You are on page 1of 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi buang air
besar (BAB) lebih dari biasanya (>3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi
cair) dengan/tanpa darah dan lendir. Diare dapat menjadi penyakit yang sangat akut dan
berbahaya karena sering mengakibatkan kematian bila terlambat penanganannya. Diare pada
usia 6-24 bulan mempunyai pengaruh yang buruk terhadap pertumbuhan bayi sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya malnutrisi. (k risde)
Hingga saat ini penyakit diare masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian
pada bayi dan anak-anak. Menurut catatan WHO tahun 2007, penyakit diare membunuh dua
juta anak di dunia setiap tahun. Di negara ASEAN, anak-anak balita mengalami rata-rata 3-4
kali kejadian diare per tahun atau hampir 15-20% waktu hidup anak dihabiskan untuk diare. 2
Target Pembangunan Milenium yang sedang diupayakan untuk dicapai di Indonesia
adalah menurunkan kematian anak-anak dibawah usia lima tahun. Penyakit diare di Indonesia
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan karena
masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama pada
balita. Departemen Kesehatan dari tahun 2000-2010 menemukan kecenddrungan peningkatan
insiden diare. Pada tahun 2000 angka kesakitan balita 1.278 per 1.000 penduduk turun
menjadi 1.100 per 1.000 penduduk pada tahu 2003. Namun pada tahun 2006 naik menjadi
1.330 per 1.000 penduduk dan turun kembali di tahun 2010 menjadi 1.310 per 1.000
penduduk.2,3
Buletin diare tahun 2011 mebberikan gambaran peta diare di Indonesia. Berdasarkan
data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukan bahwa prevalensi diare dengan rentang
antara 4,2% -18,9%. Dan kalimatan timur mempuyai prevalensi yang cukup tinggi yakni
7,3%. Hasil Riskesdas juga menunjukan bahwa prevalensi tertinggi terdekteksi pada anak
balita (1-4 tahun) yaitu 16,7% dan pada bayi kurang dari 1 tahun yaitu 16,5%. 3

---------------data insiden kejadian diare di daerah kalimantan timur - sangatta-----------

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit utama yang banyak menimbulkan
kematian dan kesakitan pada masyarakat, terutama pada balita. Namun faktor resiko balita
terkena diare akan berbeda. Ada beberapa faktor-faktor yang berhubungan dengan frekuensi
terjadinya diare pada balita diantaranya umur ibu, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan
ibu, pendapatan keluarga, tingkat pengetahuan ibu, perilaku mencuci tangan ibu, hygiene dan
sanitasi (meliputi kualitas sumber air dan kebersihan jamban), status gizi balita dan
pemberian MP ASI. K risde

Peran ibu sangatlah penting dalam kejadian diare yang dialami balita. Karena ibu
merupakan tokoh utama yang paling bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang balita.
Jika balita terserang diare maka tindakan-tindakan yang ibu ambil akan menentukan
perjalanan penyakitnya. Ibu yang senantiasa menjaga kebersihan, akan menjaga anaknya dari
pencemaran kuman, baik yang terdapat dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi.
Kebiasaan bersih ibu, seperti mencuci tangan sebelum makan, akan membuat balita
terlindung dari kuman yang melekat di tangan ibu sebelumnya.3 Semakin tua umur ibu maka
kesiapan dalam mencengah diare akan semakin baik, semakin tinggi tingkat pendidikan ibu
maka semakin baik dalam mengatasi masalah diare. Ibu yang tidak memilki pekerjaan serta
pendapatan keluarga yang kurang maka dalam penanaganan diare akan lambat, dalam hal ini
terkendala oleh biaya, begitu pula pengetahuan ibu yang baik, memiliki kebiasaan mencuci
tangan dengan baik, serta pengadaan sumber air bersih, dan penggunaan jamban yang bersih
dan benar maka balita akan terhindar dari diare. k risde
Menurut Scrimsham, (1999) ada hubungan yang sangat erat antara infeksi (penyebab
diare) dengan status gizi terutama pada anak balita karena adanya tekanan interaksi yang
sinergis. Mekanisme patologisnya dapat secara sendiri-sendiri maupun bersamaan, yaitu
penurunan asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorpsi, kebiasaan
mengurangi makan pada saat sakit, dan peningkatan kehilangan cairan/gizi akibat penyakit
diare yang terus menerus sehingga tubuh lemas. Begitu juga sebaliknya, ada hubungan antara
status gizi dengan infeksi diare pada anak balita. Apabila masukan makanan atau zat gizi
kurang- akan terjadi penurunan metabolisme sehingga tubuh akan mudah terserang penyakit.
Hal ini dapat terjadi pada anak balita yang menderita penyakit diare. Oleh sebab, itu masukan
makanan atau zat gizi harus diperhatikan agar tidak terjadi penurunan metabolisme di dalam
tubuh.4
Adanya penyakit diare juga disebabkan oleh keadaan lingkungan dan perilaku
masyarakat yang tidak menguntungkan. Beberapa faktor yang bisa mengakibatkan gejala
yang berat pada penderita diare ialah tidak layak dan memadainya penyediaan air bersih,
kurang memadainya sarana kebersihan (MCK), dan buruknya sanitasi lingkungan. Apabila
faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta terakumulasi dengan perilaku
manusia yang tidak sehat, maka penularan diare dengan mudah dapat terjadi 5
Hasil Riset Kesehatan Dasar mendapatkan MP ASI sebelum berusia enam bulan,
lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya
mendapat ASI eksklusif dan mendapatkan MP ASI dengan tepat waktu pemberian MP ASI
setelah enam bulan) juga bahwa bayi atau anak yang usianya lebih dari enam bulan dan telah
diberi makanan pendamping ASI dengan tepat, dapat terserang diare, sembelit, batuk-pilek,
dan panas. Sebab dilihat dari berbagai faktor seperti frekuensi pemberian makanan
pendamping ASI, porsi pemberian makanan pendamping ASI, jenis makanan pendamping
ASI, dan cara pemberian makanan pendamping ASI pada bayi ataupun anak sangat
berpengaruh besar untuk terserangnya penyakit diare dan lain-lain. 6

