You are on page 1of 69

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
World Health Organization (2014) mengemukakan kesehatan mental
didefinisikan sebagai kondisi sejahteraan dimana individu menyadari potensi
dirinya sendiri, dapat mengatasi tekanan yang normal dalam kehidupannya,
dapat bekerja secara produktif dan mempunyai kontribusi untuk
komunitasnya. Pernyataan diatas kemudian didukung dengan data WHO
yang menyatakan paling tidak, ada satu dari empat orang di dunia yang
mengalami masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang
di dunia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa (Yosep dan Sutini 2014,
h. 34).

Sementara itu prevalensi gangguan jiwa di Indonesia menurut Riset


Kesehatan Dasar Republik Indonesia (2013) menyatakan prevalensi
penduduk yang mengalami gangguan jiwa berat (psikosis atau skizofrenia)
secara nasional adalah 1,7%, Provinsi dengan prevalensi gangguan jiwa
berat tertinggi adalah DI Yogyakarta dan Aceh (masing-masing 2,7%),
sedangkan yang terendah di Kalimantan Barat (0,7%), sedangkan prevalensi
untuk wilayah DKI Jakarta yaitu (1,1%) dan Jawa Barat (1,6%). Data
tersebut didukung oleh data rekam medik RSMM tahun 2016 didapatkan
skizofrenia merupakan diagnosa medis tertinggi di unit rawat inap psikiatri
dengan prevalensi pasien untuk skizofrenia paranoid yaitu 23,11%,
skizofrenia unspecified 14,44%, dan skizofrenia hebeprenik 0,89%
sedangkan data prevalensi diagnosa keperawatan diunit rawat inap psikiatri
Antareja pada bulan Januari sampai Maret 2017 didapatkan Harga Diri
Rendah 26,3%, Isolasi Sosial 24,3%, Halusinasi 19,4%, Defisit Perawatan
Diri 13,2% dan Resiko Perilaku Kekerasan 11,8%.

1
Berdasarkan data prevalensi diatas mengenai gangguan jiwa Keliat et al.
(2011, h. 2) menyatakan bahwa gangguan jiwa yaitu suatu perubahan pada
fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam
melaksanakan peran sosial.

Salah satu contoh dari masalah gangguan jiwa yaitu skizofrenia, skizofrenia
adalah suatu penyakit otak neurobiologis yang berat dan terus-menerus,
akibatnya berupa respon yang sangat mengganggu kehidupan individu,
keluarga dan masyarakat. Perilaku maladaptif yang timbul pada skizofrenia
meliputi penampilan yang buruk, kurangnya ketekunan ditempat kerja atau
sekolah, avolition, perilaku berulang, agresi, agitasi, dan negativisme.
Kemerosotan dalam penampilan meliputi berpakaian kusut dan kotor,
penampilan jorok dan berantakan, perawatan pribadi yang buruk atau tidak
berhias, dan kurangnya kebersihan pribadi. (Stuart 2013 h. 292 & 300)

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Yusuf et al. (2015, h. 154) yang
menyatakan defisit perawatan diri merupakan salah satu masalah yang timbul
pada pasien gangguan jiwa, pasien gangguan jiwa kronis sering mengalami
ketidakpedulian merawat diri. Keadaan ini merupakan gejala negatif dan
menyebabkan pasien dikucilkan baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Sedangkan menurut Keliat dan Akemat (2009, h. 164) defisit perawatan diri
pada pasien gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir
sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun.

Berdasarkan pengalaman penulis dalam praktik klinik keperawatan jiwa di


ruang Yudistira RS Dr.H. Marzoeki Mahdi Bogor, hampir sebagian besar
pasien gangguan jiwa pada ruang yudistira mengalami skizofrenia, pada
tanggal 10 Oktober 2016 sampai dengan 12 Oktober 2016 penulis melakukan
praktik klinik diruangan tersebut selama 2 minggu penulis dapat

2
menyimpulkan bahwa hampir seluruh pasien dengan skizofrenia mengalami
defisit perawatan diri, klien biasanya tidak mampu mengurus atau merawat
dirinya sendiri secara mandiri baik dalam hal mandi, berpakaian, berhias,
makan, maupun bab dan bak. Masalah kebersihan diri pada pasien dengan
gangguan jiwa sangat penting untuk diperhatikan, kemampuan perawat
dalam merawat klien dengan gangguan jiwa yang mengalami defisit
perawatan diri baik secara preventif maupun rehabilitatif menjadi sangat
penting untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan
diri, pasien dengan gangguan jiwa perlu diajarkan dan dilatih agar dapat
memenuhi kebutuhan perawatan diri secara mandiri dan untuk pencegahan
segala penyakit yang bisa ditimbulkan akibat kurang nya perawatan diri,
dalam hal ini perawat memiliki peran dalam membantu penanganan defisit
perawatan diri dengan memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan
defisit perawatan diri melalui strategi pelaksanaan perawat memberikan
informasi mengenai defisit perawatan diri, melatih klien dalam kebersihan
diri, berdandan, makan, minum dan bab/bak.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pasien


gangguan jiwa di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor mengalami masalah
defisit perawatan diri, seiring dengan hal itu salah satu aspek penting dalam
pelaksanaan rehabilitasi pada pasien skizofrenia yaitu memulihkan
kemampuan klien dalam perawatan diri. Oleh karenanya penulis tertarik
untuk mengambil pengelolaan kasus dalam penyusunan karya tulis ilmiah
dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Tn. I yang Mengalami
Gangguan Jiwa dengan Defisit Perawatan Diri di RS. Dr. H. Marzoeki
Mahdi Bogor untuk mengetahui aplikasi asuhan keperawatan yang tepat
pada pasien yang mengalami defisit perawatan diri.

3
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai
berikut Bagaimana asuhan keperawatan pada Tn. I yang mengalami
gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan tentang asuhan
keperawatan pada Tn. I yang mengalami defisit perawatan diri di ruang
Antareja RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
2. Tujuan Khusus
a. Menggambarkan proses :
1) Pengkajian pada Tn. I yang mengalami gangguan jiwa dengan
defisit perawatan diri di ruang Antareja RS. Dr. H. Marzoeki
Mahdi Bogor.
2) Penetapan diagnosa keperawatan pada Tn. I yang mengalami
gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri diruang Antareja RS.
Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.
3) Perencanaan keperawatan untuk memecahkan masalah yang
ditemukan pada Tn. I yang mengalami gangguan jiwa dengan
defisit perawatan diri diruang Antareja RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi
Bogor.
4) Implementasi pada Tn. I yang mengalami gangguan jiwa dengan
defisit perawatan diri diruang Antareja RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi
Bogor.
5) Evaluasi pada Tn. I yang mengalami gangguan jiwa dengan defisit
perawatan diri diruang Antareja RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi
Bogor.
b. Membahas kesenjangan, faktor pendukung dan faktor penghambat
yang ada pada Tn. I yang mengalami gangguan jiwa dengan defisit
perawatan diri diruang Antareja RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor

4
D. Manfaat Penulisan
Hasil karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberi manfaat yang berguna
bagi para pembaca :
1. Bagi mahasiswa
Menjadi bahan bacaan dan penambah pengetahuan dalam melaksanakan
asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan defisit perawatan diri.
2. Bagi institusi pendidikan
Sebagai data informasi atau referensi yang memerlukan data acuan dalam
penulisan karya tulis ilmiah pengenai gambaran pengelolaan kasus pada
klien dengan gangguan defisit perawatan diri.
3. Bagi wahana praktik
Mendapatkan informasi secara objektif tentang klien dengan gangguan
defisit perawatan diri sehingga dapat menjadi pedoman dalam memberikan
asuhan keperawatan.

5
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Skizofrenia


Istilah gangguan skizofrenia terdiri dari dua kata, yakni skhizein = split =
pecah, dan phrenia = mind = pikiran. Skizofrenia ialah gangguan psikotik
yang bersifat merusak yang melibatkan gangguan berpikir (delusi), persepsi
(halusinasi), pembicaraan, emosi, dan perilaku. ciri-ciri klinis gangguan
skizofrenia antara lain : mengalami delusi dan halusinasi, disorganisasi dalam
pembicaraan, mengalami pendataran afektif (perilaku tanpa emosi),
ketidakmampuan memulai dan mempertahankan kegiatan, ketidakmampuan
untuk merasakan senang, disfungsi sosial, kesulitan dalam hubungan sosial,
tidak mampu membangun, membina, dan mempertahankan hubungan sosial
akibat reaksi emosi abnormal, harapan hidup yang sangat rendah, cenderung
bunuh diri serta tidak peduli pada perawatan diri. (Pieter et al. 2011, h. 329-
330)

Dalam penelitian yang berjudul peningkatan kemandirian perawatan diri


pasien skizofrenia melalui rehabilitasi terapi gerak yang diteliti oleh Maryatun
(2015) ditemui bahwa pada penderita skizofrenia akan mengalami gangguan
dalam kognitif, emosional, persepsi serta gangguan dalam tingkah laku. Pasien
skizofrenia kronis umumnya tidak mampu melaksanakan fungsi dasar secara
mandiri misalnya sosialisasi, kebersihan diri dan penampilan.

Sedangkan dalam penelitian yang berjudul Schizophrenia and Hygiene yang


ditulis oleh Garippo (2016) skizofrenia dapat mengubah cara orang dalam
merawat diri mereka sendiri, menurut sebagian orang kebersihan yang buruk
adalah umum di antara orang-orang dengan penyakit, namun ketidakmampuan
dalam menjaga kebersihan diri merupakan salah satu tanda pertama seseorang
memiliki penyakit mental. Yang menjadi salah satu penyebab kerusakan ini

6
dapat berasal dari sikap apatis umum atau kurangnya motivasi. Salah satu cara
untuk membantu orang dengan skizofrenia dalam mengatasi masalah
kebersihan diri adalah dengan mendorongnya untuk mengikuti kelompok
sosial-keterampilan atau terapi perilaku kognitif, yang dapat mengajarkan cara
untuk mengatasi gejala penyakit dan membuat hidup lebih produktif.

B. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia


Kebutuhan dasar manusia dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang
dibutuhkan manusia agar dapat memelihara homeostasis, baik fisiologis
maupun psikologis. Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut Abraham
Maslow terbagi dalam lima tingkatan. Tingkatan yang paling dasar meliputi
kebutuhan fisiologis meliputi oksigen, air, dan makanan, eliminasi.
Tingkatan yang kedua meliputi kebutuhan keselamatan dan keamanan,
kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya fisik. Tingkatan yang ketiga
mencakup kebutuhan cinta dan memiliki, termasuk pertemanan,
persahabatan, atau bersama-sama beraktivitas. Tingkatan yang keempat
meliputi kebutuhan harga diri, yang melibatkan percaya diri, merasa
dibutuhkan dan berguna. Tingkatan yang kelima adalah kebutuhan
aktualisasi diri, aktualisasi diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur
diri, dan otonominya sendiri serta bebas dari tekanan luar. (Asmadi 2008, h.
11 & 19)

Sedangkan kebutuhan dasar manusia menurut Virginia Henderson menyatakan


bahwa setiap manusia memiliki 14 komponen kebutuhan dasar manusia
diantaranya : bernapas secara normal, makan dan minum yang cukup,
eliminasi (buang air besar dan buang air kecil), bergerak dan mempertahankan
postur yang diinginkan, tidur dan istirahat, memilih pakaian yang tepat,
mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal dengan menyesuaikan
pakaian yang dikenakan dalam memodifikasi lingkungan, menjaga kebersihan
diri dan penampilan, menghindari bahaya dari lingkungan dan menghindari
membahayakan orang lain, berkomunikasi dengan orang lain dalam

7
mengekspresikan emosi, kebutuhan kekhawatiran dan opini, beribadah sesuai
dengan agama dan kepercayaan, bekerja sedemikian rupa sebagai modal untuk
membiayai kebutuhan hidup, bermain atau berpartisipasi dalam berbagai
bentuk rekreasi, belajar, menemukan, atau memuaskan rasa ingin tahu yang
mengarah pada perkembangan yang normal, kesehatan, dan penggunaan
fasilitas kesehatan yang tersedia.

Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen, setiap orang pada
dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, akan tetapi karena terdapat
perbedaan budaya maka kebutuhan tersebut pun ikut berbeda, dalam
memenuhi kebutuhannya manusia akan berpikir lebih keras dan bergerak
untuk berusaha mendapatkannya, ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi kebutuhan dasar manusia diantaranya :
a. Penyakit : adanya penyakit dalam tubuh dapat menyebabkan perubahan
pemenuhan kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis, karena
beberapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih
besar dari biasanya.
b. Hubungan keluarga : hubungan keluarga yang baik dapat meningkatkan
pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya, merasakan
kesenangan hidup, tidak ada rasa curiga, dan lain-lain.
c. Konsep diri : konsep diri manusia memiliki peran dalam pemenuhan
kebutuhan dasar. Konsep diri yang positif memberikan makna dan
keutuhan bagi seseorang. Konsep diri yang sehat menghasilkan perasaan
positif terhadap diri. Orang yang merasa positif tentang dirinya akan
mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara
hidup yang sehat, sehingga mudah memenuhi kebutuhan dasarnya.
d. Tahap perkembangan : sejalan dengan meningkatnya usia, manusia
mengalami perkembangan. Setiap tahap perkembangan tersebut memiliki
kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial
maupun spiritual, mengingat berbagai fungsi organ tubuh juga mengalami
proses kematangan dengan aktivitas yang berbeda. (Hidayat 2009, h. 5-6)

8
C. Konsep Dasar Masalah Psikososial
1. Kecemasan
Heather (2015, h. 445) menyatakan kecemasan adalah suatu perasaan tidak
nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respon autonom (penyebab
sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan
takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan
isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya
dan memapukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman.

2. Kehilangan dan Berduka


Yusuf et al. (2015, h. 74 & 76) mendefinisikan kehilangan adalah suatu
keadaan individu mengalami kehilangan sesuatu yang sebelumnya ada dan
dimiliki seperti kehilangan harta, kesehatan, orang yang dicintai, dan
kesempatan. Berduka adalah reaksi terhadap kehilangan, yaitu respon
emosional normal dan merupakan suatu proses untuk memecahkan
masalah. Seseorang individu harus diberikan koping yang efektif dalam
melalui proses berduka, sehingga mampu menerima kenyataan kehilangan
yang menyebabkan berduka dan merupakan bagian dari proses kehidupan.
Tahapan proses kehilangan terdiri atas lima tahapan yaitu penyangkalan,
marah, penawaran, depresi, dan penerimaan.

3. Konsep Diri
Stuart (2013, h. 213) mendefinisikan konsep diri sebagai semua nilai-nilai,
keyakinan, dan ide-ide yang berkontribusi terhadap pengetahuan diri dan
mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain termasuk persepsi
seseorang tentang karakteristik dan kemampuan pribadi serta tujuan dan
cita-cita seseorang. Konsep diri terdiri atas komponen-komponen
diantaranya :
1. Citra tubuh, kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari
terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi serta perasaan masa lalu dan
sekarang tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi.

9
2. Ideal diri, persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya
berperilaku berdasarkan standar pribadi tertentu, aspirasi, tujuan dan
nilai personal tertentu.
3. Harga diri, penampilan individu tentang nilai personal yang diperoleh
dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri
4. Performa peran, serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh
lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai
kelompok sosial.
5. Identitas pribadi, prinsip pengorganisasian kepribadian yang
bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi,
dan keunikan individu.

