You are on page 1of 13

Pengertian Kompetensi dan Kompetensi Guru

Kompeten dan kompetensi adalah dua kata yang semakin sering diucapkan dalam lingkup
bisnis maupun organisasi pemerintah belakangan ini. Saking seringnya, makna hakiki kedua
kata itu pun cenderung disederhanakan. Kompeten dan kompetensi, misalnya, dianggap sama
dengan keahlian atau kemampuan. Orang yang ahli di bidang teknik bangunan, umpamanya,
dianggap kompeten di bidang teknik bangunan. Padahal, kompetensi seorang ahli teknik
bangunan yang berprofesi sebagai dosen akan berbeda dengan ahli teknik bangunan yang
berprofesi sebagai Manajer Proyek. Di sini terlihat, bahwa kompetensi individu tidak bisa
berdiri sendiri hanya sebatas kebiasaan atau kemampuan seseorang, tetapi ia terkait erat
dengan tugas dan profesi yang dijalankan orang itu dalam pekerjaan.
Kompetensi diakui sebagai faktor yang memegang factor penting dalam keberhasilan
seseorang dalam pekerjaannya. Sebagai contoh guru sebagai salah satu profesi, Undang-
Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyatakan bahwa Guru wajib
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani,
serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya
Mendiknas RI melalui Permen Nomor 16 Tahun 2007 menetapkan Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru. Identifikasi kompetensi guru yang tepat dianggap memiliki
nilai prediksi yang valid untuk keberhasilan guru dalam pekerjaannya
Apakah arti sebenarnya kompetensi dan bagaimana pula dengan pengertian kompetensi
guru?, menjadi pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab. Pemahaman yang mendalam
tentang pengertian kompetensi akan memberikan dasar dalam upaya menjadi guru yang
berhasil sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Pengertian kompetensi
Untuk memahami pengertian standar kompetensi, hendaknya ditelusuri terlebih dahulu
pengertian dari kompetensi. Berkaitan dengan definisi/pengertian kompetensi, berikut
adalah pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan pengertian kompetensi tersebut:
Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi
mengemukakan Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab
yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam
melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Association K.U. Leuven mendefinisikan bahwa pengertian kompetensi adalah
peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk
melaksanakan satu cara efektiaaf.
Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari kompetensi yaitu: Competence is defined
as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge,
skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is
acquired through work experience and learning by doing.
Dari definisi di atas kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan
satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-
ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun
pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang
dilakukan.
Berdasarkan definisi kompetensi di atas, komponen-komponen atau karakteristik yang
membentuk sebuah kompetensi menurut Spencer & Spencer adalah :
1. Motives, yaitu konsistensi berpikir mengenai sesuatu yang diinginkan atau dikehendaki
oleh seseorang, sehingga me-nyebabkan suatu kejadian. Motif tingkah laku seperti me-
ngendalikan, mengarahkan, membimbing, memilih untuk menghadapi kejadian atau tujuan
tertentu.
2. Traits, yaitu karakteristik fisik dan tanggapan yang konsisten terhadap informasi atau
situasi tertentu.
3. Self Concept, yaitu sikap, nilai, atau imaginasi seseorang.
4. Knowledge, informasi seseorang dalam lingkup tertentu. Komponen kompetensi ini sangat
kompleks. Nilai dari knowledge test, sering gagal untuk memprediksi kinerja karena terjadi
kegagalan dalam mengukur pengetahuan dan kemampuan sesungguhnya yang diperlakukan
dalam pekerjaan.
5. Skills, yaitu kemampuan untuk mengerjakan tugas-tugas fisik atau mental tertentu.
Kelima komponen-kompetensi tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Komponen kompetensi motives dan traits disebut hidden compe-tency karena sulit untuk
