.
2. Natrium Profile:
Selama prosedur dialisis, zat terlarut akan terbawa dari kompartemen vaskuler, yang
mengarah ke osmolarity plasma menurun relatif terhadap kompartemen intraselular. Yang
menyebabkan penurunan terhadap tekanan darah sistemik. Penurunan osmolaritas dapat
ditingkatkan melalui penggunaan natrium rendah (biasanya 130) . Untuk mencegah hipotensi,
teknik pengaturan natrium (mulai dengan natrium dialisat lebih tinggi dan kemudian menurun
).
3. Menurunkan suhu dialisat:
Penurunan suhu dialisat dari 37 C sampai 36 C (atau bahkan 35C) mendorong vasokonstriksi
yang menimbulkan BP.
4. Ultrafiltrasi berurutan:
Ini mengacu pada praktek ultrafiltrasi , dapat terjadi diawal hemodialysis dimana ultrafiltarsi
yang terlalu berlebih di awal HD atau pun diakhir .
5. Penggunaan midodrine: ini adalah alpha-1-agonis yang bertindak sebagai vasoconstricter.,
baik sebelum atau selama dialisis
6. Penggunaan albumin:
mungkin berguna pada pasien yang kekurangan albumin, meskipun ini kontroversial (dan
mahal).
7. Penggunaan garis "-crit" monitor:
beberapa mesin dialisis dilengkapi dengan built-in, real-time "monitor hematokrit" yang
menentukan tingkat penyisihan fluida penurunan hematocrit dibawah garis "-crit" mungkin
merupakan tanda awal penurunan volume, Tindakan yang dilakukan adalah menghentikan
atau mengurangi ultrafiltrasi sebelum terjadi hipotensi.
8. Penggunaan Obat Anti Hipertensi
Beberapa pasien masih terjadi hipertensi yang disesbabkan adanya penumpukan cairan yang
berlebih, Oleh karena itu harus berhati hati dalam memberikan obat anti hipertensi.

E. ASUHAN KEPERAWATAN
Saat mengelola pasien hemodialysis, perawat harus menerapkan nursing process. Tujuan
penerapan asuhan keperawatan adalah untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul
melalui pengkajian dan perencanaan yang komprehensif (Thomas, 2003). Berikut penerapan
asuhan keperawatan pada pasien hemodialysis.
1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan sebelum dialysis meliputi pengkajian pasien dan perlengkapan
dialysis. Lemone dan Burke (2008), Thomas (2003) serta Kallenbach, et al (2005)
menyebutkan bahwa hal yang harus dikaji pada pasien hemodialysis adalah: 1) Tanda vital
meliputi tekanan darah duduk dan berdiri, nadi apical dan perifer, suhu dan pernafasan; 2)
Berat badan; 3) Status cairan (JVP, bunyi jantung, bunyi nafas dan edema); 4) Warna kulit,
temperature, turgor dan integritas; 5) Kepatenan akses vaskuler, adanya tanda perdarahan dan
infeksi; 6) Serum biokimiawi: potassium, posfat, kalsium, ureum, kreatinin dan hemoglobin.
Hal yang harus dikaji terkait dengan peralatan hemodialysis adalah: 1) Kepatenan dan
keutuhan membrane dialiser, dan memastikan dialiser sesuai dengan yang di resepkan: 2)
Memastikan bahwa selang tidak ada yang bocor: 3) Komposisi cairan dialisat termasuk
jumlah kalium dan kalsium sesuai yang diresepkan, temperature diatur pada suhu 35-370C;
4) Dialiser bebas bahan kimia; 5) Memastikan tidak ada udara dalam selang darah, tidak ada
selang yang terlipat; 6) Memastikan pompa darah telah diatur dan berfungsi dengan baik: 7)
Memastikan alarm telah diatur (Kallenbach, et al, 2005).

2. Diagnose Keperawatan
Berdasarkan pengkajian perawat dalam merumuskan diagnose keperawatan, diagnose
keperawatan yang mungkin muncul pada pasien terkait dengan terjadinya komplikasi saat
hemodialysis:
a. Resiko terjadi komplikasi injuri: hipotensi, hipertensi, sakit dada, sakit kepala, aritmia,
mual, muntah, menggigil, kejang, penurunan kesadaran, berhubungan dengan efek samping
tindakan hemodialysis.
b. Resiko perubahan perfusi jaringan (perifer, renal, kardiak dan cerebral) berhubungan
dengan sirkulasi darah sekunder terhadap adanya hipotensi dan hipertensi.
c. Resiko penurunan kardiak output berhubungan dengan hipotensi intradialisis, adanya
aritmia dan nyeri dada.
d. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala, nyeri dada, nyeri otot berhubungan dengan
penurunan perfusi jaringan.
e. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah yang muncul adalah:
a. Pengawasan kondisi pasien
Pengawasan (monitoring) merupakan intervensi utama untuk mencegah dan mengatasi
komplikasi. Pengawasan terhadap pasien dan mesin harus dilakukan perawat setiap jam pada
saat hemodialysis dan dilakukan lebih sering pada pasien yang tidak stabil ( Kallenbach, et,
al, 2005). Pengawasan saat hemodialysis menurut Lemone & Burke (2008) dan Kalllenbach,
et, al (2005) adalah:
(1) Pengawasan terhadap pasien meliputi pengawasan tanda vital, kesadaran dan respon
pasien selama prosedur.respon pasien dalam hal ini terkait dengan timbulnya komplikasi
berupa sakit kepala, sakit dada, kram, kejang, mual, muntah, dll.
(2) Pengawasan terhadap perlengkapan dan mesin meliputi pengawasan terhadap tekanan
arteri, tekanan vena, UFR, Qb, Qd, pengawasan dialiser, selang darah dan sambungan,
pengawasan setting pada monitor, pompa heparin dan alarm udara serta monitoring volume
darah dan nilai hematocrit selama hemodialysis.
b. Pengaturan ulang mesin dan perlengkapan
Pengaturan ulang dilakukan bila timbul komplikasi, misalnya dengan menurunkan UFR, Qb,
Qd, dan TMP serta pengaturan ulang suhu dialisat.

