You are on page 1of 8

ABSES PARAFARING

I. DEFINISI
Abses parafaring yaitu peradangan yang disertai pembentukan pus pada
ruang parafaring. Abses parafaring merupakan bagian dari abses leher dalam.
Abses leher dalam adalah terbentuknya pus pada salah satu atau lebih ruang
potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai
sumber seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal serta telinga tengah dan
leher. 1

II. ANATOMI
Ruang parafaring disebut juga sebagai ruang faringomaksila, ruang
faringeal lateral atau ruang perifaring. Ruang ini berbentuk kerucut terbalik
dengan dasarnya pada bagian superior di dasar tengkorak dan puncaknya pada
inferior tulang hyoid. Batas ruang ini adalah dasar tengkorak di bagian superior
(pars petrosus os temporal dan os sphenoid), os hyoid di inferior, rafe
pterygomandibular di anterior, fasia prevertebra di posterior, fasia bukofaringeal
di medial dan lapisan superfisial fasia servikal profunda yang meliputi mandibula,
pterygoid medial dan parotis di lateral.2

Ruang parafaring berhubungan dengan beberapa ruang leher dalam


termasuk ruang submandibula, ruang retrofaring, ruang parotis dan ruang
mastikator. Ruang parafaring dibagi menjadi 2 bagian yang tidak sama besarnya
oleh prosesus styloid menjadi kompartemen anterior atau muskuler atau prestyloid
dan komponen posterior atau neurovaskuler atau poststyloid. Ruang prestyloid
berisi lemak, otot, kelenjar limfe dan jaringan konektif serta dibatasi oleh fossa
tonsilar di medial dan pterygoid medial di sebelah lateral. Ruang poststyloid
berisi a. karotis interna, v. jugularis interna, n. vagus yang dibungkus dalam suatu
sarung yang disebut selubung karotis dan saraf kranialis IX, X, XII. Bagian ini
dipisahkan dari ruang retrofaring oleh suatu lapisan yang tipis.2

1
Gambar 1. Potongan koronal melalui ruang parafaring.2

III. EPIDEMIOLOGI
Abses parafaring adalah abses leher dalam paling sering terjadi kedua
setelah abses peritonsilar. Insidensi kejadian abses parafaring diseluruh dunia
adalah 1 dalam 6-10.000 orang setiap tahun.2
Di RSUP M Djamil Padang selama Januari 2009 sampai April 2010,
tercatat kasus abses leher dalam sebanyak 47 kasus, dengan abses submandibula
menempati urutan ke dua dengan 20 kasus dimana abses peritonsil 22 kasus, abses
parafaring 5 kasus dan abses retrofaring 2 kasus3
IV. ETIOLOGI
Ruang parafaring dapat mengalami infeksi secara :
1. Langsung, yaitu akibat tusukan jarum pada saat melakukan operasi
tonsilektomi dengan analgesia. Peradangan terjadi karena ujung jarum
suntik yang telah terkontaminasi kuman( bakteri aerob atau anaerob)
menembus lapisan otot tipis (m. konstriktor faring superior) yang
memisahkan ruang parafaring dari fosa tonsilaris.4

2. Melalui saluran limfatik atau proses supurasi kelenjar limfa leher bagian
dalam, gigi, tonsil, faring, hidung, sinus paranasal, mastoid dan fertebra
servikal dapat merupakan sumber infeksi untuk terjadinya abses ruang
parafaring.4

3. Penjalaran infeksi dari ruang peritonsil, retrofaring atau submandibula4.

V. PATOGENESIS
Infeksi leher dalam merupakan selulitis fregmentosa dengan tanda-tanda
setempat yang sangat mencolok atau menjadi tidak jelas karena tertutup jaringan

2
yang melapisinya. Seringkali dimulai pada daerah prastiloid sebagai suatu
selulitis, jika tidak diobati akan berkembang menjadi suatu trombosis dari vena
jugalaris interna. Abses dapat mengikuti m.stiloglosus ke dasar mulut dimana
terbentuk abses. 5
Infeksi dapat menyebar dari anterior ke bagian posterior, dengan perluasan
ke bawah sepanjang sarung-sarung pembuluh darah besar, disertai oleh trombosis
v.jugularis atau suatu mediastinitis. Infeksi dari bagian posterior akan meluas ke
atas sepanjang pembuluh-pembuluh darah dan mengakibatkan infeksi intrakranial
atau erosi a.karotis interna. 5
Infeksi yang bersumber dari gigi dapat menyebar ke jaringan sekitar dan
membentuk abses sublingual, submental, submandibula, mastikator atau
parafaring. Dari gigi anterior sampai M1 bawah biasanya yang mula-mula terlibat
adalah ruang sublingual dan submental. Bila infeksi dari M2 dan M3 bawah,
ruang yang terlibat dulu adalah submandibula. Hal ini disebakan posisi akar gigi
M2 dan M3 berada di bawah garis perlekatan m. milohiod pada mandibula sedang
gigi anterior dan M1 berada diatas garis perlekatan tersebut.5

