You are on page 1of 14

PENERAPAN PROGRAM BELA NEGARA SEBAGAI

PENGEMBANGAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT DI INDONESIA

Diajukan untuk memenuhi tugas Seminar

Disusun Oleh:
Nama
Nim

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PUBLIK


JURUSAN ILMU ADMINISTRASI
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia, modal sosial masih jarang dikaji, namun di dunia internasional hadir
pemahaman yang terus berkembang bahwa modal sosial merupakan salah satu faktor
penentu dalam proses pembangunan. Fukuyama (2001) percaya bahwa modal sosial
memiliki peran penting dalam keberhasilan pembangunan (sosial, budaya, ekonomi, dan
politik). Membicarakan modal sosial berarti kita sedang mempelajari bagaimana sebuah
masyarakat bekerjasama membangun suatu jaringan untuk mencapai tujuan bersama untuk
memperbaiki kualitas kehidupan. Dimensi utama dalam kajian modal sosial adalah
bagaimana sebuah masyarakat membentuk pola interaksi antar individu dalam kelompok
dan antar kelompok dengan ruang perhatian pada jaringan sosial, norma, nilai dan
kepercayaan antar sesama yang lahir dari sebuah kelompok.
Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah mengenal dan memegang modal kejujuran
atau amanah sebagai nilai tradisional, yang tanpa mereka sadari, merupakan salah satu
konsep modal sosial yang selalu dijadikan rujukan untuk memilih tokoh atau
pemimpinnya, terutama pada masyarakat pedesaan. Modal sosial adalah segala sesuatu
yang berkaitan dengan kerja sama dalam masyarakat atau bangsa untuk mencapai tujuan
hidup yang lebih baik, ditopang oleh nilai-nilai dan norma yang menjadi unsur-unsur
utamanya seperti trust (rasa saling mempercayai), partisipasi masyarakat, proses timbal
balik, aturan-aturan kolektif dalam suatu masyarakat atau bangsa dan sejenisnya
(Hasbullah, 2006). Salah satu unsur modal sosial yang diperlukan dalam kelompok adalah
sifat dan sikap untuk saling percaya dan bisa dipercaya dalam hubungan kerjasama
sehingga diantara anggota kelompok memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Modal sosial
yang kuat akan meningkatkan keefektifan suatu kelompok dalam mencapai tujuan.
Konsep modal sosial (social capital) menjadi salah satu komponen penting untuk
menunjang model pembangunan manusia karena di dalam model ini, manusia ditempatkan
sebagai subjek penting yang menentukan arah penyelenggaraan pembangunan. Partisipasi
dan kapasitas mengorganisasikan diri menjadi penting agar masyarakat dapat berperan
dalam model pembangunan manusia. Salah satu program yang dikeluarkan oleh Menteri

2
Pertahanan, Ryamirzad Ryacudu, dalam menanamkan modal sosial masyarakar adalah
melalui Penerapan Program Bela Negara. Bela negara adalah modal sosial sebagai
antisipasi ancaman dari berbagai bidang yang mengancam kesatuan negara. Ryamizard
menekankan bahwa bela negara dijadikan landasan bersikap dan berperilaku bangsa
Indonesia yang sejalan dengan upaya pembentukan revolusi mental yang dicanangkan oleh
Presiden Jokowi. Pada penerapannya, nilai-nilai bela negara dimasukkan ke dalam setiap
instansi pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini ditujukan
agar masyarakat Indonesia memiliki rasa kebangsaan yang tinggi dan mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun pada kenyataannya, program bela negara
masih memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki kembali. Oleh karena itu, penulis tertarik
membahas tentang penerapan program bela negara sebagai perkembangan modal sosial
masyarakat di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah untuk tulisan ini adalah
bagaimana penerapan program bela negara sebagai pengembangan modal sosial
masyarakat di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui penerapan program bela negara
sebagai pengembangan modal sosial masyarakat di Indonesia.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Modal Sosial


