You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejarah antibiotik dimulai ketika ditemukannya obat antibiotik pertama oleh
Alexander Flemming yaitu Penicillin-G. Flemming berhasil mengisolasi senyawa
tersebut dari Penicillium chrysogenum syn. P. notatum. Dengan penemuan
antibiotik ini membuka sejarah baru dalam bidang kesehatan karena dapat
meningkatkan angka kesembuhan yang sangat bermakna. Kemudian terjadilah
penggunaan besar-besaran antibiotik pada saat perang dunia untuk pengobatan
berbagai macam penyakit. Masalah baru muncul ketika mulai dilaporkannya
resistensi beberapa mikroba terhadap antibiotik karena penggunaan antibiotik
yang besar-besaran. Hal ini tidak seharusnya terjadi jika kita sebagai pelaku
kesehatan mengetahui penggunaan antibiotik yang tepat.
Kemajuan bidang kesehatan diikuti dengan kemunculan obat-obat antibiotik
yang baru menambah tantangan untuk mengusai terapi medikamentosa ini.
Antibiotik tidak hanya dari satu jenis saja. Beberapa senyawa-senyawa yang
berbeda dan berlainan ternyata mempunyai kemampuan dalam membunuh
mikroba.
Untuk itu sudah menjadi kewajiban seorang dokter untuk dapat menguasai
bagaimana penggunaan antibiotik yang benar tersebut. Dimulai dengan
mengetahui jenis-jenis dari antibiotik dilanjutkan mengetahui mekanisme dan
farmakologi dari obat-obat antibiotik tersebut dan terakhir dapat mengetahui
indikasi yang tepat dari obat antibiotik tersebut. Semua ini bertujuan akhir untuk
meoptimalkan penggunaan antibiotik yang tepat dan efektif dalam mengobati
sebuah penyakit sekaligus dapat mengurangi tingkat resistensi.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan refarat ini adaah untuk menambah wawasan ilmu
pengetahuan bagi para dokter muda khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya sehingga diharapkan para calon dokter mampu mengenali,
Memahami dan menerapkan penggunaan dari Profil dari Antibiotik
Anaerob.

0.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bakteri Anerob

Merupakan Bakteri yang tidak dapat tumbuh dalam suasana O2 atau zat asam
karena dalam suasana ini akan terbentuk H2O2 yang bersifat toksik terhadap bakteri.
[1]
Sebab lain menyatakan dalam suasana zat asam potensi oksidasi-reduksi yang
diperlukan kuman anaerob tidak akan menurun.[1]

2.2 Klasifikasi

Bakteri anaerob dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu:[1][2]

1. Bakteri anaerob tidak berspora atau bakteri anaerob fakultatif, dan


2. Bakteri anaerob berspora atau bakteri anaerob obligat

Bakteri anaerob fakultatif

Streptococcus

Bakteri anaerob tidak berspora banyak terdapat pada tubuh manusia sebagai flora
normal yang dapat menimbulkan penyakit dalam keadaan tertentu seperti operasi atau
menurunkannya daya tahan tubuh.[2] Bakteri anaerob fakultatif adalah bakteri yang
dapat hidup dengan baik baik itu dengan oksigen atau tanpa oksigen.[1] Contoh-contoh
bakteri anaerob fakultatif adalah Streptococcus, Aerobacter aerogenes, Escherichia
coli, Lactobacillus, Alcaligenesis.[1]

1.
Bakteri anaerob obligat

Clostridium tetani

Berbeda dengan Bakteri anaerob berspora atau Bakter anaerob obligat adalah
bakteri yang tidak membutuhkan Oksigen dalam hidupnya dan jika ada oksigen
bakteri tersebut akan mati.[1] seperti Clostridium maka Bakteri anaerob ini sukar untuk
dibiak sehingga diperlukan persyaratan khusus seperti bahan pemeriksaan tidak boleh
kena zat asam, tidak boleh disimpan dalam lemari es sebelum diperiksa dan hasil
pembiakan memerlukan waktu lama.[2] Contoh adalah Bacteroides fragi'e, berbentuk
batang negatif Gram, banyak terdapat pada infeksi perut dan Fusobacterium
nucleatum yang dapat menyebabkan infeksi mulut.[2] Contoh kuman anaerob
berspora Clostridium tetani yang menyebabkan penyakit tetanus, Clostridium
perfringens (Welcehii) yang menyebabkan gangren gas, Closiridium botolinum yang
menyebabkan keracunan makanan.

Contoh-contoh lain dari bakteri anaerob obligat adalah Prevotella


melaninogenica (menyebabkan abses pada rongga mulut dan faring), Clostridium
tetani (menyebabkan kejang otot), Peptostreptococcus (menyebabkan abses otak dan
abses saluran kelamin wanita), Methanobacterium (menghasilkan gas metana),
dan Bacteroides fragilis (menyebabkan abses atau tumpukan nanah di usus).[1]

2.3 Antibiotik
2.3.1 Definisi

Kata antibiotik berasal dari bahasa yunani yaitu -anti (melawan) dan -biotikos
(cocok untuk kehidupan). Istilah ini diciptakan oleh Selman tahun 1942 untuk
menggambarkan semua senyawa yang diproduksi oleh mikroorganisme yang dapat
menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Namun istilah ini kemudian digeser
dengan ditemukannya obat antibiotik sinetis. Penggunaan istilah antimikroba
cenderung mengarah ke semua jenis mikroba dan termasuk di dalamnya adalah
antibiotik, anti jamur, anti parasit, anti protozoa, anti virus, dll. Namun dalam

2.
pembahasan ini hanya membicarakan proses penghambatan antibiotik dalam
membunuh bakteri
Mikroorganisme yang dihambat oleh antibiotik khusunya adalah bakteri. Maka
dari itu antibiotik bersinosim dengan anti-bakteri. Antibiotik berbeda dengan istilah
disinfectant karena desifektant membunuh kuman dengan cara membuat lingkungan
yang tidak wajar bagi kuman. Sedangkan kerja dari antibiotik adalah cenderung
bersifat Toksisitas Selektif dalam arti dapat membunuh kuman tanpa merugikan
inang.

