You are on page 1of 10

Gangguan Cemas Menyeluruh pada Ibu Rumah Tangga

Mohamad Yanuar Prasetyo Nugroho

102014191

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

Email: MOHAMAD.2014fk191@civitas.ukrida.ac.id

Pendahuluan

Tiap manusia pasti mempunyai rasa cemas, rasa cemas ini terjadi pada saat adanya
kejadian atau peristiwa tertentu, maupun dalam menghadapi suatu hal. Misalkan, orang
merasa cemas, ketika tampil dihadapan banyak orang atau ketika sebelum ujian berlangsung.
Kecemasan yang dimiliki seseorng yang seperti di atas adalah normal, dan bahkan kecemasan
ini perlu dimiliki manusia. Akan tetapi kecemasan berubah menjadiabnormal ketika
kecemasan yang ada di dalam diri individu menjadi berlebihan ataumelebihi dari kapasitas
umumnya.

Individu yang mengalami gangguan seperti ini bisa dikatakan mengalami


anxietydisorder (gangguan kecemasan) yaitu ketakutan yang berlebihan dan sifatnya tidak
rasional. Seseorang dikatakan menderita gangguan kecemasan apabila kecemasan
inimengganggu aktivitas dalam kehidupan dari diri individu tersebut, salah satunya
yaknigangguan fungsi sosial. Misalnya kecemasan yang berlebihan ini menghambat
diriseseorang untuk menjalin hubungan akrab antar individu atau kelompoknya.

Bagi Indonesia, hal ini perlu dipikirkan mengingat pengobatan gangguan jiwa sering
harus seumur hidup, serta menggunakan obat yang relatif mahal. Di pihak lain, tidak ada
asuransi yang menanggung biayanya.

Anamnesis

Anamnesis adalah pemeriksaan pertama yang bertujuan untuk mendapatkan informasi


dari pasien. Anamnesis sangat penting, harus dilakukan dengan cermat agar informasi yang
didapatkan cukup untuk menegakkan diagnosis dan diagnosis banding nya. Serta terapi apa
1
yang diperlukan untuk pasien. Untuk kasus kejiwaan sendiri, anamnesis ini dinamakan
wawancara psikiatrik yang merupakan wadah utama pemeriksaan psikiatrik.
Agar wawancara dapat menghasilkan data yang dapatdiandalkan hendaknya
senantiasa diusahakan untuk menciptakan dan memelihara hubungan yang optimal anatara
dokter dan pasien. Pemeriksa membuka percakapa ndengan perkenalan yang dilanjutkan
dengan pengambilan anamnesis yang terdiri ataskeluhan utama, hal mengenai penyakit saat
ini, riwayat lampau, riwayat keluarga. Anamnesis diambil dari pasien sendiri dan dapat
dilakukan allo-anamnesis kepadakeluarga, teman dan orang-orang sekitar yang berhubungan
langsung dengan pasien.
1. Data pribadi :
Berupa nama, alamat, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
pendidikan,pekerjaan, bahasa, suku bangsa dan agama. Catat pula tempat dan
situasi saat dilakukan wawancara terhadap pasien sumber informasi dan apakah
gangguan yangdialami pasien adalah gangguan yang pertama kali dialami pasien.
Tanyakan atauperlu diketahui apakah pasien datang sendiri dibawa oleh anggota
keluarga ataudikonsultasikan oleh sejawat.
2. Keluhan utama
Tanyakan keluhan yang membuat pasien datang berobat. gangguan
kesehatan apa yang saudara alami?. Pada umumnya pertanyaan ini dapat memacu
pasien untuk bercakap bebas yang menghasilkan keterangan yang jauh
lebihbermakna. Keluhan utama dapat bersifat kabur seperti: perasaan tegang,
ragu, firasat yang aneh Seringkali pasien menggunakan sejumlah gejala somatik,
sakit kepala, sakit pinggang, mual, muntah, sesak nafas.
3. Riwayat penyakit sekarang
Gambaran tentang awal dan perkembangan penyakitnya, riwayat
keluhannyasekarang secara kronologis dan menyeluruh. Perlu pula dinilai faktor
lingkunganhidup menjelang awal gejala/perubahan perilaku, latar belakang
kepribadian. Dapatkan data mengenai dampak gangguan terhadap kehidupan pasien
sekarang,sifat disfungsinya. Eksplorasi pula kemungkinan adanya gejala
psikofisiologis,kaitan timbal balik antara gejala atau faktor psikologis dan
gejala fisik, sertakecemasan dan sifatnya.1