dikembangkan dan sulit mengukurnya. Komponen kompetensi knowledge dan skills disebut
visible competency yang cenderung terlihat, mudah dikembangkan dan mudah mengukurnya.
Sedangkan komponen kompetensi self concept berada di antara kedua kriteria kompetensi
tersebut. Kompetensi merupakan kombinasi dari keterampilan (skill), pengetahuan
(knowledge), dan perilaku (attitude) yang dapat diamati dan di-terapkan secara kritis untuk
suksesnya sebuah organisasi dan prestasi kerja serta kontribusi pribadi seseorang terhadap
organisasinya.
Definisi yang diajukan oleh Spencer & Spencer menjelaskan bahwa dalam menggunakan
konsep kompetensi harus ada Kriteria Pembanding (Criterion Reference) untuk membukti-
kan bahwa sebuah elemen kompetensi mempengaruhi baik atau buruknya kinerja seseorang.
Pada umumnya setiap orang memiliki kinerja yang sama (average performance) tetapi ada
beberapa orang memiliki keahlian yang khusus (superior performance) sehingga harus
dibedakan dari orang-orang yang lain. Kriteria pembanding yang digunakan dalam konsep
kompetensi untuk membedakan superior performance dengan average per-formance adalah
sebagai berikut:
1. Cross Cultural Interpersonal Sensitivity
Kemampuan untuk memahami budaya orang lain melalui tingkah laku dan ucapannya, serta
untuk memprediksi bagai-mana mereka akan bereaksi.
2. Positive Expectations of Others
Kepribadian yang kuat dalam memahami formalitas dan nilai dari orang lain yang berbeda
dengan diri sendiri, dan kemampuan untuk mempertahankan pandangan positif ke-tika berada
dalam tekanan.
3. Speed in Learning Political Networks
Kemampuan untuk mengerti dengan cepat sehingga mempengaruhi apa dan siapa masing-
masing orang dalam kepentingan politiknya.
Rychen dan Salganik (2003:43-46), mendefinisikan kompetensi sebagai kemampuan untuk
berhasil dalam menghadapi tuntutan yang kompleks dalam konteks khusus melalui
pengerahan persyaratan psikososial (meliputi aspek kognitif dan non-kognitif). Fokus
utamanya adalah pada keberhasilan pencapaian seseorang melalui tindakan, pilihan, atau
berperilaku, yang merujuk tuntutan. Tindakan yang merujuk tuntutan ini melibatkan struktur
mental internal kemampuan, watak atau sumber yang melekat dalam individu.
Secara ringkas, seperti diadopsi DeSeCo (Definition and Selection of Competency) model
mendasar dari kompetensi adalah utuh dan dinamis dalam menghadapi tuntutan yang
kompleks, dengan menggabungkan prasyarat psikososial (meliputi kognitif, motivasi, etika,
kemamuan sendiri dan komponen sosial) dan konteks dalam sebuah sistem yang kompleks
yang menghasilkan kinerja terbaik atau tindakan seefektif mungkin. Jadi kompetensi tidak
terjadi secara bebas dari hubungan antara tindakan dan konteks. Malahan, dipahami dalam
hubungan ketergantungan dan dinyatakan dengan tindakan yang mempunyai tujuan yang
diberikan seseorang dalam sebuah situasi khusus.
Kompetensi Guru
Depdiknas merumuskan definisi kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-
nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Berdasarkan definsi
tersebut Rastodio (2009) mendefinisikan kompetensi guru sebagai penguasaan terhadap
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan
bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru.
Selanjutnya Kepmendiknas nomor 16 Tahun 2007 menetapkan standar kompetensi guru yang
dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi : kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial, dan profesional. Penjelasan keempat kompetensi ini secara ringkas dijelaskan sebagai
berikut :
1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran.
2. Kompetensi kepribadian adalah adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak
mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.
3. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara
efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan
masyarakat sekitar.
4. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan
mendalam.

