You are on page 1of 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Walaupun telah banyak kemajuan dalam penatalaksanaannya, penyakit jantungkoroner (
PJK ) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup penting. Di
negara-negara maju dan beberapa negara berkembang seperti Indonesia, PJK merupakan
penyebab kematian utama.Di Amerika Serikat didapatkan bahwa kurang lebih 50 % dari
penderita PJKmempunyai manifestasi awal Angina Pectoris Stabil ( APS ). Jumlah pasti
penderita angina pectoris ini sulit diketahui. Dilaporkan bahwa insidens angina pectoris pertahun
padapenderita diatas usia 30 tahun sebesar 213 penderita per 100.000 penduduk. Asosiasijantung
Amerika memperkirakan ada 6.200.000 penderita APS ini di Amerika serikat. Tapidata ini
nampaknya sangat kecil biladibandingkan dengan laporan dari dua studi besar dari Olmsted
Country dan Framingham,yang mendapatkan bahwa kejadian infark miokard akut sebesar 3%
sampai 3.5% daripenderita APS pertahun, atau kurang lebih 30 penderita APS untuk setiap
penderita infarkmiokard akut Mengingat banyaknya jumlah penderita APS dan kerugian yang
ditimbulkannya terutama secara ekonomi, diperlukan penatalaksanaan yang lebih komprehensif.
Tetapi APS terutama ditujukan untuk menghindarkan terjadinya infarkmiokard akut dan
kematian sehingga meningkatkan harapan hidup, serta mengurangisymptom dengan harapan
meningkatnya kualitas hidup. Pada penderita yang berdasarkanriwayat penyakit dan pemeriksaan
awal didapatkan kemungkinan sedang atau tinggi untukmenderita suatau PJK perlu dilakukan
test secara non invasif maupun invasive untuk
Memastikan diagnosa serta menentukan stratifikasi resiko.Penderita APS dengan
resiko tinggi atau resiko sedang yang kurang berhasil dengan terapi standart, perlu dilakukan
tindakan revaskularisasi, terutama bila penderita memang menghendaki.Makalah ini disusun
dengan tujuan untuk mengetahui dan mampumenerapkan keperawatan pada klien dengan angina
pectoris.
B. TUJUAN TEORITIS
1.Tujuan Umum
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Diperoleh pengetahuan mengenai angina pectoris.
b. Diperoleh gambaran pelaksanaan keperawatan dengan angina pectoris.

2.Tujuan Khusus
a. Mendapat gambaran dalam melakukan pengkajian pada pasien dengan angina pectoris.
b. Mendapatkan gambaran dalam menentukan masalah keperawatan pada pasien dengan angina
pectoris.
c. Mendapat gambaran dalam merencanakan asuhan keperawatan pada pasiendengan angina
pectoris
d. Mendapat gambaran dalam melaksanakan evaluasi pada pasien dengan angina pectoris.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. PENGERTIAN
Angina pektoris adalah nyeri dada intermiten yang disebabkan oleh iskemia miokard
yang reversibel dan sementara.(Kumar,dkk.2007) .Angina pektoris adalah nyeri hebat yang
berasal dari jantung dan terjadi sebagai respons terahadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke
sel-sel miokardium. ( Corwin, Elizabeth J. 2009).Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis
dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di
dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera
hilang bila aktifitas berhenti.(Sjaifoellah Noer, 2001).Angina Pektoris merupakan nyeri dada
sementara atau perasaan tertekan (kontriksi ) didaerah jantung. ( Brenda Walters. 2003 ). Angina
pektoris adalah nyeri dada yang disebabkan oleh tidak adekuatnya aliran oksigen terhadap
miokardium.( Maryllin E. Doengoes. 2002).Angina pektoris merupakan suatu penyakit
berbahaya yang timbul karena penyempitan arteri yang menyalurkan darah ke otot-otot jantung
(John F.Knight. 2001).

