You are on page 1of 26

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI :

HARGA DIRI RENDAH


(Melatih Kemampuan Positif Diri Menyapu lantai)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Jiwa


Disusun Oleh :
1. WINARNI
2. FAJAR
3. RANI
4. NOVI
5. TITIK

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG
2017
A. Latar Belakang
Pasien skizofrenia atau gangguan jiwa berat yang dirawat di rumah sakit jiwa
sering kali mengalami kekambuhan dan seringnya dirawat mengakibatkan
penurunan kemampuan fungsi dalam berhubungan sosial maupun dalam
melakukan pekerjaan rumah. Hal ini diiringi dengan terjadinya penurunan harga
diri pasien yang semakin membuat klien tidak percaya diri dalam melakukan
aktivitas baik secara individu maupun secara kelompok. Pada masa recovery atau
pemulihan di rumah sakit, klien perlu dilibatkan dilibatkan dalam kegiatan yang
meningkatkan keterampilan atau kemampuan baik yang dilakukan secara
individu maupun secara kelompok. TAK stimulasi persepsi adalah merupakan
bagian dari terapi modalitas yang berupa meningkatkan persepsi yang
berhubungan dengan nilai-nilai dan pengalaman klien dalam menyelesaikan
masalah. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi ini lebih ditujukan kepada
kelima pancaindra klien, yaitu telinga, mata, kulit, lidah, dan hidung (Keliat dan
Akemat, 2010).
Pendekatan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi harga diri rendah
dipilih karena sebagia besar anggota kelompok mengalami penurunan harga
diri.Pendekatan terapi aktivitas kelompok dilakukan untuk meningkatkan harga
diri klien dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan positif diri dalam
berkegiatan sehari-hari termasuk dalam menyapu lantai. Kemampuan positif ini
merupakan kemampuan yang sebagian besar (80%) dari 10 pasien dipilih oleh
anggota kelompok TAK pada pertemuan pertama yang dapat dilakukan di rumah
dan dapat dilatih di rumah sakit, dan 100% dari anggota kelompok mengatakan di
rumah keluarganya pernah menyapu lantai. Berdasarkan hal tersebut, maka saya
tertarik membuat proposal terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi harga diri
rendah dengan melatih aktivitas positif menyapu lantai
B. Landasan Teori
1. Pengertian terapi kelompok
Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan
sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain
yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan
jiwa yang telah terlatih untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan
masalah interpersonal . Metode pembelajaran yang dilakukan oleh tenaga
yang memenuhi persyaratan tertentu. Fokus terapi kelompok adalah membuat
sadar diri, peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan atau
ketiganya . Terapi kelompok bertujuan mengembangkan kesadaran diri
tentang gaya berhubungan interpersonal melalui umpan balik korektif dari
anggota kelompok yang lain, pasien diterima dan didukung. Oleh karena itu
dapat meningkatkan harga diri . Terapi kelompok tidak hanya menemukan
kesadaran pada terapi kelompok tetapi juga berusaha memastikan apakah
kelompok mereka sendiri efektif . Dari beberapa pengertian terapi kelompok
tersebut dapat disimpulkan bahwa terapi kelompok merupakan suatu terapi
yang dilakukan secara berkelompok oleh seorang terapis yang memenuhi
syarat untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan
interpersonal, membuat perubahan atau ketiganya dan dapat meningkatkan
harga diri anggota kelompok.
2. Tujuan terapi kelompok
Tujuan umum dari terapi kelompok adalah meningkatkan kemampuan
menguji kenyataan (reality testing), membentuk sosialisasi, meningkatkan
fungsi psikologis, yaitu meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara
reaksi emosional diri sendiri dengan perilaku defensif dan adaptasi, serta
membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti
kognitif dan efektif . Pengalaman yang bermanfaat membantu memperbaiki
kondisi psikologis, kognitif, behavior atau disfungsi spiritual melalui sebuah