VI. DIAGNOSIS
a. Anamnesis
Gejala yang sering dikeluhkan untuk abses parafaring yaitu trismus,
indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus mandibula, demam tinggi, nyeri
dan pembengkakan dinding lateral faring.
Trismus yang dapat disebabkan oleh meregangnya m.pterigoid internus
merupakan gejala yang menonjol, tetapi mungkin tidak terlihat jika infeksi jauh di
dalam sampai prosesus stiloid dan struktur yang melekat padanya sehingga tidak
mengenai m.pterigoid internus. 4,5

b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan terdapat pembengkakan dengan
nyeri tekan di daerah submandibula terutama pada angulus mandibula. Terlihat
edem uvula, pilar tonsil, palatum dan pergeseran ke medial dinding lateral faring.
Sebagai perbandingan pada abses peritonsil, hanya tonsl yang terdorong ke
medial.6

3
c. Pemeriksaan penunjang
Diagnosa ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, gejala dan tanda klinik.
Bila meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa fotorontgen,
jaringan lunak AP atau CT scan.2

Foto jaringan lunak leher antero-posterior dan lateral merupakan prosedur


diagnostik yang penting. Pada pemeriksaan foto jaringan lunak leher pada kedua
posisi tersebut dapat diperoleh gambaran deviasi trakea, udara di daerah subkutis,
cairan di dalam jaringan lunak dan pembengkakan daerah jaringan lunak leher.6

Keterbatasan pemerikasaan foto polos leher adalah tidak dapat membedakan


antara selulitis dan pembentukan abses. Pemeriksaan foto toraks dapat digunakan
untuk mendiagnosis adanya edema paru, pneumotoraks, pneumomediastinum atau
pembesaran kelenjar getah hilus. Pemeriksaan CT Scan dapat membantu
menggambarkan lokasi dan perluasan abses. Dapat ditemukan adanya daerah
densitas rendah, peningkatan gambaran kontras pada dinding abses dan edema
jaringan lunak disekitar abses. Pemeriksaan kultur dan tes resistensi dilakukan
untuk mengetahui jenis kuman dan pemberian antibiotika yang sesuai.2,6

Gambar 2. Gambaran CT-scan; A. Tampak abses parafaring (panah), B.


Selulitis pada abses parafaring dengan abses di ruang masseter.7

VII. TATALAKSANA
Tatalaksana abses parafaring dilakukan dengan medikamentosa dan terapi
bedah. Terapi medikamentosa meliputi pemberian antibiotika baik untuk kuman
aerob maupun anaerob dan simptomatis sesuai keluhan serta gejala klinik yang

4
timbul. Terapi bedah untuk evakuasi abses dapat dilakukan dengan cara insisi
eksternal atau intra oral.6

1. Medikamentosa
Banyak mikroorganisme yang dapat menjadi penyebab infeksi kepala dan
leher, dan berasal dari berbagai sumber. Flora bakteri campuran sering ditemukan
pada hasil kultur. Bakteri gram positif, streptococcus beta hemolitik dan
staphylococcus aureus adalah bakteri yang paling sering ditemukan. Bakteri gram
negatif dan juga anaerob juga sering ditemukan. Anaerob biasanya ditemukan
terutama pada infeksi-infeksi akibat penyebaran dentogen. Bakteri-bakteri
penghasil beta laktamase ditemukan meningkat frekuensinya pada infeksi kepala
dan leher. 7

Dengan insidensi bakteri gram negatif dan bakteri penghasil beta


laktamase yang tinggi, penisilin bukan lagi merupakan obat pilihan untuk kasus
infeksi ini. Sebelum hasil kultur dan uji sensitifitas didapatkan, antibiotik yang
digunakan adalah yang memiliki spektrum terhadap bakteri gram positif, gram
negatif, anaerob dan penghasil beta laktamase. Biasanya diberikan kombinasi
antibiotik, seperti klindamisin dan cefuroxime serta ampisilin dan sulbaktam,
sebagai pilihan yang paling baik. 7

