You are on page 1of 47

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara
tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan
akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku
yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai
usia tahap perkembangan kronologis tertentu.
Lansia merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang
Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua
merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimana seseorang mengalami
kemunduran fisik, mental dan sosial scara bertahap (Lilik Marifatul azizah,
2011).
Perubahan sistem kardiovaskular pada lansia meliputi massa jantung
bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertrofi, dan kemampuan perenggangan
jantung berkurang karena perubahan pada jaringan ikat. Konsumsi oksigen pada
tingkat maksimal berkurang sehingga kapasitas paru menurun. Latihan berguna
untuk meningkatkan VO2 maksimum, mengurangi tekanan darah, dan berat bada
Di Indonesia banyak penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang,
tetapi hanya 4%, yang merupaka hipertensi terkontrol. Privalensi 6-15% pada
orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi
sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak
menghindari dan tidak mengetahui faktor resikonya, dan 90% merupakan
hipertensi esensial. Hasil peneltian dari MONICA (multinational monitoring
kardiovascular diseases), angka kejadian di Indonesia berkisar 2-18% diberbagai
daerah, jadi di Indonesia saat ini kira-kira terdapat 20 juta orang penderita
hipertensi.
Menurut WHO, dijawa tengah penderita hipertensi pada lansia terdapat
15,2% dan perempuan lebih banyak ditemui menderita hipertensi dari pada laki-
laki.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian hipertensi pada lansia?
2. Apa klasifikasi hipertensi pada lansia?
3. Apa etiologi hipertensi pada lansia?
4. Apa tanda dan gejala hipertensi pada lansia?
5. Bagaimana patofisiologi hipertensi pada lansia ?
6. Apa komplikasi hipertensi pada lansia?
7. Apa pemeriksaan diagnostic dari hipertensi pada lansia?
8. Apa penatalaksanaan medis dan keperawatan hipertensi pada lansia?
9. Bagaimana woc dari hipertensi pada lansia?
10. Bagaimana askep teoritis dari hipertensi pada lansia?
11. Bagaimana contoh askep kasus dari hipertensi pada lansia?

1.3 Tujuan
A. Tujuan Umum: Untuk memahami tentang asuhan keperawatan pada lansia
dengan hipertensi.
B. Tujuan Khusus:
1. Untuk mengetahui pengertian hipertensi pada lansia.
2. Untuk mengetahui klasifikasi hipertensi pada lansia.
3. Untuk mengetahui etiologi hipertensi pada lansia.
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala hipertensi pada lansia.
5. Untuk mengetahui patofisiologi hipertensi pada lansia.
6. Untuk mengetahui komplikasi hipertensi pada lansia.
7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic dari hipertensi pada lansia.
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dan keperawatan hipertensi
pada lansia.
9. Untuk mengetahui woc dari hipertensi pada lansia.
10. Untuk mengetahui askep teoritis dari hipertensi pada lansia.
11. Untuk mengetahui contoh askep kasus dari hipertensi pada lansia.

1.4 Manfaat
1. Menambah pengetahuan dan keterampilan kelompok dalam menerapkan
asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi.
2. Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca.
BAB 2
LAPORAN PENDAHULUAN, ASKEP TEORITIS DAN ASKEP KASUS

2.1 Konsep Teori Lansia


A. Batasan Lansia
Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi:
a. Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly) antara 60 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) antara 75 90 tahun.
d. Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.

B. Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa
dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis
maupun psikologis.Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara
fisik maupun psikis.Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor,
rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan
lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat
dan kurang gairah.
Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi
tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat
dalam hal ini diartikan:
1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,
2) Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari hari,
3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo,
1996)
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan perubahan
yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus menerus. Apabila
proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah
berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh MunandarAshar Sunyoto
(1994) menyebutkan masalah masalah yang menyertai lansia yaitu:
1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain,
2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola
hidupnya,
3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah
meninggal atau pindah,
4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah
banyak dan
5) Belajar memperlakukan anak anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan
dengan perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik
yang mendasar adalah perubahan gerak.
Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap
diri makin bertambah.Kedua minat terhadap penampilan semakin
berkurang.Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat, terakhir minta
terhadap kegiatan kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit.
Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri usia lanjut untuk selalu
menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut
diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk
meningkatkan kebugaran fisiknya.
Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa
perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya
terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya.
Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan,
hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman
pribadinya. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan
yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan
dan peran sosial (Goldstein, 1992)
Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri ciri
penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979, Munandar, 1994)
adalah:
1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya.
2) Penarikan diri ke dalam dunia fantasi
3) Selalu mengingat kembali masa lalu
4) Selalu khawatir karena pengangguran,
5) Kurang ada motivasi,
6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan
7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan.
Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah:
minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas,
menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan
memiliki kekhawatiran minimal trehadap diri dan orang lain.

C. Teori Proses Menua


Teori-teori Biologi
a) Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies
spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia
yang diprogram oleh molekul molekul / DNA dan setiap sel pada
saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah
mutasi dari sel sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional
sel).
b) Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel sel tubuh lelah (rusak)
c) Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat
khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat
tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
d) Teori immunology slow virus (immunology slow virus theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya
virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ tubuh.
e) Teori stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan
tubuh.Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan
lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel
tubuh lelah terpakai.
f) Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal
bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan
organik seperti karbohidrat dan protein.Radikal bebas ini dapat
menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
g) Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang
kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya
elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
h) Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah
setelah sel-sel tersebut mati.
Teori Kejiwaan Sosial
a) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara
langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah
mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut
usia. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar
tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia
b) Kepribadian berlanjut (continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori
ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan
bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat
dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
c) Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang
secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya.
Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik
secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan
ganda (triple loss), yakni :
1. kehilangan peran
2. hambatan kontak sosial
3. berkurangnya kontak komitmen

