You are on page 1of 54

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nyeri pungung bawah merupakan suatu keluhan yang dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari bagi penderitanya. Salah satunya adalah
terjadinya nyeri pinggang bagian bawah adalah hernia nucleus pulsosus
(HNP), yang sebagian besar kasusnya terjadi pada segmen lumbal. Nyeri
punggung bawah merupakan salah satu penyakit yang sering di jumpai
masyarakat.
Nyeri penggung bawah dapat mengenai siapa saja, tanpa mengenal
jenis umur dan jenis kelamin. Sekitar 60-80 % dari seluruh penduduk dunia
pernah mengalami paling tidak satu episode nyeri punggung bawah selama
hidupnya. Hernia Nukleus Pulposus (HNP) merupakan salah satu penyebab
dari nyeri punggung (NPB) yang penting. Prevalensinya berkisar antara 1-2%
dari populasi. HNP lumbalis paling sering (90%) mengenai diskus
intervertebralis L5-S1 dan L4-L5. Biasanya NBP oleh karena HNP lumbalis
akan membaik dalam waktu kira-kira 6 minggu. Tindakan pembedahan jarang
diperlukan kecuali pada keadaan tertentu. Kelompok studi nyeri (pokdi nyeri)
PORDOSSI (Persatuan dokter spesialis saraf Indonesia) melakukan penelitian
pada bulan mei 2002 di 14 rumah sakit pendidikan, dengan hasilmenunjukan
bahwa kejadian nyeri punggung bawah meliputi 18,37 % di seluruh kasus
nyeri ditangani.
Menjebolnya (hernia)nucleus pulposus bisa ke korpus vertebra diatas
atau di bawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis vertbralis.
Menjebolnya sebagian dari nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat
dilihat dari foto roentgen polos dan dikenal sebagai nodus Schmorl. Robekan
sirkumferensial dan radikal pada nucleus fibrosus diskus intervertebralis
berikut dengan terbentuknya nodus schomorl merupakan kelainan mendasari
low back pain sub kronik atau kronik yang kemudian disusun oleh nyeri
sepanjang tungkai yang dikenal sebagai khokalgia atau siatika. Nukleus
pulposus tidak mempunyai persarafan, sehingga tidak menimbulkan rasa

1
2

nyeri, tetapi bila ia mendorong ke belakang, ia meregangkan anulus fibrosus


dan menimbulkan rasa nyeri. Karena ikat-ikat posterior longitudinal menutupi
anulus fibrosus di bagian tengah, herniasi lebih sering mendorong ke arah
posterolateral.
Nyeri pinggang bawah hanyalah merupakan suatu symptom/gejala,
maka yang terpenting adalah mengetahui faktor penyebabnya agar dapat
diberikan pengobatan yang tepat. Pada dasarnya timbulnya rasa sakit tersebut
karena tekanan susunan saraf tepi daerah pinggang. Jepitan pada saraf ini
dapat terjadi karena gangguan pada otot dan jaringan sekitarnya. Maka dari
itu, dibutuhkan asuhan keperawatan HNP yang sesuai sehingga proses
penyembuhan klien dengan HNP dapat maksimal.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana konsep dan asuhan keperawatan dengan klien hernia nukleus
pulposus (HNP) ?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Bagi perawat
Menambah wawasan kesehatan dan agar lebih mengetahui tentang Asuhan
Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Neurobehaviour (HNP).
b. Bagi masyarakat
Memberikan Penjelasan, pengetahuan, dan penyuluhan tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan Gangguan Sistem Neurobehaviour (HNP) dan
intervensi apa saja yang diberikan.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk memahami definisi dari hernia nukleus pulposus
b. Untuk memahami anatomi dan fisiologi
c. Untuk memahami etiologi
d. Untuk memahami patofisiologi
e. Untuk memahami manifestasi klinis
3

f. Untuk memahami pemeriksaan penunjang


g. Untuk memahami komplikasi
h. Untuk memahami penatalaksanaan medis
i. Untuk memahami konsep asuhan keperawatan dengan klien hernia
nukleus pulposus
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk
sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini
digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus
disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner
& Suddarth, 2002).
HNP adalah keadaan nukleus pulposus keluar melalui anulus fibrosus
untuk kemudian menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosus yang
sobek. HNP merupakan suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologis di
kolumna vertebralis pada diskus intervetebralis/diskogenik. (Arif Muttaqin, 2011)
Hernia diskus (cakram) intervertebralis (HNP) merupakan penyebab utama
nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh). Herniasi dapat
parsial atau komplet, dari massa nukleus pada daerah vertebra L4-L5, L5-S1 atau
C5-C6, C6-C7 adalah yang paling banyak terjadi dan mungkin sebagai dampak
trauma atau perubahan degeneratif yang berhubungan dengan proses penuaan.
(Doenges, dkk, 2000).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hernia nukleus
pulposus (HNP) adalah rupturnya nukleus pulposus yang disebabkan oleh trauma
atau perubahan degeneratif terkait dengan proses penuaan yang mengakibatkan
nyeri hebat pada punggung bawah dan dapat bersifat kronik ataupun dapat
kambuh.

4
5

2.2 ANATOMI-FISIOLOGI ORGAN TERKAIT


Diskus intervertebralis menghubungkan korpus vertebra satu sama lain
dari servikal sampai lumbal/sacral. Diskus ini berfungsi sebagai penyangga beban
dan peredam kejut (shock absorber).
Diskus intervertebralis terdiri dari dua bagian utama yaitu: nukleus
pulposus yang terdiri dari serabut halus dan longgar, berisi sel-sel fibroblast dan
dibentuk oleh anulus fibrosus yang mengelilingi nukleus pulposus yang terdiri
dari jaringan pengikat yang kuat.
Anulus fibrosus, terbagi menjadi 3 lapis:
1. Lapisan terluar terdiri dari lamella fibro kolagen yang berjalan menyilang
konsentris mengelilingi nucleus pulposus sehingga bentuknya seakan-akan
menyerupai gulungan per (coiled spring)
2. Lapisan dalam terdiri dari jaringan fibro kartilagenus
3. Daerah transisi.
Mulai daerah lumbal 1 ligamentum longitudinal posterior makin mengecil
sehingga pada ruang intervertebre L5-S1 tinggal separuh dari lebar semula
sehingga mengakibatkan mudah terjadinya kelainan didaerah ini.
Nukleus Pulposus adalah suatu gel yang viskus terdiri dari proteoglycan
(hyaluronic long chain) mengandung kadar air yang tinggi (80%) dan mempunyai
sifat sangat higroskopis. Nucleus pulposus berfungsi sebagai bantalan dan
berperan menahan tekanan/beban.
Kemampuan menahan air dari nucleus pulposus berkurang secara progresif
dengan bertambahnya usia. Mulai usia 20 tahun terjadi perubahan degenerasi yang
ditandai dengan penurunan vaskularisasi kedalam diskus disertai berkurangnya
kadar air dalam nucleus sehingga diskus mengkerut dan menjadi kurang elastic.
Sebagian besar HNP terjadi pada L4-L5 dan L5-S1 karena:
1. Daerah lumbal, khususnya daerah L5-S1 mempunyai tugas yang berat, yaitu
menyangga berat badan. Diperkirakan 75% berat badan disangga oleh sendi
L5-S1.
2. Mobilitas daerah lumabal terutama untuk gerak fleksi dan ekstensi sangat
tinggi. Diperkirakan hamper 57% aktivitas fleksi dan ekstensi tubuh
dilakukan pada sendi L5-S1
6

3. Daerah lumbal terutama L5-S1 merupakan daerah rawan karena ligamentum


longitudinal posterior hanya separuh menutupi permukaan posterior diskus.
Arah herniasi yang paling sering adalah postero lateral.
(Anonim B)

2.3 ETIOLOGI
HNP terjadi karena proses degeneratif diskus intervetebralis. Beberapa
faktor yang mempengaruhi terjadinya HNP adalah sebagai berikut :
1. Riwayat trauma
2. Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat beban berat, duduk, mengemudi
dalam waktu lama.
3. Sering membungkuk.
4. Posisi tubuh saat berjalan.
5. Proses degeneratif (usia 30-50 tahun).
6. Struktur tulang belakang.
7. Kelemahan otot-otot perut, tulang belakang.
(Arif Muttaqin, 2011)

2.4 KLASIFIKASI
HNP terbagi atas :
1. HNP sentral akan menunjukan paraparesis flasid, parestesia, dan retansi
urine.
7

2. HNP lateral bermanifestasi pada rasa nyeri dan nyeri tekan yang terletak
pada punggung bawah, ditengah-tengah area bokong dan betis, belakang
tumit, dan telapak kaki. Kekuatan ekstensi jari kelima kaki berkurang dan
reflex achiler negatif. Pada HNP lateral L4-L5 rasa nyeri dan nyeri tekan
didapatkan di punggung bawah, bagian lateral pantat, tungkai bawah
bagian lateral dan di dorsum perdis. Kekuatan ekstensi ibu jari kaki
berkurang dan reflek patella negatif. Sensibilitas dermatom yang sesuai
dengan radiks yang terkena menurun. (Arif Muttaqin, 2011)

