You are on page 1of 70

LAPORAN PENDAHULUAN

BAB I
KONSEP MEDIS
A. DEFENISI
Abses adalah infeksi bakteri setempat yang ditandai dengan

pengumpulan pus (bakteri,jaringan nekrotik dan sel darah

putih)

( Smelltzer at.al, 2001: 496)

Abses adalah kumpulan nanah (netrofil yang telah mati yang

terakumulasi disebuah kavitas jaringan karena adanya proses

infeksi). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh

jaringan untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi

kebagian lain dari tubuh (http://id.wikipedia.org/wiki/abses)

B. ETIOLOGI

Menurut ahli penyakit infeksi penyebab abses antara lain :

1. Infeksi Mikrobial

Merupakan penyebab paling sering terjadinya abses. Virus

menyebabkan kematian sel dengan cara multiplikasi. Bakteri

melepaskan eksotoksin yang spesifik yaitu suatu sintesis

kimiawi yang merupakan awal radang atau melepaskan

endotoksin yang ada hubunganya dengan dinding sel


2. Reaksi hipersensitivitas.

Terjadi bila ada perubahan respon Imunologi yang

menyebabkan jaringan rusak.

3. Agen Fisik

Melalui trauma fisik, ultra violet, atau radiasi, terbakar, atau

dinding berlebih (frostbite).

4. Bahan kimia iritan dan korosif

Bahan oksidan, asam, basa, akan merusak jaringan dengan

cara memprovokasi terjadinya proses radang, selain itu agen

infeksi dapat melepaskan bahan kimiawi spesifik yang

mengiritasi dan langsung menyebabkan radang

5. Nekrosis jaringan

Aliran darah yang kurang akan menyebabkan hipoksia dan

berkurangnya makanan pada dearah yang bersangkutan.

Menyebabkan kematian jaringan yang merupakan stimulus kuat

penyebab infeksi pada daerah tepi infeksi sering

memperlihatkan suatu respon radang akut.

(Underwood,lC.E. 1999: 232 )


D. MANIFESTASI KLINIS

1. Karena abses merupakan salah satu manifestasi peradangan,

maka manifestasi lain yang mengikuti abses dapat merupakan tanda

dan gejala dari prose inflamasi, yakni kemrahan (rubor), panas

(color), pembengkakan (tumor), rasa nyeri (dolor) dan hilangnya

fungsi.

(http: //id.wikipedia.org/wiki/Abses)

2. Timbul atau teraba benjolan pada tahap awal berupa benjolan

kecil, pada stadium lanjut benjolan bertambah besar, demam,

benjolan meningkat, malaise, nyeri, bengkak, berisi nanah (pus).

(http//www.surabayapost.co.id)

3. Gambaran Klinis

a. Nyeri tekan

b. Nyeri lokal

c. Bengkak
d. Kenaikan suhu

e. Leukositosis

(Modifikasi: Smeltzer at aI, 2001 : 496. Levis, S Met al,200 : 1187,589)

4. Tanda-tanda infeksi

a. Rubor ( kemerahan ).
b. Kolor (panas) menggigil atau demam ( lebih dari 37,7 C ).

c. Dolor ( nyeri ).

d. Tumor ( bengkak ) terdapat pus ( rabas ) bau membusuk.

e. Fungtio laesa.

E. KOMPLIKASI
Komplikasi/dampak yang mungkin terjadi akibat dari Abses
menurut Siregar (2004) adalah:
- Kehilangan gigi
- Penyebaran infeksi pada jaringan lunak dapat mengakibatkan
selulitis wajah dan Ludwigs angina
- Penyebaran infeksi pada tulang rahang dapat mengakibatkan
osteomyelitis mandibula atau maksila
- Penyebaran infeksi pada daerah tubuh yang lain, menghasilkan
abses serebral, endokarditis, pneumonia, atau gangguan
lainnya.

F. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dari abses antara lain:

1. Kultur ; Mengidentifikasi organisme penyebab abses

sensitivitas menentukan obat yang paling efektif.

2. Sel darah putih, Hematokrit mungkin meningkat,

Leukopenia, Leukositosis (15.000 - 30.000) mengindikasikan

produksi sel darah putih tak matur dalam jumlah besar.


3. Elektrolit serum, berbagai ketidakseimbangan mungkin

terjadi dan menyebabkan acidosis, perpindahan cairan dan

perubahan fungsi ginjal

4. Pemeriksaan pembekuan : Trombositopenia dapat terjadi

karena agregasi trombosit, PT/PTT mungkin memanjang

menunjukan koagulopati yang diasosiasikan dengan iskemia

hati/sirkulasi toksin/status syok.

5. Laktat serum : Meningkat dalam acidosis metabolic,

disfungsi hati, syok.

6. Glukosa serum, hiperglikemi menunjukkan glukogenesis

dan glikogenesis di dalam hati sebagai respon dari

puasa/perubahan seluler dalam metabolism.

7. BUN/Kr : Peningkatan kadar diasosiasikan dengan

dehidrasi,ketidakseimbangan/kegagalan ginjal dan

disfungsi/kegagalan hati.

8. GDA : Alkalosis respiratori hipoksemia,tahap lanjut

hipoksemia asidosis respiratorik dan metabolic terjadi karena

kegagalan mekanisme kompensasi.


9. Urinalisis : Adanya sel darah putih/bakteri penyebab

infeksi sering muncul protein dan sel darah merah.

10. Sinar X : Film abdominal dan dada bagian bawah yang

mengindikasikan udara bebas di dalam abdomen/organ pelvis.

11. EKG : Dapat menunjukan perubahan segmen ST dan

gelombang T,dan disritmia yang menyerupai infak miokard.

(Doenges,2000:873)

G. Penatalaksanan

Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanganan

menggunakan antibiotik. Namun demikian, kondisi tersebut

butuh ditangani dengan intervensi bedah, debridemen atau

kuretase. Suatu abses harus diamati dengan teliti untuk

mengidentifikasi penyebabnya, utamanya apabila disebabkan

oleh benda asing karena benda asing tersebut harus diambil.

Apabila tidak disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya

perlu dipotong dan diambil absesnya, bersama dengan

pemberian obat analgetik. Drainase, abses dengan

menggunakan pembedahan biasanya diindikasi apabila abses


telah berkembang dari peradangan serasa yang keras menjadi

tahap nanah yang lebih lunak.

Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri

staphylococcus aureus, antibiotik antistafilokokus seperti

flucloxacillin atau didoxacillin sering digunakan. Dengan adanya

kemunculan stophylococcus aureus yang dapat melalui

komunitas, antibiotik biasa tersebut menjadi tidak efekif.

A. PENCEGAHAN
Usahakan agar kulit di sekeliling luka kecil tetap bersih dan kering. Obati
infeksi ringan secara tuntas. Waspada akan tanda-tanda terjadinya infeksi
(demam, nyeri, kemerahan, pembengkakan).

Fokus Pengkajian

Data tergantung pada tipe,lokasi,durasi dari proses infektif dan organ-

organ yang terkena

1. Aktifitas I istirahat

Gejala : Malaise

2. Sirkulasi

Tanda : Tekanan darah normal/sedikit dibawah jangkauan normal (selama curah

jantung tetap meningkat). Denyut perifer kuat, cepat (perifer

hiperdinamik); lemah/lembut/mudah hilang, takikardi ekstrem (syok).

Suara jantung : disritmia dan perkembangan S3 dapat mengakibatkan


disfungsi miokard, efek dari asidosis/ketidakseimbangan elektrolit. Kulit

hangat, kering, bercahaya (vasodilatasi), pucat, lembab, burik

(vasokonstriksi).

3. Eliminasi

Gejala : Diare

4. Makanan/cairan

Gejala : Anoreksia, mual, muntah.

Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/masa otot

(malnutrisi). Penurunan haluaran, konsentrasi urine; perkembangan ke

arah oliguria, anuria.

5. Neurosensori

Gejala : Sakit kepala, pusing, pingsan.

Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium/koma

6. Nyeri I/kenyamanan

Gejala : Kejang abdominal, lokalisasi nyeri/ketidaknyamanan, urtikaria, pruritus

umum.

7. Pemafasan
Tanda : Takipnea dengan penurunan kedalaman pemafasan, penggunaan

kortikosteroid, infeksi baru, penyakit viral.

Tanda : Suhu umumnya meningkat (37,95C atau lebih) tetapi mungkin normal

pada lansia mengganggu pasien, kadang sub normal (dibawah 36,5C),

menggigil, luka yang sulit/lama sembuh, drainase purulen, lokalisasi

eritema, ruam eritema makuler.