Definisi modal sosial secara sederhana yaitu serangkaian nilai-nilai atau norma-
norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat
yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka. Norma-norma yang
menghasilkan social capital harus secara substantif memasukkan nilai-nilai seperti
kejujuran, pemenuhan tugas dan kesediaan untuk saling menolong, dan komitmen bersama
(Soetrisno, 2005). Secara umum, pandangan para pakar dalam mendefinisikan konsep
modal sosial dapat dikategorikan dalam dua kelompok yaitu (Ancok, 2003):
a. Pandangan pertama, yang diwakili oleh Brehm&Rahn menekankan pada social
network berpendapat bahwa modal sosial adalah jaringan kerjasama diantara
warga masyarakat yang memfasilitasi pencarian solusi dari permasalahan yang
dihadapi mereka. Definisi lain dari Pennar the web of social relationship that
influences individual behavior and thereby affects economic growth (jaringan
hubungan sosial yang mempengaruhi perilaku individual dan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi). Cohen dan Prusak berpendapat bahwa modal sosial
adalah kumpulan dari hubungan yang aktif diantara manusia, rasa percaya, saling
mengerti dan kesamaan nilai dan perilaku yang mengikat anggota dalam sebuah
jaringan kerja dan komunitas yang memungkinkan adanya kerjasama.
Dengan demikian kelompok pertama ini menekankan pada aspek jaringan
hubungan sosial yang diikat oleh kepemilikan informasi, rasa percaya saling
memahami dan kesamaan nilai, dan saling mendukung modal sosial akan
semakin kuat apabila sebuah komunitas/organisasi memiliki jaringan hubungan
kerjasama, baik secara internal komunitas/organisasi atau hubungan kerjasama
yang bersifat antar komunitas/organisasi. Jaringan kerjasama yang sinergistik
yang merupakan modal sosial akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan
bersama.
b. Pandangan kedua yang diwakili oleh Fukuyuma menekankan pada karakteristik
yang melekat pada diri individu manusia. Menurut Fukuyuma, modal sosial

4
adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama
diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan
terjalinnya kerjasama diantara mereka. Definisi yang disampaikan Fukuyuma
adalah definisi yang melihat modal sosial sebagai suatu sifat yang melekar pada
diri individu, mengandung beberapa aspek nilai yang dikemukakan oleh
Schwarts yaitu: Universalism, nilai tentang pemahaman terhadap orang lain,
apresiasi, toleransi, serta proteksi terhadap manusia dan ciptaan Tuhan lainnya.
Benevolence, nilai tentang pemeliharaan dan peningkatan kesejahteraan orang
lain. Conformity, nilai yang terkait dengan pengekangan diri terhadap dorongan
dan tindakan yang merugikan orang lain. Security, nilai yang mengandung
keselamatan, keharmonisan, kestabilan masyarakat dalam berhubungan dengan
orang lain dan memperlakukan diri sendiri.
Modal sosial pada dasarnya bersumber dari rasa percaya (trust) pada setiap
pihak yang terlibat dalam interaksi sosial. Dari tinjauan sosiologis, konteks modal
sosial menjadi representasi dari relasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam pendekatan Georg Simmel mengenai pengidentifikasian dan
penganalisaan bentuk-bentuk yang berulang/pola-pola sosiasi. Sosiasi yang
secara harfiah berarti proses dimana masyarakat itu terjadi yang meliputi
interaksi timbali balik. Melalui proses ini individu saling berhubungan dan saling
mempengaruhi yang memunculkan masyarakat. Selanjutnya Simmel
membedakan bentuk/pola dimana proses interaksi terdiri dari isi kepentingan,
tujuan atau maksud tertentu yang sedang dikerjar melalui interaksi itu. Isi
kehidupan sosial meliputi instring erotik, kepentingan objektif, dorongan agama,
tujuan membela dan menyerang, bermain, keuntungan, bantuan/intruksi dan
tidak terbilang lainnya yang menyebabkan orang untuk hidup bersama dengan
orang lainnya, untuk bertindak terhadap mereka, bersama mereka, melawan
mereka, untuk mempengaruhi orang lain. Semuanya merupakan faktor-faktor
dalam sosiasi hanya bila mereka mengubah kumpulan individu-individu belaka
yang saling terisolasi menjadi bentuk-bentuk bersama dengan orang lain, bentuk-
bentuk yang digolongkan dalam istilah umum yakni interaksi. Jadi dapat
disimpulkan bahwa sosiasi adalah bentuk (jumlah banyak dan berbeda-beda)

5
dimana individu-individu menjadi bersama dalam satuan-satuan yang
memuaskan kepentingan-kepentingan mereka (Johnson, 1994).

