You are on page 1of 16

BAB I

STATUS PASIEN

Identitas Pasien
Nama : Ny. N
Umur : 40 tahun
Pekerjaan : IRT
Tgl MRS : 14 Juli 2016
Agama : Islam
No. RM : 08.56.xx
Alamat : Kota Baru

Autoanamnesis
Keluhan Utama :
Sesak sejak 3 jam SMRS.
Keluhan Tambahan :
Batuk, badan terasa lemas.
RPS :
Klien mengeluh sesak sejak 3 jam SMRS, sesak dirasakan terus menerus dan semakin berat
terutama saat klien batuk-batuk, agak baikan jika klien dalam posisi duduk. Sebelumnya klien
tidak mengeluh sesak saat tiduran dan tidak mengeluh sesak saat beraktifitas sehari-hari /
aktifitas biasa.
1 hari SMRS klien mengalami batuk, batuk disertai dahak berwarna putih dan terkadang
kuning. Setiap klien batuk, sesak selalu dirasakan klien.
BAK lancar, 6-7x/hari, tidak ada keluhan nyeri saat berkemih. BAB Lancar 1x/hari dan
tidak terdapat nyeri saat BAB
Klien mengeluh sedikit lemas yang terasa semakin memberat.
RPD :
Asma (+) kambuh 2 bulan yang lalu dan dinebulisasi di RS 1x dan minum obat oral, maag
sejak 15 thn lalu (+), HT disangkal, DM (-), penyakit ginjal (-).
RPK :
Ayah klien asma (+).

1
R. Psikososial :
Klien seorang IRT, sering bersih bersih (sering kontak dengan debu) tanpa menggunakan
masker, makan teratur, merokok (-), konsumsi alkohol (-).
R. Alergi :
Alergi debu (+), alergi makanan dan obat-obatan disangkal. Klien mengaku tidak
sedang/pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu.
R. Pengobatan :
Belum berobat untuk keluhan sekarang.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : tampak sakit sedang.
Kesadaran : komposmentis
Tanda Vital
TD : 130/80 mmHg
Suhu : 37,0 C
Pernapasan : 33x/menit
Nadi : 98x/menit
Sp02 : 95%
Status gizi :
TB : 156 cm
BB : 60 kg
Status gizi : 24.69
Kesan : normoweight
Status Generalis
Kepala : normocephal, rambut tidak rontok.
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-).
Hidung : deviasi septum (-), sekret (-/-), NCH (-).
Mulut : lidah kotor (-).
Leher : pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran KGB (-).
Dada :
Paru
I : simetris kanan kiri, tidak tampak dada yang tertinggal, retraksi intercostal (-/-),

2
retraksi intercostal (+/+), retraksi suprasternal (+).
P : nyeri tekan (-), bagian dada yang tertinggal saat bernafas (-).
P : paru-hepar setinggi ICS 5.
A: wheezing (+/+) ekspirasi dan inspirasi, ronkhi (-/-).
Jantung
I : Ictus cordis tidak terlihat.
P : Ictus cordis tidak teraba.
P : batas kanan jantung pada linea parasternalis dextra 3,4.
batas kiri jantung pada linea mid clavicula sinistra ICS 5.
batas paru jantung setinggi ICS 4.
A: BJ I II normal, gallop (-), murmur (-).
Abdomen
I : simetris, luka bekas operasi (-).
P : nyeri epigastrium (-), nyeri tekan hepar (-), nyeri tekan lien (-).
P : timpani seluruh kuadran abdomen.
A: peristaltik seluruh kuadran abdomen 10x/menit.
Ektremitas
Atas : akral hangat, udem (-), RCT < 2 detik.
Bawah : akral hangat, udem (-), RCT < 2 detik.