8. Sexualitas

Gejala : Perineal pruritus, baru saja menjalani kelahiran/aborsi

Tanda : Maserasi vulva, pengeringan vaginal purulen.

9. Penyuluhan / pembelajaran

Gejala : Masalah kesehatan kronis/melemahkan misal: DM, kanker, hati, jantung,

ginjal, kecanduan alkohol. Riwayat splenektomi. Baru saja menjalani

operasi prosedur invasive, luka traumatik.

10. Pertimbangan : Menunjukan lama hari rawat 7,5 hari.

cana pemulangan : Mungkin dibutuhkan bantuan dengan perawatan/alat dan bahan

untuk luka, perawatan, perawatan diri, dan tugas-tugas rumah tangga

Prioritas Keperawatan

a. Menghilangkan infeksi.
b. Mendukung perfusi jaringan/volume sirkulasi.

c. Mencegah komplikasi.

d. Memberikan informasi mengenai proses penyakit, prognosa dan

kebutuhan pengobatan.

(Doenges,2000:240)
H. Pathway
I. Diagnosa Keperawatan

Secara teori pada kasus abses dapat ditarik beberapa diagnose

keperawatan antara lain :


1. Resiko tinggi berhubungan dengan prosedur invasif

2. Hipertermi berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi endotoksin

pada hipotalamus, perubahan regulasi temperatur.

3. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan

reduksi aliran darah arteri dan vena.

4. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan

permiabilitas / kebocoran cairan kedalam lokasi interstisial (ruang ketiga).

5. Resiko tinggi terhadap pertukaran gas berhubungan dengan perubahan

aliran darah.

6. Kurang pengetahuan mengenai penyakit berhubungan dengan kesalahan

interpretasi informasi.

7. Nyeri berhubungan dengan regangan dan distorsi abses

(kerusakanjaringan).

8. Gangguan mobilitas berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh

(gangguan neuromuskular).

9. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan

kulit karena destruksi lapisan kulit.

( Doenges,2000:241 )

J. Fokus Intervensi

Ada beberapa fokus intervensi yang muncul adalah sebagai berikut :


1. Resiko tinggi infeksi terhadap perkembangan infeksi oportunistik

berhubungan dengan prosedur invasif.

Tujuan : Menunjukan penyembuhan luka seiring perjalanan waktu.

Kriteria Hasil : Bebas dari sekresi purulen/drainase, atau eritema dan afebris.

Intervensi

a. Berikan isolasi / pantau pengunjung sesuai indikasi.

Rasional : Isolasi luka / linen dan mencuci tangan adalah yang dibutuhkan untuk

mengalirkan luka, sementara isolasi / pembatasan pengunjung dibutuhkan

untuk melindungi pasien imunosupresi. Mengurangi resiko kemungkinan

infeksi.

b. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktifitas walaupun

menggunakan sarung tangan steril.

Rasional : Mengurangi kontaminasi silang.

c. Batasi penggunaan alat / prosedur invasif jika memungkinkan.

Rasional : Mengurangi jumlah lokasi yang dapat menjadi tempat masuk

organisme.

d. Lakukan inspeksi terhadap luka / sisi alat invasif setiap hari, berikan

perhatian utama terhadap jalur hiperalimentasi

Rasional : Memberikan gambaran untuk identifikasi awal dari infeksi sekunder.

e. Gunakan teknik steril pada waktu penggantian balutan

Rasional : Mencegah masuknya bakteri, mengurangi resiko infeksi nosokomial.


f. Gunakan sarung tangan / pakaian pada waktu merawat luka yang

terbuka/antisipasi dari kontak langsung dengan sekresi ataupun ekskresi.

Rasional : Mencegah penyebaran infeksi / kontaminasi silang.

g. Buang balutan/bahan yang kotor dalam kantung ganda

Rasional : Mengurangi area kotor / membatasi penyebaran organisme melalui

udara.

h. Pantau kecenderungan suhu.

Rasional : Demam tinggi menunjukan efek endotoksin pada hipotalamus dan

endorphin yang melepaskan pirogen. Hipotermi adalah tanda-tanda

genting yang merefleksikan perkembangan status syok / penurunan

perfusi jaringan.

i. Amati adanya menggigil dan diaphoresis

Rasional : Menggigil seringkali mendahului memuncaknya suhu pada adanya

infeksi umum.

j. Memantau tanda-tanda penyimpangan kondisi / kegagalan untuk

membaik selama masa terapi.

Rasional : Dapat menunjukan ketidak tepatan terapi antibiotik atau pertumbuhan

berlebihan dari organisme resisten.

k. Inspeksi rongga mulut terhadap sariawan. Selidiki laporan rasa gatal /

peradangan vaginal / perineal.

Rasional : Depresi sistem imun dan penggunaan antibiotik dapat meningkatkan

resiko infeksi skunder; terutama ragi. .


l. Berikan obat anti infeksi sesuai petunjuk.

Rasional : Dapat membasmi / memberikan imunitas sementara untuk infeksi

umum atau penyakit khusus.

m. Bantu / siapkan insisi dan drainase luka.

Rasional : Memberikan kemudahan untuk memindahkan material purulen /

jaringan nekrotik dan meningkatkan penyembuhan.

( Doenges, 2000: 874)

2. Hipertermi berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi endotoksin

pada hipotalamus, perubahan pada regulasi temperatur.

Tujuan : Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan.

Kriteria Hasil : Tidak mengalami komplikasi berhubungan

Intervensi

a. Pantau suhu pasien (derajad dan pola); perhatikan menggigil /

diaphoresis.

Rasional : Suhu 38,9C menunjukan proses infeksius akut .Pola demam dapat

membantu dalam diagnosis.

b. Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur, sesual

indikasi.

Rasional : Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan

suhu mendekati normal.

c. Berikan kompres mandi hangat; hindari penggunaan alcohol.

Rasional : Dapat mengurangi demam, alkohol dapat mengeringkan kulit.


d. Berikan antipiretik.

Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada

hipotalamus.

e. Berikan selimut pendingin.

Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam tinggi pada waktu terjadi

kerusakan/gangguan pada otak.

(Doenges,2000 : 874 )

3. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan

reduksi aliran darah arteri dan vena.

Tujuan : Menunjukan perfusi jaringan adekuat

Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital stabil, nadi perifer jelas, kulit hangat dan kering,

tingkat kesadaran umum, haluaran urine individu yang sesuai dan bising

usus aktif

Intervensi

a. Pertahankan tirah baring; bantu dalam aktifitas dan perawatan.

Rasional : Menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi O2 memaksimalkan

efektifitas dari perfusi jaringan.

b. Pantau kecenderungan pada tekanan darah, mencatat perkembangan

hipotensi, dan perubahan pada tekanan denyut.

Rasional : Hipotensi akan berkembang bersamaan dengan mikroorganisme

menyerang aliran darah.


c. Pantau frekuensi dan irama jantung. Perhatikan disritmia.

Rasional : Disritmia jantung dapat terjadi sebagai akibat dari hipoksia.

d. Perhatikan kualitas / kekuatan dari denyut perifer.

Rasional : Pada awal nadi cepat menunjukan peningkatan curah jantung, nadi

lemah menunjukan penurunan curah jantung.

e. Kaji frekuensi pernafasan, kedalaman, dan kualitas. Perhatikan dispnea

berat.

Rasional : Peningkatan pernafasan terjadi sebagai respon terhadap efek langsung

dari endotoksin pada pusat pemafasan.

f. Selidiki perubahan pada sensorium.

Rasional : Perubahan menunjukan penyimpangan perfusi serebral, hipoksemia,dan

atau asidosis.

g. Kaji kulit terhadap perubahan warna, suhu, kelembaban.

Rasional : Mekanisme kompensasi dari vasodilatasi.

h. Catat haluaran urine dan berat jenisnya.

Rasional : Penurunan haluaran urine dan peningkatan berat jenis akan

mengindikasikan penurunan perfusi ginjal.

i. Auskultasi bising usus.

Rasional : Vasokonstrisi splaknik menurunkan peristaltik dan dapat menimbulkan

ileus paralitik.

j. Pantau pH gaster sesuai petunjuk. Hematest sekresi gaster / feses darah

samar.
Rasional : Stress dari penyakit dan penggunaan steroid meningkatkan resiko erosi

/ perdarahan mukosa gaster.

k. Evaluasi kaki dan tangan bagian bawah untuk pembengkaan jaringan

lokal, eritema, tanda Homan positif

Rasional : Stasis vena dan proses infeksi dapat menyebabkan perkembangan

thrombosis.

l. Pantau tanda-tanda perdarahan.

