You are on page 1of 13

BAB 1

PENDAHULUAN

Anatomi dan fisiologi adalah modal untuk memahami fungsinya. Sehingga


tentunya dengan memahami dasar-dasar diharapkan dapat memahami patologi serta dapat
memberikan pengobatan yang tepat pada telinga. Dengan mengaitkan ilmu dasar dan disiplin,
pada akhirnya untuk lebih memahami penatalaksanaan penyakit-penyakit telinga dan juga
keseimbangan. Karena pada telinga, selain fungsi pendengaran, yang lebih penting adalah
fungsi keseimbangan. Maka dari itu makhluk hidup masih dapat tetap bertahan tanpa
pendengaran, tetapi makhluk hidup tidak dapat bertahan bila terjadi gangguan pada
keseimbangannya. Karena itu, secara filogenetik, mekanisme keseimbangan sebagai bagian
dari orientasi organisme terhadap lingkungan berkembang lebih dulu dari pendengaran.
Setiap manusia telah dilengkapi dengan sistem indera yang berfungsi sebagai reseptor
atau penerima rangsang dari lingkungan sekitar. Sistem indera tersebut terdiri dari indera
penglihatan, indera pendengaran dan keseimbangan, indera penciuman, indera pengecap,
serta indera peraba dan perasa. Salah satu sistem indera yang dibahas adalah indera
pendengaran. Bagian tubuh yang digunakan pada proses pendengaran adalah telinga.
Telinga merupakan alat indera yang peka terhadap rangsangan berupa gelombang
suara. Telinga manusia mampu mendengar suara dengan frekuensi antara 20- 20.000 Hz.
Selain sebagai alat pendengaran, telinga juga berfungsi menjaga keseimbangan tubuh
manusia.
Telinga pada manusia terdiri atas tiga daerah yaitu telinga luar, telinga tengah dan
telinga dalam. Telinga luar pada dasarnya merupakan corong pengumpul suara yang terdiri
atas pinna dan saluran pendengaran luar. Telinga tengah adalah bagian yang menyalurkan
suara dari telinga luar ke telinga dalam dan telinga dalam yang mengubah suara menjadi
rangsangan saraf.
Proses pendengaran terjadi mengikuti alur sebagai berikut: gelombang suara
mencapai membran tympani, membran tympani bergetar menyebabkan tulang-tulang
pendengaran bergetar. Tulang stapes yang bergetar masuk-keluar dari tingkat oval
menimbulkan getaran pada perilymph di scala vestibuli. Karena luas permukaan membran
tympani 22 x lebih besar dari luas tingkap oval, maka terjadi penguatan 15-22 x pada tingkap
oval.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI TELINGA
Untuk mengetahui tentang gangguan pendengaran, perlu diketahui terlebih dahulu
tentang anatomi telinga itu sendiri. Sehingga dapat memudahkan dalam menentukan
bagian mana yang mangalami gangguan dan dapat memberikan penanganan yang tepat.
Pada dasarnya, anatomi telinga terbagi atas tiga bagian. Yaitu :

a. Telinga Luar
Daun Telinga
Telinga luar atau pinna (aurikula = daun telinga) merupakan gabungan dari rawan
yang diliputi kulit. Telinga luar itu sendiri terdiri dari daun telinga dan liang telinga
samapai membrane timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk
huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua
pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3 cm.
Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen
(modifikasi kelenjar keringat =kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat
terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Dan pada duapertiga bagian dalam hanya
sedikit dijumpai kelenjar serumen. Liang telinga memiliki tulang rawan pada bagian
lateral namun bertulang di sebelah medial. Kulit liang telinga langsung terletak diatas
tulang. Seringkali ada penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang dan rawan ini

2
sehingga radang yang ringanpun dapat terasa sangat nyeri karena tidak ada ruang
untuk ekspansi.

Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalan ke lateral


menuju prosesus stiloideus posteroinferior liang telinga, dan kemudian berjalan di
bawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. Rawan liang telinga merupakan
salah satu patokan pembedahan yang digunakan mencari saraf fasialis; patokan
lainnya adalah sutura timpanomastoideus.

Membrane Timpani
Membrana timpani adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan peuncaknya,
umbo, mengarah ke medial. Membrana timfani umumnya bulat. Penting untuk
disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang
mengandung korpus maleus dan inkus, meluas melampauibatas atas membrana
timfani, dan bahwa ada bagian hipo timpanum yang meluas melampaui batas bawah
membrana timpani. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di
bagian luar, lapisan fibrosa di bagian tengah di mana tangkai maleus dilekatkan dan
lapisan mukosa bagian dalam lapisan fibrosa tidak terdapat diatas prosesus lateralis
maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timfani yang disebut membrana
Shrapnell menjadi lemas (flaksid).