Resume
Ny. N 40 thn datang dengan keluhan sesak yang dirasakan terus-menerus dan semakin
memberat akibat batuk dan sering kontak dengan debu ruangan saat klien sedang beraktifitas.
1 hari SMRS klien mengalami batuk, batuk disertai dahak berwarna putih dan terkadang
kuning. Setiap klien batuk, sesak selalu dirasakan klien. Klien mengeluh sedikit lemas yang
terasa semakin memberat. Klien memiliki riwayat asma kambuh 2 bulan yang lalu dan
dinebulisasi di RS 1x dan minum obat oral dan maag sejak 15 thn yang lalu, ayah klien juga
menderita asma. Klien seorang IRT, sering bersih bersih (sering kontak dengan debu) tanpa
menggunakan masker, sedangkan klien memiliki alergi debu (+).
Pada PF ditemukan TD 130/80 mmHg, RR 33x/menit, suhu 37,0 C, nadi 98x/menit, SpO2
95%, dan ditemukan retraksi intercostal (+/+), retraksi suprasternal (+), wheezing (+/+)
ekspirasi dan inspirasi.
Daftar masalah :
1. Asma Bronchial.

3
Dd : Bronkitis Kronis.

Assessment
a/d : klien mengeluh sesak yang dirasakan terus-menerus dan semakin memberat akibat batuk
dan sering kontak dengan debu ruangan saat klien sedang beraktifitas, batuk (+) 1 hari
SMRS, riwayat asma (+), alergi debu (+). PF ditemukan RR 33x/menit, SpO2 95%, retraksi
intercostal (+/+), retraksi suprasternal (+), wheezing (+/+) ekspirasi dan inspirasi.
A : asma bronchial.
Rth/ : posisi supine 45.
O2 3 lpm.
nebulisasi (ventolin 1 resp + bisolvon 2cc + nacl 2cc).

Hasil Follow Up Post Nebulisasi


S = sesak berkurang, tidak sesak bila berbaring, batuk (+).
O = TD 110/80 mmHg, RR 24x/mnt, suhu 37,0C, retraksi intercostal (-/-), retraksi
suprasternal (-), wheezing.
(+/+) ekspirasi minimal.
A = Asma Bronkhial
P = salbutamol 3x1 tab 2mg.
ambroxol 3x1 tab 30mg.
neurodex 1x1 tab.
kien hindari debu (bila melakukan kegiatan yang terpapar debu klien harus
menggunakan masker).
bila batuk atau sesak segera berobat.

4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Asma


Asma merupakan sebuah penyakit kronik saluran napas yang terdapat di seluruh
dunia dengan kekerapan bervariasi yang berhubungan dengan dengan peningkatan
kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang (wheezing), sesak
napas (breathlessness), dada rasa tertekan (chest tightness), dispnea, dan batuk (cough)
terutama pada malam atau dini hari. (PDPI, 2006; GINA, 2009). Menurut National
Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI, 2007), pada individu yang rentan, gejala
asma berhubungan dengan inflamasi yang akan menyebabkan obstruksi dan
hiperresponsivitas dari saluran pernapasan yang bervariasi derajatnya.

Hubungan antara inflamasi, gejala klinis, dan patofisiologi Asma

2.2. Epidemiologi
Asma merupakan penyakit kronik yang paling umum di dunia, dimana terdapat
300 juta penduduk dunia yang menderita penyakit ini. Asma dapat terjadi pada anak-
anak maupun dewasa, dengan prevalensi yang lebih besar terjadi pada anak-anak
(GINA, 2003).
Menurut data studi Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di berbagai
propinsi di Indonesia, pada tahun 1986 asma menduduki urutan kelima dari sepuluh

5
penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan bronkitis kronik dan emfisema.
Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik, dan emfisema sebagai penyebab kematian
(mortalitas) keempat di Indonesia atau sebesar 5,6%. Lalu pada SKRT 1995, dilaporkan
prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13 per 1.000 penduduk (PDPI, 2006).
Dari hasil penelitian Riskesdas, prevalensi penderita asma di Indonesia adalah sekitar
4%. Menurut Sastrawan, dkk (2008), angka ini konsisten dan prevalensi asma bronkial
sebesar 515%.

