You are on page 1of 20

MAKALAH

FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI III


ANTIBIOTIK TETRASIKLIN

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3 / KELAS B

MUSDALIFAH ILYAS G 701 14 002


SOPHIANA ENJELIN ANARHASIA G 701 14 074
NURUL JANNAH G 701 14 080
WAHYUNI UDIN G 701 14 095
MOH. RIFALDI G 701 14 104
HILZA PRILLA KIAY D. G 701 14 122
DINI AULIA G 701 14 164
CORRY STEPHANIE G 701 14 201
HARTANTI ENTEDING G 701 14 002

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi


sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru
sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada
terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
Antibiotik Tertrasiklin.

Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai


pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah
memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah
semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit
kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.

Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir
kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Palu, 4 Oktober 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Sampul ........................................................................................................... i
Kata Pengantar ............................................................................................... ii
Daftar Isi ......................................................................................................... iii

Bab I Pendahuluan
1. Latar Belakang .................................................................................. 1
2. Rumusan Masalah ............................................................................. 2
3. Maksud Makalah ............................................................................... 2

Bab II Pembahasan
1. Sejarah ............................................................................................... 3
2. Struktur Molekul Tetrasiklin ............................................................. 3
3. Biosintesis dan Reaksi reaksi Pokok Tetrasiklin ........................... 5
4. Sifat Fungsi dan Mekanisme Tetrasiklin........................................... 6
5. Sintesa Tetrasiklin ............................................................................. 10
6. Efek Samping Tetrasiklin.................................................................. 10
7. Manfaat Tetrasiklin untuk Penyakit ................................................. 12
8. Farmakodinamik ............................................................................... 13
9. Efek Antimikroba .............................................................................. 13
10. Farmakokinetik ................................................................................. 15

Bab III Penutup


1. Kesimpulan ......................................................................................... 16
2. Saran .................................................................................................... 16

Daftar Pustaka ................................................................................................. iv

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat ini banyak macam antibiotik tersedia di pasaran . Begitu
banyak macamnya sehingga kadang-kadang membingungkan bagi dokter
yang ingin menggunakannya. Apalagi dengan adanya tekanan promosi
yang sangat gencar, tidak jarang merangsang pemakaian antibiotik yang
menjurus ke arah ketidakrasionalan.

Farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun


unutk seorang dokter ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat
menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan
penyakit. Selain agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan
berbagai gejala penyakit.

Antiboitika ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi,


yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain.
Antibiotik juga dapar dibuat secara sintesis. Antimikroba diartikan sebagai
obat pembasmi mikroba khususnya yang merugikan manusia.

Walaupun diagnosa mikrobiologik hanya dapat dilakukan pada


sebagian kecil kasus penyakit infeksi, tetapi agar kita tetap ada dalam garis
pemakaian antibiotik yang rasional kita harus tetap berfikir secara
mikrobiologik. Kalau kita menghadapi suatu penyakit infeksi dengan
berbagai macam simtomnya harus kita bayangkan kira-kira kuman apa yang
menyebabkannya gram positif atau gram negatif, ataukah anaerob/dan
terhadap antibiotika yang mana kuman tersebut diperkirakan masih sensitif.

Anggapan bahwa antibiotik yang lebih baru dan lebih mahal


mujarab dari antibiotika yang sudah lama digunakan merupakan anggapan
yang salah . Justru banyak antibiotika yang baru menpunyai spesifikasi
tertentu sehingga bila tidak dipergunakan sesuai dengan spesifikasinya
maka khasiatnya tidak seperti yang diharapkan.

1
I.2. Rumusan Masalah

Adapunn rumusan masalah pada makalah ini yaitu :

1. Bagaimana sejarah dari tetrasiklin ?


2. Bagaimana struktur molekul tetrasiklin ?
3. Bagaimana biosintesis dan reaksi reaksi pokok tetrasiklin?
4. Bagaimana sifat fungsi dan mekanisme tetrasiklin ?
5. Bagaimana sintesa tetrasiklin ?
6. Apa efek samping tetrasiklin ?
7. Apa saja manfaat tetrasiklin untuk penyakit ?
8. Bagaimana farmakodinamik tetrasiklin ?
9. Apa efek Antimikroba pada tetrasiklin ?
10. Bagaimana farmakokinetik tetrasiklin ?

