You are on page 1of 9

LAPORAN RESMI KIMIA ANORGANIK

Nama/Nim : Muhamad Syaiful Ampri (652015011)


Tanggal Praktikum : 16 November 2016
Judul : Pembuatan Logam Asetilasetonat Kompleks ( Fe3+ dan Mn3+)

I. LANDASAN TEORI
Kimia koordinasi atau kimia kompleks adalah bagian dari ilmu kimia yang
mempelajari senyawa-senyawa koordinasi atau senyawa kompleks. Senyawa-senyawa ini
molekul-molekulnya tersusun dari gabungan dua atau lebih molekul yang sudah jenuh
(Sukardjo, 1985).
Senyawa kompleks merupakan jenis senyawa yang molekul atau ionnya dapat
membentuk ikatan koordinasi dengan atom logam atau ion. Spesies koordinasi (disebut
ligan) memiliki pasangan elektron bebas yang dapat disumbangkan untuk logam atom
atau ion lainnya, seperti ion amonia atau air, atau negatif seperti Cl- atau CN-. Kompleks
yang dihasilkan mungkin netral atau mungkin menjadi ion kompleks (Daintith, 2004).
Beberapa atom mempunyai tenaga yang dapat mempersatukan atom-atom,
gugusan mereka atau molekul-molekul dengan penggunaan valensi sekunder. Atom-atom
atau gugusan yang terikat dengan valensi sekunder dinamakan terkoordinasi dengan atom
pusat dan dihasilkan senyawa kompleks yang dikenal sebagai kompleks koordinasi.
Gugus kompleks koordinasi yang terikat dengan valensi sekunder tidak dapat terionisasi
sedangkan gugus yang terikat dengan valensi primer dapat terionisasi. Jumlah maksimum
ion atau molekul yang dapat terikat pada atom pusat dengan valensi sekunder disebut
sebagai bilangan koordinasi. Ion atau molekul yang terikat pada atom pusat melalui
ikatan koordinasi dinamakn ligan. Terdapat bermacam-macam ligan seperti unidentat,
bidentat, tridentat, dan sebagainya. Setiap jenis ligan ditentukan oleh jumlah titik-titik
koordinasi yang dimiliki ligan (Sjahrul, 2010).
Ligan adalah spesies yang memiliki atom-atom yang dapat menyumbangkan
sepasang elektron pada ion logam pusat pada tempat tertentu dalam lengkung koordinasi.
Sehingga, ligan merupakan basa lewis dan ion logam adalah asam lewis. Jika ligan hanya
dapat menyumbangkan sepasang elekron (misalnya NH3 melalui atom N) disebut ligan

1|KIMIA ANORGANIK
unidentat. Ligan ini mungkin merupakan anion monoatomik (tetapi bukan netral) seperti
ion halide, anion poliatomik seperti NO2, molekul sederhana seperti NH3 atau molekul
kompleks seperti piridin C5H5N (Petrucci, 1999).
Kebanyakan ligan adalah anion atau molekul netral yang merupakan donor
elektron. Beberapa yang umum adalah F-, Cl-, Br-, CN-, NH3, H2O, CH3OH dan OH-
.Ligan seperti ini bila menyumbangkan sepasang elektronnya kepada sebuah atom logam,
disebut ligan monodentat (ligan bergigi satu). Kelima kompleks Pt2+ hanya mengandung
ligan monodentat, Cl- dan NH3. Ligan yang mengandung dua atau lebih atom, yang
masing-masing secara serempak membentuk ikatan dua donor-elektron kepada ion logam
yang sama, disebut ligan polidentat. Ligan ini disebut juga ligan kelat (dari bahasa Latin
untuk kuku/cakar), karena ligan ini tampaknya mencengkeram kation di antara dua atau
lebih atom donor (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Teori ikatan dalam senyawa-senyawa kompleks mula-mula diberikan oleh Lewis
dan Sidgwick. Teori ini karena tidak dapat menjelaskan bentuk-bentuk geometri
senyawa-senyawa kompleks kemudian ditinggalkan. Tiga teori yang kemudian timbul
adalah (Sukardjo, 1985):
1. Teori ikatan valensi atau valence bond theory (VBT)
2. Teori medan Kristal atau crystal field theory (CFT)
3. Teori orbital molekul atau molecular orbital theory (MOT)
Asetil asetonat merupakan salah satu contoh dari senyawa kompleks yang cukup
dikenal. Asetil asetonat merupakan larutan yang sedikit berwarna dengan aroma keton
dan larut sempurna dengan pelarut orgnik. Asetil asetonat murni atau larutannya pada
pelarut organik polar bentuk diketon adalah seimbang dengan bentuk siklik berantai enol.
Asetil asetonat dapat dihasilkan melalui pemanasan atau penataan ulang katalis
logam ion prefebil asetat yang diperoleh dari keton dan aseton.isopropil asetat dalam
bentuk uap dijenuhkan pada tekanan atmosfer melalui batangan baja dengan suhu 520 oC
kemudian dikondensasikan dan didinginkan sampai 20 oC. Asetil asetonat merupakan
suatu diketon yang dapat terionisasi dalam larutan asam lemah. Anion nya dapat
bertindak sebagai ligan terhadap ion logam dan membentuk suatu komplek logam. Kedua
atom oksigen yang dimiliki oleh asetil asetonat akan terikat dengan atom logam sebagai
atom pusat dan membentuk suatu cincin. (Saria,2012)

