You are on page 1of 20

MAKALAH

PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGGU-A


Nyamuk Anopheles

Disusun Oleh:

Eugenius Kennedi
20131110611

DOSEN PENGAMPU : HAJIMI, SKM M.KES

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PONTIANAK


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI D-III
2016
Anopheles sp.

Klasifikasi Nyamuk Anopheles

Nyamuk Anopheles sp adalah nyamuk vektor penyakit malaria. Di dunia kurang lebih
terdapat 460 spesies yang sudah dikenali, 100 diantaranya mepunyai kemampuan menularkan
malaria dan 30-40 merupakan host dari parasite Plasmodium yang merupakan penyebab
malaria di daerah endemis penyakit malaria. Di Indonesia sendiri, terdapat 25 spesies nyamuk
Anopheles yang mampu menularkan penyakit Malaria. Sering orang mengenalnya sebagai
salah satu jenis nyamuk yang menyebabkan penyakit malaria. Nyamuk malaria banyak
terdapat di rawa-rawa, saluran-saluran air, dan permukaan air yang terekspos sinar matahari.
Ia bertelur di permukaan air.
1. Nyamuk ini hinggap dengan posisi menukik atau membentuk sudut. Sering hinggap di
dinding rumah atau kandang. Warnanya bermacam-macam, ada yang hitam, ada pula
yang kakinya berbercak-bercak putih. Waktu menggigit biasanya dilakukan malam
hari.
2. Banyak jenis nyamuk Anopheles yang bisa menyebabkan penyakit malaria. Ada
Anopheles sundaicus yang banyak terdapat di air payau, seperti di Kepulauan Seribu.
Nyamuk ini berkembang biak di lingkungan yang banyak ditumbuhi ganggang. Ia
akan meletakkan telurnya di ganggang hijau yang banyak reniknya, sehingga begitu
menetas, jentiknya langsung mendapat makanan renik yang hidup di antara ganggang
tersebut.
3. Ada lagi Anopheles maculatus dan Anopheles balabacensis yang banyak terdapat di
perbukitan, seperti di Bukit Manoreh, Yogyakarta. Biasanya nyamuk ini bertelur di
mata air, di air rembesan, atau di sungai yang tak deras airnya, seperti di antara
bebatuan sungai. Ada lagi Anopheles aconitus yang banyak hidup di daerah
pesawahan atau saluran-saluran air yang ada rumputnya. Selain yang sudah
disebutkan, masih banyak lagi jenis Anopheles lainnya. Menurut Soeroto ada sekitar
70 jenis nyamuk ini.
4. Penyakit malaria yang ditimbulkan pun jenisnya bermacam-macam, tergantung jenis
parasitnya. Semisal, ada malaria falsiparum, vivak, ovale, dan malariae. Selain itu,
nyamuk Anopheles bisa juga menyebabkan penyakit kaki gajah.

Anopheles gambiae adalah paling terkenal akibat peranannya sebagai penyebar parasit
malaria dalam kawasan endemik di Afrika, sedangkan Anopheles sundaicus adalah penyebar
malaria di Asia.
Urutan penggolongan klasifikasi nyamuk Anopheles seperti binatang lainnya adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda
Class : Hexapoda / Insecta
Sub Class : Pterigota
Ordo : Diptera
Familia : Culicidae
Sub Famili : Anophellinae
Genus : Anopheles

