You are on page 1of 8

Anton Suganda Sianturi

Karya Roh Kudus dari segi Baptisan Roh Kudus dan Kapankan Roh Kudus
mengurapi, memetraikan dan menjadi jaminan bagi orang percaya?

Baptisan Roh Kudus. Bagaimana cara menerimanya dan pengaruhnya bagi orang
percaya

Pemeteraian Roh Kudus berfungsi sebagai tanda legalitas seseorang menjadi Anak
Allah, agar dapat dipersatukan dalam kesatuan Tubuh Kristus. Sedangkan baptisan Roh
Kudus bermanfaat menguatkan iman yang bersangkutan, untuk melaksanakan tanggung
jawab pelayanan pembangunan tubuh Kristus. Melalui baptisan Roh Kudus, setiap orang
percaya dibawa agar memiliki pengalaman pribadi dengan Roh Kudus, sehingga olehnya
akan meningkatkan kepekaan terhadap suara dan kehendak Allah. Meskipun demikian,
peristiwa baptisan Roh Kudus, tidaklah otomatis menjadikannya manusia sempurna. Realitas
baptisan Roh Kudus tidak dapat ditiadakan, hanya karena ada orang yang mengajarkan atau
mengakui sudah dibaptis Roh Kudus, ternyata dikemudian hari didapati hidupnya tidak
benar. Petrus ditempatkan sebagai tokoh utama di antara para rasul, masih juga ditegur
dengan keras oleh Rasul Paulus karena kemunafikannya (Galatia 2:11-14). Tetapi dengan
begitu bukan berarti Paulus menuduh Petrus bukan sebagai hamba Tuhan, yang kerasulannya
perlu disangsikan, serta menolak baptisan Roh Kudus yang dialami Petrus.
Seandainya Lukas memiliki pemahaman bahwa baptisan Roh Kudus diterima
bersamaan seseorang menerima Yesus, maka ayat 5 dalam pasal 19 Kisah Para Rasul, tidak
perlu dilanjutkan dengan ayat 6. Dengan jelas Lukas membedakan peristiwa baptisan air
dengan baptisan Roh Kudus, melalui penumpangan tangan, dimana ayat 5 dan 6
mempergunakan kata sambung dan (Yunaninya: Kai). Selanjutnya persoalan pemakaian
istilah Setelah atau Ketika, didalam pertanyaan Paulus kepada kedua belas murid di
Efesus tetaplah tidak relefan, jika baptisan Roh Kudus diyakini diterima bersamaan lahir
baru. Pertanyaan itu sendiri sudah membuktikan tentang lahir baru yang dialami seseorang,
tidak otomatis menerima baptisan Roh Kudus. Dan jika baptisan Roh Kudus diterima dengan
iman, seperti halnya menerima korban Yesus Kristus, bagaimana memberikan jawaban yang
dapat meyakinkan Paulus atas pertanyaan yang ia lontarkan tersebut? Terbukti saat Paulus
mendengar jawaban belum dari mereka, Paulus tidak menegaskan Anda harus percaya
bahwa sudah dibaptis Roh Kudus, bersamaan pada waktu anda percaya Yesus.
Penggunaan bentuk aorist untuk menerima Roh Kudus dalam pertanyaan Paulus
tersebut, dimaksudkan menunjuk peristiwa baptisan Roh Kudus, yang mungkin saja pernah
mereka alami, dan hal itu hanya sekali serta tidak perlu terulang kembali. Penggunaan bentuk
yang sama untuk ketika kamu menjadi percaya, hendak menyatakan bahwa Paulus tidak
menyangsikan keputusan yang pernah mereka ambil untuk percaya Yesus Kristus (lampau
selesai). Dalam hal ini, Paulus sama sekali tidak berbicara tentang baptisan Roh Kudus,
dengan pemahaman sudah terjadi saat Pentakosta, yang tidak akan pernah lagi terulang, dan
harus diimani terjadi sekali dan selesai. Melainkan baptisan Roh Kudus dapat diterima oleh
siapapun, meskipun jauh setelah peristiwa Pentakosta terjadi seperti yang ia pernah alami