B. ETIOLOGI
Menurut Kumar,dkk.2007 penyebab terjadinya angina pectoris adalah :
A. Ateriosklerosis
B. Spasme arteri koroner
C. Anemia berat
D. Artritis
E. Aorta Insufisiensi

C. FAKTOR-FAKTOR RESIKO
Adapun factor yang menpengaruhi terjadinya angina pectoris menurut Lecture Notes
Kardiologi. Gray, Huon.H, dkk.2008adalah :
1.Dapat Diubah (dimodifikasi)
1) Diet (hiperlipidemia)
2) Rokok
3) Hipertensi
4) Stress
5) Obesitas
6) Kurang aktifitas
7) Diabetes Mellitus
8) Pemakaian kontrasepsi oral

2.Tidak dapat diubah


1) Usia
2) Jenis Kelamin
3) Ras
4) Herediter
5) Kepribadian tipe A

D. FAKTOR PENCETUS SERANGAN


Menurut Lecture Notes Kardiologi. Gray, Huon.H, dkk.2008 Faktor pencetus yang dapat
menimbulkan serangan antara lain :
1.Emosi
2.Stress
3.Kerja fisik terlalu berat
4.Hawa terlalu panas dan lembab
5.Terlalu kenyang
6.Banyak merokok
E. KLASIFIKASI ANGINA PEKTORIS
Adapun klasifikasi angina pectoris menurut Kumar,dkk.2007 adalah:
1. Angina pektoris stabil kronis /tipikal :
Mengacu pada nyeri dada episodik saat pasien berolahraga atau mengalami bentuk stress
lainnya. Angina pektoris stabil biasanya disebabkan oleh penyempitan ateroskelrotik tetap (
biasanya 75% atau lebih )satu atau lebih arteri koronaria.
2. Angina varian ( Prinzmetal ) :
Rasa tidak enak pada dada, terjadi pada saat istirahat atau membangunkanpasien tidur. Angina
varian disebabkan oleh spasme fokal dari koronaria epikardial yang proksimal. Terdapat
obstruksi arteri koronaria arterosklerotik, dalam kasus vasospasme terjadi dekat lesi stenotik.
3. Angina pektoris tidak stabil :
Angina pektoris tidak stabil dapat dicetuskan oleh suatu keadaan ekstrinsik terhadap lapisan
vaskular koroner yang memperhebat iskemia miokardial, seperti anemi, demam, infeksi
takiaritmia, stres emosional atau hipoksemi, dan dapat juga setelah infark miokardial spasme
segmental disekitar bercak ( plaque arterosklerotik ) juga dapat memainkan suatu peranan dalam
perkembangan angina yang tidak stabil.
Pasien dapat dikatakatakan Angina pektoris tidak stabil :
1) Pasien dengan angina yang baru mulai ( < 2 bulan ) yang hebat atau sering (> atau = 3 episoda
tiap hari)
2) Pasien dengan angina dipercepat : angina stabil kronis yang mengembangkan angina secara
nyata lebih sering, hebat,berkepanjangan
3) Mereka dengan angina saat istirahat

