You are on page 1of 21

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Ulkus Kornea Infeksi

Ulkus kornea akibat infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, virus,

maupun parasit.1

2.3.1. Ulkus Kornea Bakteri

2.3.1.1. Etiologi Ulkus Kornea Bakteri

Bakteri yang dapat menyebabkan ulkus kornea cukup bervariasi, yaitu

Streptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Moraxella liquefaciens,

Streptococcus -hemolyticus grup A, Staphylococcus aureus, Staphylococcus

epidermidis, Streptococcus -hemolyticus, Mycobacterium fortuitum-chelonei, dan

Nocardia.1 Selain itu, Neisseria, Corynebacterium diptheriae, Shigella, Haemophillus

aegyptus, dan Listeria monocytogenes juga dapat menjadi bakteri penyebab ulkus

kornea.2 Pada penelitian yang dilakukan di poliklinik Rumah Sakit Mata Daerah

Warangal, didapatkan etiologi bakteri terbanyak adalah organisme Gram positif.3

2.3.1.2. Faktor Risiko Ulkus Kornea Bakteri

Faktor risiko pada ulkus kornea yang disebabkan bakteri terdiri atas trauma

kornea, pembedahan kornea, penggunaan lensa kontak, mata kering, dan abnormalitas

kelopak mata.2

2.3.1.3. Patogenesis Ulkus Kornea Bakteri

Neisseria, Corynebacterium, Shigella, Haemophilus aegyptus, dan Listeria

monocytogenes dapat menyebabkan ulkus kornea melalui penetrasi epitel yang masih

1
intak. Bakteri lainnya seperti Staphylococcus, Streptococcus, dan Pseudomonas

menyebabkan infeksi melalui defek epitel.2

Sumber infeksi dapat berasal dari eksogen, jaringan okular, maupun endogen.

Sumber eksogen berasal dari saccus konjungtiva, saccus lakrimalis (dakriosistitis),

korpus alienum yang terinfeksi, material vegetatif yang terinfeksi, dan infeksi yang

berasal dari water-borne atau air-borne. Kelainan pada konjungtiva dapat menyebar

ke epitel kornea sedangkan kelainan pada sklera dapat menyebar ke lapisan stroma

kornea. Kelainan pada traktus uvea juga dapat menyebar ke endotel kornea. Sumber

infeksi endogen pada kornea sangat jarang karena sifat kornea yang avaskular.4

Pada umumnya, terdapat beberapa kondisi yang dibutuhkan dari bakteri

penyebab untuk menghasilkan ulkus kornea. Kondisi tersebut meliputi adanya abrasi

kornea (akibat adanya korpus alienum yang kecil, trikiasis, dan trauma minimal),

epitel kornea yang kering (pada xerosis), nekrosis epitel (pada keratomalasia),

deskuamasi sel-sel epitel (akibat udem kornea), dan kerusakan epitel lainnya.4

Setelah epitel kornea yang rusak diinvasi oleh agen penyebab, proses

pembentukan ulkus kornea dapat dikelompokkan ke dalam empat stadium, yaitu

infiltrasi, ulserasi aktif, regresi, dan pembentukan sikatrik. Akhir dari perjalanan

ulkus kornea tergantung pada virulensi agen penyebab, mekanisme pertahanan tubuh

host, dan pengobatan yang diberikan. Pada umumnya, bentuk ulkus kornea

merupakan salah satu dari kondisi berikut, yaitu ulkus yang terlokalisir dan sembuh,

ulkus yang mengalami penetrasi lebih dalam sehingga terjadi perforasi kornea, atau

ulkus yang menyebar cepat ke seluruh kornea disertai pengelupasan.4

2.3.1.3.1. Patogenesis pada Ulkus Kornea Lokal4

2
Stadium infiltrasi ditandai dengan infiltrasi sel-sel polimorfonuklear dan/atau

limfosit pada epitel kornea yang berasal dari sirkulasi perifer maupun stroma jika

jaringan tersebut terinfeksi. Akibatnya, nekrosis jaringan dapat terjadi tergantung

virulensi agen penyebab dan imunitas host.