Prevalensi Asma di Dunia

6
2.3. Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Asma
Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma adalah :
Imunitas Dasar
Mekanisme imunitas terhadap kejadian inflamasi pada asma kemungkinan terjadi
ekspresi sel Th2 yang berlebihan (NHLBI, 2007). Menurut Moffatt, dkk (2007), gen
ORMDL3 mempunyai hubungan kuat sebagai faktor predisposisi asma
Umur
Insidensi tertinggi asma biasanya mengenai anak-anak (7-10%), yaitu umur 5 14
tahun. Sedangkan pada orang dewasa, angka kejadian asma lebih kecil yaitu sekitar 3-
5% (Asthma and Allergy Foundation of America, 2010). Menurut studi yang dilakukan
oleh Australian Institute of Health and Welfare (2007), kejadian asma pada kelompok
umur 18 34 tahun adalah 14% sedangkan >65 tahun menurun menjadi 8.8%. Di
Jakarta, sebuah studi pada RSUP Persahabatan menyimpulkan rerata angka kejadian
asma adalah umur 46 tahun (Pratama dkk, 2009).
Jenis Kelamin
Menurut GINA (2009) dan NHLBI (2007), jenis kelamin laki-laki merupakan sebuah
faktor resiko terjadinya asma pada anak-anak. Akan tetapi, pada masa pubertas, rasio
prevalensi bergeser dan menjadi lebih sering terjadi pada perempuan (NHLBI, 2007).
Pada manusia dewasa tidak didapati perbedaan angka kejadian asma di antara kedua
jenis kelamin (Maryono, 2009).
Faktor Pencetus
Paparan terhadap alergen merupakan faktor pencetus asma yang paling penting.
Alergen allergen ini dapat berupa kutu debu, kecoak, binatang, dan polen/tepung sari.
Kutu debu umumnya ditemukan pada lantai rumah, karpet dan tempat tidur yang kotor.
Kecoak telah dibuktikan menyebabkan sensitisasi alergi, terutama pada rumah di
perkotaan (NHLBI, 2007). Menurut Ownby dkk (2002) dalam GINA (2009), paparan
terhadap binatang, khususnya bulu anjing dan kucing dapat meningkatkan sensitisasi
alergi asma. Konsentrasi polen di udara bervariasi pada setiap daerah dan biasanya
dibawa oleh angin dalam bentuk partikel partikel besar. Iritan iritan berupa paparan
terhadap rokok dan bahan kimia juga telah dikaitkan dengan kejadian asma. Dimana
rokok diasosiasikan dengan penurunan fungsi paru pada penderita asma, meningkatkan

7
derajat keparahan asma, dan mengurangi responsivitas terhadap pengobatan asma dan
pengontrolan asma. Menurut Dezateux dkk (1999), balita dari ibu yang merokok
mempunyai resiko 4 kali lebih tinggi menderita kelainan seperti mengi dalam tahun
pertama kehidupannya. Kegiatan fisik yang berat tanpa diselingi istirahat yang adekuat
juga dapat memicu terjadinya serangan asma (Nurafiatin dkk, 2007). Riwayat penyakit
infeksi saluran pernapasan juga telah dihubungkan dengan kejadian asma. Menurut
sebuat studi prospektif oleh Sigurs dkk (2000), sekitar 40% anak penderita asma
dengan riwayat infeksi saluran pernapasan (Respiratory syncytial virus) akan terus
menderita mengi atau menderita asma dalam kehidupannya.
Status Sosioekonomik
Mielck dkk (1996) menemukan hubungan antara status sosioekonomik / pendapatan
dengan prevalensi derajat asma berat. Dimana, prevalensi derajat asma berat paling
banyak terjadi pada penderita dengan status sosioekonomi yang rendah, yaitu sekitar
40%.

2.4. Diagnosis
Seperti pada penyakit lain, diagnosis penyakit asma dapat ditegakkan dengan
anamnesis yang baik. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan faal paru akan lebih
meningkatkan nilai diagnostik.
Anamnesis
Anamnesis yang baik meliputi riwayat tentang penyakit/gejala, yaitu :
1. Asma bersifat episodik, sering bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan
2. Asma biasanya muncul setelah adanya paparan terhadap alergen, gejala musiman,
riwayat alergi/atopi, dan riwayat keluarga pengidap asma.
3. Gejala asma berupa batuk, mengi, sesak napas yang episodik, rasa berat di dada
dan berdahak yang berulang.
4. Gejala timbul/memburuk terutama pada malam/dini hari.
5. Mengi atau batuk setelah kegiatan fisik.
6. Respon positif terhadap pemberian bronkodilator.