sendiri.
Pendapat yang menolak Kisah Para Rasul dijadikan norma baptisan Roh Kudus,
selain menjadikan kitab tersebut hanya sebagai sejarah gereja purba, juga menuduh Petrus
dan Paulus melakukan pelayanan tanpa didasarkan pada doktrin yang benar. Pada saat Petrus
berkhotbah bertitiktolak dari pengalaman Pentakosta, serta memerintahkan supaya orang
bertobat, dibaptis lalu menerima karunia Roh Kudus. Dan pertanyaan Paulus Sudahkah
kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya? dapatkah dikatakan apakah yang
mereka berdua lakukan tanpa didasari doktrin (Kisah Para Rasul 2:14-38; 19:1,2) ? Jika
kewibawaan rasuli dan pengurapan Roh Kudus ada pada kedua Rasul tersebut, bukankah
mereka pantas untuk dipercayai dan diteladani apa yang dilakukannya.
Terminologi baptisan yang dihubungkan dengan Roh Kudus, dipakai pertama kali
oleh Yohanes Pembaptis, yang menyatakan bahwa selain baptisan air, ada juga baptisan Roh
Kudus dan api (Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16). Adanya baptisan Roh Kudus
dipertegas oleh Tuhan Yesus sebelum naik ke sorga sebagai wasiat, bahwa murid-murid-Nya
diperintahkan untuk menunggu baptisan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5). Lebih jauh Kisah
Para Rasul 2 mencatat tentang baptisan Roh Kudus, sebagai bukti yang dikatakan Yohanes
Pembaptis dan Tuhan Yesus telah digenapi.
Didalam Matius 3:11; Markus 1:8, dan Lukas 3:16 istilah baptisan mempergunakan
istilah Yunani baptisei, dan dalam Kisah Para Rasul 1:5; 11:16 mempergunakan
baptisthesesthe dari akar kata baptizo yang artinya selam, celup atau
ditenggelamkan. Maksud penggunaan istilah tersebut, adalah hendak menunjukkan adanya
perbedaan dengan istilah dimeteraikan, yang ditandai dengan di cap. Menjadi Kristen tidak
hanya ditandai lahir baru dengan menerima Yesus Kristus menjadi Tuhan, melainkan ada
tanggung jawab untuk berproses menjadi dewasa dalam iman. Karena itu, pengalaman iman
Kristen seharusnya tidak merasa cukup puas sampai kepada baptisan air, dan dimeteraikan
Roh Kudus, dibutuhkan tahapan berikutnya, yaitu baptisan Roh Kudus. Roh Kudus
melaksanakan tugas daya cipta baru, yang mengubahkan seseorang dengan memimpinnya
untuk menerima hidup kekal dan sifat Allah. Tetapi Roh Kudus melangkah setapak lebih
jauh, dari regenerasi atau kelahiran baru, dan langkah itu ialah baptisan Roh Kudus.1
Penolakan terhadap baptisan Roh Kudus bagi setiap orang Kristen sebagai
pengalaman historis dalam Kisah Para Rasul, karena didasarkan alasan dalam surat-suratnya
Paulus tidak pernah menasehati agar orang-orang Kristen dibaptis dalam Roh Kudus (Donald
Guthrie, 2000). 2Alasan tersebut tidak dapat dijadikan dasar, sebab jika suatu permasalahan
atau kewajiban sudah menjadi pengetahuan umum, atau dilakukan secara luas tidak perlu
disuratkan lagi. Sebagai contoh cara penulisan yang demikian, dilakukan Paulus kepada
jemaat Tesalonika (1 Tesalonika 4:9). Baptisan Roh Kudus tidak diperintahkan sebagaimana
seseorang harus penuh Roh Kudus, karena baptisan Roh Kudus merupakan janji Bapa,
mengenai seseorang tidak saja menerima baptisan air, namun juga baptisan Roh Kudus
(Kisah Para Rasul 1:4,5). Baptisan Roh Kudus merupakan peristiwa yang dinantikan