Pada stadium ulserasi aktif, ulkus berasal dari nekrosis dan pengelupasan

epitel, membran Bowman, dan stroma. Dinding pada ulkus yang aktif menonjol

karena pembengkakan lamela akibat imbibisi cairan dan massa leukosit di antaranya.

Zona ini dapat meluas ke sekitarnya. Pada stadium ini, tepi dan dasar ulkus dapat

berwarna keabu-abuan. Hiperemis di sekitar kornea akan ditemukan dan

menyebabkan akumulasi eksudat purulen pada kornea. Selain itu, iris dan korpus

siliaris mengalami kongesti vaskular. Iritis dapat terjadi akibat absorpsi toksin yang

berasal dari ulkus. Eksudasi pada kamera okuli anterior yang berasal dari pembuluh

darah iris dan korpus siliaris dapat menyebabkan terbentuknya hipopion.

Pada stadium regresi, proses yang terjadi disebabkan oleh respon imun selular

dan humoral maupun pengobatan yang diberikan. Garis demarkasi akan terbentuk di

sekitar ulkus dan terdiri atas leukosit yang memfagosit organisme serta debris seluler

nekrotik. Digesti material nekrotik dapat menyebabkan pembesaran ukuran ulkus.

Proses ini biasanya disertai dengan vaskularisasi superfisial yang meningkatkan

respon imun humoral dan seluler. Ulkus mulai membaik dan epitel mulai tumbuh di

sudut-sudut ulkus.

Setelah itu, proses penyembuhan tetap berlanjut pada stadium pembentukan

sikatrik melalui proses epitelisasi. Pada lapisan di bawah epitel, terdapat jaringan

fibrosa yang sebagian dibentuk oleh sel fibroblast kornea dan sebagian lagi dibentuk

3
oleh sel endotel pembuluh darah baru. Stroma akan menebal dan mengisi lapisan di

bawah epitel dan menekan permukaan epitel ke arah anterior. Derajat sikatrik yang

terbentuk cukup bervariasi. Jika ulkus sangat superfisial dan hanya melibatkan epitel,

penyembuhan akan terjadi tanpa meninggalkan opasitas. Pada ulkus yang melibatkan

membran Bowman dan beberapa lamela stroma yang superfisial, skar yang terbentuk

disebut sebagai nebula. Makula dan leukoma akan terbentuk setelah penyembuhan

ulkus yang melibatkan lebih dari sepertiga stroma kornea.

a B

c D
Gambar 2.X. Stadium Pembentukan Ulkus Kornea (a) Stadium Infiltrasi (b)
Stadium Ulserasi Aktif (c) Stadium Regresi (d) Stadium Pembentukan
Sikatrik4

2.3.1.3.2. Patogenesis pada Ulkus Kornea Perforasi

Ulkus kornea perforasi terjadi jika ulkus terbentuk lebih dalam dan mencapai

membran Descemet. Membran ini sangat kuat dan akan menonjol sebagai

descematocele. Pada stadium ini, semua aktivitas pasien seperti batuk, bersin,

mengedan, dan lain-lain akan menyebabkan perforasi pada ulkus kornea. Setelah itu,

4
aquous humor akan segera keluar, tekanan intraokular akan menurun, dan iris-lensa

maju ke depan. Efek perforasi tergantung pada letak dan ukuran perforasi. Jika

perforasi kecil dan berhadapan dengan jaringan iris, bagian itu akan tertutup dan

cepat sembuh dengan sikatrik.4

Gambar 2.X. Descematocele4

2.3.1.3.3. Patogenesis Ulkus Kornea yang Mengelupas

Jika agen penyebab infeksi sangat virulen dan/atau imunitas tubuh yang

sangat rendah, seluruh kornea akan mengelupas kecuali pada lingkaran sempit pada

daerah pinggir kornea dan prolaps iris total terjadi. Iris akan mengalami inflamasi dan

eksudat menutupi pupil dan permukaan iris sehingga kornea palsu akan terbentuk.