I.3. Maksud Makalah

Adapunn maksud makalah ini yaitu :

1. Untuk mengetahui sejarah dari tetrasiklin.


2. Untuk mengetahui struktur molekul tetrasiklin.
3. Untuk mengetahui biosintesis dan reaksi reaksi pokok tetrasiklin.
4. Untuk mengetahui sifat fungsi dan mekanisme tetrasiklin.
5. Untuk mengetahui cara sintesa tetrasiklin.
6. Untuk mengetahui efek samping tetrasiklin.
7. Untuk mengetahui manfaat tetrasiklin untuk penyakit.
8. Untuk mengetahui farmakodinamik tetrasiklin.
9. Untuk mengetahui efek Antimikroba pada tetrasiklin.
10. Untuk mengetahui farmakokinetik tetrasiklin.

2
BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Sejarah
Tetrasiklin pertama kali ditemukan oleh Lloyd Conover. Berita
tentang Tetrasiklin yang dipatenkan pertama kali tahun 1955. Tetrasiklin
merupakan antibiotika yang memberi harapan dan sudah terbukti menjadi
salah satu penemuan antibiotika penting. Antibiotik golongan tetrasiklin
yang pertama ditemukan adalah klortetrasiklin yang dihasilkan oleh
Streptomyces aureofaciens. Kemudian ditemukan oksitetrasiklin dari
Streptomyces rimosus. Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari
klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh dari spesies Streptomyces lain.

Protection for its fermentation and production was also first issued in
1950.Pada tahun 1950, Profesor Harvard Robert Woodward menentukan
struktur kimia Terramycin, nama merek untuk anggota keluarga tetrasiklin;
paten perlindungan untuk fermentasi dan produksi juga pertama kali
diterbitkan pada tahun 1950. A research team of seven scientists at , in
collaboration with Woodward, participated in the two-year research leading
to the discovery.

Alasan mengapa disebut tetrasiklin karena terdiri dari 4 ("tetra-")


hidrokarbon cincin ("-cycl-") derivasi ("-ine) yang merupakan subclass dari
poliketida yang memiliki kerangka octahydrotetracene-2-karboksamida.

II.2. Struktur Molekul Tetrasiklin


Senyawa-senyawa yang termasuk kelompok tetrasiklin mempunyai
kerangka dasar karbon dari naftasen C-18 yang terhidrogenasi secara parsial,
oleh karena itu disebut juga kerangka hidronaftasen. Beberapa senyawa
yang termasuk kelompok tetrasiklin tercantum pada gambar berikut.

3
Struktur kimia golongan tetrasiklin
R1 R2 R3 R4 Nama senyawa
H H H H 6-Deoksi-6-dimetiltetrasiklin
H OH H H 6-dimetiltetrasiklin
H OH CH3 H Tetrasiklin (akromisin)
Cl OH H H 7-kloro-6- dimetiltetrasiklin
H OH CH3 OH 5-hidroksitetrasiklin (oksi-tetrasiklin,
teramisin)
Cl OH CH3 H 7-klorotetrasiklin (klor-tetrasiklin,
aureomisin)

Tetrasiklin adalah zat anti mikroba yang diperolah denga cara


deklorrinasi klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina, atau denga fermentasi.
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam
natrium atau garam HClnya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk
basa dan garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam larutan,
kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga cepat berkurang potensinya.

Di antara senyawa-senyawa tetrasiklin tersebut di atas, yang


termasuk tetrasiklin alam ialah tetrasiklin atau akromisin, oksitetrasiklin
atau teramisin dan klortetrasiklin atau auromisin. Sedangkan 6-
dimetiltetrasiklin dan 7-kloro-6-dimetiltetrasiklin kedua-duanya dihasilkan
oleh turunan mikroba yang semula berasal dari Streptomyces Aureus. Kedua
senyawa yang terakhir ini sangat sukar diuraikan baik oleh asam maupun
basa, sehingga berguna untuk pengobatan secara oral.

Dari struktur senyawa-senyawa tetrasiklin seperti tertera pada


gambar di atas, terlihat bahwa perbedaan antara tetrasiklin, klortetrasiklin
dan oksitetrasiklin masing-masing terletak pada adanya atom klor pada C-7
(cincin D) dan gugus hidroksi pada C-4 (cincin A) dari kerangka
hidronaftasen.