2.3.2 Klasifikasi Antibiotik

Pembagian antibiotik dapat dibagi berdasarkan luasnya aktivitas antibiotik,


aktivitas dalam membunuh serta berdasarkan mekanisme obat antibiotik tersebut.
Berdasarkan luasnya aktivitas, antibiotik dibagi menjadi antibiotik spektrum luas dan
spektum sempit. Istilah luas mengandung arti bahwa antibiotik ini dapat membunuh
banyak jenis bakteri sedangkan sebaliknya, istilah sempit hanya digunakan untuk
membunuh bakteri yang spesifik yang telah diketahui secara pasti. Penggunaan
spektrum luas digunakan apabila identifikasi kuman penyebab susah dilakukan namun
kerugiaanya dapat menghambat pula bakteri flora normal dalam tubuh.
Berdasarkan aktivitas dalam membunuh, antibiotik dibagai menjadi
Bactericidal dan Bacteristatic. Antibiotik yang mempunyai sifat bakterisidal
membunuh bakteri target dan cenderung lebih efektif serta tidak perlu
menggantungkan pada sistem imun manusia. Sangat perlu digunakan pada pasien
dengan penurunan sistem imun. Yang termasuk baterisidal adalah -lactam,
aminoglycoside, dan quinolone. Bakteriostatik justru bekerja menghambat
pertumbuhan bakteri dan dapat memanfaatkan sistem imun host obat bakteriostatik
yang khas adalah tetracycline, sulfonamide, tetracycline, dan clindamycin
Bedasarkan mekanisme kerja, antibiotik dibagi menjadi 5 jenis, yaitu :
- Penghambatan sintetis dinding bakteri
- Penghambat membran sel
- Penghambatan sintetis protein di ribosom
- Penghambatan sintetis asam nukleat
- Penghambatan metabolik (antagonis folat)

3.
Dari masing-masing golongan terdapat mekanisme kerja, farmakokintetik,
farmakodinamik, serta aktivitas antimikroba yang berbeda-beda. Perbedaan ini
menyebabkan perbedaan kegunaan di dalam klinik Karena perbedaan ini juga maka
mekanisme resisistensi dari masing-masing golongan juga mengalami perbedaan.

Gambar 1. Tempat Kerja dari Masing-Masing Golongan Antibiotik

2.4 Antibiotik Anaerob


2.4.1 Tetracycline
Tetracycline yang pertama kali ditemukan adalah chlortetracycline yang
diisolasi dari Streptomycecs aureofaciens.

Struktur Kimia
Semua tetracycline mempunyai struktur yang sama. Obat ini tersedia sebagai
hidroklorida yang lebih larut. Larutan tersebut bersifat asam dan mudah berikatan erat
dengan ion-ion logam bervalensi 2 dan dapat mengganggu absorpsi dan aktivitas.

Gambar 2. Struktur Kimia Tetracyclines

4.
Aktivitas Antimikroba
Tetracycline cenderung merupakan antibakteri spektrum luas. Bersifat
bakteristatik baik untuk gram (+) dan gram (-) , bakteri anaerob, riketsia, clamidia,
micoplasma, serta untuk beberapa protozoa misalnya amuba.
Tetracyclin memasuki mikroba melalui difusi pasif dan transport aktiv sehingga
pada mikroba yang rentan terdapat penumpukan obat ini di dalam sel. Tetracycline
kemudian terikat reversible ke reseptor pada subunit 30S ribosom dalam posisi yang
menghambat pengikatan aminoasil-tRNA ke tempat akseptor pada komplek mRNA
ribosom. Efek lanjut adalah mencegah penambahan asam amino baru ke rantai
peptide yang tumbuh.

Resistensi
Resistensi muncul dengan perubahan permeabilitas pasif dan juga tidak adanya
transport aktif terhadap tetracycline. Resistensi ini muncul dipengaruhi genetik.
Kontrol resistensi oleh plasmid juga dapat resisteni terhadap obat golongan lain.
Penggunaan secara luas tetracycline bertanggung jawab terhadap resistensi terhadap
obat lain.

Farmakokinetik
- Absopsi tetracycline di usus bervariasi antara beberapa obat. Beberapa ada
yang tetap di usus dan dikeluarkan di tinja. Obat chlortetracycline hanya 30%
diasorpsi. Jenis lain hanya 60-80% untuk oxytetracycline dan
demeclocycline, 90-100% untuk doxycycline dan minocycline. Absorpsi
paling baik di usus halus bagian atas dan baiknya pada saat tidak makan
karena dapat diganggu jika ada kation bervalensi dua (Ca2+, Mg2+, Fe2+),
terutama dalam susu dan antasida. Pemberian parenteral tetracycline
biasanya diracik dengan buffer khusus
- Dalam darah terjadi ikatan protein berbagai tetracycline sebesar 40-80%.
Dengan dosis oral 500 mg tiap 6 jam dapat mencapai kadar 4-6 g/mL untuk
tetracycline hydrochlorid dan oxytetracycline. Doycycline dan minocycline
agak lebih rendah. Suntikan IV membuat kadar lebih tinggi untuk sementara
waktu. Distribusi tidak dapat mencapai cairan serebrospinal. Minosiklin khas
karena konsentrasi yang tinggi di air mata dan air liur. Tetracycline dapat
melintasi plasenta dan air susu.

5.
- Ekskresi terutama di empedu dan urin. Di empedu ekskresinya lebih banyak
dan mungkin diabsorpsi kembali di usus untuk mempertahankan kadar di
serum. Sekitar 50% jenis tetracycline diekskresi di glomerulus ginjal dan
dipengaruhi oleh keadaan gagal ginjal. Doxicycline dan minocycline
diekskresi lebih lambat sehingga di dalam serum lebih lama.