proses perubahan . Terapi kelompok (Group threapy) didesain untuk
meningkatkan perkembangan psikologis dan memperbaiki masalah
psikologis melalui eksplorasi kognitif dan afektif antara anggota kelompok
dan antara anggota kelompok dengan terapis . Dari beberapa tujuan terapi
kelompok di atas, dapat disimpulkan bahwa terapi kelompok dilakukan untuk
meningkatkan sosialisasi anggotanya, meningkatkan fungsi psikologis dengan
meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri
sendiri dan perilaku defensif dan adaptasi dan membantu menghadapi proses
perubahan dimana terapi ini dilakukan dengan jalan mengeksplorasi kognitif
dan afektif anggotanya dengan dipandu oleh seorang terapis.
3. Prinsip terapi kelompok
Terapi kelompok memberikan dukungan pada anggota-anggotanya
karena mereka bekerja melalui masalah-masalah mereka, anggota kelompok
berinteraksi dengan satu dan yang lain dan mendiskusikan proses, individu
ikut serta dalam menggambarkan dirinya sendiri, mengungkapkan perasaan,
perilaku, kognitif, dan perubahan spiritual. Terapi kelompok dapat diterapkan
pada anak-anak, dewasa maupun lanjut usia dengan jumlah atau ukuran
anggota kelompok paling sedikit 5 orang . Terapi kelompok biasanya terdiri
dari 5-12 anggota, banyak terapi kelompok dilakukan denan menyertakan
ko-terapis dengan menggunakan klien yang sejenis (misalnya: usia lanjut) .
Kelompok berfokus pada hubungan kelompok, interaksi antara anggota, dan
masalah dalam hidup dan perilaku yang terjadi di sini dan saat ini (misalnya:
konflik hubungan, masalah koping dengan pekerjaan, masalah kesehatan).
Kelompok mendorong para anggota menganalisis dan meningkatkan fungsi
interpersonal. Terapi kelompok dapat terjadi di lingkungan rawat inap, rawat
jalan dan masyarakat . Dari prinsip-prinsip di atas dapat penulis simpulkan
terapi kelompok melibatkan 5-12 anggota kelompok dengan ko terapis yang
bekerja dengan masalah-masalah anggota kelompok yang berfokus pada
saling interaksi, berkomunikasi tentang masalahnya dan terapi ini dapat
dilakukan pada semua golonganm umur.
4. Peran perawat dalam terapi kelompok
Terapis membantu anggota mengenali disfungsional cara
berhubungan dengan yang lain. Terapis menjaga agar anggota kelompok tetap
fokus pada saat ini dengan mendiskusikan apa yang diharapkan dan mengapa
mengharapkan. Terapis terdiri atas lebih dari satu, satu orang sebagai leader
dan yang lain sebagai coterapis atau co leader. Leader mempunyai tanggung
jawab mendorong anggotanya untuk tetap tinggal dalam kelompok,
membantu kelompok mengembangkan keeratan atau kohesivenes,
membangun sebuah kode perilaku dan normal dengan atau dalam kelompok .
Terapis menguatkan kesadaran klien bahwa orang lain juga sedang berjuang
dan mampu mempartahankan pengendalian atas semua situasi pribadi
mereka. Terapis memfasilitas kontak dengan orang lain sehingga menurunkan
perasaan isolasi dan penolakan sosial. Terapi mendorong perasaan klien untuk
mengekspresikan perasaan, menyelesaikan masalah dan mendapatkan umpan
balik dari orang lain .
Dari beberapa peran terapis dalam terapi kelompok tersebut di atas, terapis
sangat berperan dalam terapi kelompok. Peran terapis dalam terapi kelompok
yaitu membantu mengidentifikasi masalah yang dihadapi anggotanya,
menjaga anggota kelompok tetap fokus dan tetap tinggal dalam kelompok,
membantu mengembangkan kogesivitas antar anggota dan menguatkan
kesadaran klien serta membantu mendorong anggota kelompok untuk
mengekspresikan pemecahan masalah dan merespon tanggapan anggota
kelompok yang lain.
5. Komponen kelompok dalam Terapi Kelompok Terapeutik
a. Struktur kelompok
Kegiatan kelompok mencakup batasan-batasan, proses membuat
keputusan, otoritas hubungan, membantu regulasi perilaku dan pola
interaksi serta memberikan stabilitas antara anggota dalam kelompok .
Kondisi fisik dalam kelompok harus dibuat tidak ada hambatan antara
anggota, antar anggota harus saling mendorong walaupun duduk pada
kursi yang mungkin berbeda. Keterbukaan dan perubahan akan membuat