D. Permasalahan yang terjadi pada lansia


Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan
lanjut usia, antara lain: (Setiabudhi, T. 1999 : 40-42)
1. Permasalahan umum
a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.
b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang
berusia lanjut kurang diperhatikan , dihargai dan dihormati.
c) Lahirnya kelompok masyarakat industri.
d) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan
lanjut usia.
e) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan
kesejahteraan lansia.
2. Permasalahan khusus :
a) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik
fisik, mental maupun sosial.
b) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.
c) Rendahnya produktifitas kerja lansia.
d) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.
e) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan
masyarakat individualistik.
f) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat
mengganggu kesehatan fisik lansia

E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Menua


a. Hereditas atau ketuaan genetik
b. Nutrisi atau makanan
c. Status kesehatan
d. Pengalaman hidup
e. Lingkungan
f. Stres
F. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Lansia
1) Perubahan fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistim organ tubuh,
diantaranya sistim pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler,
sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastro intestinal, genito
urinaria, endokrin dan integumen.
2) Perubahan mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
a) Pertama-tama perubahan fisik, khsusnya organ perasa.
b) Kesehatan umum
c) Tingkat pendidikan
d) Keturunan (hereditas)
e) Lingkungan
f) Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.
g) Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.
h) Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan
teman dan famili.
i) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap
gambaran diri, perubahan konsep dir.
3) Perubahan spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya
(Maslow, 1970)
Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya , hal ini terlihat
dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner,
1970).

G. Penyakit yang sering diderita Lansia


Menurut the National Old Peoples Welfare Council , dikemukakan 12 macam
penyakit lansia, yaitu :Depresi mental
1) Gangguan pendengaran
2) Bronkhitis kronis
3) Gangguan pada tungkai/sikap berjalan.
4) Gangguan pada koksa / sendi pangul\Anemia
5) Demensia

2.2 KONSEP HIPERTENSI PADA LANSIA

A. Pengertian Hipertensi
Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan
sistolik yang intermiten atau menetap. Pengukuran tekanan darah serial 150/95
mmHg atau lebih tinggi pada orang yang berusia diatas 50 tahun memastikan
hipertensi. Insiden hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia
(Stockslager , 2008).
Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan
pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. WHO (World
Health Organization) memberikan batasan tekanan darah normal adalah 140/90
mmHg, dan tekanan darah sama atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai
hipertensi. Batasan ini tidak membedakan antara usia dan jenis kelamin
(Marliani, 2007).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.Pada
populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg (Rohaendi, 2008).

B. Klasifikasi
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas (Darmojo, 1999):
a. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg
dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.
b. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160
mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2
golongan besar yaitu :
a. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya
b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain

Tingkat hipertensi dan anjuran kontrol (Joint National Commitle, U.S 1992)

Tekanan sistolik Tekanan diastolik


Tigkat Jadwal kontrol
(mmHg) (mmHg)
Tingkat I 140-159 90-99
Tingkat II 160-179 100-109 1 bulan sekali
Tingkat III 180-209 110-119 1 minggu sekali
Tingkat IV 210 satau lebih 120 atau lebuh Dirawat RS

C. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan-
perubahan pada :
Elastisitas dinding aorta menurun
Katub jantung menebal dan menjadi kaku
Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-
data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih
besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita
hipertensi
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
a. Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr)
b. Kegemukan atau makan berlebihan
c. Stress
d. Merokok
e. Minum alcohol
f. Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah penyakit-penyakit seperti
Ginjal, Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor, Vascular,
Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol, Vaskulitis,
Kelainan endokrin, DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme, Saraf, Stroke,
Ensepalitis. Selain itu dapat juga diakibatkan karena Obatobatan Kontrasepsi
oral Kortikosteroid.

D. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak
ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf
pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan
dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi.Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin,
meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.Medulla adrenal
mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal
mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons
vasokonstriktor pembuluh darah.Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan
aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin.Renin merangsang
pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu
vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal.Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus
ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler.Semua faktor ini
cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural
dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada
perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut
meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam
relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan
kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta
dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah
yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan
curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi
palsu disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh
cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

E. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
b. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal
ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri
tidak terukur.
c. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan.Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim
yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni (2001), manifestasi klinis beberapa pasien yang
menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan,
Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.

F. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap volume cairan ( viskositas )
dan dapat mengindikasikan factor factor resiko seperti hiperkoagulabilitas,
anemia.

b. BUN
Memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi (diabetes
mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan
katekolamin (meningkatkan hipertensi)
c. Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau
menjadi efek samping terapi diuretik.
d. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
e. Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya
pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )
f. Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
g. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab )
h. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya
diabetes.
i. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
j. Steroid urin
Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
k. IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal,
batu ginjal / ureter
l. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung
m. CT scan
n. Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
o. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung
hipertensi.

G. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan
pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
1. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan
sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini
meliputi.
a. Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
Penurunan berat badan
Penurunan asupan etanol
Menghentikan merokok
b. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan
untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip
yaitu: Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging,
bersepeda, berenang dan lain-lain.
Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau
72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan
berkisar antara 20 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan
sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu.
c. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada
subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek
dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik
seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti
kecemasan dan ketegangan.
Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk
mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk
dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan
pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat
mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

2. Terapi dengan Obat


Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah
saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar
penderita dapat bertambah kuat.Pengobatan hipertensi umumnya perlu
dilakukan seumur hidup penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi
( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND
TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan
bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE
dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan
penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
o Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor

o Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
Ditambah obat ke 2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca
antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
o Step 3
Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain
o Step 4
Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4
Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan
komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat, dokter )
dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.
H. WOC

2.3 Asuhan Keperawatan Teoritis Pada Lansia Dengan Hipertensi


A. Pengkajian
Pengkajian secara Umum
1. Identitas Pasien
Hal-hal yang perlu dikaji pada bagian ini yaitu antara lain: Nama, Umur,
Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Agama, Status Mental, Suku,
Keluarga/orang terdekat, alamat, nomor registrasi.
2. Riwayat atau adanya factor resiko
a. Riwayat garis keluarga tentang hipertensi
b. Penggunaan obat yang memicu hipertensi
3. Aktivitas / istirahat
a. Kelemahan,letih,napas pendek,gaya hidup monoton.
b. Frekuensi jantung meningkat
c. Perubahan irama jantung
d. Takipnea
4. Integritas ego
a. Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau
marah kronik.
b. Faktor faktor stress multiple (hubungan, keuangan yang berkaitan
dengan pekerjaan).
5. Makanan dan cairan
a. Makanan yang disukai, dapat mencakup makanan tinggi garam,
tinggi lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan yang
digoreng,keju,telur)gula-gula yang berwarna hitam, kandungan
tinggi kalori.
b. Mual, muntah.
c. Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat atau menurun).
6. Nyeri atau ketidak nyamanan
a. Angina (penyakit arteri koroner /keterlibatan jantung)
b. Nyeri hilang timbul pada tungkai.
c. Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
d. Nyeri abdomen.
Pengkajian Persistem
1. Sirkulasi
a. Riwayat hipertensi, ateroskleorosis, penyakit jantung koroner atau
katup dan penyakit cerebro vaskuler.
b. Episode palpitasi,perspirasi.
2. Eleminasi
a. Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi atau obtruksi
atau riwayat penyakit ginjal masa lalu.
3. Neurosensori
a. Keluhan pusing.
b. Berdenyut, sakit kepala subokspital (terjadi saat bangun dan
menghilang secara spontan setelah beberapa jam).
4. Pernapasan
a. Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja
b. Takipnea, ortopnea, dispnea noroktunal paroksimal.
c. Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.
d. Riwayat merokok
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular Cerebral
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
3. Curah Jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokontriksi
4. Nutrisi , perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kebutuhan metabolic
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan system pendukung
yang tidak adekuat
6. Kurang pengetahuan berhubungnya dengan kurang informasi atau
keterbatasan kognitif
C. Intervensi
Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular
Cerebral
1. Intervensi : Mempertahankan tirah baring selama fase akut
Rasional : Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
2. Intervensi : Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan
sakit kmepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung
dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, tekhnik relaksasi.
Rasional : tindakan yang menurunkan tekanan vascular serebral dan
yang memperlambat atau memblok respons simpatis efektif dalam
menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya
3. Intervensi : Hilangkan atau minimalkan aktivitas fase kontriksi yang
dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejam saat bab, batuk
panjang, membungkuk
Rasional : aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan
sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vascular cerebral

Dx 2 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum


1. Intervensi : kaji respon pasien terhadap aktivitas,perhatikan
frequency nadi lebih dari 20 kali per menit diatas frequency
istirahat : peningkatan tekan darah yang nyata selama atau sesudah
aktivitas ( tekanan sistolik meningkat 40 mmhg atau tekanan
diastolic meningkat 20 mmhg) dispnea atau nyeri dada : kelemahan
dan keletihan yang belebihan :pusing atau pingsan.
Rasional : menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji
respon fisiologi terhadap stress, aktivitas bila ada merupakan
indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat
aktivitas.
2. Intervensi : instruksikan pasien tentang teknik penghematan energy,
misalnya menggunakan kursi saat mandi,duduk saat menyisir rambut
atau menyikat gigi,melakukan aktivitas dengan perlahan.
Rasional : teknik memghemat energy mengurangi penggunaan
energy, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.

DX 3 : Curah Jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi


berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi
1. Intervensi: pantau TD ukur pad kedua tangan atau paha untuk
evaluasi awal.gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang
akurat.
Rasional : perbandingan dari tekanan memberikan gambaran
yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vascular.
Hipertensi berat diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai
peningkatan tekanan diastolic sampai 130, hasil pengukuran
diastolic diatas 130 dipertimbangkan sebagai penigkatan pertama,
kemudian maligna.Hipertensi sistolik juga merupakan faktor
resiko yang di tentukan untuk penyakit cerebrovaskular dan
penyakit iskemi jantung bila tekanan diastolic 90-115.
DX 4 : Nutrisi , perubahan lebih dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kebutuhan metabolic
1. Intervensi : kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung
antara hipertensi dan kegemukan.
Rasional : kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan
darah tinggi karena disproporsi antara kapasitas aorta dan
peningkatan curah jangtung berkaitan dengan peningkatan masa
tubuh.
2. Intervensi : bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan
membatasi masukan lemak,garam,dan sesuai indikasi.
Rasional : kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya
ateroskelorosis dan kegemukan yang merupakan predesposisi
untuk hipertensi dan komplikasinya misalnya stroke,penyakit
ginjal,gagal jantung. Kelebihan memasukkan garam
memperbanyak volume cairan intravascular dan dpat merusak
ginjal yang lebih memperburuk hipertensi.