2.5 MANIFESTASI KLINIS


1. Nyeri pinggang bawah yang intermiten (dalam beberapa minggu sampai
beberapa tahun ) nyeri menjalar sesuai dengan distribusi saraf skiatik.
2. Sifat nyeri khas dari posisi terbaring ke duduk, nyeri mulai dari pantat dan
terus menjalar ke bagian belakang lutut kemudian ke tungkai bawah.
3. Nyeri bertambah hebat karena pencetus seperti gerakan-gerakan pinggang
saat batuk atau mengejan, berdiri, atau duduk untuk jangka waktu yang
lama dan nyeri berkurang klien beristirahat berbaring.
4. Nyeri di punggung bawah disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan.
5. Sering mengeluh kesemutan ( parostesia) atau baal bahkan kekuatan otot
menurun sesuai dengan distribusi persyarafan yang terlibat.
6. Nyeri bertambah bila daerah L5-L1 (garis antara dua Krista iliaka) ditekan.
7. Penurunan fungsi sensori, motorik.
8. Konstipasi, kesulitan saat defekasi dan berkemih.
9. Tidak mampu melakukan aktifitas yang biasanya dilakukan.
(Arif Muttaqin, 2011)

2.6 PATOFISIOLOGI
Pada tahap pertama sobeknya annulus fibrosus itu bersifat sirkumferensial.
Karena adanya gaya traumatik yang berulang, sobekan itu menjadi lebih besar dan
timbul sobekan radial. Apabila hal ini telah terjadi, resiko HNP hanya menunggu
waktu dan trauma berikutnya saja. Gaya presipitasi itu dapat diasumsikan seperti
8

gaya traumatik ketika hendak menegakan badan waktu terpleset, mengangkat


benda berat, dan sebagainya. (Arif Muttaqin, 2011)
Menjebolnya (herniasi) nucleus puposus dapat mencapai ke korpus tulang
belakang diatas atau dibawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis
vertebralis. Menjebolnya sebagian nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra
dapat dilihat pada foto rontgen polos dan dikenal sebagai nodus schmorl. Sobekan
sirkum ferensial dan radial pada annulus fibrosus diskus intervertebralis berikut
dengan terbentuknya nodus schmorl merupakan kelainan yang mendasari low
back pain subkronis atau kronis yang kemudian disusul oleh nyeri sepanjang
tungkai yang dikenal sebagai iskhialgia atau siatika. Menjebolnya nucleus
pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nucleus pulposus menekan radiks
yang bersama-sama arteria radipularis yang berada dalam lapisan dura. Hal itu
terjadi jika penjebolan berada di sisi lateral tidak aka nada radiks yang terkena jika
tempat herniasinya berada di tengah. Pada tingkat L2 dan terus ke bawah tidak
terdapat medulla spinalis lagi, maka herniasi yang berada di garis tengah tidak
akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior. Setelah terjadi HNP, sisa
diskus intervertebralis mengalami lisis, sehingga dua corpora vertebra bertumpang
tindih tanpa ganjalan. (Arif Muttaqin, 2011)
Manifestasi klinis utama yang muncul adalah rasa nyeri di punggung
bawah disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan. HNP terbagi atas HNP sentral
dan HNP lateral. HNP sentral akan menunjukan paraparesis flasid, parestesia , dan
retansi urine. Sedangkan HNP lateral bermanifestasi pada rasa nyeri dan nyeri
tekan yang terletak pada punggung bawah, ditengah-tengah area bokong dan betis,
belakang tumit, dan telapak kaki. Kekuatan ekstensi jari kelima kaki berkurang
dan reflex achiler negatif. Pada HNP lateral L4-L5 rasa nyeri dan nyeri tekan
didapatkan di punggung bawah, bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian
lateral dan di dorsum perdis. Kekuatan ekstensi ibu jari kaki berkurang dan reflek
patella negatif. Sensibilitas dermatom yang sesuai dengan radiks yang terkena
menurun. (Arif Muttaqin, 2011)
Pada percobaan tes laseque atau tes mengangkat tungkai yang lurus
(straight leg raising ),yaitu mengangkat tungkai secara lurus dengan fleksi pada
9

sendi panggul, akan dirasakan nyeri disepanjang bagian belakang (tanda laseque
positif). (Arif Muttaqin, 2011)

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Rontgen foto lumbosakral :
a. Tidak banyak ditemukan kelainan.
b. Kadang-kadang didapatkan artrosis, menunjang tanda-tanda deformitas
vertebra.
c. Penyempitan diskus intervertebralis.
d. Untuk menentukan kemungkinan nyeri karena spondilitis, norplasma,
atau infeksi progen.
2. Cairan serebrospinal :
a. Biasanya normal.
b. Jika didapatkan blok akan terjadi prot, indikasi operasi.
3. EMG (elektromigrafi)
a. Terlihat potensial kecil (fibrolasi) didaerah radiks yang terganggu.
b. Kecepatan konduksi menurun.
4. Iskografi : Pemeriksaan diskus di lakukan menggunakan kontras untuk
melihat seberapa besar daerah diskus yang keluar pada kanalis vertebralis.
5. Elektroneuromiografi (ENMG) : Untuk mengetahui radiks yang terkena
atau melihat adanya polineuropati.
6. Tomografi scan : Melihat gambaran vertebra dan jaringan disekitarnya
termasuk diskus intervertebralis.
7. MRI. Pemeriksaan MRI dapat melokalisasi protrusi diskus kecil. Apabila
secara klinis tidak didapatkan pada MRI maka pemeriksaan CT scan dan
mielogram dengan kontras dapat dilakukan untuk melihat derajat
gangguan pada diskus vertrebralis.
8. Mielografi. Mielografi adalah pemeriksaan dengan bahan kontras melalui
tindakan lumbal pungsi dan pemotretan dengan sinar tembus. Dilakukan
apabila diketahui adanya penyumbatan hambatan kanalis spinalis yang
mungkin disebabkan HNP.
9. Pemariksaan laboratorium
10

Pemeriksaan rutin dilakukan dengan laboratorium klinik untuk menilai


komplikasi cidera tulang belakang terhadap orang lain.
(Arif Muttaqin, 2011)

2.8 PENATALAKSANAAN MEDIS


1. Terapi konservatif
a. Tirah baring
Penderita harus tetap berbaring di tempat tidur selama beberapa hari
dengan sikap yang baik adalah sikap dalam posisi setengah duduk ,
tungkai dalam sikap refleks pada sendi panggul dan lutut tertentu.
Tempat tidur tidak boleh memekai pegas/per, dengan demikian
tempat tidur harus di papan yang lurus dan ditutup dengan lembar
busa tipis. Tirah baring bermanfaat untuk nyeri punggung bawah
mekanik angkut. Lama tirah baring bergantung pada berat ringannya
gannguan yang dirasakan penderita. Pada HNP, klien memerlukan
tirah baring dalam waktu yang lebih lama. Setelah tirah baring, klien
melakukan latihan atau dipasang korset untuk mencegah terjadinya
kontraktur dan mengembalikan lagi funsi-fungsi otot.
b. Medikamentosa
1) Simptomatik
a) Analgesik (salisilat, parasetamol),
b) Kortikosteroid (prednison, prednisolon),
c) Antiinflamasi nonsteroid (AINS) seperti piroksikan,
d) Antidepresan trisiklik (amitriptilin),
e) Obat penenang minor (diazepam,klordiasepoksid).
2) Kausal; Kolagenese.
c. Fisioterapi
Biasanya dalam bentuk diatermi (pemanasan dengan jangkauan
permukaan yang lebih dalam) untuk relaksasi otot dan mengurangi
lordosis.
11

2. Terapi operatif
Terapi operatif dilakukan apabila dengan tindakan konservatif tidak
memberikan hasil yang nyata , kambuh berulang, atau terjadi defisit
neurologis.
3. Rehabilitasi
a. Mengupayakan penderita segera bekerja seperti semula.
b. Agar tidak menggantungkan diri dengan orang lain dalam melakukan
kegitan sehari-hari (the activity of daily living).
c. Klien tidak mengalami komplikasi pneumonia, infeksi saluran kemih,
dan sebagainya.
(Arif Muttaqin, 2011)

2.9 KOMPLIKASI
1. Kelemahan dan atropi otot
2. Trauma serabut saraf dan jaringan lain
3. Kehilangan kontrol otot sphinter
4. Paralis / ketidakmampuan pergerakan
5. Perdarahan
6. Infeksi dan inflamasi pada tingkat pembedahan diskus spinal.
(Arif Muttaqin, 2011)

2.10 PENCEGAHAN HNP


1. Latihan Punggung Setiap Hari
a. Berbaringlah terlentang pada lantai atau matras yang keras. Tekukan
satu lutut dan gerakkanlah menuju dada lalu tahan beberapa detik.
Kemudian lakukan hal yang sama pada kaki kiri. Lakukanlah beberapa
kali.
b. Berbaring terlentang dengan kaki ditekuk dan telapak kaki berada flat di
lantai. Lakukan sit up parsial,dengan melipatkan tangan di tangan
danmengangkat bahu setinggi 6 -12 inci dari lantai. Lakukan beberapa
kali.
12