ketidaknyaman yang mendorong kecemasan pada anggota dan perilaku
yang tidak diduga dapat didiskusikan dalam kelompok . Unsur-unsur
structural dasar dari terapi kelompok terapi membentuk sejumlah batas
penting. Sebuah pembatas dapat dianggap sebagai struktur fisik. Jumlah
anggota yang dipilih untuk bergabung dengan grup juga menetapkan
jumlah batas anggota individu yang akan hadir. Namun, dalam terapi
kelompok, cara lebih penting memikirkan batas-batas adalah untuk
menganggap mereka sebagai dimensi psychiological dalam ruang
kelompok . Dari beberapa pendapat tentang struktur kelompok di atas
dapat disimpulkan bahwa dalam pembentukan sebuah kelompok harus
memperhatikan batas-batas kelompok, baik batas orang, batas ruang, batas
otoritas, batas hubungan. Hal ini sangat penting untuk terbentuknya
kelompok menimbulkan kenyamanan bagi para anggotanya selama proses
kelompok.
b. Jumlah kelompok
Jumlah kelompok bervariasi antara 7-10 anggota . Sedangkan
menurut , terapi kelompok terapeutik dapat diikuti oleh 4-7 orang.
Berdasarkan berbagai studi tersebut pengalaman rentang jumlah yang
potensinya lebih besar untuk mengungkapkan perasaannya serta tidak
cukup untuk menganalisa dan berdiskusi. Sebaliknya jika terlalu sedikit
maka sedikit berbagi dan kurangnya informasi. Dari beberapa pendapat di
atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah kelompok yang ideal untuk
pelaksanaan interaksi dalam terapi kelompok terapeutik adalah 7-8 orang
dengan pertimbangan dengan jumlah tersebut akan memungkinkan
anggota dapat mencerita pengalaman hidup, memberikan informasi dan
akan terbentuk iklim yang baik dalam kelompok.
c. Lama sesi
Lama maksimal dalam terapi kelompok terapeutik adalah 20-40
menit yang berfungsi rendah dan 60-120 menit untuk kelompok yang
berfungsi tinggi beberapa menit untuk pemanasan, selanjutnya waktu
terbanyak yang digunakan untuk kesimpulan dan memberikan tindak
lanjut terhadap beberapa hal yang belum terselesaikan dalam sesi
berikutnya . Lama tiap sesi dalam terapi kelompok tergantung dari
karakteristik anggota kelompok. Jika karakteristik anggota kelompok
mengharapkan adanya pendidikan, diskusi, dan adanya tugas kelompok
maka lama tiap sesi yang ideal adalah 60-120 menit, dan peserta
kelompoknya anak-anak adalah 30-45 menit . Berdasarkan beberapa
pendapat di atas, maka lama sesi dalam terapi kelompok untuk usia lanjut
adalah antara 30-45 menit, hal ini dengan pertimbangkan usia lanjut
mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan anak-anak ditambah
lagi dengan perubahan fisik yang dialami usia lanjut menyebabkan
ketahanan terhadap sebuah aktivitas menurun.
d. Komunikasi
Salah satu tugas utama leader kelompok adalah mengobservasi dan
menganalisis pola komunikasi dalam kelompok. Umpan balik pemimpin
membantu anggota sadare terhadap dinamika dan pola kkomunikasi
sehingga mereka menyadarinya makna dari pola tersebut untuk kelompok
dan dirinya. Observasi yang dilakukan terhadap komunikasi verbal dan
non verbal antara lain tema yang bisa diungkapkan, kebiasaaan
komunikasi, mendengar, proses pemecahan masalah yang menggambarkan
kondisi emosional anggotanya . Dalam terapi kelompok, klien
memungkinkan dalam saling berinteraksi, melalui interaksi dan
komunikasi dengan anggota kelompok yang lain klien mempelajari
perilaku mereka sendiri dan membuat perubahan perilaku yang positif .
Dari pernyataan tersebut dapat simpulkan bahwa dalam terapi kelompok
terapeutik terdapat pola komunikasi baik secara verbal maupun non verbal,
komunikasi timbal balik ini menggambarkan emosional kelompok dan
kohesifitas kelompok, melalui komunikasi dalam kelompok menjamin ada
tukar menukar informasi dan pemecahan masalah.
e. Peran kelompok
1) Pemelihaan peran
Menentukan perilaku dan respon anggota kelompok 3 type peran orang
dalam kerja kelompok, pemeliharaan peran termasuk dalam kerja
kelompok, pemeliharaan peran termasuk proses dan fungsi kelompok,
pengaruh positif di kelompok, membuat perdamaian, meminimalkan
