You are on page 1of 18

ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA

Asuhan kebidanan pada keluarga Tn.JU dengan Infertilitas Primer di Dusun


Tempel, Desa Banjarejo, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan.

I. PENGKAJIAN KELUARGA
a. Pengumpulan Data
1) Data Kepala Keluarga
Nama KK : Tn. JU
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Umur : 25 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Petani
Alamat : RT 7 RW 3 Dusun Tempel, Desa Banjarejo,
Kecamatan panekan, Kabupaten Magetan.

2) Data Anggota Keluarga


Hub Keadaan
No Nama L/P Umur Pendidikan Pekerjaan
keluarga Sekarang
1. Ny. MU P 25 Istri SMA - Sehat
2. Ny. MI P 60 Orang - Petani Sehat
Tua

3) Genogram

1
Keterangan :
: laki-laki
: perempuan
atau : Meninggal
: Garis
: Garis keturunan
: Tinggal serumah

Tipe keluarga ini adalah keluarga besar (Ekstended family), yang paling
dominan dalam pengambilan keputusan adalah ayah sebagai kepala keluarga.
Hubungan dalam keluarga cukup harmonis.
4). Keadaan lingkungan
a) Rumah
- Jenis rumah : sendiri, Luas 8mx10m
- Dinding : tembok dan anyaman bambu
- Jumlah Ruang :
Satu ruang tamu atau ruang keluarga, pencahayaan cukup
Dua ruang tidur, pencahayaan kurang
Satu ruang makan, pencahayaan cukup
Satu dapur, Pencahayaan kurang
Satu kamar mandi, pencahayaan kurang
- Atap : genting
- Lantai : semua ruangan berlantai tanah
- Ventilasi : kurang sehat
- Kebersihan rumah : bersih

b) Pemakaian air bersih : air dari mata air pegunungan


Keadaan air : bersih, tidak berbau dan tidak berasa, serta
tidak berwarna
Air minum : air dari mata air yang dimasak

2
c) Pembuangan sampah : dibakar 2 hari sekali
d) Jamban dan kamar mandi : jadi satu dengan dapur, kamar mandi
bersih, ibu belum mempunyai jamban
e) SPAL (Sistem Pembuangan Air Limbah) : dibuang
melalui saluran pembuangan berupa selokan
f) Pemanfaatan fasilitas kesehatan dan fasilitas sosial : jika ada
anggota keluarga yang sakit jarang di bawa ke puskesmas, mereka
lebih sering berobat ke BPS Ny. Hefi Amd. Keb yang jaraknya
kurang lebih 10 km, yang dapat ditempuh dengan menaiki sepeda
motor kurang lebih selama 30 menit. Jarak rumah dengan balai
desa kurang lebih 2 km, dapat ditempuh dengan berjalan kaki
kurang lebih selam 30 menit.
g). Denah rumah
U

B T 2 3 4
7
S

Keterangan :
1 Ruang keluarga atau ruang tamu
2 Kamar tidur
3 Kandang
4 Kamar tidur
5 Ruang makan
6 Kamar mandi
7 Dapur

3
h) Karakteristik tetangga dan komunitas RT
Ibu MU biasa aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Bila ada
kegiatan kerja bakti atau sinoman ibu ikut serta.
i) Manajemen kesehatan dan kematian dalam keluarga
Suami baru saja sakit gatal-gatal kemudian berobat ke bidan dan
sekarang sudah sembuh. Tidak terdapat kejadia kematian pada 1
tahun terakhir.
5). Riwayat kesehatan keluarga
a) Riwayat kesehatan dahulu
Dalam keluarga tidak ada yang pernah menderita DM, asma,
hipertensi, jantung, anemia, TBC, leukimia.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Dalam keluarga tidak ada yang pernah menderita DM, asma,
hipertensi, jantung, anemia, TBC, leukimia dan penyakit kelamin
yang menular, pembedahan pada organ reproduksi.
6). Riwayat kebidanan
a) Haid
Menarche usia 12 tahun. Siklus teratur 28 hari, haid setiap tanggal
28, lama kurang lebih 5 hari, konsistensi darah encer kadang
disertai gumpalan, ganti pembalut 2-3 kali sehari, kadang-kadang
mengalami keputihan menjelang haid ataupun nyeri saat haid (sakit
yang dirasakan biasa atau tidak terlalu sakit dan tidak
menimbulkan gangguan). HPHT = 28 Mei 2008
b) Imunisasi
Pada saat akan menikah istri sudah mendapatkan imunisasi TT
CPW 2X
c) Keluarga berencana
Istri maupun suami tidak pernah menggunakan metode kontrasepsi
karena ingin segera mempunyai keturunan.