Eksudat tersebut akan membentuk lapisan fibrosa tipis pada epitel kornea atau

konjungtiva yang cepat tumbuh sehingga pseudokornea terbentuk. Pseudokornea ini

sangat tipis dan tidak dapat menahan tekanan intraocular sehingga akan menonjol

(bulging) keluar bersama jaringan iris. Sikatrik ini disebut sebagai staphyloma

anterior baik itu parsial maupun total. Pita jaringan sikatrik pada staphyloma

bervariasi menghasilkan permukaan yang berlobus-lobus dan sering berwarna hitam

bersama jaringan iris sehingga membentuk gambaran sekelompok anggur hitam.4

5
2.3.1.4. Manifestasi Klinis Ulkus Kornea Bakteri

Gambaran klinis pada ulkus kornea akibat bakteri tergantung pada virulensi

mikroorganisme, toksin dan enzim yang dihasilkan mikroorganisme, serta respon

imun host. Ulkus kornea bakteri dapat bermanifestasi sebagai ulkus kornea purulen

tanpa hipopion atau ulkus kornea hipopion.4

Pada umumnya, gejala klinis ulkus kornea bakteri berupa nyeri dan sensasi

benda asing (akibat efek mekanik kelopak mata dan efek kimia dari toksin pada nerve

ending yang terkena), mata berair (refleks hiperlakrimasi), fotofobia (intoleransi

cahaya akibat stimulasi nerve ending), pandangan kabur (kornea yang keruh), dan

mata merah (kongesti pembuluh darah sirkumkorneal).4

Tanda klinis pada ulkus kornea bakteri berupa edema kelopak mata,

blefarospasme, kemosis konjungtiva, injeksi konjungtiva dan siliaris, serta ditemukan

ulkus kornea. Ulkus kornea awalnya tampak sebagai defek epitel dengan infiltrat

putih keabu-abuan dengan batas tegas. Selanjutnya, defek epitel dan infiltrat meluas

dan edema stroma terjadi. Ulkus kornea yang jelas ditandai dengan area ulkus

berwarna putih kekuningan dengan bentuk bulat atau ireguler, batas ulkus mengalami

edema, dasar ulkus ditutupi material nekrotik, dan edema stroma di sekitar area ulkus.

Kamera okuli anterior dapat disertai hipopion. Pupil dapat mengalami miosis akibat

iritis yang diinduksi toksin. Tekanan intraocular terkadang bisa meningkat pada

kondisi inflammatory glaucoma.4

6
(a) (b)
Gambar 2.X Ulkus Kornea (a) Stadium Awal (b) Stadium Akhir6
Sebagian bakteri penyebab ulkus kornea bakteri memiliki karakteristik yang

khas. Pada infeksi Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumonia, ulkus oval

berwarna kekungingan, opak, dan dikelilingi oleh kornea yang relatif jernih. Pada

infeksi Pseudomonas, ulkus berbentuk ireguler dengan eksudat tebal mukopurulen.

Ulkus ini menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan perforasi dalam 48-72

jam.4

(a) (b)
Gambar 2.X. Ulkus Kornea Bakteri (a) Pneumococcus4 (b) Pseudomonas5

2.3.1.5. Pemeriksaan Penunjang Ulkus Kornea Bakteri

Kerokan pada ulkus kornea biasanya ditemukan bakteri penyebab, misalnya

kokus Gram positif pada infeksi pneumokokal dan basil Gram negatif pada infeksi

Pseudomonas.1 Kerokan dilakukan pada dasar dan tepi ulkus dalam anestesi lokal

7
(xylocaine 2%) menggunakan spatula Kimura yang sudah dimodifikasi. Sampel yang

diperoleh selanjutnya diperiksa menggunakan pewarnaan Gram dan Giemsa serta

kultur pada agar media darah untuk organisme aerobik.4

Gambar 2.X. Pewarnaan Gram Ulkus Kornea Bakteri dan Media Kultur10

2.3.1.6. Penatalaksanaan Ulkus Kornea Bakteri

Ulkus kornea bakteri merupakan kondisi yang mengancam penglihatan dan

membutuhkan penatalaksanaan segera dengan mengidentifikasi serta mengeradikasi

bakteri penyebab.4 Respon perbaikan yang diharapkan dari pengobatan ulkus kornea

bakteri terdiri dari perbaikan visus, berkurangnya infiltrat (densitas dan ukuran),