4. Riwayat penyakit Dahulu


Tanyakan kejadian yang pernah dialami pasien dari lingkungan luar
maupundalam dirinya dan reaksi-reaksi terhadapnya. Tanyakan penyakit
yang diderita sebelumnya
2
5. Riwayat Keluarga
Tanyakan apakah keluarga pasien ada yang mengalami keluhan yang
sama.Bagaimana hubungan pasien dengan anggota keluarga

Pemeriksaan Fisik

Dari anamnesis dapat diperoleh hal-hal tertentu yang perlu diperiksa secarakhusus
atau lebih mendalam pada pemeriksaan fisik, status mentalis, laboratorium,radiologik,
evaluasi psikologik, dan lainnya. Pemeriksaan fisik yang pertama harusdilakukan adalah
melihat keadaan umum pasien sejak pertama datang sampai selesai anamnesis. Setelah
keadaan umum terlihat, lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu memeriksa: suhu,
tekanan nadi, tekanan darah dan pernafasan pasien. Selanjutnya dapat dilakukan
pemeriksaan lanjut antara lain: inspeksi, palpasi, dan auskultasi (jika dibutuhkan).2

Penampilan umum: Kesan keseluruhan pasien bagaimana, apakah pasien


terlihat rapi atau lusuh; apakah sikapnya tegang, santai, kaku, tak peduli;
apakah ia banyak bicara atau sedikit; nada suara lembut atau keras, terbata-
bata atau lancar. Pasien psikotik dapat berpenampilan berantakan dan
anehdengan posisi janggal (terutama katatonik) dan menyeringai. Beberapa
pasienparanoid dapat tampak bermusuhan dan curiga, pasien depresi bisa
hampirtidak bicara dan memperlihatkan retardasi psikomotor. Kegelisahan
dapatmenunjukkan adanya ansietas, menarik diri, maniak, dll.2
Kesadaran: Nilai kesadaran pasien, yakni compos mentis,
kesadaranmenurun, sopor, somnolen, koma (ketidaksadaran berat, pasien sama
sekalitidak memberikan respon terhadap stimuli), koma vigil (keadaan koma
tetapimata tetap terbuka), kesadaran berkabut (kesadaran menurun yang
disertai dengan gangguan persepsi dan sikap), delirium (kesadaran menurun
disertaibingung, gelisah, takut, & halusinasi, penderita menjadi tidak dapat
diam). Dan ada juga yang dinamakan Twilight state (dreamy state) yakni
kesadaranmenurun disertai dengan halusinasi, biasanya terjadi pada epilepsi.2
Pemeriksaan penunjang juga tetap dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik,
seperti melakukan pemeriksaan darah rutin, urinalisasi dan EEG. Selain itu, melakukan
penunjang yang berkaitan dengan keluhan pasien, seperti didapatpasien mengeluh nyeri dada
kiri yang menjalar ke kanan, kita pasti mencurigai pasien mengalami penyakit jantung, jadi
kita perlu melakukan EKG, echocardiografi dan alat canggih lainnya. Semua pasien harus
diperiksa dan dilakukan pemeriksaan penunjang jika mereka memiliki suatu penyakit baru.3

3
Pemeriksaan psikiatrik lengkap berbeda dari pemeriksaan medik umum,
dalam hal perhatian khusus yang diarahkan pada manifestasi fungsi
mental,emosional dan perilaku. Pemeriksaan dilakukan untuk menyusun laporan tentang
eadaan psikologik dan psikopatologik pasien.kerangka umum pemeriksaan lengkapterdiri
atas:
1. Pemeriksaan tidak langsung (indirect examination)
- Anamnesis-keluhan tentang gangguan sekarang dan laporan pasienmengenai
perkembangan tentang keluhannya itu, serta riwayat situasihidup pasien.
- Keterangan mnegenai pasien yang diperoleh dari pihak keluarga atauorang yang
mengenalnya.
2. Pemeriksaan langsung (direct examination)
- Pemeriksaan fisik terutama status internus dan neurologic
- Pemeriksaan khusus psikik: penampilan umum, bidang emosi, bidangpikiran/ideasi,
bidang motorik/perilaku.
3. Pemeriksaan tambahan, yang dilakukan apabila ada tambahan khusus untuk
melaksanakan pemeriksaan itu seperti uji psikologik, elektroensefalografi,foto sinar
tembus, CT scan, pemeriksaan zat kimia tubuh seperti hormon, dll. Inti prosedur
pemeriksaan psikiatrik adalah pemeriksaan khusus psikik (penampilan umum,
bidang emosi-afek, pikiran ideasi, motorik perilaku) selanjutnyaevaluasi data yang
diperoleh harus dibuat dalam konteks keseluruhan data yang dihasilkan dari
pemeriksaan lengkap.