Rentang Respon Konsep Diri

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Difusi Disosiasi


Diri Positif Rendah Identitas Dipersonalisasi

Gambar 2.1 Rentang Respon Konsep Diri


Sumber : (Stuart 2013, h. 214)

Keterangan gambar : pada rentang respon diatas menggambarkan rentang


respon konsep diri dari keadaan yang paling adaptif yaitu aktualisasi diri,
sampai pada respon yang paling maladaptif yaitu depersonalisasi,
aktualisasi diri merupakan pernyataan tentang konsep diri yang positif
dengan latar belakang pengalaman sukses, namun apabila aktualisasi diri
tidak tercapai seseorang dapat mengalami masalah seperti kehilangan rasa
percaya diri, tidak berharga, tidak berdaya, pesimis dan dapat

10
menyebabkan timbulnya harga diri rendah, jika keadaan ini belum atau
tidak teratasi maka akan terjadi suatu respon maladaptif seperti kegagalan
individu untuk mengintegrasikan berbagai identifikasi masa kanak-kanak
kedalam kepribadian psikososial dewasa yang harmonis dan disosiasi
dipersonalisasi, perilaku dengan dipersonalisasi dapat ditunjukkan dengan
hilangnya identitas diri, asing dengan diri sendiri, perasaan tidak aman,
rendah diri, takut, malu, perasaan tidak realistik, dan merasa sangat
terisolasi. (Dermawan dan Rusdi 2012, h. 61 & 62)

D. Konsep Dasar Kebersihan Diri pada Pasien dengan Gangguan Jiwa


1. Pemenuhan Kebersihan Diri
Kebersihan diri merupakan kondisi yang sangat penting diperhatikan
dalam kehidupan sehari-hari karena mempengaruhi kesehatan dan psikis
seseorang. Kebersihan seseorang merupakan bagian dari penampilan dan
harga diri seseorang, keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan personal
hygiene bisa jadi akan mempengaruhi kesehatan secara umum.

Personal hygiene berasal dari bahasa yunani yaitu personal yang berarti
perorangan dan hygiene yang berarti sehat atau bersih. (Tarwoto dan
Wartonah 2015, h. 139)

Kebersihan perorangan merupakan suatu tindakan untuk memelihara


kebersihan dan kesehatan seseorang sehingga kesejahteraan dan psikis
dapat terjamin. Kebutuhan perawatan diri bersifat umum bagi setiap
manusia, berkaitan dengan proses kehidupan dan pemeliharaan integritas,
struktur dan fungsi manusia. Perawatan diri dipengaruhi oleh usia, status
perkembangan, pengalaman hidup, orientasi sosial budaya, kesehatan dan
sumber daya yang tersedia. (Asmadi 2008, h. 124).

11
Yusuf (2015, h. 154) menyebutkan bahwa salah satu masalah dalam
pemenuhan kebersihan diri pada pasien dengan gangguan jiwa yaitu defisit
perawatan diri. Pasien gangguan jiwa kronis sering mengalami
ketidakpedulian merawat diri. Keadaan ini merupakan gejala perilaku
negatif dan menyebabkan pasien dikucilkan baik dalam keluarga maupun
masyarakat.
a. Definisi Defisit Perawatan Diri
SDKI (2017, h. 240) mendefinisikan defisit perawatan diri sebagai
ketidakmampuan melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan
diri.

Sedangkan menurut Yusuf et al. (2015, h. 154) defisit perawatan diri


adalah suatu keadaan seseorang mengalami kelainan dalam
kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan
sehari-hari secara mandiri, tidak ada keinginan untuk mandi secara
teratur, tidak menyisir rambut, pakaian kotor, bau badan, bau napas,
dan penampilan tidak rapi.

Fitria (2010, h. 93) mengatakan bahwa defisit perawatan diri adalah


suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan
dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara
mandiri seperti mandi, berpakaian/berhias, makan dan bab/bak.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa defisit perawatan


diri adalah suatu kondisi seseorang yang mengalami ketidakmampuan
dalam melakukan perawatan diri secara mandiri seperti mandi, berhias,
makan, bab/bak.

12
b. Etiologi Defisit Perawatan Diri
Keliat dan Akemat (2009, h. 164) menyatakan bahwa defisit perawatan
diri pada pasien gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses
pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri
menurun.

Dalam penelitian yang berjudul pengaruh penerapan asuhan


keperawatan defisit perawatan diri terhadap kemandirian personal
hygiene pada pasien di RSJ. Prof.V.L.Ratumbuysang Manado tahun
2016 yang diteliti oleh Pinedendi (2016) ditemui bahwa Keterbatasan
perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa biasanya
diakibatkan karena stressor yang cukup berat dan sulit ditangani oleh
klien sehingga dirinya tidak mau mengurus atau merawat dirinya
sendiri baik dalam hal mandi, berpakaian, berhias, makan, maupun
buang air besar dan buang air kecil.

Kemerosotan dalam penampilan yang meliputi berpakaian kusut dan


kotor, penampilan jorok dan berantakan, perawatan pribadi yang buruk
atau tidak berhias dan kurangnya kebersihan pribadi terjadi ketika
masalah dalam fungsi otak mulai muncul, tampaknya keterampilan
kognitif untuk hubungan pendek, gangguan pada pola perilaku atau
psikologis yang ditunjukkan pada individu yang menyebabkan distress,
disfungsi dan seseorang tidak dapat lagi menjalankan tugas-tugas rutin.
(Stuart 2013, h. 300)

Sedangkan dalam modul keperawatan jiwa yang ditulis oleh


Nurhalimah dan Dinarti (2016, h. 151) dijelaskan bahwa proses
terjadinya defisit perawatan diri dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya :

13
1) Faktor Predisposisi
a) Biologis, seringkali defisit perawatan diri disebabkan karena
adanya penyakit fisik dan mental yang menyebabkan pasien
tidak mampu melakukan perawatan diri dan adanya faktor
herediter yaitu anggota keluarga yang mengalami gangguan
jiwa.
b) Psikologis, faktor perkembangan memegang peranan yang
tidak kalah penting hal ini dikarenakan keluarga terlalu
melindungi dan memanjakan individu sehingga perkembangan
inisiatif terganggu. Pasien gangguan jiwa mengalami defisit
perawatan diri dikarenakan kemampuan realitas yang kurang
sehingga menyebabkan pasien tidak peduli terhadap diri dan
lingkungannya termasuk perawatan diri.
c) Sosial, kurangnya dukungan sosial dan situasi lingkungan
mengakibatkan penurunan kemampuan dalam perawatan diri.
2) Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi yang dapat menimbulkan defisit perawatan diri
adalah penurunan motivasi, kerusakan kognitif atau persepsi,
cemas, lelah, lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan
individu kurang mampu melakukan perawatan diri.

Menurut Tarwoto dan Wartonah (2015) faktor yang dapat


mempengaruhi personal hygiene diantaranya citra tubuh, praktik
sosial, status sosioekonomi, pengetahuan, budaya, kebiasaan seseorang
dan kondisi fisik. Ada beberapa dampak yang sering timbul dari
masalah defisit perawatan diri antara lain :
1) Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik
yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan

14
membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, serta
gangguan fisik pada kuku.
2) Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah
gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan
mencintai, kebutuhan harga diri, dan gangguan interaksi sosial.
(Tarwoto dan Wartonah 2015, h. 153)

c. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala yang tampak pada pasien yang mengalami defisit
perawatan diri adalah sebagai berikut :
1) Gangguan kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor, gigi
kotor, kulit berdaki dan bau, serta kuku panjang dan kotor.
2) Ketidakmampuan berhias/berpakaian, ditandai dengan rambut
acak-acakan, pakaian kotor atau tidak rapi, pakaian tidak sesuai,
pada pasien laki-laki tidak bercukur, pada pasien perempuan tidak
berdandan.
3) Ketidakmampuan makan secara mandiri, ditandai oleh
ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran,
dan makan tidak pada tempatnya.
4) Ketidakmampuan eliminasi secara mandiri, ditandai dengan buang
air besar atau buang air kecil tidak pada tempatnya, dan tidak
membersihkan diri dengan baik setelah bab/bak. (Keliat et al 2011,
h. 221)

15
d. Penatalaksanaan
1) Terapi Farmakologi
MIMS (2008, h. 101) menyatakan bahwa obat obatan yang
digunakan untuk klien dengan skizofrenia, diantaranya adalah :
a) Haloperidol (Antipsikotik)
Indikasi : skizofrenia akut dan kronik, cemas, gelisah, dan
gangguan keseimbangan jiwa yang disertai dengan iritabilitas,
agresi, delusi, halusinasi. Kontraindikasi : depresi endogen
tanpa agitasi, parkinsonisme, lesi pada ganglia basalis, hamil
dan laktasi, anak <3 tahun. Efek samping : hipertonus otot,
spasme otot, hipertensi ortostatik, gangguan siklus menstruasi,
impotensi, penurunan napsu makan, konstipasi, dyspepsia,
mulut kering, retensi urin. Dosis : skizofrenia kronik dewasa
dan anak > 12 tahun awal 6 15 mg terbagi dalam 2 3 dosis.
b) Risperidon (antipsikotik)
Indikasi : skizofrenia akut dan kronik, keadaan psikotik lain
dengan gejala positif (halusinasi, delusi, gangguan pola pikir)
dan atau negatif (afek tumpul, menarik diri secara sosial dan
emosional serta sulit berbicara), mengurangi gejala afektif yang
berhubungan dengan skizofrenia seperti depresi, perasaan
bersalah dan cemas. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap
risperidon, efek samping : insomnia, agitasi, cemas, sakit
kepala, somnolen, lelah, kadang hipotensi ortostatik, refleks
takikardi, hipertensi, gejala ekstrapiramidal, berat badan
meningkat.
c) Triheksilpenidil (golongan antiparkinson)
Indikasi : anti parkinsonisme. Kontraindikasi : glaukoma sudut
sempit, ileus paralitik, hipertrofi prostat. Efek samping :
gangguan gastrointestinal, retensi urin, gangguan mental. Dosis
: untuk pasien parkinson, hari pertama 1 mg, hari ke dua 2 mg,

16
selanjutnya ditingkatkan 2 mg/ hari dengan interval 3 4 hari,
sampai dengan 6 10 mg/ hari terbagi dalam 3 4 dosis.
d) Chlorpromazine (golongan fenotiazin)
Indikasi : untuk tatalaksana manifestasi kelainan psikotik mual
dan muntah, gelisah dan ketakutan. Kontraindikasi : alkohol,
narkotik. Efek samping : mengantuk, anemia hemolitik,
hipotensi, gugup, insomnia, tremor, kaku, mulut kering dan
mual.

2) Terapi Modalitas
Menurut Kusumawati dan Hartono (2012) terapi modalitas adalah
terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini diberikan dalam
upaya mengubah perilaku pasien dari perilaku yang maladaptif
menjadi perilaku adaptif. (Kusumawati dan Hartono 2012, h.140)

Terapi modalitas terdiri dari terapi kognisi, logoterapi, terapi


keluarga, terapi lingkungan, terapi psikoreligius dan terapi aktivitas
kelompok. Terapi aktivitas kelompok merupakan terapi yang
didasarkan pada pembelajaran hubungan interpersonal. Klien
mengalami konflik yang bersumber dari interpersonal. Dengan
bergabung dalam kelompok klien dapat saling bertukar pikiran dan
pengalamannya, serta mengembangkan pola perilaku yang baru.
Tujuan terapi aktivitas kelompok antara lain : melatih pemahaman
identitas diri, penyaluran emosi, meningkatkan keterampilan
hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari, bersifat rehabilitatif :
pasien-pasien rehabilitatif adalah mereka yang telah sembuh secara
medis tetapi perlu disiapkan fungsi dan kemampuan untuk
persiapan mandiri dan sosial ditengah masyarakat. Dari segi
rehabilitasi terapi kelompok bertujuan meningkatkan kemampuan
ekspresi diri, keterampilan sosial, kepercayaan diri, kemampuan
empati, dan meningkatkan pengetahuan tentang masalah-masalah

17
kehidupan dan pemecahannya. Pada umumnya yang menjadi
sasaran dari terapi kelompok adalah pasien yang memiliki masalah
yang sama. Jumlah anggota yang ideal dalam terapi kelompok
biasanya 7-8 orang, jumlah minimum yaitu 4 orang dan maksimum
10 orang. Peran perawat dalam terapi aktivitas kelompok adalah :
(1) bertindak sebagai moderator atau pengawas diskusi kelompok
(2) mengevaluasi diskusi kelompok untuk menambah pengalaman
terapi kelompok (3) mengadakan pendekatan pada kelompok
secara efektif (4) memotivasi penderita agar aktif dalam kegiatan
yang dilakukan (5) menciptakan suasana terapeutik (6)
memberikan kesempatan pada penderita untuk bekerja sama antara
penderita dengan perawat (7) memberikan bimbingan dan
pengarahan pada penderita yang pasif dan hiperaktif. (Yosep dan
Sutini 2014, h. 329 & 385)

E. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Jiwa


1. Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Jiwa dengan Defisit
Perawatan Diri
a. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses
keperawatan. Kegiatan perawat dalam melakukan pengkajian
keperawatan ini adalah dengan mengkaji data dari klien dan keluarga
tentang tanda dan gejala serta faktor penyebab, memvalidasi data dari
klien dan keluarga, mengelompokkan data, serta menempatkan
masalah klien. Data yang didapatkan bisa dikelompokkan menjadi dua
macam yaitu data subjektif atau data yang disampaikan oleh klien dan
keluarga melalui wawancara secara lisan dan data objektif yaitu data
yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh
perawat seperti tanda vital dan pemeriksaan fisik. (Kusumawati dan
Hartono 2012, h.50)

18
Data defisit perawatan diri dapat diperoleh melalui observasi dan
wawancara mengenai tanda dan gejala berikut ini : adanya gangguan
kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki
dan bau, serta kuku panjang dan kotor, ketidakmampuan
berhias/berpakaian, ditandai dengan rambut acak-acakan, pakaian
kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien laki-laki tidak
bercukur, pada pasien perempuan tidak berdandan, ketidakmampuan
makan secara mandiri, ditandai oleh ketidakmampuan mengambil
makan sendiri, makan berceceran, dan makan tidak pada tempatnya,
ketidakmampuan eliminasi secara mandiri, ditandai dengan buang air
besar atau buang air kecil tidak pada tempatnya, dan tidak
membersihkan diri dengan baik setelah bab/bak. (Keliat dan Akemat
2009, h. 164)

b. Pohon Masalah

Gambar 2.2 Pohon Masalah Defisit Perawatan Diri


Sumber: (Keliat 2006, h. 21)

19
c. Diagnosa
Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinis tentang
pengalaman/respons individu, keluarga, kelompok, atau komunitas
terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan aktual atau potensial dan
memberi dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil
yang dapat dipertanggung jawabkan perawat.
Setelah data subjektif dan data objektif ditemukan melalui pengkajian
pada klien maka diagnosa yang dapat dirumuskan adalah defisit
perawatan diri : kebersihan diri, berhias, makan, dan eliminasi.
(Heather 2012, h. 143)

d. Perencanaan
Perencanaan tindakan keperawatan disusun berdasarkan standar
asuhan keperawatan jiwa Indonesia, yaitu berupa tindakan
konseling/psikoterapeutik, pendidikan kesehatan, perawatan mandiri
(self care) atau aktivitas hidup sehari-hari, serta tindakan kolaborasi
somatik dan psikofarmako. (Kusumawati dan Hartono 2012, h.51)

Keliat (2011, h. 221) menyatakan bahwa tindakan keperawatan pada


klien dengan defisit perawatan diri yaitu sebagai berikut :
1) Tujuan tindakan : klien mampu melakukan kebersihan diri secara
mandiri, klien mampu melakukan berhias/berdandan secara
mandiri, klien mampu melakukan makan dengan baik, klien
mampu melakukan defekasi/berkemih secara mandiri.
2) Tindakan keperawatan :
a) Latih klien tentang cara-cara perawatan kebersihan diri. Untuk
melatih klien dalam menjaga kebersihan diri perawat dapat
mendiskusikan dengan klien mengenai pentingnya menjaga
kebersihan diri, alat-alat yang digunakan untuk menjaga
kebersihan diri, cara-cara melakukan kebersihan diri, dan
melatih klien mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri.