edema stroma, plaq endotel, reaksi di kamera okuli anterior, hipopion, dan terjadi

reepitelisasi.2

2.3.1.6.1. Ulkus Kornea Bakteri Tanpa Komplikasi

Prinsip penatalaksanaan ulkus kornea terdiri atas pengobatan spesifik etiologi,

terapi suportif nonspesifik, dan terapi umum.4

a. Pengobatan spesifik

Terapi topikal inisial sebelum hasil kultur dan sensitivitas keluar harus

kombinasi terapi untuk mikroorganisme Gram positif dan negatif.

8
Kombinasi gentamisin atau tobramisin dengan sefazolin tetes mata dapat

diberikan setiap atau 1 jam selama beberapa hari pertama lalu dikurangi

setiap 2 jam. Setelah respon yang diinginkan tercapai, obat tetes mata

tersebut dapat diganti dengan obat tetes mata siprofloksasin (0,3%),

ofloksasin (0,3%), atau gatifloksasin (0,3%).4

Antibiotik sistemik biasanya tidak dibutuhkan. Namun, kombinasi

sefalosporin dan aminoglikosida atau siprofloksasin oral (750 mg 2x

sehari) dapat diberikan pada kasus berat dengan perforasi atau jika sklera

ikut terlibat.4

b. Terapi nonsuportif nonspesifik

Pemberian obat-obat sikloplegik dapat diberikan untuk mengurangi nyeri

karena spasme otot siliaris dan untuk mencegah pembentukan sinekia

posterior dari iridosiklitis sekunder. Obat pilihan yaitu atropin 1%. Atropin

juga meningkatkan aliran darah ke uvea anterior dengan mengurangi

tekanan pada arteri siliaris anterior dan membawa lebih banyak antibodi

ke aquous humor. Obat ini juga mereduksi eksudasi dengan menurunkan

hiperemis dan permeabilitas vaskular. Sikloplegik lainnya yang dapat

diberikan adalah homatropin 2%.4

Pemberian obat analgesik dan antiinflamasi seperti parasetamol dan

ibuprofen dapat mengurangi nyeri dan menurunkan edema. Vitamin A, B

kompleks, dan C dapat mempercepat penyembuhan ulkus.4

c. Terapi umum

9
Pemberian bahan-bahan yang bersifat hangat dapat memberikan rasa

nyaman, mengurangi nyeri, dan menyebabkan vasodilatasi. Kacamata

gelap dapat digunakan untuk mencegah fotofobia. Istirahat, nutrisi yang

baik, dan udara segar dapat memberikan efek yang menenangkan.4

2.3.1.6.2. Ulkus Kornea Bakteri yang Tidak Ada Perbaikan

Jika progresivitas ulkus tetap bertambah setelah pemberian pengobatan di

atas, hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan penyebab kondisi

tersebut. Penyebab yang sering dapat dibedakan menjadi penyebab lokal dan

penyebab sistemik. Sumber-sumber penyebab lokal misalnya peningkatan tekanan

intraokular, lithiasis, trikiasis, korpus alienum, dakriosistitis, terapi yang inadekuat,

diagnosis yang salah, lagoftalmus, dan vaskularisasi berlebihan pada ulkus. Penyebab

sistemik berupa diabetes melitus, anemia berat, malnutrisi, dan pasien dengan

pengobatan steroid sistemik.4

Langkah lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan

debridement mekanik untuk membuang material nekrotik dengan mengkerok dasar

ulkus menggunakan spatula dalam anestesi lokal. Kauterisasi ulkus juga dapat

dipertimbangkan dengan menggunakan asam karbolat atau asam trikloraasetat 10-

20%. Penekanan dengan menggunakan lensa kontak lunak (soft contact lens) juga

dapat membantu penyembuhan. Peritomi, yaitu pemotongan pembuluh darah

konjungtiva perilimbal dapat dilakukan saat vaskularisasi kornea yang berlebihan

memperlambat penyembuhan ulkus.4

2.3.1.6.3. Ulkus Kornea Bakteri yang Sedang Berkembang Menjadi Perforasi

10
Jika perforasi ulkus kornea akan segera terjadi, ada hal-hal yang harus

diperhatikan pada pasien. Pasien harus menghindari bersin, batuk, dan mengedan

selama buang air besar serta harus tirah baring. Perban pada mata dapat diberikan