konflik dengan mencari alternatif, menentukan level penerimaan kelompok
dari anggota, melayani ketertarikan audien, standar set perilaku untuk
kelompok, memenuhi penyelesaian masalah kelompok dan bekerja secara
kontinue. Menurut , peran pemeliharaan kelompok dapat dilakukan
melalui: meminimal ketegangan dalam kelompok, mendorong penerimaan
dan partisipasi semua anggota dalam kelompok, aktif mendengarkan
interaksi dalam kelompok, pengenalan kembali dan penerimaan ide yang
lain serta memberikan konstribusi, mengatasi konflik dalam kelompok.
Dari uraian di atas peran pemeliharaan sangat dibutuhkan dalam proses
perkembangan kelompok dalam terapi kelompok terapeutik.
2) Tugas peran
Melakukan secara lengkap tugas kelompok yang meliputi leader
berfungsi memberikan arahan, quastioner berfungsi memelihata fokus
kelompok, summarizer berfungsi meringkas hasil kegiatan, fasilitator
berfungsi memelihara fokus kelompok, evaluator berfungsi mengkaji
penampilan kelompo. Selain itu juha mengkaji rencana dan penampilan
kelompok, mengukur standar dan tujuan yang dicapai. Initiator berfungsi
memulai diskusi kelompok yaitu membuat garus bawah dan metode
pelaksanaanya . Energizer berfungsi mendorong dan memotivasi
kelompok untuk tampil secara maksimal, koordinasi berfungsi
mengklarifikasi dan mendukung apa yang sudah dibuat kelompok,
membawa hubungan bersama untuk mencapai tujuan, elaborator
berfungsi menjelaskan dan memperluas rencana dan ide kelompok dan
peran otoriter berfungsi memberi petunjuk dalam kelompok . Tujuan dari
peran tugas adalah sebagai inisiator dan memberikan konstrubusi pada
kelompok, memberikan informasi sesuai yang ditanyakan, memberikan
opini untuk klarifikasi nilai dan informasi terkait fakta-fakta yang
diperlukan dalam kelompok . Peran tugas dalam terapi kelompok sangat
penting, ini menjadi tugas leader dalam kelompok. Peran ini sangat vital
dalam kelompok. Keberhasilan pelaksanaan dari tugas-tugas ini dapat
memelihata keberlangsungan kelompok dan tujuan dari masing-masing
anggota kelompok akan tercapai.
3) Peran individu
Peran individu yang berhubungan dengan tugas dan pemeliharaan
kelompok, mereka berpusat pada diri yang dapat mendistraksi kelompok
yaitu: mengelak tanggung jawab, aktif mengontrol dengan terus bicara
atau mendominasi pembicaraan, memelihara jarak dan perhatian,
memelihara keeratan dengan kelompok, dan menghambat perkembangan
kelompok dengan mengungkapkan secara dini yang berlebihan, pasif atau
diam yaitu tidak berpartisipasi secara verbal yang sebabkan oleh perasaan
tidak nyaman dengan apa yang diungkapkan akan mungkin ingin
diperhatikan . Berbicara tentang keahlian atau prestasi pribadi untuk
menarik perhatian anggota lain pada dirinya . Individu sangat berperan
dalam kelompok. Anggota kelompok sering kali menjadi mendominasi,
mengelak tanggung jawab, menjaga jarak dan membuang perhatian, tidak
jarak, menolak bicara. Leader dapat berperan sebagai individu dalam
mengatasi anggota kelompok yang cenderung agresif, memonopoli atau
mendominasi pembicaraan, banyak diam dan pengenalan kembali bagi
anggota kelompok yang bingung.
4) Kekuasaan
Kemampuan untuk mempengaruhi kelompok dan anggota struktur
kekuasaan kelompok biasanya diputuskan pada tahap awal penetapan
kekuasaan kelompok dengan mengkaji anggota yang paling banyak
memperhatikan, mendengar dan membuat keputusan dalam kelompok
kekuasaan kelompok ditentukan berdasarkan beberapa faktor yaitu:
gender, usia dan pengalaman sebelumnya . Kekuasaan dalam kelompok
dipegang oleh seorang leader, kekuasaan ini tidak hanya bermanfaat untuk
menyeleksi anggota kelompok tetapi juga membantu mengantisipasi dan
menyelesaikan resistensi dalam kelompok seperti mengatur kekuatan
kelompok yang lebih besar . Leader mempunyai kekuasaan dalam
mengatur kelompok, tidak saja pada pemilihan anggota kelompok tetapi
juga menyelesaikan adanya hambatan dalam kelompok. Pengaruh
kekuasaan leader ini sangat kuat dalam keberlangsungan kelompok.