1
Mengalami Kristus sepenuhnya hidup oleh roh dari hari ke hari, Dr.David Yonggi cho. Light Publishing,
Jakarta. 2000
2
Teologi perjanjian baru 2: misi Kristus,Roh kudus,Kehidupan Kristen, BPK Gunung Muli, Jakarta 1996
berdasarkan keyakinan terhadap janji Bapa. Mencermati peristiwa Kisah Para Rasul 2,
Pentakosta tidak ditunjang oleh upaya para Rasul meminta Roh Kudus supaya membaptis
mereka.
I Korintus 12:13 dijadikan dasar baptisan Roh Kudus diterima bersamaan saat
kelahiran baru, alasannya didalamnya Paulus menyatakan dalam satu Roh semua telah
dibaptis menjadi satu tubuh. Padahal ayat tersebut tidak membicarakan baptisan Roh Kudus,
melainkan tentang penyatuan dalam tubuh Kristus, hanya dapat dilakukan oleh Roh Kudus.
Suatu sikap yang tidak jujur jika memberikan kesimpulan, baptisan Roh Kudus tidak akan
terulang kembali, hanya berangkat dari tensa yang dipergunakan Paulus dalam 1 Korintus
12:13 yaitu bentuk past participle tense. Padahal tensa tersebut tidak dipakai untuk baptisan
Roh Kudus, melainkan penyatuan kedalam tubuh Kristus yang dikerjakan oleh Roh Kudus.
Maksudnya begitu orang percaya kepada Yesus Kristus, ia telah dipersatukan dengan orang
Kristen lainnya dengan meterai yang sama yaitu Roh Kudus. Ayat tersebut harus dilihat
dalam konteks karya Kristus, yang menyatukan semua karunia adalah penting dalam kesatuan
tubuh Kristus. Dalam hal ini Paulus memberikan penegasan dan penataan, sehubungan
munculnya berbagai macam karunia di gereja Korintus. Sebagai perbandingan perlu
diperhatikan tensa yang dipakai dalam Kisah Para Rasul 2:3,4. Perhatikan kedua ayat ini,
bentuk ptc (baca: participle) hanya diperuntukkan pada manifestasi kehadiran Roh Kudus
yang berbentuk angin, mereka duduk dan lidah-lidah api. Sangat beralasan jika Petrus
tidak mempersoalkan baptisan Roh Kudus yang dialami Kornelius, meskipun tanpa disertai
tiupan angin dan lidah-lidah api.
Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa Paulus tidak mempergunakan tensa tersebut untuk
membicarakan tentang baptisan Roh Kudus. Jika Paulus memiliki pemahaman baptisan Roh
Kudus diterima bersamaan kelahiran baru, maka hal ini akan bertentangan dengan sikapnya
dalam peristiwa yang dicatat di Kisah Para Rasul 19:1-6. Paulus membedakan saat menjadi
percaya dengan menerima Roh Kudus, sehingga Paulus merasa perlu menumpangkan
tangan, agar kedua belas murid di Efesus dibaptis Roh Kudus setelah dilakukan baptisan air.
Mengetahui latar belakang mengapa Paulus mengajukan pertanyaan itu lebih penting,
daripada meragukan kesungguhan kekristenan dari kedua belas murid di Efesus. Rupanya
Paulus memiliki pendapat yang sama dengan pernyataan Petrus (Kisah Para Rasul 2:38),
tentang menerima karunia Roh Kudus, seseorang harus terlebih dahulu dibaptiskan dalam
nama Yesus Kristus.
Pentingnya mengetahui apakah baptisan air merupakan pengalaman yang berbeda
dengan peristiwa baptisan Roh Kudus, perlu dilihat kata kerja yang dipergunakan dalam
Kisah Para Rasul 1:5 dan 2:38, Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi
kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus, Jawab Petrus kepada mereka: Bertobatlah dan
hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk
pengampunan dosamu, maka kamu akan memperoleh karunia Roh Kudus. Dalam ayat di
atas membaptis dan dibaptis mempergunakan kata Yunani ebaptisen dan baptistheto
dengan tensa aorist untuk mengungkapkan suatu tindakan telah lampau dan selesai.
Sedangkan dibaptis dengan Roh Kudus dan memperoleh karunia Roh Kudus tensa yang
dipergunakan future, menyatakan secara gramatikal suatu proyeksi, atau pengharapan
