You are on page 1of 9

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI

DARI EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS Pluchea indica Less. TERHADAP


Staphylococcus aureus DAN Pseudomonas aeruginosa

Viki Wulandari*, Dirayah Rauf Husaina, Sartinib, dan Nur Haedarc


*
Alamat korespondensi e-mail: viki.woelandari@gmail.com
ac
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, bFakultas
Farmasi Universitas Hasanuddin, Makassar

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun beluntas
Pluchea indica Less. terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa serta
penentuan golongan senyawa yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk
menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun beluntas Pluchea indica Less. dengan
konsentrasi cairan penyari berbeda (96%, 70% dan 50%; dengan masing-masing konsentrasi
ekstrak 10%) serta mengidentifikasi golongan senyawa secara bioautografi. Sebagai
pembanding digunakan kloramfenikol dan DMSO (Dimethyl Sulfoksida). Aktivitas
antibakteri terbesar terdapat pada cairan penyari 96% terhadap Pseudomonas aeruginosa
dengan diameter 17,3 mm pada inkubasi 24 jam dan meningkat menjadi 21,05 mm pada
inkubasi 48 jam sehingga bersifat bakteriosid. Untuk mengetahui golongan senyawa pada
ekstrak daun beluntas Pluchea indica Less. yang memberikan aktivitas antimikroba
dilakukan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT)-Bioautografi. Diperoleh hasil dari pemisahan
secara KLT menggunakan larutan pengelusi heksan : etil (9 : 1). Hasil pemisahan KLT
menghasilkan sebelas bercak dengan nilai Rf (0,0); (0,02); (0,04); (0,07); (0,16); (0,20);
(0,31); (0,43); (0,56); (0,69) dan (0,80). Hasil uji KLT-Bioautografi menunjukkan bahwa
pertumbuhan Staphylococcus aureus dapat dihambat oleh bercak pada Rf (0,0) dan (0,31)
sedangkan pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dapat dihambat oleh semua bercak di
setiap nilai Rf. Berdasarkan hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid,
flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid.

Kata kunci : Beluntas Pluchea indica Less, Staphylococcus aureus,


Pseudomonas aeruginosa, Etanol, Antibakteri, Bakterisid, KLT-Bioautografi.

ABSTRACT
A research about bioactivity of beluntas Pluchea indica Less. leaves as antibacteria againts
Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa and determination of its compounds
has been conducted. This research is aimed to test the antibacterial activity of etanol extract
beluntas Pluchea indica Less. leaves with various concentrations (96%, 70% and 50%; each
concentration has 10% of extract ) and to identify the active compounds by bioautography.
As a comparison used kloramfenikol and DMSO (Dimethyl Sulfokside). The antibacterial
bioactivity to inhibiting Pseudomonas aeruginosa in 24 hours incubation period showed
the biggest bioactivity of 96% ethanol concentration with inhibit zone 17.3 mm and in
48 hours incubation period increasing to 21.05 mm until have the quality of bacterisidal.
To know the group of the compound in essential oil which gave antimicrobial activity by
Thin Layer Chromatography (TLC)-Bioautography test. Then obtained result from
separation of compound by TLC which using the eluent combination from n-heksane :
etil (9 : 1) and obtained eleven spots with the violet colour at the rate of flow (Rf) (0.0);

1
(0.02); (0.04); (0.07); (0.16); (0.20); (0.31); (0.43); (0.56); (0.69) and (0.80). The results of
TLC-Bioautography test showed that growth of Staphylococcus aureus can inhibited by spot
at the rate of flow (Rf) (0.0) and (0.31) then the growth of Pseudomonas aeruginosa can
inhibited by all of the spots in every rate of flow. The result of phitochemical screening
showed that there were alkaloid, flavonoid, tanin, steroid and terpenoid.

Key words : Beluntas Pluchea indica Less, Staphylococcus aureus,


Pseudomonas aeruginosa, Ethanol, Antibacterial, Bakterisidal,
TLC-Bioautography.

