You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI

A. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140
mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran
dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang).Hipertensi
didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and
Treatment of High Blood Pressure sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140 / 90
mmHg.
Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi berbagai
faktor resiko yang dimiliki seseorang terutama pada lansia.Faktor pemicu hipertensi
dibedakan menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis
kelamin, dan umur.Faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya aktivitas
fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung natrium dan
lemak jenuh.
Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu gangguan pada
pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh
darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi sering
kali disebut sebagai pembunuh gelap (Silent Killer), karena termasuk penyakit yang
mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan
bagi korbanny.Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke,
kelemahan jantung, penyakit jantung koroner (PJK), gangguan ginjal dan lain-lain
yang berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak, ginjal dan
jantung yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian. (Lanny Sustrani, dkk,
2004).
B. Klasifikasi
Komite eksekutif dari National High Blood Pressure Education Program
merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari 46 professionalm sukarelawan, dan
agen federal. Mereka mencanangkan klasifikasi JNC (Joint Committe on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure) pada
tabel 1, yang dikaji oleh 33 ahli hipertensi nasional Amerika Serikat (Sani, 2008).
Tabel 1
Klasifikasi Menurut JNC (Joint National Committe on Prevention, Detection,
Evaluatin, and Treatment of High Blood Pressure)

Kategori Kategori Tekanan dan/ Tekanan


Tekanan Darah Tekanan Darah Darah Sistol atau Darah Diastol
menurut JNC 7 menurut JNC 6 (mmHg) (mmHg)
Normal Optimal < 120 dan < 80
Pra-Hipertensi 120-139 atau 80-89
- Nornal < 130 dan < 85
- Normal-Tinggi 130-139 atau 85-89
Hipertensi: Hipertensi:
Tahap 1 Tahap 1 140-159 atau 90-99
Tahap 2 - 160 atau 100
- Tahap 2 160-179 atau 100-109
Tahap 3 180 atau 110
(Sumber: Sani, 2008)
Data terbaru menunjukkan bahwa nilai tekanan darah yang sebelumnya
dipertimbangkan normal ternyata menyebabkan peningkatan resiko komplikasi
kardiovaskuler. Data ini mendorong pembuatan klasifikasi baru yang disebut pra
hipertensi (Sani, 2008).
WHO dan International Society of Hypertension Working Group (ISHWG) telah
mengelompokkan hipertensi dalam klasifikasi optimal, normal, normal-tinggi,
hipertensi ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat (Sani, 2008).

Tabel 2
Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO

Kategori Tekanan Darah Tekanan Darah


Sistol (mmHg) Diatol (mmHg)
Optimal
Normal < 120 < 80
Normal-Tinggi < 130 < 85
130-139 85-89
Tingkat 1 (Hipertensi Ringan) 140-159 90-99
Sub-group: perbatasan 140-149 90-94
Tingkat 2 (Hipertensi Sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (Hipertensi Berat) 180 110
Hipertensi sistol terisolasi 140 < 90
(Isolated systolic
hypertension)
Sub-group: perbatasan 140-149 <90
(Sumber: Sani, 2008)
Menurut Chinese Hypertension Society (CHS) pembacaan tekanan darah
<120/80 mmHg termasuk normal dan kisaran 120/80 hingga 139/89 mmHg
termasuk normal tinggi (Shimamoto, 2006).
Tabel 3
Klasifikasi Hipertensi Menurut CHS