dimana tingkat kepastiannya lebih besar, jika dibandingkan modus-modus non-indikatif .3
Melihat tensa yang dipergunakan untuk baptisan air dan baptisan Roh Kudus, serta
menerima karunia Roh Kudus tersebut di atas, dapat diketahui bahwa baptisan air merupakan
peristiwa yang berbeda dengan baptisan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus dapat didefinisikan
sebagai berikut: Dimana seseorang setelah lahir baru, mengalami suatu peristiwa Ilahi,
karena pekerjaan Roh Kudus, yang ditandai dengan munculnya mujizat bahasa, berupa
bahasa roh atau bahasa asing yang sebelumnya belum pernah dipelajari (Kisah Para Rasul
2:4; 8:18; 10:44-46; 19:6; 9:17 band. 1 Korintus. 14:18; 10).
Urutan yang dibuat Petrus sangat jelas, karunia Roh Kudus diterima setelah seseorang
dibaptis dalam nama Yesus, hal itu yang mendasari kunjungan ke Samaria menemui orang-
orang yang telah dibaptis (Kisah Para Rasul 8:14). Maka dari itu, kejadian di rumah
Kornelius mencengangkan Petrus, tidak saja karena orang kafir dapat menerima keselamatan,
melainkan karunia Roh Kudus diterima sebelum mereka dibaptiskan (Kisah Para Rasul
10:45). Dalam peristiwa di rumah Kornelius, orang yang menerima khotbah Petrus saat itu
langsung dilahirkan baru, dan dilanjutkan dengan baptisan Roh Kudus. Barulah kemudian
dilaksanakan baptisan air, sebagai bukti kepercayaan dan ketaatan mereka. Kalau bertumpu
pada kebenaran Roma 10:17, bahwa iman datang dari mendengar firman Allah, dapat
dipastikan saat Petrus menyampaikan berita Injil, iman bertumbuh dalam hati Kornelius.
Kepercayaannya itulah yang menjadi dasar Roh Kudus memeteraikannya menjadi anak
Allah, sehingga selanjutnya baptisan Roh Kudus dapat mereka alami.
Perbedaan meterai Roh Kudus dan baptisan Roh Kudus terletak pada kepemilikan dan
hubungan pribadi dengan Sang Pemilik. Meterai Roh Kudus diterima dengan iman
bersamaan kelahiran baru, yang melaluinya ia diyakinkan atas statusnya yang baru sebagai
anak Allah. Sedangkan baptisan Roh Kudus, merupakan pengalaman pribadi yang dikerjakan
oleh Roh Kudus, agar melaluinya ia merasakan kehadiran Allah secara pribadi untuk
membangun imannya. Pemeteraian Roh Kudus tidak pernah dipertanyakan oleh para rasul
Sudahkah kamu di meteraikan oleh Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?. Sebab
pemeteraian dalam Roh Kudus, langsung diterima pada saat seseorang percaya kepada Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan menjadi Juruselamat. Pemeteraian Roh Kudus tidak memerlukan
tanda, karena diterima dengan iman, hanya saja harus ditindak lanjuti dengan baptisan air
didalam nama Tuhan Yesus Kristus. Sangat beralasan jika Paulus mempertanyakan baptisan
murid-murid di Efesus, dilakukan atas dasar apa setelah mereka lahir baru (Kisah Para Rasul
19:1-6).
Lain halnya dengan baptisan Roh Kudus perlu dipertanyakan, sehubungan baptisan
Roh Kudus dapat dirasakan dalam suatu pengalaman dengan tanda tertentu sebagai
pembuktiannya. Tidak ada satu ayat pun yang menegaskan bahwa baptisan Roh Kudus,
diterima dengan iman serentak pada saat orang lahir baru. Karena ada yang menghubungkan
baptisan Roh Kudus diterima dengan cara seperti seseorang menerima korban Kristus. Jikalau
pendapat tersebut benar, tentu tidak perlu ada pertanyaan apakah seseorang sudah dibaptis
Roh Kudus apa belum ketika percaya kepada Yesus Kristus. Dan cukup saja dikatakan
Percayalah Anda sudah dibaptis Roh Kudus bersamaan peristiwa Pentakosta yang dialami
para rasul, seperti Anda telah menerima pengorbanan Yesus yang telah disalibkan ribuan