PENDAHULUAN penghambat terhadap bakteri uji dengan


membandingkan beberapa konsentrasi cairan
Penyakit infeksi telah pengekstrak. Hal ini dilakukan untuk melihat
menyebabkan kematian sebesar 13 juta orang seberapa efisien ekstrak dapat berfungsi
di seluruh dunia setiap tahun, terutama di sebagai zat antibakteri. Untuk mengetahui
negara-negara yang sedang berkembang lebih lanjut tentang golongan senyawa pada
seperti Indonesia (Salni, dkk., 2011). beluntas yang bekerja aktif sebagai
Penelitian terkait pencarian bahan antibakteri antibakteri, maka diperlukan analisis
telah banyak dilakukan terutama dari Kromatografi Lapis Tipis (KLT)-
berbagai jenis tumbuhan (Zuhud, 2001). Para Bioautografi.
ilmuwan terus berusaha untuk mencari
sumber antibakteri baru, terutama yang METODE PENELITIAN
mudah tumbuh di Indonesia. Pada umumnya
obat tradisional memiliki senyawa aktif yang Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini
berperan sebagai antibiotik dalam bidang antara lain inkubator(Memmert), Laminar
kesehatan dan memiliki efek samping yang Air Flow (LAF), autoklaf (Webeco),
relatif rendah dibandingkan dengan rotavapor(Buchi Rotavapor R-200),
antibiotik sintetik. spektrofotometer (Spektronik 340), vakum
Penelitian lain juga menyebutkan (Spektra), timbangan analitik (Sartorius),
bahwa beluntas mempunyai aktivitas oven sterilisasi (Memmert), tabung reaksi
(Andarwulan dkk., 2009) karena (Pyrex), gelas erlenmeyer 250 ml dan 500 ml
mengandung sejumlah senyawa fitokimia, (Pyrex), gelas kimia 250 ml dan 500 ml
seperti lignan, terpene, fenilpropanoid, (Pyrex), gelas ukur 100 ml (Pyrex), bejana
benzoid, alkana, sterol, 2-(prop-1-unil)-5- maserasi (Duralex), labu bulat 500
(5,6-dihidroksi heksa-1,3-diunil)-thiofena, mL(Duran), labu erlenmeyer vakum,
katekin, hidrokuinon, tannin dan alkaloid saringan vakum, cawan petri (Pyrex), jangka
(Andarwulan et. al., 2009), flavonol sorong (Vernier), batang pengaduk, botol
(Andarwulan dkk,. 2008). Daun beluntas semprot, chamber, corong, lampu spiritus,
telah diteliti secara ilmiah. Tanaman ose bulat, paper disk, botol vial, pinset dan
tersebut memiliki aktivitas antimikroba pipet tetes.
sebagai penghambat terhadap bakteri Bahan yang digunakan pada
penyebab infeksi pada berbagai tingkat penelitian ini antara lain sampel daun
konsentrasi pelarut ekstraksi belum banyak beluntas Pluchea indica Less., medium
dilakukan. Nutrien Agar (NA), etanol 96%, 70% dan
Pada penelitian yang dilakukan 50%, kloramfenikol, larutan fisiologis NaCl
sebelumnya, telah digunakan cairan 0,9%, etanol p.a, lempeng KLT, n-butanol,
pengekstrak berupa etanol 96% terhadap asam asetat, aquadest, aluminium foil, kertas
bakteri Staphylococcus epidermidis (Lestari timbang, kertas saring dan kapas.
dkk., 2015). Oleh karena itu, perlu Sampel yang digunakan pada
dilakukan pengujian potensi beluntas sebagai penelitian ini adalah sampel daun beluntas