F. PATOFISIOLOGI
Angina pectoris terjadi sebagai konsekuensi dari iskmeik miokard.Pasokan oksigen
gagal memenuhi kebutuhan oksigen, selalu karena penurunan pasokan sebagai akibat aliran
arteri koroner. Faktor utama yang mempengaruhi konsumsi oksigen niokard (MVO2) antara
lain tegangan dinding sistolik, keadaan kontraktil, dan denyut jantung. Subendokard paling
sensitif terhadap iskemia, dan redistribusi perfusi miokard pada stenosis koroner dapa t
berperan dalam suseptibilitas infark subendokard. Adanya hipertrofi vantrikel merupakan
faktor tambahan yang mempengaruhi kemungkinan timbulnya iskemia subendokard (
Corwin, Elizabeth J. 2009 ).
G. GAMBARAN KLINIS
Tanda dan gejala yang sering timbul pada khasus angina pectoris menurut Corwin,
Elizabeth J. 2009 adalah :
1. Nyeri dada substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau
lengan kiri.
2. Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya
perasaan tidak enak di dada (chest discomfort).
3. Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih daari 30 menit.
4. Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin.
5. Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin, palpitasi, dizzines.
6. Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T terbalik.
7. Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan.
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Sudoyo, Aru W. 2009 test pemeriksaan yang dilakukan adalah :
1. Elektokardiografi ( EKG )
2. Uji latih
3. Ekokardiografi
4. Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan troponin T atau I dan pemeriksaan CK-MB
5. Fhoto Thorax : biasanya normal, namun infiltrate mungkin ada menunjukan dekompesasi
jantung atau paru-paru
6. Angiografi koroner
7. Kadar lipid, trigliserid dan kolesterol : mungkin meningkat
8. Pembedahan bypass modern
9. Treadmill
I. PENATALAKSANAAN
Menurut Sudoyo, Aru W. 2009 penatalaksanannya yang sering dilakukan adalah:
1) Istirahat
2) Terapi oksigen
3) Tindakan revaskularisasi pembuluh koroner
4) Startifikasi resiko
5) Medikamentosa 1218 harrison
6) Obat anti iskemia
7) Nitrat ( nitrogliserin atau isosorbid dinitrat)
8) Penyekat beta
9) Antagonis kalsium
10) Obat antiagregasi trombosit
11) Aspirin
12) Triklopidin
13) Klopidogrel
BAB III
TINJAUAN KASUS

1. Pengkajian Pengkajian
A. Identitas pasien
Nama : An.A
Umur : 53 tahun
Pendidikan : sma
Suku bangsa : Melayu
Pekerjaan : Wirasuasta
Agama : islam
Status perkawinan : Sudah nikah
Alamat : Jl.suhada No.199
Ruang Rawat : Nuri I
Data Saat Masuk RS
Tanggal masuk RS :
Jam masuk RS : 10.00 wib
Yang mengirim/merujuk : Datang sendiri
Cara masuk : melalui IGD
Alasan masuk : nyeri pada dada saat menarik napas
Diagnose medis saat masuk : Agina pektoris

B. Riwayat Kesehatan Sekarang


Pasien datang dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri. Di ruangan nuri
kondisi masih sama, dengan keadaan umum lemah, TD 170/108 mmHg, MAP 127, nadi 99
x/menit ireguler, suhu badan 380C, RR 24 x/menit, CRT <2, tampak anemis, pasien terlihat
memegang dada dan juga mengeluh pusing. pengkajian nyeri, nyeri bertambah saat menarik
napas, berkurang jika dalam keadaan rileks, kualitasnya seperti otot terasa tegang dan tertarik-
tarik, didaerah dada dan punggung.

C. Riwayat pengobatan terakhir


Klien belum pernah berobat ,tidak ada penanganan yang diterima
D. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Menurut keterangan keluarga pasien belum pernah mondok di RS dengan keluhan yang sama
ataupun penyakit yang sama maupun penyakit lain.

E. Riwayat Kesehatan Keluarga


Keluarga tidak memiliki penyakit keturunan, seperti hipertensi, asma, DM
dan lainnya.

F. Riwayat Psikologis dan Spiritual

1) Psikologis
Suasana hati/mood pasiengelisah dan keadaan emosional pasien labil.
2) Sosial
Hubungan dengan orang terdekat,antar keluarga,orang lain,terhadap lawan bicara baik.
3) Spiritual
Pelaksanaan ibadah klien rajin dan klien yakin kepada tuhan.