2.5. Pemeriksaan Fisik


Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan fisik dapat normal
(GINA, 2009). Kelainan pemeriksaan fisik yang paling umum ditemukan pada

8
auskultasi adalah mengi. Pada sebagian penderita, auskultasi dapat terdengar normal
walaupun pada pengukuran objektif (faal paru) telah terdapat penyempitan jalan napas.
Oleh karena itu, pemeriksaan fisik akan sangat membantu diagnosis jika pada saat
pemeriksaan terdapat gejala-gejala obstruksi saluran pernapasan (Chung, 2002).
Sewaktu mengalami serangan, jalan napas akan semakin mengecil oleh karena
kontraksi otot polos saluran napas, edema dan hipersekresi mukus. Keadaan ini dapat
menyumbat saluran napas; sebagai kompensasi penderita akan bernapas pada volume
paru yang lebih besar untuk mengatasi jalan napas yang mengecil (hiperinflasi). Hal ini
akan menyebabkan timbulnya gejala klinis berupa batuk, sesak napas, dan mengi
(GINA, 2009).

2.6. Faal Paru


Pengukuran faal paru sangat berguna untuk meningkatkan nilai diagnostik. Ini
disebabkan karena penderita asma sering tidak mengenal gejala dan kadar
keparahannya, demikian pula diagnosa oleh dokter tidak selalu akurat. Faal paru
menilai derajat keparahan hambatan aliran udara, reversibilitasnya, dan membantu kita
menegakkan diagnosis asma. Akan tetapi, faal paru tidak mempunyai hubungan kuat
dengan gejala, hanya sebagai informasi tambahan akan kadar kontrol terhadap asma
(Pellegrino dkk, 2005). Banyak metode untuk menilai faal paru, tetapi yang telah
dianggap sebagai standard pemeriksaan adalah: (1) pemeriksaan spirometri dan (2)
Arus Puncak Ekspirasi meter (APE). Pemeriksaan spirometri merupakan pemeriksaan
hambatan jalan napas dan reversibilitas yang direkomendasi oleh GINA (2009).
Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasiti vital paksa
(KVP) dilakukan dengan manuver ekspirasi paksa melalui spirometri. Untuk
mendapatkan hasil yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 3 ekspirasi. Banyak penyakit
paru-paru menyebabkan turunnya angka VEP1. Maka dari itu, obstruksi jalan napas
diketahui dari nilai VEP1 prediksi (%) dan atau rasio VEP1/KVP (%). Pemeriksaan
dengan APE meter walaupun kurang tepat, dapat dipakai sebagai alternatif dengan
memantau variabilitas harian pagi dan sore (tidak lebih dari 20%). Untuk mendapatkan
variabiliti APE yang akurat, diambil nilai terendah pada pagi hari sebelum
mengkonsumsi bronkodilator selama satu minggu (Pada malam hari gunakan nilai APE
tertinggi). Kemudian dicari persentase dari nilai APE terbaik (PDPI, 2006).

9
2.7. Klasifikasi
Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan faal paru dapat ditentukan klasifikasi
(derajat) asma.
Derajat Asma Gejala Gejala Malam Faal paru
Gejala < 1x / VEP1 80 % nilai
Intermiten minggu prediksi
(Bulanan) Tanpa gejala di luar 2 kali sebulan APE 80 % nilai
serangan terbaik
Serangan singkat Variabiliti APE < 20
%
Gejala > 1x /
Persisten Ringan minggu, tetapi < 1x / VEP1 80 % nilai
(Mingguan) hari > 2 kali sebulan prediksi
Serangan dapat APE 80 % nilai
mengganggu aktiviti terbaik
dan tidur Variabiliti APE 20 -
30 %
Gejala setiap hari VEP1 60 - 80 %
Persisten Sedang Serangan nilai prediksi
(Harian) mengganggu aktivitas > 1x / seminggu APE 60 - 80 % nilai
dan tidur terbaik
Membutuhkan Variabiliti APE > 30
bronkodilator setiap %
hari
Gejala terus VEP1 60 % nilai
Persisten Berat menerus Sering prediksi
(Kontinyu) Sering kambuh APE 60 % nilai
Aktiviti fisik terbaik
terbatas Variabiliti APE > 30
%

Klasifikasi berdasarkan derajat serangan. Dalam melakukan berat-ringannya


serangan asma, tidak harus lengkap untuk setiap pasien. Penggolongannya harus
diartikan sebagai prediksi dalam menangani pasien asma yang dating ke fasilitas
kesehatan dengan keterbatasan yang ada. Penilaian tingkat serangan yang lebih tinggi
harus diberikan jika pasien memberikan respon yang kurang terhadap terapi awal atau
serangan memburuk dengan cepat atau pasien berisiko tinggi.