Kegunaan Klinik
- Tetracycline merupakan obat spektrum luas pertama dan telah digunakan
sewenang-wenang. Merupakan obat terpilih untuk infeksi Mycoplasma
pneumoniae, Clamidia, serta ricetsia. Obat ini juga berguna untuk infeki
bakteri campuran infeksi saluran pernafasan misalnya sinusitis dan
bronchitis. Dapat digunakan untuk infeksi Vibrio dan kolera namun resistensi
telah dilaporkan.
- Tetracycline efektif untuk infeksi infeksi melalui hubungan seksual yang
disebabkan clamidia. Doxycycline efektif terhadap leptospirosis. Untuk
protozoa yang dapat dihabat oleh tetracycline adalah Entamoeba hitolitika
atau Plasmodium falciparum (Doxicycline).

Efek Samping
Efek samping yag bisa timbul antara lain :
- Efek samping pencernakan seperti mual, muntah dan diare karena engubah
flora normal. Hal ini merupakan alasan penghentian dan pengurangan
pemberian tetracycline.
- Penumpukan di tulang dan gigi tetracycline sering terjadi. Kontra indikasi
pemberian pada ibu hamil karena dapat menumpuk di gigi janin yang
menyeabkan kekuning-kuningan pada gigi serta penumpukan di tulang yang
menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin dan anak umur dibawah 8
tahun.
- Hepatotoksis juga dapat diberikan jika diberikan pada dosis besar atau telah
terjadi insuficiensi hepar sebelumnya.
- Trombosis vena dapat terjadi pada pemberian IV
- Hiperfotosensitif terutama demeclocycline
- Reaksi vestibular seperti pusing, vertigo, mual, muntah (minocycline)

6.
2.4.2 Kloramfenikol
- Diproduksi oleh Streptomuces venezuelae.
- Pertama kali diisolasi oleh David
Gottlieb dari sampel tanah di Venezuela padatahun 1947.
- Diperkenalkan dalam pengobatan klinis pada tahun 1949.
- Penggunaannya cepat meluas setelah diketahui obat ini efektif untuk berbagai
jenis infeksi.

Golongan Obat
- Berspektrum luas.
- Kloramfenikol termasuk ke dalam golongan antibiotik penghambat sintesispro
tein bakteri.
Dosis dan Aturan pakai
- Dewasa: 50 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
- Anak: 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
- Bayi < 2 minggu: 25 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi tiap 6
jam. Setelahumur 2 minggu bayi dapat menerima dosis sampai 50
mg/kgBB/ hari dalam 4dosis tiap 6 jam.
Farmakokinetik
Absorbsi
- Diabsorbsi secara cepat di GIT, bioavailability 75% sampai 90%.
- Kloramfenikol oral : bentuk aktif dan inaktif prodrug,
- Mudah berpenetrasi melewati membran luar sel bakteri.
- Pada sel eukariotik menghambat sintesa protein mitokondria sehingga
menghambat perkembangan sel hewan & manusia.
- Sediaan kloramfenikol untuk penggunaan parenteral (IV) adalah water-
soluble.
Distribusi
- Kloramfenikol berdifusi secara cepat dan dapat menembus plasenta.
- Konsentrasi tertinggi : hati dan ginjal
- Konsentrasi terendah : otak dan CSF (Cerebrospinal fluid).

7.
- Dapat juga ditemukan di pleura dan cairan ascites, saliva, air susu. Dan
aqueou san vitreous humors
Metabolisme
- Metabolisme : hati dan ginjal
- Half-life kloramfenikol berhubungan dengan konsentrasi bilirubin.
- Kloramfenikol terikat dengan plasma protein 50%;
pasien sirosis dan pada bayi.
Eliminasi
Rute utama dari eliminasi kloramfenikol adalah pada metabolisme hepar ke inaktif
glukuronida.
Farmakodinamik
- Mekanisme:menghambat sintesis protein kuman.
- Masuk ke sel bakteri melalui diffusi terfasilitasi.
- Mekanisme resistensi : inaktivasi obat oleh asetil trensferase yang diperantarai
oleh factorR. Resistensi terhadap P. aeruginosa,Proteus dan Klebsielaterjadik
arena perubahan permeabilitas membran yang mengurangi masuknya obat ke
dalam sel bakteri
Penggunaan Klinis
1. Demam Tifoid
- Dosis: 4 kali 500 mg / hari sampai 2 minggu bebas demam. Bila terjadi relaps
biasanya dapat diatasi dengan memberikan terapi ulang.
- Anak:dosis 50-100 mg/kgBB sehari dibagi dalam beberapa dosis selama 10
hari
2.Meningitis Purulenta
Kloramfenikol+ampisilin
3. Ricketsiosis
Dapat digunakan jika pengobatan dengan tetrasiklin tidak berhasil
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
- Hanya digunakan untuk infeksi yang sudah jelas penyebabnya kecuali infeksi
berat.
- Pemeriksaan hematologik berkala pada pemakaian lama
- Keamanan pada wanita hamil dan menyusui belum diketahui dengan pasti.

8.
- Penderita dengan gangguan ginjal, bayi prematur dan bayi baru lahir (<2
minggu).
- Drugs interaction: obat-obatan dimetabolisme enzim mikrosom hati seperti
dikumarol, fenitoin, tolbutamid dan fenobarbital.

Efek Samping
Reaksi Hematologik
Terdapat dua bentuk reaksi:
- Reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang. Berhubungan
dengan dosis, progresif dan pulih bila pengobatan dihentikan.
- Prognosisnya sangat buruk karena anemia yang timbul bersifat
irreversibel. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama
pengobatan.
Reaksi Alergi
- Kemerahan pada kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis.
- Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan
demam typhoid.
Reaksi Saluran Cerna
- Mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.
Syndrom Gray
- Pada neonatus, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200
mg/kgBB).
Reaksi Neurologis
- Depresi, bingung, delirium dan sakit kepala. Neuritis perifer atau neuropati
optik dapat juga timbul terutama setelah pengobatan lama.
Interaksi dengan Obat Lain
- Kloramfenikol menghambat enzim sitokrom P450 irreversibel memperpanjan
g T (dicumarol, phenytoin, chlorpopamide, dan tolbutamide).
- Mengendapkan berbagai obat lain dari larutannya, merupakan antagonis kerja
bakterisidal penisilin dan aminoglikosida.
- Phenobarbital dan rifampin mempercepat eliminasi dari kloramfenikol.