G. POLA KESEHATAN FUNGSIONAL


1) Pola nutrisi dan cairan
a.Makan
Sehat :pola makan klien 3 x sehari,tidak ada makanan pantangan dan klien tidak ada diet khusus
Sakit: pola makan 3 kali sehari,
b. Minum
Sehat :pola minum klien 8 gelas sehari,minum kesukaan klien jus mangga
Sakit : intake cairan klien melalui oral
2) Pola Eliminasi
a. BAK
Sehat :jumlah urine klien 1500 ml ,warnanya bening ,baunya khas dan pola BAK 4-6x sehari
Sakit : jumlah urine 900 ml ,baunya khas ,dan warnanya kuning

b.BAB
Sehat: konsistensinya padat,warna kuning,baunya khas,pola defekasi klien 1x sehari dan
bentuknya silinder,tidak ada darah,lendir dan klien mengalami tidak mengalami masalah bowel,
klien tidak menggunakan laksatif.
Sakit : konsistensinya padat warna BAB klien kuning,baunya khas,pola defekasi

3) Pola Aktivitas /latihan


Sehat: pola tidur klien ketika sehat 2 kali sehari yaitu malam 8 jam dan siang 2 jam,gangguan
tidur klien tidak ada dan dampak pola tidur klien kelihatan segar.
Sakit: ketika sakit pola tidur klien 2 kali sehari yaitu malam 6 jam dan siang 4 jam ,insomnia.
4) Personal Hygiene
Sehat: ketika sehat klien mandi 2 kali sehari,gosok gigi 2 kali sehari,potong kuku 1 kali
seminggu dan klien mengatakan tidak ada hambatan pemenuhan personal hygiene.
Sakit: ketika sakit klien mandi 1 kali sehari,gosok gigi 2 kali sehari,dan potong rambut 1 kali
seminggu.
5) Keselamatan Dan Kebisingan
Klien tidak merasa bising,peralatan medic yang digunakan klien yaitu infus

H. CATATAN KHUSUS
Pasien/keluarga pasien mengerti tentang penyakit yang diderita nya,selama dirawat pasien
merasa tidak ada gangguan selama di rawat,hubungan klien dengan istri harmonis,dan ketika
dikaji klien tidak ada pertanyaan yang diajukannya.
I. PEMERIKSAAN FISIK
1. Kesadaran ;GCS E4M6V5.

2. Kepala ; terdapat jejas di bagian kening, bibir dan rahang

3. Mata ; konjungtiva anemis, sklera non ikterik, pupil L 2 mm/ R 2 mm, rangsang cahaya L +/ R
+

4. Hidung ; tidak ada sekret, terpasang kanul nasal 3 liter/menit, napas cuping hidung.
5. Mulut ; mulut tampak kotor, berbau, membran mukosa kering, luka lecet di bibir.

6. Telinga ; simetris, tidak terdapat serumen.

7. Leher; tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid, non Jugularis Vena Pressure.

8. Thoraks ; retraksi simetris, menggunakan otot bantu napas, suara jantung S1-S2 reguler,
kekuatan lemah, suara paru vesikuler.

9. Abdomen ; tidak terdapat bekas operasi, abdomen lembek, V U tidak teraba, bising usus
hipoaktif, 12kali /menit.

10. Ektrimitas ; terdapat jejas di telapak tangan kanan, ada jejas di daerah thorax, ektrimitas atas
dextra terpasang infus pump RL 12 tpm, tonus otot ekstrimitas atas L 5/ R5, bawah L 5/ R 5,
tidak terdapat edema.

11. Genetalia ; terpasang DC ukuran 16.

12. Kulit ; akral dingin, warna kulit coklat, turgor lembab.

13. Pemeriksaan Penunjang

1) Laboratorium :
- Feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
- Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
- AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2 meningkat, HCO3 menurun )
2) Radiologi : mungkin ditemukan bronchopneumoni
Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan

Analisa Data

Data Fokus
No Masalah Penyebab
(Subjektif dan Objektif)

1. Ds : Pasien mengatakan nyeri Nyeri akut -Peningkatan tekanan

di kepalanya skala nyeri vaskuler serebral

4-6 = sedang

Do : wajahnya terlihat

meringis.