DX 5 : Koping individu tidak efektif berhubungan dengan system


pendukung yang tidak adekuat
1. Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi
perilaku, misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan
perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan
Rasional : Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup
seseorang, mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan
terapi yang diharuskan ke dalam kehidupan sehari-hari
2. Intervensi : Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik
dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya
Rasional : Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama
dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor
3. Intervensi : Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan
beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan
Rasional : Keterlibatan memberikan pasien perasaan control diri
yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat
meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik
4. Intervensi : Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan,
kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit
kepala ketidakmampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah
Rasional : Menifestasi mekanisme koping maladaptive mungkin
merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah
menjadi penentu utama TD diastolic

DX 6 : Kurang pengetahuan berhubungnya dengan kurang


informasi atau keterbatasan kognitif
1. Intervensi : Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termasuk
orang terdekat
Rasional : Kesalahan konsep dan menyangkal diagnose karena
perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi
minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit,
kemajuan, dan prognosis. Bila pasien tidak menerima realitas
bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan
perilaku tidak akan dipertahankan.
2. Intervensi : Tetapkan dan nyatakan batas TD normal. Jelaskan
tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah,
ginjal dan otak
Rasional : Memberikan dasar untuk pemahaman tentang
peningkatan TD dan mengklarifikasi istilah medis yang sering
digunakan. Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa
gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien melanjutkan
pengobatan meskipun ketika merasa sehat
3. Intervensi : Hindari mengatakan TD normal dan gunakan istilah
terkontrol dengan baik saat menggambarkan TD pasien dalam
batas yang diinginkan
Rasional : Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang
kehidupan, maka dengan penyampaian ide terkontrol akan
membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan
pengobatan/medikasi
4. Intervensi : Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor-faktor
risiko kardiovaskular yang dapat diubah misalnya obesitas, diet
tinggi lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok,
dan minum alcohol( lebih dari 60cc/hari dengan teratur), pola
hidup penuh stress.
Rasional : Faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungan
dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskular serta
ginjal.
D. IMPLEMENTASI
Implementasi adalah serangkaian kegiatan yang di lakukan oleh perawat untuk
membantu klien dari masalah status kesehatan yang baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang di harapkan(Gordon,1994, dalam poter
and perry,1997).

E. Evaluasi
1. Pasien melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang atau terkontrol
2. Pasien berpartisupasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan
3. Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah
atau beban kerja jantung.
4. Menunjukkan perubahan pola makan ( misalnya pilihan makan,
kuantitas,dan sebagainya), mempertahankan berat badan yang
diinginkan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.
5. Mengidentivikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya
6. Pasien menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen
pengobatan
2.4 Asuhan Keperawatan Kasus Pada Lansia Dengan Hipertensi
Tn. WP berumur 80 tahun datang ke Poli Umum RSUD Badung dengan keluhan
nyeri pada bagian belakang,sakit kepala,kepala terasa berat, kebas pada bagian
ekstremitas,pusing pada awal berdiri,pasien mengatakan penglihatannya
menurun,sering kencing pada malam hari,keluarga pasien mengatakan pasien
cepat marah. Di Poli umum didaptkan data TTV : TD = 200/100 mmHg
S = 370C
RR = 24 X/menit
N = 130X/menit

Asuhan Keperawatan pada Tn. WP dengan Hipertensi


di Poli Umum RSUD Badung pada
Tanggal 17 April 2015
PENGKAJIAN
I. IDENTITAS
Nama : Tn. Wp
Jenis Kelamin: Laki - Laki
Umur : 80 Tahun
Agama : Hindu
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Nelayan
Alamat rumah : Kedonganan

II. KELUHAN UTAMA


Pasien mengeluh sakit tengkuk dan sakit kepala
III. RIWAYAT KESEHATAN
a. Masalah kesehatan yang pernah dialami dan yang dirasakan saat ini
Pasien mengatakan sering mengalami sakit di bagian tenguk dan sakit kepala sejak 2

tahun yang lalu.


b. Masalah kesehatan Gerontik/ keturunan
Pasien mengatakan saudara laki lakinya juga penah mengalami sakit dengan gejala

yang sama.

Genogram

Keterangan :
= Laki-laki

= Perempuan
= Meninggal

P = Pasien

= tinggal serumah
IV. KEBIASAAN SEHARI HARI
a. Biologis
1. Pola makan
Sebelum pengkajian : keluarga pasien mengatakan pasien biasa makan 3x sehari

dengan nasi putih, lauk pauk, dan pasien sering makan ikan laut.
Saat pengkajian : keluarga pasien mengatakan pasien biasa makan 3x sehari

dengan menu yang disediakan rumah sakit.


2. Pola minum
Sebelum pengkajian : Keluarga pasien mengatakan pasien sering minum air

putih.
Saat pengkajian : Keluarga pasien mengatakan pasien sering minum air putih.

3. Pola tidur
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan dirinya sering terjaga dan susah tidur
Saat pengkajian : Pasien mengatakan dirinya mulai bisa tidur sekitar 5- 6 jam.

4. Pola eliminasi (BAB/BAK)


Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan sering kencing dimalam hari dan

buang air besar secara normal sekali dalam sehari.


Saat pengkajian : Pasien mengatakan sering kencing dimalam hari dan buang air

besar secara normal sekali dalam sehari.


5. Aktivitas sehari hari

Aktivitas (ADL) 0 1 2 3 4
Makan
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilisasi ditempat tidur
Mobilisasi berpindah
Berias
ROM
Keterangan:
0: Mandiri
1: Membutuhkan alat bantu
2 : Membutuhkan pengawasan orang
3: membutuhkan bantuan orang lain
4: Ketergantungan total
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pasien dpat makan sendiri, namun

aktivitas sehari- hari pasien yang lain memerlukan bantuan dari orang lain.

6. Rekreasi
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan jarang berekreasi keluar rumah dan

lebih memilih diam dirumah


Saat pengkajian : pasien mengatakan hanya diam ditempat tidur saja.
7. Indeks KATZ :

Indek Keterangan
A Mandiri dalam makan, kontinensia (BAB, BAK), menggunakan pakaian,

pergi ke toilet, berpindah, dan mandi.