9.
2.4.3 Metronidazole

Metronidazole

Obat Bermerek :

Biatron, Corsagyl, Dimedazol, Dumozol, Farnat, Fladex, Flagyl, Fortagyl, Grafazol,


Metrofusin, Metronidazole Fima, MetronidazoleFresenius, Metronidazole
Ikapharmindo, Metronidazole OGB Dexa, Molazol, Nidazole, Promuba, Rindozol,
Ronazol, Supplin, Tismazol, Trichodazol, Trogiar, Trogyl, Vadazol, Vagizol, Velazol

Komposisi
- Metronidazole Tablet : Setiap tablet mengandung Metronidazole 250 mg.
- Metronidazole Forte Tablet : Setiap tablet mengandung Metronidazole 500
mg.
- Metronidazole Sirup 125 mg/5 ml : Setiap 5 ml (1 sendok takar)
mengandung Metronidazole 125 mg.
Farmakologi
- Metronidazole adalah antibakteri dan antiprotozoa sintetik derivat
nitroimidazoi yang mempunyai aktifitas bakterisid, amebisid dan
trikomonosid.
- Dalam sel atau mikroorganisme metronidazole mengalami reduksi menjadi
produk polar. Hasil reduksi ini mempunyai aksi antibakteri dengan jalan
menghambat sintesa asam nukleat.
- Metronidazole efektif terhadap Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica,
Gierdia lamblia. Metronidazole bekerja efektif baik lokal maupun sistemik.
Indikasi
- Trikomoniasis, seperti vaginitis dan uretritis yang disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis.
- Amebiasis, seperti amebiasis intestinal dan amebiasis hepatic yang disebabkan
oleh E. histolytica.
- Giardiasis.
- Balantidiasis.
- Blastocystis.
- Penyakit infeksi gigi.

10.
- Gingivitis (peradangan gusi) ulseratif nekrotikans.
- Infeksi bakteri anaerob.
- Antibiotik profilaksis operasi.
- Infeksi Helicobacter pylori.
Kontraindikasi
- Metronidazole jangan diberikan kepada penderita hipersensitif/alergi terhadap
Metronidazole atau derivat nitroimidazole lainnya.
- Metronidazole jangan diberikan pada kehamilan trimester pertama.
Peringatan Dan Perhatian
- Metronidazole tidak dianjurkan untuk penderita dengan gangguan pada
susunan saraf pusat, diskrasia darah, kerusakan hati, ibu menyusui dan dalam
masa kehamilan trimester II dan III.
- Pada terapi ulang atau pemakaian lebih dari 7 hari diperlukan pemeriksaan sel
darah putih .
- Pada penderita penyakit hati berat diperlukan pengukuran kadar obat dalam
plasma.
Efek Samping
- Mual, sakit kepala, anoreksia, diare, nyeri perut ulu hati dan konstipasi.
- Sariawan dan glositis karena pertumbuhan kandida yang berlebihan di rongga
mulut.
- Leukopenia dan trombositopenia yang bersifat sementara (transien).
- Reaksi hipersensitivitas/alergi.
- Peningkatan enzim fungsi hati, hepatitis kolestatik, dan jaundice (penyakit
kuning)
- Efek samping yang berpotensi fatal : Reaksi anafilaksis.
Interaksi Obat
- Metronidazole menghambat metabolisme warfarin dan dosis antikoagulan
kumarin lainnya harus dikurangi. Metronidazole meningkatkan risiko efek
samping antikoagulan kumarin.
- Pemberian alkohol selama terapi dengan metronidazole dapat menimbulkan
gejala seperti pada disulfiram yaitu mual, muntah, sakit perut dan sakit kepala.
- Dengan obat-obat yang menekan aktivitas enzim mikrosomal hati seperti
simetidin, akan memperpanjang waktu paruh metronidazole.

11.
Dosis Dan Aturan Pakai
Trikomoniasis :
- Pasangan seksual dan penderita dianjurkan menerima pengobatan yang sama
dalam waktu bersamaan.
- Dewasa : Untuk pengobatan 1 hari, 2 g 1 kali atau 1 gram 2 kali sehari. Untuk
pengobatan 7 hari, 250 mg 3 kali sehari selama 7 hari berturut-turut.
Amebiasis :
- Dewasa : 750 mg 3 kali sehari selama 10 hari.
- Anak-anak : 35 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3 kalisehari, selama
10 hari.
Giardiasis:
- Dewasa : 250 500 mg 3 kali sehari selama 5 7 hari atau 2 g 1 kali
sehari selama 3 hari.
- Anak-anak: 5 mg/kg BB 3 kali sehari selama 5-7 hari.
Kemasan
- Metronidazole tablet 250 mg.
- Metronidazole forte tablet 500 mg.
- Metronidazole sirup 125 mg/5 ml.

2.4.4 Clindamycin

Clindamycin / Klindamisin

Obat Bermerek :

Albiotin, Anerocid, Biodasin, Cindala, Climadan, Clinbercin, Clindexin, Clinex,


Clinidac, Clinika, Clinium, Clinjos, Clinmas, Comdasin, Dacin, Daclin-300, Dalacin,
Ethidan, Indanox, Lando, Lindacyn, Lindan, Mediklin, Milorin, Niladacin, Nufaclind,
Opiclam, Probiotin, Prolic, Xeldac, Zumatic.