B. Lingkup Modal Sosial


Adapun lingkup modal sosial sebagaimana yang dipaparkan Carrier R Leana dan
Van Burren, terdiri dari tiga komponen utama yaitu associability, shared trust, dan shared
responsibility:
Dalam konteks associability penekanannya adalah sociability, kemampuan
melakukan interaksi sosial diikuti dengan kemampuan memacu aksi kolektif yang
memadai dalam usaha-usaha bersama. Selain itu dibutuhkan shared trust, kepercayaan
timbal balik dan juga shared responsibility tanggung jawab timbal balik dalam usaha
kolektif. Dalam perspektif serupa Don Cohen Laurens mengungkapkan bahwa modal
sosial dapat terlihat dalam aspek trust, mutual understanding (saling memahami), shared
knowledge (pengetahuan bersama), dan cooperative action (aksi bersama).
Modal sosial terjelma dari persenyawaan tiga unsur yaitu pertama, ikatan tradisi
dalam wujudnya sebagai keluarga, kekerabatan dan kewilayahan, kedua ketersediaan
untuk bekerja keras dibawah pemahaman bahwa mereka yang tidak bekerja tidak berhak
memperoleh makanan, ketiga suatu konteks yang disediakan oleh pemegang tampuk
kekuasaan berupa ketentraman politik, terbukanya kesempatan ekonomi dan finansial serta
jaminan keamanan masa depan yang meyakinkan. Dua faktor utama bersama-sama dalam
bingkai konteks faktor ketiga membentuk apa yang disebut modal sosial. Maka terjadi
saling taut fungsional dari persekutuan antar manusia, karya dan modal (Sunartiningsih,
2004).

C. Tipe Modal Sosial


Woolcoock membedakan tiga tipe modal sosial sebagai berikut:
1. Social bounding, berupa nilai kultur, persepsi kultur, dan tradisi atau adat istiadat.
Modal sosial dengan karakteristik ikatan yang kuat dalam suatu sistem
kemasyarakatan dimana masih berlakunya sistem kekerabatan dengan sistem
klen yang mewujudkan rasa simpati, berkewajiban, percaya resiprositas dan
pengakuan timbal balik nilai kebudayaan yang dipercaya. Tradisi merupakan tata

6
kelakuan yang kekal serta memiliki integrasi kuat dengan pola perilaku
masyarakat mempunyai kekuatan mengikat dengan beban sanksi bagi
pelanggarnya.
2. Social bridging, berupa institusi maupun mekanisme yang merupakan ikatan
sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik
kelompoknya. Stephen Aldidgre menggambarkannya sebagai pelumas sosial
yaitu pelancar roda-roda penghambat jalannya modal sosial dalam sebuah
komunitas dengan wilayah kerja lebih luas dari pada poin 1, bisa bekerja lintas
kelompok etnis maupun kelompok kepentingan. Dapat dilihat pula adanya
keterlibatan umum sebagai warga negara, asosiasi, dan jaringan.
3. Social linking, berupa hubungan atau jaringan sosial dengan adanya hubungan
diantara beberapa level dari kekuatan sosial maupun status sosial yang ada dalam
masyarakat.

D. Bentuk Nyata Modal Sosial


Adapun bentuk nyata dari modal sosial dapat berupa:
(1) Hubungan sosial, merupakan bentuk komunikasi bersama melalui hidup
berdampingan sebagai bentuk interaksi antar individu;
(2) Adat dan nilai budaya lokal yang menjunjung tinggi kebersamaan, kerjasama dan
hubungan sosial dalam masyarakat;
(3) Toleransi merupakan salah satu kewajiban moral yang harus dilakukan setiap orang
ketika berada/hidup bersama orang lain;
(4) Kesediaan untuk mendengar berupa sikap menghormati pendapat orang lain;
(5) Kejujuran menjadi salah satu hal pokok dari keterbukaan atau transparansi untuk
kehidupan lebih demokratis;
(6) Kearifan lokal dan pengetahuan lokal sebagai pendukung nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat;
(7) Jaringan sosial dan kepemimpinan sosial yang terbentuk berdasar
kepentingan/ketertarikan individu secara prinsip/pemikiran dimana kepemimpinan
sosial terbentuk dari kesamaan visi, hubungan personal atau keagamaan;

