You are on page 1of 3

MENU

26 MARET 20154 KOMENTAR


Apakah& Masyarakat
Benar Tepat? Sudah Menggunakan Antibiotik dengan
Antibiotik adalah suatu senyawa obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri.Pada dasarnya senyawa yang ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun
1928 ini mempunya cara kerja berupa penghambatan pertumbuhan bakteri yang menyebabkan suatu
penyakit (bakteriostatis) serta membunuh bakteri penyebab suatu penyakit (bakteriosid)
Inilah beberapa anggapan masyarakat seputar Antibiotik :
Beberapa masyarakat berpendapat bahwa penggunaan antibiotic dapat mengganggu kecerdasan
anak, kemudian pada penggunaannya sendiri masyarakat sering kali tidak patuh, dan tidak jarang
masyarakat awam menganggap bahwa Antibiotik adalah obat batuk.

Jika digunakan secara tepat, antibiotik dapat menjadi suatu obat pilihan utama. Namun, jika
digunakan secara tidak tepat (tidak rasional), antibiotik akan menyebabkan bakteri resisten atau kebal
terhadap antibiotik tersebut. Sebagai akibatnya, hal tersebut akan memperlama atau bahkan
memperparah suatu kondisi penyakit, meningkatkan biaya kesehatan, angka kesakitan, dan bahkan
angka kematian. Bakteri resisten terhadap suatu antibiotic tertentu disebabkan karena cara penggunaan
antibiotic itu sendiri salah, seperti yang sering terjadi pada perilaku masyarakat yang kurang patuh
dalam melaksanakan pengobatan menggunakan antibiotic. Umumnya masyarakat akan berhenti
mengonsumsi antibiotic setelah penyakit yang dideritanya sudah dirasa membaik walaupun waktu
pengobatannya belum 3 hari tanpa mereka tahu bahwa disisi lain saat pemberhentian pengobatan
tersebut terjadi suatu proses resistensi bakteri terhadap antibiotic.

Bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah bakteri yang bermutasi atau berubah menjadi
kebal terhadap antibiotik sehingga antibiotik tidak mampu lagi menghambat pertumbuhan bakteri
ataupun mematikannya.Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resisten ini lebih sulit disembuhkan
karena bakteri ini menghasilkan enzim atau protein yang bisa menghancurkan antibotik.

Proses resistensi antibiotik sebenarnya merupakan proses normal. Artinya, jika antibiotik
digunakan secara terus menerus, bakteri akan melakukan upaya untuk mempertahankan diri sehingga
lama kelamaan mempunyai kemampuan untuk kebal terhadap antibiotik tersebut. Namun, proses
resistensi ini bisa dipercepat apabila antibiotik digunakan secara tidak tepat.

Contoh lain penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah penggunaan antibiotik pada kondisi
yang seharusnya tidak memerlukan antibiotik. Sebagai contoh adalah pengobatan penyakit infeksi oleh
virus, dan yang perlu diketahui antibiotik adalah obat untuk mengobati infeksi karena
bakteri.Sedangkan virus sendiri berbeda dengan bakteri. Pada infeksi virus adalah self-limited disease,
infeksi bisa sembuh sendiri dan tidak memerlukan antibiotik. dapat juga saat kita membeli antibiotik
sendiri tanpa resep dokter (over the counter/otc), ataupun meminum antibiotik dengan dosis yang tidak
tepat, menyimpan antibiotik untuk persediaan bila sakit, atau memakai resep orang lain untuk membeli
antibiotik tanpa konsultasi dengan dokter.
Akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menyebabkan antibiotic tidak bekerja secara
maksimal, dan akhirnya tidak akan menyembuhan infeksi bakteri tersebut malahan akan memperparah
keadaan. Misalnya ketika mengkonsumsi antibiotic dan tidak dihabiskan itu akan mengakibatkan
resistensi atau bateri akan kebal terhadap antibiotic tersebut dan ketika kita akan membunuh si bakteri
tersebut dengan antibiotic yang sama maka akan memerlukan dosis yang leih tinggi atau bahkan akan
memerlukan suatu kombinasi antibiotic. Ketidak patuhan pasien dalam mengkonsumsi antibiotic
dimana penggunaanya harus dihabiskan akan meningkatkan resistensi.