4 Kompetensi yang Wajib Dikuasai Guru

Untuk menciptakan peserta didik yang berkualitas, guru harus menguasai 4 kompetensi.
Keempat kompetensi yang harus dikuasai guru untuk meningkatkan kualitasnya tersebut
adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Guru harus sungguh-
sungguh dan baik dalam menguasai 4 kompetensi tersebut agar tujuan pendidikan bisa
tercapai.

1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran peserta didik. Kompetensi yang merupakan kompetensi khas, yang
membedakan guru dengan profesi lainnya ini terdiri dari 7 aspek kemampuan, yaitu:

1. Mengenal karakteristik anak didik

2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran

3. Mampu mengembangan kurikulum

4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik

5. Memahami dan mengembangkan potensi peserta didik

6. Komunikasi dengan peserta didik

7. Penilaian dan evaluasi pembelajaran

2. Kompetensi Profesional.

Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan guru dalam mengikuti perkembangan ilmu
terkini karena perkembangan ilmu selalu dinamis. Kompetensi profesional yang harus terus
dikembangkan guru dengan belajar dan tindakan reflektif. Kompetensi profesional
merupakan kemampuan guru dalam menguasai materi pembelajaran secara luas dan
mendalam yang meliputi:

Konsep, struktur, metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar

Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah

Hubungan konsep antar pelajaran terkait

Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari

Kompetensi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan
budaya nasional

3. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial bisa dilihat apakah seorang guru bisa bermasyarakat dan bekerja sama
dengan peserta didik serta guru-guru lainnya. Kompetensi sosial yang harus dikuasai guru
meliputi:

Berkomunikasi lisan dan tulisan

Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional

Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang
tua/wali peserta didik

Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar

Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia

Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan

Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru

4. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi ini terkait dengan guru sebagai teladan, beberapa aspek kompetensi ini misalnya:

Dewasa

Stabil

Arif dan bijaksana

Berwibawa

Mantap

Berakhlak mulia

Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat

Mengevaluasi kinerja sendiri

Mengembangkan diri secara berkelanjutan


Keempat kriteria tersebut biasanya didapat dan dikembangkan ketika menjadi calon guru
dengan menempuh pendidikan di perguruan tinggi khususnya jurusan kependidikan. Perlu
adanya kesadaran dan keseriusan dari guru untuk mengembangkan dan meningkatkan
kompetensinya. Karena kian hari tantangan dan perubahan zaman membuat proses
pendidikan juga harus berubah.

Kompetensi Guru dalam Penerapan Tugas Keprofesionalannya

Implementasi Kompetensi Guru - Guru pada hakikatnya adalah seorang yang harus dihormati
dan juga orang yang bermata pencaharian sehari-harinya adalah mengajar. Guru memang
berbeda dengan pendidik lainnya seperti dosen, tutor, pembimbing, instruktur, dan
sebagainya. Sesuai dengan Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 bahwa:

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,


membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.

Dalam konteks guru, tentunya guru juga harus mempunyai keahlian khusus dalam
menjalankan profesinya tersebut. Keahlian khusus di sini dapat diistilahkan sebagai
Kompetensi. Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan. Dapat dikatakan kompetensi guru merupakan modal utama untuk menjadi
seorang guru demi mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen telah disebutkan
bahwa kompetensi guru empat macam, yaitu Kompetensi Pedagogik, Kompetensi
Kepribadian, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Professional. Dalam Undang-Undang
tersebut dangat jelas sekali bahwa guru harus mempunyai kemampuan atau keahlian khusus
dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan
nasional yaitu berkembengnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kompetensi Guru dalam Penerapan Tugas Keprofesionalannya

Guru merupakan tombak utama demi meningkatnya mutu pendidikan di Indonesia. Dengan
guru menerapkan kompetensi yang telah ditetapkan di atas, seyogyanya guru juga perlu
mensinergiskan dengan pengembangan inovasi pada pembelajaran yang diterapkan di
sekolah. Otomatis dengan inovasi pembelajaran yang diterapkan tentunya akan memberikan
dampak yang lebih meningkat dari segi hasil belajar siswa, baik dari segi kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan).

Untuk itu, kunci utama keberhasilan guru dalam mengapresiasikan tugas pokoknya adalah
mengetahui kompetensi yang perlu dimilikinya seperti yang telah ditetapkan pada Undang-
Undang di atas. Kemudian perlu juga meninjau pada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007
tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru nampaknya juga perlu kita
terapkan dan perlu juga pemerintah mensupervisi demi meningkatnya pendidikan di
Indonesia. Pasalnya hingga sekarang ini masih banyak kualifikasi akademik yang dimiliki
oleh guru yang belum sesuai dengan apa yang tercantum pada Permendiknas tersebut.
Kemudian pada Permendiknas tersebut juga dipaparkan tentang kompetensi guru yang lebih
jelas. Kompetensi-kompetensi tersebut adalah sebagai berikut:

4 Kompetensi Guru

[1] Kompetensi Pedagogik

Kompetensi ini menuntut guru memiliki kemampuan mengelola siswa yang meliputi
pemahaman terhadap siswa, perancangan, dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil
belajar, serta mengembangkan kecerdasan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimiliki. Komponennya antara lain mampu memnutuskan mengapa, kapan, di mana dan
bagaimana suatu materi mendukung tujuan pengajaran, dan bagaimana memilih jenis-jenis
materi yang sesuai untuk keperluan belajar siswa; mampu mengembangkan potensi siswa;
menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran; mengembangkan kurikulum yang mendorong
keterlibatan siswa dalam pembelajaran; merancang pembelajaran yang mendidik;
melaksanakan pembelajaran yang mendidik; menilai proses dan hasil pembelajaran yang
mengacu pada tujuan utuh pendidikan.

