You are on page 1of 2

Lama hari rawat pasien merupakan salah satu indikator mutu pelayanan Rumah Sakit.

Lama hari rawat


dapat menggambarkan kondisi penyakit pasien selama menjalani perawatan dan menggambarkan mutu
dan efektifitas pelayanan, pengobatan dan kinerja pelayanan Rumah Sakit (Depkes, 2005).

Studi pendahuluan yang dilakukan di ruang ICU RSUD dr.H.Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas pada
bulan Agustus 2012, terdapat 16 orang pasien dengan kelemahan fisik dan penurunan kesadaran yang
menjalani perawatan tirah baring total dan 8 orang atau 50 % diantaranya disertai dengan dekubitus.
Pasien-pasien tersebut rata-rata menjalani hari rawat antara 6 hari sampai lebih dari 12 hari. Pasien yang
tidak mengalami dekubitus menjalani lama hari rawat rata-rata kurang dari 6 hari sedangkan pasien yang
mengalami luka dekubitus menjalani hari rawat rata-rata 6 sampai lebih dari 12 hari. Dari 8 orang pasien
yang mengalami dekubitus tersebut, ada 3 orang pasien atau 38% yang sudah mengalami luka dekubitus
sebelum hari ke-6 di rawat dan ada 5 orang pasien atau 63% yang mengalami luka dekubitus setelah
menjalani hari rawat lebih dari 6 hari.

Nursalam (2011), menyatakan rata-rata lama hari rawat pasien secara umum adalah 7 sampai 10 hari.
Semakin lama hari rawat pasien di Rumah Sakit semakin beresiko pula menambah terjadinya masalah
pada pasien dan penyakitnya seperti terjadinya infeksi nasokomial dan dekubitus (Depkes, 2005).

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan pada tanggal 17 Februari 2014 pada 10 orang
pasien yang dirawat di ruang Cendrawasih 2 RSUD Arifin Achmad dengan melalui metode
wawancara, diperoleh data bahwa 8 dari 10 orang yang mengalami fraktur tulang panjang memiliki
perasaan cemas dan khawatir. Cemas yang dirasakan berhubungan dengan kondisi fisiknya saat ini,
biaya pengobatan yang salah satunya dikarenakan lamanya hari perawatan, prosedur medis yang
sedang dijalani dan yang akan dilaksanakan seperti operasi pembedahan, kondisi fisik setelah
dilakukan proses pembedahan, kegagalan operasi, dan kondisi kehidupan keluarga yang ditinggalkan.
Peneliti juga memiliki pengalaman dengan seorang pasien fraktur yang akan menjalani operasi.
Kecemasan semakin meningkat saat jadwal operasi semakin dekat. Jadwal operasi pasien tersebut
harus ditunda karena kecemasan yang dirasakan semakin tinggi. Perasaan cemas dipengaruhi oleh
ketakutan menghadapi rasa sakit, dan bagaimana proses pembedahan. Penundaan jadwal operasi
ini berdampak pada proses pemulihan pasien.

Lama rawat atau Lama Hari Rawat atau Length of Stay (LOS) adalah suatu ukuran berapa hari
lamanya seorang pasien dirawat inap pada suatu periode perawatan. Satuan lama hari rawat adalah
hari. Kemudian, cara menghitung lama hari rawat ialah dengan menghitung selisih antara tanggal
kepulangan (keluar dari rumah sakit, baik hidup atau meninggal) dengan tanggal masuk ke rumah
sakit. 10 Dalam hal ini, untuk pasien yang masuk dan keluar pada hari yang sama, lama rawatnya
dihitung sebagai 1 hari. Angka rerata lama rawat ini dikenal dengan istilah average Length of Stay
(aLOS). Mengukur rata-rata lama hari rawat yaitu membagi jumlah hari perawatan pasien rawat inap
(hidup dan mati) di rumah sakit pada periode tertentu dengan jumlah pasien rawat inap yang keluar
(hidup dan mati) di rumah sakit pada periode waktu yang sama. 23
Dalam beberapa kasus tidak cukup hanya mencatat tanggal masuk dan keluar saja, tapi juga butuh
mencatat jam pasien tersebut masuk perawatan dan keluar perawatan, terutama jika pasien
tersebut keluar dalam keadaan meninggal. 23 Lama hari rawat ini berkaitan dengan indikator
penilaian efisiensi pengelolaan rumah sakit bersama dengan tiga indikator lainnya yaitu lamanya
rata-rata tempat tidur tidak terisi (Turn Over Interval), presentase tempat tidur yang terisi atau
presentase tingkat hunian tempat tidur (Bed Occupancy Rate), dan pasien yang dirawat keluar
dalam keadaan hidup dan mati per tempat tidur yang tersedia dalam periode tertentu (Bed Turn
Over). 7,23