2|KIMIA ANORGANIK
Secara umum komplek diisolasi sebagai padatan kristal netral sehingga ion logam
membentuk suatu komplek. Dalam komplek cincin yang beranggotakan 6 adalah planar
dan memiliki elektron 6 dianggap sebagai cincin aromatik yang lemah. Pada komplek
susunan Mo5 adalah oktahedral. Berdasarkan jumlah pasangan elektron yang dapat
digambarkan oleh ligan kepada atom pusat.
Adapun sifat fisika dari asetil asetonat adalah:
1. suhu nyala = 34,5
2. titik leleh = -23 c
3. indekbias = 1,45
4. Density = 0,975
5. kelarutan = 16 %
Kegunaan dari asetil asetonat adalah :
1. Sebagai inter mediet untuk sentesa senyawa heterosiklik untuk senyawa
aktif biologi.
2. Sebagai bahan celup untuk produksi logam asetil asetonat.
3. Sebagai pelarut dan pengekstrak.
4. Sebagai komponen sistim katalis untuk polimerisasi dan dimerisasi.
(Brida,2011)

II. TUJUAN
1. Menentukan pembentukan kompleks Fe dan Mn.
2. Menentukan yield Fe dan Mn.

III. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
1. Beaker glass 7. Pipet tetes
2. Corong 8. Sendok porselin
3. Kertas saring 9. Batang pengaduk
4. Erlenmayer 10. Waterbath
5. Pillius 11. Freezer
6. Piper ukur 12. Magigstirer

3|KIMIA ANORGANIK
13. Magnetic stirer 14. Cawan petri
B. Bahan
1. Aquadest
2. Asetil Aseton
3. KMnO4
4. Amonium Asetat
5. MnCl.4H2O
6. FeCl2.6H2O

IV. METODE
Kompleks Mn3+
1. Dilarutkan 2.6 gram Mangan Klorida ( MnCl.4H2O) dan 6.8 gram ammonium
acetate dalam 100 mL Aquades
2. Ditambahkan 10 mL acetylacetone
3. Dilarutkan 0.52 gram KMnO4 dalam 25 mL aquades kemudian dicampurkan
pada larutan pertama
4. Diaduk selama 10 menit
5. Ditambahkan larutan yang berisi 6.3 gram Amonium acetate dalam aquades
25 mL ke dalam larutan pertama
6. Diaduk selama 10 menit
7. Dilanjutkan pengadukan sambil diletakkan dalam hotbath 60-70oC selama 15
menit
8. Di dinginkan di dalam freezer selama 10 menit
9. Ditimbang kertas saring
10. Disaring larutan dengan kertas saring
11. Di diamkan selama semalam
12. Ditimbang kertas saring + endapan

Kompleks Fe3+
1. Dilarutkan 3.3 gram besi(II)klorida ( FeCl2.6H2O) dalam 25 mL Aquades
diaduk selama 15 menit

4|KIMIA ANORGANIK
2. Ditambahkan 4 mL acetylacetone dalam 10 mL methanol ke dalam larutan
pertama
3. Ditambahkan 5.1 gram ammonium acetate dalam 15 mL Aquades kemudian
dicampurkan pada larutan pertama
4. Dipanaskan larutan dalam hotbath 80oC selama 15 mL
5. Didinginkan larutan selama 10 menit dalam freezer
6. Ditimbang kertas saring
7. Disaring larutan dalam kertas saring yang telah ditimbang
8. Didiamkan endapan selama semalam kemudian ditimbang

V. HASIL PENGAMATAN
Fe3+ complex
Massa FeCl.4H2O = 3,3 gram
Mr = 198,83 g/mol
Massa AmoniumSulfat = 5,1 gram
Massa kertas saring kosong = 0,82 gram
Massa kertas saring + endapan = 4,67 gram
Massa endapan = 3,85 gram
Mn3+ complex
Massa MnSO4.H2O = 2,6 gram
Massa Amonium Asetat = 6,8 gram
Massa KMnO4 = 0,52 gram
Massa Amonium Asetat = 6,3 gram
Massa Kertas saring kosong = 0,62 gram
Massa kertas saring + endapan = 6,11 gram
Massa endapan = 5,49 gram