7
(8) Kepercayaan merupakan hubungan sosial yang dibangun atas dasar rasa percaya dan
rasa memiliki bersama;
(9) Kebersamaan dan kesetiaan berupa perasaan ikut memiliki dan perasaan menjadi
bagian dari sebuah komunitas;
(10) Tanggungjawab sosial merupakan rasa empati masyarakat terhadap upaya
perkembangan lingkungan masyarakat;
(11) Partisipasi masyarakat berupa kesadaran diri seseorang untuk ikut terlibat dalam
berbagai hal berkaitan dengan diri dan lingkungan, dan
(12) Kemandirian berupa keikutsertaan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Dari paparan diatas, menunjukkan bahwa modal sosial penting maknanya dalam
kehidupan masyarakat karena memiliki fungsi dan peran meliputi:
1. Membentuk solidaritas sosial masyarakat,
2. Membangun partisipasi masyarakat,
3. Penyeimbang hubungan sosial dalam masyarakat,
4. Pilar demokrasi,
5. Adanya bargaining position dengan pemerintah,
6. Membangkitkan keswadayaan dan keswasembadaan ekonomi,
7. Bagian dari manajemen konflik,
8. Membangun integrasi sosial,
9. Dapat menghasilkan trust, norma kepercayaan, serta civic

E. Studi Kasus Program Bela Negara sebagai Pengembangan Modal Sosial Masyarakat
di Indonesia
Program Bela Negara merupakan salah satu program yang dikeluarkan oleh
Kementerian Pertahanan pada tahun 2016. Ryamizard Ryacudu, selaku Menteri
Pertahanan meminta kepada pimpinan daerah dan pimpinan akademisi untuk menyamakan
visi dan misi, terkait penanaman nilai-nilai patrotisme cinta tanah air dan pembinaan Bela
Negara di tingkat daerah di Indonesia. Selain untuk membangun kesamaan pemahaman
pembinaan kesadaran Bela Negara, rapat koordinasi yang dilaksanakan pada 25 Agustus
2016 ini juga sebagai salah satu upaya revolusi mental melalui pembangunan karakter
bangsa, sebagaimana telah menjadi program prioritas pemerintah yang tertuang dalam

8
Nawa Cita ke-8, yang dilaksanakan melalui penanaman nilai-nilai patriotisme, cinta tanah
air dan Bela Negara (forum.detik.com, 2016).
Kesadaran Bela Negara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan
nasional, sehingga pelaksanaannya tidak hanya menjadi tanggungjawab Kementerian
Pertahanan semata, tetapi menjadi tanggungjawab bersama melalui Kementerian/Lembaga
dan pemerintah daerah serta segenap komponen bangsa termasuk TNI dan Polri. Salah satu
faktor penting yang harus dipahami, Bela Negara merupakan program penting dari
Kementerian Pertahanan yang membutuhkan kerjasama dari setiap lini pemerintahan.
Pemahaman Bela Negara sebagai sebuah pendidikan tidak secara instan dapat
diresapi oleh masyarakat. Dalam penerapannya, harus dilakukan secara bertahap dan
konsisten. Bahkan Ryamizard menilai bahwa pendidikan sejak usia dini bahkan sampai
perguruan tinggi yang diharapkan dapat menanamkan jiwa kebangsaan yang tinggi namun
perlahan-lahan mulai menurun. Maka dari itu, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak
dalam menerapkan Program Bela Negara. Kerjasama ini nantinya berguna untuk
menyempurnakan program Bela Negara agar lebih seragam. Melalui keseragaman itu
menunjukkan identitas diri bangsa Indonesia dan tertanam kesadaran nilai-nilai Pancasila.
Program Bela Negara adalah modal sosial sebagai antisipasi ancaman terorisme dan
gerakan radikal yang terus berkembang. Bela Negara, menjadi landasan bersikap dan
berperilaku bangsa Indonesia yang sejalan dengan upaya pembentukan revolusi mental.
Sebagai sebuah landasan sikap dan perilaku Indonesia dalam revolusi mental maka
dinamika Bela Negara adalah modal sosial dari ancaman terorisme dan gerakan radikal.
Pada rapat koordinasi, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, memberikan
beberapa penekanan sebagai pedoman dalam menyamakan persepsi agar makna hakiki
Bela Negara tersebut dapat dipahami dengan sebenar-benarnya:
Pertama, hakikatnya Bela Negara sudah ada sebelum negara ini berdiri, kemudian
setelah kemerdekaan Bela Negara tersebut dicantumkan dalam UUD 1945 sebagai
landasan konstitusional dalam pelaksanaan bela negara bagi warga negara. Program PKBN
dilaksanakan untuk menyadarkan akan hak dan kewajiban warga negara terhadap
pembelaan negara. Upaya yang dilakukan saat ini adalah dalam rangka memenuhi hak
warga negara, yang dilakukan untuk menumbuhkembangkan kecintaan kepada negara dan