Parameter klinis, Ringan Sedang Berat Ancaman henti


fungsi faal paru, nafas
laboratorium
Sesak Berjalan Berbicara Istirahat -
Bayi : menangis Bayi : tangis Bayi : tidak mau -

10
keras pendek dan makan/minum
lemah, kesulitan
menetek/makan
Posisi Bisa berbaring Lebih suka duduk Duduk bertopang -
lengan
Bicara Kalimat Penggal kalimat Kata-kata -
Kesadaran Mungkin iritabel Biasanya iritabel Biasanya iritabel Kebingungan
Sianosis Tidak ada Tidak ada Ada Nyata
Wheezing Sedang, hanya Nyaring, Sangat nyaring, Sulit/tidak
pada akhir sepanjang terdengar tanpa terdengar
ekspirasi ekspirasi dan stetoskop
inspirasi
Penggunaan otot Biasanya tidak Biasanya iya Iya Gerakan
bantu paradoktorako-
respiratorik abdominal
Retraksi Dangkal, retraksi Sedang, ditambah Dalam, ditambah Dangkal/hilang
intercostal retraksi nafas cuping
suprasternal hidung
Frekuensi nafas Takipneu Takipneu Takipneu Bradipneu
Frekuensi nadi Normal Takikardi Takikardi Bradikardi
Pulsus Tidak ada (<10 Ada (10-20 Ada (10-20 Ada (10-20
paradoksus mmHg) mmHg) mmHg) mmHg
PEFR atau >60% 40-60% <40%
FEV1 pra >80% 60-80% <60% respon
bronkodilator <2jam
dan pasca
bronkodilator
SaO2 >95% 91-95% 90%
PaO2 Normal (biasanya >60 mmHg <60 mmHg
tidak perlu
diperiksa)
PaCO2 <45 mmHg <45 mmHg >45 mmHg

2.8. Penatalaksanaan
Tujuan utama dari penatalaksanaan asma adalah dapat mengontrol manifestasi
klinis dari penyakit untuk waktu yang lama, meningkatkan dan mempertahankan
kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam

11
melakukan aktivitas sehari-hari. GINA dan PDPI menganjurkan untuk melakukan
penatalaksanaan berdasarakan kontrol. Untuk mencapai dan mempertahankan keadaan
asma yang terkontrol terdapat dua faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
Medikasi

Menurut PDPI, medikasi asma dapat diberikan melalui berbagai cara seperti inhalasi,
oral dan parenteral. Dewasa ini yang lazim digunakan adalah melalui inhalasi agar
langsung sampai ke jalan napas dengan efek sistemik yang minimal ataupun tidak ada.
Macammacam pemberian obat inhalasi dapat melalui inhalasi dosis terukur (IDT),
IDT dengan alat bantu (spacer), dry powder inhaler (DPI), breathactuated IDT, dan
nebulizer. Medikasi asma terdiri atas pengontrol (controllers) dan pelega (reliever).
Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang, terutama untuk asma persisten, yang
digunakan setiap hari untuk menjaga agar asma tetap terkontrol (PDPI). Menurut PDPI,
pengontrol, yang sering disebut sebagai pencegah terdiri dari :

1. Glukokortikosteroid inhalasi dan sistemik

2. Leukotriene modifiers

3. Agonis -2 kerja lama (inhalasi dan oral)

4. Metilsantin (Teofilin)

5. Kromolin (Sodium Kromoglikat dan Nedokromil Sodium)

Pelega adalah medikasi yang hanya digunakan bila diperlukan untuk cepat mengatasi
bronkokonstriksi dan mengurangi gejala gejala asma. Prinsip kerja obat ini adalah
dengan mendilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos, memperbaiki dan atau
menghambat bronkokonstriksi yang berkaitan dengan gejala akut seperti mengi, rasa
berat di dada, dan batuk. Akan tetapi golongan obat ini tidak memperbaiki inflamasi
jalan napas atau menurunkan hipersensitivitas jalan napas. Pelega terdiri dari :