20
b) Latih klien berdandan/berhias. untuk melatih klien dalam
berdandan/berhias tentu berbeda antara klien laki-laki dan
perempuan, untuk klien laki-laki perawat perlu melatih cara
berpakaian, cara menyisir rambut, dan bercukur, sedangkan
untuk klien perempuan perawat perlu melatih cara berpakaian,
cara menyisir rambut dan cara berdandan.
c) Latih klien makan secara mandiri. Untuk melatih klien agar
dapat makan secara mandiri perawat dapat mendiskusikan
dengan klien mengenai cara mempersiapkan makanan, cara
makan yang tertib, cara merapihkan peralatan makan setelah
makan, dan praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang
baik.
d) Ajarkan klien melakukan defekasi/berkemih secara mandiri.
Untuk melatih klien agar dapat melakukan defekasi/berkemih
secara mandiri perawat dapat mendiskusikan dengan klien
mengenai tempat defekasi/berkemih yang sesuai, cara
membersihkan diri setelah defekasi dan berkemih dan cara
membersihkan tempat defekasi dan berkemih.

e. Evaluasi
Evaluasi dari tindakan keperawatan pada klien defisit perawatan diri
diharapkan :
1) Klien mampu menyebutkan pentingnya kebersihan diri,
menyebutkan cara membersihkan diri, mempraktikkan cara
membersihkan diri dan memasukkan ke dalam jadwal.
2) Klien mampu menyebutkan cara berdandan, mempraktikkan cara
berdandan dan memasukkan dalam jadwal.
3) Klien mampu menyebutkan cara makan yang baik, mempraktikkan
makan yang baik dan memasukkan dalam jadwal.

21
4) Klien mampu menyebutkan cara defekasi/berkemih yang baik,
mempraktikkan cara defekasi/berkemih yang baik dan
memasukkan dalam jadwal. (Keliat et al. 2011, h. 233)

2. Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Jiwa dengan Isolasi Sosial


a. Pengkajian
Keliat et al. (2011, h. 131) menyebutkan isolasi sosial adalah keadaan
seorang individu yang mengalami penurunan atau bahkan sama sekali
tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Klien
mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu
membina hubungan yang berarti dengan orang lain.

Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan antara lain : klien
akan menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain,
klien merasa tidak aman berada dengan orang lain, klien mengatakan
hubungan yang tidak berarti dengan orang lain, pasien merasa bosan
dan lambat menghabiskan waktu, klien tidak mampu berkonsentrasi
dan membuat keputusan, klien merasa tidak berguna, klien tidak yakin
dapat melangsungkan hidupnya. (Keliat et al. 2011, h. 132)

22
b. Pohon Masalah

Gambar 2.3 Pohon Masalah Isolasi Sosial


Sumber : (Keliat 2006, h.21)

c. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang
pengalaman/respons individu, keluarga, kelompok, atau komunitas
terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan aktual atau potensial dan
memberi dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil
yang dapat dipertanggung jawabkan perawat. Setelah data subjektif
dan data objektif ditemukan melalui pengkajian, maka diagnosa yang
dapat dirumuskan adalah isolasi sosial. (Heather 2012, h. 143)

d. Perencanaan
Keliat et al. (2011, h. 133) menyatakan tindakan keperawatan pada
klien dengan isolasi sosial yaitu sebagai berikut :
1) Tujuan tindakan : membina hubungan saling percaya, menyadari
penyebab isolasi sosial, berinteraksi dengan orang lain.
2) Tindakan keperawatan :
a) Bina hubungan saling percaya, untuk membina hubungan
saling percaya tindakan yang perlu dilakukan oleh perawat

23
adalah ucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan klien,
berkenalan dengan klien, tanyakan perasaan dan keluhan klien
saat ini, buat kontrak asuhan, jelaskan anda akan merahasiakan
informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi, tunjukkan
sikap empati dan penuhi kebutuhan dasar klien.
b) Bantu klien mengenal penyebab isolasi sosial, untuk membantu
klien mengenal penyebab isolasi sosial tindakan yang dapat
dilakukan perawat adalah tanyakan pendapat klien tentang
kebiasaan berinteraksi dengan orang lain, tanyakan apa yang
menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.
c) Bantu klien mengenali keuntungan dari membina hubungan
dengan orang lain, lakukan dengan cara mendiskusikan
keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan bergaul
akrab dengan mereka.
d) Bantu klien mengenal kerugian dari tidak membina hubungan
dengan orang lain, untuk membantu klien mengenal kerugian
dari tidak membina hubungan dengan orang lain perawat perlu
mendiskusikan bersama klien mengenai kerugian tidak
membina hubungan dengan orang lain dan menjelaskan
pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik klien.
e) Bantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain secara
bertahap.

e. Evaluasi
Evaluasi dari tindakan keperawatan pada klien dengan isolasi sosial
diharapkan :
1) Klien mampu menyebutkan penyebab isolasi sosial, menyebutkan
keuntungan berinteraksi dengan orang lain, menyebutkan kerugian
tidak berinteraksi dengan orang lain.
2) Klien mampu berkenalan dengan satu orang, berkenalan dengan
dua orang atau lebih, memiliki jadwal kegiatan berbincang-bincang

24
dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian, melakukan
berbincang dengan orang lain sesuai jadwal harian. (Keliat et al.
2011, h. 143)

3. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Jiwa dengan Halusinasi


a. Pengkajian
Keliat et al. (2011, h. 147) menyatakan halusinasi adalah salah satu
gejala gangguan sensori persepsi yang dialami oleh pasien gangguan
jiwa. Klien merasakan sensasi berupa suara, penglihatan, pengecapan,
perabaan, atau penghiduan tanpa stimulus nyata. Pada proses
pengkajian klien halusinasi, data penting yang perlu dikaji adalah
sebagai berikut :
1) Jenis dan isi halusinasi. Data objektif yang dapat dikaji dengan
cara mengobservasi perilaku klien, sedangkan data subjektif dapat
dikaji dengan melakukan wawancara dengan klien. Melalui data ini
perawat dapat mengetahui isi halusinasi klien.
2) Waktu, frekuensi, dan situasi yang menyebabkan munculnya
halusinasi.
3) Respon terhadap halusinasi. Perawat dapat menanyakan pada klien
hal yang dirasakan atau dilakukan saat halusinasi timbul.

b. Diagnosa
Diagnosa keperawatan sebagai penilaian klinis tentang
pengalaman/respons individu, keluarga, kelompok, atau komunitas
terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan aktual atau potensial dan
memberi dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil
yang dapat dipertanggung jawabkan perawat. Setelah data subjektif
dan data objektif ditemukan melalui pengkajian, maka diagnosa yang
dapat dirumuskan adalah gangguan sensori persepsi : halusinasi.
(Heather 2012, h. 143)

25
c. Pohon Masalah

Gambar 2.4 : Pohon Masalah Halusinasi


Sumber : (Keliat 2006, h. 45)

d. Perencanaan
Keliat et al. (2011, h. 149) menyatakan tindakan keperawatan pada
klien dengan halusinasi yaitu sebagai berikut :
1) Tujuan tindakan keperawatan : Klien dapat mengenali halusinasi
yang dialami, klien dapat mengontrol halusinasi, klien mengikuti
program pengobatan secara optimal.
2) Tindakan Keperawatan :
a. Bantu klien mengenali halusinasi: untuk membantu klien
mengenali halusinasi, perawat dapat berdiskusi dengan klien
tentang isi halusinasi (apa yang didengar, dilihat, atau
dirasakan), waktu terjadinya halusinasi, frekuensi terjadinya
halusinasi, situasi yag menyebabkan halusinasi muncul dan
respon klien pada saat halusinasi muncul.
b. Melatih klien mengontrol halusinasi : untuk membantu klien
agar mampu mengotrol halusinasi, perawat dapat melatih klien

26
empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan
halusinasi. Keempat cara mengotrol halusinasi adalah sebagai
berikut:
1) Menghardik halusinasi, klien dilatih untuk mengatakan
tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak
memperdulikan halusinasinya, berikut ini tahapan
intervensi yang dilakukan perawat dalam mengajarkan
klien : menjelaskan cara menghardik halusinasi,
memperagakan cara menghardik, meminta klien
memperagakan ulang dan memantau penerapan cara,
menguatkan perilaku klien.
2) Bercakap-cakap dengan orang lain dapat membantu
mengotrol halusnasi. Ketika klien bercakap-cakap dengan
orang lain, terjadi distraksi : fokus perhatian klien akan
beralih dari halusinas ke percakapan yang dilakukan dengan
orang lain.
3) Melakukan aktivitas yang terjadwal untuk mengurangi
risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan
diri melakukan aktivitas yang teratur. Tahapan intervensi
perawat dalam memberikan aktivitas yang terjadwal yaitu :
menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk
mengatasi halusinasi, mendiskusikan aktivitas yang bisa
dilakukan klien, melatih klien melakukan aktivitas,
menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan
aktivitas yang telah dilatih. upayakan klien mempunyai
aktivitas mulai dari bangun pagi sampai tidur malam,
memantau pelaksanaan jadwal kegiatan : memberikan
penguatan terhadap perilaku klien yang positif.
4) Minum obat secara teratur, minum obat secara teratur dapat
mengontrol halusinasi. Misalnya obat: Chlorpromazine
(golongan antipsikotik), Halloperidol (golongan

27
antipsikotik), dan Triheksiphenidyl (golongan
antiparkinson). Klien juga harus dilatih untuk minum obat
secara teratur sesuai dengan program terapi dokter.

e. Evaluasi
Evaluasi terhadap masalah keperawatan halusinasi meliputi :
1) Klien mampu mengenal jenis halusinasi, isi halusinasi, waktu
halusinasi, frekuensi halusinasi, situasi yang menimbulkan
halusinasi, mampu menjelaskan respon terhadap halusinasi
2) Klien mampu mengontrol halusinasi dengan cara menghardik,
bercakap-cakap jika terjadi halusinasi, membuat jadwal kegiatan
harian, melakukan kegiatan harian sesuai jadwal, menggunakan
obat secara teratur. (Keliat et al. 2011, h. 160)

28
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
Klien bernama Tn. I berusia 40 tahun, tanggal lahir 22 Desember 1977 jenis
kelamin laki-laki, suku sunda, No. RM 18.03.65, pendidikan terakhir SD,
agama islam, alamat Karang Asem Timur Rt.02 Rw.06 Citeureup Bogor, klien
saat ini dirawat ruang Antareja Rs. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor,
berdasarkan data dari rekam medik klien masuk RSMM tanggal 27 maret
2017, Klien datang ke RSMM dibawa oleh keluarganya melalui poli psikiatri
dan dirawat di ruang kresna laki-laki kemudian pada tanggal 02 april 2017
klien dipindah ke ruang gatot kaca, setelah dari ruang gatot kaca pada tanggal
11 april 2017 klien dipindahkan ke ruang antareja, pada tanggal 13 april 2017
klien sempat dipindahkan keruang subadra karena klien sempat didiagnosa
suspek TBC oleh dokter, setelah dirawat diruang subadra selama 4 hari pada
tanggal 17 april 2017 klien dipindahkan kembali ke ruang antareja. Klien
dirawat dengan gejala yang dirasakan sejak tanggal 22 maret 2017 selama 5
hari sebelum masuk rumah sakit klien buang air besar dan buang air kecil
disembarang tempat, telanjang, tidak mau makan dan mandi, marah-marah
merusak alat rumah tangga, tidak dapat tidur, bicara kacau, hampir memukul
ibu dirumah, pada saat dilakukan pengkajian di poli psikiatri klien tampak
bingung, pembicaraan inkoheren, disorientasi waktu dan tempat, afek labil,
klien terlihat senyum-senyum sendiri dan bicara sendiri. Diagnosa medis
skizofrenia paranoid.

Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 20 april 2017 didapatkan


penampilan klien tidak rapi, badan bau, kuku panjang dan kotor, kulit kering
dan korengan pada tangan dan kaki, klien mengatakan kulitnya korengan
karena gatal dan digaruk, terdapat kumis dan jenggot yang belum dicukur dan

29
tidak rapi, gigi kotor dan bau, klien mengatakan jarang mandi karena malas
dan dingin, mandi tidak menggunakan sabun, keramas tidak dengan shampo
dan tidak pernah menggosok gigi, klien mengganti pakaian tidak rutin kadang-
kadang setiap hari kadang-kadang 2 hari sekali, tidak mencuci tangan sebelum
makan, makan berceceran, jarang mencuci piring dan gelas setelah makan,
setelah bak tidak membersihkan area genetalia. klien cukup kooperatif, kontak
mata kurang, Afek klien tumpul, ditunjukkan dengan ekspresi perasan yang
sangat kurang, klien hanya berespon saat diberi stimulus, klien tampak lebih
sering menundukkan kepala saat diajak berbicara, klien tampak lebih banyak
diam, klien tampak kurang fokus saat interaksi sehingga perawat perlu
menepuk bahunya dan mengulangi pertanyaan tersebut, saat sedang
berinteraksi klien sering tiba-tiba menutup telinga dan menutup mata nya
seperti ketakutan, Klien mengatakan sering mendengar suara bisikan yang
memanggilnya, mengajaknya berbicara, menyuruhnya untuk pulang, suara
tersebut muncul ketika klien sedang sendiri dengan frekuensi 3x dalam sehari
namun waktunya tidak menentu, respon klien bila mendengar suara tersebut
yaitu klien tidak mendengarkan suara tersebut dan menutup kuping nya, selain
itu klien juga sering melihat neneknya yang sudah meninggal, munculnya
tidak menentu dengan frekuensi 4x dalam sehari, respon yang dilakukan klien
saat melihat sosok neneknya yang sudah meninggal yaitu klien langsung
menutup matanya dan mengalihkan pandangannya karena klien takut, klien
tidak mengalami gangguan isi pikir dan tidak mengalami disorientasi tempat,
waktu dan orang dibuktikan dengan klien mampu menyebutkan nama, umur,
alamat rumah dan menyebutkan dimana dirinya sekarang. Klien mengalami
gangguan daya ingat jangka pendek seperti nama teman yang baru dikenalnya.