2. Berhati-hati saat mengangkat beban


a. Gerakanlah tubuh kepada barang yang akan diangkat sebelum
mengangkatnya.
b. Tekukan lutut, bukan punggung, untuk mengangkat benda yang lebih
rendah
c. Peganglah benda dekat perut dan dada
d. Tekukan lagi kaki saat menurunkan benda
e. Hindari memutarkan punggung saat mengangkat suatu benda
3. Lindungi punggung saat duduk dan berdiri
a. Jika memerlukan waktu yang lama untuk duduk saat bekerja, pastikan
bahwa lutut sejajar dengan paha. Berdirilah sebentar untuk peregangan.
b. Jika memang harus berdiri terlalu lama, letakkanlah salah satu kaki
pada bantalan kaki secara bergantian. Berjalanlah sejenak dan mengubah
posisi secara periodik.
c. Tegakkanlah kursi mobil sehingga lutut dapat tertekuk dengan baik
tidak teregang.
(www.fisioterapimakassar.info/search/jurnal-pencegahan-hnp).
13

2.11 WOC
Trauma dan stres fisik

Rupture diskus

Aliran darah ke diskus berkurang, respon beban yang berat, ligamentum


longitudinalis post menyempit

Pemisahan lempeng tulang rawan dari korpus vertebra yang berdekatan

HNP

Nucleus pulposus keluar melalui serabut-serabut annulus yang robek

Jepitan saraf spinal

Kerusakan jalur simpatetik desending Reaksi peradangan Sentral Lateral

Terputus jaringan saraf di medulla spinal Syok spinal


Paraparesis Nyeri pada
Paralis dan paraplegia Respon nyeri hebat dan akut
Flasid, punggung
parestesia bawah,
Gangguan Nyeri Akut dan retensi betis,
Mobilitas Fisik urin telapak kaki.
Penurunan tingkat kesadaran
Cemas
Kelemahan fisik umum

Penekanan jaringan setempat Risiko trauma

Ketidakmampuan (Cedera)
Resiko kerusakan prawatan diri
integritas kulit (ADL)

Disfungsi persepsi spasial dan kehilangan sensorik

Koping Individu
idak Efektif

Sumber : Arif Muttaqin, 2011


14

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN HNP

3.1 Pengkajian
Pengumpulan data subjektif dan objektif pada klien dengan gangguan system
persarafan sehubungan dengan HNP bergantung pada bentuk, lokasi, jenis
injuri, dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. Pengkajian
keperawatan HNP meliputi anamnesis riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan diagnosis, dan pengkajian psikososial. (Arif Muttaqin, 2011)
a. Anamnesis
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama,suku bangsa, tanggal, dan jam masuk rumah
sakit, nomor registrasi, diagnosis medis. HNP terjadi pada umur
pertengahan, kebnyakan pada jenis kelamin pria dan pekerja atau aktifitas
berat ( mengangkat benda berat atau mendorong benda berat).
Keluhan utama yang sering alas an klien untuk meminta
pertolongan kesehatan adalah nyeri pada punggung bawah.
P : Adanya riwayat trauma ( mengangkat atau mendorong benda berat).
Q : Sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk atau seperti di sayat, mendenyut,
seperti kena api, nyeri tumpul yang terus-menerus. Kaji penyebaran
nyeri. Apakah bersifat nyeri radikular atau nyeri acuan (refered pain).
Nyeri bersifat menetap, atau hilang timbul,semakin lama semakin nyeri.
Nyeri bertambah hebat karena adanya faktor pencetus seperti gerakan-
gerakan pinggang batuk atau mengedan, berdiri atau duduk untuk
jangka waktu yang lama dan nyeri berkurang bila diibuat istirahat
berbaring. Sifat nyeri khas posisi berbaring ke duduk, nyeri mulai dari
pantat dan terus menjalar ke bagian belakang lutut, kemudian ke
tungkai bawah. Nyeri bertambah bila ditekan 2 -1(Garis antara dua
Kristal iliaka).
R : Letak atau lokasi nyeri, minta klien menunjukkan nyeri dengan
setepat-tepatnya sehingga letak nyeri dapat diketahui dengan cermat.

14
15

S : Pengaruh posisi tubuh atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas


tubuh, posisi yang bagaimana yang dapat meradakan rasa nyeri dan
memperberat nyeri. Aktivitas yang menimbulkan rasa nyeri seperti
berjalan, menuruni tangga, menyapu, dan gerakan yang mendesak.
Obat-obatan yang sedang diminum seperti analgesic, berapa lama klien
menggunakan obat tersebut.
T : Sifatnya akut, sub-akut, perlahan-lahan atau bertahap, bersifat
menetap, hilang timbul, semakin lama semakin nyeri. Nyeri pinggang
bawah intermiten ( dalam beberapa minggu sampai beberapa tahun).

Riwayat penyakit saat ini :

Kaji adanya riwayat trauma akibat mengangkat atau mendorong


benda yang berat. Pengkajian yang didapat keluhan paraparesis flasid,
parestesia, dan retensi urine. Keluhan nyeri pada punggung bawah,
ditengah-tengah area pantat dan betis, belakang tumit, dan telapak kaki.
Klien sering mengeluh kesemutan (parastesia) atau baal bahkan kekuatan
otot menurun sesuai dengan distribusi persarafan yang terlibat. (Arif
Muttaqin, 2011)

Pengkajian riwayat mentruasi, adneksitis dupleks kronis, yang juga


bisa menimbulkan nyeri panggung bawah yang keluhannya hamper mirip
dengan keluhan nyeri HNP sangat diperlukan untuk menegakkan masalah
klien lebih komprehensif dan memberikan dampak terhadap intervensi
keperawatan selanjutnya.

Riwayat penyakit dahulu :

Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi apakah klien pernah


menderita tuberkulosis tulang, osteomielitis, keganasan (mieloma
multipleks), dan metabolik (osteoporosis) yang semua penyakit ini sering
berhubungan dengan kejadian dan meningkatkan risiko herniasi nucleus
pulposus (HNP).
16

Pengkajian lainnya adalah menanyakan adanya riwayat hipertensi,


riwayat cedera tulang belakang, diabetes militus, dan penyakit jantung.
Pengkajian ini berguna sebagai data untuk melakukan tindakan lainnya
dan menghindari komplikasi. (Arif Muttaqin, 2011)

Riwayat penyakit keluarga :

Mengkaji adanya anggota generasi terdahulu yang menderita


hipertensi dan diabetes melitus. (Arif Muttaqin, 2011)

b. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien perlu
dilakukan untuk menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang
dideritanya, perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat, dan
respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam
keluarga ataupun dalam masyarakat.
Apakah klien mengalami dampak yang timbul akibat penyakit
seperti ketakutan akan kecacatan , rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang
salah (gangguan citra tubuh).
Adanya perubahan berupa paralisis anggota gerak bawah
memberikan manifestasi yang berbeda pada setiap klien yang mengalami
gangguan pada tulang belakang. Semakin lama klien menderita paraparese
tersebut,maka mungkin akan bermanifestasi pada koping yang tidak
efektif.
Adanya perubahan hubungan dan peran disebabkan oleh karena
klien mengalami kesulitan dalam beraktivitas mengakibatkan ketidak
mampuan dalam status ekkonomi. Pola persepsi dan konsep diri yang
ditemukan adalah klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah
marah, dan tidak kooperatif.
Karena klien harus menjalani rawat inap maka perawat harus
mengkaji apakah keadaan ini akan memberi dampak pada status ekonomi
17

klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang


tidak sedikit. Pengobatan HNP yang memerlukan biaya untuk
pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan dapat mengacaukan keuangan
keluarga. Hal ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien
dan keluarga. Perawat juga melakukan pengkajian terhadap fungsi
neurologis dan dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya
hidup individu. Perspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri atas dua
masalah, yaitu keterbatasan yang diakibatkan oleh defisit neurologis dalam
hubunganya dengan peran social klien dan rencana pelayanan yang akan
mendukung adaptasi klien dengan gangguan neurobiologis di dalam
dukungan sistem individu. (Arif Muttaqin, 2011)

c. Pemeriksaan fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-
keluhan klien , pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data
dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan
persistem dan terarah (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik pada
pemeriksaan B3 (Brain) dan B6 (Bone) dan dihubungkan dengan keluhan
klien. (Arif Muttaqin, 2011)

d. Keadaan umum
Pada HNP, keadaan umum biasanya tidak mengalami penurunan
kesadaran. Adanya perubahan pada tanda vital meliputi bradikardi,
hipotensi yang berhubungan dengan penurunan aktivitas karena adanya
paraparese. (Arif Muttaqin, 2011)

B1 (BREATHING)
Jika terjadi area yang terkena HNP adalah sistem saraf spinal
thoracal (T1-T12), maka akan terjadi gangguan pada sistem pernafasan
dan biasanya yang ditemukan pada pemeriksaan:
Inspeksi, klien terlihat sesak nafas, dan frekuensi pernafasan meningkat.
Palpasi, ditemukan taktil fremitus yang tidak seimbang kanan dan kiri.
18

Auskultasi, ditemukan adanya bunyi nafas tambahan (pada klien yang


mengalami asma bronchial akibat gangguan pada saraf spinal thorakal).

B2 (BLOOD)
Gangguan kardiovaskular dan perubahan tekanan darah dapat
terjadi pada kasus HNP yang mengenai saraf spinal thoracal (T1-T12) dan
saraf spinal cervikal atas (C1-C2).