2
Pluchea indica Less. yang diambil dari perbandingan (9:1). Lempeng dikeluarkan
daerah sekitar Sahabat Raya Kampus dari chamber dan diangin-anginkan hingga
Universitas Hasanuddin Kecamatan cairan pengelusi menguap. Selanjutnya
Tamalanrea Makassar. Sampel basah diamati di bawah sinar UV 254 dan 366 dan
kemudian ditimbang dan diangin-anginkan dihitung nilai Rf nodanya dengan cara diukur
hingga kering selama enam hari. Setelah menggunakan penggaris sejauh noda yang
kering, dilakukan penimbangan kembali tampak.
bobot kering sampel. Medium NA sebanyak 15 ml yang
Maserasi dilakukan dengan telah dicampur dengan 0,15 ml suspensi
menggunakan etanol yang memiliki Staphylococcus aureus dituang ke dalam
konsentrasi berbeda yaitu 96%, 70% dan cawan petri steril dan dibiarkan memadat.
50%. Simplisia ditimbang dan diperoleh Setelah media memadat, lempeng KLT
hasil simplisia sebanyak 175 gram untuk yang telah dielusi diletakkan di atas
masing-masing konsentrasi cairan permukaan media agar. Setelah 30 menit
pengekstrak. Sebanyak 175 gram simpisia lempeng tersebut diangkat dan
kemudian direndam dalam 2000 ml atanol dipindahkan, kemudian medium yang
pada masing-masing konsentrasi. Maserasi telah ditempati lempeng KLT diinkubasi
dilakukan selama 5 hari sambil sesekali pada suhu 370C selama 1x24 jam dan
diaduk. diamati zona bening yang terbentuk. Zona
Hasil maserasi kemudian disaring bening yng terbentuk kemudian ditandai dan
untuk memisahkan cairan etanol dengan dicocokkan dengan lokasi noda yang ada
ampasnya. Dilakukan remaserasi selama 3 pada lempeng.
hari dan penyaringan dilakukan dengan Noda pada lempeng KLT yang
pompa vakum. Ekstrak cair lalu dimasukkan membentuk zona hambatan disemprot
ke dalam labu Erlenmeyer bulat lalu dengan pereaksi semprot (Dragendorff,
diuapkan dengan rotavapor untuk Lieberman-Burchard, FeCl3, dan sitroborat)
memperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental untuk menentukan jenis golongan senyawa
kemudian difreeze drying untuk yang menghambat pertumbuhan bakteri uji.
mendapatkan ekstrak tanpa air dan benar- Analisis yang dilakukan meliputi analisis
benar kering. rendemen ekstrak yaitu perbandingan antara
Membuat konsentrasi 10% dari berat ekstrak yang diperoleh dengan berat
ekstrak yang diperoleh pada masing-masing sampel kering awal dikalikan 100%.
konsentrasi. Suspensi bakteri Staphylococcus Penyajian data profil KLT-Bioautografi dan
aureus di pipet 0,15 mL dan dimasukkan identifikasi golongan senyawa dilakukan
dalam cawan petri steril kemudian secara kualitatif.
ditambahkan medium NA sebanyak 15 mL.
Cawan petri didiamkan selama 15 menit HASIL DAN PEMBAHASAN
(pra-inkunbasi) agar terjadi difusi kemudian Sebanyak 175 gram daun beluntas
diinkubasi pada suhu 370C selama 1x24 jam kering telah diekstraksi dengan
dalam inkubator. Daerah hambatan yang menggunakan cairan pengekstrak etanol
terjadi di sekitar paper disk diukur dengan konsentrasi 96%, 70% dan 50% masing-
menggunakan jangka sorong. Daerah masing sebanyak 2000 ml. Rendemen
hambatan paling luas dari tiga pelarut yang ekstrak dihitung berdasarkan perbandingan
diuji akan dilanjutkan dengan analisis KLT. berat akhir (berat ekstrak yang dihasilkan)
Ekstrak sampel yang memiliki zona dengan berat awal (berat biomassa sel yang
hambatan paling luas kemudian dipisahkan digunakan) dikalikan 100% (Sani, dkk.
secara KLT. Sampel ditotolkan pada KLT 2014). Hasil perhitungan nilai rendemen
ukuran 8 x 2 cm, dielusi dengan ekstrak diperoleh data seperti pada tabel 1
menggunakan eluen. Eluen yang digunakan berikut.
untuk KLT yaitu heksan:etil dengan

3
Tabel 1. Hasil total rendemen ekstrak etanol etanol 96%), C (ekstrak etanol 70%), D
beluntas pada beberapa konsentrasi (ekstrak etanol 50%) dan E (kontrol
cairan pengekstrak negatif DMSO).