Klien memiliki riwayat gangguan jiwa sebelumnya sejak tahun 2010 namun
sejak 2010-2015 klien hanya di rawat jalan, pada bulan Januari-Februari 2016
klien dirawat di RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi setelah dirawat pada tahun 2016
klien sempat putus obat selama 1 tahun, klien memiliki riwayat keturunan
yang mengalami gangguan jiwa yaitu ayah kandung klien, klien mengatakan

30
tipe kepribadian klien tertutup, klien memiliki riwayat pengalaman yang tidak
menyenangkan yaitu sebelum masuk rumah sakit klien sempat dipasung oleh
keluarga nya selama 1 hari karena klien mengamuk dan marah-marah merusak
alat rumah tangga, selain itu klien juga sering diolok-olok oleh temannya
karena klien cadel dan klien selalu ditolak cinta oleh perempuan yang ia sukai.

Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan data tekanan darah 100/70 mmHg,
Nadi 89 x/menit, Suhu 37C, Pernapasan 21 x/menit, Tinggi badan 162 cm,
Berat badan 38,6 Kg, keluhan yang dirasakan klien saat dilakukan pengkajian
yaitu Klien mengatakan sering batuk, dan terkadang pusing saat beraktivitas,
kulit kering dan korengan pada bagian tangan dan kaki, saat melakukan
kebersihan diri klien tidak membersihkan area genetalia, anggota tubuh klien
tidak ada yang mengalami cacat dan keadaan tubuh baik. Penatalaksanaan
medis yang diterima klien yaitu risperidon 2x2mg per oral dan
triheksilpenidil 2x2mg per oral.

B. Analisa Data
Data subjektif : klien mengatakan jarang mandi, mandi tidak menggunakan
sabun, klien mengatakan badannya sudah terasa bersih tanpa menggunakan
sabun, keramas tidak dengan shampo dan tidak pernah menggosok gigi,
mengganti pakaian tidak rutin kadang-kadang setiap hari kadang-kadang 2
hari sekali, klien mengatakan tidak mencuci tangan sebelum makan, klien
mengatakan jarang mencuci piring setelah makan, buang air kecil tidak
membersihkan area genetalia. Data objektif : Penampilan klien tidak rapi,
baju kotor, badan bau, kuku panjang dan kotor, kulit kering dan korengan pada
tangan dan kaki, terdapat kumis dan jenggot yang belum dikucur dan tidak
rapi, gigi kotor dan bau, makan berceceran. Masalah keperawatan : defisit
perawatan diri.

31
Data subjektif : klien mengatakan lebih suka sendiri, klien mengatakan
jarang berinteraksi dengan orang lain, klien mengatakan malu dan tidak
terbiasa memulai interaksi dengan orang lain. Data objektif : Klien tampak
lebih sering menyendiri, klien lebih banyak diam, tampak lesu, kontak mata
kurang, saat berbincang klien tampak lebih sering menundukkan kepalanya.
Masalah keperawatan : isolasi sosial.

Data subjektif : klien mengatakan sering mendengar suara bisikan yang


memanggilnya, mengajaknya berbicara, menyuruhnya untuk pulang, suara
tersebut muncul ketika klien sedang sendiri dengan frekuensi 3x dalam sehari
namun waktunya tidak menentu, respon klien bila mendengar suara tersebut
yaitu klien tidak mendengarkan suara tersebut dan menutup kuping nya, klien
mengatakan sering melihat sosok neneknya yang sudah meninggal,
munculnya tidak menentu dengan frekuensi 4x dalam sehari, respon yang
dilakukan klien saat melihat sosok tersebut yaitu klien langsung menutup
matanya dan mengalihkan pandangannya. Data objektif : klien terlihat
kurang fokus saat diajak bebicara dan sering tiba-tiba terdiam, saat sedang
berbicara klien sering tiba-tiba menutup kuping nya dan menutup mata nya
seperti ketakutan. Masalah keperawatan : Gangguan persepsi sensori :
halusinasi pendengaran dan penglihatan.

Data subjektif : klien mengatakan merasa minder karena klien cadel dan tidak
memiliki apa-apa, tidak bisa apa-apa dan ekonomi keluarga nya kurang klien
mengatakan selalu ditolak oleh perempuan yang dia sukai. Data objektif :
klien tampak menyendiri, klien tampak jarang berinteraksi dengan orang lain,
kontak mata kurang, saat berinteraksi klien lebih banyak diam dan klien
tampak lebih sering menundukkan kepalanya. Masalah keperawatan : harga
diri rendah.

Data subjektif : klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien marah-
marah dan merusak alat rumah tangga, saat dirumah klien hampir memukul

32
ibunya. Data objektif : klien riwayat perilaku kekerasan saat dirumah 3
minggu yang lalu. Masalah keperawatan : resiko perilaku kekerasan.

Data subjektif : klien mengatakan setelah dirawat pada tahun 2016 klien
putus obat selama 1 tahun, klien mengatakan tidak mengetahui apa itu
penyakit jiwa, faktor penyebab, penyakit fisik dan pengobatan. Data objektif
: klien masuk ke RS. Dr. Marzoeki Mahdi pada tanggal 27 maret 2017
selama 1 tahun yang lalu klien mengalami putus obat. Masalah keperawatan :
penatalaksanaan regimen terapeutik tidak efektif.

Data subjektif : klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien di


pasung oleh keluarga nya selama 1 hari karena klien mengamuk dan marah-
marah, klien mengatakan komunikasi klien dalam keluarga tertutup, klien
sering menyimpan masalahnya sendiri, ayah klien mengalami gangguan jiwa
juga dan dibawa ke pengobatan alternatif, klien mengatakan selama 1 tahun
yang lalu klien sempat mengalami putus obat, saat itu keluarga sempat
mengingatkan klien untuk minum obat tetapi klien menolak untuk minum
obat karena malas dan merasa dirinya sudah sembuh, keluarga tidak biasa
memaksa klien untuk tetap minum obat. Data objektif : klien mengalami
gangguan jiwa sejak 2010 namun selama 5 tahun klien hanya dirawat jalan.
Masalah keperawatan : koping keluarga tidak efektif.

Data subjektif : klien mengatakan kulitnya kering, korengan karena gatal


dan digaruk. Data objektif : kulit tampak kering dan sedikit korengan
dibagian tangan dan kaki. Masalah keperawatan : resiko kerusakan integritas
kulit.

33
C. Diagnosa Keperawatan
SDKI (2017, h. 5) Mendefinisikan diagnosa keperawatan merupakan suatu
penilaian klinis mengenai respon klien terhadap masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun potensial.
Setelah dilakukan pengkajian dan didapatkan data subjektif dan data objektif
pada klien, maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan dalam pohon
masalah dibawah ini :

Resiko perilaku kekerasan Resiko kerusakan integritas kulit

Gangguan persepsi sensori halusinasi Defisit perawatan diri

Isolasi sosial

Harga diri rendah

Regimen terapeutik Koping keluarga tidak efektif


Tidak efektif

Daftar diagnosa keperawatan :


1. Defisit perawatan diri : kebersihan diri, berdandan dan toileting
2. Isolasi sosial
3. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran dan penglihatan
4. Harga diri rendah
5. Resiko perilaku kekerasan

D. Intervensi, Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


Dari lima diagnosa keperawatan yang telah ditemukan pada klien, penulis
hanya dapat melakukan intervensi keperawatan pada tiga diagnosa
keperawatan utama klien. intervensi yang penulis lakukan mulai tanggal 20
maret 2017 sampai dengan 22 maret 2017. Adapun diagnosa yang telah di
intervensikan adalah :

34
Diagnosa pertama yaitu defisit perawatan diri : kebersihan diri,
berhias/berdandan, makan, toileting. Tujuan umum yang diharapkan yaitu
klien dapat mandiri dalam perawatan diri sendiri. Tujuan khusus yang
diharapkan yaitu klien dapat membina hubungan saling percaya, klien
mengetahui penting nya perawatan diri, klien mengetahui cara-cara perawatan
diri, klien dapat melaksanakan perawatan diri dengan bantuan perawat atau
secara mandiri. Kriteria hasil yang diharapkan dalam perencanaan
keperawatan yaitu setalah 2-3x interaksi klien mampu menunjukkan tanda-
tanda percaya terhadap perawat dengan mengekspresikan wajah bersahabat,
menunjukkan wajah cerah dan tersenyum, mau berkenalan, ada kontak mata,
mau mengungkapkan perasaan nya, klien mampu menyebutkan penyebab
tidak merawat diri, manfaat menjaga perawatan diri, tanda-tanda bersih dan
rapi serta gangguan yang dialami jika perawatan diri tidak diperhatikan, klien
mampu menyebutkan frekuensi mandi, frekuensi gosok gigi, frekuensi
keramas, frekuensi ganti pakaian, frekuensi berhias, frekuensi gunting kuku,
klien mampu menjelaskan cara menjaga perawatan diri, klien dapat
mempraktikkan perawatan diri dengan dibantu oleh perawat atau secara
mandiri. Intervensi keperawatan defisit perawatan diri meliputi : bina
hubungan saling percaya dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik,
sapa dan berikan salam dengan ramah baik secara verbal maupun non verbal,
perkenalkan diri kepada klien, Tanya nama lengkap dan nama panggilan yang
disukai oleh klien, jelaskan tujuan dari pertemuan. Latih klien tentang cara-
cara perawatan kebersihan diri dengan cara diskusikan dengan klien mengenai
pentingnya menjaga kebersihan diri, alat-alat yang digunakan untuk menjaga
kebersihan diri, cara-cara melakukan kebersihan diri, dan latih klien
mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri. Latih klien berdandan/berhias
meliputi latih cara berpakaian, cara menyisir rambut, menggunting kuku dan
bercukur. Latih klien makan secara mandiri meliputi diskusikan dengan klien
mengenai cara mempersiapkan makanan, cara makan yang tertib, cara
merapihkan peralatan makan setelah makan, dan praktik makan sesuai dengan

35
tahapan makan yang baik. Ajarkan klien melakukan defekasi/ berkemih secara
mandiri meliputi diskusikan dengan klien mengenai tempat defekasi/berkemih
yang sesuai, cara membersihkan diri setelah defekasi dan berkemih dan cara
membersihkan tempat defekasi dan berkemih. Implementasi yang penulis
lakukan sejak tanggal 20 april 2017 sampai tanggal 22 april 2017 adalah :
menyapa dan memberikan salam, memperkenalkan diri kepada klien,
menanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai oleh klien,
menjelaskan tujuan dari pertemuan, menanyakan kepada klien apa yang
sedang dirasakannya, mendiskusikan dengan klien mengenai pentingnya
menjaga kebersihan diri, mendiskusikan mengenai alat-alat yang digunakan
untuk menjaga kebersihan diri, mendiskusikan cara-cara melakukan
kebersihan diri, mendiskusikan mengenai frekuensi mandi, keramas dan gosok
gigi yang baik, dan melatih klien mempraktikkan cara mandi, keramas dan
gosok gigi. mendiskusikan frekuensi mengganti pakaian yang baik, melatih
cara berpakaian, cara menyisir rambut, menggunting kuku. Mendiskusikan
dengan klien mengenai cara mempersiapkan makanan, mengajarkan cuci
tangan sebelum dan sesudah makan, mengajarkan cara makan yang tertib, cara
merapihkan peralatan makan setelah makan. mendiskusikan dengan klien
mengenai tempat defekasi/berkemih yang sesuai, mendiskusikan dan
mengajarkan cara membersihkan diri setelah defekasi dan berkemih dan cara
membersihkan tempat defekasi dan berkemih. Evaluasi : pada tanggal 22 april
2017 evaluasi yang telah dicapai yaitu klien mampu membina hubungan
saling percaya dengan perawat, klien mampu menyebutkan manfaat menjaga
kebersihan diri, klien mampu menyebutkan alat-alat yang digunakan untuk
menjaga kebersihan diri, klien mampu menyebutkan frekuensi mandi,
frekuensi gosok gigi, frekuensi keramas, frekuensi ganti pakaian, frekuensi
berhias, frekuensi gunting kuku, klien dapat mempraktikkan mandi, keramas
dan sikat gigi dengan motivasi dan bimbingan perawat, klien mau untuk rutin
mengganti pakaian dengan motivasi dan bimbingan perawat, klien mampu
mempraktikkan cuci tangan yang baik dengan bimbingan perawat, klien
mampu mengetahui manfaat dan cara membersihkan area genetalia setelah

36
buang air kecil dan buang air besar. Subjektif : klien mengatakan badannya
lebih segar setelah mandi, klien mengatakan mulut jadi lebih segar setelah
selesai menggosok gigi, klien mengatakan terkadang masih malas mandi
karena dingin, klien mengatakan sering lupa untuk mencuci tangan sebelum
makan, setelah bak sudah membersihkan area genetalia. Objektif : klien
mandi, keramas dan menggosok gigi dengan motivasi dan bimbingan perawat,
penampilan masih belum rapi, klien sudah mulai rutin mengganti pakaian
walaupun perlu di motivasi terlebih dahulu, makan masih berceceran, klien
sudah mampu menyisir rambut, kuku pendek dan bersih, klien mampu
menyebutkan manfaat menjaga kebersihan diri, klien mampu menyebutkan
alat-alat yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri, klien mampu klien
mampu menyebutkan frekuensi mandi, frekuensi gosok gigi, frekuensi
keramas, frekuensi ganti pakaian, frekuensi berhias, frekuensi gunting kuku.
Analisa : 20 april 2017 klien mampu menyebutkan penyebab tidak menjaga
kebersihan diri, manfaat menjaga kebersihan diri, klien mampu menyebutkan
alat-alat yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri, klien mampu klien
mampu menyebutkan frekuensi mandi, frekuensi gosok gigi, frekuensi
keramas, frekuensi ganti pakaian, frekuensi berhias, frekuensi gunting kuku,
klien mampu mempraktikkan mandi, keramas dan sikat gigi dengan
bimbingan perawat, mampu melakukan cuci tangan dengan bimbingan
perawat tetapi makan masih berceceran. 21 april 2017 defisit perawatan diri
klien sudah mampu mempraktikkan mandi, keramas dan sikat gigi dengan
bimbingan perawat, sudah mampu menyisir rambut dan mengganti pakaian
secara mandiri dengan motivasi perawat. 22 april 2017 klien sudah mampu
mandi dengan bimbingan dan motivasi perawat, berhias sudah mampu dengan
motivasi perawat, makan masih berceceran, membersihkan area genetalia
setelah buang air kecil dan buang air besar sudah mampu dengan motivasi
perawat. Planning : beri tahu perawat ruangan tentang kemampuan yang
sudah dicapai klien, anjurkan dan motivasi klien untuk rutin menjaga
kebersihan diri seperti mandi 2x sehari, keramas 1x sehari, sikat gigi 3x sehari,

37
mengganti pakaian rutin setiap hari, motivasi klien untuk rutin mencuci tangan
sebelum dan sesudah makan.