4
II.3. Biosintesis dan Reaksi-Reaksi Pokok Tetrasiklin
Tetrasiklin adalah senyawa-senyawa yang termasuk golongan
poliketida. Percobaan-percobaan menunjukkan bahwa tertrasiklin berasal
dari delapan unit malonil-koenzim A, seperti ditunjukkan oleh gambar.

Sebagaimana ditunjukkan oleh gambar, malonamoil-koenzim A


bertindak sebagai inisiator untuk polimerisasi delapan molekul malonil-
koenzim A menghasilkan suatu poliketida-amida yang linier. Poliketida-
amida ini selanjutnya direka menghasilkan tetrasiklin, melalui serentetan
reaksi sederhana dan berlangsung secara bertahap. Melalui rangkaian reaksi
ini, dihasilkan senyawa-senyawa antara yang utama, seperti pret etramid dan
6-metilpretetramid, yang mengandung semua atom karbon yang diperlukan
pada hasil-hasil akhir.

Tetrasiklin dari deret 6-dimetil, seperti 6-demetiltetrasiklin dan 7-kloro-


6-deametiltetrasiklin, diturunkan dari pretetramid. Sedangkan, tetrasiklin,
deret 7-klorotetrasiklin, dan deret 5-hidrositetrasiklin diturunkan dari 6-
metilpretetramid.

Biosintesis tetrasiklin bermula dari karboksilasi asetil-KoA membentuk


malonil-KoA dengan enzim asetil-KoA karboksilase. Malonil-KoA
kemudian bereaksi dengan 2-oksosuksinamat menghasilkan malonamoil-
KoA. 2-oksosuksinamat merupakan hasil dari transaminasi asparagin
dengan enzim asam okso-asparagin transaminase. Malonamoil-KoA
kemudian dikonversi lebih lanjut menjadi 4-hidroksi-6-metilpretetramida
melalui 6-metilpretetramida. Senyawa inilah yang akan diubah menjadi 4-
dedimethylamino-4-okso-anhidrotetrasiklin, yang merupakan intermediat
dalam menghasilkan klorotetrasiklin dan tetrasiklin.

5
II.4. Sifat Fungsi dan Mekanisme Kerja Tetrasiklin
1. Sifat kimiawi tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi
bentuk garam natrium atau garam HCl-nya mudah larut. Dalam keadaan
kering, bentuk basa dan garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil.
Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga cepat
berkurang potensinya. Golongan tetrasiklin adalah suatu senyawa yang
bersifat amfoter sehingga dapat membentuk garam baik dengan asam
maupun basa. Sifat basa tetrasiklin disebabkan oleh adanya radikal
dimetilamino yang terdapat didalam struktur kimia tetrasiklin, sedangkan
sifat asamnya disebabkan oleh adanya radikal hidroksi fenolik.

Tetrasiklin harus disimpan di tempat yang kering, terlindung


dari cahaya. Tetrasiklin apabila bereaksi dengan logam bervalensi 2 dan
3 (Ca, Mg, Fe ) maka akan membentuk kompleks yang inaktif sehingga
tetrasiklin tidak boleh diminum bersama dengan susu dan obat-obat
antasida.

Obat ini dalam bentuk kering bersifat stabil, tidak demikian halnya
bila antibiotika ini berada dalam larutan air. Untuk tetrasiklin sediaan
basah perlu ditambahkan buffer. Dalam larutan tetrasiklin yang biasa
digunakan untuk injeksi mengandung buffer dengan pelarut propylen
glikol pada pH 7,5, dapat tahan 1 tahun pada suhu kamar sampai 45C.
Bila pH lebih tinggi dari 7,5 maka tingkat kestabilan tetrasiklin akan
menurun.

2. Kegunaan Tetrasiklin
Kegunaan klinis tetrasiklin dalam kedokteran hewan yaitu:
Hewan Kecil
Tetrasiklin digunakan untuk mengatasi berbagai infeksi
yang disebabkan oleh kuman gram positif maupun gram negatif,
terutama pada penyakit saluran pernafasan, perkencingan,

6
leptospirosis (penyakit manusia dan hewan dari kuman dan
disebabkan kuman Leptospira yang ditemukan dalam air seni dan
sel-sel hewan yang terkena), dan panleukopenia (penyakit yang
menyebabkan jumlah sel darah putih kucing menurun dengan
drastis).