9
bangsa, bukan pemaksaan kewajiban warga negara tetapi lebih kepada pembinaan
kesadaran.
Kedua, Program Pembinaan Kesadaran Bela Negara merupakan program tahunan
Kementerian Pertahanan, yang dituangkan dalam pelaksanaan Tugas dan Fungsi Direktur
Bela Negara Ditjen Pothan. Sehingga kegiatan dilakukan menggunakan anggaran rutin
untuk Tahun 2015. Selanjutnya pada Tahun 2016 direncanakan pembentukan Kader Bela
Negara yang dilakukan di Kabupaten/Kota masing-masing dengan menggunakan potensi
Pembina Kader Bela Negara yang telah dibentuk, sementara penganggarannya
menggunakan dana APBN dan APBD masing-masing Kabupaten/Kota, dan
Kementerian/Lembaga terkait.
Ketiga, Kegiatan Kader Pembinaan Kesadaran Bela Negara bukan merupakan wajib
militer, karena kegiatan Pembinaan Kesadaran Bela Negara dilakukan untuk membangun
karakter bangsa dan kesadaran warga negara dalam mengamalkan nilai-nilai bela negara
dalam segala aspek kehidupan. Program ini adalah upaya pemerintah dalam rangka
memfasilitasi hak warga negara dalam pembelaan negara, bukan dalam rangka
memfasilitasi kewajiban warga negara dalam pembelaan terhadap negara yang harus diatur
oleh Undang-Undang. Oleh karena itu, Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan telah
mencanangkan terbentuknya 100 juta Kader Bela Negara di seluruh Indonesia. Kader
tersebut yang nantinya bertugas mensosialisasikan dan mengaktualisasikan kepada
lingkungannya sekaligus sebagai agen perubahan untuk mewujudkan gerakan nasional
bela negara. Kesadaran dan aktualisasi sikap mental bela negara itulah yang secara
langsung dan tidak langsung mendukung usaha terbangunnya sistem pertahanan negara
yang bersifat semesta.

F. Analisis
Sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat penting dalam menjamin
kelangsungan hidup suatu negara. Salah satu hal yang perlu dilakukan untuk menciptakan
sumber daya manusia yang berkualitas adalah melakukan pembinaan dengan menanamkan
nilai-nilai yang sesuai dengan karakter suatu bangsa itu sendiri. Oleh karena itu, pembinaan
kesadaran bela negara sangat penting bagi negara Indonesia. Sasaran yang ingin dicapai
melalui pembinaan kesadaran Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang

10
cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila sebagai ideologi
negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta mempunyai kemampuan awal bela
negara, dan memiliki karakter bangsa, optimisme, disiplin, kerja sama serta
kepemimpinan. Jadi kesadaran inilah yang perlu ditekankan untuk ditanamkan sebagai
landasan sikap dan perilaku bangsa Indonesia sebagai bagian dari revolusi mental untuk
membangun daya tangkal bangsa dan negara Indonesia. Setiap warga negara yang
memiliki kesadaran Bela Negara akan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-
hari, jika hal ini dilakukan secara kolektif akan memberi efek penggentar (detterence effect)
bagi bangsa dan negara lain yang ingin mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah
dan keselamatan segenap bangsa Indonesia.
Hak dan kewajiban warga negara dalam upaya bela negara telah diatur dalam
Undang-Undang Dasar 1945. Bela negara merupakan tanggung jawab dan kehormatan
bagi setiap warga negara, sehingga tidak seorangpun warga negara dapat menghindar dari
kewajiban keikutsertaan dalam pembelaan negara kecuali yang telah ditentukan di
Undang-Undang. Implementasi bela negara harus tercermin pada pola pikir, pola sikap,
dan pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara kesatuan
RI daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan kata lain, bela negara menjadi
pola yang mendasari cara berpikir,bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi,
menyikapi, atau menangani berbagai permasalahan menyangkut kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara dengan senantiasa berorientasi pada kepentingan rakyat dan
wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh. Untuk mengetuk hati nurani setiap warga
negara agar sadar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara diperlukan pendekatan melalui
sosialisasi/pemasyarakatan bela negara dengan program yang teratur, terjadwal dan terarah
sehingga akan terwujud keberhasilan implementasi yang dapat menumbuhkan kesadaran
bela negara.