sebagai usaha suportif dari eksternal. Pemberian asetazolamid 250 mg 4x sehari per

oral, drip manitol (20%) intravena, gliserol oral 2x sehari, timolol 0,5% tetes mata 2x

sehari, dan bahkan parasentesis dengan evakuasi aquous yang pelan pada kamera

okuli anterior dapat dilakukan jika dibutuhkan. Pemberian lem adhesive jaringan

seperti cynoacrylate dapat membantu mencegah perforasi. Flap konjungtiva yang

menutup komplit atau parsial dari kornea juga dapat memberikan dukungan pada

jaringan yang lemah. Penekanan menggunakan lensa kontak lunak juga dapat

diberikan. Di samping itu, penetrating therapeutic keratoplasty (graft tektonik) dapat

diberikan jika memungkinkan.4

2.3.1.6.4. Ulkus Kornea Bakteri Perforasi

Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan mencegah perforasi. Namun,

jika perforasi terjadi, penatalaksanaan segera harus dilakukan untuk memulihkan

integritas kornea yang mengalami perforasi. Penatalaksanaan yang diberikan

tergantung pada ukuran perforasi dan ketersediaan alat, misalnya lem adhesif

jaringan, flap konjungtiva, penekanan dengan lensa kontak lunak, atau keratoplasti

terapeutik. Pilihan terbaik yang dilakukan adalah keratoplasti terapeutik segera.4

2.3.1.7. Komplikasi Ulkus Kornea Bakteri

Komplikasi dari ulkus kornea bakteri adalah iridosiklitis toksik, glaukoma

sekunder, Descematocele, perforasi, dan pembentukan sikatrik. Iridosiklitis toksik

biasanya berhubungan dengan ulkus kornea purulen akibat absorpsi toksin ke dalam

11
kamera okuli anterior. Glaukoma sekunder terjadi karena eksudat yang kaya akan

fibrin menutupi sudut kamera okuli anterior (inflammatory glaucoma).

Descematocele atau keratocele merupakan tanda perforasi yang akan segera terjadi

dan biasanya disertai dengan nyeri yang berat. Setelah perforasi terjadi, nyeri segera

menurun dan pasien merasakan cairan yang panas (aquous humor) keluar dari mata.4

Sekuele dari perforasi kornea cukup bervariasi. Prolaps iris terjadi segera

setelah perforasi. Subluksasi atau dislokasi anterior lensa dapat terjadi akibat

peregangan mendadak atau ruptur zonula pada lensa. Katarak kapsular anterior dapat

terbentuk jika lensa berkontak dengan ulkus setelah perforasi pada daerah pupil.

Fistula kornea juga dapat terbentuk jika perforasi pada daerah pupil dan tidak ditutupi

oleh iris. Fistula ini biasanya dilapisi oleh epitel dan kebocoran aquous humor terus

terjadi. Uveitis purulen, endoftalmitis, atau panoftalmitis dapat terjadi akibat

penyebaran infeksi intraocular. Perdarahan intraokular dalam bentuk perdarahan

vitreus atau perdarahan koroid ekspulsif bisa terjadi pada pasien dengan penurunan

tekanan intraokular yang mendadak.4

Sikatrik pada kornea merupakan akhir dari perbaikan ulkus kornea dan

biasanya menyebabkan gangguan visual permanen mulai dari sedikit kabur hingga

buta total. Berdasarkan perjalanan klinis ulkus, sikatrik kornea yang terbentuk dapat

berupa nebula, makula, leukoma, sikatrik ektatik atau kerektasia, leukoma adherent,