4
d) Kesehatan reproduksi
Suami istri telah menikah kurang lebih selam 2 tahun tetapi belum
dikaruniai anak. Pasangan belum pernah konsultasi/memeriksakan
diri pada tenaga kesehatan
7). Status marital Tn JU dan Ny. MU
Perkawinan ke : 1 / 1
Usia saat kawin : 25 tahun / 25 tahun
Lama kawin : 2 tahun / 2 tahun
8). Kegiatan sehari-hari
Kebiasaan tidur : keluarga biasa mulai tidur malam jam 21.00
WIB dan bangun pagi jam 04.30 WIB. Istirahat atau tidur siang
keluarga tidak teratur dan tergantung kepada kemauan keluarga
masing-masing.
Kebiasaan makan : pola makan 3x/hari dengan makanan pokok
beras (nasi), porsi 1 piring penuh, sayur dan lauk pauk (tahu,
tempe, telur secara bergantian). Ibu tidak suka makan makanan
laut, daging sapi, dan daging kambing, keluarga suka minum air
putih (5-6 gelas/hari tiap orang) biasanya juga minum secangkir
kopi atau the di pagi hari. Keadaan fisik anggota keluarga tidak ada
yang terlalu gemuk/terlalu kurus.
Kebiasaan kebersihan diri : keluarga mempunyai kebiasaan
kebersihan diri yang teratur, yaitu mandi 2x sehari (pagi dan sore),
ganti pakaian sehabis mandi, menggosok gigi bersamaan dengan
mandi dan keramas 1-2 kali seminggu.
Kebiasaan eliminasi : keluarga mempunyai pola waktu eliminasi
yang tidak teratur namun tidak mengalami keluhan sakit atau nyeri
saat BAB atau BAK.
Penggunaan waktu senggang : waktu senggang oleh istri
digunakan untuk bantu ibu berjualan es. Istri aktif mengikuti
kegiatan ibu-ibu di lingkungan RT/RW seperti arisan dan

5
pengajian. Suami sehari-hari sibuk dengan pekerjaanya sebagai
petani.
Kehidupan seksual : isrti mengatakan hubungan seksual
dilakukan rutin 3x dalam seminggu (hari senin, rabu, jumat)
dengan memperhatikan masa subur. Setiap melakukan hubungan
seksual mengaku bisa sama-sama mencapai puncak kepuasan dan
tidak disertai rasa nyeri, panas, atau sakit saat atau setelah
melakukan hubungan seksual. Posisi hubungan seksual sama, tidak
bervariasi. Setelah melakukan hubungan seksual tidak terjadi
kontak berdarah. Setelah melakukan hubungan seksual biasanya
pasangan istirahat tidur.
Pola ketergantungan : suami mempunyai kebiassaan merokok
sejak usia 17 tahun. Dalam sehari bisa menghabiskan 3 batang
rokok. Keluarga tidak mengalami ketergantungan terhadap
minuman beralkohol maupun obat-obatan.
Latar belakang sosial budaya : keluarga tidak memilki keinginan
untuk mengadopsi anak karena masih yakin bisa mempunyai
anak/keturunan sendiri.
Keadaan psikososial : hubungan antara anggota keluarga sangat
akrab dan saling membantu dalam pekerjaan sehari-hari. Istri
mengatakan saat ini keluarganya sangat berharap punya keturunan
dan memberikan motivasi untuk tetap sabar dan berusaha.
Keadaan spiritual : keluarga beragama islam dan rajin
melaksanakan sholat 5 waktu serta selalu berdoa agar segera diberi
keturunan. Suami istri selalu hadir dalam kegiatan pengajian.
b. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : Komposmentis
3. TTV : T : 110/70 ; N : 88x/mnt ; S: 36,8C ;
Rr : 20x/mnt
4. BB : 45 kg