3
Belajar sendiri bahsa Yunani, Yopy Margianto,Andi Publisher
tahun yang lalu. Memang sangat disayangkan, pemahaman tersebut tanpa didukung satu
ayatpun, yang menyatakan baptisan Roh Kudus diterima orang Kristen sepanjang jaman,
bersamaan dengan peristiwa Pentakosta yang dialami para Rasul. Tetapi mengabaikan bukti-
bukti dalam Alkitab, dimana seseorang yang telah lahir baru dalam pertumbuhan iman,
selanjutnya perlu menerima baptisan Roh Kudus.

Materai

Billy Graham dalam bukunya Roh Kudus Kuasa Allah dalam hidup Anda
mengatakan Paulus memiliki dua pokok pikiran berkenaan dengan dimateraikannya kita
oleh Roh Kudus. Pertama berekanaan dengan keamanan dan yang lain berkanaan dengan hak
milik.4 Dimateraikan dalam arti pengamanan itu digambarkan dalam perjanjian lama ketika
raja memetraikan daniel ke dalam kandang singa supaya ia tidak dapat keluar. Juga pada
zaman dulu, seperti pada waktu Ester menjadi ratu, raja sering membubuhkan tanda
materainya pada surat atau dokumen yang ditulis mengunakan namanya. Dan dimaterai
dengan Roh Kudus berarti lebih daripada keamanan. Itu juga berarti hak milik. Dalam
perjanjian lama kita baca bahwa Yeremia membeli sebidang tanah, membayarnya di hadapan
saksi-saksi, dan memeteraikan surat pembelian menurut hukum dan adat(Yeremia 31:10).
Dan pada saat itulah ia menjadi pemiliknya.

Di dalam Efesus 1:13 kata dimeteraikan menggunakan bahasa Yunani


espragisthete dengan parsing 2p. pl. 1 aor. pass. ind., dari akar kata spragizo yang artinya
pada saat seseorang percaya kepada Yesus Kristus yang telah mati di salib, serentak pada
waktu itu sungguh-sungguh ia telah dimeteraikan oleh Roh Kudus menjadi milik Allah sekali
untuk seterusnya. Sewaktu seseorang percaya, ia dimeteraikan dengan Roh (Efesus 1:13;
4:30); artinya, kehadiran Roh dalam diri orang-orang yang percaya merupakan cap yang
menandakan milik Allah (seperti cap yang dipakai oleh orang-orang pada abad pertama di
atas milik pribadi mereka) (Leon Morris, 1996). Pemeteraian berhubungan dengan hak waris
yang dijanjikan, dan hak-hak lainnya sebagai anak Allah yang telah disediakan. Oleh karena
itu espragisthete diterjemahkan mark with a seal (ditandai dengan segel), atau marked
with the seal. Sebagai pembanding, penggunaan meterai terdapat juga dalam Roma 4:11
yang dihubungkan dengan sunat. Sunat bagi orang Yahudi diyakini sebagai tanda (baca:
meterai) perjanjian antara Allah dengan Abraham. Setiap orang yang dihisapkan sebagai
keturunan Abraham, dan yang bersedia menerima perjanjian tersebut harus ditandai dengan
sunat (Kejadian 17).
Pemeteraian yang diterima seseorang berhubungan dengan statusnya sebagai anak
Allah, sekaligus juga menyatukan setiap orang percaya menjadi keluarga Allah. Dalam hal
ini, bisa dimengerti jika 2 Timotius 2:19 mempergunaan istilah meterai, yang dihubungkan
dengan kalimat Tuhan mengenal siapa milik-Nya. Pemeteraian secara langsung
menempatkan orang percaya pada penyatuan tubuh Kristus di dalam gereja yang Am
(Universal), dimana Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Perlu mencermati istilah yang
dipakai Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, tentang pemeteraian dan
istilah lain yang berhubungan dengan Roh Kudus, yaitu :