atau staphyloma anterior.4

2.3.1.8. Prognosis Ulkus Kornea Bakteri

12
Prognosis ulkus kornea bakteri pada umumnya bervariasi. Kondisi yang dapat

mengancam fungsi penglihatan adalah ulkus yang berukuran > 1-2 mm, berada pada

jalur visual, atau tidak responsif dengan pengobatan awal.7

2.3.2. Ulkus Kornea Jamur

2.3.2.1. Etiologi Ulkus Kornea Jamur

Spesies jamur yang dapat menyebabkan ulkus kornea dapat dibagi menjadi

jamur berbentuk filamen (Aspergillus, Fusarium, Alternaria, Cephalosporium,

Curvularia, dan Penicillium) atau berbentuk ragi (Candida dan Cryptococcus). Jamur

penyebab tersering ulkus kornea adalah Aspergillus, Candida, dan Fusarium.2

2.3.2.2. Faktor Risiko Ulkus Kornea Jamur

Faktor risiko ulkus kornea jamur terdiri dari trauma pada kornea yang berasal

dari material vegetatif (daun hasil panen, ranting pohon, jerami, rumput kering, sayur-

sayuran), trauma oleh ekor hewan, penggunaan lensa kontak, penggunaan steroid atau

antibiotik topikal, defek epitel yang tidak sembuh, dan penurunan sistem imun.2,4

2.3.2.3. Manifestasi Klinis Ulkus Kornea Jamur

Gejala yang ditemukan pada ulkus kornea jamur hampir sama dengan ulkus

kornea bakteri. Namun, perjalanan penyakit ini umumnya lebih lambat. Tanda klinis

yang dapat ditemukan berupa adanya ulkus kornea yang tampak kering dan berwarna

putih keabu-abuan dengan batas yang licin dan terangkat. Perluasan ulkus seperti jari

dapat ditemukan pada stroma di bawah epitel yang masih intak. Cincin imun

demarkasi yang berwarna kuning dapat ditemukan sebagai tempat bertemunya

antigen dan antibodi. Sejumlah lesi satelit kecil dan multipel bisa ditemukan di sekitar

13
ulkus. Hipopion yang besar biasanya ada walaupun ulkus berukuran kecil dan dapat

tidak steril karena jamur mampu melakukan penetrasi ke kamera okuli anterior tanpa

perforasi. Perforasi pada tipe ulkus ini sangat jarang dan vaskularisasi kornea tidak

ada.4

Gambar 2.X. Ulkus Kornea Jamur5,8,9

2.3.2.4. Pemeriksaan Penunjang Ulkus Kornea Jamur

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah dengan sediaan KOH,

calcofluor white, dan pewarnaan Gram untuk melihat hifa jamur serta kultur pada

agar media Sabouraud.4

(a) (b)
Gambar 2.X. Pemeriksaan Penunjang Ulkus Kornea Jamur (a) Gram (b) KOH9,10

2.3.2.5. Penatalaksanaan Ulkus Kornea Jamur

14
Pengobatan spesifik yang diberikan adalah obat topikal antijamur tetes mata

selama 6-8 minggu, misalnya natamycin (5%), flukonazol (0,2%), dan nistatin

(3,5%). Obat-obatan antijamur sistemik seperti flukonazol atau ketokonazol selama 2-

3 minggu diindikasikan pada kasus yang berat. Keratoplasti terapeutik dapat

dilakukan jika tidak ada perbaikan.4

2.3.3. Ulkus Kornea Virus

2.3.3.1. Etiologi Ulkus Kornea Virus

Virus yang sering menyebabkan ulkus kornea adalah virus herpes simplek

(HSV-1 dan HSV-2).11

2.3.3.2. Faktor Risiko Ulkus Kornea Virus

Faktor risiko infeksi HSV adalah demam, paparan sinar UV, kelelahan, trauma

ringan pada mata, stres, pemberian steroid topikal atau sistemik serta agen

imunosupresan.4

2.3.3.3. Patogenesis Ulkus Kornea Virus

Virus HSV-1 diperoleh dari ciuman atau kontak dekat dengan pasien yang

mengalami herpes labialis. Virus HSV-2 diperoleh pada neonatus melalui genitalia

ibu yang terinfeksi. Bentuk infeksi pada mata terbagi atas infeksi herpes primer

(ulkus dendritik) dan rekurens (ulkus dendritis atau geografik).4

Infeksi primer terjadi pada seseorang dengan kondisi imun yang belum

matang, biasanya pada anak-anak usia 6 bulan 5 tahun. Bentuk ini bersifat self-

limited dan virus akan bergerak menuju ganglion trigeminal sehingga terjadi infeksi