V Asetil Aseton = 10 ml
Mr C5H8O2 = 100,2 g/mol

5|KIMIA ANORGANIK
Fe3+ + 3CH3COH2COCH3 3H+ + Fe(CH3COCHCOCH3)3
m 0,0166 0,1169
r 0,0166 0,0166 0,0166
s 0,0024

3,3
Mol FeCl2.6H2O = 198,83 / = 0,0166

4 0,975 /
Mol AsAc = = 0,0390
100,12 /

Mol Fe (AsAc) = 0,0166



= 0,0166

gr = 0,0166 x 353,16864
gr =5,863 gram

3,85
% yield = 5,863 x 100 % = 65,67 %

5Mn2+ + MnO4- + Asetil Asetat 7H+ + 4H2O + 5 Mn


m 0,0769 0,0033 1,4607
r 0,0033 0,0033 0,0033
s 0,7360 1,4574
2,6
Mol MnSO4.H2O =169,02 / = 0,0154 mol
10 0,975 /
Asetil Aseton = = 0,0974
0,0974
0,52
Mol KMnO4 =158,04 / = 0,0032 mol

Mol Mn (AsAc)3 = 0,0165



= 0,0164

6|KIMIA ANORGANIK
Gr= 0,0164 x 352,26164
=5,8125
5,49
% yield = 5,803x 100% = 94,45 %

VI. PEMBAHASAN
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang terbentuk dari ion logam yang
berikatan dengan ligan secara kovalen koordinasi. Ikatan koordinasi merupakan ikatan
kovalen dimana ligan memberikan sepasang elektronnya pada ion logam untuk berikatan.
Pemberi pasangan elektron adalah ligan, karena itu ligan adalah zat yang memiliki satu
atau lebih pasangan elektron bebas. Senyawa kompleks yang bisa dijadikan sebagai
katalis harus memiliki sifat stabil.
Dalam percobaan ini yang bertujuan dari praktikum ini yaitu mempelajari
pembuatan kompleks logam asetil asetonat. Asetil asetonat (2,4 pentanedione)
CH3COCH2COCH3 yaitu suatu diketone yang dapat berionisasi dalam asam lemah.
Dalam praktikum kami menggunakan FeCl3.5 H2O sebagai sumber kompleks dari
Fe3+ dan MnCl2.4H2O sebagai sumber Mn3+ sedangkan asetil asetonat sebagai ligan.
Kompleks Mn (III) dan Fe (III) mempunyai ligan yang sama, yaitu asetil asetonat.
Walaupun mempunyai ligan yang sama tetapi perbedaan warna yang sangat signifikan
dan ini merupakan salah satu sifat dari senyawa kompleks . Adapun penyebab perbedaan
warna dikarenakan oleh jumlah ligan.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan warna kompleks Fe (III)
adalah berwarna merah dan untuk senyawa kompleks Mn (III) berwarna hitam. Dalam
percobaan ini kami menggunakan penambahan amonium asetat yang bertujuan untuk
memberi suasana netral pada reaksi tersebut.
Endapan yang kami dapatkan dalam percobaan ini pada kompleks Mn (III) yaitu
sebanyak 5,49 g dengan % yeldnya adalah 94,45 %, sedangkan pada endapan Fe3+ yaitu
sebanyak 3,85 g dengan % yeldnya 65,67 %. Adapun kesalahan yang terjadi
kemungkinan disebabkan karena :
1. Kurang telitinya dalam menimbang zat.
2. Pengenceran yang kurang sempurna saat penstirrer.
3. Penyaringan kristal yang kurang bersih.

7|KIMIA ANORGANIK
4. Kristal yang dicuci belum terlalu bersih.

VII. KESIMPULAN
1. Proses pembentukan logam Fe komplek dan Mn3+ komplek berhasil dilakukan
dengan hasil endapan berwarna hitam untuk Fe3+ dan endapan berwarna merah
untuk Mn 3+
3,85
2. % yield Fe3+ complex = 5,863 x 100 % = 65,67 %
5,49
% yield Mn3+ complex = 5,803x 100% = 94,45 %

8|KIMIA ANORGANIK
Daftar pustaka

Brida, A., 2011, Aplikasi Senyawa Kompleks Dalam Kehidupan Sehari-hari,


(http://gustinbrida.blogspot.com/2011/03/aplikasi-senyawa-kompleks-d.html)
diakses pada 15 November 2016 pukul 23.50 WITA.

Cotton, F.A. dan Wilkinson, G., 1989, Kimia Anorganik Dasar, diterjemahkan oleh
Sahati Suharto, 1989, UI-Press, Jakarta.

Daintith, J., 2004, The Facts On File Dictionary of Inorganic Chemistry, Market House
Books Ltd, New York.

Petrucci, R.H., 1999, Kimia Dasar, Erlangga, Jakarta.

Saria, Y., Lucyanti, Hidayanti, N., dan Lesbani, A., 2012, Sintesis Senyawa Kompleks
Kobalt dengan Asetilasetonato, Jurnal Penelitian Sains, 15, (3); 115-117,
(online), (portalgaruda.org/journals/index.php/JPS/article/ download/43/17)
diakses pada tanggal 15 November 2016 pukul 23.50 WITA
Sjahrul, M., 2010, Dasar-Dasar Kimia Anorganik, PT Umitoha Ukhuwa Grafika,
Makassar.

Sukardjo, 1985, Kimia Koordinasi, BinaAksara, Jakarta.

9|KIMIA ANORGANIK