You are on page 1of 20

BAB II

TINJAUAN PUTAKA
A. Konsep Dasar Medik
1. Pengertian
Beberapa pengertian fraktur dan fraktur Radius adalah
sebagai berikut: (Idhuu, 2012)
a. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang
kebanyakan di sebabkan oleh kecelakaan (Idhuu, 2012),
b. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan
sesuai jenis,biasanya jenis fraktur ini kebanyakan didapatkan
pada pasien dengan kecelakaan lalulintas (Idhuu, 2012).
c. Fraktur radius distal adalah salah satu dari macam fraktur yang
biasa terjadi pada pergelangan tangan (Artikel Kedokteran,
2012)
2. Anatomi fisiologi tulang Radius

Gambar 2.1 Fraktur radius


(tentangkedokteran, 2009)

Radius adalah tulang di sisi lateral lengan bawah merupakan


tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung dan lebih pendek
dari tulang ulna. Ujung atas radius kecil dan memperlihatkan kepala
berbentuk kancing dengan permukaan dangkal yang bersendi
dengan kapitulum dari humerus. Sisi-sisi kepala radius bersendi
dengan takik radial dari ulna. Di bawah kepala terletak leher dan di
bawah serta di sebeelah medial dari leher ada tuberositas radii,

7
8

yang dikaitkan pada tendon dan insersi otot bisep. Batang radius.
Di sebelah atas batangnya lebih sempit dan lebih bundar daripada
di bawah dan melebar makin mendekati ujung bawah. Batangnya
melengkung ke sebelah luar dan terbagi dalam beberapa
permukaan, yang seperti pada ulna memberi kaitan kepada flexor
dan pronator yang letaknya dalam di sebelah anterior dan di
sebelah posterior memberi kaitan pada extensor dan supinator di
sebelah dalam lengan bawah dan tangan.
Ujung bawah agak berbentuk segiempat dan masuk dalam
formasi dua buah sendi.
3. Klasifikasi fraktur
a. Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :
1) Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi,
panggul dan Melalui kepala femur (capital fraktur) Hanya di
bawah kepala femur dan melalui leher dari femur
2) Fraktur Ekstrakapsuler terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui
trokhanter femur yang lebih besar atau yang lebih kecil .
Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih
dari 2 inci di bawah trokhanter kecil. (Qittun,2008)
b. Klasifikasi jenis Fraktur menurut (Muttaqin 2000) meliputi :
1) Simple fracture (Fraktur terbuka)
2) Compound fracture (Fraktur terbuka)
3) Transverse fracture (Fraktur transversal/sepanjang garis
tengah tulang)
4) Spiral fracture (Fractur yang memuntir seputar batang tulang)
5) Impacted fracture (Fragmen tulang terdorong ke fragmen
tulang yang lain)
6) Greenstick fracture
7) Comminuted fracture (Tulang pecah menjadi beberapa
8) Bagian.
9

4. Etiologi fraktur
a. Trauma
1) Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan
ditempat tersebut.
2) Trauma tidak langsung : Titik tumpu benturan dengan
terjadinya fraktur berjauhan.
b. Fraktur Patologis adalah Fraktur disebabkan karena proses
penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan lain-lain.
c. DegenerasiTerjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri:
usia lanjut
d. Spontan Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.
(Elizabet, 2009 )
5. Manifestasi klinik
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen
tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema
b. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang
patah
c. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi
otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur
d. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit
(Rusari,2011)
6. Patofisiologi fraktur
Penyebab fraktur adalah trauma
Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal
atau tanpa trauma berupa yang disebabkan oleh suatu proses.,
yaitu :
a. Osteoporosis Imperfekta
b. Osteoporosis
c. Penyakit metabolik
Trauma Dibagi menjadi dua, yaitu :
10

a. Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya


penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah
trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras
(jalanan).
b. Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur
berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada
orangtua. (nursingbegin,2011)
7. Pemeriksaan diagnostik
a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi,
luasnya
b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d. Kreatinin: trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens
ginjal (Rusari,2011)
8. Penatalaksanaan
Ada empat konsep dasar dalam menangani fraktur, yaitu :
a. Rekognisi
Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur.
Prinsipnya adalah mengetahui riwayat kecelakaan, derajat
keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi
tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.
b. Reduksi
Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen
seperti letak asalnya. Tindakan ini dapat dilaksanakan secara
efektif di dalam ruang gawat darurat atau ruang bidai gips. Untuk
mengurangi nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi
narkotika IV, sedative atau blok saraf lokal.
c. Retensi
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau
dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi
11

eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi gips,


bidai, traksi dan teknik fiksator eksterna.
d. Rehabilitasi
Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur
semula dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal
mungkin sesuai dengan kemampuan klien. Latihan isometric dan
setting otot. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan
meningkatkan peredaran darah.
(askep-kesehatan,2009)
9. Komplikasi
Komplikasi fraktur dapat dibagi menjadi :
a. Komplikasi Dini
1) Nekrosis kulit
2) Osteomielitis
3) Kompartement sindrom
4) Emboli lemak
5) Tetanus
b. Komplikasi Lanjut
1) Kelakuan sendi
2) Penyembuhan fraktur yang abnormal : delayed union, mal
union dan non union.
3) Osteomielitis kronis
4) Osteoporosis pasca trauma
5) Ruptur tendon
(askep-kesehatan,2009)

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang
sistematis dalam melakukan asuhan keperawaan pada individu,
kelompok, dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan
12

pemecahan masalah dari proses pasien terhadap penyakitnya.


(Tarwoto, 2010)
Asuhan keperawatan adalah factor penting dalam survival
pasien dan dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitative, dan
preventif perawatan kesehatan
Langkah-langkah kerangka kerja dalam proses keperawatan
yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan
evaluasi, langkah-langkah tersebut akan dibahas satu persatu pada
pasien yang mengalami fraktur yaitu :
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan,
(Asmadi, 2008) pengkajian pada pasien yang mengalami fraktur
Radius adalah :
a. Anamnesa
1) Data Biografi
2) Riwayat kesehatan masa lalu
3) Riwayat kesehatan keluarga
b. Pemeriksaan Fisik
1) Aktivitas / istirahat
Keterbatasan / kehilangan fungsi yang efektif (perkembangan
sekunder dari jaringan yang bengkak / nyeri)
2) Sirkulasi
a) Hipertensi (kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri
atau ansietas dan hipotensi (kehilangan darah)
b) Takikardia (respon stress , hipovolemi)
c) Penurunan nadi pada distal yang cidera , pengisian kapiler
lambat
d) Pembengkakan jaringan atau hematoma pada sisi yang
cidera
3) Neurosensori
a) Hilang gerakan / sensasi, spasme otot
13

b) Kebas / kesemutan (parestesia)


c) Nyeri / kenyamanan
d) Nyeri mungkin sangat berat, edema, hematoma dan
spasme otot merupakan penyebab nyeri di rasakan
4) Kenyamanan
Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (Mungkin terlokalisasi
pada area jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada
imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.spasme atau
kram otot (setelah imobilisasi)
5) Keamanan
a) Laserasi kulit, avulsi jaringan, pendarahan, perubahan
warna
b) Pembengkakan lokal
6) Pengetahuan
Kurangnya pemajanan informasi tentang penyakit, prognosis
dan pengobatan serta perawatannya.
14

c. Dampak penyimpangan KDM


Trauma

Fraktur

Perubahan status Cedera sel Kehilangan Diskontuinitas Luka terbuka Reaksi peradangan
kesehatan integritas tulang fragmen tulang

Kurang Risiko trauma


informasi Degranulasi sel Lepasnya lipid Port de entri Gg. Integritas Edema
mast Terapi restrictif pada sum-sum kuman kulit
tulang

Kurang
Pelepasan Gg. Mobilitas Resiko Infeksi Penekanan pada
pengeta Terabsorbsi
mediator fisik jaringan vaskuler
hunan masuk kealiran
kimia
darah
Nekrosis
Jaringan paru Penurunan aliran
Nociceptor Oklusi arteri darah
Korteks paru
serebri Emboli

Resiko disfungsi
Medulla
Gangguan pertukaran Penurunan laju Luas permukaan neurovaskuler
spinali
Nyeri gas difusi paru menurun

14
15

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon
individu, keluarga atau komunitas terhadap masalah
kesehatan/proses kehidupan yang actual dan potensial
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien yang
mengalami fraktur Radius adalah :
a. Risiko terhadap trauma tambahan berhubungan dengan
kehilangan Integritas tulang (fraktur Radius)
b. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen
tulang, edema dan cedera pada jaringan lunak.
c. Risiko terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan
dengan penurunan aliran darah cedera, edema berlebihan,
pembentukan trombus
d. Risiko tinggi terhadap pertukaran gas berhubungan dengan
perubahan aliran : darah / emboli lemak, perubahan membran
alveolar / kapiler
e. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
neuromuskuler , nyeri / ketidaknyamanan.
f. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan
dengan fraktur terbuka
g. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma
jaringan
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajang dan
kurang informasi.
3. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku
spesifik yang diharapkan dari pasien dan atau tindakan yang harus
dilakukan oleh perawat. Intervensi dari semua diagnose
keperawatan adalah sebagai berikut :
a. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan
fraktur.
16