B3 (BRAIN)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih
lengkap dibandingkan pengkajian pada system lainya.
Inspeksi umum, kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal,
adanya angulus, pelvis yang miring atau asimetris,muskulaturparavertebral
atau pantat yang asimetris, postur tungkai yang abnormal. Hambatan pada
pergerakan punggung. Pelvis dan tungkai selama bergerak.
a. Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya compos mentis, biasanya juga
terjadi penurunan kesadaran apabila yang terkena saraf spinal cervical
atas (C1 Dan C2) yang menuju pada area CNS.
b. Pemeriksaan fungsi serebri
Status mental: observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai
gaya bicara klien dan observasi ekspresi wajah, dan aktivitas motorik.
Status mental klien yang telah lama menderita HNP biasanya
mengalami perubahan.
c. Pemeriksaan saraf cranial
1) Saraf I. Biasanya pada klien HNP tidak ada kelainan dan
fungsi penciuman tidak ada kelainan.
2) Saraf II. Hasil tes ketajaman penglihatan biasanya normal.
3) Saraf III, IV, dan VI. Klien bisanya tidak mengalami
gangguan mengangkat kelopak mata, pupil isokor.
4) Saraf V. Pada klien HNP umumnya tidak ditemukan paralisi
pada otot wajah dan refleks kornea biasanya tidak ada kelainan.
19

5) Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah


simetris.
6) Saraf VIII. Tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli persepsi
7) Saraf IX dan X. Kemampuan menelan baik.
8) Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan
trapezius.
9) Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan
ada fasikulasi, indra pengecapan normal
d. Sistem motorik
1) Kaji kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah,
kaki, ibu jari, dan jari lainnya dengan meminta klien melakukan
gerak fleksi dan ekstensi bahu menahan gerakan tersebut.
2) Ditemukan atropi otot pada pada maleolus atau kaput fibula
dengan membandingkan kanan kiri.
3) Fakulasi (konraksi involunter yang bersifat halus) pada otot-
otot tertentu.
e. Pemeriksaan refleks
1) Refleks Achilles pada HNP L4-L5.
2) Refleks lutut/patella pada HNP lateral L4-L5.
f. Sistem sensorik
g. Lakukan pemeriksaan rasa raba, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam,
dan rasa getar (vibrasi) untuk menentukan dermatom yang
terganggu sehingga dapat ditentukan pula radiks yang terganggu.
Palpasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau halus
sehingga tidak tidak membingungkan klien. Palpasi dilakukan pada
daerah yang ringan rasa nyerinya ke arah yang paling terasa nyeri.

B4 (BLADDER)
Kaji keadaan urine meliputi warna, jumlah, dan karakteristik,
termasuk berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan
retensi cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal.
20

Gangguan pada sistem perkemihan biasa terjadi jika terkena pada saraf
spinal lumbal.

B 5 (BOWEL)
Pemenuhan nutrisi berkurang karena adanya mual dan asupan
nutrisi yang kurang. Lakukan pemeriksaan rongga mulut dengan
melakukan penilaian ada tidak nya lesi pada mulut atau perubahan pada
lidah.hal ini dapat menunjukkan adanya dehidrasi. Gangguan sistem
pencernaan dapat terjadi jika terkena saraf spinal thorakal (mempersarafi
usus kecil) dan lumbal (usus besar). Jika area sakral dan koksigeal yang
yang mengalami hernia, biasanya akan menimbulkan gangguan pada
sphinkter karena saraf spinal ini mempersarafi otot-otot disekitarnya
termasuk sphinkter ani eksternal.

B6 (BONE)
Adanya kesulitan dalam beraktivitas dan menggerakkan badan
karena adanya nyeri, kelemahan, kehilangan sensorik, dan mudah lelah
menyababkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.
Inspeksi, kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya
angulus, pelvis yang miring serta asimetris, maskulatur paravertebral atau
bokong yang asimetris, postur tungkai yang abnormal. Adanya kesulitan
atau hambatan dalam melakukan pergerakan punggung, pelvis, dan
tungkai selama bergerak. Palpasi, ketika meraba kolumna vertebralis, cari
kemungkinan adanya deviasi kelateral atau anteroposterior. Palpasi pada
daerah yang ringan, rasa nyerinya kearah yang paling terasa nyeri.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri yang berhubungan dengan penjepitan saraf pada diskus
intervertebralis, tekanan didaerah distribusi ujung saraf.
2. Risiko tinggi trauma yang berhubungan dengan hambatan mobilitas
fisik, kesulitan atau hambatan dalam melakukan pergerakan punggung,
pelvis, dan tungkai.
21

3. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan


neuromuskular,menurunnya kekuatan dan kesadaran , kehilangan
kontrol atau koordinasi otot.
4. Risiko gangguan intergritas kulit yang berhubungan dengan
imobilitas,tidak adekuatnya sirkulasi perifer,tirah baring lama.
5. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan
ketidakberdayaan dan merasa tidak ada harapan, kehilangan/perubahan
dalam pekerjaan.
6. Cemas yang berhubungan dengan ancaman,kondisi sakit, dan
perubahan.

3.3 Intervensi dan Rasionalisasi


1. Nyeri yang berhubungan dengan penjepitan saraf pada diskus
interveterbalis, tekanan di daerah distribusi ujung saraf.
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam, nyeri berkurang atau dapat diadaptasi oleh
klien.
Kriteria hasil: secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat
diadaptasi, dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri, klien tidak gelisah, skala nyeri 0-1 atau teradaptasi
Intervensi:
1) Kaji terhadap nyeri dengan skala0-4
R/Nyeri merupakan respons subjektif yang bias dikaji dengan
menggunakan skala nyeri. Klien melaporkan skala nyeri biasanya di
atas tingkat cedera.
2) Bantu klien dalam identifikasi factor pencetus
R/Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan, ketegangan, suhu, distensi
kandung kemih, dan berbaring lama.
3) Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri
nonfarmakologi dan non-invasif.
R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi
lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
22

4) Ajarkan relaksasi : Teknik-teknik untuk menurunkan ketegangan


otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga
tingkatkan relaksasi masase.
R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan oksigen
oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.
5) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut
R/ Mengalihkan perhatian ke hal-hal yang menyenangkan.
6) Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan
posisi yang nyaman misalnya saat klien tidur, sanggah punggung
klien dengan bantal kecil.
R/ istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan
meningkatkan kenyamanan.
7) Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan
menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.
R/ Pengetahuan akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya.
Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap
rencana terapeutik.
8) Observasi tingkat nyeri dan respons motorik klien 30 menit setelah
pemberian obat analgesic untuk mengkaji efektivitasnya. Setiap 1-2
jam setelah tindakan perawatan selama 1-2 hari.
R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang
objektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan
intervensi yang tepat.
9) Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgesic.
R/ Analgesik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang.

2. Resiko tinggi trauma yang berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik,


kesulitan atau hambatan dalam melakukan pergerakan punggung, pelvis,
dan tungkai.
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam, klien mampu melaksanakan aktivitas fisik
sesuai dengan kemampuannya.
23

Kriteria hasil: Klien dapt ikut serta dalam prongram latihan, tidak terjadi
kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot, klien menunjukkan
tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
Intervensi:
1) Kaji mobilitas yang ada observasi peningkatkan kerusakan. Kaji
secara teratur fungsi motorik.
R/ Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivtas.
2) Ubah posisi klien tiap 2 jam.
R/ Menurunkan risiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi
darah yang jelek pada daerah yang tertekan.
3) Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerakan aktif pada ekstrimitas
yang sakit.
R/ Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot, serta
memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan.
4) Lakukan gerakan pasif pada ekstrimitas yang sakit
R/ Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak
dilatih untuk digerakkan.
5) Inspeksi kulit bagian distal setiap hari. Pantau adanya iritasi,
kemerahan, atau luka pada kulit dan membran mukosa.
R/ Deteksi dini adanya gangguan sirkulasi dan hilangnya sensasi
risiko tinggi kerusakan integritas kulit kemungkinan komplikasi
imobilisasi.
6) Bantu klien melakukan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
R/ Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
7) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
R/ Peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ekstremitas dapat
ditingkatkan dengan latihan fisik dari tim fisioterapi.

3. Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilisasi,


tidak adekuatnya sirkulasi perifer, tirah baring lama.
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam, klien mampu mempertahankan
keutuhan kulit.
24

Kriteria hasil : Klien mampu berpartisipasi terhadap pencegahan luka,


mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka, tidak ada tanda-tanda
kemerahan atau luka, kulit kering.
Intervensi :
1) Anjurkan untuk melakukan latihan ROM dan mobilisasi jika mungkin.
R/ Meningkatkan aliran darah ke semua daerah.
2) Ubah posisi tiap 2 jam.
R/ Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah.
3) Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-
daerah yang menonjol.
R/ Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah yang menonjol.
4) Lakukan masase pada daerah yang menonjol yang baru mengalami
tekanan pada waktu berubah posisi.
R/ Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-kapiler.
5) Bersihkan dan keringkan kulit. Jagalah linen tetap kering.
R/ Meningkatkan integritas kulit dan mengurangi risiko kelembapan
kulit.
6) Observasi adanya eritema dan kepucatan dan palpasi adanya
kehangatan dan pelunakan jaringan tiap mengubah posisi.
R/ Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan.
7) Jaga kebersihan kulit dan hindari trauma dan panas terhadap kulit.
R/ Mempertahankan keutuhan kulit.

4. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan


neuromuskular, menurunnya kekuatan dan kesadaran, kehilangan
kontrol/koordinasi otot
Tujuan: dalam waktu 2 x 24 jam, terdapat perilaku peningkatan dalam
perawatan diri.
Kriteria hasil: klien dapat menunjukangaya hidup untuk kebutuhan
merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai
dengan tingkat kemampuan, mengidentifikasi personal/masyarakat yang
dapat membantu.
25

Intervensi :
1) Mandiri Kaji kemampuan dan penurunan klien dalam melakukan
ADL dalam skala 0-4.
R/ Membantu dalam mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan
individual.
2) Hindari hal yang dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu.
R/ Klien dalam keadaan cemas dan bergantung. Hal ini untuk
mencegah frustasi dan harga diri klien.
3) Sadar kan tingkah laku/sugesti tindakan pada perlindungan
kelemahan. Pertahankan dukungan pola pikir, ijinkan klien melakukan
tugas, beri saran yang positif untuk usahanya.
R/ Klien memerlukan empati, tetapi peril mengetahui perawatan yang
konsisten dalam menangani klien, memandirikan klien, dan
menganjurkan klien untuk terus mandiri.
4) Merencanakan tindakan untuk mengatasi keterbatasan perlihatan
seperti tempatkan makanan dan peralatan dalam suatu tempat,
dekatkan tempat tidur ke dinding.
R/ Klien akan mampu melihat dan mampu memakan makanan, akan
mampu meliat keluar masuknya orang ke ruangan.
5) Tempatkan perabotan ke dinding, jauhkan dari jalan.
R/ Menjaga keamanan klien bergerak di sekitar tempat tidur dan
menurunkan resiko tertimpa perabotan.
6) Beri kesempatan untuk menolong diri seperti menggunakan kombinasi
pisau dan garpu, sikat dengan pegangan yang panjang, ekstensi untuk
berpijakpada lantai atau ke toilet, kursi untuk mand.
R/ Mengurangi ketergantungan.
7) Kaji kemampuan komunikasi untuk buang air kencing, kemampuan
mengguanakan urinal, pispot, antarkan klien ke kamar mandi bila
kondisi memungkinkan.
R/ Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat
menimbulkan masalah pengosongan kandung kemih oleh karena
maslah neurogenik.
26

8) Identifikasi kebiasaan buang air besar, anjurkan minum dan aktivitas.


R/ Meningkatkan latihan dan menolong menncegah konstipasi.
9) Kolaborasi Pemberian supositoria dan pelumas feses/pencahar.
R/ Pertolongan utama terhadap fungsi bowel atau buang air besar.
10) Konsul ke dokter untuk terapi okupasi
R/ Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.

5. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan ketidakberdayaan


dan merasa tidak ada harapan, kehilanga/perubahan dalam pekerjaan.
Tujuan: dalam waktu 2x24 jam, koping individu menjadi efektif .
Kriteria hasil: mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang
terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu
menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, mengakui, dan
menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat
tampa harga diri yang negatif.
Intervensi :
1) Kaji perubahan akibat gangguan persepsi dan hubungan dengan
derajat ketidak mampuan.
R/ Menentukan bantuan yang diperlukan individu dalam menyusun
rencana perawatan atau pemiliharaan intervensi.
2) Anjurkan klien untuk menekspresikan perasaan termasuk perasaan
bersalah pada diri sendiri dan kemarahan.
R/ Menunjukkan penerimaan, membantu klien untuk mengenal dan
mulai menyesuaikan dengan perasaan tersebut.
3) Catat ketika klien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau
mengingkari dan menyatakan inilah kematian.
R/ Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negatif
terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukkan
kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional.
4) Peryataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan
kembali fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat
menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
27

R/ Membantu klien untuk melihat bahwa perawat menerima kedua


bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh. Mengizinkan klien untuk
merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi baru.
5) Bantu dan anjurkan perawatn yang baik dan memperbaiki kebiasaan.
R/ Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih
dari satu area kehidupan
6) Anjurkan orang yang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan
sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya.
R/ Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu
meningkatkan harga diri serta memengaruhi proses rehabilitas.
7) Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi
dalam aktivitas rehabilitas.
R/ Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang
peran individu masa mendatang.
8) Monitor gangguan tidur,peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi,
dan penolakan.
R/ Dapat mengidentifikasi terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai
pengaruh dari stroke yang memerlikan intervensi dan evaluasi lebih
lanjut.
9) Kolaborasi: rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada
indikasi.
R/ Dapat menfasilitasi perubahan peran yang penting untuk
perkembangan perasaan.

6. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegia.


Tujuan : Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan
kemampuannya
Kriteria hasil :
- Tidak terjadi kontraktur sendi
- Bertabahnya kekuatan otot
- Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
Intervensi :
28

1) Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif


dan aktif.
R/ Dapat meningkatkan kemampuan pasien untuk melakukan rentang
gerak pasif dan aktif.
2) Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan
setelah rehap perubahan posisi. Periksa keadaan kulit dibawah brace
dengan periode waktu tertentu.
R/ Untuk menghindari adanya tekanan pada area penonjolan tulang.
3) Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai progran dan
efektivitasnya.
R/ Penggunaan analgetik yang berlebihan dapat menutupi gejala, dan
ini menyulitykan defisit neurologis lebih lanjut.
4) Rujuk pasien untuk konsultasi psikologis bila kelemahan motorik,
sensorik, dan fungdi seksual terjadi permanen.
R/ Pasien yang mengalami kehilangan fungsi tubuh permanen akan
merasa sedih. Semakin besar makna kehilangan, semakin dalam lama
reaksi kesedihan ini dialami.
5) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
R/ Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi
darah yang jelek pada daerah yang tertekan.

7. Cemas yang berhubungan dengan ancaman,kondisi sakit, dan perubahan.


Tujuan: dalam waktu 2x24 jam, kecemasan klien hilang atau berkurang.
Kriteria hasil: mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab
atau faktor yang mempengaruhinya dan menyatakan ansietas
berkurang/hilang.
Intervensi :
1) Bantu klien mengekspresikan perasaan marah,kehilangan,dan takut.
R/ Cemas yang berkelanjutan member dampak serangan jantung
selanjutnya.
2) Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, damping klien dan
lakukan tindakan bila menunjukan perilaku merusak.
29

R/ Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah,


dan gelisah.
3) Hindari konfrotasi.
R/ Konfrotasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja
sama, dan mungkin memperlambat penyembuhan.
4) Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan.beri
lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat.
R/ Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu.
5) Tingkatkan kontrol sensasi klien.
R/ Kontrol sensasi klien(dan dalam menurunkan ketakutan) dengan
cara memberi informasi tentang keadaan klien, menekankan
penghargaan terhadpa sumber-sumber koping (pertahanan diri) yang
positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik pengalihan, dan
memberi respon balok yang positif.
6) Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang di
harapakan.
R/ Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
7) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya.
R/ Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang
tidak diekspresikan.
8) Beri privasi untuk klien dan orang terdekat.
R/ Memberi waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan
cemas, dan perilaku adaptasi.Adanya keluarga dan teman-teman yang
dipilih klien untuk melayani aktifitas dan pengalihan (misalnya
membaca) akan menurunkan perasaan terisolasi.
30

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

Seorang laki-laki usia 21 tahun datang ke RS X, dengan keluhan nyeri


pada pinggang belakang yang memberat sejak 1 hari sebelum masuk RS. Tanda
vital pasien tersebut dalam batas normal (TD: 120/70mmHg, Suhu: 36C, Nafas:
18 x/menit, Nadi: 80 x/menit.). Pasien sering merasakan nyeri setelah mengalami
trauma karena pasien terjatuh dengan posisi terduduk saat melakukan latihan.

3.1. Pengkajian Pre Operasi


a. Identitas Klien
Nama ( initial ) : Tn. B
Umur : 21 Tahun
Jenis Kelamin : laki laki
Agama : Islam
Alamat : Batalyon 9 Marinir Lampung
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : TNI
Pendidikan : SLTA
Masuk Rumah Sakit : 5 Januari 2013
No RM : 08.55.77
Ruangan : II ( Pulau Salawati )
Tanggal Pengkajian : 5 Januari 2013
Diagnosa medik : HNP L2-L3
b. Riwayat Singkat Pasien

Vital Sign waktu masuk : TD : 120 / 70mmHg, Suhu : 36C, Nafas : 18 x /


menit, Nadi : 80 x / menit.

Keluhan Utama :

Nyeri pada pinggang belakang yang memberat sejak 1 hari SMRS.

30
31

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengatakan nyeri tulang belakang sejak 6 bulan SMRS, namun


memberat sejak 1 hari SMRS, nyeri menjalar ke kaki kiri sejak 1 hari SMRS,
kesemutan, kelemahan tidak ada, pasien sering merasakan nyeri setelah
mengalami trauma saat sedang melakukan latihan, pasien terjatuh dengan posisi
terduduk, setelah terjatuh pasien masih mampu bangun dan berjalan, pasien sudah
berobat ke dokter dan dinyatakan gangguan pada tulang lumbalnya, selama ini
pasien rutin melakukan fisioterapi, demam tidak ada, mual tidak ada, BAK dan
BAB normal.