Hewan besar

Antibiotika ini hampir selalu diberikan untuk mengatasi


berbagai penyakit pada hewan besar, hal ini mungkin disebabkan
karena sifat obat yang mempunyai spectrum luas. Dalam kasus
lapangan antibiotika ini biasa digunakan untuk mengatasi penyakit-
penyakit seperti metritis, pneumonia, mastitis, enteritis,
leptospirosis, shipping fever, listeriosis, anaplasmosis, penyakit
jembrana dan antraks.

Untuk babi

Dapat digunakan untu mengatasi penyakit seperti radang usus,


paru, dan lain-lain. Dalam dosis rendah klortetrasiklin juga
ditemukan tercampur dalam pakan.

Untuk unggas

Biasa digunakan untuk mengatasi penyakit pada unggas seperti


CRD, sinusitis, infeksi PPLO dan erysipelas. Dalam banyak pakan
ayam juga ditemukan kadar tetrasiklin dengan dosis rendah.

Penggunaan topikal

Tetrasiklin digunakan untuk mengatasi radang infeksi pada kulit,


biasanya sediaan tetrasiklin dikemas dalam bentuk salep 1%. Dapat
digunakan untuk mengobati penyakit mata seperti opthalmik, selain
itu dapat juga digunakan untuk mengatasi pink eye.

7
3. Mekanisme Kerja Tetrasiklin
Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dengan jalan menghambat
sintesis protein. Hal ini dilakukan dengan cara mengikat unit ribosoma sel
kuman 30 S sehingga t-RNA tidak menempel pada ribosom yang
mengakibatkan tidak terbentuknya amino asetil RNA. Antibiotik ini
dilaporkan juga berperan dalam mengikat ion Fe dan Mg. Meskipun
tetrasiklin dapat menembus sel mamalia namun pada umumnya tidak
menyebabkan keracunan pada individu yang menerimanya.

Ada 2 proses masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram


negatif; pertama yang disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua
ialah sistem transport aktif. Setelah masuk maka antibiotik berikatan
dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya tRNA-asam amino pada
lokasi asam amino.

a. Efek Antimikroba

Pada umumnya spektrum golongan tetrasiklin sama (sebab


mekanismenya sama), namun terdapat perbedaan kuantitatif dan
aktivitas masing-masing derivat terhadap kuman tertentu. Hanya
mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi obat ini. Golongan
tetrasiklin termasuk antibiotik yang terutama bersifat bakteriostatik dan
bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman.

b. Farmakokinetik

Absorpsi
Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam saluran cerna.
Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorpsi
sebagian besar berlangsung di lambung dan usus halus. Adanya
makanan dalam lambung menghambat penyerapan, kecuali
minosiklin dan doksisiklin. Absorpsi dihambat dalam derajat tertentu
oleh pH tinggi dan pembentukan kelat yaitu kompleks tetrasiklin
dengan suatu zat lain yang sukar diserap seperti aluminium

8
hidroksid, garam kalsium dan magnesium yang biasanya terdapat
dalam antasida, dan juga ferum. Tetrasiklin diberikan sebelum
makan atau 2 jam sesudah makan.
Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein
plasma dalam jumlah yang bervariasi. Dalam cairan cerebrospinal
(CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20% kadar dalam
serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya
meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan tubuh cukup
baik. Obat golongan ini ditimbun di hati, limpa dan sumssum
tulang serta di sentin dan email gigi yang belum bererupsi.
Golongan tetrasiklin menembus sawar uri dan terdapat dalam ASI
dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin
lainnya, doksisiklin dan minosiklin daya penetrasinya ke jaringan
lebih baik.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi
glomerolus dan melalui empedu. Pemberiaan per oral kira-kira 20-
55% golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin. Golongan
tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai
kadar 10 kali kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang
diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi
enterohepatik; maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk
waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada
saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini akan mengalami
kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui
tinja.