2. Ds:pasien mengatakan Intoleran -Kelemahan

badannya terasa lemah aktivitas umum,ketidakseimbanga

dan dadanya terasa n antara suplai dan

sesak kebutuhan O2

Do:Pasien tampak lemah

Pasien
menggunakan O2 =
3L/i

3. Ds : Klien mengatakan Kurang Kurangnya informasi

kurang paham tentang pengetahuan

penyakit nya
Do : Klien tampak
bingung dan
bertanya-tanya tentang
penyakit nya

Diagnosa keperawatan

Daftar Diagnosa Keperawatan


No Tanda tangan
(Berdasarkan Prioritas Masalah)

1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan

vaskuler serebral ditandai dengan wajah meringis dan

skala nyeri 4 6

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan


umum,ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan O2

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya


informasi ditandai dengan klien bertanya tentang
penyakit nya
RENCANA KEPERAWATAN

Nama Pasien :Tn.R Nomor register

:31 50 48

Umur :44 tahun Diagnosa Medis

:Hipertensi

Ruangan/Kamar :Madinah

N Tanggal/Ja Masalah Keperawatan Rencana


o m Tujuan dan Tindakan Rasional

Kriteria
hasil
1. 06 JULI Nyeri berhubungan Setelah - Kaji skala - Membantu
2010/08.00 dengan ischemia dilakukan nyeri,derajat dalam
miokardium tindakan (skala 0-10) menentukan
S; keperawata managemen
pasien mengatakan nyeri n 3 x 24 nyeri
jam,Nyeri
bertambah saat menarik
pasien
napas, berkurang jika dapat - Mempertahankan
teratasi -
dalam keadaan rileks, tirah baring
-Pasien Meminimalka
kualitasnya seperti otot mengatakan selama fase akut. n stimulus
nyerinya meningkatka
terasa tegang dan
sudah (-) n relaksasi
tertarik-tarik, didaerah KH: - Beri tindakan non
- Nyeri - Menurunkan
dada dan punggung, farmalogis untuk
terkontrol
tekanan
dengan nilai 9, tiap 4-5 - Skala nyeri menghilangkan
vaskuler
detik sekali. 1 sakit kepala misal
serebral.
O: - Ekspresi nya kompre air
wajah tampak terlihat
wajah dingin.
tegang, TD 176/108 tenang
-Mengurangi
mmHg, nadi 99x/mnt. - Meminimalkan
rasa sakit
Faktor etiologi ; stenosis aktivitas yang
arteri, trombus, spasme dapat mengurangi
arteri rasa skit
-Memantau
k gelisah - Monitor TTV
06 Agustus
keadaan klien
2010/11.00 - Kolaborasi
-Memberikan
pemberian obat-
bantuan
obatan.
kebutuhan
obat-obatan.
Intoleransi aktivitas -Kaji respon
berhubungan dengan pasien.
- -Membantu
kelemahan Setelah
dalam
umum,ketidakseimbanga dilakukan
mengkaji
n antara suplai dan tindakan
respon
kebutuhan O2 keperawata
fisiologis
n selama 3 -Intruksikan klien
terhadap stres
x 24 jam hemat energi
aktivitas.
prnafasan
kembali
- Mengurangi
normal dan
penggunaan
klien -Berikan dorongan
energi dan
mampu untuk melakukan
O2
beraktivitas aktivitas/perawata
kembali n diri bertahap
-Kemajuan
KH: jika dapat di
aktivitas
07 Agustus - toleransi.
2010/08.00 bertahap
Berpartisipa
mencegah
si dalam
peningkatan
aktivitas
kerja jantung
Kurang pengetahuan yang
berhubungan dengan diinginkan. tiba-tiba.
kurangnya informasi -
ditandai dengan klien Melaporkan
bertanya tentang peningkatan
penyakit nya dalam -Memberikan
toleransi informasi dan
aktivitas penkes kepada
yang dapat pasien tentang
diukur penyakit nya. -
Meningkatka
n
pengetahuan
pasien

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawata
n selama 3
x 24 jam
kurang
pengetahua
n teratasi
KH:
- Klien
sudah
paham
tentang
penyakitnya
- Klien tidak
bertanya-
tanya lagi
CATATAN KEPERAWATAN
Nama pasien : Tn.R

Ruangan/kamar : Madinah

Tanggal Jam No Dx Tindakan keperawatan Nama Jelas

06 08 - 2010 08.00 1 - Mengkaji keluhan nyeri,catat Atik

lokasidan skala nyeri= 6

09.00 - Membatasi aktivitas pasien dan

menganjurkan bedres.