B Mandiri semuanya kecuali salah satu dari fungsi diatas.
C Mandiri, kecuali mandi, dan satu lagi fungsi yang lain.
D Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan satu lagi fungsi yang lain.
E Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, dan satu
F Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu fungsi

yang lain.
G Ketergantungan untuk enam fungsi tersebut
Lain - Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat

lain diklasifikasi sebagai C, D, E, F dan G

Pasien masuk dalam kategori F, mandiri, kecuali mandi,berpakaian, ke toilet,

berpindah dan satu fungsi yang lain.

b. Psikologis
1. Mental (SPMSQ/ MMSE)

Short Portabel Mental Status Questionaire (SPMSQ)


Skore
N0 Pertanyaan
+ -
1. Tanggal berapa hari ini?
2. Hari apa sekarang ini?
3. Apa nama tempat ini?
- 4. Berapa nomer telepon anda?
4a. Dimana alamat anda? Tanyakan hanya klien tidak mempunyai
telepon
5 Berapa umur anda?
6 Kapan anda lahir?
7 Siapa presiden indonesia sekarang?
8 Siapa presiden sebelumnya?
9 Siapa nama kecil ibu anda?
10 Kurangi 3 dari 20 dam tetap pengurangan 3 dari setiap angka
baru, semua secara menurun
Jumlah kesalahan total
Penilaian SPMSQ :
Kesalahan 8 - 10 fungsi intelektual berat
Kesalahan 5 7 fungsi intelektual sedang
Kesalahan 3 - 4 fungsi intelektual ringan
Kesalahan 0 - 2 fungsi intelektual utuh
Penilaian skor klien 8 = fungsi intelektual berat
Penilaian SPMSQ pada Tn.WP kesalahan 3 Fungsi Intelektual Ringan

Depresi (Beek/ Yesavage)


Penilaian dengan menggunakan skala Depresi Beck
No Uraian Depresi Beck Skore
A. Kesedihan
3 Saya sangat sedih atau tidak bahagia dimana saya tak dapat
menghadapinya
2 Saya galau atau sedih sepanjang waktu dan saya tidak dapat keluar
darinya
1 Saya merasa sedih atau galau
0 Saya tidak merasa sedih
B. Pesimisme
3 Saya merasa bahwa masa depan saya adalah sia-sia dan sesuatu
tidak dapat membaik
2 Saya merasa tidak mempunyai apa-apa untuk memandang kedepan
1 Saya merasa terkecil hati mengenai masa depan
0 Saya tidak begitu pasimis atau kecil hati tentang masa depan
C.Rasa kegagalan
3 Saya merasa saya benar-benar gagal sebagi seseorang (orang tua,
suami, Istri)
2 Seperti melihat ke belakang hidup saya, semua yang dapat saya lihat
hanya kegagalan
1 Saya merasa saya telah gagal melebihi orang pada umumnya
0 Saya tidak merasa gagal
D. Ketidakpuasan
3 Saya tidak puas dengan segalanya
2 Saya tidak lagi mendapatkan kepuasan dari apapun
1 Saya tidak menyukai cara yang saya gunakan
0 Saya tidak merasa tidak puas
E. Rasa Bersalah
3 Saya merasa seolah-olah saya sangat buruk atau tak berharga
2 Saya merasa sangat bersalah
1 Saya merasa buruk atau tak berharga sebagai bagian dari waktu
yang baik
0 Saya tidak merasa benar-benar bersalah
F. Tidak Menyukai Diri Sendiri
3 Saya benci diri saya sendiri
2 Saya muak dengan diri saya sendiri
1 Saya tidak suka dengan diri saya sendiri
0 Saya tidak mempunyai pikiran-pikiran mengenai membahayakan
diri sendiri
G. Membahayakan Diri Sendiri
3 Saya akan membunuh diri saya sendiri jika saya mempunyai
kesempatan
2 Saya mempunyai rencana pasti tentang tujuan bunuh diri
1 Saya merasa lebih baik mati
0 Saya tidak mempunyai pikiran-pikiran mengenai membahayakan
diri sendiri
H. Menarik Diri dari Sosial
3 Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan tidak
perduli pada mereka semua
2 Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan tidak
sedikit perasaan pada mereka
1 Saya kurang berminat pada orang lain dari pada sebelumnya
0 Saya tidak kehilangan minta pada orang lain
I. Keragu-raguan
3 Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali
2 Saya mempunyai banyak kesulitan dalam membuat keputusan
1 Saya berusaha mengambil keputusan
0 Saya membuat keputusan yang baik
J. Perubahan Gambaran Diri
3 Saya merasa bahwa saya jelek atau tampak menjijikkan
2 Saya merasa bahwa ada perubahan-perubahan yang permanet dalam
penampilan saya dan ini membuat saya tidak menarik
1 Saya khawatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik
0 Saya tidak merasa bahwa saya tampak lebih buruk daripada
sebelumnya
K. Kesulitan Kerja
3 Saya tidak melakukan pekerjaan sama sekali
2 Saya telah mendorong diri saya sendiri dengan keras untuk
melakukan sesuatu
1 Ini memerlukan upaya tambahan untuk memulai melakukan sesuatu
0 Saya dapat bekerja kira-kira sebaik sebelumnya
L. Keletihan
3 Saya sangat lelah untuk melakukan sesuatu
2 Saya lelah untuk melakukan sesuatu
1 Saya lelah lebih dari yang biasanya
0 Saya tidak lebih lelah dari biasanya
M. Anoreksia
3 Saya tidak lagi mempunyai nafsu makan sama sekali
2 Nafsu makan saya sangat buruk sekarang
1 Nafsu makan saya tidak sebaik sebelumnya
0 Nafsu makan saya tidak buruk dari yang biasanya