Rasional : Akselerasi pembekuan pada mikrosirkulasi menciptakan situasi

perdarahan yang membahayakan jiwa / emboli multiple

m. Catat efek obat-obatan dan tanda-tanda keracunan.

Rasional : Dosis antibiotik massif sering memiliki efek toksik potensial

bila perfusi hepar / ginjal terganggu.

n. Berikan cairan parenteral.

Rasional : Untuk mempertahankan perfusi jaringan.

o. Berikan obat-obatan steroid sesuai petunjuk.

Rasional : Untuk menurunkan permiabilitas kapiler

p. Pantau pemeriksaan laboratorium.

Rasional : Untuk mengetahui perkembangan asidosis.

q. Berikan suplemen O2

Rasional : Peningkatan suhu meningkatkan metabolisme O2.


4. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan

permiabilitas/kebocoran cairan kedalam lokasi interstisial.

Tujuan : Mempertahankan volume sirkulasi adekuat

Kreteria Hasil : Tanda vital dalam batas normal, nadi perifer teraba haluaran urine

adekuat.

Intervensi

a. Catat haluaran urine dan berat jenis. Catat keseimbangan masukan dan

keluaran komulatif. Dorong masukan cairan oral sesuai toleransi.

Rasional : Keseimbangan cairan positif lanjut dengan disertai penambahan berat

badan dapat mengindikasikan edema ruang ketiga,dan edema jaringan,

menunjukan perlunya mengubah terapi/komponen pengganti.

b. Pantau tekanan darah dan denyut jantung, ukur CVP.

Rasional : Mekanisme kompensasi awal dari takikardia untuk meningkatkan curah

jantung dan meningkatkan tekanan darah sistemik.

c. Palpasi denyut perifer.

Rasional : Denyut yang lemah, mudah hilang dapat menyebabkan hipovolemi.

d. Kaji membrane mukosa, turgor kulit dan rasa haus.

Rasional : Hipovolemi / cairan ruang ketiga akan memperkuat tanda-tanda

hipovolemi.

e. Amati edema dependen / perifer pada saluran, skrotum, punggung kaki.

Rasional : Kehilangan cairan dari kompartemen vaskuler kedalam ruang interstisiil

akan menyebabkan edema.


f. Berikan cairan IV, misal kristaloid (0,5%) sesuai indikasi.

Rasional : Menggantikan kehilangan dengan maningkatkan permiabilitas kapiler

dan meningkatkan sumber-sumber tak kasat mata.

g. Pantau nilai laboratorium.

Rasional : Mengevaluasi perubahan didalam hidrasi/viskositas darah.

(Doenges, 2000 ; 878 - 879)

5. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan :

a. Perubahan pada suplai O2, efek endotoksin pada pusat pemafasan

b. Perubahan aliran darah

Tujuan : Pasien menunjukan GDA dan frekuensi pemafasan dalam batas

normal

Kriteria Hasil : Bunyi nafas bersih dan sinar x dada jelas / membaik tidak

mengalami dispnea / sianosis

Intervensi :

1) Pertahankanjalan nafas paten (Kepala lebih tinggi).

Rasional : Meningkatkan ekspansi paru, upaya pemafasan.

2) Pantau frekuensi dan kedalaman pemafasan, catat penggunaan otot

bernafas.

Rasional : Hipoventilasi dan dipsnea merefleksikan mekanisme kompensasi yang

tidak efektif dan merupakan indikasi bahwa diperlukan ventilator.

3) Auskultasi bunyi nafas.


Rasional : Kesulitan pernafasan dan munculnya bunyi adventisius merupakan

indikator.

4) Catat munculnya sianosis sirkumoral

Rasional : Menunjukan oksigen sistemik tidak adekuat/hipoksemia.

5) Selidiki perubahan pada sensori.

Rasional : Fungsi serebral sangat sensitif terhadap penurunan oksigenasi.

6) Sering ubah posisi. Dorong untuk batuk dan latihan napas dalam.

Rasional : Untuk memaksimalkan pertukaran gas.

7) Patau GDA / nadi oksimetri.

Rasional : Pada waktu kondisi septic memburuk, asidosis metabolik yang meningkat

untuk membangun asam laktat dan metabolisme anaerob.

8) Berikan O2 tambahan melalui jalur yang sesuai.

Rasional : Untuk mengoreksi hipoksemia dengan menggagalkan asidosis

respiratorik.

9) Tinjau sinar X dada.

Rasional : Perubahan menunjukan perkembangan dan komplikasi pulmonal.

(Doenges, 2000: 879 - 880)

6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai penyakit, prognosis

dan kebutuhan pengobatan bergubungan dengan :

a. Kurangnya pemajanan / mengingat, kesalahan Interpretasi informasi

b. Keterbatasan Kognitif

Ditandai
1) Pertanyaan permintaan informasi,pernyataan salah konsepsi

2) Ketidak akuratan mengikuti instruksi / perkembangan komplikasi yang

dapat dicegah

Tujuan : Menunjukkan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis

Kreteria Hasil : Ikut serta dalam program pengobatan, memulai perubahan gaya hidup

yang diperlukan dengan dapat penunjukkan prosedur yang diperlukan dan

menjelaskan rasional dan tindakan.

(Doenges, 2000 : 880 - 881)

Intervensi :

a. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan.

Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.

b. Tinjau faktor resiko individual dan bentuk penularan tempat masuk

infeksi.

Rasional : Menyadari terhadap bagaimana infeksi ditularkan akan memberikan

informasi untuk merencanakan/melakukan tindakan protektif.

c. Berikan informasi mengenai terapi obat - obatan, efek samping dan

pentingnya ketaatan pengobatan.

Rasional : Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam

penyembuhan/profilaksis, dan untuk mengurangi resiko kambuhnya

komplikasi.

d. Diskusikan kebutuhan input yang tepat dan seimbang.

Rasional : Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan umum.


e. Dorong periode istirahat adekuat dan aktivitas terjadwal.

Rasional : Mencegah kepenatan, penghematan energi, dan meningkatkan

penyembuhan.

f. Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan.

Rasional : Membantu pemajanan lingkungan dengan mengurangi jumlah

bakteri patogen yang ada.

g. Diskusikan penggunaan yang tepat atau menghindari tampon sesuai

indikasi.

Rasional : Tampon superabsorben/merupakan resiko potensial bagi infeksi

stpahilococcus aureus (sindrom syok toksik).

h. Identifikasi tanda / gejala yang membutuhkan evaluasi medis.

Rasional : Pengenalan dini dari perkembangan infeksi akan memungkinkan

intervensi dan mengurangi resiko kearah situasi yang membahayakan

jiwa.

i. Tekankan pentingnya imunisasi profilaktik / terapi antibiotik sesuai

kebutuhan.

Rasional : Penggunaan pencegahan terhadap infeksi.

(Doenges, 2000 : 881)

7. Gangguan mobilitas berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh

(gangguan neuromuskular).

a. Gangguan neuromuskuler, nyeri/tidak nyaman, penurunan kekuatan dan

tahanan.
b. Terapi pembatasan, imobilisasi tungkai, kontraktur.

Ditandai:

a. Menolak bergerak/tidak mampu bergerak sesuai tujuan rentang gerak

terbatas, penurunan kekuatan kontrol dan/atau masa otot.

Tujuan : Menyatakan dan menunjukan keinginan berpartisipasi dalam

aktifitas.

Kriteria Hasil :

a. Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur.

b. Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi yang sakit dan

atau kompensasi tubuh.

c. Menunjukan teknik/perilaku yang memampukan melakukan aktifitas.

Intervensi :

a. Bantu klien dalam beraktifitas bila tidak mampu

Rasional : dengan membantu aktivitas yang di perlukan pasien akan membantu

mengurangi resiko yang tidak di inginkan.

(Doenges,2000 : 737)

b. Tingkatkan aktifitas perawatan diri pasien setiap saat.

Rasional : aktivitas dapat meningkat jika memotivasi yang sesuai dengan kondisi

pasien.

(Doenges,2000 : 737)

c. Berikan alternative dengan periode yang cukup.


Rasional : aktifitas dapat meningkatkan istirahat yang untuk menurunkan kebutuhan

oksigen tubuh.