Advertiser

[2] Kompetensi Kepribadian

Guru dituntut memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, berakhlak
mulia yang menjadi teladan bagi siswa. Komponennya antara lain selalu menampilkan diri
sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa; selalu menampilkan diri
sebagai pribadi yang berakhlak mulia yang menjadi teladan bagi siswa; selalu berperilaku
sebagai pendidik profesional; mengembangkan diri secara berkesinambungan sebagai
pendidik profesional; mampu menilai kinerja sendiri yang dikaitkan dengan pencapaian
tujuan utuh pendidikan; pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang
seyogyanya dimiliki guru.

[3] Kompetensi Sosial

Adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien
dengan siswa, sesama guru, orang tua/wali siswa, dan masyarakat sekitar. Komponennya
antara lain mampu berkomunikasi secara efektif dengan orang tua siswa, sesama guru, dan
masyarakat sebagai stakeholders dari layanan ahlinya; berkontribusi terhadap perkembangan
pendidikan di sekolah dan masyarakat; berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan di
tingkat lokal, regional, dan nasional; mampu memanfaatkan materi untuk berkomunikasi dan
mengembangkan diri; dan mampu sebagai komunikator, inovator, dan emansipator.
[4] Kompetensi Professional

Kompetensi professional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas


dan mendalam yang memungkinkan guru dapat membimbing siswa untuk memenuhi standar
kompetensi yang ditetapkan dan Standar Nasional Pendidikan. Komponennya antara lain
kemampuan penguasaan materi/bahan pelajaran; kemampuan perencanaan program proses
belajar mengajar; kemampuan pengelolaan program belajar mengajar; kemampuan
menggunakan media dan sumber pembelajaran; kemampuan pelakasanaan evaluasi dan
penilaian prestasi siswa; kemampuan dalam diagnosis kesulitan belajar siswa; dan
kemampuan pelaksanaan administrasi kurikulum atau administrasi guru.

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi guru untuk mengetahui dan menerapkan kompetensi
tersebut demi tujuan pendidikan nasional. Dengan kompetensi tersebut, guru diharapkan akan
lebih profesional lagi dalam menjalankan tugas pokoknya. Untuk itu, perlu adanya supervisi
dari pemerintah akan pentingnya penerapan Permendiknas tersebut dengan kesesuaian guru
dalam kualifikasi akademik serta kesesuaian guru dalam kompetensi terutama dalam
keprofesionalannya yang disesuaikan dengan mata pelajaran yang diampu. Kemudian juga
perlu ada penerapan kompetensi tersebut yang disesuaikan dengan semboyan yang telah
dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu:

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

yang berarti di depan menjadi teladan, di tengah menumbuhkan motivasi, membangkitkan


semangat dan kreatifitas, serta di belakang memberi motivasi, mengawasi dan mengayomi.

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character


education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang
melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas,
maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian
remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik
orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara
tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.

Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral
(moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat
dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan
untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan
kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

1. Pendidikan Karakter Menurut Lickona

Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat
dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang
tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas
Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha
yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan,
dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

2. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto


Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi
ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, maupun negara.

3. Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya

Baca juga : Mengapa Perlu Adanya Pendidikan Karakter

Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut
adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan
mesin yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon
sesuatu (Kertajaya, 2010).

4. Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi

Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau
moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif
tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Nilai-nilai dalam pendidikan karakter

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja
Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah
air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli
lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.

Lebih jelas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dapat di lihat pada bagan dibawah ini
nilai-nilai pendidikan karakter

18 Nilai Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan
generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga
untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the
deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha
kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu
pembentukan karakter secara optimal.

Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat
tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan, metode
pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.