5) Norma
Norma merupakan standar ;perilaku dalam kelompok artinya harapan
bagaimana kelompok harus berperilaku ke depannya berdasarkan
pengalaman yang lalu dan sekarang. Norma kelompok dapat
mempengaruhi kualitas komunikasi dan perilaku kelompok. Ketaatan
terhadap norma berdampak pada penyesuaian perilaku anggota kelompok.
Norma dapat dikomunikasikan secara eksplisit atau tulisan atau secara
implisit atau lisan . Norma dalam terapi kelompok sangat penting, norma
dapat susun bersama dengan anggota kelompok yang lain. Norma dibentuk
pada awal sesi dari terapi kelompok, norma ini berisi aturan-aturan yang
disepakati oleh semua anggota kelompok demi kepentingan bersama .
Dalam terapi kelompok sangat dibutuhkan norma kelompok, norma ini
yang akan membantu leader dalam mengatur semua anggota kelompok
sehingga iklim kelompok yang terapeutik dapat dipelihara. Norma
kelompok ini idealnya dibentuk pada awal sesi.
6) Kohesif
Kohesif merupakan kekuatan anggota dalam bekerjasama untuk mencapai
tujuan. Hal ini mempengaruhi anggota kelompok untuk bertahan dalam
kelompok, mempengaruhi penampilan anggota dan kepuasan yang
diperoleh dari kelompok. Kekohesifan adalah dasar kelompok karena
berpengaruh terhadap keberlangsungan dan kesuksesan kelompok antara
lain perjanjian anggota dalam mencapai tujuan, keatraktifan hubungan
antara anggota, tingkat kepuasan kebutuhan anggota, kemiripan anggota
dan harapannya gaya kepemimpinnan . Leader mempunyai peran penting
dalam membangun dan memelihara sebuah iklim dalam kelompok yang
terapeutik yang sering disebut dengan kohesifenes. Kohesif ini mempunyai
hubungan yang positif dalam keberhasilan pencapaian tujuan dari terapi
kelompok terapeutik . Dari pendapat-pendapat di atas, sebuah kelompok
memerlukan kohesifitas di dalamnya, hal ini menjadi tugas leader untuk
menciptakannya. Leader dapat membangun dan memelihara iklim yang
terapeutik untuk menjaga keberlangsungan kelompok, karena melalui
kohesifitas kelompok yang terpelihara, maka hasil dari terapi kelompok ini
juga akan semakin baik.
7) Perkembangan kelompok
a) Fase pra kelompok
Faktor penting dalam mempertimbangkan dimana memulai kelompok
untuk tujuan yang baik. Tujuan kelompok sangat mempengaruhi
perilaku leader. Tujuan primer dari screening interview adalah
kelayakan anggota kelompok, tujuan sekunder selama screening
interview adalah kepandaian termasuk mengikuti: mulai perkembangan
hubungan antaraleader dan anggota, menentukan motivasi anggota
yang mungkin, menentukan tujuan kandidat dengan persetujuan
anggota kelompok, pendidikan calon tentang sifat kelompok,
menentukan tipe pengalaman kelompok dan keinginan orang di masa
lalu, tepat memulai review kontrak dan calon. Persiapan kelompok
atau disebut dengan pre kelompok merupakan bagian penting dalam
kelompok. Pre kelompok dapat menunjukkan berhubungan dengan
kohesif kelompok dan berhubungan dengan kepuasan anggota
kelompok . Fase pre kelompok sangat dibutuhkan, ini untuk
mempersiapkan anggota kelompok sehingga kohesif kelompok dapat
semakin baik pada saat fase kerja. Fase ini tidak masuk dalam fase
dalam terapi kelompok, akan tetapi merupakan bagian yang tidak boleh
ditinggalkan dalam pembentukan kelompok.
b) Fase awal kelompok
Fase initial termasuk meeting dimana anggota kelompok mulai turun
untuk kerja. Tahap ini terdiri dari: 1) Tahap orientasi: anggota
kelompok konsen dengan orientasi. Aktivitas interpersonalnya menguji
hubungan, memeprkenalkan batasan interpersonal, hubungan dependen
dengan leader, anggota kelompok yang lain atau menetapkan standar
yang ada sebelumnya. 2) Tahap konflik: anggota kelompok
memberikan hambatan tugas yang mempengaruhi kelompok. 3) Tahap
kohesif: kekuatan kelompok menguasai anggota, adopsi peran baru,
menyusun standar baru dengan perasaan kelompok, kepaduan
perkembangan. Dalam fase ini leader dan anggota kelompok
bekerjasama dalam menetapkan aturan dalam membangun kelompok.
Tujuan kelompok dibangun dan diperkenalkan pada masing-masing
anggota kelompok. Leader diharapkan mengorientasikan proses
kelompok secara spesifik, mendorong anggota untuk berpartisipasi,
meningkatkan lingkungan yang kondusif. Masing-masing anggota
kelompok membangun hubungan saling percaya satu sama lain . Fase
initial dalam sebuah kelompok sangat vital, karena ini merupakan fase
dimana anggota kelompok akan bertemu yang bertama kali
membangun tujuan kelompok, membuat normal kelompok dan
mengambil keputusan untuk mendiskusikan isu-isu atau masalah-
masalah yang mereka hadapi.
c) Fase kerja kelompok
Berkreatif memecahkan masalah, timbul solusi, secara langsung
kelompok menyelesaikan tugas). Selama fase kerja, kohesifenes telah
menetap / mapan di antara kelompok. Pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan terjadi diantara anggota kelompok, pada saat
ini kelompok sudah matang. Konfrontasi, pertentangan sudah dapat
diselesaikan. Leader berharap memfasilitasi selama fase kerja dan
membantu menyelesaikan konflik jika terjadi konflik diantara anggota
kelompok. Anggota kelompok telah mempunyai hubungan saling
percaya yang mapan antara anggota kelompok, mereka masing-masing
menerima kritik dan membangun perubahan . Dari penjelasan di atas,
dapat disimpulkan bahwa fase kerja ini adalah fase inti dalam terapi
kelompok terapeutik. Leader membantu memfasilitas anggota
kelompok berdiskusi tentang masalah atau isu-isu yang muncul
diantara anggota kelompok, membantu menyelesaikan masalah dan
konflik yang terjadi selama fase kerja. Dalam fase kerja ini diharapkan
anggota kelompok masing-masing menerima saran dan kritik juga
saling membangun perilaku baru yang diharapkan.