Cairan
Bobot Bobot
Rendemen Pengamatan dilakukan sebanyak 2
Simplisia Ekstrak kali yaitu pada 24 jam dan 48 jam. Hasil
Pengekstrak (%)
(g) (g)
96% 175 19,48 11,13
perbandingan pengukuran pada masa
inkubasi 24 jam dan masa inkubasi 48 jam
70% 175 18,12 10,35
dapat dilihat pada tabel 2. Setelah inkubasi
50% 175 17,32 9,90 selama 48 jam, diperoleh hasil seperti pada
Gambar 2 berikut.
Berdasarkan hasil ekstrasi dengan
menggunakan metode maserasi dengan 175
gram pada masing-masing konsentrasi cairan
pengekstrak diperoleh bobot ekstrak dengan
hasil berbeda-beda. Pada cairan pengekstrak
etanol 96% diperoleh bobot ekstrak sebanyak
19,48 gram sehingga rendemennya adalah
11,13%. Dengan menggunakan cairan
Gambar 2. Foto hasil uji daya hambat ekstrak
pengekstrak etanol 70% diperoleh bobot
etanol daun beluntas terhadap bakteri
kering ekstrak sebesar 18,12 gram sehingga Staphylococcus aureus (kiri) dan
rendemennya 10,35%. Pada konsentrasi Pseudomonas aeruginosa (kanan)
cairan pengekstrak etanol 50% diperoleh setelah inkubasi 48 jam pada suhu 370C.
bobot kering ekstrak 17,32 gram dan Keterangan : A (kontrol positif
diperoleh nilai rendemennya yaitu 9,90%. kloramfenikol 30 ppm), B (ekstrak
Maserat disaring dengan etanol 96%), C (ekstrak etanol 70%), D
menggunakan kertas saring dan disaring (ekstrak etanol 50%) dan E (kontrol
sekali lagi dengan menggunakan vakum lalu negatif DMSO).
diuapkan dengan menggunakan rotary
evaporator. Konsentrasi ekstrak yang Hasil pengukuran memperlihatkan
digunakan yaitu 10%. Hasil pengamatan bahwa ekstrak etanol daun beluntas terhadap
diameter zona hambatan yang terbentuk dari Staphylococcus aureus yang paling luas daya
ekstrak daun beluntas terhadap hambatnya adalah ekstrak etanol 96%
Staphylococcus aureus dan Pseudomonas dengan rata-rata hambatan 17,7 mm pada
aeruginosa dapat dilihat pada Gambar 1. pengukuran 24 jam. Setelah inkubasi selama
48 jam, zona bening yang terbentuk
mengalami peningkatan hingga sebesar 19,4
mm. Pada masa inkubasi 24 jam, konsentrasi
pengekstrak etanol 70% memiliki diameter
14,9 mm. Setelah masa inkubasi 48 jam,
diameter hambatan meningkat menjadi 15,9
mm. Hasil pengukuran zona hambat ekstrak
beluntas terhadap Staphylococcus aureus dan
Pseudomonas aeruginosa pada masa
Gambar 1. Foto hasil uji daya hambat ekstrak inkubasi 24 dan 48 jam dapat dilihat pada
etanol daun beluntas terhadap bakteri Tabel 2.
Staphylococcus aureus (kiri) dan
Pseudomonas aeruginosa (kanan) Tabel 2. Hasil pengukuran zona hambat ekstrak
setelah inkubasi 24 jam pada suhu 370C. daun beluntas terhadap
Keterangan : A (kontrol positif Staphylococcus aureus dan
kloramfenikol 30 ppm), B (ekstrak

4
Pseudomonas aeruginosa pada masa Gambar 3. Histogram dari diameter zona
inkubasi 24 jam dan 48 jam hambatan ekstrak daun beluntas Pluchea
indica Less. terhadap pertumbuhan
Rata-rata Diameter Zona Staphylococcus aureus pada masa
Hambatan (mm) SD inkubasi 24 jam dan 48 jam
Perlakuan
S. aureus P. aeruginosa
24 jam 48 jam 24 jam 48 jam Untuk melihat perbedaan diameter
Ekstrak zona hambat ekstrak beluntas terhadap
17,7 19,4 17,3 21,05
Etanol
96%
0,57 0,14 0,14 1,05 Pseudomonas aeruginosa dalam masa
Ekstrak inkubasi 24 jam dan 48 jam, disajikan dalam
14,9 15,9 13,75 15,2 histogram berikut.
Etanol
0,07 0,57 0,50 0,14
70% 25