4
Billy Graham 109
- Efesus 1:13, meterai Roh (spragizo)
- Efesus 2:22; 3:5, di dalam Roh (en Pneumati)
- Efesus 4:3, kesatuan Roh (ten enoteta tou Pneumato)
- Efesus 4:4, satu Roh (en Pneuma)
- Efesus 4:30, mendukakan Roh (lupeite to Pneuma )
- Efesus 5:18, penuh dengan Roh (plerouste en Pneumati)
Istilah-istilah yang dipergunakan Rasul Paulus dalam suratan tersebut di atas, tidak
mencantumkan tentang baptisan Roh Kudus, padahal beberapa murid di Efesus memiliki
pengalaman tentang dibaptis Roh Kudus (Kisah Para Rasul 19:1-7). Dengan begitu bisa
dipahami bahwa pemeteraian Roh Kudus, baptisan Roh Kudus, dan kepenuhan Roh Kudus
merupakan tiga kasus berbeda, namun dikerjakan oleh Roh Kudus yang sama.
Pemeteraian Roh Kudus secara otomatis diterima oleh setiap orang percaya, saat
menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dimeteraikan oleh Roh, yang
menjadikan orang percaya terikat dalam satu Roh (dimeteraikan sama), dengan begitu
mendapatkan hak-haknya serta tanggung jawab sebagai Gereja Tuhan (2 Petrus 2:9).
Pemeteraian dilakukan oleh Roh Kudus, ditandai dengan kehadiran Roh Kudus dalam orang
tersebut, yang diterima dengan iman. Kehadiran Roh Kudus untuk meyakinkan orang
percaya, tentang statusnya sebagai ahli waris, dan menolongnya untuk melakukan tanggung
jawab panggilan iman Kristen.
Bila memahami ayat 13 dari Efesus 1 sebagai suatu kesimpulan, bahwa ketika
seseorang percaya kepada Yesus Kristus, akan secara otomatis menerima Roh Kudus dalam
artian baptisan Roh Kudus, hal itu akan bertentangan dengan fakta dalam Kisah Para Rasul
8:14-17 dan 19:2. Pada saat Lukas menulis peristiwa tersebut, dapat dipastikan ia tidak
bermaksud memunculkan suatu kontroversi. Melainkan bertujuan menyampaikan data
obyektif, bahwa mempercayai Yesus bukan berarti secara otomatis menerima baptisan Roh
Kudus. Memperhatikan Kisah Para Rasul 8:16 dan 19:1-6, dimana karunia Roh diberikan
menyusul setelah kelahiran baru, dan nampaknya dapat dilihat dan didengar. Tapi tidak ada
landasan untuk menyimpulkan bahwa kuasa karunia Roh dapat dialami tanpa Kristus. Roh
Kudus datang kepada orang yang percaya merupakan janji yang dibuat bagi dan oleh Kristus
(bnd acuan PL yang mengacu pada Kisah Para Rasul 2:39 yakni Yesaya 54:13; 57:19; Yoel
2:28-32), dan menantikan penggenapannya bahwa Roh Kudus datang. (J. D. Douglas, t.t.).
Dalam surat yang lain, Rasul Paulus membicarakan teologia terikat satu Roh,
dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan jemaat Korintus yang terancam perpecahan
(1 Korintus 3:1-9). Perlu dicermati perpecahan dapat terjadi bukan saja disebabkan adanya
kelompok yang berafiliasi kepada tokoh tertentu, tetapi juga dikarenakan munculnya karunia-
karunia Roh Kudus di antara jemaat. Mereka tampaknya telah menampilkan sejumlah
pengaruh, karena orang-orang Kristen di Korintus ternyata telah diombang-ambingkan dan
dikelompok-kelompokan, meskipun hanya dalam pandangan dan praktek hidupnya. (Willi
Marxsen, 1996). Melalui 1 Korintus 12 dapat diketahui tentang Rasul Paulus yang
menekankan kesatuan Roh, yang mengikat (memeteraikan), dan tidaklah layak apabila
masing-masing anggota jemaat saling berbenturan. Dalam konteks inilah 1 Korintus 12 harus
ditempatkan, karena ayat 13 dalam pasal ini tidak membicarakan baptisan Roh Kudus.
Meskipun ayat tersebut mempergunakan kata baptis, tetapi pada dasarnya maksud Paulus,
hendak mengemukakan bahwa tidak diperbolehkan satu orang, maupun kelompok saling
menonjolkan diri lebih dari yang lain, karena sudah tenggelam (ebaptisthemen) menjadi
satu tubuh.
Dalam ayat tersebut secara literal sudah jelas, Paulus tidak menyatakan , telah
dibaptis Roh Kudus melainkan , telah dibaptis menjadi satu tubuh yang hendak
menekankan pada kesatuannya, dan bukan mengenai baptisan Roh Kudus. Tidak akan
didapatkan satu ayat pun, tentang baptisan Roh Kudus yang dihubungkan dengan kesatuan
tubuh Kristus. Sangat beralasan jika Rasul Paulus mempergunakan kita semua, untuk
mencairkan pemahaman jemaat tentang kesatuan, karena masing-masing menonjolkan
karunia dan kelompoknya sendiri. Penegasan diberi minum dari satu Roh, mengingatkan,
bahwa semua karunia yang dapat dinikmati, berasal dari satu sumber yang sama yaitu Roh
Kudus, dan bukan berasal dari diri mereka sendiri.
Pemeteraian oleh Roh Kudus merupakan tanda, pengesahan secara hukum dimana
manusia yang sebelumnya dibawah kekuasaan Iblis, telah dibeli secara tunai melalui
pengorbanan Kristus untuk menjadi milik Allah. Dengan begitu arti dari dimeteraikan oleh
Roh Kudus adalah pada saat seseorang mempercayai dan menerima Yesus Kristus sebagai
Tuhan, serentak dengan itu Roh Kudus hadir sebagai meterai, yang mengesahkannya menjadi
anak Allah, yang dipersekutukan dalam keluarga Allah (Efesus. 1:13; Yohanes. 1:12; Roma
8:1,2,9,14-17). Dan karena itu, ia memiliki hak dan tanggung jawab untuk terikat bersama
orang percaya lainnya didalam kesatuan tubuh Kristus.