d) Fase terminasi
Terminasi dapat dilakukan pada akhir setiap sesi atau beberapa sesi
yang merupakan suatu paket dengan memperhatikan pencapaian
tujuan. Terminasi yang sukses ditandai oleh perasaan puas dan
pengalaman kelompok akan digunakan secara individual pada
kehidupan sehari-hari. Dua tipe terminasi yaitu terminasi kelompok
dan terminasi anggota atai individu. Terminasi prematur berarti
kelompok berakhir sebelum tugas komplet atau anggota kelompok
tinggal sebelum bekerja selesai. Pada fase ini kelompok telah eksis dan
sangat sulit untuk dilakukan terminasi, antara anggota kelompok sudah
saling suka dan merasa akrab. Terminasi tetap harus dilakukan,
perasaan kehilangan dan berduka sering kali dirasakan oleh masing-
masing anggota kelompok oleh karena itu leader harus hati-hati dalam
melakukan terminasi . Dari pendapat tersebut di atas, maka leader
harus berperan besar dalam melakukan pengakhiran terhadap
kelompok atau melakukan terminasi dengan baik dan tepat. Leader
harus memfasilitas fase terminasi ini tanpa menimbulkan dampak
bersedih, kehilangan dan berduka. Leader dapat mengingatkan kembali
tujuan pembentukan kelompok.