(Doenges,2000 : 757)

d. Pantau rtespon terhadap aktifitas

Rasional : meningkatkan kontrol terhadap situasi

(Doenges,2000 : 738)

8. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan

a. Trauma : Kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit

(parsial/luka bakar dalam).

Ditandai : Tak ada jaringan hidup.

Tujuan : Menunjukan regenerasi jaringan.

Kriteria Hasil : Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka.

Intervensi

a. Kaji/ ukuran, wama, kedalaman luka , perhatikan jaringan nekrotik dan

kondisi sekitar luka.

Rasional : Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan penambahan kulit dan

kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi pada area luka.

b. Berikan perawatan luka yang tepat dan tindakan kontrol infeksi.

Rasional : Menurunkan resiko infeksi.

c. Pertahankan penutupan luka sesuai indikasi.

Rasional : Mencegah kontaminasi dengan agent dan mencegah infeksi.

d. Siapkan/bantu prosedur bedah.


Rasional : Mempercepat penyembuhan abses.

(Doenges, 2000: 653 )

9. Nyeri berhubungan dengan

a. Kerusakan kulit/jaringan, pembentukan edema.

b. Manipulasi jaringan cidera,debridement luka

Ditandai:

a. Keluhan nyeri.

b. Fokus menyempit, penampilan wajah nyeri.

c. Perubahan tonus otot; respon autonomik.

d. Perilaku distraksi, melindungi; ansietas / ketakutan.

Tujuan : Melaporkan nyeri berkurang / terkontrol.

Kriteria Hasil :

a. Menunjukan ekspresi wajah / postur tubuh rileks.

b. Berpartisipasi dalam aktivitas dan tidur / istirahat dengan tepat.

Intervensi :

a. Tutup luka sesegera mungkin kecuali perawatan luka bakar metode

pemajanan pada udara terbuka.

Rasional : Suhu berubah dan gerakan udara dapat menyebabkan nyeri hebat

pada pemajanan ujung saraf.

b. Tinggikan ekstremitas luka bakar secara periodik.


Rasional : Peninggian mungkin diperlukan pada awal untuk mnenurunkan

pembentukan edema setelah perubahan posisi dan peninggian

menurunkan ketidaknyamanan serta resiko kontraktur sendi.

c. Berikan tempat tidur ayunan sesuai indikasi

Rasional : Peninggian linen dari luka membantu menurunkan nyeri.

d. Tutup jari / ekstremitas pada posisi berfungsi (menghindari posisi fleksi

sendi yang sakit) menggunakan bebat pada papan kaki sesuai keperluan.

Rasional : Posisi fungsi menurunkan deformitas / kontraktur dan meningkatkan

kenyamanan. Meskipun posisi fleksi sendi cendera dapat merasa lebih

nyaman, ini dapat mengakibatkan kontraktur fleksi

e. Ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif sesuai

indikasi.

Rasional : Gerakan dan latihan menurunkan kekakuan sendi dan kelelahan otot

tetapi tipe latihan tergantung pada lokasi dan luas cendera.

(Doenges, 2000:654)
BAB III

RESUME KEPERAWATAN

Dalam bab ini penulis akan membahs tentang tinjauan pustaka dari

asuhan keperawatan pada Tn.T dengan abses femur dextra di ruang

Melati RSUD Dr R Soetrasno Rembang mulai dari pengertian ,etiologi,

pathofisiologi, manifestasi klinis, pthway, penatalaksanaan, pemeriksaan

penunjang sampai dengan proses keperawatan yang meliputi fokus

pengkajian, diagnosa keperawatan yang di arahkan pad pathway serta

fokus intervensinya

A. Pengkajian

Asuhan keperawatan di berikan pada klien dengan nama Tn.T umur

36 tahun, berjenis kelamin laki-laki, beralamat, Sendang Agung 4 / 2

Kaliori, Beragama islam, pekerjaan sebagai nelayan, Tanggal masuk

rumah sakit pada 26 Juni 2010 jam 13.40 dan tanggal pengkajian 28

Juni

Dengan diagnosa medis Abses Femur Dextra. dengan keluhan utama

Pasien mengatakan nyeri, nyeri semakin terasa saat bergerak cekot-cekot,

nyeri pada femur dextra, nyeri terasa hilang timbul dengan skala nyeri 4

Kaki pasien mengalami bengkak sudah satu minggu yang lalu sebelum

dibawa ke RS pada tangal 26 uni 2010. sebelumnya pasien jatuh dari

sepedah montor. tindakan yang dilakukan pasien adalah memijit kakinya


ditukang pijit. Karena tidak kunjung sembuh pada tanggal 26 Juni 2010

jam 13.40 pasien dibawa ke RSU dr. R. Soetrasno Rembang. Pasien

masuk lewat UGD di UGD pasien mendapatkan terapi inf. RL 20 tetes per

menit, injeksi Cefotaxime 2 x 1 gr Intra Vena, injeksi Torasic 2x1 gr Intra

Vena, Setelah mendapatkan terapi dari IGD pasien dipindah ke urang

Bougenvil. Tetapi pada 26 Juni 2010 jam 13.00 WIB pasien dipindah lagi

ke ruang Melati untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Pasien mengatakan sebelumnya pasien tidak pernah dirawat di RS.

Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit asma, jantung DM, hipertensi

dan penyakit menular lainnya dan keluarga tidak ada yang mempunyai

penyakit keturunan.

Pada Pengkajian pola fungsional di dapatkan data tentang Pola

Perpesi dan pemelihraan kesehatan Pasien mengatakan bahwa kesehatan

begitu penting . hal ini terlihat dari apabila ada salah satu keluarga yang

sakit segera dibawa kepelayanan kesehatan.

Pola nutrisi / metabolik Sebelum sakit Sebelum sakit pasien makan

3x/hari dengan menu nasi, sayur, lauk. minum 6-8 gelas/hari dan Selama

sakit Pasien makan 3x/hari sesuai menu RS. Makan habis porsi.

Pola eliminasi Sebelum sakit pasien buang air besar 1x/hari dengan

konsutensi lembek, dan tidak ada keluhan dan selama sakit pasien belum

pernah buang air besar.


Pola aktifitas dan latihan selama sakit segala aktifitas di bantu oleh

orang lain / keluarga.

Pola tidur dan istirahat: pasien susah untuk istirahat Pada

Pemeriksaan fisik Keadaan umum Lemah, Kesadaran compasmentis

denganTanda-tanda vital tekanan darah 90/60 mmHg, suhu 360C, nadi 88

x/mnt, RR20 x/mnt, Ekstremitas atas Tangan kiri terpasang infus RL 20

tetes / menit dan pada bagian bawah Terdapat benjolan pada paha kanan

bagian bawah samping

B. Program terapi :

Senin,tanggal 28 Juni 2010

Ketopain 2x1 gr jam 10.00, 22.00 WIB

Zefazolin 2x1 gr jam 10.00, 22.00 WIB

C. Analisa Data

Analisa yang di dapat dari pengkajian pada tanggal 28 Juni 2009 pukul

07.00 WIB adalah data subyektif Pasien mengatakan paha kanannya

cekot-cekot dan data obyektifnya nyeri muncul saat bergerak terasa

cekot-cekot pada Femur dextra, skala nyeri 4 nyeri hilang timbul dan

pasien tampak gelisah sehingga didapatkan masalah gangguan rasa

nyaman yang di sebabkan proses inflamasi.

Analisa yang kedua di dapatkan data subyektif Pasien mengatakan

kakinya sakit bila digerakan nyeri data obyektifnya pasien tampak

menahan sakit bila kaki digerakan, Paha kaki kanan bagian bawah tampak
bengkak dan aktifitas pasien dibantu sehingga di dapatkan masalah

Immobilisasi berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan.

Analisa yang ketiga didapatkan data obyektif Pasien makan habis

porsi. Pasien tidak mau makan makanan tambahan yang dibelikan oleh

isrinya, Pasien tampak lelah dan pasien mual tiap habis makan sehingga

didapatkan masalah Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan

dengan anoreksia

D. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul dari analisa data yang telah di

lakukan pengkajian TnT. Adalah gangguan rasa nyaman nyeri

berhubungan dengan proses inflamasi yang ditandai dengan pasien

mengatakan paha kanannya terasa nyeri, nyeri muncul saat bergerak

terasa cekot-cekot pada Femur dextra, skala nyeri 4, nyeri Hilang timbul

dan pasien tampak gelisah.

Immobilisasi berhubungan dengan kerusakan intergritas jaringan yang di

tandai dengan Pasien mengatakan kakinya sakit bila digrakan terasa nyeri

Pasien tampak menahan sakit bila kaki digerakan, Paha kaki kanan bagian

bawah tampak bengkak dan aktifitas pasien dibantu.