Diameter Daya Hambat (mm)


Ekstrak
11,35 11,55 11,45 11,6
Etanol 20
0,28 0,21 0,21 0,14
50%
22,3 23,45 23,30 23,45 15
Kontrol (+)
0,28 0,21 0,28 0,21
Kontrol (-) - - - - 10 24 jam

5 48 jam
Pada Tabel 2 nampak hasil
pengukuran diameter hambatan dari masing-
0
masing konsentrasi cairan pengekstrak dan
kontrol. Hasil pengukuran memperlihatkan 50% 70% 96%
bahwa ekstrak etanol daun beluntas terhadap Konsentrasi Cairan Pengekstrak
Staphylococcus aureus yang paling luas daya
hambatnya adalah ekstrak etanol 96%
Gambar 4. Histogram dari diameter zona
dengan rata-rata hambatan 17,7 mm pada
hambatan ekstrak daun beluntas Pluchea
pengukuran 24 jam. Setelah inkubasi selama indica Less. terhadap pertumbuhan
48 jam, zona bening yang terbentuk Pseudomonas aeruginosa pada masa
mengalami peningkatan hingga sebesar 19,4 inkubasi 24 jam dan 48 jam
mm. Konsentrasi 70% dan 50% juga Jika dibandingkan antara aktivitas
mengalami hal yang sama. Selengkapnya, antibakteri eksrak beluntas Pluchea indica
untuk melihat perbandingan dari perbedaan Less. terhadap Staphylococcus aureus dan
zona hambat yang terbentuk pada masa Pseudomonas aeruginosa maka dapat dilihat
inkubasi 24 dan 48 jam dapat dilihat pada bahwa aktivitas tersebut lebih tinggi terhadap
histogram berikut. Pseudomonas aeruginosa. Hal ini dapat
dipengaruhi oleh perbedaan struktur kimia
25 komponen penyusun dinding sel bakteri uji
yang kinerjanya mampu diganggu oleh
Diameter Daya Hambat (mm)

20 ekstrak daun beluntas.


Pelczar dan Chan (2006) yang
15
menyatakan bahwa dinding sel
10 24 jam Staphylococcus aureus yang tergolong
bakteri gram positif tersusun atas
48 jam
5 peptidoglikan yang merupakan komponen
utama, lipid, dan protein.
0
Bakteri Pseudomonas aeruginosa
50% 70% 96% berwarna merah pada uji pengecatan gram
Konsentrasi Cairan Pengekstrak yang menunjukkan bahwa bakteri
Pseudomonas aeruginosa termasuk golongan
bakteri gram negatif. Dinding sel