C. Tujuan
Klien dapat mengidentifikasi kemampuannya dalam menyapu lantai bersama
kelompok
Klien dapat memperagakan cara menyapu lantai bersama kelompok
Klien mampu mengenali kemampuan positif yang dimiliki dalam menyapu
lantai bersama anggota kelompok yang lain
D. Indikasi
Terapi aktivitas kelompok ini lebih tepat diterapkan pada :
Klien dengan masalah keperawatan harga diri rendah yang sudah kooperartif,
Klien yang sehat secarafisik.
Klien yang tidak mengalami tuli, buta, atau tidak bias mengecap rasa dan
mempunyai fisik yang lemah tidak bias dilibatkan
Sebaiknya klien telah mengikuti latihan keterampilan positif menyapu lantai
secara individual atau pernah mempunyai kemampuan menyapu lantai di
rumah

E. Kontra indikasi
Klien yang mempunyai masalah fisik seperti tuli, buta, tidak bisa mengecap
rasa dan mempunyai masalah fisik yang lemah( misalnya: Diare, usia lanjut
dan berpenyakit TBC )
Klien ada riwayat metal retardasi (MR) atau keterbelakangan mental
Tidak bersedia mengikuti Terapi aktivitas kelompok

F. Sasaran
Klien dengan masalah keperawatan harga diri rendah yang masih dirawat inap di
Wisma Arimbi RSJ Dr. Soeroyo Magelang, yang berjumlah 10 orang antara lain
1. Nn. A
2. Ny. B
3. Ny.C
4. Nn. D
5. Nn. E
6. Nn. F
7. Nn. G
8. Nn. H
9. Nn. I
10. Ny. Y
G. Rencana Pelaksanaan TAKSP
Hari, tanggal : 20/7/2017
Jam : 08.00 WIB
Tempat : Ruang Makan Ruang Arimbi
Lama TAKSP : 45 menit

H. Pengorganisasian
1. Leader : WINARNI
Uraian Tugas
Memastikan persiapan sarana, prasarana dan tempat yang dibutuhkan
selama TAK ada
Menjelaskan tujuan TAK secara umum
Menjelaskan topik yang akan dilatih dan akan didikusikan
Memperkenalkan anggota kelompok dan terapis
Menjelaskan aturan main TAK
Melakukan kontrak waktu
Memimpin TAK
Menutup dan menyimpulkan hasil TAK
2. CoLeader : RANI
Uraian Tugas:
Membantu leader dalam memimpin TAK
Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang, baik dalam topik yang
dilatih maupun waktu pelaksanaannya
Membantu leader mengatur alur komunikasi antar anggota kelompok,
leader dan fasilitator
Menggantikan posisi leader memimpin TAKSP ketika leader tidak bisa
melanjutkan TAKSP (misalnya: tiba-tiba sakit atau kehabisan ide untuk
bicara/blocking)
3. Fasilitator: FAJAR
ANGGOTA : RANI, INGGRIT, NOVI, TITIK

Uraian Tugas:
Memberikan motivasi kepada anggota kelompok yang ada disebelah
kanan atau kirinya untuk aktiv dalam kegiatan TAKSP
Bersama leader memberikan reinforcement positif yang sesuai dengan
umur, tingkat pendidikan dan kemampuan yang ditunjukkan oleh klien
Membantu anggota sebelah kanan dan kirinya untuk mau mencoba
memberikan pendapat tentang topik TAKSP dan tanggapan atas jawaban
dari anggota kelompok yang lain
4. Observer: FAJAR

Uraian Tugas :
Mengobservasi dan Mengevaluasi proses pelaksanaan dari terapi aktivitas
kelompok stimulasi persepsi menggunakan format atau barang yang telah
disediakan
Mengobservasi dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan terapi aktivitas
kelompok stimulasi persepsi (kemampuan klien dalam menyapu lantai)
menggunakan format atau barang yang telah disediakan
Menyimpulkan hasil dari evaluasi proses dan hasil kemudian menyusun
rencana tindak lanjut yang akan disampaikan kepada tim terapis dan
anggota kelompok (klien)
Menyampaikan hasil evaluasi pelaksanaan /proses dan hasil pencapaian
target dari kemampuan masing-masing anggota kelompok kepada terapis

I. Setting
Klien bersama perawat di Ruang makan
Ruangan nyaman dan tenang
= Klien
= Leader
= Fasilitator
= Observer
= Mejamakan
Setting tempat

J. Alat
Alat alat kebersihan (sapu, ikrak, tempat sampah)
Jadwal kegiatan harian
Spidol atau bollpoint, papan tulis, dan kertas flipchart
Buku catatan