Diagnosa dua yaitu isolasi sosial. Tujuan umum yang diharapkan adalah
klien dapat berinteraksi dengan orang lain. Tujuan khusus yang diharapkan
antara lain : klien dapat membina hubungan saling percaya, klien dapat
menyebutkan penyebab menarik diri, klien dapat menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, klien
dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. Kriteria hasil yang
diharapkan yaitu klien menunjukkan tanda-tanda percaya terhadap perawat
dengan mengekspresikan wajah bersahabat, menunjukkan wajah cerah dan
tersenyum, mau berkenalan, ada kontak mata, dapat menyebutkan minimal 1
penyebab menarik diri, klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan
dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, klien
dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap antara klien dengan
perawat, klien dengan perawat lain dan klien dengan kelompok/masyarakat,
klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang
lain. Intervensi keperawatan pada isolasi sosial yaitu bina hubungan saling
percaya dengan ucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan klien,
perkenalkan nama perawat dan tujuan perawat melakukan berkenalan, Tanya
nama lengkap dan nama panggilan yang disukai oleh klien, tanyakan perasaan
dan keluhan klien saat ini, buat kontrak asuhan, jelaskan bahwa perawat akan
merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi, tunjukkan
sikap empati dan penuhi kebutuhan dasar klien, Tanyakan pada klien tentang
orang yang dekat dengan klien, apa yang membuat klien dekat dengan orang
tersebut, orang yang tidak dekat dengan klien, apa yang membuat klien tidak
dekat dengan orang tersebut, upaya yang dilakukan agar dekat dengan orang
lain, tanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan
orang lain, diskusikan menyenai keuntungan berhubungan sosial dan kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain, beri motivasi dan ajarkan klien cara
berkenalan, bantu klien untuk berkenalan dan berkomunikasi dengan orang

38
lain secara bertahap, observasi perilaku klien saat berhubungan sosial,
diskusikan mengenai jadwal kegiatan harian klien, beri motivasi untuk
melakukan kegiatan sesuai jadwal, beri pujian terhadap kemampuan klien
dalam berinteraksi dengan orang lain. Implementasi yang penulis lakukan
mulai tanggal 20 april 2017 sampai dengan 22 april 2017 adalah menyapa dan
memberi salam, memperkenalkan diri, menanyakan nama lengkap dan nama
pangggilan yang disukai oleh klien, menyebutkan tujuan dari melakukan
berkenalan, menanyakan kepada klien mengenai perasaannya saat ini,
membuat kontrak interaksi, mengobservasi perilaku klien yang terkait isolasi
sosial, menanyakan kepada klien mengenai keluarganya, anggota keluarga
yang tinggal satu rumah dengan klien, orang yang paling dekat dengan klien
baik dirumah maupun saat di RS, menanyakan apa yang membuat klien dekat
dengan orang tersebut, mendiskusikan apa yang menyebabkan klien tidak
ingin berinteraksi dengan orang lain, mendiskusikan menyenai keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain,
mengajarkan klien cara berkenalan dengan orang lain, mengajarkan klien
berinteraksi secara bertahap dengan satu orang atau perawat lain, latih klien
berinteraksi secara bertahap dengan dua orang atau lebih, observasi perilaku
klien saat berinteraksi dengan orang lain. Evaluasi : klien dapat
mengidentifikasi penyebab isolasi sosial, klien dapat mengenal keuntungan
berhubungan dengan orang lain dan kerugian dari tidak berhubungan dengan
orang lain, klien mampu berinteraksi dengan perawat dan teman nya.
Subjektif : Tn.I megatakan senang bisa berkenalan dan berinteraksi dengan
perawat lain dan teman satu ruangannya. Objektif : Tn. I tampak senang
karena bisa berinteraksi dengan orang lain, klien tampak kooperatif dan
mampu berinteraksi dengan teman-temannya. Analisa : 20 april 2017 klien
mampu membina hubungan saling percaya, klien dapat mengetahui penyebab
menarik diri, klien dapat mengenal keuntungan berhubungan dengan orang
lain dan kerugian dari tidak berhubungan dengan orang lain, sudah mampu
mempraktikkan cara berkenalan dengan bimbingan perawat. 21 april 2017
klien sudah mampu mempraktikkan cara berkenalan dengan orang lain. 22

39
april 2017 klien sudah mampu berkenalan lebih dari dua orang dan mampu
bercakap-cakap. Planning : motivasi dan evaluasi klien untuk melakukan
kemampuan yang telah dilatih yaitu berkenalan dengan orang lain dan
berinteraksi secara bertahap dengan orang lain, anjurkan klien untuk
berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain, laporkan kepada perawat
ruangan tentang kemampuan berkenalan dan berinteraksi yang telah dicapai
oleh Tn. I.

Diagnosa tiga yaitu gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran dan


penglihatan. Tujuan umum yang diharapkan adalah klien mampu mengontrol
halusinasinya. Tujuan khusus yang diharapkan antara lain klien dapat
membina hubungan saling percaya, klien dapat mengenal halusinasinya, klien
dapat mengontrol halusinasinya, klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
Kriteria hasil klien menunjukkan tanda-tanda percaya terhadap perawat
dengan mengekspresikan wajah bersahabat, menunjukkan wajah cerah dan
tersenyum, mau berkenalan, ada kontak mata, mengungkapkan masalah yang
dihadapinya, setelah 2-3x interaksi klien mampu menyebutkan isi, waktu,
frekuensi, situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi, klien mampu
menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan untuk mengendalikan
halusinasinya, mampu memperagakan cara mengontrol halusinasi, klien
mampu menyebutkan manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, nama,
warna, dosis dan efek samping obat. Intervensi keperawatan pada gangguan
persepsi sensori : halusinasi pendengaran dan penglihatan adalah bina
hubungan saling percaya dengan ucapkan salam setiap kali berinteraksi
dengan klien, perkenalkan nama perawat dan tujuan perawat melakukan
berkenalan, Tanya nama lengkap dan nama panggilan yang disukai oleh klien,
tanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini, buat kontrak asuhan, observasi
perilaku klien terkait dengan halusinasi, bantu klien mengenal halusinasi, kaji
jenis halusinasi, isi halusinasi, waktu dan frekuensi halusinasi, kaji situasi
yang menyebabkan halusinasi, jelaskan cara-cara mengontrol halusinasi,
ajarkan klien mengontrol halusinasi dengan cara pertama yaitu menghardik

40
halusinasi, latih klien mengontrol halusinasi dengan cara kedua yaitu
meminum obat secara teratur, latih klien mengontrol halusinasi dengan cara
ketiga yaitu bercakap-cakap, latih klien mengontrol halusinasi dengan cara
keempat yaitu melaksanakan aktivitas terjadwal. Implementasi yang penulis
lakukan mulai tanggal 20 april 2017 sampai dengan 22 april 2017 adalah
menyapa dan memberi salam, memperkenalkan diri, menanyakan nama
lengkap dan nama pangggilan yang disukai oleh klien, menyebutkan tujuan
dari melakukan berkenalan, menanyakan kepada klien mengenai perasaannya
saat ini, membuat kontrak interaksi, mengobservasi perilaku klien yang terkait
halusinasi, membantu klien mengenal halusinasi, mengkaji jenis halusinasi, isi
halusinasi, waktu dan frekuensi halusinasi, mengkaji situasi yang
menyebabkan halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi,
mengajarkan klien mengontrol halusinasi dengan cara pertama yaitu
menghardik halusinasi, melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara kedua
yaitu meminum obat secara teratur, melatih klien mengontrol halusinasi
dengan cara ketiga yaitu bercakap-cakap, melatih klien mengontrol halusinasi
dengan cara keempat yaitu melaksanakan aktivitas terjadwal. Evaluasi yang
didapat setelah dilakukan tindakan keperawatan yaitu klien mampu mengenal
halusinasi, mampu mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum
obat teratur, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan terjadwal. Subjektif :
klien mengatakan masih sering melihat dan mendengar suara-suara yang
mengganggunya, klien mengatakan sudah mengetahui cara-cara untuk
mengontrol halusinasi seperti menghardik halusinasi, meminum obat secara
teratur, bercakap-cakap dengan orang lain dan melakukan kegiatan, klien
mengatakan setelah ini akan rutin minum obat agar halusinasi nya tidak timbul
lagi dan agar klien tidak masuk rumah sakit lagi. Objektif : klien mampu
menyebutkan dan mempraktikkan cara mengontrol halusinasi seperti
menghardik halusinasi, meminum obat secara teratur, bercakap-cakap dengan
orang lain dan melakukan kegiatan. Analisa : 20 april 2017 klien sudah
mengenal halusinasinya, mampu mengontrol halusinasi pendengaran dan
penglihatan dengan menghardik dan mampu menyebutkan kembali nama-

41
nama obat dan kegunaannya. 21 april 2017 klien sudah mampu mengontrol
halusinasi pendengaran dan penglihatan dengan cara menghardik, patuh obat
dan bercakap-cakap. 22 april 2017 sudah mampu mengontrol halusinasi
dengan menghardik, patuh obat, bercakap-cakap dan beraktivitas. Planning :
anjurkan dan motivasi klien untuk melakukan kemampuan mengontrol
halusinasi yang sudah dilatih, laporkan kepada perawat ruangan mengenai
kemampuan yang telah dimiliki oleh klien dalam mengontrol halusinasi.

42
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menganalisa kasus pada Tn. I dengan defisit perawatan
diri diruang antareja RS. Dr. Marzoeki Mahdi Bogor. Selanjutnya penulis akan
membandingkan antara teori yang telah ada dengan hasil asuhan keperawatan
yang telah dilakukan sejak tanggal 20 april 2017 sampai dengan 22 april 2017.
Dan mengidentifikasi faktor pendukung, faktor penghambat dan solusi dalam
melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa,
intervensi, implementasi dan evaluasi.

A. Pengkajian
1. Defisit Perawatan Diri
Dari hasil pengkajian pada Tn. I yang dilakukan pada tanggal 20 April
2017 didapatkan bahwa terdapat data subjektif yang penulis temukan pada
Tn. I yaitu klien mengatakan jarang mandi, mandi tidak menggunakan
sabun, klien mengatakan badannya sudah terasa bersih tanpa
menggunakan sabun, keramas tidak dengan shampo dan tidak pernah
menggosok gigi, mengganti pakaian tidak rutin kadang-kadang setiap hari
kadang-kadang 2 hari sekali, klien mengatakan tidak mencuci tangan
sebelum makan, klien mengatakan jarang mencuci gelas dan piring setelah
makan, bak tidak membersihkan area genetalia, sedangkan data objektif
yang ditemukan yaitu Penampilan klien tidak rapi, pakaian kotor, badan
bau, rambut kotor, kuku panjang dan kotor, kulit kering dan korengan,
terdapat kumis dan jenggot yang belum dikucur dan tidak rapi, gigi kotor
dan bau, makan berceceran.

Sedangkan teori mengenai tanda dan gejala yang tampak pada pasien
dengan defisit perawatan diri menurut Keliat et al. (2011, h. 221) adalah
sebagai berikut : Gangguan kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor,

43
gigi kotor, kulit berdaki dan bau, serta kuku panjang dan kotor.
Ketidakmampuan berhias/berpakaian, ditandai dengan rambut acak-
acakan, pakaian kotor atau tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien
laki-laki tidak bercukur, pada pasien perempuan tidak berdandan.
Ketidakmampuan makan secara mandiri, ditandai oleh ketidakmampuan
mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan makan tidak pada
tempatnya. Ketidakmapuan eliminasi secara mandiri, ditandai dengan
buang air besar atau buang air kecil tidak pada tempatnya. Dan didukung
oleh hasil penelitian laporan akhir keperawatan spesialis jiwa FIK UI
(2015) pada ruang rawat inap psikiatri, tanda gejala defisit perawatan diri
berdasarkan perilaku terbanyak yaitu pasien tampak menggaruk-garuk
badan, rambut kotor, badan bau dan gelisah.

Kesenjangan yang terdapat antara teori, hasil penelitian FIK UI (2015)


dengan keadaan klien yaitu pada teori mengenai tanda dan gejala defisit
perawatan diri disebutkan bahwa pada defisit perawatan diri klien makan
tidak pada tempatnya dan akan mengalami ketidakmampuan eliminasi
secara mandiri ditandai dengan buang air besar atau buang air kecil tidak
pada tempatnya, hal tersebut tidak ditemukan pada Tn. I, klien mampu
makan pada tempatnya karena diruang antareja sudah disediakan meja
makan dan pada saat waktunya makan seluruh pasien diarahkan untuk
makan di meja makan dan diawasi oleh perawat ruangan, klien mampu
buang air besar atau buang air kecil pada tempatnya karena sebelumnya
klien telah dilatih untuk bab dan bak pada tempatnya dan klien juga sudah
mengetahui alasan mengapa harus bab dan bak pada tempatnya, pada hasil
penelitian FIK UI (2015) disebutkan bahwa salah satu perilaku klien
dengan defisit perawatan diri yaitu gelisah namun pada Tn. I tidak
mengalami gelisah hal ini terjadi karena respon dari setiap orang berbeda-
beda.

44
Faktor pendukung yang penulis dapatkan adalah adanya proposal karya
tulis ilmiah yang telah penulis susun sebelum pengambilan kasus di rumah
sakit sehingga penulis dapat lebih memahami hal-hal yang perlu dikaji
pada klien dengan gangguan jiwa dan dapat memudahkan penulis dalam
melakukan pengkajian, adanya kerjasama antara perawat ruangan dengan
penulis dalam memberikan informasi mengenai klien. Faktor
penghambat klien sering tiba-tiba mengalihkan pembicaraan saat sedang
berinteraksi dengan perawat, sering kurang fokus saat berinteraksi karena
halusinasinya timbul sehingga penulis perlu memfokuskan klien dan
mengulangi kembali pertanyaan untuk klien, selama melakukan
pengkajian penulis tidak mendapatkan informasi lengkap dari keluarga
karena keluarga tidak ada yang mengunjungi klien di ruang antareja.
Solusi klien perlu diajarkan kembali cara-cara mengontrol halusinasi,
adanya kerjasama dengan perawat ruangan dalam menggali informasi
untuk pengkajian mengenai kondisi klien.

2. Isolasi Sosial
Dari hasil pengkajian pada Tn. I yang dilakukan pada tanggal 20 April
2017 didapatkan bahwa terdapat data subjektif yang penulis temukan pada
Tn. I yaitu klien mengatakan lebih suka sendiri, klien mengatakan jarang
berinteraksi dengan orang lain, klien mengatakan malu dan tidak terbiasa
memulai interaksi dengan orang lain. Data objektif : Klien tampak lebih
sering menyendiri, klien lebih banyak diam, tampak lesu, kontak mata
kurang, saat berbincang klien tampak lebih sering menundukkan
kepalanya.

Tanda dan gejala diatas sesuai dengan Tanda dan gejala isolasi sosial yang
disebutkan dalam Keliat et al. (2011, h. 132) yaitu klien akan
menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain, klien merasa
tidak aman berada dengan orang lain, klien mengatakan hubungan yang
tidak berarti dengan orang lain, klien merasa bosan dan lambat

45
menghabiskan waktu, klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat
keputusan, klien merasa tidak berguna, klien tidak yakin dapat
melangsungkan hidupnya. Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat
diobservasi adalah : tidak memiliki teman dekat, menarik diri, tidak
komunikatif, tindakan berulang dan tidak bermakna, asyik dengan
pikirannya sendiri, tidak ada kontak mata dan tampak sedih, afek tumpul.