5
Pseudomonas aeruginosa yang tergolong Gambar 5. Profil Kromatografi Lapis Tipis
bakteri gram negatif terdiri atas kandungan ekstrak etanol daun beluntas dengan
lipid yang lebih tinggi (11-22%) dan fase diam Silica Gel GF 60 F254
peptidoglikan yang tipis (Pelczar dan Chan, (eMerck) dan larutan pengembang
2006). heksan : etil (9:1) pada penampak
bercak UV 254 nm (A) dan UV 366
Berdasarkan penelitian Jannata dkk. (B).
(2014), pengukuran kekuatan antibiotik-
antibakteri berdasarkan metode David-Stout, Pada Gambar 5 memperlihatkan
menyatakan bila diameter zona bening 5 profil Kromatografi Lapis Tipis ekstrak
mm menunjukkan aktivitas antibakteri etanol daun beluntas yang diperiksa dengan
lemah, diameter 5-10 mm menunjukkan menggunakan fase diam Silica Gel GF 60
aktivitas antibakteri sedang, diameter 10-20 F254 (eMerck) dan larutan pengembang
mm menunjukkan aktivitas antibakteri kuat, heksan : etil (9:1) pada penampak bercak UV
dan diameter > 20 mm menunjukkan 254 nm. Bercak noda yang dihasilkan
aktivitas antibakteri sangat kuat. Berdasarkan sebanyak 10 bercak dan pada UV 366
standar ini, maka aktivitas hambatan ekstrak terdapat 6 bercak.
beluntas terhadap Staphylococcus aureus Gambar 5 (A) menunjukkan hasil
termasuk kategori kuat dan Pseudomonas dari pemisahan ekstrak etanol daun beluntas
aeruginosa termasuk dalam kategori sangat yang menghasilkan 10 bercak pada
kuat. penampak bercak UV 254 nm dengan
Penelitian ini menggunakan masing-masing nilai Rf1 yaitu (0,0); Rf2
kloramfenikol sebagai kontrol positif karena (0,02); Rf3 (0,07); Rf4 (0,16); Rf5 (0,20);
menurut Hasyani (2006), kloramfenikol Rf6 (0,31); Rf7 (0,43); Rf8 (0,56); Rf9
memperlihatkan spektrum antimikroba yang (0,69) dan Rf10 (0,80). Siahaan (2010)
luas dan dapat meliputi bakteri gram positif menyatakan bahwa prinsip penampakan
maupun negatif. Kontrol negatif pada bercak pada UV 254 nm adalah, lempeng
penelitian ini adalah DMSO (dimetil akan berflouresensi sedangkan sampel akan
sulfoksida) untuk melihat apakah respon tampak berwarna gelap. Pada pengamatan
kematian benar-benar berasal dari sampel uji yang dilakukan pada UV 366 telah diperoleh
dan bukan disebabkan oleh perlakuan bercak noda sebanyak 6 bercak.
kontrol. Gambar 5 (B) menunjukkan hasil dari
Eluen yang digunakan dengan hasil pemisahan ekstrak etanol daun beluntas yang
pemisahan terbaik adalah heksan : etil menghasilkan 8 bercak dengan nilai Rf1
dengan perbandingan 9:1. Pengamatan yaitu (0,0), Rf2 (0,04); Rf3 (0,07); Rf4
dilakukan pada sinar UV 254 nm dan UV (0,16); Rf5 (0,20) dan Rf6 (0,31).
366 nm. Hasilnya tampak pada Gambar 5. Sebagaimana dinyatakan oleh Siahaan
(2010), prinsip penampakan noda pada UV
366 nm adalah, noda akan berflouresensi dan
lempeng akan berwarna gelap. Jumlah
bercak dan nilai Rf dari pengamatan di
bawah penampak bercak UV 254 nm dan
366 nm dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil pemisahan ekstrak daun beluntas


melalui KLT dan dilihat pada penampak
bercak UV 254 nm dan 366 nm.

6
Jumlah Bercak Nilai Rf Pseudomonas aeruginosa telah diperoleh
Sampel UV UV UV UV hasil yaitu semua bercak menghasilkan zona
254 366 254 366 bening.
0,0 0,0
0,02
Hasil pengamatan KLT-Bioautografi
0,04 pada Pseudomonas aeruginosa dapat dilihat
Ekstrak pada Gambar 7 berikut.
0,07 0,07
daun
0,16 0,16
beluntas
10 6 0,20 0,20
Pluchea
0,31 0,31
indica
0,43
Less.
0,56
0,69
0,80

KLT-Bioautografi kontak dilakukan


dengan menempelkan plat KLT hasil
pemisahan senyawa di atas permukaan
medium yang telah diinokulasikan dengan
bakteri uji. Media yang telah ditempel
dengan plat KLT tersebut kemudian
diinkubasi selama 24 jam kemudian diamati Gambar 7. Hasil KLT-Bioautografi pada medium
zona hambatan yang terbentuk Hasil yang telah diinokulasikanbakteri
pengamatan KLT-Bioautografi pada Pseudomonas aeruginosa
Staphylococcus aureus dapat dilihat pada
Gambar 6 berikut. Berdasarkan uji Kromatografi Lapis
Tipis (KLT) Bioautografi yang dilakukan,
diperoleh hasil bahwa beberapa bercak noda
pada lempeng KLT memiliki senyawa aktif
sebagai antibakteri. Untuk mengidentifikasi
golongan senyawa yang memiliki aktivitas
antibakteri perlu dilakukan serangkaian uji
fitokimia. Pada penelitian ini telah dilakukan
uji penentuan golongan senyawa sebagai
identifikasi lanjutan untuk mengetahui
golongan senyawa dari ekstrak daun beluntas
Pluchea indica Less. Hasil uji tersebut dapat
dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil uji penentuan golongan senyawa