15
laten. Virus yang dorman akan mengalami reaktivasi pada kondisi-kondisi tertentu

dan menyebabkan infeksi rekurens.4

2.3.3.4. Manifestasi Klinis Ulkus Kornea Virus

Gejala dini pada infeksi virus herpes simplek diawali dengan injeksi siliar

yang kuat disertai dataran sel di permukaan epitel kornea. Gejala lainnya berupa rasa

nyeri, fotofobia, dan lakrimasi. Pada ulkus dendritik, ulkus berbentuk ireguler dan

bercabang seperti garis zigzag. Selain itu, terdapat bulatan di akhir cabang ulkus dan

dasar ulkus akan diwarnai dengan fluorescein. Sensasi kornea juga mengalami

penurunan. Pada ulkus geografik, cabang ulkus dendritik membesar dan membentuk

ulkus epitel yang lebih besar seperti amoeboid. Penggunaan steroid pada ulkus

dendritik akan mempercepat pembentukan ulkus geografik.4,11

(a) (b)
Gambar 2.X. Ulkus Kornea (a) Dendritik (b) Geografik10
4

2.3.3.5. Pemeriksaan Penunjang Ulkus Kornea Virus

Kerokan dari lesi epitel akan ditemukan sel-sel raksasa multinuklear. Namun,

ulkus dapat ditegakkan secara klinis berdasarkan bentuk ulkus yang khas dan

penurunan sensasi kornea. Selain itu, pemeriksaan PCR juga dapat dilakukan dari

jaringan yang terinfeksi.1

16
2.3.3.6. Penatalaksanaan Ulkus Kornea Virus

Obat antiviral merupakan lini pertama saat ini. Salep mata asiklvoir 3%

diberikan 5x sehari hingga ulkus membaik selanjutnya 3x sehari selama 5 hari. Obat

ini kurang toksik dan lebih banyak digunakan. Obat mengalami penetrasi melalui

epitel kornea dan stroma serta mencapai level terapeutik pada aquous humor. Obat

lainnya berupa obat tetes mata triflurotimidin 1% setiap 2 jam hingga ulkus membaik

dan dilanjutkan 4x sehari selama 5 hari atau salep mata adenin arabinosid 3% 5x

sehari sampai ulkus membaik dan dilanjutkan 3x sehari selama 5 hari.4

Lesi biasanya akan sembuh dalam waktu 4 hari dan sempurna dalam 10 hari.

Setelah sembuh, obat tersebut diturunkan dan berhenti dalam 5 hari. Jika tidak ada

respon setelah 7 hari pengobatan, virus kemungkinan mengalami resistensi sehingga

jenis obat dapat diganti dan/atau dengan melakukan debridement mekanik.

Debridement mekanik melibatkan area epitel yang sehat di sekeliling ulkus dengan

menggunakan cotton applicator steril di bawah pembesaran dapat dilakukan untuk

membuang sel yang mengandung virus.4

2.3.4. Ulkus Kornea Parasit

2.3.4.1. Etiologi Ulkus Kornea Parasit

Parasit yang biasanya menyebabkan ulkus kornea adalah Acanthamoeba sp.

Parasit ini ditemukan di tanah dan air yang tercemar.4

2.3.4.2. Faktor Risiko Ulkus Kornea Parasit

Sumber infeksi dari ulkus kornea Acanthamoeba adalah pengguna lensa

kontak (menggunakan air salin buatan rumah atau air keran maupun tablet salin yang