Persepsi masyarakat yang salah terhadap penggunaan antibiotik


1. Infeksi saluran pernapasan akut bagian atas (ISPA)
Penyakit yang tergolongan kedalam ISPA yaitu flu atau infeksi batuk pilek biasa yang disertai
demam (radang tenggorokan).Jenis penyakit ini sering diatasi dengan antibiotic.Padahal penyebab
terbanyak ISPA adalah akibat infeksi virus. Terutama pada anak-anak di bawah usia 8 tahun, dikatakan
80% penyebabnya adalah virus.Jika inveksi virus ditangani dengan antibiotic yang pada dasarnya
pengobatan untuk infeksi bakteri maka disini terjadi kesalahan dalam pengobaan.Seharusnya jika
infeksi terjadi karena virus maka harus digunakan obat-obat antivirus bukan antibiotic.
Biasanya inveksi virus tergolong kedalam self-limited disease dimana infeksi ini bisa sembuh
sendiri dan tidak memerlukan antibiotik.Pada infeksi saluran napas akibat virus, antibiotik tidak
mengurangi lama sakit dan tidak mengurangi gejala. Gejala akan sembuh sendiri apabila kekebalan
tubuh sudah membunuh virus tersebut. Pada penyakit ISPA, pasien dianjurkan untuk lebih banyak
minum dan istirahat yang cukup bukan mengkonsumsi antibiotic karena pada saat demam (suhu tubuh
37.50C) tubuh banyak kehilangan cairan tubuh. Dengan banyak minum juga dapat membantu
mengencerkan lender sehingga akan lebih mudah untuk diserap oleh tubuh yang akhirnya dapat
meredakan batuk dengan cepat.
Dengan demikian, penggunaan antibiotik harus dilakukan jika terkena infeksi bakteri bukan
karena infeksi virus. Biarkan dokter yang memutuskan apakah infeksi saluran napas yang diderita
disebabkan oleh virus atau oleh bakteri. Antibiotic tidak berguna untuk mengobati infeksi yang
disebabkan oleh virus.

2. Diare
Virus adalah penyebab diare karena infeksi yang paling sering menyebabkan beberapa kasus
diare. Infeksi tersebut ditandai dengan adanya berak atau feses yang konsistensinya lebih encer dan
lebih sering dari biasanya serta berak tanpa disertai darah. Diare sebetulnya bukan penyakit melainkan
gejala suatu penyakit. Bayi dan anak yang terserang flu biasanya disertai gejala diare juga selain batuk
pileknya .Orang dewasa sering kembung , dan mungkin mencret jika sedang tidak enak badan. Itu gejala
normal . Diare tidak perlu diobati . Begitu masuk anginnya sembuh , diare akan reda dengan sendirinya
.Lagi-lagi, antibiotik tidak diperlukan pada kasus ini. Pemberian antibiotik malah bisa menyebabkan
matinya kuman baik atau flora normal di usus sehingga kuman yang tidak baik akan bisa berkembang
biak dengan leluasa.
Ini akan membuat diare makin parah dan lama sembuh. Diare juga sering muncul jika ada
gangguan hati. Demikian pula jika terjadi gangguan kelenjar ludah perut pancreas, gangguan kelenjar
empedu , atau jika ada reaksi alergi saluran pencernaan. Ada orang yang tidak tahan terhadap suatu
jenis makanan atau minuman tertentu , reaksinya akan diare juga . Jadi dalam hal ini , diare sebagai
suatu gejala sedangkan pengobatan dilakukan untuk mengatasi penyebabnya, bukan diarenya. Tubuh
sendiri sesungguhnya memiliki mekanisme untuk menyetop diare ,jika yang terganggu fungsi
pencernaanya.