Komposisi
- Tiap kapsul Clindamycin 150 mg mengandung Clindamycin HCl
(klindamisin hidroklorida)163 mg setara dengan Clindamycin base 150 mg.
- Tiap kapsul Clindamycin 300 mg mengandung Clindamycin HCl (klindamisin
hidroklorida) 326 mg setara dengan Clindamycin base 300 mg.

12.
Farmakologi
Clindamycin adalah antibiotik yang spektrumnya menyerupai Linkomisin namun
aktivitasnya lebih besar terhadap organisme yang sensitif. Clindamycin efektif
terhadap bakteri Staphylococcus aureus, D. pneumoniae, Streptococcus pyogenes,
Streptococci(kecuali Streptococcus faecalis), Streptococcus viridans dan Avtinomyces
israelli serta efektif terhadap Bacteroides fragilis dan kuman patogen anaerob yang
peka lainnya. Clindamycin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri.
Indikasi

Indikasi Clindamycin adalah infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif
terhadap Klindamisin terutama Streptokokus, Pneumokokus, Stafilokokus dan bakteri
anaerob seperti :

- Infeksi serius saluran nafas bagian bawah,


- Infeksi serius kulit dan jaringan lunak,
- Osteomielitis,
- Infeksi serius intra-abdominal,
- Septikemia / sepsis,
- Abses intra-abdominal,
- Infeksi pada panggul wanita dan saluran kemih.
Kontraindikasi

Clindamycin kontraindikasi bagi pasien yang yang hipersensitif atau alergi terhadap
clindamycin HCl atau linkomisin.

Indeks Keamanan Pada Wanita Hamil

B: Baik penelitian reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko pada janin maupun
penelitian terkendali pada wanita hamil atau hewan coba tidak memperlihatkan efek
merugikan (kecuali penurunan kesuburan) dimana tidak ada penelitian terkendali
yang mengkonfirmasi risiko pada wanita hamil semester pertama (dan tidak ada bukti
risiko pada trisemester selanjutnya).
Dosis Dan Aturan Pakai
- Orang dewasa yang menderita infeksi serius : 150-300 mg tiap 6 jam.
Bisa ditingkatkan menjadi 300-450 mg tiap 6 jam jika perlu.

13.
- Anak-anak dengan infeksi berat : 8-16 mg/kg berat badan dalam 3-4 dosis
terbagi.

Untuk mencegah kemungkinan timbulnya iritasi lambung dan kerongkongan


(esofageal), obat harus diminum dengan segelas air penuh.

Efek Samping

Berikut ini efek samping klindamisin yang dapat terjadi :

- Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare dan kolitis


pseudomembranousa.
- Reaksi hipersensitif atau alergi seperti pruritus, rash, atau urtikaria.
- Gangguan hati seperti jaundice, abnormalitas test fungsi hati.
- Gangguan ginjal seperti disfungsi ginjal (azotemia, oliguria, proteinuria).
- Gangguan darah / hematologi seperti neutropenia sementara (leukopenia),
eosinofilia, agranulositosis, dan thrombositopenia.
- Gangguan muskuloskeletal seperti polyarthritis.
Peringatan Dan Perhatian
- Keamanan penggunaan Clindamycin pada wanita hamil dan ibu menyusui
belum diketahui dengan pasti.
- Perlu dilakukan pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya super infeksi
dengan bakteri dan jamur.
- Selama penggunaan jangka panjang perlu dilakukan pemeriksaan hematologi,
fungsi hati dan ginjal.
- Hati-hati penggunaan Clindamycin pada penderita kerusakan hati atau ginjal
yang berat.
- Hentikan pemakaian Clindamycin, jika selama pengobatan timbul mencret
secara berlebihan.
- Terapi dengan Clindamycin dapat menyebabkan kolitis berat yang dapat
berakibat fatal. Oleh karena itu pemberian clindamycin dibatasi untuk infeksi
serius dimana tidak dapat diberikan antimikroba yang kurang toksik misalnya
eritromisin.
- Clindamycin tidak boleh digunakan untuk infeksi saluran nafas bagian atas
(ISPA).

14.
- Pemberian pada bayi dan neonatus harus disertai pengamatan fungsi sistem
organ yang tepat.
- Karena clindamycin tidak dapat mencapai cairan serebrospinal dalam jumlah
yang memadai, maka clindamycin tidak dapat digunakan untuk pengobatan
meningitis.
- Secara in vitro menunjukkan adanya antagonisme antara clindamycin dan
eritromisin. Karena kemungkinan itu secara klinis dapat terjadi, maka kedua
obat ini tidak boleh diberikan secara bersamaan.
- Hati-hati pemberian Clindamycin pada penderita dengan riwayat penyakit
saluran pencernaan terutama kolitis, serta penderita atopik.
- Prosedur pembedahan harus sudah ditentukan sehubungan dengan
digunakannya antibiotika ini.
- Hati-hati penggunaan Clindamycin pada penderita yang mendapat terapi obat-
obat penghambat neuromuskular karena dapat meningkatkan kerja obat-obat
penghambat neuromuskular.
Interaksi Obat
- Antidiare, adsorbens.
- Tidak dianjurkan penggunaan bersama-sama dengan kaolin atau attapulgite
yang dikandung dalam obat antidiare.
Kemasan
- Clindamycin kapsul 150 mg, Kotak, berisi 10 blister @ 10 kapsul.
- Clindamycin kapsul 300 mg, Kotak, berisi 10 blister @ 10 kapsul.

2.4.5 Sefalosforin
Antibiotik turunan sefalosporin merupakan antibiotik yang paling banyak
digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi. Antibiotik ini mempunyai spektrum
antibakteri yang luas dan lebih resisten terhadap -laktamase daripada penisilin.
Pasien yang alergi terhadap penisilin biasanya tahan terhadap antibiotik ini (Sudjadi,
2008).
Sefalosporin termasuk antibiotika beta laktam dengan struktur, khasiat, dan
sifat yang banyak mirip penisilin, tetapi dengan keuntungan-keuntungan sebagai
berikut :
Spektrum antibakterinya lebih luas tetapi tidak mencakup enterokoki dan kuman-
kuman anaerob.