Spesies Anopheles
Ada beberapa spesies Anopheles yang penting sebagai vektor malariadi Indonesia antara
lain :
a. Anopheles sundauicus
Spesies ini terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Bali. Jentiknya
ditemukan pada air payau yang biasanya terdapat tumbuhtumbuhan enteromopha,
chetomorpha dengan kadar garam adalah 1,2 sampai 1,8 %. Di Sumatra jentik ditemukan
pada air tawar seperti di Mandailing dengan ketinggian 210 meter dari permukaan air laut dan
Danau Toba pada ketinggian 1000 meter.
b. Anopheles aconitus
Di Indonesia nyamuk ini terdapat hampir di seluruh kepulauan, kecuali Maluku dan
Irian. Biasanya terdapat dijumpai di dataran rendah tetapi lebih banyak di daerah kaki gunung
pada ketinggian 4001000 meter dengan persawahan bertingkat. Nyamuk ini merupakan
vector pada daerahdaerah tertentu di Indonesia, terutama di Tapanuli, Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Bali.
c. Anopheles barbirostris
Spesies ini terdapat di seluruh Indonesia, baik di dataran tinggi maupun di dataran
rendah. Jentik biasanya terdapat dalam air yang jernih, alirannya tidak begitu cepat, ada
tumbuhtumbuhan air dan pada tempat yang agak teduh seperti pada tempat yang agak teduh
seperti pada sawah dan parit.
d. Anopheles kochi
Spesies ini terdapat diseluruh Indonesia, kecuali Irian. Jentik biasanya ditemukan pada
tempat perindukan terbuka seperti genangan air, bekas tapak kaki kerbau, kubangan, dan
sawah yang siap ditanami.
e. Anopheles maculatus
Penyebaran spesies ini di Indonesia sangat luas, kecuali di Maluku dan Irian. Spesies ini
terdapat didaerah pengunungan sampai ketinggian 1600 meter diatas permukaan air laut.
Jentik ditemukan pada air yang jernih dan banyak kena sinar matahari.
f. Anopheles subpictus
Spesies ini terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Nyamuk ini dapat dibedakan menjadi
dua spesies yaitu :
1) Anopheles subpictus subpictus
Jentik ditemukan di dataran rendah, kadangkadang ditemukan dalam air payau dengan
kadar garam tinggi.
2) Anopheles subpictus malayensis
Spesies ini ditemukan pada dataran rendah sampai dataran tinggi. Jentik ditemukan pada
air tawar, pada kolam yang penuh dengan rumput pada selokan dan parit.
g. Anopheles balabacensis
Spesies ini terdapat di Purwakarta, Jawa Barat, Balikpapan, Kalimantan Timur,
Kalimantan Selatan. Jentik ditemukan pada genangan air bekas tapak binatang, pada
kubangan bekas roda dan pada parit yang aliran airnya terhenti.
Morfologi Anopheles
Anopheles mengalami metamorfosis sempurana yaitu stadium telur, larva, kepompong, dan
dewasa yang berlangsung selama 7-14 hari. Tahapan ini dibagi ke dalam 2 perbedaan
habitatnya yaitu lingkungan air dan daratan. Nyamu dewasa muncul dari lingkunngan air ke
lingkungan daratan setelah menyelesaikan daur hidupnya. Oleh sebab itu, keberadaan air
sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup nyamuk, terutama masa larva dan pupa.
Nyamuk anopheles betina dewasa meletakkan 50-200 telur satu persatu di dalam air atau
bergerombolan tetap saling lepas. Telur anopheles mempunyai alat pengapungan dan untuk
menjadi larva dibutuhkan waktu selama 2 sampai 3 hari, atau 2 sampai 3 minggu pada iklim-
iklim lebih dingin. Pertumbuhan larva dipengaruhi aktor suhu, nutrien, ada tidaknya binatang
predator yang berlangsung sekitar 7 sampai 20 hari bergantung pada suhu. Kepompong
(pupa) merupakan stadium terakhir di lingkungan air dan tidak memerlukan makanan. Pada
stadium ini terjadi proses pembentukan alat-alat tubuh nyamuk seperti alat kelamin, sayap
dan kaki. Lama stadium pupa nyamuk jantan akan muncul kira-kira satu hari lebih awal
daripada nyamuk betina yang berasal dari satu kelompok telur. Stadium pupa ini memakan
waktu lebih kurang 2 sampai dengan 4 hari.
Morfologi nyamuk anopheles berbeda dari nyamuk culex.
a. Telur anopheles diletakkan satu persatu di atas permukaan air sehingga seperti membentuk
perahu yang bagian bawahnya konveks, bagian atasnya konkaf dan mempunyai sepasang
pelampung pada lateral.
b. Larva anopheles tampak mengapung sejajar dengan permukaan air, spirakel pada posterior
abdomen, tergel plate pada tengah sebelah dorsal abdomen dan sepasang bulu palma pada
lateral abdomen.
c. Pupa anopheles mempunyai tabung pernafasan berbentuk seperti trompet yang lebar dan
pendek , digunakan untuk mengambil oksigen dari udara
d. Nyamuk dewasa pada jantan memiliki ruas palpus bagian apikal berbentuk gada (club
form) pada betina ruasnya mengecil. Sayap bagian pinggir (kosta dan vena I ) ditumbuhi
sisik-sisik sayap berkelompok membentuk belang hitam putih, ujung sayap membentuk
lengkung. Bagian posterior abdomennya melancip.
Malaria merupakan penyakit yang dapat bersifat akut maupun kronik, malaria disebabkan
oleh protozoa dari genus plasmodium ditandai dengan demam, anemiadan splenomegali.
Sampai sekarang dikenal 4 jenis plasmodium, yaitu :
a. plasmodium falciparum sebagai penyebab Malaria Tropika.
b. plasmodium vivaks sebagai penyebab penyakit Malaria Tertiana.
c. plasmodium malariae sebagai penyebab penyakit Malaria Quartana.
d. plasmodium ovale yang menyebabkan penyakit Malaria yang hampir serupa
dengan Malaria Tertiana.
Dalam daur hidupnya Plasmodium mempunyai 2 hospes, yaitu vertebrata dan nyamuk.
Siklus aseksual didalam hospes vertebrata dikenal sebagai skizogoni dan siklus seksual yang
terbentuk sporozoit disebut sebagai sporogoni.

Skizogoni
Sporozoit infektif dari kelenjar ludah nyamuk Anopheles, dimasukkan kedalam aliran
darah hospes vertebrata (manusia) melalui tusukkan nyamuk, dalam waktu 30 menit
memasuki sel parenkim hati, mulai stadium eksoeritrositik dari daur hidupnya. Di dalam sel
hati parasit tumbuh skizon.