berdasarkan permaslahan dan data yang telah dipaparkan, perlu mengetahui lebih lanjut
kejadian diare balita di kabupaten Kutai Timur Puskesmas Sangatta Selatan
I.2 Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang menjadi topik pembahasan dalam penelitian ini, yaitu
sebagai berikut:
1. Bagaimana Gambaran karakteristik (usia, pendidikan dan pekerjaan) ibu terhadap
angka kejadian diare di Kabupaten Kutai Timur Sangatta ?
2. Bagaimana tingkat pengetahuan ibu tentang penyakit diare?
3. Bagaimana sikap dan penangganan orang tua terhadap diare?
4. Bagaimana pengaruh Status Gizi terhadap angka kejadian diare?
5. Bagaimana Pengaruh pemberian MP-ASI terhadap angka kejadian diare?
6. Bagaimana pengaruh sanitasi lingkungan terhadap angka kejadian diare?

I.3 Tujuan Penelitian


Secara Umum, tujuan penelitian (MASING_MASING)

Tujuan khususnya adalah


1. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bayi 0-24 bulan meliputi usia, tingkat
pendidikan dan pekerjaan.
2. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahun ibu terhadap penyakit diare.
3. Untuk mengetahui gambaran sikap dan penanganan ibu terhadap diare.
4. Untuk mengetahui gambaran sanitasi lingkungan dengan kejadian diare.
5. Untuk mengetahui gambaran antara status gizi dengan kejadian diare.
6. Untuk megetahui gambaran antara pemberian MP-ASI dengan kejadian diare.
I.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian adalah
1. Bagi Pelayanan Kesehatan
Dapat menjadi masukan untuk meningkatkan program promosi kesehtan
Mekanisme penanggulangan diare bagi bayi 0-24 tahun
2. Bagi Masyarakat
Meningkatan tingkat pengentahuan tentang pencegahan diare balita.

Daftar pustaka
1. K risde
2. Soebagyo B., & Santoso N.B., 2010. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Diare
Akut. Jakarta, Pp 88
3. Kementrian Kesehatan RI. Situasi Diare Di Indonesia.Buletin diare 201. ISSN2088-
270x
4. H Ningsih, M Syafar, M Nyorong. PERILAKU IBU TERHADAP
PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN ANAK BALITA PENDERITA
DIARE. Universitas Hassanudin. Makasar. 2013.
5. Primadani W., Santoso L., Wuryanto A.M., 2012. Hubungan Sanitasi Lingkungan
Dengan Kejadian Diare di Duga Akibat Infeksi di Desa Gondosali Kecamatan Buluh
Kabupaten Temanggung. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 1:535541
6. Depkes RI. (2010). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2010.