Faktor pendukung yang penulis dapatkan adalah adanya kerjasama


antara perawat ruangan dengan penulis dalam memberikan informasi
mengenai klien, adanya sumber informasi berupa data sekunder yang
berasal dari catatan medis diruangan, adanya proposal karya tulis ilmiah
yang telah penulis susun sebelum pengambilan kasus di rumah sakit
sehingga penulis dapat lebih memahami hal-hal yang perlu dikaji pada
klien dengan gangguan jiwa dan dapat memudahkan penulis dalam
melakukan pengkajian. Faktor penghambat klien masih malu-malu dan
gugup saat manjawab pertanyaan, klien jarang berkomunikasi dengan
orang lain sehingga sulit untuk memulai pembicaraan dengan orang lain,
klien sering kali kurang fokus saat berinteraksi karena halusinasinya
timbul sehingga penulis perlu memfokuskan klien dan mengulangi
kembali pertanyaan untuk klien, selama melakukan pengkajian penulis
tidak mendapatkan informasi lengkap dari keluarga karena keluarga tidak
ada yang mengunjungi klien di ruang antareja. Solusi klien perlu dilatih
untuk berinteraksi dengan orang lain dan klien perlu diajarkan kembali
cara-cara mengontrol halusinasi, adanya kerjasama dengan perawat
ruangan dalam menggali informasi untuk pengkajian mengenai kondisi
klien.

46
3. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran dan
Penglihatan
Dari hasil pengkajian pada Tn. I yang dilakukan pada tanggal 20 April
2017 didapatkan bahwa terdapat data subjektif yang penulis temukan pada
Tn.I yaitu klien mengatakan sering mendengar suara bisikan yang
memanggilnya, mengajaknya berbicara, menyuruhnya untuk pulang, suara
tersebut muncul ketika klien sedang sendiri dengan frekuensi 3x dalam
sehari namun waktunya tidak menentu, respon klien bila mendengar suara
tersebut yaitu klien diam tidak mendengarkan suara tersebut dan menutup
kuping nya, klien mengatakan sering melihat sosok neneknya yang sudah
meninggal, munculnya tidak menentu dengan frekuensi 4x dalam sehari,
respon yang dilakukan klien saat melihat sosok tersebut yaitu klien
langsung menutup matanya dan mengalihkan pandangannya. Sedangkan
data objektif yang ditemukan yaitu kurang fokus saat diajak bebicara dan
sering tiba-tiba terdiam, saat sedang berbicara klien sering tiba-tiba
menutup mata nya seperti ketakutan.

Keliat et al. (2011, h. 148) menyatakan tanda dan gejala halusinasi


pendengaran yaitu tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab,
mencondongkan telinga ke arah tertentu dan menutup telinga, mendengar
suara-suara atau kegaduhan, mendengar suara yang mengajak bercakap-
cakap, mendengar suara memerintah dan melakukan sesuatu yang
berbahaya. Kesenjangan yang ditemukan dalam teori dengan keadaan
klien yaitu pada teori menyebutkan tanda gejala halusinasi yaitu marah-
marah, hal ini tidak ditemukan pada Tn. I karena halusinasi memiliki
beberapa tahapan-tahapan dan karakteristik perilaku klien dari masing-
masing tahapan berbeda. pada Tn. I tahapan halusinasi nya berada pada
tahap satu. Menurut Dermawan dan Rusdi (2013, h. 4) pada tahap satu
(comforting) halusinasi bersifat menyenangkan atau memberi rasa
nyaman, tingkat ansietas sedang secara umum halusinasi merupakan suatu
kesenangan, karakteristik klien biasanya mengalami ansietas, kesepian,

47
rasa bersalah dan ketakutan, mencoba berfokus pada pikiran yang dapat
menghilangkan ansietas, pikiran dan pengalaman sensori masalah ada
dalam kontrol kesadaran non psikotik, pada tahap satu perilaku klien pada
umumnya tertawa/tersenyum yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa
suara, pergerakan mata yang cepat, respon verbal yang lambat, diam dan
dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan.
Sedangkan dalam Yosep dan Sutini (2014, h. 226) menyebutkan bahwa
tanda dan gejala halusinasi penglihatan yaitu klien mengatakan melihat
sosok yang sudah meninggal, melihat makhluk tertentu, melihat bayangan,
hantu atau sesuatu yang menakutkan, klien menunjukkan tatapan mata
pada tempat tertentu, menunjuk ke arah tertentu, ketakutan pada objek
yang dilihat. Untuk halusinasi penglihatan yang dialami oleh Tn. I tidak
ada kesenjangan antara teori dengan hasil pengkajian yang dilakukan oleh
penulis.

Penatalaksanaan medis berdasarkan instruksi dokter yang diterima klien


yaitu risperidon : 2x2 mg dan triheksilpenidil : 2x2 mg. Menurut MIMS
(2008, h. 101) obat-obatan yang digunakan untuk klien dengan
skizofrenia, diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Haloperidol
(antipsikotik). Indikasi : skizofrenia akut dan kronik, cemas, gelisah, dan
gangguan keseimbangan jiwa yang disertai dengan iritabilitas, agresi,
delusi, halusinasi. Kontraindikasi : depresi endogen tanpa agitasi,
parkinsonisme, lesi pada ganglia basalis, hamil dan laktasi, anak <3 tahun.
Efek samping : hipertonus otot, spasme otot, hipertensi ortostatik,
gangguan siklus menstruasi, impotensi, penurunan napsu makan,
konstipasi, dyspepsia, mulut kering, retensi urin. Dosis : skizofrenia kronik
dewasa dan anak > 12 tahun awal 6 15 mg terbagi dalam 2 3 dosis.
2) Risperidon (antipsikotik). Indikasi : skizofrenia akut dan kronik,
keadaan psikotik lain dengan gejala positif (halusinasi, delusi, gangguan
pola pikir) dan atau negatif (afek tumpul, menarik diri secara sosial dan
emosional serta sulit berbicara), mengurangi gejala afektif yang

48
berhubungan dengan skizofrenia seperti depresi, perasaan bersalah dan
cemas. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap risperidon, efek samping :
insomnia, agitasi, cemas, sakit kepala, somnolen, lelah, kadang hipotensi
ortostatik, refleks takikardi, hipertensi, gejala ekstrapiramidal, berat badan
meningkat. 3). Triheksilpenidil (golongan antiparkinson). Indikasi : anti
parkinsonisme. Kontraindikasi : glaukoma sudut sempit, ileus paralitik,
hipertrofi prostat. Efek samping: gangguan gastrointestinal, retensi urin,
gangguan mental. Dosis : untuk pasien parkinson, hari ke pertama 1 mg,
hari ke dua 2 mg, selanjutnya ditingkatkan 2 mg/ hari dengan interval 3
4 hari, sampai dengan 6 10 mg/ hari terbagi dalam 3 4 dosis.
4) Chlorpromazine (golongan fenotiazin). Indikasi : untuk tatalaksana
manifestasi kelainan psikotik mual dan muntah, gelisah dan ketakutan.
Kontraindikasi : alkohol, narkotik. Efek samping : mengantuk, anemia
hemolitik, hipotensi, gugup, insomnia, tremor, kaku, mulut kering dan
mual.

Dari uraian diatas tidak ada kesenjangan pada penatalaksanaan


farmakologi yang didapatkan klien dengan teori mengenai
penatalaksanaan farmakologi untuk klien dengan skizofrenia.

Faktor pendukung yang penulis dapatkan adalah adanya proposal karya


tulis ilmiah yang telah penulis susun sebelum pengambilan kasus di rumah
sakit sehingga penulis dapat lebih memahami hal-hal yang perlu dikaji
pada klien dengan gangguan jiwa dan dapat memudahkan penulis dalam
melakukan pengkajian, adanya arahan dari perawat ruangan dalam
melakukan pengkajian, adanya kerjasama antara perawat ruangan dengan
penulis dalam memberikan informasi mengenai kondisi klien. Faktor
penghambat klien sering kali kurang fokus saat berinteraksi karena
halusinasinya timbul dank lien belum mampu untuk mengontrol
halusinasinya secara mandiri sehingga penulis perlu memfokuskan klien
dan mengulangi kembali pertanyaan untuk klien, selama melakukan

49
pengkajian penulis tidak mendapatkan informasi lengkap dari keluarga
karena keluarga tidak ada yang mengunjungi klien di ruang antareja.
Solusi klien perlu diajarkan kembali cara-cara mengontrol halusinasi,
adanya kerjasama dengan perawat ruangan dalam menggali informasi
untuk pengkajian mengenai kondisi klien.

B. Diagnosa Keperawatan
Setelah dilakukan pengkajian keperawatan, penulis mendapatkan 5 diagnosa
keperawatan yaitu : defisit perawatan diri : kebersihan diri, berhias, makan dan
toileting, isolasi sosial, gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran,
penglihatan, harga diri rendah, resiko perilaku kekerasan. Namun penulis
hanya mengambil tiga diagnosa keperawatan utama untuk dibahas yaitu defisit
perawatan diri : kebersihan diri, berhias, makan dan toileting, Isolasi sosial,
Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran, penglihatan.
1. Defisit Perawatan Diri
Penulis mengambil diagnosa defisit perawatan diri menjadi masalah utama
karena pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 20 april 2017, klien
tampak penampilan klien tidak rapi, baju kotor, badan bau, kuku panjang
dan kotor, kulit kering dan korengan, terdapat kumis dan jenggot yang
belum dikucur dan tidak rapi, gigi kotor dan bau, makan berceceran, Klien
mengatakan jarang mandi, mandi tidak menggunakan sabun, klien
mengatakan badannya sudah terasa bersih tanpa menggunakan sabun,
keramas tidak dengan shampo dan tidak pernah menggosok gigi,
mengganti pakaian tidak rutin kadang-kadang setiap hari kadang-kadang 2
hari sekali, klien mengatakan tidak mencuci tangan sebelum makan, klien
mengatakan jarang mencuci piring setelah makan, bak tidak
membersihkan area genetalia.

Penulis mengambil defisit perawatan diri sebagai diagnosa utama karena


pada klien dengan gangguan jiwa umumnya klien akan mengalami
ketidakmampuan dalam melakukan perawatan diri secara mandiri

50
sehingga klien perlu dibantu dan dilatih untuk dapat melakukan perawatan
diri secara mandiri karena menurut Tarwoto dan Wartonah (2015, h. 153)
apabila masalah perawatan diri tidak ditangani bisa menimbulkan dampak
fisik seperti gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut,
infeksi pada mata dan telinga, serta gangguan fisik pada kuku, dan dampak
psikososial seperti gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai
dan mencintai, kebutuhan harga diri, dan gangguan interaksi sosial. Pada
saat dilakukan pengkajian klien juga mengalami halusinasi dan isolasi
sosial namun untuk diagnosa tersebut klien sudah mampu mengetahui
cara-cara mengontrol halusinasi dan berkenalan karena diruangan
sebelumnya klien sudah sering dilatih. Berdasarkan uraian diatas maka
penulis mengambil diagnosa defisit perawatan diri sebagai diagnosa
utama.

Faktor pendukung data pengkajian yang sesuai dengan teori, saat


pengkajian klien menunjukkan tanda dan gejala yang dominan yaitu defisit
perawatan diri sehingga penulis dapat menyimpulkan diagnosa
keperawatan yang aktual. Faktor penghambat tidak ada faktor
penghambat dalam menentukan diagnosa keperawatan

2. Isolasi Sosial
Penulis mengambil diagnosa isolasi sosial menjadi penyebab masalah
karena pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 20 april 2017
didapatkan data subjektif yang penulis temukan pada Tn. I yaitu klien
mengatakan lebih suka sendiri, klien mengatakan jarang berinteraksi
dengan orang lain, klien mengatakan malu dan tidak terbiasa memulai
interaksi dengan orang lain. Data objektif klien tampak lebih sering
menyendiri, klien lebih banyak diam, tampak lesu, kontak mata kurang,
saat berbincang klien tampak lebih sering menundukkan kepalanya.

51
Data yang didapatkan sangat mendukung untuk ditempatkannya diagnosa
isolasi sosial karena keterbatasan perawatan diri biasanya diakibatkan
karena stressor yang cukup berat dan sulit ditangani oleh klien sehingga
dirinya tidak mau mengurus atau merawat dirinya sendiri baik dalam hal
mandi, berpakaian, berhias, makan, maupun bab dan bak. (Pinedendi
2016).

Faktor pendukung data pengkajian yang sesuai dengan teori, adanya


arahan dari perawat ruangan sehingga memudahkan penulis untuk
menegakkan diagnosa keperawatan. Faktor penghambat tidak ada faktor
penghambat dalam menentukan diagnosa keperawatan

3. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran, Penglihatan


Penulis mengambil diagnosa gangguan persepsi sensori : halusinasi
pendengaran, penglihatan menjadi salah satu dari tiga masalah utama
karena pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 20 april 2017
didapatkan data subjektif yang penulis temukan pada Tn. I yaitu klien
mengatakan sering mendengar suara bisikan yang memanggilnya,
mengajaknya berbicara, menyuruhnya untuk pulang, suara tersebut muncul
ketika klien sedang sendiri dengan frekuensi 3x dalam sehari namun
waktunya tidak menentu, respon klien bila mendengar suara tersebut yaitu
klien tidak mendengarkan suara tersebut dan menutup kuping nya, klien
mengatakan sering melihat sosok neneknya yang sudah meninggal,
munculnya tidak menentu dengan frekuensi 4x dalam sehari, respon yang
dilakukan klien saat melihat sosok tersebut yaitu klien langsung menutup
matanya dan mengalihkan pandangannya. Data objektif : Klien terlihat
kurang fokus saat diajak bebicara dan sering tiba-tiba terdiam, saat sedang
berbicara klien sering tiba-tiba menutup mata nya seperti ketakutan.

Data yang didapatkan sangat mendukung untuk mengangkat diagsosa


gangguan persepsi sensori halusinasi karena apabila halusinasi tidak

52
diatasi dapat mengakibatkan klien dapat mencederai diri sendiri, orang lain
dan lingkungan

Faktor pendukung saat dilakukan pengkajian halusinasi klien sering


timbul dan klien menunjukkan tanda gejala yang sesuai dengan teori,
adanya arahan dari perawat ruangan sehingga memudahkan penulis untuk
menegakkan diagnosa keperawatan.
Faktor penghambat tidak ada faktor penghambat dalam menentukan
diagnosa keperawatan.

C. Intervensi Keperawatan
Setelah dilakukan pengkajian keperawatan dan perumusan diagnosa
keperawatan selanjutnya penulis akan membahas mengenai intervensi
keperawatan yang sudah penulis tetapkan untuk Tn. I. intervensi keperawatan
yang sudah dilakukan pada Tn. I sebagai berikut :
1. Defisit Perawatan Diri
Penulis menetapkan intervensi untuk diagnosa keperawatan defisit
perawatan diri, intervensi yang telah dilakukan pada Tn. I dengan
menggunakan strategi pelaksanaan yaitu bina hubungan saling percaya
dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik, sapa dan berikan
salam dengan ramah baik secara verbal maupun non verbal, perkenalkan
diri kepada klien, Tanya nama lengkap dan nama panggilan yang disukai
oleh klien, jelaskan tujuan dari pertemuan. Latih klien tentang cara-cara
perawatan kebersihan diri dengan cara diskusikan dengan klien mengenai
penting nya menjaga kebersihan diri, diskusikan mengenai alat-alat yang
digunakan untuk menjaga kebersihan diri, diskusikan mengenai cara-cara
melakukan kebersihan diri, latih klien mempraktikkan cara menjaga
kebersihan diri, latih klien berdandan/berhias meliputi latih cara
berpakaian, cara menyisir rambut, cara menggunting kuku dan bercukur,
latih klien makan secara mandiri meliputi diskusikan mengenai cara
mempersiapkan makan, cara makan yang tertib, cara merapihkan peralatan

53
setelah makan, praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang baik,
ajarkan klien melakukan defekasi/berkemih secara mandiri meliputi
diskusikan mengenai tempat defekasi/ berkemih yang sesuai, cara
membersihkan diri setelah defekasi dan berkemih, cara membersihkan
tempat defekasi dan berkemih.