Sporogoni
Sporogoni terjadi didalam nyamuk. Gemetosit yang masuk bersama darah, tidak
dicernakan bersama selsel darah lain. Pada Mikrogametosit jantan titik kromatin membagi
diri menjadi 68 inti yang bergerak ke pinggir parasit. Di pinggir beberapa filament dibentuk
seperti cambuk dan mempunyai gerakan aktif, yaitu yang menjadi 68 mikrogametber inti
tunggal, didesak keluar akhirnya lepas dari sel induk. Proses ini disebut sebagai aksflagelasi.
Sementara makrogametosit betina menjadi matang sebagai makrogametterdiri atas
sebuah badan dari sitoplasma yang berbentuk bulat dengan sekelompok kromatin ditengah.
Pembuahan (fertilisasi) terjadi karena masuknya satu mikrogamet kedalam mikrogamet untuk
membentuk Zigot.

Bionomik ( Perilaku Nyamuk )


Perilaku saat menghisap darah
Hanya nyamuk betina yang sering menghisap darah nyamuk Anopheles sering
menghisap darah diluar rumah dan suka menggigit diwaktu senja sampai dini hari (Eksofagik)
serta mempunyai jarak terbang sejauh 1,6 Km sampai dengan 2 Km. Waktu antara nyamuk
menghisap darah yang mengandung Gametosit sampai mengandung sporozoit dalam kelenjar
liurnya, disebut masa tunasekstrinsik. Sporozoit adalah bentuk infektif.
Untuk terjadi penularan penyakit malaria harus ada empat faktor yaitu:
1. Parasit (agent / penyebab penyakit malaria)
2. Nyamuk Anopheles (vektor malaria)
3. Manusia (host intermediate)
4. Lingkungan (environment)
v Empat faktor terjadinya penularan malaria
Bionomik nyamuk mencakup pengertian tentang perilaku, perkembangbiakan, umur,
populasi, penyebaran, fluktuasi musiman, serta faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi
berupa lisan fisik (musim. kelembaban. angin. matahari, arus air). lingkungan kimiawi (kadar
gram, PH) dan lingkungan biologik seperti tumbuhan bakau, gangang vegetasi disekitar
tempat perindukan dan musim alami.
Sebelum mempelajari aspek perilaku nyamuk atau makhluk hidup lainnya harus
disadari bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan biologik selalu ada variasinya. Variasi
tingkah laku akan terjadi didalam spesies tunggal baik didaerah yang sama maupun berbeda.
Perilaku binatang akan mengalami perubahan jika ada rangsangan dari luar. Rangsangan dari
luar misalnya perubahan cuaca atau perubahan lingkungan baik yang alami manpun karena
ulah manusia.

Perilaku Mencari Darah.


Perilaku mencari darah nyamuk dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu:

a. Perilaku mencari darah dikaitkan dengan waktu.


Nyamuk Anopheles pada umumnya aktif mencari darah pada waktu malarn hari.apabila
dipelajari dengan teliti ternyata tiap spesies mempunyai sifat yang tertentu, ada spesies yang
aktif mulai senja hingga menjelang tengah malam dan sampai pagi hari.

b.Perilaku mencari darah dikaitkan dengan tempat.


Apabila dengan metode yang sama kita adakan. Penangkapan nyarnuk didalam dan diluar
rumah maka dari hasil penangkapan tersebut dapat diketahui ada dua golongan nyamuk,
yaitu: eksofagik yang lebih senang mencari darah diluar rumah dan endofagik yang lebih
senang mencari darah didalam rumah.
c. Perilaku mencari darah dikaitkan dengan sumber darah.
Berdasarkan macam darah yang disenangi, kita dapat membedakan atas: antropofilik
apabila lebih senang darah manusia, dan zoofilik apabila nyamuk lebih senang menghisap
darah binatang dan golongan yang tidak mempunyai pilihan tertentu.

d. Frekuensi menusuk
Telah diketahui bahwa nyamuk betina biasanya hanya kawin satu kali selama hidupnya
Untuk mempertahankan dan memperbanyak keturunannya, nyamuk betina hanya
memerlukan darah untuk proses pertumbuhan telurnya. Tiap sekian hari sekali nyamuk akan
mencari darah. Interval tersebut tergantung pada species, dan dipengaruhi oleh temperatur
dan kelembaban, dan disebut siklus gonotrofik.Untuk iklim Indonesia memerlukan waktu
antara 48-96 jam.