Riwayat Kesehatan Dahulu :

Riwayat diabetes ( - ), Alergi ( - ), Hipertensi ( - ), Asma ( - ), Typoid ( + )

c. Pola Pola Fungsi Kesehatan


1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat kebiasaan merokok (+) 1 hari 1
kotak rokok, penggunaan obat bebas (-), alkohol (-), ketergantungan
terhadap bahan kimia (-), konsumsi jamu (-), donor darah (+) 4 kali,
olahraga (+) renang.
2. Pola nutrisi dan metabolisme
SMRS :
frekuensi : 3X/hari, komposisi : nasi, lauk, sayur
keadaan yang mengganggu (-)
MRS :
frekuensi : 3X/hari, komposisi : nasi, lauk, sayur
keadaan yang mengganggu (-)
3. Pola eliminasi
SMRS :
BAB
frekuensi : 2X/hari
konsistensi : padat
warna dan bau : kekuning-kuningan, bau khas
keluhan (-)
32

BAK
frekuensi : 6 8x/hari
warna dan bau : kuning muda , bau khas
keluhan (-)
MRS :
BAB
frekuensi : 1X/hari
konsistensi : lembek
warna dan bau : kekuning-kuningan, bau khas
keluhan (-)
BAK
frekuensi : 500 ml /hari
warna dan bau : kuning muda, bau khas
keluhan (-)
4. Pola tidur dan istirahat
SMRS : MRS :
Tidur Tidur
Frekuensi : 1 x / malam Frekuensi : 1 x / malam
Lama : 8 jam Lama : 8 jam
Keluhan (-) Keluhan (-)
Lama istirahat : 1 jam Lama istirahat : -
5. Pola aktivitas
SMRS :
Aktivitas sedikit terganggu dikarenakan intensitas nyeri yang semakin
memberat.
MRS :
Hanya berbaring ditempat tidur, sesekali duduk
6. Pola persepsi dan konsep diri
Body image :
Klien mengatakan menyukai seluruh anggota tubuhnya, tetapi saat ini
merasa sangat terganggu dengan rasanyeri tulang belakangnya.
Self Esteem :
33

Klien yakin bahwa dirinya cepat sembuh dan dapat mengalahkan


penyakitnya.
Identitas diffusion ( kekacauan identitas ) :Tidak ada masalah.
Depersonalisasi :
Klien mengatakan bahwa dirinya ingin cepat sembuh dan kembali
melakukakan kegiatan seperti biasa tanpa ada hambatan rasa nyeri.
Peran :
Saat ini sebagai anak.

d. Pola sensori dan kognitif


Sensori : penciuman, rasa, raba dan pendengaran
Tidak terdapat masalah
Kognitif : proses berfikir,isi pikir dan daya ingat baik

e. Penanggulangan stress
Psikologi : Apabila ada permasalah meminta solusi pada teman yang
dipercaya.
Sosial : Sering mengikuti kegiatan dimasyarakan dan berkumpul dengan
teman sebaya.
Spiritual : Setiap ada permasalahan yang mengganggu biasanya lebih
mendekankan diri pada Tuhan (sholat).

f. Pemeriksaan fisik
1. Status kesehatan umum
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
TD : 110 / 80 mmHg, suhu : 36,2C nafas : 18 x/menit, nadi : 79 x/menit
2. Sistem Integumen
Kulit pucat (-), cyanosis (-), ikterus (-), luka (-)
3. Kepala
Simetris, penonjolan (-), nyeri kepala (-), trauma kepala (-)
34

4. Muka
Simetris, odema (-), otot muka kuat (-), paralisis (-), otot rahang kuat (+)
5. Mata
Pupil bulat isokor (+) 3 mm, konjungtiva tidak anemis, ikterik (-), alis
mata (+) simetris, kelopak mata odema (-), pendarahan (-), sclera anemis
(-), visus (-)
6. Telinga
Secret (-) ,serumen (-), benda asing (-), membran timpani (+)
7. Hidung
Deformitasa (-), mukosa hidung (+), secret (-), obstruksi (-)
8. Mulut dan faring
Caries gigi (-), stomatitis (-), bibir pecah pecah, pendarahan (-), lidah
parese (-) , tremor (-)
9. Leher
Simetris, kaku kuduk (-), pembesaran getah bening (-), pembesaran
kelenjar thyroid (-)
10. Thoraks
Bentuk normal
Paru
a. Inspeksi : bentuk simetris , pecembungan (-)
b. Palpasi : pergerakan simetris (+), tertinggal depan dan belakang (-),
fremitus raba kanan = kiri (+)
c. Perkusi : rensonan
d. Auskultasi : wheezing -/-
Jantung
a. Inspeksi : iktus tidak tampak
b. Palpasi : iktus teraba, getaran (-)
c. Perkusi :
1) Batas kanan jantung 2 jari diatas BPH dari lateral ke medial
sejajar dengan sternum
2) batas kiri jantung iga V VI di linia medioklavikularis kiri
d. Auskultasi : BJ : I II (+), murmur (-), gallop (-)
35

e. Capillaty refill TIME < 3 detik


f. Nyeri dada (-)
11. Abdomen
a. Inspeksi : datar simetris, penonjolan/massa (-), perubahan warna (-)
b. Auskultasi : Bising Usus (12 x/menit)
c. Perkusi : timpani
d. Palpasi : nyeri tekan (-)
12. Iguinal-genital-anus
Keluhan BAB : (-), BAK (-)
Pembesaran kelenjar limphe (-), tumor (-), abses (-)
13. Ekstremitas
Baik

Pemeriksaan pada B1-B6


B1 : Tidak ada gangguan pada system pernafasan karena HNP L2-L3. Jika
terjadi pada area yang terkena HNP adalah sistem saraf spinal thoracal (T1-
T12), maka akan terjadi gangguan pada sistem pernafasan.
B2 : Tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler, frekuensi nadi
normal, tekanan darah normal. Pada auskultasi tidak ditemukan bunyi
jantung tambahan.
B3 : Nyeri pada pinggang belakang yang memberat.
B4 : Tidak ada gangguan pada sistem perkemihan.
B5 : Tidak ada gangguan pada sistem pencernaan pasien tersebut. Frekuensi
BAB pasien 1x/hari serta konsistensinya lembek. Untuk nutrisi 3x/hari
dengan nasi, lauk pauk dan sayur.
B6 : Adanya kesulitan dalam beraktivitas dan menggerakkan badan karena
adanya nyeri, kelemahan, kehilangan sensorik, dan mudah lelah
menyebabkan masalah atau gangguan mobilitas fisik.

g. Pemeriksan Penunjang
1) Laboratorium pre operasi
36

Jenis pemeriksaan
Hasil Normal
Pemeriksaan gula

- Glukotest 92 mg / % < 200

Pemeriksaan Hematologi
- Massa pendarahan / 230 menit 1-6
bleeding time
- Massa pembekuan / 1000menit 10-16
clotting time
Paket darah lengkap
- Leukosit 7700 / mm 5000-10.000
- Eritrosit 5,27 / mm 4,6- 6,2
- Hemoglobin 15,5 g / dl 14-16
- Hematokrit 45 % 42-48
- Thrombosit 266.000/ mm 150.000-400.000
- LED 25mg /l < 10

Hitung jenis leukosit


- Eosinofil 1% 2-4
- Basofil -% 0-1
- Batang 2% 2-6
- Segmen 66% 50-70
- Limfosit 28% 20-40
- monosit 3% 2-8

2) Radiologi

Jantung dan paru normal

Bentuk tidak membesar

Corakan bronchovaskular normal


37

Tidak tampak bercak-bercak kesuraman

Sinus costofrenikus dan diaframa baik

3) MRI lumbal sacral

Pemeriksaan MRI vertebrae lumbosacral tanpa kontros godolinum PTPA.


Pathogen sagital T1 SE / T2 TSE serta MR-myelogram,tampak : kurve vertebra,
axral F2 lumbosacral melurus, tidak tampak listhesis.