9
II.5. Sintesa Tetrasiklin
Struktur molekul senyawa-senyawa tetrasiklin bukanlah tergolong
sederhana, oleh karena itu sintesa tetrasiklin melibatkan berbagai jenis
reaksi organik. Kesulitan utama dalam mensintesa molekul tetrasiklin yaitu
terletak pada cincin A. Hal ini dikarenakan pada setiap atom karbon dari
cincin ini mengandung sedikitnya satu subtituen. Disamping itu, tiga dari
enam atom karbon asimetri dalam molekul tetrasiklin yang paling banyak
tersubtitusi, seperti oksitetrasiklin terdapat juga pada cincin A. Sehingga
untuk menghasilkan satu isomer optic yang aktif, bebas dari isomer-isomer
lainnya memerlukan pendekatan yang berhati-hati.

Sintesa tetrasiklin dimulai dengan sintesa suatu senyawa antara


trisiklik yang sudah mengandung cincin B, C, dan D dari molekul tetrasiklin
dengan menggunakan reaksi Diels Alder. Sintesa ini diikuti oleh
pengubahan-pengubahan terhadap gugus-gugus fungsi menghasilkan suatu
senyawa antara baru, yaitu suatu diendiolon. Dimana senyawa antara
diendiolon ini dapat dimodifikasi unsur-unsur yang diperlukan untuk
membentuk cincin A dalam molekul tetrasiklin.

II.6 Efek samping Tetrasiklin

Efek samping dalam penggunaan tetrasiklin diantaranya yaitu:

1. Perusakan warna pada gigi


Tetrasiklin mengandung gugus-gugus hidroksil, dimana gugus
tersebut akan membentuk ikatan bila dikombinasikan dengan Ca++
sebagai unsur-unsur pembentuk gigi. Tetrasiklin dapat mengikat kalsium
secara irreversible, kemudian berikatan dengan kristal hidroksiapatit baik
di dentin maupun enamel. Juga, mempunyai kemampuan membentuk
kompleks atau ikatan dengan kristal hidroksiapatit dalam gigi sehingga
mengakibatkan terbentuknya senyawa orthocalcium phosphat complex
yang tertimbun pada gigi dan menyebabkan perubahan warna pada gigi.

10
Dentin ditunjukkan sebagai jaringan yang paling sulit untuk berubah
warna daripada enamel jika melalui plasenta.
Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya perubahan
warna pada gigi. Faktor-faktor tersebut antara lain struktur kimia dari
senyawa tetrasiklin, dosis yang digunakan, lamanya pemakaian dan masa
pembentukan gigi.
Faktor utama penyebab dari perubahan warna pada gigi anak akibat
tetrasiklin adalah pemberian obat dalam masa pembentukan gigi, baik
gigi sulung maupun gigi permanen. Pada masa pembentukan gigi,
struktur gigi yang sedang mengalami kalsifikasi seperti kalsium akan
diikat oleh tetrasiklin secara irreversible. Kemudian ikatan tersebut
mengikat hidroksi apatit dalam struktur gigi yang sedang erupsi. Ikatan
ini nantinya akan menetap pada dentin dan enamel sehingga
mengakibatkan perubahan warna pada gigi.

2. Merapuhkan gigi dan melubangi gigi


Pemakaian tetrasiklin yang terus-menerus menyebabkan email gigi
tidak terbentuk sempurna, dan permukaan gigi tidaklah halus dan rata.
Gigi menjadi sulit dibersihkan, dan plak menempel dengan kuat sehingga
gigi mudah berlubang.

3. Gangguan pencernaan
Gangguan saluran pencernaan merupakan yang sering terjadi.
Diantaranya seperti mual, muntah, diare, nyeri menelan , iritasi
kerongkongan. Efek samping yang jarang terjadi termasuk : kerusakan
hati, pankreatitis, gangguan darah, fotosensitif, reaksi hipersensitif (ruam,
dermatitis eksfoliatif, sindrom steven-johnson, urtikaria, angioedema,
anafilaksis, carditis). Sakit kepala dan gangguan penglihatan dapat terjadi
dan dapat menjadi penanda peningkatan tekanan dalam kepala dan segera
hentikan pengobatan bila ini terjadi.

11
3.7. Manfaat Tetrasiklin Untuk penyakit
Ini adalah beberapa contoh penyakit yang dapat di obati dengan
golongan tetrasiklin :

1. Infeksi Klamidia

Limfogranuloma venereum.