1. Agonis -2 kerja singkat

2. Kortikosteroid sistemik

3. Antikolinergik (Ipratropium Bromide)

4. Metilsantin (Teofilin)

Pengobatan berdasarkan derajat


Menurut GINA (2009), pengobatan berdasarkan derajat asma dibagi menjadi :
1. Asma Intermiten

12
Umumnya tidak diperlukan pengontrol.

Bila diperlukan pelega, agonis -2 kerja singkat inhalasi dapat diberikan. Alternatif
dengan agonis -2 kerja singkat oral, kombinasi teofilin kerja singkat dan agonis -2
kerja singkat oral atau antikolinergik inhalasi.

Bila dibutuhkan bronkodilator lebih dari sekali seminggu selama tiga bulan, maka
sebaiknya penderita diperlakukan sebagai asma persisten ringan.

2. Asma Persisten Ringan

Pengontrol diberikan setiap hari agar dapat mengontrol dan mencegah progresivitas
asma, dengan pilihan :

Glukokortikosteroid inhalasi dosis rendah (diberikan sekaligus atau terbagi dua kali
sehari) dan agonis -2 kerja lama inhalasi (Budenoside : 200400 g/hari, Fluticasone
propionate : 100250 g/hari). Teofilin lepas lambat, Kromolin, Leukotriene modifiers.

Pelega bronkodilator (Agonis -2 kerja singkat inhalasi) dapat diberikan bila perlu.

3. Asma Persisten Sedang

Pengontrol diberikan setiap hari agar dapat mengontrol dan mencegah progresivitas
asma, dengan pilihan :

Glukokortikosteroid inhalasi (terbagi dalam dua dosis) dan agonis -2 kerja lama
inhalasi.

Budenoside : 400800 g/hari

Fluticasone propionate : 250500 g/hari

Glukokortikosteroid inhalasi (400800 g/hari) ditambah teofilin lepas lambat

Glukokortikosteroid inhalasi (400800 g/hari) ditambah agonis -2 kerja lama oral

Glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi (>800 g/hari)

Glukokortikosteroid inhalasi (400800 g/hari) ditambah leukotriene modifiers.

Pelega bronkodilator dapat diberikan bila perlu

Agonis -2 kerja singkat inhalasi : tidak lebih dari 34 kali sehari, atau

Agonis -2 kerja singkat oral, atau

Kombinasi teofilin oral kerja singkat dan agonis -2 kerja singkat. Teofilin kerja
singkat sebaiknya tidak digunakan bila penderita telah menggunakan teofilin lepas
lambat sebagai pengontrol.

13
Bila penderita hanya mendapatkan glukokortikosteroid inhalasi dosis rendah dan
belum terkontrol, maka harus ditambahkan agonis -2 kerja lama inhalasi.

Dianjurkan menggunakan alat bantu/spacer pada inhalasi bentuk IDT atau


kombinasi dalam satu kemasan agar lebih mudah.

4. Asma Persisten Berat


Tujuan terapi ini adalah untuk mencapai kondisi sebaik mungkin, gejala seringan
mungkin, kebutuhan obat pelega seminimal mungkin, faal paru (APE) mencapai nilai
terbaik, variabiliti APE seminimal mungkin dan efek samping obat seminimal mungkin.
Pengontrol kombinasi wajib diberikan setiap hari agar dapat mengontrol asma,
dengan pilihan :
Glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi (terbagi dalam dua dosis) dan agonis -2 kerja
lama inhalasi.
Beclomethasone dipropionate: >800 g/hari.
Selain itu teofilin lepas lambat, agonis -2 kerja lama oral, dan leukotriene modifiers
dapat digunakan sebagai alternative agonis -2 kerja lama inhalai ataupun sebagai
tambahan terapi.
Pemberian budenoside sebaiknya menggunakan spacer, karena dapat mencegar efek
samping lokal seperti kandidiasis orofaring, disfonia, dan batuk karena iritasi saluran
napas atas.

14
Penatalaksanaan Berdasarkan Derajat Asma

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia. PDPI.


2. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Departemen Kesehatan RI, 2007.
3. Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial. Journal Indonesia : volume 58.
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, 2008
4. Global Initiative for Asthma, 2015.
5. www.nhlbi.nih.gov

16