Penilaian:
0-4 = Derpresi tidak ada atau minimal
5-7= Depresi ringan
8-15= Depresi sedang
>15 =depresi berat
Pasien Tn. WP megalami Depresi Minimal
2. Keadaan emosi
Keluarga pasien mengatakan emosi pasien stabil dan pasien dapat bersosialisasi

dengan baik
3. Konsep diri
Identitas diri :
Pasen mengatakan dia adalah seorang ayah dari tiga anaknya dan kakek dari

cucu-cucunya
Gambaran diri :
Pasien mengatakan dia merasa sudah tua dan sudah tidak mampu bekerja lagi
Ideal diri :
Pasien mengatakan sudah tua dan tidak lagi bekerja untuk mmenuhi

keinginannya
Peran diri :
Pasien berperan sebagai orang tua yang juga sering memberi sebuah nasehat
Harga diri :
Pasien mengatakan kadang-kadang merasa rendah diri dengan keadaanya

4. APGAR Gerontik

APGAR Gerontik
No Fungsi Uraian Skore
1 Saya puas bahwa dapat kembali pada Gerontik 2
Adaptasi saya untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
2 Saya puas dengan cara Gerontik saya 2
Hubungan membicarakan sesuatu dengan saya dan
mengungkapkan masalah dengan saya
3 Saya puas bahwa Gerontik saya menerima dan 1
Pertumbuhan mendukung keinginan saya untuk melakukan
aktivitas atau arah baru.
4 Afeksi Saya puas dengan cara Gerontik saya 1
mengespresikan afek dan berespon terhadap
emosi-emosi saya, seperti marah, sedih atau
mencintai.
5 Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya 2
Pemecahan
menyediakan waktu bersama-sama
Keterangan :
Skor 2 jika selalu
Skor 1 jika kadang-kadang
Skor 0 jika hampir tidak pernah

Penjelasan:
- Pasien selalu dapat beradaptasi dengan baik dengan keluarga,
- Berhubungan dengan baik dan mau menyampaikan masalah

masalahnya pada keluarga,


- Pasien sudah mulai menerima masa lansianya namun kadang kadang

pasien berharap dapat melakukan aktivitas seperti pada masa produktif,


- Pasien kadang kadang puas dalam mengatasi emosi.
- Pasien mengatakan puas dengan cara keluarga dan teman temannya

yang selalu dapat menyediakan waktu dengannya.


c. Sosial
1. Dukungan Gerontik
Px mengatakan dukungan lingkungan dan keluarga sangat baik di masa tuanya
2. Hubungan dengan Gerontik
Px mengatakan merasa dengan keadaannya sekarang
3. Hubungan dengan orang lain
Px mengatakan hubungannya dengan orang lain baik

d. Spiritual
1. Pelaksanaan ibadah
Px mengatakan sering berdoa dari tempat tidur
2. Keyakinan tentang kesehatan
Pasien merasa sudah tua dan serng sakit sakitan, ia merasa dirinya tidak akan

sembuh.
e. Pemeriksaan Fisik
Tinjauan Sistem
1. Keadaan umun : composmentis
2. GCS : V = 5 M= 6 E = 4
3. Tingkat kesedaran : Compos mentis
4. Suhu : 37 oC Nadi : 100 x/menit
Tekanan Darah : 200/100mmHg RR : 24 x/menit
Tinggi Badan : 167cm Berat BB : 55 Kg

5. Kepala (rambut)
Inspeksi: kepala tampak bersih, rambut px sudah putih
Palpasi: tidak teraba masa, terdapat nyeri tekan dan sakit kepala
6. Mata, telinga, hidung dan mulut
Mata
Inspeksi: keadaan mata bersih, tidak terlihat ada luka, tidak terlihat jaringan

parut, dan persebaran bulu mata merata, sclera putih, konjungtiva merah muda
Palpasi: tidakterdapat nyeri tekan
Peeriksaan visus terjadi penurunan pengliatan
Telinga
Inspeksi: keadaan telinga simetris, idak terlihat kotoran (bersih)
Palpasi: tidak terapat nyeri tekan
Hidung
Inspeksi: keadaan bersih, tidak terdapat pembesaran polip, tidak ada sinus
Palpasi: tidak terdapat neri tekan
Mulut
Inspeksi: gigi tidak lengkap, sedikit kotor, mukosa bibir lembab
Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan
7. Leher
Inspeksi: keadaan bersih, tidak ada luka, tidak ada jaringan parut
Palpasi: tidak ada pembekakan vena jugularis, terdapat nyeri tekan
8. Dada dan punggung
Inspeksi: tidak ada luka dan jaringan parut, pergerakan dada simetris, tidak

terdapat otot bantu nafas


Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak teraba masa
Perkusi: dullness
Auskultasi: bronkial
9. Abdomen
Inspeksi: tidak terlhat jaringan parut dan luka, keadaan bersih
Auskultasi: bising usus 10 x/menit
Palpasi: turgor kulit berkurang, tidak terdapat nyeri tekan
Perkusi: dullness
10. Ekstrimitas atas dan bewah
Atas
Inspeksi: tidak ada luka, gerakan terbatas
Palpasi: ada nyeri tekan, tidak ada edema, CRT lebih besar dari 3 detik dan kebas
Bawah
Inspeksi: tidak ada luka
Palpasi; ada nyeri tekan, tidak ada edema, CRT lebih besar dari 3 detik dan kebas
11. Kulit
Inspeksi: keadaan bersih, tidak ada jaringan parut
12. Genitalia
Inspeksi: keadaan bersih, tidak ada luka
Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak hidrokokel, dan varikokel, tidak ada

hipospadia dan epispadia


f. Keadaan lingkungan
Pasien mengatakan lingkungannya kondusif dan nyaman

V. INFORMASI/DATA PENUNJANG
Dari hasil foto rotgen thorax didapatkan hasil adanya pmbesaran ventrikel kiri pada

jantung

ANALISA DATA

DATA MASALAH ETIOLOGI


DS DO Resiko penurunan Peningkatan afterload
Pasien mengatakan Crt > 3 detik curah jantung dan vasokontriksi
Ttv : TD =200/100
mengalami sakit di
mmHg
bagian tenguk