15.
Resisten terhadap penisilinase asal stafilokoki, tetapi tetap tidak efektif terhadap
stafilokoki yang resisten terhadap metisilin (MRSA) (Tjay & Kirana, 2007).
Sefalosporin berasal dari fungus Cephalosporium acremonium yang diisolasi
pada tahun 1948 oleh Brotzu (Departemen Farmakologi dan Terapi FK UI, 2007).
Inti dasar sefalosporin C ialah asam 7-amino-sefalosporanat (7-ACA: 7-
aminocephalosporanic acid) yang merupakan kompleks cincin dihidrotiazin dan
cincin betalaktam. Sefalosporin C resisten terhadap penilisilinase, tetapi dirusak oleh
sefalosporinase. Hidrolisis asam sefalosporin C menghasilkan 7-ACA yang kemudian
dapat dikembangkan menjadi berbagai macam antibiotik sefalosporin. Modifikasi
R1 pada berbagai pada posisi 7 cincin betalaktam dhubungkan dengan aktivitas
antimikroba, sedangkan substitusi R2 pada posisi 3 cincin hidrotiazin mempengaruhi
metabolisme dan farmakokinetiknya (Departemen Farmakologi dan Terapi FK UI,
2007).
Seperti antibiotik Betalaktam lain, mekanisme kerja antimikroba Sefalosporin
ialah dengan menghambat sintesis dinding sel mikroba. Yang dihambat adalah reaksi
transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel.
Sefalosporin aktif terhadap kuman gram positif maupun garam negatif, tetapi
spektrum masing-masing derivat bervariasi (Medicastore, 2006).

Aktivitas Antimikroba dan Penggolongan Sefalosporin


Mekanisme kerja antimikroba sefalosporin ialah dengan menghambat sintesis
dinding sel mikroba dimana yang dihambat adalah reaksi transpeptidase tahap ketiga
dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Sefalosporin terhadap kuman gram-
positif maupun gram-negatif, tetapi spektrum antimikroba masing-masing derivat
bervariasi (Departemen Farmakologi dan Terapi FK UI, 2007).
Sefalosporin dibagi menjadi 4 generasi berdasarkan aktivitas antimikrobanya
yang secara tidak langsung juga sesuai dengan urutan masa pembuatannya.
1. Sefalosporin generasi pertama
Secara in vitro memperlihatkan spektrum antimikroba yang terutama efektif
terhadap kuman gram positif. Golongan ini efektif terhadap sebagian
besar Staphylacoccus aureus dan Streptococcus termasuk Str. pyrogenes, Str.viridans,
dan Str. pneumonia. Bakteri gram positif yang juga sensitif ialah Clostridium
perfringens, Listeria monocytogenes dan Corynebacterium diphteriae. Aktivitas
antimikroba hanya sefalotin sedikit lebih aktif terhadap S. aureus. Mikroba yang

16.
resisten ialah strain S. aureus resisten metisilin, S. epidermidis dan Str.
faecalis (Departemen Farmakologi dan Terapi FK UI, 2007).
2. Sefalosporin generasi kedua
Golongan ini kurang aktif terhadap bakteri gram positif dibandingkan dengan
generasi pertama, tetapi lebih aktif terhadap gram negatif. Misalnya: H.
Influenzae, Pr. mirabilis, E. coli dan Klebsiella. Golongan ini tidak efektif
terhadap Ps. Aeruginosa dan enterokokus. Untuk infeksi saluran empedu golongan ini
tidak dianjurkan karena dikhawatirkan enterokokus termasuk salah satu penyebab
infeksi. Sefoksitin aktif terhadap kuman anaerob (Departemen Farmakologi dan
Terapi FK UI, 2007).
3. Sefalosporin generasi ketiga
Golongan ini umunya kurang efektif dibandingkan dengan generasi pertama
terhadap kokus gram positif, tetapi jauh lebih aktif terhadap Enterobacteriaceae,
termasuk strain penghasil penisilinase. Di antara sediaan golongan ini ada yang aktif
terhadap P. aeruginosa (Departemen Farmakologi dan Terapi FK UI, 2007).
4. Sefalosporin generasi keempat
Antibiotika golongan ini (misalnya sefepim, sefpirom) mempunyai spektrum
aktivitas lebih luas dari generasi ketiga dan lebih stabil terhadap hidrolisis oleh beta
laktamase. Antibiotika tersebut dapat berguna untuk mengatasi infeksi kuman yang
resisten terhadap generasi ketiga (Departemen Farmakologi dan Terapi FK UI, 2007).

Ada juga pembagian sefalosporin menjadi 3 kelompok berdasarkan sifat


farmakokinetik dan farmakodinamik yaitu:
1. Sefalosporin untuk pemakaian parenteral yang stabilitasnya terhadap -
laktamase tidak dipertinggi
Senyawa dari kelompok pertama ini (identik dengan kelompok I) spektrum kerjanya
hampir sama dengan ampisilin akan tetapi senyawa inijuga masih efektif terhadap
stafilokokus yang membentuk penisilinase. Sebaliknya oleh mikroba gram negatif
pembentuk -laktamase akan diinaktivasi (Mutschler, 1991).
2. Sefalosporin untuk pemakaian parenteral yang stabilitasnya terhadap -
laktamase dipertinggi
Termasuk obat dari kelompok III-VII. Obat kelompok III terhadap E. coli, H.
Influenzae, Klebsiella, Neisseria dan Proteus mirabilis lebih berkhasiat daripada
sefalosporin kelompok Iakan tetapi sama seperti kelompok I senyawa ini juga

17.
diinaktivasi oleh beberapa -laktamase. Obat kelompok IV hampir terhadap semua
basil gram negatif lebih aktif daripada sefalosporin kelompok I. Yang resisten
adalah Ps. Aeruginosa dan banyak galur dari Citrobacter, Enterobacter, Proteus
vulgaris, dan Serratia. Obat kelompok V bila dibandingkan dengan senyawa
kelompok IV mempunyai spektrum lebih luas. Obat kelompok VI mempunyai
spektrum kerja yang sangat luas dan aktivitas antibakteri yang lebih kuat terhadap
mikroba gram negatif dibandingkan dengan sefalosporin lain (Mutschler, 1991).
3. Sefalosporin oral
Spektum kerjanya sangat mirip dengan sefalosporin kelompok I selain itu juga
menghambat H. influenzae. Walaupun demikian kerja antibakterinya lebih kecil
daripada kerja senyawa yang digunakan secara parenteral. Karena itu pada infeksi
yang membahayakan jiwa sefalosporin oral tidak digunakan (Mutschler, 1991).