10.00 - Mengompres pasien.

14.00 2 - Mengkaji respon pasien.

15.30 - Menganjurkan agar klien banyak


istirahat.

06 08 - 2010 17.00 3 - Memberikan penkes ke pasien dan Atik


keluarganya tentang penyakitnya.

CATATAN KEPERAWATAN
Nama pasien : Tn.R
Ruangan/kamar : Madinah

Tanggal Jam No Dx Tindakan keperawatan Nama Jelas

07 08 - 2010 08.00 1 - Mengkaji keluhan nyeri,catat lokasi Atik

dan skala nyeri= 3

08.30 - Mengukur TTV

11.00 - Mengajarkan pasien untuk teknik

relaksasi

- Menganjurkan klien minum obat

sesuai indikasi dokter.

14.30 2 - Mengkaji respon pasien.

17.00 - Menganjurkan agar klien banyak


istirahat.

Evaluasi

CATATAN PERKEMBANGAN

Nama pasien : Tn.R

Umur : 44 Tahun
Tanggal No. Dx Jam Subjektif, Objektif, Analisa, Planning (SOAP) Paraf

06 08 - 1 08.40 S = Klien mengatakan kepala klien masih

2010 nyeri,skala nyeri = 6

O = Wajah klien terlihat meringis

A = Masalah nyeri akut belum teratasi

sebagian

P = Tindakan keperawatan dilanjutkan

2 14.30 S = Klien mengatakan badannya terasa lemah

dan nafas nya masih sedikit sesak

O = -Klien masih berbaring

-Klien menggunakan O2

A = Masalah intoleransi aktivitas teratasi

sebagian

P = Tindakan keperawatan dilanjutkan.

06 -08 - 1 15.30
S = Pasien mengatakan sudah faham tentang

2010 penyakit nya

O=Klien tidak bertanya lagi tentang penyakit nya

A = Kurang pengetahuan sudah teratasi

P = Tindakan keperawatan di hentikan.

Evaluasi

CATATAN PERKEMBANGAN

Nama pasien : Tn.R

Umur : 44 Tahun
Tanggal No. Dx Jam Subjektif, Objektif, Analisa, Planning (SOAP) Paraf

07 08 - 1 08.40 S = Klien mengatakan nyerinya sudah

2010 berkurang skala nya = 3

O = Wajah klien terlihat sedikit meringis

TTV = TD=120/80 RR = 24 N = 92 S = 37 C

A = Masalah nyeri akut teratasi sebagian

P = Tindakan keperawatan pemberian obat

analgesik dilanjutkan

2 15.00 S = Klien mengatakan badannya masih sedikit

terasa lemah

O = Klien masih berbaring

A = Masalah intoleransi aktivitas teratasi

sebagian

P = Tindakan keperawatan tentang teknik

penghematan energi dilanjutkan.


BAB IV
PEMBAHASAN
A. PENGKAJIAN
Selama melakukan pengkajian penulis tidak banyak menemukan kesulitan dalam hal
memperoleh data baik dari klien maupun dengan keluarga, serta status klien dengan
menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi, pemeriksaan fisik sehingga
pengumpulan data berjalan dengan baik
Bila dilihat dari pengkajian pada kasus, data yang ada pada konsep teoritis pada
umumnya terdapat pada kasus klien namun masih ada kesenjangan yang penulis temukan
1. Riwayat Kesehatan sekarang
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pada tinjauan teoritis dan tinjauan kasus pasien belum pernah sebelumnya menderita
penyakit Hipertensi.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pada tinjauan teori penyebab Hipertensi adalah karena kombinasi factor genetic.
Tetapi pada pengkajian tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama seperti
yang dialami oleh pasien.
4. Pemeriksaan fisik
Pada tinjauan teoritis dan tinjauan kasus biasanya klien mengalami sakit
kepala,mual,nyeri saat menerik nafas

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pada diagnosa keperawatan teoritis terdapat 4 diagnosa yang muncul yaitu
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi.
Sedangkan pada tinjauan kasus yang muncul hanya 2 diagnosa keperawatan yaitu:
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.