Untuk penyakit ini golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan


utama. Pada infeksi akut diberikan terapi selama 3-4 minggu dan
untuk keadaan kronis diberikan terapi 1-2 bulan. Empat hari setelah
terapi diberikan bubo mulai mengecil.

Psikatosis

Pemberian golongan tetrasiklin selama beberapa hari dapat


mengatasi gejala klinis. Dosis yang digunakan ialah 2 gram per hari
selama 7-10hari atau 1 gram per hari selama 21 hari.

Trakoma

Pemberian salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasikan


dengan doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari selama 14 hari memberikan
hasil pengobatan yang baik.

2. Infeksi Basil

Bruselosis

Pengobatan dengan golongan tetrasiklin memberikan hasil baik


sekali untuk penyakit ini. Hasil pengobatan yang memuaskan biasanya
didapat dengan pengobatan selama 3 minggu. Untuk kasus berat,
seringkali perlu diberikan bersama streptomisin 1gram sehari IM.

Tularemia

Obat pilihan utama untuk penyakit ini sebenarnya ialah


streptomisin, tetapi terapi dengan golongan tetrasiklin juga
memberikan hasil yang baik.

12
Kolera

Doksisiklin dosis tunggal 300 mg merupakan antibiotik yang


efektif untuk penyakit ini. Pemberian dapat mengurangi volume diare
dalam 48 jam.

II.8. Farmakodinamik

Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein pada ribosomnya.


Paling sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom
bakteri gram negatif; pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik,
kedua melalui sistem transport aktif. Setelah masuk antibiotik berikatan
secara reversibel dengan ribosom 30 S dan mencegah ikatan tRNA-aminoasil
pada kompleks mRNA-ribosom. Hal tersebut mencegah perpanjangan rantai
peptida yang sedang tumbuh dan berakibat terhentinya sintesis protein
(Gunawan, G, S, 2012).

II.9. Efek Antimikroba

Golongan tetrasiklin termasuk antibiotik yang terutama bersifat


bakteriostatik. Hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi obat
ini.

Spektrum Antimikroba : tetrasiklin memperlihatkan spektrum


antibakteri luas yang meliputi kuman gram positif dan gram negatif, aerobik
dan anaerobik. Selain itu ia juga aktif terhadap spiroket mikoplasma, reketsia,
klamidia, legionela, dan protozoa tertentu.

Spektrum golongan tetrasiklin umumnya sama mekanisme kerjanya,


namun terdapat perbedaan kuantitatif dari aktivitas masing-masin derivat
terhadap kuman tertentu.

Tetrasiklin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin dalam


pengobatan infeksi batang gram positif seperti B. Anthracis, Erysipelothrix

13
musiophatiae, clostridium tetani dan listeria monocytogenes. N gonorrhoeae
penghasil penisilinase (PPNG) biasanya resisten terhadap tetrasiklin.

Evektifitasnya tinggi terhadap infeksi batang gram negatif seperti


Brucella, Francisella tularensis, psedeudomonas mallei, Vibrio cholerae
mungkin sensitif, tetapi E. Coli, klebsiella, Enterobacter, Proteus indol
positif dan Pseudomonas umumnya resisten.

Tetrasiklin juga merupakan obat yang sangat efektif untuk infeksi


Mycoplasma pneumoniae, Ureaplasma urealyticum, dan berbagai riketsia.
Selain itu obat ini juga aktif terhadap Borrelia recurrentis, Treponema
pallidum, Actinomyces israelii. Dalam keadaan tinggi antibiotik ini
menghambat pertumbuhan Entamoeba hysrolytica.

Tigesiklin berspektrum luas dan efektif untuk menghambat kuman


E.coli, E.faecalis, S.agalactiae, S.anginosus, (termasuk galur yang resisten
terhadap metisilin-MRSA).

Resisten. Beberapa spesies kuman, terutama streptokokus beta


hemolitikus, E.coli, P.aeruginosa, N gonorrhoeae, bacteroides, shigella, dan
S. Aureus, makin meningkat resistensinya terhadap tetrasiklin. Mekanisme
resistensi yang terpenting adalah diproduksinya pompa protein yang akan
mengeluarkan obat dari dalam sel bakteri. Protein ini dikode dalam plasmid
dan dipindahkan dari bakteri yang satu ke bakteri yang lain melalui proses
transduksi atau konjugasi. Resistensi terhadap satu jenis tetrasiklin biasanya
disertai dengan resistensi terhadap semua jenis tetrasiklin lainnya, kecuali
minosiklin pada resistensi S.aureus dan doksisiklin pada resistensi B.
Fragilis.