3
Terdapat bayangan yang menonjol di bagian bawah maleus pada membran
timpani yang disebut dengan umbo. Dari umbo inilah bermula suatu reflek cahaya
(cone of light). Dimana jika ke arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani
kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Reflek cahaya ialah cahaya dari luar
yang dipantulkan oleh membran timpani. Yang menyebabkan adanya reflek cahaya
adalah adanya serabut sirkuler dan radier.
Membrane timpani dibagi menjadi 4 kuadran,
dengan menarik garis searah prosesus longus maleus
dan garis tegak lurus pada garis umbo. Sehingga
didapatkan bagian atas-depan, atas belakang, bawah-
depan dan bawah-belakang untuk menyatakan letak
perforasi membrane timpani.

4
b. Telinga Tengah

Telinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu bangunan
berbentuk kotak dengan enam sisi atau seperti bentuk kubus. Dinding posteriornya
lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut berbentuk baji.
Promontorium pada dinding medial meluas ke lateral ke arah umbo dari membran
timpani sehingga kotak tersebut lebih sempit pada bagian tengah.
Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fossa kranii media. Pada
bagian atas dinding posterior terdapat aditus ad antrum tulang mastoid dan
dibawahnya adalah saraf facialis. Otot stapedius timbul pada daerah saraf facialis dan
tendonnya menembus, melalui suatu piramid tulang menuju ke leher stapes. Saraf
korda timpani timbul dari saraf fasialis dibawah stapedius dan berjalan ke lateral
depan menuju inkus tetapi di medial maleus, untuk keluar dari telinga tengah lewat
sutura petrotimpanika. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingualis dan
menghantarkan serabut-seabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan
serabut-serabut pengecap dari dua pertiga anterior lidah.
Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang disebelah seperolateral
menjadi sinus sigmodeus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya
adalah aliran vena utama rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke
telinga tengah dari dasarnya. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus.
Diatas kanalis ini, muara tuba eustachius dan otot tensor timpani yang menempati
daerah seperior tuba kemudian membalik, melingkari prosesus kokleariformis dan
berinsersi pada leher maleus.

5
Dinding lateral dari telinga tengah adalah dinding tulang epitimpanum di bagian atas
membran timpani dan dinding tulang hipotimpanum dibagian bawah. Bangunan yang
paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran
koklea yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintas promontorium ini.
Fenestrarotundum terletak di posteroinferior dari promontorium, sednagkan kaki stapes
terletak pada fenestra ovalis pada batas posterosuperior promontorium. Kanalis falopii
bertulang yang dilalui saraf fasialis terletak diatas fenestra ovalis mulai dari prosesus
kokleariformis di anterior hingga piramid stapedius di pasterior.
Rongga mastoid berbentuk seperti piramid berisi tiga dengan puncak mengarah ke
kaudal. Atap mastoid adalah fossa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral
fosa kranii posterior. Sinus sigmoideus terletak dibawah dura mater pada daerah ini. Pada
dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Tonjolan kanalis semisirkularis
lateralis menonjol ke dalam antrum. Di bawah kedua patokan ini berjalan saraf fasialis
dalam kanalis tulangnya untuk keluar dari tulang temporal melalui foramen
stilomastoideus di ujung anterior krista yang dibentuk oleh insersio otot digastrikus.
Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah dapat di palpasi di
posterior aurikula.
Tuba Eustachius
Tuba ustachius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Pada
saat lahir, tuba eustachius berjalan secara horisontal pada saat lahir dan mulai
membelok ke medial sebesar 45o pada orang dewasa. Bagian lateral tuba eustachius
adalah yang bertulang, sementara duapertiga bagian medial bersifat kartilaginosa.
Origo otot tensor timpani terletak di sebelah atas bagian bertulang sementara kanalis
karotikus terletak di bagian bawahnya. Bagian bertulang rawan berjalan melintasi

6
dasar tengkorak untuk masuk ke faring diatas otot konstriktor superior. Bagian ini
biasanya tertutup, tetapi dapat terbuka melalui kontraksi otot levatorpalatinum dan
tensor palatinum yang masing-masing dipersarafi pleksus faringealis dan saraf
mandibularis. Tuba eustachius berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara
pada kedua sisi membrana timpani.

c. Telinga Dalam
Bentuk telinga dalam yang sedemikian kompleksnya sehingga terkadang disebut
sebagai labirin. Derivat vesikel otika membentuk suatu rongga tertutup yaitu labirin
membran yang terisi endolimfe. Satu-satunya cairan ekstraselular dalam tubuh yang
tinggi kalium dan rendah natrium. Labirin membran dikelilingi oleh cairan perilimfe
yang terdapat dalam kapsula otika bertulang. Labirin tulang dan membran memiliki
bagian vestibular dan bagian koklear. Bagian vestibularis (pars superior)
berhubungan dengan keseimbangan, sementara bagian kaklearis (pars inferior)
merupakan organ pendengaran kita.