C. INTERVENSI
Pada perencanaan keperawatan penulis dapat menyusun rencana keperawatan yang
mengacu pada tinjauan teoritis sesuai dengan diagnosa keperawatan

D. IMPLEMENTASI
Pada tahap pelaksanaan yang merupakan penerapan dari rencana tindakan
keperawatan, untuk mencapai hasil yang diharapkan dengan mengacu pada tinjauan teoritis
sesuai dengan masalah yang ada pada klien.

E. EVALUASI
Berdasarkan pada penelitian yang penulis lakukan selama melakukan asuhan
keperawatan pada Tn.R dengan diagnosa medis Hipertensi semua masalah hanya teratasi
sebagian dikarenakan pasien menginginkan pulang.
BAB V
PENUTUP
1.KESIMPULAN

Angina pektoris adalah nyeri dada intermiten yang disebabkan oleh iskemia
miokard yang reversibel dan sementara.(Kumar,dkk.2007).Angina pektoris adalah nyeri
hebat yang berasal dari jantung dan terjadi sebagai respons terahadap suplai oksigen yang
tidak adekuat ke sel-sel miokardium. ( Corwin, Elizabeth J. 2009).Angina pektoris adalah
suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti
ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul
pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti.(Sjaifoellah Noer, 2001).Angina
Pektoris merupakan nyeri dada sementara atau perasaan tertekan (kontriksi ) didaerah
jantung. ( Brenda Walters. 2003 ).
Menurut (Kumar,dkk.2007) Penyebab dari angina pectoris antara lain :
Ateriosklerosis, spasme arteri coroner, anemia berat,artritis dan aorta insufisiensi.

Tipe Angina Pectoris


1. Angina pektoris stabil kronis /tipikal :
Mengacu pada nyeri dada episodik saat pasien berolahraga atau mengalami bentuk stress
lainnya. Angina pektoris stabil biasanya disebabkan oleh penyempitan ateroskelrotik tetap (
biasanya 75% atau lebih )satu atau lebih arteri koronaria.
2. Angina varian ( Prinzmetal ) :
Rasa tidak enak pada dada, terjadi pada saat istirahat atau membangunkanpasien tidur.
Angina varian disebabkan oleh spasme fokal dari koronaria epikardial yang proksimal.
Terdapat obstruksi arteri koronaria arterosklerotik, dalam kasus vasospasme terjadi dekat lesi
stenotik.
3. Angina pektoris tidak stabil :
Angina pektoris tidak stabil dapat dicetuskan oleh suatu keadaan ekstrinsik terhadap lapisan
vaskular koroner yang memperhebat iskemia miokardial, seperti anemi, demam, infeksi
takiaritmia, stres emosional atau hipoksemi, dan dapat juga setelah infark miokardial spasme
segmental disekitar bercak ( plaque arterosklerotik ) juga dapat memainkan suatu peranan
dalam perkembangan angina yang tidak stabil.
Pasien dapat dikatakatakan Angina pektoris tidak stabil :
1) Pasien dengan angina yang baru mulai ( < 2 bulan ) yang hebat atau sering (> atau = 3
episoda tiap hari)
2) Pasien dengan angina dipercepat : angina stabil kronis yang mengembangkan angina
secara nyata lebih sering, hebat,berkepanjangan
3) Mereka dengan angina saat istirahat
B. SARAN
Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan
masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang
akan datang, diantaranya :
1. Bagi pelayanan