Perilaku pada waktu hinggap dan beristirahat

Nyamuk Anopheles lebih suka hinggap di batang-batang rumput, di alam atau luar rumah
(Eksofilik) yaitu tempat-tempat lembab, terlindung dari sinar matahari, gelap. Istirahat bagi
nyamuk mempunyai 2 macam artinya: istirahat yang sebenarnya selama waktu menunggu
proses perkembangan telur dan istirahat sementara yaitu pada waktu nyamuk sedang aktif
mencari darah. Meskipun pada umumnya nyamuk memilih tempat yang teduh, lembab dan
aman untuk beristirahat tetapi apabila diteliti lebih lanjut tiap species ternyata mempunyai
perilaku yang berbeda-beda. Ada spesies yang halnya hinggap tempat-tempat dekat dengan
tanah (AnAconitus) tetapi ada pula species yang hinggap di tempat-tempat yang cukup
tinggi (An.Sundaicus). Pada waktu malam ada nyamuk yang masuk kedalam rumah hanya
untuk menghisap darah orang dan kemudian langsung keluar. Ada pula yang baik sebelum
maupun sesudah menghisap darah orang akan hinggap pada dinding untuk beristirahat.

Perilaku pada saat berkembang biak (Breeding Place)


Nyamuk Anopheles dapat berkembang biak ditempat-tempat yang airnya tergenang seperti
sawah, irigasi yang bagian tepinya banyak ditumbuhi rumput dan tidak begitu deras airnya.
Nyamuk Anopheles betina mempunyai kemampuan memilih tempat perindukan atau tempat
untuk berkembang biak yang sesuai dengan kesenangan dan kebutuhannya Ada species yang
senang pada tempat-tempat yang kena sinar matahari langsung (an. Sundaicus), ada pula
yang senang pada tempat-tempat teduh (An. Umrosus). Species yang satu berkembang
dengan baik di air payau (campuran tawar dan air laut) misalnya (An. Aconitus) dan
seterusnya Oleh karena perilaku berkembang biak ini sangat bervariasi, maka diperlukan
suatu survai yang intensif untuk inventarisasi tempat perindukan, yang sangat diperlukan
dalam program pemberantasan.

Siklus Hidup Nyamuk Anopheles


Nyamuk Anopheles mempunyai siklus hidup , yang termasuk dalam metamorfosa sempurna.
Yang berarti dalam siklus hidupnya terdapat stage/fase pupa. Telur ke larva mengalami
pengelupasan kulit/eksoskelet 4 kali) lalu pupa dan menjadi nyamuk dewasa Waktu
pertumbuhan 2 sampai 5 minggu tergantung pada spesies, makanan yang tersedia, dan suhu
udara.
Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan-
tingkatan yang kadang-kadang antara tingkatan yang sama dengan tingkatan yang berikutnya
terlihat sangat berbeda. Berdasarkan tempat hidupnya dikenal dua tingkatan kehidupan yaitu :
a. Tingkatan di dalam air.
b. Tingkatan di luar tempat berair (darat/udara).

Untuk kelangsungan kehidupan nyamuk diperlukan air, siklus hidup nyamuk akan
terputus. Tingkatan kehidupan yang berada di dalam air ialah: telur. jentik, kepompong.
Setelah satu atau dua hari telur berada didalam air, maka telur akan menetas dan keluar
jentik. Jentik yang baru keluar dari telur masih sangat halus seperti jarum.Dalam
pertumbuhannya jentik Anopheles mengalami pelepasan kulit sebanyak empat kali.
Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik antara 8-10 hari tergantung pada suhu,
keadaan makanan serta species nyamuk. Dari jentik akan tumbuh menjadi kepompong (pupa)
yang merupakan tingkatan atau stadium istirahat dan tidak makan. Pada tingkatan
kepompong ini memakan waktu satu sampai dua hari. Setelah cukup waktunya, dari
kepompong akan keluar nyamuk dewasa yang telah dapat dibedakan jenis kelaminnya.
Setelah nyamuk bersentuhan dengan udara, tidak lama kemudian nyamuk tersebut telah
mampu terbang, yang berarti meninggalkan lingkungan berair untuk meneruskan hidupnya
didarat atau udara, dalam meneruskan keturunannya.Nyamuk betina kebanyakan hanya
kawin satu kali selama hidupnya. Biasanya perkawinan terjadi setelah 24 -48 jam dari saat
keluarnya dari kepompong.
Pengendalian Nyamuk Anopheles
Pengendalian yang mungkin dan sudah di lakukan
Nyamuk Anopheles dewasa ini banyak sekali metode pengendalian vector dan binatang
pengganggu yang telah dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia. Dari berbagai metode yang
telah dikenal dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1) Pengendalian dengan cara menghindari/mengurangi kontak atau gigitan nyamuk Anopheles.
a. Penggunaan kawat kasa pada ventilasi.
Dimana keadaan rumah ventilasi udara dipasangi atau tidak dipasangi kawat kasa ini
berfungsi untuk mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah.
b. Menggunakan kelambu pada waktu tidur.
Kebiasaan menggunakan kelambu pada tempat yang biasa di pergunakan sebagai tempat
tidur dan di gunakan sesuai dengan tata cara penggunaan kelambu untuk tempat tidur dan
waktu penggunaan kelambu saat jam aktif nyamuk mencari darah.
c. Menggunakan zat penolak (Repellent).
Untuk kebiasaan penggunaan repellent yang digunakan pada saat atau waktu nyamuk
menggigit atau pada waktu akan tidur malam atau pada waktu lain di malam hari.
2) Pengendalian dengan cara genetik dengan melakukan sterelisasi pada nyamuk dewasa.
3) Pengendalian dengan cara menghilangkan atau mengurangi tempat perindukan, yang
termasuk kegiatan ini adalah :
a. Penimbunan tempat-tempat yang dapat menimbulkan genangan air.
b. Pengeringan berkala dari satu sistem irigasi.
c. Pengaturan dan perbaikan aliran air.
d. Pembersihan tanaman air dan semak belukar.
e. Pengaturan kadar garam misalnya pada pembuatan tambak ikan atau udang.
4) Pengendalian Cara Biologi.
Pengendalian dengan cara ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alaminya
(predator) atau dengan menggunakan protozoa, jamur dan beberapa jenis bakteri serta jenis-
jenis nematoda.
5) Pengendalian Cara Fisika-Mekanik.
Pengendalian dengan Fisika-Mekanik ini menitik beratkan usahanya pada penggunaan dan
memanfaatkan faktor-faktor iklim kelembaban suhu dan cara-cara mekanis.
6) Pengendalian dengan cara pengolaan lingkungan (Environmental management).
Dalam pengendalian dengan cara pengelolaan lingkungan dikenal dua cara yaitu :
a. Perubahan lingkungan (Environmental Modivication).
Meliputi kegiatan setiap pengubahan fisik yang permanen terhadap tanah, air dan
tanaman yang bertujuan untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi tempat
perindukan nyamuk tanpa menyebabkan pengaruh yang tidak baik terhadap kuwalitas
lingkungan hidup manusia. Kegiatan ini antara lain dapat berupa penimbunan (filling),
pengertian (draining), perataan permukaan tanah dan pembuatan bangunan, sehingga vektor
dan binatang penganggu tidak mungkin hidup.
b. Manipulasi Lingkungan (Environment Manipulation)
Sehingga tidak memungkinkan vektor dan binatang pengganggu berkembnang dengan
baik. Kegiatan ini misalnya dengan merubah kadar garam (solinity), pembersihan tanaman air
atau lumut dan penanaman pohon bakau pada pantai tempat perindukan nyamuk sehingga
tempat itu tidak mendapatkan sinar matahari.