6
5. TB : 155 cm
6. LILA : 24 cm

1Analisa Data

Masalah kesehatan dan diagnosa


No Data
keluarga
1. Tn. JU (25 tahun) dan Ny. MU - Ketidaksanggupan keluarga
(25 tahun),PUS, perkawinan mengenal masalah kesehatan
pertama, lama kawin 2 tahun, keluarga disebabkan karena kurang
komunikasi dan interaksi dalam pengetahuan tentang infertilitas
keluarga cukup harmonis. Istri primer.
mengatakan hubungan seksual - Ketidaksanggupan keluarga
dilakukan secara rutin 3 kali dalam mengambil keputusan dalam
seminggu (senin, rabu, jumat) melakukan tindakan yang tepat
dengan memperhatikan masa disebabkan karena tidak memahami
subur. Pasangan tidak pernah mengenai sifat, berat, luasnya
menggunakan metode kontrasepsi masalah.
karena ingin segera punya
keturunan.

III.PRIORITAS MASALAH
1. Infertilitas primer

No Kriteria Bobot Perhitungan Skor Pembenaran


1. Sifat masalah 1 3
/31 1 Kurana/tidak sehat yaitu kegagalan
dalam memantapkan kesehatan
reproduksi pasangan.
2. Kemungkinan 2 1
/22 1 Dengan adanya keinginan
masalah dapat pasangan untuk segera mempunyai
diubah anak mempengaruhi masalah ini
untuk diubah, namun mengingat
sumber daya keluarga yang kurang
memadai (keuangan, tenaga) dalam
upaya penanganan infertilitas
primer memungkinkan hanya
sebagian saja masalah yang dapat
diubah.
3. Potensi 1 3
/31 1 Pada pasangan infertilitas primer
masalah untuk dapat diupayakan rujukan pada
dicegah dokter ahli sehingga mendapatkan
pemeriksaan dan pengobatan yang

7
kompleks dan beberapa nasehat
yang memberikan kemungkinan
kesuburan.
4. Menonjolnya 1 2
/21 1 Keluarga menyadari masalah dan
masalah perlu segera mengatasi masalah
tersebut.
Total skor 4

2. Kesehatan lingkungan (keluarga tidak memiliki WC)

No Kriteria Bobot Perhitungan Skor Pembenaran


1 Sifat masalah 1 3
/31 1 Tidak atau kurang sehat.
2 Kemungkinan 2 1
/22 1 Kondisi ekonomi ibu lemah dan
masalah dapat penghasilan tidak tentu sehingga
diubah kemungkinan masalah dapat
diubah hanya sebagian.
1
3 Potensi 1 1
/31 /3 Sangat sulit untuk memperbaiki
masalah untuk kondisi lingkungan jika tidak
dicegah adanya WC.
4 Menonjolnya 1 0
/21 0 Menurut keluarga tidak diperlukan
masalah WC karena biasa BAB atau BAK
di sungai.
Total skor 2 /3
1

Berdasarkan hasil pembobotan masalah diatas, maka urutan prioritas


masalah kesehatan dan kebidanan keluarga Tn. JU dapat disusun sebagi
berikut:
1. Infertilitas primer
2. Kesehatan lingkungan (keluarga tidak memiliki WC).

8
IV. PERENCANAAN

Masalah
No Dx keluarga Sasaran Tujuan Tindakan Metode Media
kesehatan
1. Infertilitas 1. Ketidaksan Semua Setelah diberikan Kunjungan rumah Ceramah Leaflet tentang
primer ggupan keluarga anggota penjelasan keluarga dan: dan tanya infertilitas
mengenal keluarga mampu umengerti 1. Penyuluhan jawab primer
masalah an memahami tentang pengertian
kesehatan tentang infertilitas infertilitas primer
keluarga primer, mampu 2. Faktor yang
disebabkan merawat an mempengaruhi
karena kurang mengambil kesuburan
pengetahuan keputusan yang 3. Faktor
tentang tepat dimana dan penyebab
infertilitas primer. kapan harus berkurangnya
2. Ketidaksan meminta kesuburan
ggupan keluarga pertolongan. 4. Penanganan
mengambil pasangan
keputusan dalam infertilitas primer
melakukan 5. Nasehat pada
tindakan yang pasangan
tepat disebabkan infertilitas primer
karena tidak
memahami
mengenai sifat,
berat, luasnya
masalah.