Data khusus psikiatrik yang dihasilkan dari suatu pemeriksaan psikiatrikadalah data
perihal fungsi kejiwaan, yang diperoleh melalui observasi penampilandan perilaku pasien,
pengamatan interaksi antara dokter dan pasien, pengamataninteraksi antara pasien dan
lingkungannya, dan pemahaman humanistiksang doktermengenai pasien. alat pemeriksaan
psikiatrik adalah kepribadian dokter sendiri. Pemeriksaan ini diarahkan dan data diungkapkan
dalam pembicaraan antara dokterdan pasien, yang disebut wawancara psikiatrik.3

Diagnosis Kerja

Gangguan depresi menyeluruh

Gangguan depresi merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang


berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dengan gejala penyertatermasuk
perubahan pola tidur, nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan,
rasa putus asa, tak berdaya dan gagasan bunuh diri.4 Dasar umum untuk gangguan depresi
berat tidak diketahui, tetapi diduga faktor-faktordibawah ini berperan:

4
Faktor Biologis. Data yang dilaporkan paling konsisten dengan hipotesis bahwa
gangguan depresi berat adalah berhubungan dengan disregulasi pada amin biogenik
(norepineprin dan serotonin). Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi dan
pada beberapa pasien yang bunuh diri memiliki konsentrasi metabolik serotonin di
dalam cairan serebrospinal yang rendah serta konsentrasi tempat ambilan serotonin yang
rendah di trombosit. Faktor neurokimiawi lain seperti adenylate cyclase,
phospotidylinositol dan regulasi kalsium mungkin juga memiliki relevansi penyebab.
Kelainan pada neuroendokrin utama yang menarik perhatian dalam adalah sumbu adrenal,
tiroid dan hormon pertumbuhan. Neuroendokrin yang lain yakni penurunan sekresi
nokturnal melantonin, penurunan pelepasan prolaktin karena pemberian tryptopan, penurunan
kadar dasar folikel stimulating hormon (FSH), luteinizinghormon (LH) dan penurunan kadar
testoteron pada laki-laki.4

Faktor Genetika. Data genetik menyatakan bahwa sanak saudara derajatpertama dari
penderita gangguan depresi berat kemungkinan 1,5 sampai 2,5 kalilebih besar daripada
sanak saudara derajat pertama subyek kontrol untukpenderita gangguan. Penelitian
terhadap anak kembar menunjukkan angkakesesuaian pada kembar monozigotik adalah
kira-kira 50 %, sedangkan padakembar dizigotik mencapai 10 sampai 25 %.4

Faktor psikososial. Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan, suatu pengamatan


klinis yang telah lama di replikasi bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih
sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya, hubungan
tersebut telah dilaporkan untuk pasien dengan gangguan depresi berat. Data yang
paling mendukung menyatakan bahwa peristiwa kehidupan paling berhubungan dengan
perkembangan depresi selanjutnya adalah kehilangan orang tua sebelum usia 11
tahun. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset satu episode depresi
adalahkehilangan pasangan. Beberapa artikel teoritik dan dari banyak
laporan,mempermasalahkan hubungan fungsi keluarga dan onset dalam
perjalanangangguan depresi berat. Selain itu, derajat psikopatologi didalam
keluarga mungkin mempengaruhi kecepatan pemulihan, kembalinya gejala
danpenyesuaian pasca pemulihan.4

Diagnosis Banding
Gangguan Somatoform
Gangguan somatisasi adalah salah satu gangguan somatoform spesifik yang ditandai
oleh banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang mengenai banyak sistemorgan yang tidak