Farmakokinetik
Dari sifat farmakokinetiknya, sefalosporin dibedakan dalam dua golongan.
Sefaleksin, sefradin, sefaklor dan sefadroksil yang dapat diberikan per oral karena
diabsorpsi melalui saluran cerna. Sefalosporin lainnya hanya dapat diberikan secara
parenteral. Sefalotin dan sefa pirin umumnya diberikan secara i.v karena
menyebabkan iritasi lokal dan nyeri pada pemberian i.m (Departemen Farmakologi
dan Terapi FK UI, 2007).
Beberapa sefalosporin generasi ketiga misalnya sefuroksim, moksalaktam,
sefotaksim dan seftizoksim mencapai kadar yang tinggi di cairan serebrospinal (CSS)
sehingga dapat bermanfaat untuk pengobatan meningitis purulenta. Selain itu,
sefalosporinjuga melewati sawar darah uri, mencapai kadar tinggi di cairan sinovial
dan cairan perikardium. Pada pemberian sistemik, kadar sefalosporin generasi ketiga
di cairan mata relatif tinggi tetapi tidak mencapai vitreus. Kadar sefalosporin dalam
empedu umumnya tinggi, terutama sefoperazon(Departemen Farmakologi dan Terapi
FK UI, 2007).
Kebanyakan sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh melalui ginjal, dengan
proses sekresi tubuli, kecuali sefoperazon yang sebagian besar diekskresi melalui
empedu. Karena itu dosisnya harus dikurangi pada penderita insufisiensi ginjal.
Probenesid mengurangi ekskresi sefalosporin, kecuali moksalaktam dan beberapa
lainnya. Sefalotin, sefapirin dan sefotaksim mengalami deasetilasi; metabolit yang

18.
aktivitas antimikrobanya lebih rendah juga diekskresi melalui ginjal (Departemen
Farmakologi dan Terapi FK UI, 2007).
Suatu langkah metabolisme yang penting adalah deasetilasi. Turunan
deasetilnya mempunyai aktivitas setengah sampai sepersepuluh aktivitas senyawa
asalnya. Sefalosporin yang tidak mempunyai gugus asetil, sebagian besar akan
diekskresi dalam bentuk tidak berubah. Ekskresi terjadi melalui ginjal dan sebagian
melalui empedu. Pada insufisiensi ginjal ekskresi sefalosporin umumnya diperlambat,
karena itu pengaturan dosis harus disesuaikan dengan tingkat insufisiensi ginjalnya
(Mutschler, 1991).

Indikasi Klinik
Sefadezon dan sefazolin digunakan pada pneumonia (primer) dan infeksi luka
yang didapat di luar rumah sakit, pada infeksi yang disbabkan oleh mikroba yang
peka terhadap penisilin G tetapi pasien alergi terhadap penisilin. Sefalosporin
kelompok III-V dapat digunakan pada infeksi bakteri yang parah yang disebabkan
oleh stafilokokus atau basil gram negatif yang resisten (misalnya pada septikopiemia,
pada pneumonia sekunder, infeksi luka dan jaringan yang parah). Sefoksitin juga
digunakan untuk terapi infeksi campuran dengan kuman anaerob (misalnya pada
gangren) (Mutschler, 1991).
Sefalosporin kelompok VI digunakan pada infeksi parah yang membahayakan
jiwa terutama jika diduga disebabkan oleh kuman yang multiresisten dan daya tahan
tubuh sudah melemah. Sefalosporin oral dipakai pada infeksi saluran nafas, saluran
urine, dan infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman yang peka (misalnya
stafilokokus, E. coli, Klebsiella) (Mutschler, 1991).
Sediaan sefalosporin seyogyanya hanya digunakan untuk pengobatan infeksi
bakteri berat atau yang tidak dapat diobati dengan antimikroba lain, sesuai dengan
spektrum antibakterinya. Anjuran ini diberikan karena selain harganya mahal, potensi
antibakterinya tinggi (Medicastore, 2006).

Pengaturan Dosis
Pengaturan dosis disesuaikan dengan parah ringannya penyakit, pada
sefalosporin oral berkisar rata-rata 1-4 g per hari, sedangkan pada sefalosporin yang
digunakan secara parenteral 2-6 atau hingga 12 g per hari (Mutschler, 1991).

19.
Efek Samping
Reaksi alergi merupakan efek samping yang paling sering terjadi sekitar 1-4%
tetapi syok anafilaktik jarang terjadi. Reaksi mendadak yaitu anafilaksis dengan
spasme bronkus dan urtikaria dapat terjadi. Reaksi Coombs sering timbul pada
penggunaan sefalosporin dosis tinggi. Depresi sumsum tulang terutama
granulositopenia dapat timbul meskipun jarang. Sefalosporin merupakan zat yang
nefrotoksik, meskipun jauh kurang toksik dibandingkan dengan aminoglikosida dan
polimiksin. Nekrosis ginjal dapat terjadi pada pemberian sefaloridin 4 g/hari.
Sefalosporin lain pada dosis terapi jauh kurang toksik dibandingkan dengan
sefaloridin (Departemen Farmakologi dan Terapi FK UI, 2007).
Kerusakan ginjal yang terlihat pada pemakaian sefaloridin, tidak banyak
terjadi pada preparat yang lebih baru. Walaupun pun demikian pada pasien dengan
insufisiensi ginjal dan pada yang membutuhkan dosis tinggi, fungsi ginjal harus selalu
dikontrol. Kombinasi dengan gentamisin atau tobramisin mempermudah terjadinya
nefrotoksisitas (Mutschler, 1991).
Diare dapat timbul terutama pada pemberian sefoperazon, mungkin karena
ekskresinya terutama melalui empedu, sehingga mengganggu flora normal usus.
Pemberian sefamandol, moksalaktam dan sefoperazon bersama dengan minuman
beralkohol dapat menimbulkan reaksi seperti yang ditimbulkan oleh disulfiram. Selain
itu dapat terjadi pendarahan hebat karena hipoprotrombinemia, dan/ atau disfungsi
trombosit, khususnya pada pemberian moksalaktam (Departemen Farmakologi dan
Terapi FK UI, 2007).