2. Terapi pembedahan
Evakuasi abses harus segera dilakukan bila tidak ada perbaikan dengan
antibiotika 24-48 jam dengan cara ekplorasi dalam narkosis. Cara melalui insisi
dari intraoral dan atau insisi ekternal.4

Jika terdapat pus, tidak ada cara lain kecuali dengan evakuasi bedah.
Sebelumnya diperlukan istirahat di tempat tidur, kompres panas untuk menekan
lokalisasi abses. Terapi antimikroba sangat perlu, akan lebih baik jika disesuaikan
dengan tes sensitivitas, biakan, dan pewarnaan gram dari pus yang diambil.3,8
Insisi intraoral dilakukan jika timbul penonjolan ke dalam faring.
Dilakukan anestesi sebelum tindakan dan dilanjutkan dengan insisi
dan drainase.8

Insisi intraoral dilakukan pada dinding lateral faring. Dengan
memakai klem arteri eksplorasi dilakukan menembus m.

5
konstriktor faring superior ke dalam ruang parafaring anterior.
Insisi intraoral dilakukan bila perlu dan sebagai terapi tambahan
terhadap insisi eksternal.3

Insisi eksternal dilakukan jika suatu abses menonjol ke luar atau


tampak pembengkakan yang jelas.8
Insisi dari luar dilakukan 2 jari di bawah dan sejajar
mandibular. Secara tumpul eksplorasi dilanjutkan dari batas
anterior m. sternokleidomasteoideus kearah atas belakang
menyusuri bagian medial mandibular dan m. pterigoid interna
mencapai ruang parafaringdengan terabanya prossesus stiloid.
Bila nanah terdapat di dalam selubung karotis, insisi dilakukan
veritkal dari pertengahan insisi horizontal ke bawah di depan m.
sternokleidomastoideus (cara Mosher). Berikut ini gambaran
metode pelaksanaan insisi menurut metode Mosher8:

Gambar 3. Bentuk insisi Metode Mosher9

VIII. KOMPLIKASI
Proses peradangan dapat menjalar secara hematogen, limfogen atau
langsung (per kontinuatatum) ke daerah sekitarnya. Penjalaran ke atas
menyebabkan peradangan intracranial, ke bawah menyusuri selubung karotis
mencapai mediastinum. Komplikasi yang paling berbahaya dari infeksi spatium

6
faringomaksilaris adalah terkenanya pembuluh darah sekitarnya. Dapat terjadi
tromboflebitis septic vena jugularis. Bila terjadi periflebitis atau endoflebitis,
dapat timbul tromboflebitis dan septicemia. Dapat juga terjadi perdarahan masif
yang tiba-tiba akibat dari erosi arteri karotis interna. Kompikasi ini dapat memberi
kesan dengan adanya perdarahan awal yang kecil (perdarahan tersamar).10

DAFTAR PUSTAKA

1. Alaani A, Griffiths H, et al. 2005. Parapharyngeal abscess: diagnosis,


complications and management in adults. The jurnal of Eur Arch
Otorhinolaryngology; vol 262 : page 34550.

7
2. Erdogliza M, Sotirovic J, Grgurevic U. 2011. A severe case of parapharyngeal
abscess treated as a spastic torticollis. Medical review Milan ; Vol 3: page
387-9.

3. Novialdi dan Asyari, Ade. 2010. Penatalaksanaan abses mandibula dengan


penyulit uremia dan infark miokardium lama. FK UNAND : Padang. Hal 1 -
7.

4. Soepardi A, et al. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher,edisi 6. FKUI : Jakarta. Hal 228-9.

5. Adams GL, Boies LR, Higler PA. 2000. Buku ajar penyakt THT. Edisi 7.
EGC: 2000. Hal. 342-5.

6. Tom, Lawrence. 2003. Disease of oral cavity, Oropharynx and Nasopharynx.


Bedecker: Ontario. Page 1020-47

7. Gadre AK, Gadre KC. 2006. Infection of the deep Space of the neck..
Lippincott Company : Philadelphia. page : 666-81.
8. Probst R, Grevers G.2006. Basic otorhinolaryngology a step by step learning
guide. Thieme: Newyork. Page 193-7

9. Dorothy F., Richard V. 2006. Surgical Anatomy of the Pharynx and


Esophagus. In: Otolaryngology Basic Science and Clinical Review. Thieme.
New York. Page: 560-1.
10. Keat Jin Lee.2003. Essential otolaryngology: head & neck surgery. McGraw-
Hill Professional. Page : 483-90.