Pengendalian Dengan Cara Kimia (Chemical Control)


Pengendalian dengan cara kimia (Chemical Control) ini disebut juga pengendalian
dengan menggunakan pestisida. Pestisida adalah suatu zat kimia yang dapat membunuh
vektor dan binatang pengganggu. Disamping pengendalian secara langsung kepada vektor,
pengendalian secara kimiawi juga bisa dilakukan terhadap tanaman yang menunjang
kehidupan vektor dan binatang penggangu dengan menggunakan herbisida. Penggunaan
pestisida untuk mengendalikan vektor dan binatang pengganggu memang sangat efektif tetapi
dapat menimbulkan masalah yang serius karena dapat merugikan manusia dan
lingkungannya.
Pemanfaatan Ekstrak Daun Zodia
Zodia merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari daerah Irian (Papua). Oleh
penduduk setempat tanaman ini biasa digunakan untuk menghalau serangga, khususnya
nyamuk apabila hendak pergi ke hutan, yaitu dengan cara menggosokkan daunnya ke kulit.
Selain itu tanaman yang memiliki tinggi antara 50 cm hingga 200 cm (rata-rata 75 cm) di
percaya mampu mengusir nyamuk dan serangga lainnya dari sekitar tanaman. Oleh sebab itu,
tanaman ini sering di tanam di pekarangan ataupun di pot untuk menghalau nyamuk. Aroma
yang dikeluarkan oleh tanaman zodia cukup wangi.
Biasanya tanaman ini mengeluarkan aroma apabila tanaman tergoyah oleh tiupan angin
hingga di antara daunnya saling menggosok maka keluarlah aroma yang wangi.
Saat ini sebagian masyarakat menyimpan tanaman zodia pada pot didalam ruangan
sehingga selain memberikan aroma yang khas, juga aromanya dapat menghalau nyamuk
didalam ruangan. Namun demikian tidak berarti bahwa nantinya di dalam ruangan terdapat
bangkai nyamuk sebagai akibat dari tanaman ini, nyamuk hanya terusir karena tidak
menyukai aroma dari tanaman ini. Penyimpanan tanaman juga sering diletakkan disekitar
tempat angin masuk ke dalam ruangan, nyamuk yang hendak masukpun terhalau.