Pasien mengatakan

kebas pada

ekstermitas

Pasien mengatakan Pasien terlihat Intoleransi aktifitas Kelemahan umum

ADL nya dibantu menggunakan alat

keluarga dengan bantu saat berjalan

indeks KATZ : F

Pasien mengatakan Masih terlihat Nyeri Peningkatan tekanan

nyeri pada tengkuk memegangi kepala vaskuler serebral

Pasien mengtakan Pasien terlihat

sakit kepala meringis

Pasien mengatakan TTV : TD =

kepalanya berat 200/100 mmHg, S

P = Hipertensi = 37 C, N = 130
Q = Tertekan benda x/mnt, RR = 24
berat /mnt
R = Daerah kepla

an tengkuk

S = 8 dari 1 sampai

10 skala yang

diberikan

T = sewaktu

waktu
PRIORITAS MASALAH (DIAGNOSA KEPERAWTAN / MASALAH

KOLABORASI)

1. Curah Jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan


peningkatan afterload, vasokontriksi
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
3. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular Cerebral

RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien : Tn. WP
No Dx. Tujuan & Kriteria Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil

Resiko Setelah dilakukan


1. Observasi TTV 1. untuk mengetahui
penurunan asuhan keperawatan
keadaan umum
curah selama 1 x 20 menit
2. Lakukan tindakan yang
2. mengurangi ketidak
jantung maslah resiko
nyaman seperti : pijatan
nyamanan dan
berhubung penurunan curah
punggung, leher,
menurunkan rangsangan
an dengan jantung teratasi dengan
meninggikan kepala
simpatis.
peningkat KH :
tempat tidur.
an 1. Pasien tidak sakit
3.Anjurkan tehnik relaksasi, 3. Menurunkan rangsangan
afterload, pada bagian
panduan imajinasi dan yang menimbulkan stres,
vasokontri tengkuk.
aktivitas pengalihan. membuat efek tenang
2. Pasien tidak merasa
ksi sehingga menurunkan
kebas pada
TD.
4.Kolaborasi dalam
ekstremitas
4. Untuk menurunkan
pemberian obat hipertensi
tekanan darah
sesuai indikasi.

b.
Intoleransi Setelah dilakukan
1. bant klien 1.pengkajian akurat terhadap
aktivitas asuhan keperawatan
mengidentifikasi faktor yang faktor yang meningkatkan
berhubung selama 1 x 20 menit meningkatkan atau atau menurunkan tolerensi
menurunkan toleransi aktivitas memberikan dasar
an dengan maslah intoleransi
ativitas. untuk membuat rencana
kelemahan aktivitas teratasi keperawatan.
dengan KH : 2.Tehnik menghemat energi
umum
2.ajarkan tehnik mengurangi penggunaan
1. ADL pasien
penghematan energi energi, membantu
tidak dibantu keseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
3. Kemajuan aktivitas
bertahap mencegah
peningatan kerja jantung tiba-
3.Berikan dukungan tiba membantu sebatas
melakukan aktivitas atau kebutuhan, mendorong
perawatan dri bertahap. kemandiria dalam
Berikan bantuan sesuai beraktivitas.
kebutuhan.

4. mencapai dan
mempertahankan pola hidup
4.berikan HE klien dan produktif sesuai kemampuan
keluarga untuk menetapkan jantung dalam berespon thdp
rencana ADL yag konsiste peningkatan aktivitas dan
dengan pola hidup. stres.

3. Nyeri Setelah diberikan Km

berhubungan asuhan keperawata Mandiri


1. berikan lingkungan yang
dengan selama 1 X 20 menit
nyaman dan kaji nyeri 1. membantu menurunkan
rangsangan simpatis ,
peningkatan diharapkan masalah
2. meminimalkan aktivitas meningkatkan relaksasi
tekanan keperawatan nyeri
vasokontriksi 2. aktivitas yang
meningkatkan vasokontriksi
vascular teratasi dengan KH :
menyebabkan sakit kepala
Cerebral 1. tidak nyeri pada
Kolaborasi
bagian tengkuk dan 3. berikan analgetik sesuai 3. analgetik dapat
indikasi. menurunkan rangsang sistem
kepala saraf simpatik
2. sekala nyeri

berkurang dengan

kisaran (1-5 ) dari

sekala yang diberikan


3. pasien tidak meringis
4.Nadi dalam batas

normal
Implementasi Keperawatan Pada Pasien Tn WP Dengan Hipertensi
di Poli Umum RSUD Badung
Tanggal 17april 2015

NO Hari Dx Tindakan keperawatan Evaluasi Respon paraf


/tgl/jam kep
1 Jumat, 17 Dx 1, Mengkaji TTV DS :
april 2014 DO :
Pukul 08.00 TD : 200 / 100
mmHg , S = 37 C,
N = 130 x/mnt, RR
= 24 x/mnt

Melakukan kolaborasi DS :
dalam memberikan DO : obat masuk tanpa
kaptopril 25 mg adanya reaksi alergi

melakukan tindakan DS :
pijatan punggung - pasien mengeluh
merasa pusing
- Pasien mengeluh
tengkuknya masih
sakit
DO :
- pasien tampat
memberikan lingkungan memegangi
yang nyaman kepalanya
dan mengkaji nyeri - pasien tampak
meringis