Tampak pembentukan spur L1-L2,tampak schmort node di vertebra andplate


L1-L2 vertebra andplate lumbal regular
Intensitas signal bone marrow corporce vertebra lumbosacral normal

Intensitas signal diskus L1-L2 dan L2-L3 hipointens dan tebal diskus L2-L3
memipih
Tampak penonjolan diskus intervertebralis L1-L2 dan L2-L3 ke posterior
Pada potongan axial tampak bulging diskus L1-L2 menekan thecal sac

Tidak tampak hipertropi ligamentum flavum maupun fecet joint


Intensitas signal medulla spinal sampai cornus medularis setinggi Th 12 - L1
normal
Tidak tampak lesi patologis intra meduler
MR mylogram tampak stenosis canalis spinal L2 L3

Kesan
- straight lumbalis
- bulging diskus L1-L2 menekan thecal sac
- protusi diskus L2-L3 menekan thecal sac serta neural foramen L3-L4

4) Rontgen lumbal

- straight lumbalis
- bulging diskus L1-L2 menekan thecal sac
38

- protusi diskus L2-L3 menekan thecal sac serta


- neural foramen L3-L4

Pada Tanggal 5 februari 2013 : - Puasa jam 24.00 sebelum operasi

setelah operasi ke icu

Post Operasi
1) Laboratorium post operasi

Jenis pemeriksaan Hasil Normal


6 februari 2013

Elektrolit
Na 136mmol/l 134-146
K+ 3,9mmol/l 3.4-4,6
Cl 102mmol/l 96-108

Darah lengkap
- leukosit 17.700/mm 5000-10.000
- eritrosit 5,19 juta/mm 4,6- 6,2
- hemoglobin 15,3 g/dl 14-16
- hematokrit 44% 42-48
- thrombosit 219 ribu / mm 150.000-400.000
- LED 5 mg / l < 10

Hitung jenis leukosit


- Eosinofil 1% 2-4
- Basofil -% 0-1
- Batang 1% 2-6
- Segmen 86% 50-70
- Limfosit 7% 20-40
39

- monosit 2% 2-8

7 februari 2013
Darah lengkap
- leukosit 20.000 / mm 5000-10.000
- hemoglobin 14,0juta / mm 14-16
- hematokrit 40% 42-48
- thrombosit 230.000 / mm 150.000-400.000

Elektrolit
Na 135 mmol/l 134-146
K+ 3,8 mmol/l 3.4-4,6
Cl 99 mmol/l 96-108
Albumin 3,4 g /dl
Ureum 3,1
creatinin 1,1

8 februari 2013
Darah lengkap
- leukosit 20.300 / mm 5000-10.000
- eritrosit 4,10 juta / mm 4,6- 6,2
- hemoglobin 12,3 g /dl 14-16
- hematokrit 35 % 42-48
- thrombosit 218.000 / mm 150.000-400.000

10 februari 2013
- leukosit 16.200 / mm 5000-10.000
- eritrosit 4,19 juta / mm 4,6- 6,2
- hemoglobin 12,0 g /dl 14-16
- hematokrit 36 % 42-48
- thrombosit 226.000 / mm 150.000-400.000
40

2) Pengobatan / terapi
- ceftriaxome 2 x 1
- ketesse 3 x 1 amp
- 1vfdvrl 20 tts / menit
- Mo ( icu ) 2cc / jam
- Puasa sampai sadar
- Fisioterapi
- Menggunakan sabuk hnp
- Methy prednisolon 3 x 125
- Menggunakan alas tidur yang datar dan keras ( membantu menstabilkan
daerah vertebra )

ANALISA DATA

No Tanggal Data Penyebab Masalah

1. 5-2-2013 S: Kompresi saraf Nyeri


Pre - pasien
operasi mengeluh nyeri
tulang belakang Agen pencedera fisik
( ngilu ), seperti
ditusuk - tusuk
- Pasien Nyeri
mengatakan
nyeri menjalar
ke kaki kiri dan
kesemutan
O;
- Skala nyeri 6
- Pasien gelisah
- Berbaring
menggunakan
papan yang
41

keras
- Wajah menahan
nyeri.

2. 7-2-2013 S: Selang drainase Gangguan rasa


Post - Pasien nyaman (Nyeri)
operasi mengatakan
nyeri daerah
operasi. Insisi bagian lumbal
O: ( tindakan operasi )
- K/U tampak
lemah
- TD:110 / Gangguan rasa nyaman
70mmHg (Nyeri)
, N :76 x / menit
S ; 36,8C
- Wajah pasien
telihat menahan
sakit
- Insisi bagian
lumbal 15 cm
- Terpasang
selang drainase.

3. 7-2-2013 S: Penurunan kekuatan Gangguan


- Pasien mobilitas fisik
mengatakan Keterbatasan akibat post
lemas operasi
- Pasien
mengatakan Gangguan mobilitas fisik
belum mampu
menggerakkan
42

tubuhnya
- Pasien
mengatakan
masih nyeri jika
bergerak
O:
- Pasien kliatan
lemas
- Saat diminta
menggeserkan
tubuhnya pasien
tampak
kesusahan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
1. Nyeri b.d agen pencedera fisik (kompresi saraf).
Post OPerasi
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d agen fisik (tindakan pembedahan).
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan akibat
kondisi (nyeri).
43

INTERVENSI KEPERAWATAN
No
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
.
1. Pre operasi Setelah dilakukan Mandiri
tindakan - Kaji adanya - Membantu
Nyeri b.d keperawatan 1 X keluhan nyeri, menentukan pilihan
agen 24 jam diharapkan catat intervensi dan
pencedera nyeri berkurang lokasi,lamanya memberikan dasar
fisik atau terkontrol, serangan,faktor untuk perbandingan
(kompresi mengungkapkan pencetus / yang dan evaluasi terhadap
saraf ) metode yang memperberat. terapi.
memberikan Minta pasien
penghilang, untuk
mendemontrasikan menetapkan pada
penggunaan skala 0 10
keterampilan - Pertahankan tirah - Tirah baring dalam
relaksasi dan baring selama posisi yang nyaman
aktivitas hiburan. fase akut. memungkinkan
Dengan kriteria Letakkan pasien pasien untuk
hasil : pada posisi semi menurunkan spasme
- pasien mampu fowler dengan otot, menurunkan
istirahat/tidur tulang spinal, penekanan pada
- pasien pinggang dan bagian tubuh tertentu
mengatakan nyeri lutut dalam dan menfasilitasi
berkurang keadaan fleksi, terjadinya reduksi
- dapat posisi telentang dari tunjulan diskus.
44

menggunakan dengan atau tanpa


teknik non meninggikan
farmakologi untuk kepala 10 30
menghilangkan atau pada posisi
nyeri lateral.
- skala nyeri 0 - 1
- Gunakan logroll - Menurunkan fleksi,
(papan) perputaran, desakan
melakukan pada daerah belakang
perubahan posisi tubuh.
- Bantu - Berguna selam fase
pemasangan akut dari rupture
brace / korset diskus untuk
memberikan
sokongan dan
membatasi fleksi /
terplintir. Penggunaan
jangka panjang akan
menambah
kelemahan otot dan
lebih lanjut
menyebabkan
degeneratif.
- Batasi aktivitas - Menggunakan gaya
selama fase akut gravitasi dan gerak
sesuai kebutuhan yang dapat
menghilangkan
spasme otot dan
menurunkan edema
dan tekanan pada
struktur sekitar diskus
intervertebralis yang
45

terkena.
- Letakkan semua - Menurunkan resiko
kebutuhan, peregangan saat
termasuk bel meraih
panggil dalam
bats yang mudah
dijangkau pasien
- Instrusikan pasien - Menfokoskan
untuk perhatian pasien,
melakukakan membantu
teknik relaksasi menurunkan tegangan
otot dan
meningkatkan proses
penyembuhan .
- Instruksikan - Menghilangkan stress
untuk melakukan pada otot dan
mekanika tubuh / mencegah trauma
gerakan yang lebih lanjut.
tepat

Kolaborasi
- Berikan tempat - Memberikan
tidur orttopedik / sokongan dan
letakkan papan di menurunkan fleksi
bawah kasur / spinal,yang
matras menurunkan spasme.
- Berikan obat - Untuk mengurangu
sesuai kebutuhan rasa nyeri.
2. post operasi Setelah dilakukan - Kaji intensitas - Untuk memantau
tindakan nyeri, gambaran nyeri serta perubahan
Gangguan
keperawatan 3 X dan lokasi / terhadap sensasi yang
rasa nyaman
24 jam diharapkan penyebaran nyeri diberikan.
(nyeri) b.d
46

agen fisik nyeri berkurang atau adanya


(tindakan atau terkontrol, perubahan
pembedah- mengungkapkan sensasi
an) metode yang - Kaji kembali - Untuk mengetahui
memberikan manifestasi yang perubahan dalam
penghilang, timbul / intensitas nyeri.
mendemontrasikan perubahan dalam
penggunaan intensitas nyeri
keterampilan - Izinkan pasien - Untuk mengurangi
relaksasi dan mendapatkan rasa nyeri dan dapat
aktivitas hiburan. posisi yang menurunkan fleksi,
Dengan kriteria nyaman jika perputaran, desakan
hasil : diperlukan. pada daerah belakang
- Pasien mampu Gunakan roll an tubuh.
istirahat/tidur selama perubahan
- Pasien posisi
mengatakan nyeri - Berikan massase / - Untuk mengurangi
berkurang gosokan nyeri.
- Dapat punggung dengan
menggunakan menjauhi daerah
tekhnik non operasi
farmakologi untuk - Demonstrasikan - Melatih agar nyeri
menghilangkan penggunaan dapat berkurang
nyeri ketrampilan ketika relaksasi.
- Skala nyeri 0 - 1 relaksasi : nafas
dalam /
visualisasi
- Berikan diet - Untuk memenuhi
makanan lunak, nutrisi pasien serta
pelembab tidak berbicara
ruangan, anjurkan setelah operasi
untuk tidak untuk mempercepat
47