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan Agina pektoris,hendaknya

tindakan yang dilakukan berdasarkan pengkajian secara utuh sehingga dapat menentukan

masalah klien dengan baik. Dengan demikian diharapkan kebutuhan klien dapat terpenuhi

sepenuhnya

2. Bagi mahasiswa keperawatan

Diharapkan dalam membuat perencanaan, hendaknya dapat mengembangkan teori-teori yang

ada dan mengacu pada keluhan klien, sehingga masalah klien dapat teratasi. Dan kepada

rekan mahasiswa/i hendaknya dalam melakukan proses keperawatan dilakukan dengan baik,

teliti,dan hati yang tulus


DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009.Buku Saku PATOFISIOLOGI.Jakarta : EGC


Iseelbacher,dkk.Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam.2001. Jakarta: EGC
Kumar,dkk.2007.Buku Ajar Patologi Robbins.Jakarta:EGC
Lecture Notes Kardiologi. Gray, Huon.H, dkk.2008. Buku Ajar Patologi
Robbins.Jakarta:EGC)
Markam, Soemarno,dkk.2008.KAMUS KEDOKTERAN UI Edisi Kelima. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI
Noer, Sjaifoellah, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI, 2001
Sudoyo, Aru W. 2009.Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM. Jakarta : Interna Publishing

Tifus Abdominalis
Home >> Penyakit Dalam >> Tifus Abdominalis

Definisi

Tifus abdominalis (demarn tifoid, enteric fever) ialah penyakit infeksi akut yang bias
mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada sa
cerna, dan gangguan kesadaran.

Prevalensi
Penyebab

salmonella typhii, basil Gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak bers
Mempunyai sekurang empat macam antigen, yaitu antigen (somatik), H(flagela), Vi,
protein membran hialin.
Patofisiologi
Definisi

Tifus abdominalis (demarn tifoid, enteric fever) ialah penyakit infeksi akut yang bias
mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada sa
cerna, dan gangguan kesadaran.

Gejala dan Tanda

Masa tunas 7-14 (rata-rata 3-30)hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan g
prodromal berupa rasa tidak enak badan.

Pada kasus khas terdapat demam remiten pada minggu pertama, biasanya menurun p
pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, pasien
berada dalam keadaan demam, yang turun secara berangsur-angsur pada minggu ketig

Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang di
tremor. Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan. Biasanya terdapat konst
tetapi mungkin normal bahkan dapat diare.

Patofisiologi
Diagnosa Banding

Paratifoid A, B, dan C, infeksi dengue, malaria, tuberkulosis, influenza.

Komplikasi

Perdarahan usus, perforasi usus, peritonitis, meningitis, kolesistitis, ensefalo


bronkopneumonia, hepatitis.

Pengobatan
Tirah baring total selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali. Semi
kemudian boleh duduk dan selanjutnya berdiri dan berjalan.

Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein, tidak b
mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas.

Obat terpilih adalah kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10
polis maksimal kloramfenikol 2 g/hari Kloramfenikol tidak boleh diberikan bila jumlah leu
2000/u1. Bila pasien alergi dapat diberikan golongan penisilin atau kotrimoksazol.

Pencegahan
Catatan

Bakteri masuk melalui saluran cerna, dibutuhkan jumlah bakteri 105-109untuk d


menimbulkan infeksi. sebagian besar bakteri mati oleh asam lambung. Bakteri yang t
hidup akan masuk ke dalam ileum melalui mikrovili dan mencapai plak peyeri, selanju
masuk ke dalam pembuluh darah (disebut bakteremia primer). Pada tahap berikutny
typhii rnenuju ke organ sistem retikuloendotelial yaitu hati, limpa, sumsum tulang, dan o
lain (disebut bakteremia sekunder). Kandung empedu merupakan organ yang se
terhadap infeksi S.typhii.

Umumnya baik bila pasien cepat berobat. Prognosis kurang baik bila terdapat gejala
yang berat seperti hiperpireksia atau febris kontinua; penurunan kesadaran; komplikasi b
seperti dehidrasi, asidosis, perforasi usus; dan gizi buruk.