Intervensi keperawatan menurut Keliat et al. (2011, h. 221) latih klien


tentang cara-cara perawatan kebersihan diri, untuk melatih klien dalam
menjaga kebersihan diri perawat dapat mendiskusikan dengan klien
mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri, alat-alat yang digunakan
untuk menjaga kebersihan diri, cara-cara melakukan kebersihan diri, dan
melatih klien mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri, latih klien
berdandan/berhias, untuk melatih klien dalam berdandan/berhias tentu
berbeda antara klien laki-laki dan perempuan, untuk klien laki-laki
perawat perlu melatih cara berpakaian, cara menyisir rambut, dan
bercukur, sedangkan untuk klien perempuan perawat perlu melatih cara
berpakaian, cara menyisir rambut dan cara berdandan, latih klien makan
secara mandiri, untuk melatih klien agar dapat makan secara mandiri
perawat dapat mendiskusikan dengan klien mengenai cara mempersiapkan
makanan, cara makan yang tertib, cara merapihkan peralatan makan
setelah makan, dan praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang
baik, ajarkan klien melakukan defekasi/ berkemih secara mandiri. Untuk
melatih klien agar dapat makan secara mandiri perawat dapat
mendiskusikan dengan klien mengenai tempat defekasi/berkemih yang
sesuai, cara membersihkan diri setelah defekasi dan berkemih dan cara
membersihkan tempat defekasi dan berkemih.

Dari uraian diatas mengenai intervensi untuk diagnosa defisit perawatan


diri tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan intervensi
yang telah di telah dilakukan pada Tn. I dengan menggunakan strategi
pelaksanaan.

54
Faktor pendukung arahan dari perawat ruangan yang membantu
mengarahkan intervensi yang diutamakan untuk Tn. I karena tim
keperawatan mempunyai prosedur tetap untuk intervensi keperawatan,
serta adanya strategi pelaksanaan yang telah penulis buat dapat membantu
memudahkan persiapan berinteraksi dengan klien. Faktor penghambat
tidak ada faktor penghambat dalam menetapkan intervensi keperawatan
pada Tn. I

2. Isolasi Sosial
Penulis menetapkan intervensi untuk diagnosa keperawatan isolasi sosial,
intervensi yang telah dilakukan pada Tn. I dengan menggunakan strategi
pelaksanaan yaitu bina hubungan saling percaya dengan ucapkan salam
setiap kali berinteraksi dengan klien, perkenalkan nama perawat dan
tujuan perawat melakukan berkenalan, Tanya nama lengkap dan nama
panggilan yang disukai oleh klien, tanyakan perasaan dan keluhan klien
saat ini, buat kontrak asuhan, jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan
informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi, tunjukkan sikap
empati dan penuhi kebutuhan dasar klien. Tanyakan pada klien tentang
orang yang dekat dengan klien, apa yang membuat klien dekat dengan
orang tersebut, orang yang tidak dekat dengan klien, apa yang membuat
klien tidak dekat dengan orang tersebut, upaya yang dilakukan agar dekat
dengan orang lain, tanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin
berinteraksi dengan orang lain, diskusikan mengenai keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain,
beri motivasi dan ajarkan klien cara berkenalan, bantu klien untuk
berkenalan dan berkomunikasi dengan orang lain secara bertahap,
observasi perilaku klien saat berhubungan sosial, diskusikan mengenai
jadwal kegiatan harian klien, beri motivasi untuk melakukan kegiatan
sesuai jadwal, beri pujian terhadap kemampuan klien dalam berinteraksi
dengan orang lain.

55
Intervensi keperawatan untuk diagnosa isolasi sosial menurut Keliat et al.
(2011, h. 133) bina hubungan saling percaya, untuk membina hubungan
saling percaya tindakan yang perlu dilakukan oleh perawat adalah ucapkan
salam setiap kali berinteraksi dengan klien, berkenalan dengan klien,
tanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini, buat kontrak asuhan,
jelaskan anda akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk
kepentingan terapi, tunjukkan sikap empati dan penuhi kebutuhan dasar
klien. bantu klien mengenal penyebab isolasi sosial, tanyakan pendapat
klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain, tanyakan apa yang
menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain, bantu klien
mengenali keuntungan dari membina hubungan dengan orang lain, bantu
klien mengenal kerugian dari tidak membina hubungan dengan orang lain,
ajarkan klien berinteraksi dengan orang lain dan bantu klien untuk
berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.

Dari uraian diatas mengenai intervensi untuk diagnosa isolasi sosial tidak
ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan intervensi yang telah di
telah ditetapkan pada Tn. I dengan menggunakan strategi pelaksanaan.

Faktor pendukung adanya referensi buku keperawatan jiwa dapat


memudahkan dan membantu penulis dalam menetapkan intervensi
keperawatan, bantuan dari perawat ruangan yang membantu mengarahkan
intervensi yang diutamakan untuk Tn. I, tim keperawatan mempunyai
prosedur tetap untuk intervensi keperawatan, serta adanya strategi
pelaksanaan yang telah penulis buat dapat membantu memudahkan
persiapan berinteraksi dengan klien. Faktor penghambat tidak ada faktor
penghambat dalam menetapkan intervensi keperawatan pada Tn. I

3. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran, Penglihatan


Penulis menetapkan intervensi untuk diagnosa keperawatan Gangguan
persepsi sensori : halusinasi pendengaran dan penglihatan, intervensi yang
telah dilakukan pada Tn. I dengan menggunakan strategi pelaksanaan yaitu
bina hubungan saling percaya dengan ucapkan salam setiap kali

56
berinteraksi dengan klien, perkenalkan nama perawat dan tujuan perawat
melakukan berkenalan, Tanya nama lengkap dan nama panggilan yang
disukai oleh klien, tanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini, buat
kontrak asuhan, observasi perilaku klien terkait dengan halusinasi, bantu
klien mengenal halusinasi, kaji jenis halusinasi, isi halusinasi, waktu dan
frekuensi halusinasi, kaji situasi yang menyebabkan halusinasi, jelaskan
cara-cara mengontrol halusinasi, ajarkan klien mengontrol halusinasi
dengan cara pertama yaitu menghardik halusinasi, latih klien mengontrol
halusinasi dengan cara kedua yaitu meminum obat secara teratur, latih
klien mengontrol halusinasi dengan car ketiga yaitu bercakap-cakap, latih
klien mengontrol halusinasi dengan cara keempat yaitu melaksanakan
aktivitas terjadwal.

Intervensi keperawatan menurut Keliat et al. (2011, h. 149) yaitu bina


hubungan saling percaya, untuk membina hubungan saling percaya
tindakan yang perlu dilakukan oleh perawat adalah ucapkan salam setiap
kali berinteraksi dengan klien, berkenalan dengan klien, tanyakan perasaan
dan keluhan saat ini, buat kontrak asuhan, jelaskan anda akan
merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi,
tunjukkan sikap empati dan penuhi kebutuhan dasar klien. bantu klien
mengenali halusinasi, perawat dapat mendiskusikan pada klien tentang isi
halusinasi, waktu terjadinya, frekuensi, situasi yang menyebabkan
halusinasi muncul dan respon klien pada saat halusinasi muncul, latih
klien mengontrol halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, bercakap-
cakap dengan orang lain, latih klien melakukan aktivitas secara terjadwal,
latih klien menggunakan obat secara teratur.

Dari uraian diatas mengenai intervensi untuk diagnosa gangguan persepsi


sensori : halusinasi pendengaran, penglihatan tidak ditemukan adanya
kesenjangan antara teori dengan intervensi yang telah di telah dilakukan
pada Tn. I dengan menggunakan strategi pelaksanaan.

57
Faktor pendukung adanya referensi buku keperawatan jiwa dapat
memudahkan dan membantu penulis dalam menetapkan intervensi
keperawatan, bantuan dari perawat ruangan yang membantu mengarahkan
intervensi yang diutamakan untuk Tn. I, tim keperawatan mempunyai
prosedur tetap untuk intervensi keperawatan, serta adanya strategi
pelaksanaan yang telah penulis buat dapat membantu memudahkan
persiapan berinteraksi dengan klien. Faktor penghambat tidak ada faktor
penghambat dalam menetapkan intervensi keperawatan pada Tn. I

D. Implementasi
Implementasi keperawatan yang telah penulis lakukan pada Tn. I sejak tanggal
20 april 2017 sampai dengan 22 april 2017 untuk diagnosa defisit perawatan
diri, isolasi sosial dan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran,
penglihatan, penulis melakukan implementasi berdasarkan intervensi yang
telah penulis tetapkan sebelumnya, implementasi yang telah dilakukan untuk
ketiga diagnosa tersebut adalah
1. Defisit Perawatan Diri
Implementasi untuk diagnosa defisit perawatan diri meliputi : menyapa
dan memberikan salam, memperkenalkan diri kepada klien, menanyakan
nama lengkap dan nama panggilan yang disukai oleh klien, menjelaskan
tujuan dari pertemuan, menanyakan kepada klien apa yang sedang
dirasakannya, mendiskusikan dengan klien mengenai pentingnya menjaga
kebersihan diri, mendiskusikan mengenai alat-alat yang digunakan untuk
menjaga kebersihan diri, mendiskusikan cara-cara melakukan kebersihan
diri, mendiskusikan mengenai frekuensi mandi, keramas dan gosok gigi
yang baik, dan melatih klien mempraktikkan cara mandi, keramas dan
gosok gigi. mendiskusikan frekuensi mengganti pakaian yang baik,
melatih cara berpakaian, cara menyisir rambut, menggunting kuku.
Mendiskusikan dengan klien mengenai cara mempersiapkan makanan,
mengajarkan cuci tangan sebelum dan sesudah makan, mengajarkan cara
makan yang tertib, cara merapihkan peralatan makan setelah makan.
mendiskusikan dengan klien mengenai tempat defekasi/berkemih yang

58
sesuai, mendiskusikan dan mengajarkan cara membersihkan diri setelah
defekasi dan berkemih dan cara membersihkan tempat defekasi dan
berkemih.
Penulis tidak dapat melakukan strategi pelaksanaan pada keluarga karena
sejak tanggal 20 april 2016 sampai dengan 22 april 2017 keluarga tidak
ada mengunjungi klien dirumah sakit sehingga penulis tidak dapat
melakukan strategi pelaksanaan untuk keluarga.

Faktor pendukung adanya strategi pelaksanaan dan nursing care plan


(NCP) memudahkan penulis dalam melakukan asuhan keperawatan,
selama dilakukan tindakan keperawatan klien kooperatif sehingga
memudahkan penulis dalam melakukan tindakan keperawatan. Faktor
penghambat saat berinteraksi klien sering kurang fokus karena halusinasi
nya timbul dan klien belum bisa mengontrol halusinasinya secara mandiri,
klien sering kali malas untuk melakukan kebersihan diri secara mandiri,
tidak adanya keluarga saat melakukan tindakan keperawatan sehingga
penulis tidak dapat melakukan strategi pelaksanaan untuk keluarga. Solusi
klien perlu dilatih kembali mengenai cara-cara untuk mengontrol
halusinasinya agar klien mampu mengontrol halusinasi secara mandiri,
evaluasi kembali kemampuan dalam melakukan kebersihan diri, motivasi
klien untuk melakukan kebersihan diri, perlu adanya koordinasi dengan
perawat ruangan untuk melakukan tindakan keperawatan kepada keluarga
saat keluarga datang mengunjungi klien di rumah sakit.

2. Isolasi Sosial
Implementasi untuk diagnosa isolasi sosial meliputi : menyapa dan
memberi salam, memperkenalkan diri, menanyakan nama lengkap dan
nama pangggilan yang disukai oleh klien, menyebutkan tujuan dari
melakukan berkenalan, menanyakan kepada klien mengenai perasaannya
saat ini, membuat kontrak interaksi, mengobservasi perilaku klien yang
terkait isolasi sosial, menanyakan kepada klien mengenai keluarganya,

59
anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan klien, orang yang paling
dekat dengan pasien baik dirumah maupun saat di RS, menanyakan apa
yang membuat klien dekat dengan orang tersebut, mendiskusikan apa yang
menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain,
mendiskusikan mengenai keuntungan berhubungan sosial dan kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain, memberi pujian pada setiap
kemampuan pasien dalam mengutarakan pendapatnya, mengajarkan klien
cara berkenalan dengan orang lain, mengajarkan klien berinteraksi secara
bertahap dengan satu orang atau perawat lain, melatih klien berinteraksi
secara bertahap dengan dua orang atau lebih, mengobservasi perilaku
pasien saat berinteraksi dengan orang lain.

Penulis tidak dapat melakukan strategi pelaksanaan pada keluarga karena


sejak tanggal 20 april 2016 sampai dengan 22 april 2017 keluarga tidak
ada mengunjungi klien dirumah sakit sehingga penulis tidak dapat
melakukan strategi pelaksanaan untuk keluarga.

Faktor pendukung adanya senam pagi dan jalan pagi yang dilaksanakan
setiap pagi memudahkan penulis dalam melakukan tindakan keperawatan
untuk isolasi sosial, selama dilakukan tindakan keperawatan klien
kooperatif sehingga memudahkan penulis dalam melakukan tindakan
keperawatan. Faktor penghambat klien seringkali gugup dan lebih
banyak diam saat memulai berinteraksi dan berkenalan dengan orang lain,
saat berinteraksi klien sering kurang fokus karena halusinasi nya timbul
dan klien belum bisa mengontrol halusinasinya secara mandiri, klien
mudah lupa nama-nama teman yang telah diajak berkenalan, tidak adanya
keluarga saat melakukan tindakan keperawatan sehingga penulis tidak
dapat melakukan strategi pelaksanaan untuk keluarga. Solusi perlu adanya
koordinasi dengan perawat ruangan untuk melakukan tindakan
keperawatan kepada keluarga saat keluarga datang mengunjungi klien di

60
rumah sakit, klien perlu dilatih secara rutin untuk bercakap-cakap dengan
orang lain, klien perlu dilatih kembali cara-cara mengontrol halusinasi

3. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran, Penglihatan


Implementasi untuk diagnosa isolasi sosial meliputi : menyapa dan
memberi salam, memperkenalkan diri, menanyakan nama lengkap dan
nama pangggilan yang disukai oleh klien, menyebutkan tujuan dari
melakukan berkenalan, menanyakan kepada klien mengenai perasaannya
saat ini, membuat kontrak interaksi, mengobservasi perilaku klien yang
terkait halusinasi, membantu klien mengenal halusinasi, mengkaji jenis
halusinasi, isi halusinasi, waktu dan frekuensi halusinasi, mengkaji situasi
yang menyebabkan halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol
halusinasi, mengajarkan klien mengontrol halusinasi dengan cara pertama
yaitu menghardik halusinasi, melatih klien mengontrol halusinasi dengan
cara kedua yaitu meminum obat secara teratur, melatih klien mengontrol
halusinasi dengan cara ketiga yaitu bercakap-cakap, melatih klien
mengontrol halusinasi dengan cara keempat yaitu melaksanakan aktivitas
terjadwal.