7
Koklea melingkar seperti rumah siput yang berupa dua setengah lingkaran. Aksis
pada spiral koklea dikenal sebagai modiolus, berisi berkas saraf dan suplai arteri
vertebralis. Serabut saraf kemudian berjalan menerobos suaru lamina spralis oseus
untuk mencapai sel-sel organ Corti. Rongga koklea bertulang dibagi menjadi tiga
bagian oleh duktus koklearis yang panjangnya 35 mm dan berisi endolimfe. Bagian
atas adalah skala vestibuli bawah berisi perilimfe dan dipisahkan dari duktus
koklearis oleh membrana Reissner yang tipis. Bagian bawah adalah skala timpani
juga mengandung perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh lamina spiralis
oseus dan membrana basilaris. Perilimfe pada kedua skala berhubungan pada apeks
koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui suatu celah yang
dikenal sebagai helikotrema. Membrana basilaris sempit pada basisnya (nada tinggi)
dan melebar pada apeks (nada rendah).
Terletak diatas membrana basilaris dari basis ke paeks adalah organ Corti, yang
mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran.
Organ Corti sendiri terdiri dari serl rambut dalam (3000) dan tiga baris sel rambut
luar (12.000). ujung-ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel
rambut. Di permukaan sel rambut menempel stereosilia yang bersifat gelatinosa dan
aseluler, dan dikenal sebagai membrana tektoria. Membrana tektoria disokong oleh
suatu bangunan yang terletak di medial yang disebut dengan limbus.

8
Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus sempit yang juga
merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada
bidang yang tegak lurus terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis bermuara pada
utrikulus. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujungyang melebar membentuk
ampula dan mengandung sel-sel rambut krista. Sel-sel rambut menonjol pada suatu
kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam kanalis semisirkularis akan
menggerakan kupula yang selanjutnya akan membengkokkan silia sel-sel rambut
krista dan merangsang sel reseptor.

B. Innervasi Telinga
Telinga dipersarafi oleh nervus kranial ke delapan yaitu nervus vestibulokoklearis.
Nervus vestibulokoklearis terdiri dari dua bagian : salah satu daripadanya pengumpulan
sensibilitas dari bagian vestibuler rongga telinga dalam yang mempunyai hubungan
dengan keseimbangan, serabut-serabut saraf ini bergerak menuju nukleus vestibularis
yang berada pada titik pertemuan antara pons dan medula oblongata, lantas kemudian
bergerak terus menuju serebelum. Bagian koklearis pada nervus vestibulokoklearis adalah
saraf pendengar yang sebenarnya. Serabut-serabut sarafnya mula-mula dipancarkan
kepada sebuah nukleus khusus yang berada tepat dibelakang talamus, lantas dari sana
dipancarkan lagi menuju pusat penerima akhir dalam korteks pendengaran (area 39-40)
yang terletak pada bagian bawah lobus temporalis.
N.Vestibulokohlearis (N.akustikus) yang dibentuk oleh bagian kohlear dan vestibular,
didalam meatus akustikus internus bersatu pada sisi lateral akar N.Fasialis dan masuk batang
otak antara pons dan medula. Sel-sel sensoris vestibularis dipersarafi oleh N.Kohlearis
dengan ganglion vestibularis (scarpa) terletak didasar dari meatus akustikus internus. Sel-sel
sensoris pendengaran dipersarafi N.Kohlearis dengan ganglion spiralis corti terletak di
modiolus.

9
C. Vaskularisasi telinga
Telinga diperdarahi oleh pembuluh-pembuluh darah kecil diantaranya adalah ramus
cochleae a. Labyrinthi yang memperdarahi bagian koklea, ramus vestibulares a.labyrinthi
yang memperdarahi vestibulum. V. Spiralis anterior, v. Spiralis posterior, V. Laminae
spiralis, Vv. Vestibulares, dan V. Canaliculi cochleae.