Tekanan Darah Sistol Tekanan Darah Diastol CHS-2005


(mmHg) (mmHg)
< 120 < 80 Normal
120-129 80-84 Normal-Tinggi
130-139 85-89
Tekanan Darah Tinggi
140-159 90-99 Tingkat 1
160-179 100-109 Tingkat 2
180 110 Tingkat 3
140 90 Hypertensi Sistol
Terisolasi
(Sumber: Shimamoto, 2006)
Klasifikasi hipertensi menurut bentuknya ada dua yaitu hipertensi sistolik dan
hipertensi diastolik (Smith, Tom, 1986:7). Pertama yaitu hipertensi sistolik
adalah jantung berdenyut terlalu kuat sehingga dapat meningkatkan angka
sistolik. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila
jantung berkontraksi (denyut jantung). Ini adalah tekanan maksimum dalam
arteri pada suatu saat dan tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai
tekanan atas yang nilainya lebih besar.
Kedua yaitu hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil
menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran
darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan darah
diastolik berkaitan dengan tekanan dalam arteri bila jantung berada dalam
keadaan relaksasi diantara dua denyutan. Sedangkan menurut Arjatmo T dan
Hendra U (2001) faktor yang mempengaruhi prevalensi hipertensi antara lain
ras, umur, obesitas, asupan garam yang tinggi, adanya riwayat hipertensi dalam
keluarga.
Klasifikasi hipertensi menurut sebabnya dibagi menjadi dua yaitu sekunder
dan primer. Hipertensi sekunder merupakan jenis yang penyebab spesifiknya
dapat diketahui (Lanny Ssustrani, dkk, 2004).
Klasifikasi hipertensi menurut gejala dibedakan menjadi dua yaitu hipertensi
Benigna dan hipertensi Maligna. Hipertensi Benigna adalah keadaan hipertensi
yang tidak menimbulkan gejala-gejala, biasanya ditemukan pada saat penderita
dicek up. Hipertensi Maligna adalah keadaan hipertensi yang membahayakan
biasanya disertai dengan keadaan kegawatan yang merupakan akibat komplikasi
organ-organ seperti otak, jantung dan ginjal (Mahalul Azam,2005).
C. Gambaran Klinis Hipertensi
hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala
khusus sehinga banyak orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya terkena
hipertensi. Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah diamati antara lain
yaitu :
1) Gejala ringan seperti pusing atau sakit kepala
2) Tengkuk terasa pegal
3) Telinga berdengung
4) Sukar tidur
5) Sesak napas
6) Rasa berat ditengkuk
7) Mata berkunang-kunang
8) Mimisan ( keluar darah dari hidung).

Banyak faktor yang mempengaruhi tejadinya hipertensi beberapa faktor resiko yang
menyebabkan hipertensiMenurut Elsanti (2009), faktor resiko yang mempengaruhi
hipertensi yang dapat atau tidak dapat dikontrol, antara lain:

1. Faktor Resiko Yang Tidak Dapat Dikontrol:

a. Jenis kelamin

Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita tapi saat ni
wanita cenderung banyak yang terkena hipertensi. Namun wanita terlindung dari
penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami
menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan
kadarHigh Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi
merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek
perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada
usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi
sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari
kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah
kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi
pada wanita umur 45-55 tahun. Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari
setengah penderita hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%. (Anggraini
dkk, 2009).

Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda.
Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita
hipertensi adalah wanita.Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah
menopause (Marliani, 2007).

b. Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang
lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia
lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. Hal ini
disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat
yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus , hipertensi
banyak terjadi pada usia lanjut. Pada wanita, hipertensi sering terjadi pada usia
diatas 50 tahun. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah
menopause.

Hanns Peter (2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia
ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama,
terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya
arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya
penyesuaian diri.

Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga


prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian
sekitar 50 % diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta
tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Peningkatan kasus
hipertensi akan berkembang pada umur lima puluhan dan enampuluhan. Dengan
bertambahnya umur, dapat meningkatkan risiko hipertensi

c. Keturunan (Genetik)

Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga


itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan
peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium
terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko
dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak
mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Selain itu didapatkan 70-80%
kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga (Anggraini dkk,
2009). Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan
hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi (Marliani, 2007).
Menurut Rohaendi (2008), mengatakan bahwa Tekanan darah tinggi
cenderung diwariskan dalam keluarganya. Jika salah seorang dari orang tua anda
ada yang mengidap tekanan darah tinggi, maka anda akan mempunyai peluang
sebesar 25% untuk mewarisinya selama hidup anda. Jika kedua orang tua
mempunyai tekanan darah tingi maka peluang anda untuk terkena penyakit ini akan
meningkat menjadi 60%.

2. Faktor Resiko Yang Dapat Dikontrol:

a. Obesitas

Pada usia pertengahan ( + 50 tahun ) dan dewasa lanjut asupan kalori sehingga
mengimbangi penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya
berat badan meningkat.Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia.Kelompok
lansia karena dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan
pembuluh darah, hipertensi (Rohendi, 2008).

Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak, dapatdilakukan


dengan mengukur berat badan dengan tinggi badan, yang kemudian disebut dengan
Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:

Berat Badan (kg)

IMT = ------------------------------------------------

Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)

IMT berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah


sistolik.Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal.Pada penderita
hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat badan lebih.

Obesitas beresiko terhadap munculnya berbagai penyakit jantung dan pembuluh


darah.Disebut obesitas apabila melebihi Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa
Tubuh (IMT).BMI untuk orang Indonesia adalah 25.BMI memberikan gambaran
tentang resiko kesehatan yang berhubungan dengan berat badan.Marliani juga
mengemukakan bahwa penderita hipertensi sebagian besar mempunyai berat badan
berlebih, tetapi tidak menutup kemungkinan orang yang berat badanya normal
(tidak obesitas) dapat menderita hipertensi.Curah jantung dan sirkulasi volume
darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dibandingkan dengan berat
badannya normal. (Marliani,2007).