Repellent
Repellent adalah substansi yang digunakan untuk melindungi manusia dari gangguan
nyamuk dan serangga pengigit lainnya. Secara umum repellent dibagi menjadi 2 kategori,
yakni repellen kimia dan Repellen alami. Repellen kimia misalnya DEET (N, N diethyl-m-
Toluamide). Repellen alami dapat digunakan peptisida nabati. Peptisida nabati menimbulkan
residu relative rendah pada bahan makanan dan lingkungan serta dianggap lebih aman dari
pada pestisida sintesis. Pestisida nabati dapat diperoleh melalui tumbuhan penghasil
insektisida nabati. Insektisida nabati adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida
pengendali hama insekta.
Tumbuhan yang biasa digunakan sebagai insektisida nabati salah satunya dlingo. Bagian
tumbuhan yang digunakan rimpangnya, rimpang dlingo dapat digunakan dalam dua bentuk
yaitu berbentuk tepung dan minyak. Rimpang dlingo mengandung minyak yang dapat
digunakan sebagai bahan insektisida yang berkerja sebagai repellen (penolak serangga)
tanaman lainnya bisa menggunakan pyrethrum, serai, zodia, gerainium, rosmery, soga,
bitung, babandotan.
Repellent digunakan dengan cara menggosokkan pada tubuh atau menyemprotkan pada
pakaian. Oleh karena itu repellen mempunyai syarat.
a. Sifat fisio kimia seperti stabilitas, kompatibel (dengan bahan lain dalam formulasi)
b. Efektif dan berefek lama sebagai repellen
c. Bersifat spektrum luas (efek terhadap macam jenis serangga)
d. Toksisitas rendah, tidak berbahaya, tidak menyebabkan iritasi
e. Nyaman digunakan
f. Tidak merusak pakaiaan, tahan air
g. Sumber bahan banyak, teknologi industri sederhana, biaya rendah, harga terjangkau
Efektifitas penggunaan repellen dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain komponen
kimia bahan aktif, titik didih dan kecepatan penguapan, jenis serangga target, pemakai
(lingkungan, kelembaban udara, temperature atmosfer, dan sirkulasi udara). Pengendalian
nyamuk dengan Repellen mempunyai keuntungan misalnya digunakan secara perorangan
dengan mudah, mencegah polusi lingkungan, dan toksistas rendah.
Peranannya dalam kesehatan
Nyamuk Anopheles bisa menyebabkan penyakit malaria.Nyamuk ini suka menusuk dalam
posisi menungging alias posisi badan, mulut, dan jarum yang dibenamkan ke kulit manusia
dalam keadaan segaris.Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit jenis
plasmodium ditandai demam berkala, menggigil dan berkeringat.Penyakit ini dapat
mengakibatkan kematian bagi penderitanya.Pada saat ini nyamuk vektor malaria di Indonesia
yang ditemukan sebanyak20 spesies dari genus Anopheles.Empat di antaranya
adalah Anopheles Aconitus, AnophelesSundaicus, Anapheles Maculatus dan Anopheles
Barbirostris.
Ada beberapa jenis vektor malaria yang perlu diketahui diantaranya.
a. An. Aconitus.
b. An. Sundaicus.
c. An. Maculatus.
d. An. Barbirostris.

Epidemiologi
Untuk menentukan apakah nyamuk anophelini yang hidup di alam bebas berfungsi sebagai
vektor malaria adalah dengan jalan menemukan stadium sporozoit dari plasmodium di
kelenjar liur nyamuk.Cara untuk menemukan sporozoit ini adalah dengan membedah nyamuk
betina.
Untuk menentukan vektor di suatu daerah endemik malaria, perlu diketahui beberapa faktor,
antara lain:
a. Kebiasaan nyamuk anophelini mengisap darah manusia.
b. Umur nyamuk betina yang lebih dari 10 hari.
c. Kepadatan nyamuk anophelini melebihi spesies lain.
d. Hasil percobaan di laboratorium menunjukkan kemampuan mengembangkan plasmodium
menjadi stadium sporozoit bila nyamuk betina diinfeksi

Pengendalian Vektor
Untuk pemberantasan malaria ini dapat dilakukan berbagai cara, antara lain:
a. Mengobati penderita sampai sembuh hingga tidak ada sumber penularan.
b. Mengusahakan agar tidak terjadi kontak antara manusia dengan nyamuk anophelini dengan
cara:
1. Memasang kawat kasa di bagian-bagian rumah yang terbuka seperti jendela, pintu dan
ventilasi lainnya.
2. Penggunaan kelambu.
3. Melindungi dari gigitan nyamuk dengan repellent.
4. Memberikan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan pemusnahan
tempat perindukan nyamuk.