c. Melakukan keterampilan keperawatan


Keterampilan keperawatan yang perlu dilakukan diantaranya adalah; 1) Pengaturan posisi
pasien misalnya pengaturan posisi trendelenburg pada pasien hipotensi, pengaturan posisi
datar pada pasien hipertensi; 2) memberikan kompres hangat pada area yang nyeri terutama
pada otot dan pada pasien demam; 3) massage pada area yang nyeri (nyeri kepala, otot,
dada); 4) Dukungan psikologis pada pasien yang mengalami kecemasan.

d. Edukasi
Edukasi diberikan untuk mencegah komplikasi, meliputi edukasi tentang pentingnya
menurunkan berat badan antar dialysis, menghindari antihipertensi minimal 4 jam sebelum
dialysis, menghindari makan saat hemodialysis, mematuhi diit dan pembatasan cairan serta
melakukan hemodialysis secara rutin(Thomas 2003; Daugirdas, Blake & Ing, 2007).

e. Kolaborasi
Tindakan kolaborasi diberikan sesuai dengan permasalahan yang muncul. Kolaborasi yang
dapat dilakukan yaitu; 1) Pemberian infus NaCi 0,9% bolus untuk mengatasi hipotensi, mual
dan muntah; 2) Pemberian antiemetic pada pasien yang mengalami mual dan muntah; 3)
Pemberian quinine sulphate dan vitamin E sebelum hemodialysis untuk mencegah kram otot;
4) Pemberian oksigen pada pasien nyeri dada, aritmia dan sesak nafas; 5) Pemberian
nitrogliserin dan anti angina untuk mengatasi komplikasi nyeri dada; 6) Monitoring EKG
secara berkala pada pasien dengan komplikasi aritmia dan nyeri dada; 7) Pemberian anti
anafilaksis (antihistamin, efinefrin/adrenalin,hidrokortison, piriton) intra vena pada pasien
yang mengalami reaksi hipersensitif; 8) Pemberian Acetaminofen pada pasien dengan intra
dialysis headache (Kallenbach, et, al, 2005; Daugirdas, Blake & Ing, 2007).

4. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk menilai efektifitas hemodialysis dan tindakan keperawatan dalam
mencegah dan mengatasi komplikasi saat hemodialysis. Parameter pasien yang perlu dinilai
post hemodialysis adalah: 1) Penurunan berat badan pasien; 2) Perubahan tekana darah, nadi,
suhu tubuh dan pernafasan; 3) Status kesadaran; 4) Tidak ada kelebihan cairan; 5)
Berkurangnya keluhan subjektif pasien, seperti tidak adanya atau berkurangnya nyeri dada,
nyeri otot, sakit kepala, mual dan sesak nafas; 6) Total cairan yang masuk ke dalam tubuh; 7)
Akses vaskuler dan status perdarahan; 8) Penurunan nilai ureum, kreatinin, kalium, kalsium,
posfat dan asam urat (Kallenbach, et, al, 2005).

Perawat medical bedah di unit hemodialysis tidak hanya dituntut terampil dalam melakukan
asuhan keperawatan pada pasien hemodialysis, namun juga harus mampu melakukan
pendokumentasian asuhan keperawatan yang dilakukan dengan baik dan benar.
Pendokumentasian yang baik dan benar dapat dijadikan tanggung jawab dan tanggung gugat
perawat terhadap segala hal yang dilakukannya pada pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Asep Sumpena, ( 2002 ) , Panduan Hemodialisis Untuk Mahasiswa . Bandung


Elektronik ( Internet ) ( 2009 ) , Treatment Optrion For Intradialytic Hipotensin
Enday Suhandar, Prof ( 2006 ) , Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. FK UNPAD.
Bandung
Kumpulan Materi ( 2010 ), Teknik Hedmodialisis. Bandung
Rully M.A. Roesli, Prof ( 2008 ) Acute Kidney Injury. FK UNPAD. Bandung
Yunie Armyati ( 2009 ) , Komplikasi Intradialisis. FIK . UI. Jakarta