ekstrak daun beluntas Pluchea indica Less.
Golonga
Gambar 6. Hasil KLT-Bioautografi pada medium N Pereaksi
Ket Warna n
Nilai
O. Uji Rf
yang telah diinokulasikan bakteri Senyawa
Staphylococcus aureus Dragen- Kuning- 0,0
1. + Alkaloid
dorff jingga
0,07;
Sitrobo- Flavono-
Berdasarkan Gambar 6, hasil 2. + Kuning 0,16;
rat id
0,20
menunujukkan bahwa bercak pada nilai Rf Hijau- Terpeno- 0,69
3. Lieberma +
0,0 dan 0,31 menunjukkan aktivitas n-
kebiruan id
Ungu- 0,56;
antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus 4. Burchard +
kemerahan
Steroid
0,80
aureus. Terbentuknya zona bening dapat 5. FeCl3 +
Hitam-
Tanin
0,02
kebiruan
disebabkan oleh adanya senyawa yang
bersifat antimikroba. Pada bakteri

7
Keterangan : B. Kromatogram setelah disemprot reagen
(+) = mengandung golongan senyawa Dragendroff (alkaloid)
(-) = tidak mengandung golongan senyawa C. Kromatogram setelah disemprot reagen
Lieberman-Burchard (steroid dan
Pada penelitian ini telah dilakukan uji triterpenoid)
penentuan golongan senyawa yaitu alkaloid, D. Kromatogram setelah disemprot reagen
flavonoid, terpenoid, steroid, dan tanin. Pada FeCl3 (Tanin)
uji alkaloid, hasil positif berwarna kuning- Pada pengujian senyawa
jingga terdapat pada nilai Rf 0,0. Sitroborat flavonoid, plat silika gel hasil uji KLT
digunakan untuk menguji golongan senyawa disemprot dengan AlCl3. Timbul noda
flavonoid yang terdapat pada nilai Rf 0,07; berwarna kuning yang menandakan ekstrak
0,16; 0,20 dengan warna kuning. Uji mengandung flavonoid bebas. Flavonoid
golongan terpenoid dan steroid bebas jenis flavonol akan memberikan
menggunakan pereaksi Lieberman-Burchard warna kuning cerah untuk menunjukkan
menghasilkan warna hijau kebiruan pada hasil positif flavonoid (Sani, dkk., 2014).
nilai Rf 0,69 dan warna ungu kemerahan Berdasarkan penelitian Arundhina
pada nilai Rf 0,56 dan 0,80. Pengujian (2014), Indikasi positif steroid ditandai
golongan senyawa tanin dengan indikator dengan adanya perubahan warna menjadi
warna hitam-kebiruan memperlihatkan hasil biru kehijauan. Pada terpenoid, indikasi
positif pada noda Rf 0,02. positif ditandai dengan perubahan warna
Menurut Sani dkk. (2014), pada menjadi merah, ungu atau kecoklatan.
pengujian senyawa golongan alkaloid, plat Efek tanin sebagai antibakteri
silika gel hasil uji KLT disemprot dengan disebabkan oleh kemampuan tanin untuk
pereaksi Dragendorff, uji positif apabila mengaktifkan enzim adhesion, enzim dan
menghasilkan noda berwarna coklat atau protein transport cell envelope. Tanin juga
jingga. Bercak yang menunjukkan hasil membentuk kompleks polisakarida yang
positif alkaloid adalah bercak dengan nilai Rf dapat merusak dinding sel bakteri. Sebagai
0,0. Hasil uji golongan senyawa dapat dilihat akibatnya, metabolisme bakteri terganggu
pada Gambar 8 berikut. dan menyebabkan kematian bakteri.
Penelitian ini menunjukkan bahwa
ekstrak daun beluntas memiliki kandungan
tanin. Hal ini ditandai dengan adanya warna
hitam kebiruan pada plat KLT yang telah
disemprot dengan FeCl3. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa ekstrak daun beluntas
memiliki kandungan tanin dan memiliki
aktivitas antibekteri terhadap Staphylococcus
aureus dan Pseudomonas aeruginosa.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarakan hasil yang diperoleh dari
penelitian ini, maka dapat disimpulkan
bahwa:
Gambar 8. Hasil uji golongan senyawa. 1. Konsentrasi paling optimal cairan
Keterangan : pengekstrak ekstrak daun beluntas
Pluchea indica Less. untuk menghambat
A. Kromatogram setelah disemprot reagen pertumbuhan bakteri Staphylococcus
Sitroborat (flavonoid) aureus dan Pseudomonas aeruginosa
adalah konsentrasi etanol 96%.