Resistensi
Resistensi dapat timbul dengan cepat, maka antibiotika ini sebaiknya jangan
digunakan sembarangan dan dicadangkan untuk infeksi berat. Resistensi silang
dengan penisilin pun dapat terjadi (Tjay & Kirana, 2007).

Contoh Obat Golongan Sefalosporin


Golongan Sefalosporin
Nama Parameter Implementasi
Sifat Farmakokinetik
Antibiotika Farmakokinetik Klinik
Ceftriaxone Absorbsi 1. Tidak diabsorbsi bila Penggunaan
diberikan secara oral (3,4) secara IM lebih

20.
2. Dose dependent non
linier (3)
3. Post antibiotic Effect
(5)
efektif dari IV (2)
Untuk bakteri gram positif = 2
jam.
Untuk bakteri gram negative dan P.
aeruginosa = 0 (5)
Bioavailabilitas 100% (iv)
Hati-hati pada
wanita menyusui
(4)
Dapat
ASI, dengan konsentrasi rendah digunakan untuk
(3-4%) pada dosis tunggal 1g IM pengobatan
atau IV setelah 4-6 jam (3) meningitis,
Distribusi CSF ( inflamasi dan tidak). Kadar subdural
lebih besar pada saat inflamasi (3) empyema, dan
Dapat menembus plasenta melalui intracranial
cairan amnion (3) epidural
abscesses (4)
Pregnancy risk
factor: B (2)

Metabolisme Enterohepatik (3)


Renal dan non renal (3) Penyesuaian
33-67% berada di urin dalam dosis dilakukan
bentuk utuh. Sisanya membentuk bila terjadi
Ekskresi
metabolit inaktif dan tetap utuh kerusakan fungsi
dalam feses.(3) ginjal dan hepar
(4)
Protein Binding Consentration dependentnon linier :
Konsentrasi < 70g/ml terikat

21.
protein 93-96% (high)
Konsentrasi 300g/ml terikat
protein 84- 87%
Konsentrasi 600g/ml terikat
protein 58%(3)
Tidak diabsorbsi bila diberikan
melalui oral(6)
Post antibiotic Effect
Cefotaxime Absorbsi
Untuk bakteri gram positif = 2 jam.
Untuk bakteri gram negative dan P.
aeruginosa = 0 (5)
Bioavailabilitas 100 (IV)
Pregnancy risk
factor: B (7)
Dapat
digunakan untuk
pengobatan
Dapat menembus plasenta (6) meningitis,
CSF ( inflamasi dan tidak). Kadar subdural
Distribusi
lebih besar pada saat inflamasi (6,7) empyema, dan
ASI (6) intracranial
epidural
abscesses (7)
Hati-hati pada
wanita menyusui
(7)
Metabolisme Melalui liver (6)
Melalui renal yaitu 40-60% dalam
Ekskresi bentuk utuh dan 24% dalam bentuk
metabolit (6)
Protein Binding 13-38% terikat protein serum (6)
Cefepime Absorbsi Tidak diabsorbsi bila diberikan Penggunaan
secara oral (8) secara IM lebih
Dose dependent linier (8) efektif dari IV (8)

22.
Post antibiotic Effect
Untuk bakteri gram positif = 2 jam.
Untuk bakteri gram negative dan P.
aeruginosa = 0 (5)
Bioavailabilitas 82,3% (IM) (8)
ASI, yaitu pemberian dosis Hati-hati pada
tunggal 1 g IV selama lebih dari 1 wanita menyusui
jam, diperoleh rata-rata konsentrasi (2)
Distribusi
puncak 1,2 mcg/mL. (8) Dapat digunakan
CSF ( inflamasi dan tidak). Kadar untuk pengobatan
lebih besar pada saat inflamasi (8) meningitis (8)
Sebagian (in vivo) : N-
methylpyrrolidine (NMP) yang
Metabolisme
dengan cepat dirubah menjadi
NMP-N-oxide (8)
Melalui renal dalam bentuk utuh
Ekskresi (80-82%) sisanya dalam bentuk
metabolit (8)
Protein Binding 20% terikat pada protein serum (8)

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi dan Terapi FK UI. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta :
Gaya Baru.

Indonesian Pharmacist, 2009. Antibiotika Golongan Sefalosporin, Fluoroquinolon,


dan Aminoglikosida. Available at: http://farmasiindonesia.com/antibiotika-
golongan-sefalosporin-fluoroquinolon-dan-aminoglikosida.html [diakses
tanggal 6 Maret 2010]

Medicastore. 2006. Sefalosporin. Available at: http://www.medicastore.com/ apotik_


online/antibiotika/sefalosporin.htm [diakses tanggal 6 Maret 2010]

Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat. Bandung : penerbit ITB

Rollins, D.M. and S.W. Joseph. 2000. Mechanism of Action of Beta-Lactam


Antibiotics.Availableat: http://www.life.umd.edu/classroom/bsci424/Chemother
apy/BetaLactam Antibiotics.htm [diakses tanggal 6 Maret 2010]

23.