1) Tujuan :
a) Mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur.
b) Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas
pada sisi fraktur.
c) Menunjukkan pembentukan kalus/mulai penyatuan fraktur
dengan tepat.
2) Tindakan/intervensi :
a) Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi.
Berikan sokongan sendi di atas dan di bawah fraktur.
Rasional : Meningkatkan stabilitas, menurunkan
kemungkinan gangguan posisi / penyembuhan.
b) Letakkan papan di bawah tempat tidur atau tempatkan
pasien pada tempat tidur ortopedik
Rasional : Tempat tidur empuk atau lentur dapat membuat
deformasi gips yang masih basah, mematahkan
gips yang sudah kering atau mempengaruhi
dengan penarikan traksi.
c) Sokong fraktur dengan bantal/gulungan selimut,
pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan
bantal pasir, pembebat, gulungan tronkanter, papan kaki.
Rasional : Mencegah gerakan yang tak perlu dan
perubahan posisi-posisi yang tepat dari bantal
dan juga dapat mencegah tekanan deformitas
pada gips yang kering.
d) Pertahankan posisi/integritas traksi.
Rasional : Traksi memungkinkan tarikan pada aksis
panjang fraktur tulang dan mengatasi tegangan
otot/ pemendekan untuk memudahkan
posisi/penyatuan.
e) Pertahankan katrol tidak terhambat dengan beban bebas
menggantung ; hindari mengangkat/menghilangkan berat.
17

Rasional : Jumlah beban traksi optimal dipertahankan,


catatan memasukkan gerakan bebas beban
selama mengganti posisi pasien menghindari
penarikan berlebihan tiba-tiba pada fraktur yang
menimbulkan nyeri dan spasme otot.
f) Kaji ulang tahanan yang mungkin timbul karena terapi.
Contoh pergelangan tidak menekuk/duduk dengan traksi
buck atau tidak memutar di bawah pergelangan dengan
traksi Russel.
Rasional : Mempertahankan integritas tarikan traksi
sehingga traksi berfungsi tepat untuk
menghindari interupsi penyambungan fraktur.
g) Kaji ulang foto/evaluasi.
Rasional : Memberikan bukti visual mulainya
pembentukan kalus/proses penyembuhan
untuk menentukan tingkat aktivitas dan
kebutuhan perubahan/tambahan terapi.
b. Nyeri berhubungan dengan otot, gerakan fragmen tulang, alat
traksi.
1) Tujuan :
a) Menyatakan nyeri hilang.
b) Menunjukkan tindakan santai ; mampu berpartisipasi dalam
aktivitas/tidur/istirahat dengan cepat.
c) Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi.
2) Intervensi :
a) Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah
baring gips, pembebat, traksi.
Rasional : Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan
posisi tulang/tegangan jaringan yang cedera.
b) Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
18

Rasional : Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan


edema, menurunkan nyeri.
c) Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/aktif.
Rasional : Mempertahankan kekuatan/mobilitas otot yang
sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada
jaringan yang cedera.
d) Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh perubahan
posisi.
Rasional : Meningkatkan sirkulasi umum ; menurunkan
area tekanan lokal dan kelelahan otot.
e) Berikan obat sesuai indikasi narkotik dan analgetik non
narkotik.
Rasional : Menghambat reseptor nyeri dan menurunkan
ambang nyeri atau spasme otot.
c. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer.
1) Tujuan :
a) Mempertahankan perfusi jaringan.
2) Intervensi :
a) Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada
fraktur.
Rasional : Kembalinya warna cepat (3 5 detik), warna
kulit putih menunjukkan gangguan arterial,
sianosis diduga ada gangguan vena.
b) Lakukan pengkajian neuromuskuler, perhatikan fungsi
motorik/sensori.
Rasional : Gangguan perasaan bebas, kesemutan,
peningkatan/ penyebaran nyeri terjadi bila
sirkulasi syaraf tidak adekuat atau syaraf rusak.
c) Tes sensasi syaraf perifer dengan menusuk pada kedua
selaput antara ibu jari pertama dan kedua dan kaji
kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila diindikasikan.
19