5
dapat dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik danlaboratorium.Gangguan
somatisasi dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karenabanyaknya keluhan dan
melibatkan sistem organ yang multiple (sebagai contoh,gastrointestinal dan neurologis).
Gangguan ini bersifat kronis dengan gejaladitemukan selama beberapa tahun
dan dimulai sebelum usia 30 tahun dan disertaidengan penderitaan psikologis yang
bermakna, gangguan fungsi sosial danpekerjaan, dan perilaku mencari bantuan medis
yang berlebihan. Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem
organgastrointestinal (perasaan sakit, kembung, bertahak, mual dan muntah) dan keluhan
pada kulit seperti rasa gatal, terbakar, kesemutan, baal dan pedih. Pasien juga
seringmengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh, misalnya nyeri
kepala,punggung, persendian, tulang belakang, dada atau nyeri saat berhubungan badan.

Gejala klinis Gangguan Cemas Menyeluruh

Gambaran umum penyakit ini adalah kekhawatiran yang tidak sebanding dengan
stressor yang sesungguhnya dalam kehidupan. Gangguan cemas sendiri dibagi menjadi 2
yaitu gangguan anxietas kontinyu dengan episodik. Gangguan cemas menyeluruh adalah
bentuk dari kecemasan kontinyu.5

Gejala yang terjadi harus menunjukkan kecemasan sebagai gejala primer yang
berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan,adapun
keluhan lain meliputi kecemasan misalnya khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di
ujung tanduk, sulit konsentrasi. Selain itu terdapat pula ketegangan motorik, misalnya
gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai. Overaktivitas otonomik juga ditemukan
misalnya adanya kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak nafas,
keluhan lambung, pusing, mulut kering.5

Berdasarkan PPDGJ III, pedoman diagnosis untuk gangguan cemas menyeluruh


(F41.1) adalah:

Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung


hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak
terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya
free floating atau mengambang)
Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk, sulit
konsentrasi, dsb)

6
ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai); dan
overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-
debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb)
Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan
serta keluhan-keluhan somatik berulang yang menonjol.
Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari),
khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama gangguan anxietas
menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode
depresif, gangguan anxietas fobik, gangguan panik, atau gangguan obsesif-
kompulsif.

Epidemiologi
Angka prevalensi untuk gangguan anxietas menyeluruh 3-8% , dengan prevalensi
pada wanita > 40 tahun sekitar 10%. Rasio antara perempuan dan laki-laki sekitar 2:1. Onset
penyakit biasanya muncul pada usia pertengahan hingga dewasa akhir, dengan insidens yang
cukup tinggi pada usia 35-45 tahun. GAD merupakan gangguan kecemasan yang paling
sering ditemukan pada usia tua.6

Penatalaksanaan

1. Farmakoterapi

a. Benzodiazepin

Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepine dimulai dengan dosis


terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respons terapi. Pengguanaan sediaan dengan
waktu paruh menengah dan dosis terbagi dapat mencegah terjadinya efek yang tidak
diinginkan. Lama pengobatan rata-rata 2-6 minggu, dilanjutkan dengan masa tapering off
selama 1-2 minggu.3 Spektrum klinis Benzodiazepin meliputi efek anti-anxietas,
antikonvulsan, anti-insomnia, dan premedikasi tindakan operatif. Adapun obat-obat yang
termasuk dalam golongan Benzodiazepin antara lain : 7

Diazepam, dosis anjuran oral = 2-3 x 2-5 mg/hari; injeksi = 5-10 mg 9im/iv),
broadspectrum

Chlordiazepoxide, dosis anjuran 2-3x 5-10 mg/hari, broadspectrum

7
Lorazepam, dosis anjuran 2-3x 1 mg/hari, dosis anti-anxietas dan anti-insomnia berjauhan
(dose-related), lebih efektif sebagai anti-anxietas, untuk pasien-pasien dengan kelainan hati
dan ginjal

Clobazam, dosis anjuran 2-3 x 10 mg/hari, , dosis anti-anxietas dan anti-insomnia


berjauhan (dose-related), lebih efektif sebagai anti-anxietas, psychomotor performance paling
kurang terpengaruh, untuk pasien dewasa dan usia lanjut yang masih ingin tetap aktif

Bromazepam, dosis anjuran 3x 1,5 mg/hari, , dosis anti-anxietas dan anti-insomnia


berjauhan (dose-related), lebih efektif sebagai anti-anxietas.