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengembangan modal sosial menjadi penting untuk diperhatikan setiap negara dalam
menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pada tulisan ini, penulis berpendapat
bahwa modal sosial diartikan sebagai pembentukan jaringan kerjasama diantara warga
masyarakat yang memfasilitasi pencarian solusi dari permasalahan yang dihadapi mereka.
Pembentukan modal sosial yang dilakukan di Indonesia adalah melalui penerapan Program
Bela Negara. Program Bela Negara merupakan program penanaman nilai-nilai
nasionalisme kepada seluruh masyarakat dengan dibantu oleh pemerintah daerahnya
masing-masing dan kader-kader delegasi yang sudah mendapatkan pelatihan dari
Kementerian Pertahanan. Tujuan dari program ini adalah untuk menciptakan pola pikir,
pola sikap, dan pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara
kesatuan Repubik Indonesia daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Salah satu
bentuk nyata yang dapat dilakukan dengan memiliki modal sosial adalah ikut berpartisipasi
dalam kegiatan masyarakat dan berbagai hal yang berkaitan dengan diri dan lingkungan.

B. Saran
Saran dari penulis dalam menanggapi tulisan ini yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan penelusuran dan penilaian terhadap kader-kader yang mendapatkan
pelatihan bela negara, apakah sudah sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan
atau belum sebelum diterjunkan ke masyarakat.
2. Membuat indikator penilaian yang jelas dan terstruktur untuk mengetahui
kualitas dari tiap kader, sehingga mampu mensosialisasikan hasil pelatihan
kepada masyarakat secara optimal.
3. Mengkonsep pengembangan modal sosial melalui instansi pendidikan untuk
membantu Kementerian Pertahanan dalam menerapkan program bela negara.

12
DAFTAR PUSTAKA

Ancok, Djamaludin. 2003. Modal Sosial dan Kualitas Masyarakat. Dalam Pidato.

Fachrudin, Fachri. 2016. Menhan Sebut Bela Negara Modal Sosial Antisipasi Terorisme
dan Radikalisme. Melalui Online
http://nasional.kompas.com/read/2016/08/25/12464251/menhan.sebut.bela.negara.
modal.sosial.antisipasi.terorisme.dan.radikalisme, diakses pada 4 Juni 2017.

Fukuyama, Francis (1995) Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. New
York: The Free Press.

Gemilang, Mirza. 2015. Menhan: Ratusan Juta Kader Bela Negara. Melalui Online
http://www.kompasiana.com/120673/menhan-ratusan-juta-kader-bela-negara-
dibentuk_56316bb8337b617d048b4569, diakses pada 4 Juni 2017.

Gundalasatria. 2016. Menyamakan Visi dan Misi Bela Negara dalam Rakor Pembentukan
Kader Bela Negara. Melalui Online
http://forum.detik.com/showthread.php?p=34377736, diakses pada 4 Juni 2017.

Hasbullah, J. 2006. Social Capital (Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia).


Jakarta: MR-United Press.

Johnson, Doyle Paul. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Soetrisno, Noer. 2005. Ekonomi Rakyat, Usaha Mikro dan UKM dalam Perekonomian
Indonesia Sumbangan untuk Analisis Struktural. Jakarta: STEKPI.

Sunartiningsih, Agnes. 2004. Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Institusi Lokal.


Yogyakarta: Aditya Media.

Syahra, Rusydi. 2003. Modal Sosial: Konsep dan Aplikasi. Jakarta: LIPI.

Wardi, Robestus. 2016. Menhan: Bela Negara Tumbuhkan Nasionalisme. Melalui Online
http://www.beritasatu.com/nasional/381742-menhan-bela-negara-tumbuhkan-
nasionalisme.html, diakses pada 4 Juni 2017.

13
Yanuantari, Tita. 2016. Ryamirzad Ryacudu Jelaskan Program Bela Negara Adalah Modal
Sosial. Melalui Online http://www.harianindo.com/2016/08/25/131432/ryamirzad-
ryacudu-jelaskan-program-bela-negara-adalah-modal-sosial/, diakses pada 4 Juni
2017.

14