Rasional : Panjang dan posisi syaraf parineal


meningkatkan resiko cedera pada adanya
fraktur kaki, edema/sindrom kompartement,
atau melapisi alat traksi.
d) Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk
pembengkakan/pembentukan edema. Ukur ekstremitas
yang cedera dan bandingkan dengan yang tak cedera.
Rasional : Peningkatan lingkar ekstremitas yang cedera
dapat diduga ada pembengkakan
jaringan/edema umum tetapi menunjukkan
perdarahan.
e) Awasi tanda vital, perhatikan tanda-tanda pucat, cyanosis,
kulit dingin.
Rasional : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan
mempengaruhi sistem perfusi jaringan.
f) Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan edema/pembentukan hematoma
yang dapat mengganggu sirkulasi.
g) Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi.
Rasional : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah
dan membutuhkan keefektifan terapi
penggantian.
d. Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan
dengan perubahan aliran darah/emboli lemak.
1) Tujuan :
a) Mempertahankan fungsi pernafasan yang adekuat.
2) Intervensi :
a) Awasi frekuensi pernafasan.
Rasional : Takipnea, dispnea dan insufisiensi pernafasan.
20

b) Auskultasi bunyi nafas perhatikan terjadinya ketidaksamaan


bunyi hiperesonan, juga adanya gemericik, ronchi, mengi,
dan inspeksi mengorok/sesak nafas.
Rasional : Perubahan dalam/adanya bunyi adventisius
menunjukkan terjadinya komplikasi pernafasan.
c) Observasi sputum untuk tanda adanya darah.
Rasional : Hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru.
d) Inspeksi kulit untuk petekie di atas garis puting pada aksilla
meluas ke abdomen/tubuh, mukosa mulut kantong
konjungtiva dan retina.
Rasional : Ini adalah karakteristik yang paling nyata dari
tanda emboli lemak,. Yang tampak dalam 2 3
hari setelah cedera.
e) Berikan tambahan oksigen bila diindikasikan.
Rasional : Meningkatkan sediaan O2 untuk oksigenasi
optimal jaringan.
f) Berikan obat sesuai indikasi, heparin dosis rendah.
Rasional : Blok siklus pembekuan dan mencegah
bertambahnya pembekuan pada adanya
tromboplebitis.
e. Gangguan mobilitas berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskuler, nyeri/ketidaknyamanan.
1) Tujuan
a) Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat
paling tinggi yang mungkin mempertahankan posisi
fungsional.
2) Intervensi
a) Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh
cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien
terhadap mobilitas.
21

Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh


pandangan/persepsi diri tentang keterbatasan
fisik aktual memerlukan intervensi/informasi
untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
b) Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai
yang tidak sakit.
Rasional : kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi
atau menggerakkan tungkai dan membantu
mempertahankan kekuatan massa otot.
c) Tempatkan dalam posisi terlentang secara periodik bila
mungkin, bila traksi digunakan untuk menstabilkan fraktur
tungkai bawah.
Rasional : Menurunkan resiko kontraksi fleksi pinggul.
d) Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk
tongkat, sesegera mungkin, instruksikan keamanan dalam
menggunakan alat mobilitas.
Rasional : Mobilisasi dini merupakan komplikasi tirah
baring/contoh decubitus.
e) Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan mineral,
pertahankan penurunan kandungan protein sampai setelah
defekasi pertama.
Rasional : pada cedera muskuloskeletal, nutrisi yang
diperlukan untuk penyembuhan berkurang
dengan cepat. Sering mengakibatkan
penurunan BB, selama traksi tulang ini dapat
mempengaruhi massa otot, tonus dan
kekuatan.
f) Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan atau rehabiltasi
spesialis.
Rasional : Untuk membuat aktivitas individual/program
latihan pasien dapat memerlukan bantuan
22

jangka panjang dengan gerakan, kekuatan dan


aktivitas yang mengandalkan BB.
f. Kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan fraktur
terbuka.
1) Tujuan
a) Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.
2) Intervensi
a) Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan,
perdarahan, perubahan warna.
Rasional : Berikan informasi tentang sirkulasi kulit dan
masalah yang mungkin disebabkan oleh alat
dan atau pemasangan gips/beban/traksi.
b) Ubah posisi dengan sering, dorong penggunaan trapeze
bila mungkin.
Rasional : Untuk mengurangi tekanan pada area yang
sama dan meminimalkan resiko kerusakan
kulit, penggunaan trapeze dapat menurunkan
abrasi pada siku/tumit.
c) Bersihkan kelebihan plester dari kulit saat masih basah, bila
mungkin.
Rasional : Plester yang kering dapat melekat ke dalam
gips yang telah lengkap menyebabkan
kerusakan kulit.
d) Gunakan plester traksu kulit dengan memanjang pada
posisi tungkai yang sakit.
Rasional : Plester traksi melingkari tungkai dapat
mempengaruhi pada sirkulasi.
e) Letakkan bantalan pelindung di bawah kaki dan di atas
tonjolan tulang.
Rasional : meminimalkan tekanan pada area ini.
23

g. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak


adekuatnya pertahanan primer ; kerusakan kulit, , prosedur
invasif, traksi tulang.
1) Tujuan
a) Mencegah terjadinya infeksi untuk mencapai penyembuhan
luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema
dan demam.
2) Intervensi
a) Infeksi kulit akibat adanya iritasi atau robekan kontinuitas
jaringan.
Rasional : Pen atau kawat tidak harus dimasukkan melalui
kulit yang terinfeksi, kemerahan atau abrasi.
b) Berikan perawatan pen/kawat steril sesuai protokol dan
latihan mencuci tangan.
Rasional : Dapat mencegah kontaminasi silang dan
kemungkinan terjadinya infeksi silang.
c) Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi
perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainage yang tak
sedap atau asam.
Rasional : Tanda perkiraan infeksi gas gangren.
d) Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan edema
lokal/eritema ekstremitas cedera.
Rasional : Dapat mengidentifikasikan adanya
osteomielitis.
e) Berikan obat sesuai indikasi, contoh antibiotik IV/topikal.
Rasional : Antibiotik spektrum luas dapat digunakan
secara profilaktik atau dapat ditujukan pada
mikroorganisme.
f) Berikan irigasi luka sesuai indikasi yang ada.
Rasional : Debridemen luka menurunkan mikroorganisme
dan insiden infeksi sistemik.
24

h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan


pengobatan berhubungan dengan salah informasi.
1) Tujuan
a) Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis dan
pengobatan.
2) Intervensi
a) Kaji ulang patologi, prognosis dan harapan yang akan
datang.
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien
dapat membuat pilihan informasi. Catatan :
fiksasi internal dapat mempengaruhi kekuatan
tulang dan intramedulla atau piringan mungkin
diangkat beberapa hari kemudian.
b) Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai
instruksi dengan terapis fisik bila diindikasikan.
Rasional : Banyak fraktur memerlukan gips, bebat atau
penjepit selama proses perlambatan
penyembuhan dapat terjadi sekunder terhadap
ketidaktepatan penggunaan alat ambulasi.
c) Buat daftar aktivitas di mana pasien dapat melakukannya
secara mandiri dan yang memerlukan bantuan.
Rasional : Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan yang
dapat bantuan.
d) Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi
di atas dan di bawah fraktur.
Rasional : Mencegah kekakuan sendi, kontraktur dan
kelelahan otot meningkatkan kembalinya
aktivitas sehari-hari.
25

e) Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat.


Rasional : Menurunkan resiko trauma tulang/jaringan dan
infeksi yang dapat berlanjut menjadi
ostemielitis.
f) Identifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi
medik, contoh : nyeri berat, demam tinggi, bau tak enak.
Rasional : Intervensi cepat menurunkan beratnya
komplikasi seperti infeksi/gangguan sirkulasi
(nursingbegin, 2010)
4. Implementasi keperawatan
Pelaksanaan adalah perwujudan dari rencana keperawatan
yang meliputi tindakan-tindakan yang direncakan oleh perawat.
Dalam melaksanakan proses keperawatan harus kerjasama
dengan tim kesehatan-kesehatan yang lain keluarga klien dan
dengan klien sendiri, yang meliputi 3 hal :
a. Melaksanakan tindakan keperawatan dengan memperhatikan
kode etik dengan standar praktek dan sumber-sumber yang ada.
b. Mengidentifikasi respon klien.
c. Mendokumentasikan/mengevaluasi pelaksanaan tindakan
keperawatan dan respon pasien.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan :
a. Kebutuhan klien.
b. Dasar dari tindakan.
c. Kemampuan perseorangan dan keahlian/keterampilan dari
perawat.
d. Sumber-sumber dari keluarga dan klien sendiri.
e. Sumber-sumber dari instansi.
(nursingbegin, 2010)
26

5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah merupakan pengukuran dari keberhasilan
rencana keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. tahap
evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam menggunakan
proses keperawatan. adapun evaluasi yang diharapkan pada klien
yang mengalami fraktur adalah :
a. Tidak terjadi trauma
b. Gangguan rasa nyaman nyeri hilang / berkurang.
c. Tidak terjadi disfungsi neurovaskuler
d. dapat bernafas normal
e. Beraktifitas secara normal / mandiri
f. Tidak terjadi dekubitus
(askep kesehatan. 2009)