berbicara setelah proses


dilakukan penyembuhan.
laminektomi
servikal
- Teliti keluhan - Dapat mengetahui
pasien mengenai kondisi nyeri pasien
munculnya dan bisa diberi
kembali nyeri tindakan.
radikular.
Kolaborasi
Berikan obat - Untuk mengurangi
analgetik, sesuai rasa nyeri
kebutuhan
3. Gangguan Setelah dilakukan Mandiri
mobilitas tindakan - jadwalkan - Meningkatkan
fisik keperawatan aktivitas/tindakan penyembuhan dan
berhubungan selama 3 X 24 jam dengan periode membentuk
dengan diharapkan tidak waktu istirahat. kekuatan otot dan
keterbatasan terjadi penurunan Anjurkan pasien kesabaran. Peran
akibat kekuatan/kontrol untuk dapat serta pasiean akan
kondisi otot. berperan serta meningkatkan
(nyeri) dalam kegiatan kemandirian dan
Dengan kriteria sehari-hari perasaan akan
hasil : dangan pengendalian
- pasien dapat keterbatasan yang terhadap diri.
mendemontrasikan dialaminya.
/ meningkatkan - Berikan/bantu - Meningkatkan
kekuatan dan untuk melakukan kekuatan otot
fungsi tubuh latihan rentang abdomen dan otot
- pasien dapat gerak pasif dan fleskor dari tulang
mengungkapkan aktif yang belakang ;
pemahaman disesuaikan meningkatkan
48

tentang situasi, dengan prosedur mekanika tubuh


aturan tindakan pembedahan dengan baik.
dan tindakan
- Sehingga
keamanan - Bantu untuk
penyembuhan
- pasien dapat melakukan
terjadi aktivitas
mendemostrasikan aktifitas/ambulasi
dibatasi dan
tekhnik /
ditingkatkan dengan
memungkinkan
perlahan sesuai
melakukan
denga
kembali aktifitas

Catatan Perekembangan

No.Diagnosa /
Implementasi Evaluasi
Tanggal
1. - Melakukan penilaian S:
5-2 -2013 tentang nyeri, lolasi, - Pasien mengatakan
karakteristik dan faktor- nyeri masih dapat
faktor yang dapat dikontrol
menambah nyeri - Pasien mengatakan
- Mengamati isyarat non nyeri hilang timbul
verbal tentang nyeri O:
- Memberikan massase / - Skala nyeri 5
gosokan punggung - Wajah sedikit rebih
- Menfasilitasi rileks. Tidak
lingkungan yang menunjukan menahan
nyaman sakit hebat
- Mengajarkan teknik - TD = 120 / 70 mmHg,
relaksasi Nadi = 79 x / menit,
- Berkolaborasi dalam suhu = 36 C
pemberian obat anti
49

nyeri A:
- Evaluasi skala nyeri Masalah belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi

2 - Melakukan penilaian S:
7-2-2013 tentang nyeri, lolasi, - Pasien mengatakan
19.30 karakteristik dan faktor- nyerinya sangat berat
faktor yang dapat O:
menambah nyeri [ost - Skala nyeri 7
operasi - Wajah menunjukan
- Mengamati isyarat non menahan sakit hebat
verbal tentang nyeri - TD = 110/70 mmHg ,
- Memberikan massase / Nadi = 88 x / menit ,
gosokan punggung suhu = 37 C
menjauhi daerah operasi A :
- Menfasilitasi Masalah belum teratasi
lingkungan yang P:
nyaman Lanjutkan intervensl
- Mengajarkan teknik
relaksasi

8-2-2013 - Berkolaborasi dalam S:


07.00 pemberian obat anti - Pasien mengatakan
nyeri ( ketesse, nyerinya sangat berat
ketorolac ) O:
- Memberikan diit - Skala nyeri 7
makanan lunak - Wajah menunjukan
- Memberikan posisi menahan sakit hebat
yang nyaman sesuai - TD = 100/70 mmHg ,
indikasi Nadi = 79 x / menit ,
50

- Evaluasi skala nyeri suhu = 37 C


A:
Masalah belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensl

7-2-2013 - Mengajurkan aktivitas / S:


3. tindakan dengan - Pasien belum mampu
kegiatan sehari hari menggeserkan
yang dialami tubuhnya, tetapi pasien
- Memberikan / bantu mengatakan sudah
untuk latihan rentang dapat menggerakan jari
gerak pasif dan aktif jari tangan dan
yang disesuakan dengan kakinya
prosedur pembedahan O:
- Bantu untuk melakukan - Ambulasi masih
aktivitas / ambulasi dibantu
- TD = 100/70 mmHg ,
Nadi = 79 x / menit ,
suhu = 37 C
A:
Masalah belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensl
51

BAB V

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Definisi
HNP adalah keadaan nukleus pulposus keluar melalui anulus fibrosus
untuk kemudian menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosus yang
sobek. HNP merupakan suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologis di
kolumna vertebralis pada diskus intervetebralis/diskogenik.
2. Anatomi Fisiologi
Diskus intervertebralis terdiri dari dua bagian utama yaitu: nukleus
pulposus yang terdiri dari serabut halus dan longgar, berisi sel-sel fibroblast dan
dibentuk oleh anulus fibrosus yang mengelilingi nukleus pulposus yang terdiri
dari jaringan pengikat yang kuat.
Anulus fibrosus, terbagi menjadi 3 lapis: Lapisan luar, lapisan dalam, daerah
transisi.
Sebagian besar HNP terjadi pada L4-L5 dan L5-S1 karena:
a. Daerah lumbal, khususnya daerah L5-S1 mempunyai tugas yang berat,
yaitu menyangga berat badan. Diperkirakan 75% berat badan disangga
oleh sendi L5-S1.
b. Mobilitas daerah lumabal terutama untuk gerak fleksi dan ekstensi sangat
tinggi. Diperkirakan hamper 57% aktivitas fleksi dan ekstensi tubuh
dilakukan pada sendi L5-S1
c. Daerah lumbal terutama L5-S1 merupakan daerah rawan karena
ligamentum longitudinal posterior hanya separuh menutupi permukaan
posterior diskus. Arah herniasi yang paling sering adalah postero lateral.
3. Etiologi
a. Riwayat trauma
b. Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat beban berat, duduk,
mengemudi dalam waktu lama.
c. Sering membungkuk.
51
52

d. Posisi tubuh saat berjalan.


e. Proses degeneratif (usia 30-50 tahun).
f. Struktur tulang belakang.
g. Kelemahan otot-otot perut, tulang belakang.
4. Klasifikasi HNP
a. HNP sentral
b. HNP lateral
5. Manifestasi Klinis
a. Nyeri punggung yang menyebar ke ekstremitas bawah.
b. Spasme otot.
c. Peningkatan rasa nyeri bila batuk, mengedan, bersin, membungkuk,
mengangkat beban berat, berdiri secara tiba-tiba.
d. Kesemutan, kekakuan, kelemahan pada ekstermitas.
e. Deformitas.
f. Penurunan fungsi sensori, motorik.
g. Konstipasi, kesulitan saat defekasi dan berkemih.
h. Tidak mampu melakukan aktifitas yang biasanya dilakukan.
6. Patofisiologi
Pada tahap pertama sobeknya annulus fibrosus itu bersifat sirkumferensial.
Karena adanya gaya traumatic yang berulang, sobekan itu menjadi lebih besar
dan timbul sobekan radial. Apabila hal ini telah terjadi, resiko HNP hanya
menunggu waktu dan trauma berikutnya saja. Gaya presipitasi itu dapat
diasumsikan seperti gaya traumatik ketika hendak menegakan badan waktu
terpleset, mengangkat benda berat, dan sebagainya.
Menjebolnya (herniasi) nucleus puposus dapat mencapai ke korpus tulang
belakang diatas atau dibawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis
vertebralis. Menjebolnya sebagian nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra
dapat dilihat pada foto rontgen polos dan dikenal sebagai nodus schmorl.
7. Pemeriksaan Penunjang
Rontgen foto lumbosakral, Cairan serebrospinal, EMG (elektromigrafi),
Iskografi, Elektroneuromiografi (ENMG), Tomografi scan, MRI, Mielografi,
Pemariksaan laboratorium.
53

8. Komplikasi
a. Kelemahan dan atropi otot
b. Trauma serabut syaraf dan jaringan lain
c. Kehilangan kontrol otot sphinter
d. Paralis / ketidakmampuan pergerakan
e. Perdarahan
f. Infeksi dan inflamasi pada tingkat pembedahan diskus spinal
9. Penatalaksaan Medis
a. Terapi konservatif
b. Terapi Operatif
c. Rehabilitasi

4.2. Saran
Diharapkan bagi pembaca setelah membaca makalah ini khususnya perawat
dapat memahami dan mengerti serta dapat mengaplikasikan tindakan yang harus
dilakukan apabila mendapati klien hernia nucleus pulposus di lahan.
54

DAFTAR PUSTAKA

Anonim B. http://belibis-a17.com/2009/11/17/hernia-nukleus-pulposus-hnp-
lumbalis/. diakses tanggal 16 Mei 2011, pukul 17.00 WIB.

Doenges, M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Alih
Bahasa: Monica Ester. Jakarta : EGC.

Muttaqin, Arif. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.

NANDA internasional. 2010. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasiikasi


2009-2011. Jakarta : EGC.

Tailor, Cynthia M & Sheila Sparks Ralph. 2011. Diagnosa Keperawatan dengan
Rencana Asuhan. Jakarta : EGC.

www.fisioterapimakassar.info/search/jurnal-pencegahan-hnp. diakses tanggal 29


Mei 2017, pukul 20.00 WIB.

54