You are on page 1of 2

Suami-Isteri Beda NPWP,

Awas Kena Pajak Berlipat

Jumat, 29 Januari 2016 - 15:50

Oleh: Dewi Damayanti, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Ini seperti jebakan batman, keluhnya.

Pria paruh baya berpenampilan necis itu, sebut saja namanya Rico, mulai mengeluarkan
keluh-kesahnya. Sebagai seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta, dia dan isterinya
telah dipotong pajak oleh perusahaan tempat kerja mereka.

Dia menunjukkan formulir 1721-A1 sebagai bukti atas penghasilannya dan isteri telah
dipotong pajak. Namun karena sang isteri punya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sendiri,
akhirnya perhitungan pajaknya menjadi kurang bayar, akibat pengenaan tarif pajak progresif.

Kok Bisa?

Kenapa isteri saya dihimbau untuk ber-NPWP, kalau kayak gini akhirnya? protesnya lagi.

Ya, bisa saja masalah di atas terjadi. Bisa karena ketidaktahuan Wajib Pajak atas sebuah
konsekuensi perpajakan, saat isteri memutuskan memiliki NPWP sendiri, terpisah dari NPWP
suami misalnya. Atau karena kurangnya sosialisasi petugas pajak dalam penerapan sebuah
aturan terbaru.

Keluarga Sebagai Kesatuan Ekonomi

Sebenarnya Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) sendiri telah mengatur secara jelas
bahwa sistem pengenaan pajak Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan
ekonomis.
Penjelasan Pasal 8 UU PPh nomor 36 tahun 2008 menyatakan: penghasilan atau kerugian
dari seluruh anggota keluarga digabung sebagai satu kesatuan yang dikenai pajak dan
pemenuhan kewajiban pajaknya dilakukan oleh kepala keluarga ( dalam hal ini suami).

Maksudnya, penghasilan dan kerugian isteri akan dianggap sebagai penghasilan dan kerugian
suami, sehingga dikenai pajak bersama. Namun jika penghasilan isteri hanya didapat satu
pemberi kerja dan tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami, maka
tidak akan digabung. Dengan catatan penghasilan tersebut telah dipotong pajak oleh pemberi
kerja.

Maka atas penghasilan isteri tersebut akan dilaporkan dalam lampiran Surat Pemberitahuan
(SPT) tahunan, bukan dalam kolom induk. Yaitu dalam kolom: Penghasilan yang dikenakan
PPh Final dan/atau bersifat Final.

Sebagai konsekuensi kewajiban perpajakan ada di suami sebagai kepala keluarga, otomatis
kewajiban ber-NPWP itu juga ada pada suami. Mungkinkah suami isteri melakukan
kewajiban pajak terpisah, dan isteri memiliki NPWP sendiri?

Dalam Pasal 8 ayat (2) UU PPh mengatur ada tiga kondisi suami-isteri dapat dikenakan pajak
secara terpisah:

Pertama suami-isteri telah berpisah (bercerai). Sudah sewajarnya memang jika pajaknya
dikenakan terpisah. Biasanya tanggungan anak akan tergantung perjanjian, ikut suami atau
isteri.

Kedua berdasarkan perjanjian tertulis pisah harta oleh suami-isteri.

Ketiga isteri ingin melaksanakan hak dan kewajiban pajak terpisah dari suami, meski tidak
ada perjanjian tertulis pisah harta. Kasus Rico termasuk dalam kategori ini.

Dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2011 jelas mengatur jika isteri ingin
melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari suami harus
mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak.

Untuk pertimbangan pribadi (misal: mengajukan pinjaman bank, dll) isteri dapat saja
memiliki NPWP sendiri, terpisah dari suami karena memang aturannya memungkinkan.
Namun bagaimana dengan implikasi hukum pajaknya?

Penghitungan Pajak Suami-Isteri Beda NPWP

Ketika isteri dalam status kawin tanpa perjanjian tertulis pisah harta memiliki NPWP sendiri
maka pengenaan pajaknya telah diatur dalam Pasal 8 ayat (3) UU PPh, yaitu penghasilan neto
suami-isteri digabung kemudian besaran masing-masing pajak suami-isteri tersebut dihitung
sesuai perbandingan penghasilan neto mereka.

Resikonya pengenaan tarif pajak progresif atas penghasilan gabungan suami-isteri ini akan
mengakibatkan pajak mereka jadi kurang bayar, seperti yang dialami Rico di atas. Kita bisa
lihat ilustrasi perbandingan pajak yang dikenakan jika isteri punya NPWP sendiri atau jika
ikut suami.