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan ubuh berhubungan dengan

anoreksia yang di tandai dengan pasien makan habis porsi, pasien tidak
mau makan makanan tambahan yang dibelikan oleh isrinya, Pasien

tampak lelah dan Pasien mual tiap habis makan.

E. INTERVENSI, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Rencana tindakan untuk mengatasi permasalahan yang ada pada

Tn.T pada hari/tanggal Senin 28 Juni 2009 pukul 07.00 WIB di tetapkan

tiap diagnosa.

Diagnosa pertama gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan

proses inflamasi tujuan yang direncanakan adalah setelah dilakukan

tindakan selama 1x30 menit diharapkan nyeri berhubungan proses

inflamasi teratasi dengan,kriteria hasil skala nyeri 3, pasien tampak rilek.

Intervensi yang dibuat untuk mengatasi permasalahn Tn.T adalah :

Mengobservasi tanda-tanda vital, observasi adanya tanda tanda nyeri

non verbal misal : ekspresi wajah, posisi tubuh gelisah, lakukan kompres

dingin

Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi, kolaborasi dalam pemberian

analgetik dan antibiotik, kelopain 1 gr intra vena, Zefazolin 1 gr intra vena.

Tindakan yang di lakukan : Mengobservasi tanda-tanda vital, data

subyektif pasien kooperatif, data obyektifnya tekanan darah 90/60 mmHg,

nadi 88 x / mnt, suhu 366oC, respiratore 20 x / mnt, memberikan injeksi

lewat intra vena

Ketopain 1 gr, Cefazolin 1 gr data subyektif pasien kooperatif, data

obyektif obat masuk intra vena, tidak ada alergi. Memberikan pendidikan
kesehatan cara mengurangi nyeri dengan teknik distraksi dan relaksasi

data subyektif pasien mengatakan mengerti, data obyektif pasien tampak

mempraktekan cara distraksi dan relaksasi. Mengobservasi tanda- tanda

vital data subyektif pasien kooperatif, data obyektif tekanan darah 100/70

mmHg, nadi 86 x /mnt, suhu360 C, respiratore 20 x / mnt. Evaluasi :

subyektif pasien mengatakan nyeri cekot-cekot berkurang dengan skala

nyeri 3, obyektif pasien tampak lebih rilek , analisa gangguan rasa

nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi teratasi, planing

pertahankan intervensi, observasi tanda-tanda vital

Kolaborasi dalam pemberian analgetik dan antibiotik

Diagnosa kedua Imobilisasi berhubungan dengan kerusakan

intergritas jaringan tujuan yang di rencanakan adalah setelah dilakukan

tindakan selama 1 x 6 jam diharapkan gangguan mobilisasi berhubungan

dengan kerusakan integritas jaringan dapat teratasi dengan kriteria hasil

pasien dapat melakukan aktifitas sesuai kemampuannya seperti, makan,

ambulasi ditempat tidur, berpakaian secara mandiri

Intervensi yang di buat untuk mengatasi permasalahn Tn.T adalah :

Bantu klien dalam beraktifitas bila tidak mampu, tingkatkan aktifitas

perawatan diri pasien setiap saat, berikan alternative dengan periode

yang cukup, pantau respon terhadap aktifitas, mengobservasi skala

aktifitas
Tindakan yang di lakukan : mengobservasi skala aktifitas data subyektif

pasien mengatakan makan, mandi, toileting dibantu oleh keluarga data

obyektif aktifitas pasien tampak dibantu. Evaluasi : subyektif Pasien

mengatakan kakinya sakit bila digerakkan, obyektif tampak menahan sakit

ketika kaki digerakkan, skala pola aktivitas 17, analisa gangguan mobilisasi

berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan belum teratasi planing

lanjutkan intervensi, bantu klien dalam beraktifitas bila tidak mampu,

tingkatkan aktifitas perawatan diri pasien setiap saat, berikan alternative

dengan periode yang cukup, pantau rtespon terhadap aktifitas

Diagnosa ketiga resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan anoreksia tujuan yang direncanakan adalah setelah dilakukan

tindakan selama 1 x 24 jam diharapkan resiko pemenuhan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien makan

habis 1 porsi, mual (-), pasien tampak lebih segar.

Intervensi yang dibuat untuk mengatasi permasalahn Tn.T adalah :

Pantau intake dan output makanan, timbang berat badan pasien dan ukur

lingkar lengan pasien setiap hari, berikan makanan dalam keadaan

hangat, berikan makan sedikit tapi sering dan makanan kecil tambahan

yang tepat, mengobservasi pola makan pasien, tentukan program diit dan

pola makan pasien, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diit

pasien dan pemeberian bubur.


Tindakan yang di lakukan : Mengobservasi pola makan pasien data

subyektif pasien mengatakan setiap makan merasa mual data obyektifnya

pasien makan habis porsi. Evaluasi :

Subyektif pasien mengatakan mual, tetapi memaksa untuk makan,

obyektif pasien makanhabis 1 porsi, pasien tampak lelah, analisa resiko

pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tidak terjadi, planing

pertahankan intervensi,

observasi pola makan pasien, anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
BAB III

PEMBAHASAN

Pada bagian ini penulis akan membahas tentang kesesuaian dan

kesenjangan yang ada antara teori dengan tinjauan kasus dengan judul

asuhan keperawatan pada Tn.T dengan abses femur dextra di ruang

melati RSUD Dr.R. Soetrasno Rembang. Dengan mengunakan metode

pemecahan masalah melaluai pendekatan proses keperawatan serta

memuat pula pembahasan pembenaran data yang kurang sempurna atau

kurang tepat karena keterbatasan waktu.

Pada prinsipnya pembahasan menjawab pertanyaan 5W+H

dengan memperhatikan aspek tahapan proses keperawatan yang terdiri

dari tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, dan evaluasi

keperawatan.

Dalam pengkajian penulis akan membenarkan data-data

pendokumentasian yang belum sempurna karena kurang ketelitian dan

keterbatasan waktu dan kurangnya penulis mencantumkan data dan

suasana ujian yang mempengaruhi psikis penulis.

Adapun data-data itu anatara lain :

A. Riwayat kesehatan keluarga

Pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit

keturunanayat kesehatan keluarga


Keterangan :

: : laki-laki

: perempuan

: meninggal

: pasien

Pembenaran :

Di sini penulis mencantumkan genogram keluarga, yang seharusnya

penulis tidak perlu mencantumkannya karena abses bukan merupakan

penyakit menurun

B. Pengkajian pola fungsional

a. Pola nutrisi / metabolik

Sebelum sakit :Sebelum sakit pasien makan 3x/hari dengan menu nasi,

sayur, lauk. Minum 6-8 gelas/hari.

Selama sakit :Pasien makan 3x/hari sesuai menu RS. Makan habis

porsi.

Pembenaran :
Di sini penulis lupa mencantumkan konsumsi minum pada saat sakit:

pasien hanya minum liter air aqua, hal ini penting karena dengan

mengetahui asupan air kita bisa mengukur balance cairan agar turgor kulit

normal.

b. Pola eliminasi

Sebelum sakit : BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek, dan

tidak ada keluhan.

Selama sakit : -

Pembenaran :

Di sini penulis lupa mencantumkan pola eliminasi BAB pada saat sakit

pada hal ini sangat penting untuk mengetahui tentang asupan nutrisi

pasien, jika asupan nurtrisi terpenuhi dapat membantu proses

penyembuhan

c. Pola prsepsi diri

Di sini penulis lupa untuk mencantumkanya/tidak terkaji

Penambahan :

Pasien mengatakan kesehatan adalah suatu hal yang penting.Dan bila ada

anggota keluarga yang sakit langsung dibawa ke puskesmas untuk

mendapatkan perawatan

C. Pemeriksaan fisik

a. Ekstremitas
Atas : Tangan kiri terpasang infus RL 20tpm

Bawah : Terdapat benjolan pada paha kanan bagian bawah

samping

Pembenaran :

Seharusnya penulis mencantumkan kekutan otot pada ekstremitas bawah

kanan , untuk memperkuat suatu tegaknya diagnosa

D. Diagnosa Keperawatan Intervensi, Implementasi dan

Evaluasi

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi

yang ditandai dengan : Pasien mengatakan paha kanannya cekot-cekot,

nyeri muncul saat bergerak, cekot-cekot pada Femur dextra dengan skala

nyeri 4, nyeri hilang timbul dan pasien tampak gelisah

Pada data ini kurang mendukung untuk tegaknya diagnosa sehingga

penulis menambahkan adanya tanda-tanda inflamasi. Tanda- tanda utama

inflamasi adalah: rubor (kemerahan jaringan), kalor (kehangatan

jaringan), tumor (pembengkakan jaringan), dolor (nyeri).