Faktor ekologi larva vektor malaria


Kepadatan larva vektor malaria dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor biotik dan faktor
abiotik. Lingkungan fisik, lingkungan kimia maupun lingkungan biologi mengatur
keseimbangan populasi nyamuk di alam. Faktor-faktor yang dapat mengatur keseimbangan
populasi nyamuk di alam, antara lain :
1. Faktor fisik
Lingkungan fisik yang sangat berpengaruh pada perkembangbiakan larva nyamuk malaria
dan nyamuk malaria, antara lain:
a. Suhu
Secara umum, nyamuk anopheles lebih menyukai temperatur yang tinggi jika
dibandingkan dengan jenis culicinae. Hal ini menyebabkan jenis anopheles lebih
sering dijumpai di daerah tropis. Suhu air sangat mempengaruhi perkembangbiakkan
larva ditempat hidupnya. Nyamuk akan bertahan hidup pada suhu rendah namun
proses metabolismenya menurun bahkan terhenti bila suhu turun sampai suhu kritis
dan pada suhu yang sangat tinggi akan mengalami perubahan proses fisiologisnya.
Suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25o-27oC. Toleransi suhu
bergantung pada jenis nyamuknya, biasanya pada suhu 5o-6oC spesies nyamuk tidak
dapat bertahan hidup. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali suhu kurang
dari 10o C atau lebih dari 40o C. Nyamuk termasuk hewan berdarah dingin sehinggi
siklus hidup dan proses metabolismenya tergantung pada suhu lingkungan. Pada
tempat-tempat yang bersuhu lebih rendah dari 15o C hampir tidak mungkin terjadi
penularan malaria meskipun nyamuk yang biasa menjadi vektor terdapat dalam
jumlah yang besar. Selain berpengaruh pada vektor, suhu udara juga mempengaruhi
pertumbuhan parasit di dalam tubuh vektor. Suhu kritis terendah rata-rata untuk siklus
sporogonik di dalam tubuh nyamuk adalah 16o C. Pada suhu lebih rendah dari 16o C
bila ada sporozoit di dalam tubuh nyamuk akan mengalami degenerasi. Pembentukan
gamet dan siklus sporogonik memerlukan suhu yang sesuai. Pada suhu harian rata-
rata 27o C siklus sporogonik memerlukan waktu 9 hari. Pada suhu 32o C, ookista di
dalam tubuh nyamuk akan mati sehingga tidak terjadi pertumbuhan sporozoit dari
rongga perut ke kelenjar ludah nyamuk.
b. Kedalaman air
Larva anopheles hanya mampu berenang kebawah permukaan air paling dalam 1
meter dan tingkat volume air akan dipengaruhi curah hujan yang cukup tinggi akan
memperbesar kesempatan nyamuk untuk berkembang biak secara optimal pada
kedalaman kurang dari 3 meter.
c. Curah hujan
Hujan yang diselingi panas akan memperbesar kemungkinan berkembangbiaknya
nyamuk anopheles. Hujan menyebabkan naiknya kelembaban nisbi udara dan
menambah jumlah tempat perkembangbiakan dan terjadinya epidemi malaria. Besar
kecilnya pengaruh bergantung pada jenis dan derasnya hujan, jenis vektor dan jenis
tempat perindukan. Cyrah hujan yang cukup tinggi dalam jangka waktu yang lama
akan memperbesar kesempatan perkembangbiakkan nyamuk secara optimal.
d. Kelembaban nisbi udara
Kelembaban nisbi udara merupakan banyaknya kandungan uap air dalam udara yang
biasanya dinyatakan dalam persen. Kelembaban yang rendah tidak mempengaruhi
parasit nyamuk namun dapat memperpendek umur nyamuk. Tingkat kelembaban
paling rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk adalah 60 %. Pada
kelembaban yang lebih tinggi nyamuk dapat menjadi lebih sering menggigit dan lebih
aktif sehingga meningkatkan penularan malaria. Cara hidup nyamuk dipengaruhi
kelembaban udara, dengan beradaptasi pada keadaan lembab yang tinggi dan pada
suatu ekosistem kepulauan atau ekositem hutan. Kemampuan terbang nyamuk juga
dipengaruhi oleh kelembaban udara. Pada waktu terbang, nyamuk memerlukan
oksigen lebih banyak sehingga trachea terbuka.
e. Angin
Kecepatan angin 11-14 m/detik atau 25-31 mil/jam dapat menghambat penerbangan
nyamuk. Angin berpengaruh pada penerbangan nyamuk dan ikut menentukan jumlah
kontak antara nyamuk dengan manusia dan juga mempengaruhi jarak terbang
nyamuk. Jarak terbang nyamuk dapat diperpendek atau diperpanjang tergantung dari
arah angin. Angin yang kencang dapat membawa Anopheles terbang sejauh 30 km
atau lebih. Pada jarak 2-3 km dari lokasi tempat perindukan vektor (TPV) tidak
ditemukan Anopheles betina yang mempunyai sedikit kemampuan untuk terbang jauh.
f. Ketinggian lokasi
Secara umum, malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah pada
ketinggian di atas 2000 m jarang ada transmisi malaria. Jika perbedaan tempat cukup
tinggi, maka perbedaan suhu udara juga cukup banyak dan mempengaruhi faktor-
faktor yang lain, termasuk siklus pertumbuhan parasit di dalam nyamuk, penyebaran
nyamuk, dan musim penularan. Setiap ketinggian naik 100 meter maka selisih suhu