14
II.10. Farmakokinetik

Absorbsi : kira-kira 30-80% tetrasiklin diserap lewat saluran cerna.


Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorbsi ini sebagian
besar berlangsung dilambung dan usus halus bagian atas. Berbagai faktor
dapat menghambat penyerapan tetrasiklin seperti adanya makanan dalam
lambung (kecuali monosiklin dan doksisiklin), pH tinggi, pembentukan kelat
(kompleks tetrasiklin dengan zat lain yang sukar diserap seperti kation Ca2+,
Mg2+, Fe2+, Al3+, yang terdapat dalam susu dan antasid). Oleh sebab itu
sebaiknya tetrasiklin diberikan sebelum atau 2 jam setelah makan.

Distribusi. Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma
dalam jumlah yang bervariasi.

Metabolisme. Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati.


Doksisiklin dan minosiklin mengalami metabolisme di hati yang cukup
berarti sehingga aman diberikan pada pasien gagal ginjal.

Ekskresi. Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urine berdasarkan filtrat


gomelurus. Pada pemberian per oral kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin
diekskresikan melalui urine. Golongan tetrasiklin yang diekskresikan di hati
ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali kadar serum. Sebagian besar obat
yang diekskresikan ke dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi
enterohepatik; maka obat ini masih terdapat di dalam darah untuk waktu lama
sampai terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau
gangguan faal hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. obat yang
tidak diserap diekskresikan melalui tinja.

15
BAB III

PENUTUP

III.1. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini sebagai berikut :

1. Antibiotik harus dibatasi pada keadaan dimana antibiotik tersebut benar


diperlukan.
2. Antibiotik jangan digunakan untuk infeksi ringan atau infeksi virus
3. Antibiotik spektrum luas tidak diindikasikan untuk infeksi dimana
dapat digunakan antibiotik lain yang lebih spesifik
4. Tetrasiklin adalah zat anti mikroba yang diperolah denga cara
deklorrinasi klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina, atau denga
fermentasi.
5. Alasan mengapa disebut tetrasiklin karena terdiri dari 4 ("tetra-")
hidrokarbon cincin ("-cycl-") derivasi ("-ine) yang merupakan subclass
dari poliketida yang memiliki kerangka octahydrotetracene-2-
karboksamida.

III.2. Saran
Dalam makalah ini tidak menutup kemungkinana masih terdapat
banyak kekurangan baik menyangkut isi maupun penulisan, oleh karena itu,
kami harapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makalah ini dan makalah selanjutnya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ganiswara S.G. ( Ed) : Farmakologi dan terapi . Edisi IV, Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran UI, 1955, Jakarta.

Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia:


Pedoman Penggunaan Antibiotik Nasional. Edisi 1, 1992, Jakarta.

Mandel G. L., Douglas R. G., Bennet J. E., Dolin R. : Principles and Practice Of
Infectious Disease : Antimicrobial Therapy 1995 / 1996. Churchill
Livingstone, 1995.

Tierney L. M., Mc Phee S. J.,Papadakis M. A. : Current Medical Diagnosis and


Treatment 35 th Ed. Appleton and Lange, 1996, Stamfod.

Chandury A. In vitro activity of Cefpirome A new fourth generation


cephalosporin. Indian J. of Medical Microbiology 2003; 21:50-51

Tumah H. Fourth-Generation Cephalosporins : In vitro Activity against


Nosocomial Gram-Negative Bacili Compared with -Lactam Antibiotics
and Ciprofloxacin. Chemoteraphy 2005;51:80-85

Schwartz, dkk, 2000, Intisari Prinsip - Prinsip Ilmu Bedah. Editor : G. Tom Shires
dkk, EGC ; Jakarta

Schwartz.Shires.Specer Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu bedah Ed 6Buku


kedokterean EGC 1995 Jakarta 47

Anonim. 2007. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. Bagian farmakologi Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: Gayabaru

Arifin, Sjamsul. 1985. Kimia Organik Bahan Alam. Universitas Terbuka

iv