Alprazolam, dosis anjuran 3 x 0,25 0,5 mg/hari, efektif untuk anxietas tipe antisipatorik,
onset of action lebih cepat dan mempunyai komponen efek anti-depresi

b. Non-benzodoazepin (Buspiron)

Buspiron efektif pada 60-80% penderita GAD. Buspiron lebih efektif dalam memperbaiki
gejala kognitif disbanding gejala somatik. Tidak menyebabkan withdrawal. Dosis anjuran 2-
3x 10 mg/hari. Kekurangannya adalah, efek klinisnya baru terasa setelah 2-3 minggu.
Terdapat bukti bahwa penderita GAD yang sudah menggunakan Benzodiazepin tidak akan
memberikan respon yang baik dengan Buspiron. Dapat dilakukan penggunaan bersama antara
Benzodiazepin dengan Buspiron kemudian dilakukan tapering Benzodiazepin setelah 2-3
minggu, disaat efek terapi Buspiron sudah mencapai maksimal.3,7

2. Psikoterapi

a. Terapi kognitif perilaku

Teori Cognitive Behavior pada dasarnya meyakini bahwa pola pemikiran manusia
terbentuk melalui proses rangkaian stimulus-kognisi-respon, dimana proses kognisi akan
menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan
bertindak. Terapi kognitif perilaku diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan
bertindak, dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya,
berbuat dan memutuskan kembali.2

8
Dengan mengubah arus pikiran dan perasaan, klien diharapkan dapat mengubah
tingkah lakunya, dari negatif menjadi positif. Tujuan terapi kognitif perilaku ini adalah untuk
mengajak pasien menentang pikiran (dan emosi) yang salah dengan menampilkan bukti-bukti
yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Pendekatan
kognitif mengajak pasien secara kangsung mengenali distorsi kognitif dan pendekatan
perilaku, mengenali gejala somatik secara langsung. Teknik utama yang digunakan pada
pendekatan behavioral adalah relaksasi dan biofeedback.2

b. Terapi suportif

Pasien diberikan re-assurance dan kenyamanan, digali potensi-potensi yang ada dan belum
tampak, didukung egonya, agar lebih bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial dan
pekerjaannya.

c. Psikoterapi Berorientasi Tilikan

Terapi ini mengajak pasien ini untuk mencapai penyingkapan konflik bawah sadar, menilik
egostrength, relasi objek, serta keutuhan self pasien. Dari pemahaman akan komponen-
komponen tersebut, kita sebagai terapis dapat memperkirakan sejauh mana pasien dapat
diubah untuk menjadi lebih matur, bila tidak tercapai, minimal kita memfasilitasi agar pasien
dapat beradaptasi dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.

Kesimpulan

Kecemasan adalah perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, khawatir dan
gelisah.Gambaran klinis bervariasi dapat dijumpai keluhan cemas, khawatir, was-was, ragu
untuk bertindak, yang mana perasaan tersebut mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya,
sehingga akal sehat, perasaan dan perilaku terpengaruh. Sering penderita tidak sabar, mudah
marah, sulit tidur. Terapi pada Gangguan Kecemasan Menyeluruh pada umumnya dapat
dilakukan dengan 2 cara yakni terapi psikologis (psikoterapi) atau terapi dengan obat-obatan
(farmakoterapi). Obat pilihan yang digunakan adalah antianxietas (golongan benzodiazepine

9
khuusnyadiazepam dan alprazolam. Anti depresan juga dapat dikombinasikan misalnya
golongan SSRIyakni fluoxetine.

Daftar Pustaka

1. Ingram IM & Timbury GC , Mowbray RM . Catatan Kuliah Psikiatri. Jakarta; EGC,


1993 Hal 3-23.
2. Maslim, R. 2003, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ III, Jakarta : PT Nuh Jaya, hal 74
3. Maslim, R. 2007, Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta : PT
Nuh Jaya
4. RSUD Dr. Soetomo. 2004, Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Kedokteran
Jiwa. Edisi III. Surabaya.
5. Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Generalized Anxiety Disorder in :
Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry : Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry,
10th Edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins: 2007. p. 623-7.
6. Shear, Katherine M. Anxiety Disorders Generalized Anxiety Disorder in : Dale DC,
Federman DD, editors. ACP Medicine. 3rd Edition. Washington: WebMD Inc. : 2007.
7. Stevens V. Anxiety Disorders. In : Goljan EF, editor. Behavioral Science. Elsevier
Science. Page 114-117.

10