Hipertensi sangat berkaitan sekali dengan obesitas dan peningkatan resiko


penyakit kardiovaskular.Sekitar 75% hipertensi secara langsung berhubungan
dengan kelebihan berat badan (Ting Fei Ho, 2009). Indeks Massa Tubuh merupakan
salah satu indikator yang paling sering digunakan dan praktis untuk mengukur
tingkat populasi orang dewasa, dimanan IMT dikategorikan menjadi underweight,
normal, overweight, beresiko, obesitas I, dan obesitas II (Sugondo, 2007).

Swedish Obese Study (1999) melaporkan bahwa angka kejadian hipertensi


pada obesitas adalah sekitar 13.6%, sedangkan Framingham Study (1999)
mendapatkan adanya peningkatan insiden hipertensi, diabetes mellitus, dan angina
pectoris pada kasus obesitas, terutama pada obesitas sentral. Banyak peneliti yang
melaporkan IMT berkaitan dengan kejadian hipertensi dan diduga peningkatan berat
badan berperanan penting pada mekanisme timbulnya hipertensi pada penderita
obes (Kapojos, 2009). Tromo study (1999) telah membuktikan adanya hubungan
antara bertambahnya indeks massa tubuh dengan peningkatan tekanan darah, yang
tidak bergantung pada gender. Mekanisme terjadinya hipertensi pada kasus obesitas
belum sepenuhnya dipahami, tetapi telah diketahui bahwa pada obesitas terdapat
peningkatan volume plasma dan curah jantung yang akan meningkatkan tekanan
darah.

b. Kurang olahraga

Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular,


karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan
menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga
menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena
adanya kondisi tertentu.
Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena
bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk.Orang-orang yang tidak aktif cenderung
mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih
keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa
semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri.Latihan fisik berupa berjalan kaki
selama 30-60 menit setiap hari sangat bermanfaat untuk menjaga jantung dan
peredaran darah.Bagi penderita tekanan darah tinggi, jantung atau masalah pada
peredaran darah, sebaiknya tidak menggunakan beban waktu jalan. Riset di Oregon
Health Science kelompok laki-laki dengan wanita yang kurang aktivitas fisik
dengan kelompok yang beraktifitas fisik dapat menurunkan sekitar 6,5% kolesterol
LDL (Low Density Lipoprotein) faktor penting penyebab pergeseran arteri
(Rohaendi, 2008).

c. Kebiasaan Merokok

Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah.Perokok berat dapat


dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya
stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. Dalam penelitian kohort
prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and Womens Hospital,
Massachussetts terhadap 28.236 subyek yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi,
51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok
1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang
perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam
penelitian ini yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan
kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari (Rahyani, 2007).

d. Mengkonsumsi garam berlebih

Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO)


merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya
hipertensi. Kadar yodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol
(sekitar 2,4 gram yodium atau 6 gram garam) perhari. Konsumsi natrium yang
berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler
meningkat.Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga
volume cairan ekstraseluler meningkat.Meningkatnya volume cairan ekstraseluler
tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada
timbulnya hipertensi.(Wolff, 2008).

e. Minum alkohol

Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan


organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan
termasuk salah satu faktor resiko hipertensi (Marliani, 2007).

f. Minum kopi

Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75
200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan
tekanan darah 5 -10 mmHg.

g. Stress

Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf


simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak
menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap
tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat
perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan
dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota
(Rohaendi, 2003). Menurut Anggraini dkk, (2009) menagatakan Stress akan
meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan
menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun stress ini dapat berhubungan dengan
pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal

D. Patofisiologis Hipertensi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah


terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula
jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan
pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu
dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui
dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang
kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada
gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan
volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan
tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot
polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan
daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang
kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung
(volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan
tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
H. Gejala Hipertensi

Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala

khusus sehinga banyak orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya terkena

hipertensi. Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah diamati antara lain

yaitu :
1. Gejala ringan seperti pusing atau sakit kepala
2. Tengkuk terasa pegal
3. Telinga berdengung
4. Sukar tidur
5. Sesak napas
6. Rasa berat ditengkuk
7. Mata berkunang-kunang
8. Mimisan ( keluar darah dari hidung).
Banyak faktor yang mempengaruhi tejadinya hipertensi beberapa faktor

resiko yang menyebabkan hipertensiMenurut Elsanti (2009).

E. Komplikasi hipertensi

Penderita hipertensi beresiko terserang penyakit lain yang timbul bersamaan sebagai

akibat hipertensi di antaranya sebagai berikut.