17
terkontaminasi), trauma ringan dengan sayur yang terkontaminasi, perenang, angin,

penggunaan hot tub, paparan air berlumpur, dan infeksi oportunistik (pada keratitis

herpetik dan keratitis bakterial).2,4

2.3.4.3. Patogenesis Ulkus Kornea Parasit

Acanthamoeba sp cukup sering dalam bentuk kista walaupun dalam kondisi

lingkungan yang sesuai, kista dapat berubah ke dalam bentuk tropozoit. Bentuk ini

menghasilkan sejumlah enzim yang dapat menyebabkan penetrasi dan kerusakan

jaringan.10

2.3.4.4. Manifestasi Klinis Ulkus Kornea Parasit

Gejala klinis ulkus kornea Acanthamoeba adalah nyeri yang sangat berat

(tidak sebanding dengan derajat inflamasi), lakrimasi, fotofobia, blefarospasme, dan

pandangan kabur. Ulkus ini berkembang perlahan-lahan selama beberapa bulan dan

disertai remisi sementara. Tanda klinis pada infeksi ini cukup bervariasi. Lesi awal

berupa limbitis, garis-garis opak, epitel dan subepitel opak yang halus, dan

keratoneuritis radial dalam bentuk infiltrat bersama nervus di kornea. Pada kasus

lanjut, lesi terletak di sentral atau parasentral, berbentuk cincin dengan infiltrat stroma

dan defek pada epitel, bahkan bisa membentuk absen cincin. Hipopion juga dapat

ditemukan.4

18
Gambar 2.X. Ulkus Kornea Acanthamoeba10

2.3.4.5. Pemeriksaan Penunjang Ulkus Kornea Parasit

Kerokan pada lesi kornea dapat menunjukkan adanya kista Acanthamoeba

pada sediaan KOH dan pewarnaan calcofluor menunjukkan kista berwarna hijau apel

di bawah mikroskopi fluorescence. Kultur dapat dilakukan menggunakan agar

nonnutrien (kaya Eschericia coli) dan menunjukkan tropozoit dalam 48 jam, yang

perlahan-lahan akan berubah menjadi kista.4

Gambar 2.X. Bentuk Kista Acanthamoeba pada Hasil Biopsi10

2.3.4.6. Penatalaksanaan Ulkus Kornea Parasit

Penatalaksanaan pada ulkus ini biasanya memberikan hasil yang tidak

memuaskan. Pengobatan spesifik yang dapat diberikan meliputi obat tetes mata

propamidin isethionat 0,1%, obat tetes mata neomisin, larutan poliheksametilen

19
biguanid 0,01-0,02%, klorheksidin, dan obat lainnya (paromomisin, flukonazol,

itrakonazol, atau mikonazol). Durasi pengobatan bervariasi dari 6 bulan hingga 1

tahun. Keratoplasti sering dilakukan pada kasus yang tidak ada perbaikan.4

20
Sumber:
1. Eva PR, Whitcher JP. 2010. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Edisi ke-17.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. Trattler W, Kaiser PK, Friedman NJ. 2012. Review of Opthalmology. Edisi ke-2.
Cina: Elsevier Saunders.
3. Ravinder K, Madhav MV, Archana J, Pandurang J. Clinical Evaluation of Corneal
Ulcer among Patients Attending Teaching Hospital. International Journal of
Contemporary Medical Research. 2016; 3(4): 949-52.
4. Khurana AK. 2007. Comprehensive Opthalmology. Edisi ke-4. India: New Age
International.
5. Weiner G. Confronting Corneal Ulcers: Pinpointing Etiology is Crucial for
Treatment Decision Making. Eyenet. 2012: 44-52.
6. Duanne
Langston DP, editor. 2008. Manual of Ocular Diagnosis & Therapy. Edisi ke-6.
Lippincott Williams & Wilkins.
7. Ehlers JP, Shah CP, editor. 2008. The Wills Eye Manual. Edisi ke-5. Lippincott
Williams & Wilkins.
8. Upadhyay MP, Srinivasan M, Whitcher JP. Diagnosing and Managing Microbial
Keratitis. Community Eye Health Journal. 2015; 28(89): 3-6.
9. World Health Association. 2004. Guideline for the Management of Corneal Ulcer
at Primary, Secondary, & Tertiary Health Facilities in the South-East Asia
Region.
10. Kanski JJ. 2007. Kanski Clinical Opthalmology. Edisi ke-6. Cina: Butterworth
Heinemann Elsevier.
11. Farida Y. Corneal Ulcers Treatment. J Majority. 2015; 4(1): 119-27.

21