DS :
- pasien mengatakan

sudah merasanyaman

- pasien mengatakan

sakit kepalanya masih

terasa.
membant klien - Skala nyeri yng
mengidentifikasi faktor
yang meningkatkan atau dirasakan 7 dari (1-10
menurunkan toleransi skala yg di berikan)
ativitas
- Sakit seperti tertimpa

benda berat

DO :
- pasien masih tampak

memegangi kepalanya

DS :
- pasien mengatakan

merasa sangat lemah

saat bergerak
mengajarkan tehnik
penghematan energi - pasien mengatakan

seperti tidak ada

tenaga

- pasien mengatakan

bisa bergerak jika di

bantu

DO :
- pasien tampak lemas
- Pasien tampak lemas
saat bergerak
DS :
- pasien mengatakan
Memberikan HE klien dan
mengerti cara cara
keluarga untuk
menetapkan rencana ADL menghemat energinya.
yag konsiste dengan pola
- Pasien mengatakan
hidup dan tentang
penyakitnya. akan mencoba cara

tersebut.

- Pasien mengatakan

tangannya seperti

kesemutan.

DS :
- keluarga mengatakan

akan membuatkan

meminimalkan aktivitas jadwal tentang


vasokontriksi
kegiatan pasien

DO :
- Keluarga pasien

tampak mengerti

dengan apa yg

dijelaskan

DS :
- Pasien mengatakan

pada saat merunduk

dan jongkok sakit


menganjurkan tehnik
kepalanya akan
relaksasi, panduan
imajinasi dan aktivitas bertambah.
pengalihan DO :
- Pasien sudah tampak

membatasi geraknya
DS :
- Pasien mengatakan

kan berusaha untuk

menjaga tingkat

stresnya

Mengkaji TTV DO :
- Tampak pasien

berusaha untuk tenang

dan tidak stress

DS :
Membantu pasien dalam DO :
memenuhi kebutuhannya. - 200 / 100 mmHg , S
= 37 C,
N = 125 x/mnt, RR
= 23 x/mnt

DS :
- Pasien mengatakan

ingin di bantu untuk

pergi ke kamar mandi.

DO :
- Pasien tampak ingin

meminimalkan

bantuan.

Evaluasi Keperawatan Pada Tn WP dengan Hipertensi


di Poli Umum RSUD Badung
tanggal 17 april 2014

NO Hari Dx kep Evalusi Respon paraf


/tgl/jam
1 Jumat,17 resiko penurunan S:
aprit 2015 Curah Jantung - Pasien mengatakan tangannya seperti
Pukul 08.50 berhubungan kesemutan
dengan - pasien mengeluh merasa pusing
peningkatan - Pasien mengeluh tengkuknya masih
afterload,
vasokontriksi sakit
O:
- TD : 200 / 100 mmHg , S = 37 C,
N = 125 x/mnt, RR = 23 x/mnt
- pasien tampat memegangi kepalanya
A:
tujuan no 1 dan 2 belum tercapai
Jumat,17 masalah resiko penurunan curah
2 aprit 2015 jantung belum teratasi
Pukul 08.50
P : lanjutkan semua intervensi
Intoleransi aktivitas keperawatan
berhubungan
dengan kelemahan
umum

S:
- Pasien mengatakan pada saat

merunduk dan jongkok sakit

- keluarga mengatakan akan membuatkan

jadwal tentang kegiatan pasien

- Pasien mengatakan ingin di bantu untuk

pergi ke kamar mandi

- pasien mengatakan merasa sangat


Jumat,17
lemah saat bergerak
aprit 2015
3 Pukul 08.50 - pasien mengatakan seperti tidak ada

tenaga

- pasien mengatakan bisa bergerak jika di

bantu

Nyeri berhubungan O:
- Pasien tampak ingin meminimalkan
dengan
bantuan
peningkatan - pasien tampak lemas
tekanan vascular - Pasien tampak lemas saat bergerak
A:
Cerebral
tujuan no 1 belum tercapai masalah
Intoleransi aktivitas belum teratasi

P : lanjutkan semua intervensi


keperawatan

S:
- pasien mengeluh merasa pusing
- Pasien mengeluh tengkuknya masih
sakit
- pasien mengatakan sakit kepalanya

masih terasa.

- Pasien mengatakan pada saat merunduk

dan jongkok sakit kepalanya akan

bertambah.

- Skala nyeri yng dirasakan 7 dari (1-10

skala yg di berikan)

- Sakit seperti tertimpa benda berat

O:
- Tampak pasien berusaha untuk tenang

dan tidak stress

- pasien masih tampak memegangi

kepalanya

- pasien tampak meringis


- TD : 200 / 100 mmHg , S = 37 C,
N = 125 x/mnt, RR = 24 x/mnt
A:
tujuan no 1,2 dan 3 belum tercapai
masalah
nyeri belum teratasi

P : lanjutkan semua intervensi


keperawatan
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari materi diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi pada lansia yaitu :
1. Penyakit hipertensi adalah tekanan darah sistolik < 140 mmHg dan tekanan
distolik > 90 mmHg.
2. Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor,yaitu : faktor genetik,usia,
keadaan emosi seseorang, konsumsi Na terlalu tinggi,obat ,hormonal,
neurologik,dll.
3. Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak di jumpai pada
orang yang lanjut usia.
4. Pada penerapan asuhan keperawatan pada kenyataannya hampir seluruhnya
ada pada tinjauan kasus
5. Pada tahap evaluasi dan diagnosa keperawatan tertentu memerlukan tindakan
keperawatan dalam proses penyembuhan.
3.2 Saran
Untuk menghindari terjadinya hipertensi,maka sebaiknya kita sebagai tenaga
medis member contoh masyarakat untuk menerapkan hidup sehat,bersih,dan juga
menghindari makanan sembarangan yang belum teruji kesehatannya.