9
V. PELAKSANAAN
Tanggal 9 Juni 2008 pukul 19.30 WIB
Kegiatan:
1. Kunjungan rumah
2. Memberikan penyuluhan tentang:
a) Menjelaskan tentang infertilitas primer
b) Faktor yang mempengaruhi kesuburan
c) Faktor penyebab berkurangnya kesuburan
d) Penanganan pasangan infertilitas primer
e) Nasehat pada pasangan infertilitas primer
3. Memberitahu tentang kapan saat yang tepat meminta pertolongan
pelayanan kesehatan dan dimana mereka bisa melaksanakanya.

VI. EVALUASI
Tanggal 9 Juni 2008 pukul 20.30 WIB
Ibu dan keluarga mengerti tentang infertilitas primer dan pentingnya bagi ibu
untuk memeriksakan diri.

10
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Infertilitas primer


Sasaran : Pasangan Suami Istri (Tn. JU dan Ny. MU)
Tempat : Rumah sasaran
Waktu : Senin, 9 Juni 2008 mulai jam 09.30 WIB
TIU : Setelah diberikan penyuluhan kesehatan, pasanagn suami istri dapat
mengenal masalah kesehatan pasangan infrtilitas primer dan mampu
mengambil keputusan terhadap upaya penanganan pasangan infrtilitas
primer.

No Penyuluhan Sasaran Metode Media


1. Menjelaskan Menyimak, Ceramah dan Leaflet
tentang infertilitas mendengar tanya jawab
primer dan bertanya

2 Menjelaskan Menyimak, Ceramah dan Leaflet


tentang faktor yang mendengar tanya jawab
mempengaruhi dan bertanya
kesuburan.
3 Faktor penyebab Menyimak, Ceramah dan Leaflet
berkurangnya mendengar tanya jawab
kesuburan dan bertanya
4 Penanganan Menyimak, Ceramah dan Leaflet
pasangan mendengar tanya jawab
infertilitas primer dan bertanya
5 Nasehat pada Menyimak, Ceramah dan Leaflet
pasangan mendengar tanya jawab
infertilitas primer dan bertanya

11
MATERI PENYULUHAN

1. Pengertian infertilitas primer


Adalah pasangan tidak pernah mengalami konsepsi meskipun mereka
melakukan hubungan seksual secara teratur, 2-3 kali dalam seminggu, selama
paling sedikit 12 bulan tanpa proteksi.
2. Faktor yang mempengaruhi kesuburan, antara lain:
Umur, frekuensi hubungan seksual, masa hubungan seksual, pemakaian
lubrikan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pembedahan pada organ
reproduksi, infeksi saluran genetalia yang ditularkan secara seksual infeksi
traktus genetalia, penyakit yang ditularkan tidak melalui hubungan seksual
(tuberkulosis genetalia, infeksi post partum, infeksi post abortus), radiasi,
obat-obatan, emosi, pekerjaan yang dekat dengan faktor panas dalam waktu
yang lama atau adanya radiasi/zat kimia dalam pekerjaan, defisiensi nutrisi
serta efek dari sirkumsisi wanita.
3. Faktor penyebab infertilitas pada suami istri
Faktor suami sebagai penyebab infertilitas dapat mencakup beberapa faktor
sebagai berikut:
1) Faktor kelainan alat kelamin
Hipospadia (muara saluran kemih terletak di
permukaan bawah buah zakar)
Ejakulasi retrograd (ejakulasi dimana air mani masuk
ke dalam kandung kemih)
Terdapat varikokel (pelebaran pembuluh balik tali
mani)
Buah zakar mengecil (atrofi)
Buah zakar yang tidak turun
2) Faktor fungsional
Kemampuan ereksi kurang
Kelainan pada pembentukan spermatozoa
Gangguan pada sperma dan spermatozoa
Faktor istri merupakan 60-70% sebagai penyebab infertilitas, meliputi
sebagai berikut:

12
3) Faktor anatomis (kelainan alat kelamin)
Liang ssenggama (vagina) 5%
Mulut rahim (serviks) 5%
Rahim sendiri 5%
Saluran telur (tuba falopii) 50-65%
Indung telur 10-15%
Faktor lapisan pada abdomen (pentoneum) 5%
4. Penanganan pasangan infertilitas
Untuk memecahkan masalah pasangan infertilitas dapat dikemukakan
beberapa hal sebagai berikut:
1) Pasangan infertilitas merupakan satu kesatuan biologis.
2) Penanganan pasangan infertilitas memerlukan biaya, waktu yang sulit
diperhitungakan lamanya.
3) Penilaian anamnesa pasangan infertilitas (anamnesa umum/bersama,
anamnesa khusus meliputi khusus suami atau istri saja).
4) Pemerikasaan pasangan infertilitas
a. Pemeriksaan pasangan infertilitas secara umum
Pemeriksaan fisik umum suami atau istri
Pemeriksaan laboratorium dasar
Pemeriksaan rontgen atau USG
b. Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan istri
Pemeriksaan alat kandungan
Pemeriksaan lendir serviks: reaksi imunologis, tes shim huhner
Pemeriksaan rahim: hiteroskopi, isterosalpingografi, hidratubai,
partubasi
Pemeriksaan laparoskopi
c. Pemeriksaan untuk menetapkan terjadinya ovulasi
Pemeriksaan suhu basal

13
Pemeriksaan mikrokuretage
Pemeriksaan sitologi cairan serviks vagina
Pemeriksaan daun pakis
d. Pemeriksaan khusus suami
Pemeriksaan fisik alat genetalia bagian luar
Analisis sperma sebanyak 3 kali dengan interval sekitar 5-7
hari
5. Nasehat pada pasangan infertilitas
Memberikan beberapa nasehat, yang memberikan kemungkinan kesuburan:
1) Mengubah teknik hubungan seksual, dengan memperhatikan masa subur
istri.
2) Memilih makanan yang dapat meningkatkan kesuburan suami-istri.
3) Menghitung masa subur dengan jalan menggunakan termokauter khusus
atau menghitung melalui hari pertama datang bulan.
4) Menganjurkan untuk mencari penuntun, sebagai penenang psikologis
pasanagn suami istri sehingga istri segera menjadi hamil.
5) Memberikan motivasi pasangan untuk memeriksakan diri pada tenaga
kesehatan yang lebih berkompeten infertilitas primer, sehingga pasangan
infertilitas mendapatkan pengobatan sebagaimana mestinya.

14
ASUHAN KEBIDANAN
PADA KELUARGA Tn. JU DENGAN INFERTILITAS PRIMER
DI RT 07 RW 03 DUSUN TEMPEL, DESA BANJAREJO,
KECAMATAN PANEKAN, KABUPATEN MAGETAN

Sebagai Syarat Memenuhi Tugas Pengalaman Belajar


Praktek dan Praktek Klinik Kebidanan

Oleh :
ANGGARITA PUSPITA DEWI
NIM: P27824205003

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SURABAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN MAGETAN
MAGETAN
2008

15
LEMBAR PERSETUJUAN

Asuhan Kebidanan Pada Keluarga dengan Pasangan Suami Istri Infertillitas


Primer di Rt. 7/Rw. 3 Dusun tempel, Desa banjarejo, Kecamatan Panekan,
Kabupaten Magetan.

Disetujui tanggal :
23 Juni 2008

Mengetahui

Pembimbing Akademik

NURYANI SST
NIP: 140372736.

16
ii

17
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat Menyelesaikan Laporan Asuhan
Kebidanan pada Keluarga Tn. JU dengan Infertilitas Primer di RT 07 RW 03
Dusun Tempel, Desa Banjarejo, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan.
Adapun tujuan dilaksanakan praktek kerja lapangan ini adalah untuk
meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam pelayanan kebidanan komunitas
serta sekaligus ikut serta dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada
umumnya dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam konteks keluarga
khususnya.
Dalam penyusunan laporan ini penulis mendapatkan pembinaan,
bimbingan ussntuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Kepala Puskesmas Panekan.
2. Bapak Kepala Desa Jabung.
3. Ibu Nani Surtinah S.S.T, S.Si.T M.Pd, selaku Ketua Program Studi Kebidanan
Magetan.
4. Ibu Yatmiatun Amd. Keb, selaku bidan Desa Banjarejo.
5. Ibu Nuryani SST, selaku pembimbing akademik.
6. Semua pihak yang telah membantu kelancaran praktek kerja lapangan.
Semoga laporan ini berguna bagi penulis dan pembaca pada umumnya dan
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran serta bimbingan yang membangun
dan perbaikan laporan yang akan datang.

Magetan, Juni 2008

Penulis

iii18