Pada diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses

inflamasi kurang sesuai maka penulis melakukan pembenaran dan

seharusnya nyeri berhubungan dengan regangan dan distorsi abses

(kerusakanjaringan).
( Doenges,2000:241 )

Nyeri akut yang tidak reda akan mempengaruhi sistem pulmonari,

koordiavaskuler, gastrointestinal, endokorin dan imonologik

(Smeltzer, 2002:212)
Nyeri merupakan keadaan di mana individu menglami dan melaporkan

adanya ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak

menyenangkan selama enam bulan atau kurang

(Carpenito 2000:45)

Alasan penulis mengangkat diagnosa ini sebagai diagnosa yang pertama

karena keluahan utama pasien adalah nyeri pada kaki kiri dengan skala

lima dan nyeri harus segera diatasi karena bisa menyebabkan

ketidaknyamanan dan menggangu.

Nyeri akut dan berat dapat menyebkan kolaps kardiovaskuler dan syok

(Corwin 2002:227)

Nyeri yang tidak diatasi secara adekuat mempunyai efek yang

membahayakan di luar kenyamanan selain merasakan ketidak nyamanan

juga mengganggu

(Smeltzer 2001:214)

Nyeri yang dialami oleh pasien dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk

pengalaman masa lalu dengan nyeri : ansietas, usia, faktor-faktor ini

dapat meningkat atau menurun perspsi nyeri pasien, meningkatnya dan

menurunya toleran terhadap nyeri dan pengaruh sikap respon terhadap

nyeri

(Smeltzer 2001:220).
Penulis menentukan kriteria waktu satu kali 30 menit diharapkan nyeri

berhubungan proses inflamasi teratasi dengan, kriteria hasil skala nyeri 3

Pasien tampak rilek.

Intervensi :

a) Mengobservasi TTV

Rasional : perubahan tanda-tanda vital pasien yang mengalami nyeri

(Doenges, 2000 813-814)

b) Observasi adanya tanda-tanda nyeri

Rasional : mengetahui keadaan umum yang menunjukan pasien

mengalami nyeri dan untuk mengetahui skala nyeri sebelumnya

(Doenges, 1999 : 458)

c) Lakukan kompres dingin

Rasional : dengan kompres dingin pembuluh darah akan mengalami vaso

konstriksi

(Bruner & Suddart 2001 : 1138)

d) Ajarkan tekni distraksi dan relaksasi

Rasional : teknik distraksi atau pengalihan perhatian bisa mengurangi atau

menekan nyeri

(carpenito, 2000 : 47)

Rasional : teknik relaksasi diharapkan menurunkan ketegangan otot

rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri

(carpenito, 2000 : 47)


e) Kolaborasi dalam pemberian analgetik dan antibiotik, ketopain 1 gr IV,

Zefazolin 1 gr IV

Rasional : analgetik sama dengan pusat otak (hipotalamus ) untuk

menurunkan persepsi nyeri (Doengoes, 1999 : 675)

Implementasi yang berhasil di laksanakan untuk mengatasi masalah di

atas adalah mengobservasi tanda-tanda vital,mengajarkan teknik distraksi

dan relaksasi, kolaborasi dalam pemberian analgetik dan antibiotic

ketopain 1 gr intra vena, Zefazolin 1 gr intra vena.

Evaluasi pada tanggal 28 Juni 2010 pukul 12.30 WIB di dapatkan data

pasien mengatakan nyeri cekot-cekot berkurang dengan skala nyeri 3,

pasien tampak lebih rileks, analisa gangguan rasa nyaman nyeri

berhubungan dengan proses inflamasi belum teratasi, masalah yang

belum teratasi didelegasikan pada perawat yang jaga berikutnya utuk di

lanjutkan rencana tindakan karena keterbatasan waktu penulis dalam

melakukan asuhan keperawartan.

2. Immobilisasi berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan yang

ditandai dengan pasien mengatakan makan, mandi, toileting dibantu oleh

keluarga, aktifitas pasien tampak dibantu, pasien tampak menahan sakit

bila kaki digerakan, paha kaki kanan bagian bawah tampak bengkak,

aktifitas pasien dibantu dengan etiologi Kerusakan integritas jaringan dan

problem Immobilisasi. pada data obyektif kurang lengkap untuk

menunjukan masalah imobilisasi Seharusnya penulis mencantumkan


kekeutan otot pada ekstremitas bawah kanan , untuk memperkuat suatu

tegaknya diagnosa.

Pada diagnosa 2. Immobilisasi berhubungan dengan kerusakan

intergritas jaringan kurang sesuai maka penulis akan melakukan

pembenaran, Gangguan mobilitas berhubungan dengan penurunan fungsi

tubuh (gangguan neuromuskular)

( Doenges,2000:241 )

Mobilisasi tergantung pada interaksi yang terkoordinasi antara fungsi

sensorik persepsi,keterampilan motorik, kondisi fisik, tingkat kognitif, dan

kesehatan premorbid, serta variableeksternal seperti keberadaan sumber-

sumber komunitas, dukungankeluarga, adanya halangan arsitektural (

kondisi lingkungan), dan kebijaksanaan institusional.

Pengelolaan imobilisasi menjadi sangat penting karena bertujuan untuk

dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan taraf hidup

fungsional, dengan parameter kemampuan untuk melakukan ADL

(Activities of Daily Life). Rehabilitasi medik, dukungan keluarga dan

lingkungan merupakan faktor utama. dalam pengelolaan imobilisasi.

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan latihan-latihan

yang terprogram.

(carpenito, 2000 : 2)
Intervensinya :

a) Bantu klien dalam beraktifitas bila tidak mampu.

Rasional : dengan membantu aktivitas yang di perlukan pasien akan

membantu mengurangi resiko yang tidak di inginkan.

(Doenges,2000 : 737)

b) Tingkatkan aktifitas perawatan diri pasien setiap saat.

Rasional : aktivitas dapat meningkat jika memotivasi yang sesuai dengan

kondisi pasien.

(Doenges,2000 : 737)

c) Berikan alternative dengan periode yang cukup.

Rasional : aktifitas dapat meningkatkan istirahat yang untuk menurunkan

kebutuhan oksigen tubuh.

(Doenges,2000 : 757)

d) Pantau respon terhadap aktifitas

Rasional : meningkatkan kontrol terhadap situasi

(Doenges,2000 : 738)

e) Mengobservasi skala aktifitas

Rasional: pasien mampu mandiri (nilai 0) atau memerlukan

bantuan/peralatan yang minimal (nilai 1); memerlukan bantuan

sedang/dengan pengawasan/diajarkan (nilai 2); memerlukan

bantuan/peralatan yang terus menerus dan alat khusus (nilai 3); atau

tergantung secara total pada pemberi asuhan (nilai 4). Seseorang dalam
semua kategori sama-sama mempunyai resiko kecelakaan namun kategori

dengan nilai 2-4 mempunyai resiko yang terbesar untuk terjadinya bahaya

tersebut sehubungan dengan imobilisasi.

(Doenges,2000 : 283)

Implementasi : implementasi yang berhasil dilaksanakan untuk mengatasi

masalah diatas adalah mengobservasi skala aktifitas

Evaluasi :

Evaluasi pada tanggal 28 Juni 2010 pukul 12.30 WIB di dapatkan data

Pasien mengatakan kakinya sakit bila digerakkan, tampak menahan sakit

ketika kaki digerakkan, skala pola aktivitas 17, analisa gangguan mobilisasi

berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan belum teratasi planing

lanjutkan intervensi, obervasi skala aktifitas pasien, bantu pasien dalam

pemenuhan aktifitas, berikan ROM aktif , masalah yang belum treatasi

didelegasikan pada perawat ruangan untuk di lanjutkan rencana tindakan

karena keterbatasan waktu penulis dalam melakukan asuhan

keperawartan.

3. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan ubuh berhubungan dengan

anoreksia yang ditandai dengan pasien mengatakan lemas, nafsu makan

berkurang dan terasa mual.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh: suatu keadaa dimana

individu yang tidak puasa mengalami atau beresiko mengalami penurunan


berat badan yang berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat atau

metabilisme nutrient yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik

(carpenito, 2000 : 259)

Penulis menegakan diagnosa Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi

kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia karena terdapat

data yang mendukung diagnosa ini, yaitu pasien pasien mengatakan

lemas, nafsu makan berkurang dan terasa mual. pada pengkajian pola

metabolisme pasen makan 2x sehari habis setengah porsi dan ibu pasien

mengatakan nafsu makannya turun.

Diagnosa ini penulis diprioritaskan menjadi prioritas ketiga karena

kebutuhan berdasarkan kebutuhan dari Maslow kebutuhan nutrisi

termasuk dalam kebutuhan fisiologis. Dimana kebutuhan nutrisi ditegakan

setelah memprioritaskan masalah emergensi. Bahayanya apabila

kebutuhan nutrisi tidak adekuat maka akan dapat menurunkan daya tahan

tubuh yang dapat menimbulkan infeksi sekunder. Selain itu nutrisi yang

tidak adekuat tidak dapat mendukung proses penyembuhan

Intervensi :

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kriteria hasil : Intake nutrisi adekuat, nafsu makan baik, berat badan normal

Intervensi :

a. Pantau intake dan output makanan

Rasional : Mengetahui asupan yang adekuat dan pengeluaran makanan


b. Timbang berat badan pasien dan ukur lingkar lengan pasien setiap hari

Rasional : Mengetahui status nutrisi pasien

(Doenges, 2000 : 426)

c. Berikan makanan dalam keadaan hangat

Rasional : Meningkatkan nafsu makan

d. Berikan makan sedikit tapi sering dan makanan kecil tambahan yang

tepat

Rasional : dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat

(Doenges, 2000 : 426)

e. Tentukan program diit dan pola makan pasien

Rasional : Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan

f. Kolaborasi :Dengan ahli gizi untuk menentukan diit pasien dan peberian

bubur.

Rasional : Mengetahui makanan yang disukai pasien yang dapat

meningkatkan nafsu makan dan dapat menyesuaikan diit makanan dalam

memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.

g. Mengobservasi pola makan pasien

Rasional : Mengetahui asupan nutrisi pasien

Implementasi :
implementasi yang berhasil di laksanakan untuk mengatasi masalah di

atas adalah Mengobservasi pola makan pasien data subyektif pasien

mengatakan setiap makan merasa mual data obyektifnya pasien makan

habis porsi.

Evaluasi :

pasien mengatakan masih merasa mual, tetapi memaksa untuk makan,

pasien makanhabis 1 porsi, pasien tampak lelah, analisa resiko

pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan belum tratasi, planing

pertahankan intervensi, Pantau intake dan output makanan, timbang berat

badan pasien dan ukur lingkar lengan pasien setiap hari, berikan makanan

dalam keadaan hangat, berikan makan sdikit dan makanan kecil tambahan

yang tepat, tentukan program diit dan pola makan pasien, kolaborasi

dengan ahli gizi untuk menentukan diit pasien dan pemeberian bubur.

masalah yang belum treatasi di delegasikan pada perawat ruangan unruk

di lanjutkan rencana tindakan karena keterbatasan waktu penulis dalam

melakukan asuhan keperawartan.

E. Diagnosa keperawatan yang teori muncul tetapi di tinjauan

kasus tidak muncul.

Adapun diagnosa-diagnosanya adalah sebagai berikut :

1. Resiko tinggi infeksi terhadap berhubungan dengan prosedur invasif


Resiko terhadap infeksi : keadaan dimana seorang individu beresiko

terserang oleh agens patogenik atau oportunistik (virus, jamur, bakteri,

protozoa,atau parasit lain) dari sumber-sumber eksternal,sumber-sumber

endogen atau eksogen

(Carpenito,2001 : 204)

2. Hipertermi berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi endotoksin

pada hipotalamus, perubahan regulasi temperatur.

Hipertermia : keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko

untuk mengalami kenaikan suhu tubuh terus menerus lebih tinggi dari

37,8 C (100 F) per oral atau 38,8 C (100 F) per rectal karena factor

eksternal

(Carpenito 2001 : 21)

3. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan

reduksi aliran darah arteri dan vena.

Perubahan perfusi jaringan : keadaan di mana individu mengalami atau

beresiko mengalami suatu penurunan dalam nutrisi dan pernapasan pada

tingkat seluler di sebabkan suatu penurunan dalam suplai darah kapiler.

Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan

permiabilitas / kebocoran cairan kedalam lokasi interstisial (ruang ketiga).

Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan

elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi

seperti ini disebut juga hipovolemia. Umumnya, gangguan ini diawali


dengan kehilangan cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan

cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga menyebabkan

penurunan cairan ekstraseluler. Untuk untuk mengkompensasi kondisi ini,

tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler. Secara umum, defisit

volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan cairan

abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan

pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan

tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi

cairan ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi

intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium,

perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu, seperti

terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat

obstruksi saluran pencernaan

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi

tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh

adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis.

Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan

berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (

pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang

menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika

berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui

makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh


bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi

yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian

tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan

yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada

yang lainnya. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu :

cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah

cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan

ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga

kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan

cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam

sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel,

sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan

serebrospinal,cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.

Perpindahan Cairan dan Elektrolit Tubuh Perpindahan cairan dan elektrolit

tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu : 4

Fase I : Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi,

dan nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal.

Fase II : Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler

dan sel

Fase III : Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari

cairan interstitial masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan

membran sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter


tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut

berpindah.Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan

cara :

1) Diffusi

2) Filtrasi

3) Osmosis

4) Aktif Transport Diffusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi

pasif. Hampir semua zat berpindah dengan mekanisme transportasi pasif.

Diffusi sederhana adalah perpindahan partikel-partikel dalam segala arah

melalui larutan atau gas. Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah

tidaknya difusi zat terlarut menembus membran kapiler dan sel yaitu :

a) Permeabilitas membran kapiler dan sel

b) Konsenterasi

c) Potensial listrik

d) Perbedaan tekanan. Osmosis adalah proses difusi dari air yang

disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah

dengan konsentrasi zat terlarut yang rendah ke daerah dengan

konsentrasi zat terlarut yang tinggi. Perpindahan zat terlarut melalui

sebuah membran sel yang melawan perbedaan konsentrasi dan atau

muatan listrik disebut transportasi aktif. Transportasi aktif berbeda dengan

transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosin

trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium dan
natrium. Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di dalam

bagian plasma dan bagian cairan interstisial karena konsentrasi natrium

hampir sama pada kedua 5

bagian itu. Distribusi air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan

hidrostatik yang dihasilkan oleh darah kapiler, terutama akibat oleh

pemompaan oleh jantung dan tekanan osmotik koloid yang terutama

disebabkan oleh albumin serum. Proses perpindahan cairan dari kapiler ke

ruang interstisial disebut ultrafilterisasi. Contoh lain proses filterisasi

adalah pada glomerolus ginjal. Meskipun keadaan di atas merupakan

proses pertukaran dan pergantian yang terus menerus namun komposisi

dan volume cairan relatif stabil, suatu keadaan yang disebut

keseimbangan dinamis atau homeostatis

(http://lensaaskep.blog.com/kebutuhan-cairan-dan-elektrolit.html)

4. Resiko tinggi terhadap pertukaran gas berhubungan dengan perubahan

aliran darah

Kerusakan pertukaran gas : keadaan dimana seorang individu mengalami

penurunan jalanya gas (O2 dan CO2) yang actual (atau dapat mengalami

potensial) antara alveoli paru-paru dan system vaskuler

(Carpenito , 2001 : 327)

5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit berhubungan dengan kesalahan

interpretasi informasi.
Kurang pengetahuan suatu keadaan di mana sorang individu atau

kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan

ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana

pengobatan.

(Carpenito, 2001 : 223)

6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit

karena destruksi lapisan kulit.

Kerusakan integritas jaringan : keadaan seorang individu mengalami atau

beresiko untuk mengalami kerusakan integumen, kornea, atau jaringan

membran mukosa

(Cartpenito, 2001 : 299)


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan dari pembahasan maka dapat di simpulkan hal-hal

sebagai berikut :

Masalah keperawatan yang muncul pada kasus GANGGUAN SISTEM

INTEGUMEN ABSESS FEMUR DEXTRA PADA TnT adalah Nyeri

berhubungan dengan regangan dan distorsi abses (kerusakanjaringan),

gangguan mobilitas berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh

(gangguan neuromuskular), resiko nutrisi kurang dari kebutuhan ubuh

berhubungan dengan anoreksia.