1. Penyakit jantung koroner
Penyakit ini sering dialami penderita hipertensi sebagai akibat terjadinya

pengapuran pada diidng pembuluh darah jantung. Penyempitan lubang

pembuluh darah jantung menyebabkan berkurangnya aliran darah pada beberapa

bagian otot jantung. Hal ini menyebabkan rasa nyeri di dada dan dapat

menyebabkan timbulnya serangan jantung (Darmartha,2008).


2. Gagal jantung
Tekanan darah yang tinggi memaksa otot jantung bekerja lebih berat untuk

memompa darah.kondisi itu akibat otot jantung akan menebal dan merengang

sehingga daya pompa otot menurun.pada akhirnya,dapat terjadi kegagalan kerja

jantung secara umum.tanda-tanda adanya komplikasi yaitu sesak nafas, nafas


putus-putus (pendek),dan terjadi pembengkakan pada tungkai bawah serta

kaki(Darmartha,2008).
3. Kerusakan pembuluh darah otak
Bebrapa penelitian di luar negri mengungkapkan bahwa hipertensi menjadi

penyebab utama pada kerusakan pembuluh darah otak.ada dua jenis kerusakan

yang menimbulkan yaitu pecahnya pembuluh darah dan rusaknya diding

pembuluh darah.dampak akhirnya,seseorang bisa mengalami stroke dan

kematian(Darmartha,2008).
4. Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan peristiwa dimana ginjal tida dapat berfungsi

sebagaimana mestinya. Ada dua jenis kelainan ginjal akibat hipertensi yaitu

nefrosklerosis benigna dan nefrosklerosis maligna. nefrosklerosis benigna

terjadi pada hipertensi yang berlangsung lama sehingga terjadi pengendapan

fraksi-fraksi plasma pada pembuluh darah akibat proses menua. nefrosklerosis

benigna merupakan kelainan ginjal yang ditandai dengan naiknya tekanan

diastole di atas 130 mmHg yang disebabkan terganggunya fungsi ginjal

(Darmartha,2008).

F. Penatalaksanaan Hipertesi

Hipertensi adalah mencegah terjadinya morilitas dan mortalitas penyerta dengan

mencapai dan mempertahankan tekanan darah di bawah 140/90 mmHg. Efektifitas

setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi,komplikasi (Nurachmach,2009).


G. Terapi Farmakologis
Terapi obat adalah pengunaan obat secara tungal atau secara kombinasi untuk

mengembalikan tekanan darah arteri ke level normal dengan efek samping sekecil

mungkin.untuk pasien dengan hipertensi berat (rata-rata tekanan darah diastolic >
130 mmHg) yang memerlukan terapi intensif dengan sejumlah agen secara

bersamaan (Syamsudin,2011).
1. Mulai pengobatan dengan satu obat satu dosis rendah (jika tekanan darah tidak

dikendalikan) hanya akan membaik dengan taraf biasa.


2. Mulai dengan satu obat juga bisa mengobati dan/atau tidak menganggu suatu

kondisi yang ada.


3. Tambahkan obat kedua dari kelas obat yang berbeda (perlengkap)jika tekanan

darah tidak terkontrol dengan dosis sedang untuk agen pertama.


4. Mulai dengan obat yang mungkin paling ditoleransi oleh pasien.kepatuhan

jangka panjang berkaitan dengan tolerabilitas dan khasiat obat pertama yang

digunakan.
5. Gunakan terapi diuretik jika ada dua obat yang digunakan,berlaku untuk hampir

semua kasus.
6. Gunakan deuretik tiazid hanya dengan dosis rendah25 mg/hari

hidroklorotiazida aau obat yang ekuivalen,kecuali ada alas an yang mendesak


7. Gunakan terapi kombinasi dosis rendah,jika diperlukan,sebagai terapi awal.
8. Satu atau dua obat akan mengendalikan tekanan darah pada 90%pasien

hipertensi untuk mendapatkan tekanan darah diastolic <90 mmHg,sekitar 70

kasus memerlukan dua obat.


Jika terapi dengan dua obat tidak menghasilkan tekanan darah yang

diinginkan,maka obat utama mesti ditambah hingga dosis penuh. Jika tekanan

darah masih belum terkontrol,maka dianjurkan untuk melakukan pencarian secara

rinci terhadap penyebab sekunder hipertensi tetapi jika tekanan darah terkontrol,

maka bisa dilakukan penurunan dosisi secara bertahap atau pemutusan sebagai

obat yang digunakan untuk mengetahui program terapi minimal yang bisa

mempertahankan tekanan darah setinggi 140/90 mmHg atau kurang

(Syamsudin,2011).