Jaminan

Pada saat kita percaya dalam Kristus, Allah memberi kita Roh bukan hanya sebagai
materai saja. Ia juga adalah jaminan kita, menurut 2Korintus 1:14.

Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah
Allah yang telah mengurapi, memeteraikn tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan
Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk
kita.(II Korintus 1:21,22).

Pada zaman Rasul Paulus, pedagang mengerti bahwa jaminan itu ada tiga arti 1) uang
muka sebagai tanada jadi; 2) memastikan harus membeli, dan 3) sebagai contoh akan apa
yang akan terjadi.5 Demikian juga Roh Kudus memeteraikan kita yang sudah dibeli oleh
Allah. Dan kehadirannya menunjukkan rasa kewajiban Allah untuk menebus kita secara
menyeluruh. Barangkali terlebih dari semuanya, kehadiran Roh Kudus, yang sedang hidup
dalam persekutuan dengan kita, memberikan kepada kita suatu sisipan kesajahteraan sebagai
contoh hidup dan warisan kita yang akan datang di tengah-tengah hadirat Allah.6

Perjanjian baru menerangkan tentang jaminan Roh kudus tiga kali:

1. (Allah) memeteraikan kita dan memberikn Roh Kudus di dalam hati kit sebagi jaminan(2
Korintus 1:22). Disini kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita adalah jaminan bahwa Ia akan
menggenapi janjiNya.

5
Ibid, 112
6
Ibid
2. Tetapi Allahlah yang justru mempersipkan kita untuk hal itu dan mengaruniakan Roh,
kepada kita sebagai jaminan(2 Korintus 5:5). Menurut Konteks disini, Roh dalam hidup kita
adalah jaminan Allah bahwa kita akan menerima tubuh rohani pada saat kedatangan Kristus
kelak.

3. dan Roh Kudus itu adalah jaminanbagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu
penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemulianNya(Efesus 1:14) disini
Roh Kudus adalah jaminan Allah untuk menjamin warisan kita sampai nanti tiba saat
penebusan total bagi mereka yang menjadi milik Allah7

7
Ibid 113-114