1. Pada abses femur dextra tidak semua memperlihatkan gejala yang

sesuai dengan teori

2. Prinsip pengelolaan pasien dengan abses femur dextra adalah

perawatan umum yang berorentasikan pada kebutuhan pasien.

3. Di dalam kesembuhan pasien ternyata keluarga mempunyai peran yang

sangat besar, bila keluarga di ikut sertakan maka klien akan terlindungi

dengan adanya orang terdekat klien kooperatif dan semangat dari pasien

yang ingin sembuh merupakan faktor pendukung sedangkan kurangnya

pengetahuan klien merupakan faktor penghambat dalam pengelolaan

kasus
B. Saran

Berdasarkan hasil saran dapat di simpulkan sebagai berikut :

1. Tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan sesuai

dengan permasalahan yang dikeluhkan oleh pasien dengan mengunakan

sistem pendokumentasian yang sistematis

2. Untuk mempercepat kesembuhan klien, peran keluarga sangat penting

maka keluarga perlu di ikut sertakan dalam perawatan dan pengobatan

klien.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L,J, 2001, Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Klinik (terjemahan),


Edisi 3, EGC, Jakarta.
Doenges, M.E, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (terjemahan),
edisi 3, EGC, Jakarta
http://imadeharyoga.com (diakses 30 juni 2010)
http://www.surabayapost.co.id (diakses 30 juni 2010)
http://lensaaskep.blog.com/kebutuhan-cairan-dan-elektrolit.html(diakses 30 juni
2010)
http://ruangkesehatan.blog.com/20%abses (diakses 30 juni 2010)
Price, SA dan Wilson, LM, 1995, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit (terjemahan), Eidisi 4, Volume 1, EGC, Jakarta
Smeltzer, S.C, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (terjemahan), Edisi
8, Volume 2, EGC, Jakarta.
S. Sjamsuhidayat, Wim De Jong, 1998, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC,
Jakarta
Underwood, J.C.E, 1999, Buku Ajar Ilmu Bedah (terjemahan), Edisi 4, EGC,
Jakarta.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

PEMBERIAN OBAT INTRA VENA

Pengertian : Pemberian obat / cairan dengan cara dimasukan langsung ke dalam

pembuluh darah vena.

Tujuan : Pasien yang mendapatkan obat yang diberikan secara intra vena (IV)

Peralatan : 1. Sarung tangan 1 pasang

2. Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan

3. Jarum 1 (steril)

4. Bak spuit (1)

5. Kapas alkohol dalam kom (secukupnya)

6. Desinfektan (zalf atau cair)

7. Tourni auet / manset

8. Penlak dan pengalas

9. Obat sesuai program terapi

10. Bengkok 1

11. Bergaji ampul (kalau perlu)

12. Piester luka (hanssplast) kassa dan plester

13. Buku injeksi / daftar obat

Prosedur pelaksanaan
A. Tahap pra interaksi

1. Melakukan derifikasi data sebelumnya bisa ada

2. Mencuci tangan

3. Menempatakan alat didekat pasien dengan benar

B. Tahap orientasi

1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga / klien

3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

C. Tahap kerja

1. Mengatur posisi pasien dan pilih vena dari arah distal

2. Memasang perlak dan alasnya

3. Membebaskan daerah yang akan diinjeksi

4. Meletakan tourniquel 5 cm proksimal yang akan ditusuk

5. Memakai hand schon

6. Membersihkan kulit dengan kapas alkohol ( melingkar dari arah dalam ke

arah luar ) biarkan kering

7. Mempertahankan vena pada posisi stabil

8. Memegang spuit dengan 300

9. Menusuk vena dengan kemiringan 300 dan lubang jarum menghadap ke

atas

10. Melakukan aspirasi dan pastikan darah masuk spuit

11. Membuka tourniquet


12. Memasukan obat secara perlahan

13. Mencabut spuit sambil menekan daerah tusukan dengan kapas

14. Menutup daerah tusukan dengan plester luka

15. Membuang spuit ke dalam bengkok

D. Tahap terminasi

1. Melakukan evaluasi tindakan

2. Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya

3. Berpamitan dengan klien

4. Membereskan alat - alat

5. Mencuci tangan

Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.


SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Teknik mengurangi rasa nyeri

Sub Pokok Bahasan : Teknik distraksi relaksasi

Sasaran : Tn. T

Tempat : Ruang Melati

Waktu : 15 menit

Hari / tanggal : Senin, 28 Juni 2010

A. Tujuan instruksional umum

Setelah dilakuka pendidikan kesehatan selama 1x15 menit diharapkan

mampu mengurangi rasa nyeri.

B. Tujuan insruksional khusus

Setelah dilakukan tindakan keperawtan atau penyuluhan selama 1x15

menit diharapkan pasien :

1. Mengetahui pengertian distraksi relaksasi

2. Mengetahui dan bersedia melakan teknik distraksi elaksasi

3. Mampu mengatasi nyeri

4. Pasien merasa nyaman

C. Media

- Lembar balik

- Leaflet
D. Metode

1. Ceramah

2. Tanya jawab

E. Evaluasi

1. Apakah pengetian teknik distraksi dan relasasi ?

2. Apakah manfaat teknik disraksi dan relaksasi ?

3. Bagaimana cara melakukan teknik distraksi dan relaksasi ?

F. Sumber

Asosiasi institusi pendidikan III keperawatan Jawa Tengah, 2006, Standart

Operasional Prosdur.

G. KBM

Kegiatan Belajar Mengajar


No Kegiatan Waktu
Mahasiswa Tn. T dan Keluarga

1 Pembukaan 3menit 1. Mengucapkan salam1. Menjawab salam

2. memperkenalkan diri2. Memperhatikan

3. Menjelaskan tujuan 3. Mendengarkan dan

4. Mengingatkan meperhatikan

kontak 4. Menyetujui

2 Isi 10menit
1. Menjelaskan
1. Mendengarkan dan

keadaan pasien memperhatikan

tentang teknik
2. Mendengarkan dan
distraksi relaksasi memperhatikan

2. Menjelaskan manfaat
3. Bertanya

dilakukan teknik
4. Mendengarkan

distraksi dan relaksasi5. Mendengarkan dan

3. Memberikan memperhatikan

kesempatan dan

keluarga untuk

bertanya

4. menjawab

pertannyaan

5. menjelaskan

prosedur distraski dan

relaksasi

3 Penutup 2menit1. Meminta pasien


1. Melakuka teknik

untuk melakukan distraksi dan relaksasi

teknik distraksi dan


2. Pasien menjawab

elaksasi 3. Mendengarkan

2. Memberi pertanyaan
4. Menjawab

untuk evaluasi 5. Mejawab salam

3. Menyimpulkan hasil

penyuluhan

4. Mengucapkan terima
kasih

5. Menucapkan salam

penutup
MATERI

1. Pengertian Teknik Distraksi dan Relaksasi

Teknik distraksi adalah proses teknik mengurangi rasa nyaman nyeri

dengan menarik nafas dalam dan menghembuskan secara peralahan jadi

distraksi dan relaksasi adalah teknik untuk memberikan rasa nyaman pada

pasien yang mengalami nyeri dengan membimbing pasien untuk

melakukan teknik distraksi dan relaksasi.

2. Tujuan Teknik Distraksi dan relaksasi

a. Mengurangi/menghilangi rasa nyeri

b. Menurunkan ketegangan otot

c. Menimbulkan perasaan nyaman

3. Prosedur (cara pelaksanaan teknik distraksi dan relaksasi)

a. Mengatur posisi yang nyaman dan tenang

b. Meminta pasien memfokuskan pikiran pasien pada kedua kaknya untuk

diluruskan, kendorkan seluruh otot-otot kakinya, perintahkan pasien unuk

merasakan relaksasi kedua kakinya.

c. Meminta pasien unuk memejamkan mata

d. Meminta pasien untuk memindahkan pikirannya pada keduanya tangan

pasien, kendorkan otot-otot kedua tangannya, meminta pasien untuk

melakukan relaksasi keduanya


e. Memindahkan fokus pkiran pasien pada bagian tubuhnya meminta

pasien ke otot bahu, meminta pasien untuk melakukan relaksasi otot

keduanya

f. Meminta pasien untuk senyum agar otot mulai rileks

g. Eminta pasien untuk memfokuskan pikiran pada masukannya udara

lewat jalan nafas

h. Meminta pasien untuk berfikir ketempat yang menyenangkan