Dalam hal diare infeksi pun sebetulnya ada pendapat tidak perlu segera menyetop diarenya ,
oleh karena dengan menyetop diarenya , bibit penyakit yang ada dalam usus gagal dibuang keluar. Kita
tahu sendidri kalau diare adalah mekanisme tubuh untuk mengenyahkan bibit penyakit
diperut.Antibiotik hanya diperlukan untuk membunuh kuman , atau amuba dan pada kasus diare yang
disertai dengan darah.

Bagaimana cara mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak tepat?


Jangan meminta antibiotik kepada dokter, biarkan dokter yang memutuskan kapan Anda
memerlukan antibiotik.
Apabila antibiotik memang diperlukan, minumlah sesuai dengan anjuran. Sebagai contoh, Anda
diminta meminum antibiotik 3 kali sehari, maka obat tersebut harus diminum setiap 8 jam (24
jam dibagi 3).
Habiskan antibiotik, jangan hentikan hanya karena Anda merasa penyakit sudah membaik.
Jangan pernah membeli dan menyimpan antibiotik untuk persediaan, atau menggunakan resep
orang lain untuk diri Anda.
Antibiotik merupakan obat yang sangat kuat dan bermanfaat, tetapi antibiotik bukan selalu merupakan
jawaban untuk penyakit infeksi. Apabila menggunakan antibiotik secara berlebihan dan tidak tepat, hal
tersebut akan memungkinkan nantinya antibiotik tidak bisa bekerja dengan baik untuk melawan infeksi
bakteri. Untuk meningkatkan penggunaan antibiotik dengan tepat memerlukan kerjasama dari seluruh
lapisan masyarakat.

Jadi dapat di simpulkan bahwa masyarakat kita masih belum bisa menggunakan antibiotik dalam
pengobatannya secara benar dan tepat, dari beberapa uraian di atas dapat menunjukkan sikap
masyarakat kita dapat di bilang masih seenaknya sendiri dalam menggunakan antibiotik.

Kita semua mempunyai peran untuk menjaga agar antibiotik tetap bisa digunakan dan bermanfaat.
Khususnya orang orang yang berkecimpung di dunia kesehatan. Mulai dari dokter, agar selalu
berpedoman pada acuan untuk menentukan apakah antibiotik benar-benar perlu diberikan kepada
pasien. Pasien pun tidak membeli sendiri antibiotik tanpa anjuran dokter, serta meminum antibiotik
sesuai dengan aturan apabila memang diperlukan. Begitupun dengan farmasis, seharusnya mampu
memberikan swamedikasi pengobatan dengan menggunakan antibiotik secara benar. Kemudian pihak
distributor dan penjual obat resmi agar tidak melayani pembelian antibiotik tanpa resep dokter.
Pemerintah seharusnya memberikan sanksi yang tegas untuk pemakaian antibiotik yang tidak tepat.
Apabila semua ini bisa berjalan beriringan, niscaya penggunaan antibiotik akan menjadi tepat di
jalannya. Dengan demikian, penggunaan antibiotik akan sesuai dengan tujuan semula saat antibiotik
pertama kali ditemukan bahwa antibiotik mampu menyelamatkan banyak nyawa.

// Rubrik Kesehatan Majalah 1000guru September 2011 //


By Nina iklan-iklan
Tentang Dwi Saraswati
ini (1208010003)
Bagikan ini:

Twitter
Facebook
Google

Navigasi pos
NEXT

4 thoughts on Apakah
Masyarakat Sudah Menggunakan
Antibiotik dengan Benar & Tepat?
1.
yang ditulis sudah bagusmaaf saya mau tanya nih
obat jerawat dalam bentuk salep, krim atau gel juga terdapat antibiotik. Apakah obat tsb juga
dapat menimbulkan resistensi? lalu apakah penggunaanya juga harus dihabiskan? dan
bagaimana cara mengetahui obat tersebut sudah resisten/tidak terhadap kulit kita?

suci afiati(1208010073)