Penulis tidak dapat melakukan strategi pelaksanaan pada keluarga karena


sejak tanggal 20 april 2016 sampai dengan 22 april 2017 keluarga tidak
ada mengunjungi klien dirumah sakit sehingga penulis tidak dapat
melakukan strategi pelaksanaan untuk keluarga.

Faktor pendukung kemampuan klien yang sudah mengetahui tentang


cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik memudahkan penulis
untuk melakukan implementasi keperawatan, adanya senam pagi dan jalan
pagi yang dilaksanakan setiap pagi memudahkan penulis dalam melakukan
tindakan keperawatan untuk diagnosa keperawatan gangguan persepsi
sensori : halusinasi pendengaran, penglihatan, dan adanya arahan dan
dukungan dari perawat ruangan. Faktor penghambat saat interaksi klien

61
sering kali kurang fokus karena halusinasi timbul dan klien belum bisa
mengontrol halusinasinya secara mandiri. tidak adanya keluarga saat
melakukan tindakan keperawatan sehingga penulis tidak dapat melakukan
strategi pelaksanaan untuk keluarga. Solusi klien perlu dilatih kembali
cara-cara mengontrol halusinasi, perlu adanya koordinasi dengan perawat
ruangan untuk melakukan tindakan keperawatan kepada keluarga saat
keluarga datang mengunjungi klien di rumah sakit.

E. Evaluasi
Evaluasi yang penulis lakukan adalah mengevaluasi setiap kemampuan yang
telah dilakukan dan dilatih kepada klien sesuai dengan jadwal kegiatan harian
klien yang telah dibuat sebelumnya.
1. Defisit Perawatan Diri
Pencapaian tindakan keperawatan yang telah di capai oleh Tn. I untuk
diagnosa keperawatan defisit perawatan diri pada tanggal 22 april 2017
yaitu klien mampu membina hubungan saling percaya dengan perawat,
klien mampu menyebutkan manfaat menjaga kebersihan diri, klien mampu
menyebutkan alat-alat yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri,
klien mampu menyebutkan frekuensi mandi, frekuensi gosok gigi,
frekuensi keramas, frekuensi ganti pakaian, frekuensi berhias, frekuensi
gunting kuku, klien dapat mempraktikkan mandi, keramas dan sikat gigi
dengan motivasi dan bimbingan perawat, klien mau untuk rutin mengganti
pakaian dengan motivasi dan bimbingan perawat, klien mampu
mempraktikkan cuci tangan yang baik dengan bimbingan perawat, klien
sudah mengetahui manfaat dan cara membersihkan area genetalia setelah
buang air kecil dan buang air besar. Subjektif : klien mengatakan
badannya lebih segar setelah mandi, klien mengatakan mulut jadi lebih
segar setelah selesai menggosok gigi, klien mengatakan terkadang masih
malas mandi karena dingin, klien mengatakan sering lupa untuk mencuci
tangan sebelum makan, setelah buang air kecil sudah membersihkan area
genetalia. Objektif : klien mandi, keramas dan menggosok gigi dengan

62
motivasi dan bimbingan perawat, penampilan masih belum rapi, klien
sudah mulai rutin mengganti pakaian walaupun perlu di motivasi terlebih
dahulu, makan masih berceceran, klien sudah mampu menyisir rambut,
kuku pendek dan bersih, klien mampu menyebutkan manfaat menjaga
kebersihan diri, klien mampu menyebutkan alat-alat yang digunakan untuk
menjaga kebersihan diri, klien mampu klien mampu menyebutkan
frekuensi mandi, frekuensi gosok gigi, frekuensi keramas, frekuensi ganti
pakaian, frekuensi berhias, frekuensi gunting kuku. Analisa : 20 april
2017 klien mampu menyebutkan penyebab tidak menjaga kebersihan diri,
manfaat menjaga kebersihan diri, klien mampu menyebutkan alat-alat
yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri, klien mampu
menyebutkan frekuensi mandi, frekuensi gosok gigi, frekuensi keramas,
frekuensi ganti pakaian, frekuensi berhias, frekuensi gunting kuku, klien
mampu mempraktikkan mandi, keramas dan sikat gigi dengan bimbingan
perawat, mampu melakukan cuci tangan dengan bimbingan perawat tetapi
makan masih berceceran. 21 april 2017 defisit perawatan diri klien sudah
mampu mempraktikkan mandi, keramas dan sikat gigi dengan bimbingan
perawat, sudah mampu menyisir rambut dan mengganti pakaian secara
mandiri dengan motivasi perawat. 22 april 2017 klien sudah mampu mandi
dengan bimbingan dan motivasi perawat, berhias sudah mampu dengan
motivasi perawat, makan masih berceceran, membersihkan area genetalia
setelah bab dan bak sudah mampu dengan motivasi perawat.
Planning : beri tahu perawat ruangan tentang kemampuan yang sudah
dicapai klien, anjurkan dan motivasi klien untuk rutin menjaga kebersihan
diri seperti mandi 2x sehari, keramas 1x sehari, sikat gigi 3x sehari,
mengganti pakaian rutin setiap hari, motivasi klien untuk rutin mencuci
tangan sebelum dan sesudah makan.

Faktor pendukung : klien kooperatif dan mau mengikuti anjuran yang


telah diberikan oleh perawat, evaluasi yang penulis lakukan sesuai dengan
teori dan standar pelaksanaan tindakan keperawatan, serta pengarahan dari

63
pembimbing ruangan untuk melakukan evaluasi pada klien dengan defisit
perawatan diri. Faktor penghambat : penulis hanya berdinas selama 3
hari sehingga pencapaian terhadap kemampuan klien belum dapat
maksimal sesuai dengan kriteria hasil yang diharapkan, dan penulis tidak
dapat sepenuhnya memantau perkembangan klien, tidak terlaksananya
strategi pelaksanaan untuk keluarga dikarenakan keluarga yang belum
menjenguk klien selama penulis berdinas di ruang antareja. Solusi :
bekerjasama dengan perawat ruangan untuk tetap melatih dan mengevalusi
kembali kemampuan yang telah diajarkan untuk klien dan untuk
mengetahui perkembangan klien, bekerja sama dengan perawat ruangan
untuk melanjutkan intervensi pada keluarga bila keluarga datang
menjenguk klien.

2. Isolasi Sosial
Pencapaian tindakan keperawatan yang telah di capai oleh Tn. I untuk
diagnosa keperawatan isolasi sosial diri pada tanggal 22 april 2017 yaitu
klien dapat mengidentifikasi penyebab isolasi sosial, klien dapat mengenal
keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian dari tidak
berhubungan dengan orang lain, klien mampu berinteraksi dengan perawat
dan teman nya. Subjektif : Tn. I megatakan senang bisa berkenalan dan
berinteraksi dengan perawat lain dan teman satu ruangannya. Objektif :
Tn. I tampak senang karena bisa berinteraksi dengan orang lain, klien
tampak kooperatif dan mampu berinteraksi dengan teman-temannya.
Analisa : 20 april 2017 klien mampu membina hubungan saling percaya,
klien dapat mengetahui penyebab menarik diri, klien dapat mengenal
keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian dari tidak
berhubungan dengan orang lain, sudah mampu mempraktikkan cara
berkenalan dengan bimbingan perawat. 21 april 2017 klien sudah mampu
mempraktikkan cara berkenalan dengan orang lain. 22 april 2017 klien
sudah mampu berkenalan lebih dari dua orang dan mampu bercakap
cakap. Planning : motivasi dan evaluasi klien untuk melakukan

64
kemampuan yang telah dilatih yaitu berkenalan dengan orang lain dan
berinteraksi secara bertahap dengan orang lain, anjurkan klien untuk
berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain, laporkan kepada perawat
ruangan tentang kemampuan berkenalan dan berinteraksi yang telah
dicapai oleh Tn. I.

Faktor pendukung : adanya data yang didapatkan dari hasil implementasi


dapat mendukung evaluasi keperawatan untuk isolasi sosial, klien
kooperatif dan mau mengikuti anjuran yang telah diberikan oleh perawat.
Faktor penghambat : tidak terlaksananya intervensi pada keluarga
dikarenakan keluarga yang belum menjenguk klien selama penulis dinas
diruang antareja. penulis hanya berdinas selama 3 hari sehingga
pencapaian terhadap kemampuan klien belum dapat maksimal sesuai
dengan kriteria hasil yang diharapkan, dan penulis tidak dapat sepenuhnya
memantau perkembangan klien. Solusi : bekerjasama dengan perawat
ruangan untuk melakukan intervensi pada keluarga klien, tetap melatih dan
mengevalusi kembali kemampuan yang telah diajarkan untuk klien dan
untuk mengetahui perkembangan klien.

3. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran, Penglihatan


Pencapaian tindakan keperawatan yang telah di capai oleh Tn.I untuk
diagnosa keperawatan yaitu klien mampu mengenal halusinasi, mampu
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat teratur,
bercakap-cakap dan melakukan kegiatan terjadwal. Subjektif : klien
mengatakan masih sering melihat dan mendengar suara-suara yang
mengganggunya, klien mengatakan sudah mengetahui cara-cara untuk
mengontrol halusinasi seperti menghardik halusinasi, meminum obat
secara teratur, bercakap-cakap dengan orang lain dan melakukan kegiatan,
klien mengatakan setelah ini akan rutin minum obat agar halusinasi nya
tidak timbul lagi dan agar klien tidak masuk rumah sakit lagi. Objektif :
klien mampu menyebutkan dan mempraktikkan cara mengontrol

65
halusinasi seperti menghardik halusinasi, meminum obat secara teratur,
bercakap-cakap dengan orang lain dan melakukan kegiatan. Analisa : 20
april 2017 klien sudah mengenal halusinasinya, mampu mengontrol
halusinasi pendengaran dan penglihatan dengan menghardik dan mampu
menyebutkan kembali nama-nama obat dan kegunaannya. 21 april 2017
klien sudah mampu mengontrol halusinasi pendengaran dan penglihatan
dengan cara menghardik, patuh obat dan bercakap-cakap. 22 april 2017
sudah mampu mengontrol halusinasi dengan menghardik, patuh obat,
bercakap-cakap dan beraktivitas. Planning : anjurkan dan motivasi klien
untuk melakukan kemampuan mengontrol halusinasi yang sudah dilatih,
laporkan kepada perawat ruangan mengenai kemampuan yang telah
dimiliki oleh klien dalam mengontrol halusinasi.

Faktor pendukung : klien kooperatif dan mau mengikuti anjuran yang


telah diberikan oleh perawat. Faktor penghambat : penulis hanya
berdinas selama 3 hari sehingga pencapaian terhadap kemampuan klien
belum dapat maksimal sesuai dengan kriteria hasil yang diharapkan, dan
penulis tidak dapat sepenuhnya memantau perkembangan klien. Solusi :
bekerjasama dengan perawat ruangan untuk tetap melatih dan mengevalusi
kembali kemampuan yang telah diajarkan untuk klien dan untuk
mengetahui perkembangan klien.

66
BAB V

PENUTUP

Pada bab ini penulis akan menyimpulkan tentang asuhan keperawatan pada Tn.I
yang mengalami defisit perawatan diri diruang Antareja Rs. Dr. H. Marzoeki
Mahdi Bogor.
A. Simpulan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama tiga hari mulai tanggal 20 april
2017 sampai dengan 22 juni 2016 pada Tn. I yang mengalami defisit
perawatan diri maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut :
1. Pengkajian pada klien yang dilakukan tanggal 20 april 2017 penulis
melakukan wawancara terhadap klien, perawat ruangan, perawat
penanggung jawab klien dan melihat data rekam medik klien. Hasil data
dari pengkajian menurut teori dan praktek lapangan yang penulis dapatkan
sudah sesuai.
2. Diagnosa keperawatan yang didapatkan adalah defisit perawatan diri,
isolasi sosial, gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran dan
penglihatan, harga diri rendah, resiko perilaku kekerasan.
3. Perencanaan keperawatan untuk mengatasi masalah yang ditemukan oleh
penulis sudah sesuai dengan ketentuan dan standar perawatan pasien.
4. Implementasi keperawatan dilakukan berdasarkan rencana keperawatan
yang telah dibuat, implementasi keperawatan dilaksanakan dengan
menggunakan strategi pelaksanaan komunikasi (defisit perawatan diri,
isolasi sosial dan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran dan
penglihatan.
5. Evaluasi yang penulis lakukan pada tanggal 22 april 2017 dan diperoleh
evaluasi sebagai berikut :
a. Defisit Perawatan Diri, evaluasi yang telah dicapai yaitu klien
mampu membina hubungan saling percaya dengan perawat, klien
mampu menyebutkan manfaat menjaga kebersihan diri, klien mampu

67
menyebutkan alat-alat yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri,
klien mampu menyebutkan frekuensi mandi, frekuensi gosok gigi,
frekuensi keramas, frekuensi ganti pakaian, frekuensi berhias,
frekuensi gunting kuku, klien dapat mempraktikkan mandi, keramas
dan sikat gigi dengan motivasi dan bimbingan perawat, klien mau
untuk rutin mengganti pakaian dengan motivasi dan bimbingan
perawat, klien mampu mempraktikkan cuci tangan yang baik dengan
bimbingan perawat, klien sudah mengetahui manfaat dan cara
membersihkan area genetalia setelah bak dan bab.
b. Isolasi Sosial, evaluasi yang telah dicapai yaitu klien dapat
mengidentifikasi penyebab isolasi sosial, klien dapat mengenal
keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian dari tidak
berhubungan dengan orang lain, klien mampu berinteraksi dengan
perawat dan teman nya.
c. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran dan
Penglihatan, evaluasi yang didapat setelah dilakukan tindakan
keperawatan yaitu klien mampu mengenal halusinasi, mampu
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat teratur,
bercakap-cakap dan melakukan kegiatan terjadwal.

B. Saran
1. Penulis
Dibutuhkan kesabaran dalam membina hubungan saling percaya antara
perawat dengan klien, melibatkan keluarga dalam melakukan
pengkajian untuk mendapatkan keakuratan data, penulis harus
mengetahui pentingnya peran serta keluarga dalam perawatan klien,
meningkatkan kerjasama yang baik antara penulis, perawat ruangan
dan tim kesehatan lain dalam melakukan perawatan terhadap klien.

68
2. Perawat
Kerjasama yang baik antara mahasiswa praktik dan perawat ruangan
agar tetap dipertahankan dan lebih ditingkatkan, komunikasi yang
lebih intensif kepada pasien untuk melakukan tindakan keperawatan
sehinggan tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan dapat lebih mudah
tercapai, motivasi keluarga untuk menjenguk klien sehingga perawat
dapat melakukan strategi pelaksanaan untuk keluarga agar keluarga
mengerti dan optimal dalam merawat klien dirumah.
3. Wahana praktik
Rumah sakit dapat meningkatkan sarana dan prasarana yang selama ini
sudah baik dan tersedia untuk meningkatkan perkembangan kesehatan
klien.

69