Vaskularisasi telinga dalam berasal dari A. Labirintin cabang A. Cerebelaris


anteroinferior atau cabang dari A. Basilaris atau A. Verteberalis. Arteri ini masuk ke
meatus akustikus internus dan terpisah menjadi A. Vestibularis anterior dan A. Kohlearis
communis yang bercabang pula menjadi A. Kohlearis dan A. Vestibulokohlearis. A.
Vestibularis anterior memperdarahi N. Vestibularis, urtikulus dan sebagian duktus
semisirkularis. A.Vestibulokohlearis sampai di mediolus daerah putaran basal kohlea
terpisah menjadi cabang terminal vestibularis dan cabang kohlear. Cabang vestibular
memperdarahi sakulus, sebagian besar kanalis semisirkularis dan ujung basal kohlea.
Cabang kohlear memperdarahi ganglion spiralis, lamina spiralis ossea, limbus dan
ligamen spiralis. A. Kohlearis berjalan mengitari N. Akustikus di kanalis akustikus
internus dan didalam kohlea mengitari modiolus.
Vena dialirkan ke V.Labirintin yang diteruskan ke sinus petrosus inferior atau sinus
sigmoideus. Vena-vena kecil melewati akuaduktus vestibularis dan kohlearis ke sinus
petrosus superior dan inferior.

10
D. FISIOLOGI PENDENGARAN
Proses pendengaran terjadi mengikuti alur sebagai berikut: gelombang suara
mencapai membran tympani, membran tympani bergetar menyebabkan tulang-tulang
pendengaran bergetar. Tulang stapes yang bergetar masuk-keluar dari tingkat oval
menimbulkan getaran pada perilymph di scala vestibuli. Karena luas permukaan
membran tympani 22 x lebih besar dari luas tingkap oval, maka terjadi penguatan 15-22x
pada tingkap oval.
Membran basilaris yang terletak dekat telinga tengah lebih pendek dan kaku, akan
bergetar bila ada getaran dengan nada rendah. Hal ini dapat diibaratkan dengan senar
gitar yang pendek dan tegang, akan beresonansi dengan nada tinggi. Getaran yang
bernada tinggi pada perilymp scala vestibuli akan melintasi membrana vestibularis yang
terletak dekat ke telinga tengah. Sebaliknya nada rendah akan menggetarkan bagian
membrana basilaris di daerah apex. Getaran ini kemudian akan turun ke perilymp scala
tympani, kemudian keluar melalui tingkap bulat ke telinga tengah untuk diredam.
Sewaktu membrana basilaris bergetar, rambut-rambut pada sel-sel rambut bergetar
terhadap membrana tectoria, hal ini menimbulkan suatu potensial aksi yang akan berubah
menjadi impuls. Impuls dijalarkan melalui saraf otak statoacustikus (saraf pendengaran)
ke medulla oblongata kemudian ke colliculus Persepsi auditif terjadi setelah proses
sensori atau sensasi auditif. Sensori auditif diaktifkan oleh adanya rangsang bunyi atau
suara. Persepsi auditif berkaitan dengan kemampuan otak untuk memproses dan
menginterpretasikan berbagai bunyi atau suara yang didengar oleh telinga. Kemampuan
persepsi auditif yang baik memungkinkan seorang anak dapat membedakan berbagai
bunyi dengan sumber, ritme, volume, dan pitch yang berbeda. Kemampuan ini sangat
berguna dalam proses belajar membaca. Persepsi auditif mencakup kemampuan-
kemampuan berikut :
a. Kesadaran fonologis yaitu kesadaran bahwa bahasa dapat dipecah ke dalam kata, suku
kata, dan fonem (bunyi huruf)
b. Diskriminasi auditif yaitu kemampuan mengingat perbedaan antara bunyi-bunyi
fonem dan mengidentifikasi kata-kata yang sama dengan kata-kata yang berbeda
c. Ingatan (memori) auditif yaitu kemampuan untuk menyimpan dan mengingat sesuatu
yang didengar
d. Urutan auditif yaitu kemampuan mengingat urutan hal-hal yang disampaikan secara
lisan

11
e. Perpaduan auditif yaitu kemampuan memadukan elemen-elemen fonem tunggal atau
berbagai fonem menjadi suatu kata yang utuh
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mmengaflikasikan getaran melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dn tingkap lonjong.
Energi getar yang telah diaflikasikan ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakan
tingkap lonjong sehingga perilimpa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan
melalui membran Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan
gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektorial. Proses ini merupakan
rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut,
sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion yang bermuatan listrik dari badan
sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan
neurotransmiter kedalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf
auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area
39-40) dilobus temporalis.

12
DAFTAR PUSTAKA

Djaafar, Zainul A., Helmi dan Ratna D. 2016. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok

Kepala dan Leher: Kelainan Telinga Tengah. Jakarta : Badan Penerbit FKUI.

Guyton A.C. and J.E. Hall 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC.

Soetirto, Indro., Hendarto Hendarmin dan Jenny Bashiruddin. 2014. Buku Ajar Ilmu Kesehatan

Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher: Gangguan Pendengaran. Jakarta : Badan

Penerbit FKUI.

13