udara dengan tempat semula adalah o C.
g. Arus air
Beberapa jenis Anopheles menyukai tempat perindukan dengan jenis aliran air yang
berbeda-beda. Anopheles minimus menyukai aliran air yang deras sedangkan
Anopheles letifer menyukai air tergenang, dan Anopheles barbirostris menyukai
perindukan yang airnya statis/mengalir lambat.
h. Sinar matahari
Pengaruh sinar matahari dapat berbeda-beda terhadap pertumbuhan larva nyamuk.
Beberapa jenis Anopheles menyukai tempat yang terbuka dan tempat yang teduh.
An. punctulatus dan An. hyrcanus lebih menyukai tempat yang terbuka sedangkan
An. sundaicus lebih menyukai tempat yang teduh, dan An. barbirostis dapat hidup
baik ditempat yang terbuka maupun yang teduh.
2. Faktor Kimia
pH, salinitas, dan oksigen terlarut (DO) merupakan lingkungan kimia yang paling
mendukung terhadap kelanjutan perkembangbiakan vektor malaria. pH berpengaruh besar
terhadap pertumbuhan organisme yang berkembang biak di akuatik. pH dipengaruhi suhu
air, oksigen terlarut, dan adanya berbagai anion dan kation serta jenis stadium organisme.
a. Derajat kaeasaman (pH air)
pH di perarian secara alamiah dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan senyawa-
senyawa yang bersifat asam. Proses fotosintesis dan respirasi mempengaruhi kadar
CO2 dalam suatu perairan. Oleh karena itu, pada pagi hari nilai pH menjadi rendah,
meningkat pada siang hari, dan maksimum pada sore hari. Besarnya konsentrasi ion
hidrogen yang terdapat di dalam perairan tersebut adalah besarnya pH dalam suatu
perairan. Nilai pH sangat berpengaruh terhadap proses biokimiawi suatu perairan,
seperti proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Sebagian besar biota akuatik
sangat sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5.
b. Oksigen terlarut (DO)
Oksigen terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer dan
aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air. Proses respirasi tumbuhan air dan hewan
serta proses dekomposisi bahan organik dapat menyebabkan hilangnya oksigen
dalam suatu perairan. Selain itu, peningkatan suhu akibat semakin meningkatnya
intensitas cahaya juga mengakibatkan berkurangnya oksigen. Meningkatnya suhu air
akan menurunkan kemampuan air untuk mengikat oksigen, sehingga tingkat
kejenuhan oksigen di dalam air juga akan menurun. Peningkatan suhu juga akan
mempercepat laju respirasi dan dengan demikian laju pengunaan oksigen juga
meningkat.
3. Faktor Biologi
Lingkungan biologi di tempat perindukan nyamuk antara lain flora dan fauna, yang
tumbuh dan saling mempengaruhi:
a. Pengaruh tumbuhan
Jenis tumbuhan seperti bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuh-
tumbuhan lain dapat melindungi kehidupan larva nyamuk karena dapat
menghalangi sinar matahari yang masuk atau melindungi larva dari serangan
mahluk hidup lain.
b. Predator nyamuk
Hewan pemangsa yang umum memangsa larva nyamuk seperti ikan kepala timah
(Panchax spp), gambusia, nila, dan mujair akan mempengaruhi populasi nyamuk di
suatu daerah. Adanya ternak besar seperti sapi dan kerbau dapat mengurangi jumlah
gigitan nyamuk pada manusia, apabila kandang hewan tersebut diletakkan di luar
rumah, tetapi tidak jauh jaraknya dari rumah (Cattle barrier). Setiap spesies serangga
sebagai bagian dari kompleks komunitas dapat diserang atau menyerang organisme
lain. Jenis binatang yang menjadi musuh alami nyamuk sudah banyak diteliti, baik
terhadap nyamuk dewasa maupun larva di air. Musuh-musuh alami tersebut bersama
faktor-faktor lainnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan untuk
mencegah terjadi ledakan populasi nyamuk Salah satunya adalah predator, predator
merupakan hubungan antara pemangsa dan yang dimangsa. Hewan air yang berperan
sebagai predator larva nyamuk terdiri dari :
a. Serangga air
Larva Dysticidae dan Hydropholidae (coleoptera) merupakan musuh larva
nyamuk. Larva capung juga memangsa nyamuk. Larva Culex fuscanus,
Culex halifaxii dan Toxorhychities memangsa larva nyamuk lain seperti
Anopheles. Bila larva Anopheles terlalu padat di satu tempat perindukan
dapat terjadi kanibalisme, larva instar IV bisa memakan larva dari jenis yang
sama atau larva Anopheles yang lain yang masih muda. Serangga air dari
golongan Hemiptera adalah pemangsa larva nyamuk terutama instar III dan
instar IV, dengan cara menusuk tubuh larva dengan moncong dan menghisap
cairan tubuh, selain itu Gerris (anggang-anggang) memangsa larva nyamuk
seperti juga nyamuk dewasanya.
b. Verterbrata
Anak katak dapat memangsa larva nyamuk terutama pada habitat yang kecil
dengan air yang dangkal. Tetapi yang terpenting dari semua predator larva
nyamuk adalah ikan pemakan larva.