8
2. Golongan senyawa aktif yang mempunyai Growth of Streptococcus mutans.
aktivitas daya hambat pada ekstrak daun Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 2
beluntas Pluchea indica Less. adalah (no.1). Universitas Jember, Jember.
alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid dan Lestari, D. S., R. Yulianti, I. Rusdy dan V.
tanin. Wulandari, 2015. Pengembangan
Formula Lulur Mandi Ekstrak
Saran Daun Beluntas (Pluchea indica
Sebaiknya perlu dilakukan penelitian Less.) Terhadap Pertumbuhan
lebih lanjut mengenai isolasi komponen Bakteri Staphylococcus epidermidis
kimia yang aktif yang menunjukkan aktivitas dalam Mengatasi Bau Badan.
antimikroba, dan dilakukan penelitian uji PKM-P. Universitas Hasanuddin,
farmakologi lebih lanjut tentang tingkat Makassar.
keamanan dan toksisitasnya. Pelczar, J. Michael dan Chan, E. C. S. 1988.
Dasar-dasar Mikrobiologi 2. Penerbit
UI Press, Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA Purnama, W. B., 2013. Aktivitas
Antibakteri Glukosa Terhadap
Andarwulan, N., R. Batari, D.A.
Bakteri Staphylococcus aureus,
Sandrasari dan H. Wijaya. 2008.
Pseudomonas aeruginosa, Bacillus
Identifikasi Senyawa Flavonoid
subtilis, dan Escherichia coli. Naskah
dan Kapasitas Antioksidannya
Publikasi. Universitas Muhammadiyah
pada Ekstrak Sayuran Indigenous
Surakarta, Surakarta.
Jawa Barat. Makalah Seminar
Salni, H. Marisa. dan R. W. Mukti, 2011.
pada Half Day Seminar on Natural
Antioxidants: Chemistry, Isolasi Senyawa Antibakteri Dari
Biochemistry and Technology pada Daun Jengkol Pithecolobium
hari Selasa, 16 September 2008. lobatum Benth dan Penentuan Nilai
KHM-nya. Jurnal Penelitian Sains.
Biopharmaca Research Center-
14 1(D): hal. 14109-38.
SEAFAST Center, Institut Pertanian
Sani, R. N., F. C. Nisa, R. D. Andriani, J.M.
Bogor, Bogor.
Maligan, 2014. Yield Analysis and
Andarwulan, N., R. Batari, D. A. Sandrasari,
B. Bolling, H. Wijaya, 2009. Phytochemical Screening Ethanol
Extract of Marine Microalgae
Flavonoid Content and Antioxidant
Tetraselmis chuii. Jurnal Pangan dan
activity of Vegetables from
Agroindustri Vol.2 No.2 p.121-126.
Indonesia. Food Chemistry Journal.
Sulistiyaningsih, R., 2009. Potensi Daun
p(12311235).
Hasyani, M., 2006. Bioaktivitas Fraksi Beluntas (Pluchea Indica Less.)
Sebagai Inhibitor Terhadap
Protein dari Alga Laut Turbinaria
Pseudomonas aeruginosa Multi
deccurens Bory Sebagai
Resistant Dan Methicillin
Antibakteri Terhadap Eschericia
coli dan Staphylococcus aureus. Resistant Stapylococcus aureus.
Universitas Padjadjaran, Bandung.
Skripsi. Universitas Hasanuddin,
Zuhud, 2001. Aktivitas antimikroba
Makassar.
Jannata, R. H., A. Gunadi dan T. Ermawati, Ekstrak Kedaung (Parkia
2014. Antibacterial Activity of roxburghii G Don) terhadap
Bakteri Patogen, Jurnal Teknol &
Manalagi Apple Peel (Malus
Indusri Pangan. XII(1): hal. 6-12.
sylvestris Mill.) Extract on The