K. Metode
Dinamika kelompok
Bermain peran

L. Langkah-langkah kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih pasien sesuai indikasi, pasien dengan masalah gangguan
konsep diri harga diri rendah.
b. Mengumpulkan pasien di ruang makan, kemudian membuat kontrak
dengan pasien
c. Mempersiapkan alat serta tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Perawat memberikan salam kepada klien (misalnya selamat pagi atau
selamat siang)
Perawat menyarankan pasien memakai papan nama yang telah dibuat
di dada
b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
Menanyakan kemampuan atau aspek positif yang dimiliki klien dan
belum diceritakan sebelumnya, memberi kesempatan pada semua
anggota kelompok untuk mengutarakan aspek positif yang belum
diceritakan
Memberikan reinforcement positif atas kemampuan pasien atau
anggota kelompok
Mengingatkan kembali topik atau kemampuan yang akan dipelajari
atau dilatih hari ini
c. Kontrak
Menjelaskan tujuan pertemuan yaitu melatih menyapu lantai
Menjelaskan aturan main
3. Tahap kerja
a. Setelah perawat menjelaskan terapi aktivitas
kelompok yang akan dilakukan, perawat menanyakan pada pasien
tentang kemampuannya dalam menyapu lantai
b. Perawat memberikan kesempatan pada salah satu
pasien untuk menjelaskan pengertian cara menyapu lantai
c. Perawat memberikan reinforcement positif atas
keberhasilan pasien menjelaskan
d. Perawat membantu pencatat jawaban pasien/anggota
kelompok dalam papan atau kertas flipchart
e. Perawat memberikan kesempatan pada anggota
kelompok yang lain memberikan tanggapan dengan jawaban anggota
kelompok sebelumnya
f. Perawat menambahkan jawaban anggota kelompok
yang lain dalam papan atau kertas flipchart dan memberikan
reinforcement positif
g. Perawat menyimpulkan jawaban dan tanggapan dari
anggota kelompok yang lain tentang pengertian cara menyapu lantai
h. Perawat memberikan kesempatan pada salah satu
pasien untuk menjelaskan tujuan dan manfaat punyai kemampuan
menyapu lantai
i. Perawat memberikan reinforcement positif atas
keberhasilan pasien menjelaskan
j. Perawat membantu pencatat jawaban pasien/anggota
kelompok dalam papan atau kertas flipchart
k. Perawat memberikan kesempatan pada anggota
kelompok yang lain memberikan tanggapan dengan jawaban anggota
kelompok sebelumnya
l. Perawat menambahkan jawaban anggota kelompok
yang lain dalam papan atau kertas flipchart dan memberikan
reinforcement positif
m. Perawat menyimpulkan jawaban dan tanggapan dari
anggota kelompok yang lain tentang tujuan dan manfaat punyai
kemampuan menyapu lantai
n. Perawat memberikan kesempatan pada salah satu
pasien untuk menjelaskan bahan dan alat yang dibutuhkan dalam
menyapu lantai
o. Perawat memberikan reinforcement positif atas
keberhasilan pasien menjelaskan
p. Perawat membantu pencatat jawaban pasien/anggota
kelompok dalam papan atau kertas flipchart
q. Perawat memberikan kesempatan pada anggota
kelompok yang lain memberikan tanggapan dengan jawaban anggota
kelompok sebelumnya
r. Perawat menambahkan jawaban anggota kelompok
yang lain dalam papan atau kertas flipchart dan memberikan
reinforcement positif
s. Perawat menyimpulkan jawaban dan tanggapan dari
anggota kelompok yang lain tentang bahan dan alat yang dibutuhkan
dalam menyapu lantai
t. Perawat memberikan kesempatan pada salah satu
pasien untuk menjelaskan langkah-langkah dalam menyapu lantai
u. Perawat memberikan reinforcement positif atas
keberhasilan pasien menjelaskan
v. Perawat membantu pencatat jawaban pasien/anggota
kelompok dalam papan atau kertas flipchart
w. Perawat memberikan kesempatan pada anggota
kelompok yang lain memberikan tanggapan dengan jawaban anggota
kelompok sebelumnya, kemudian Perawat menambahkan jawaban
anggota kelompok yang lain dalam papan atau kertas flipchart dan
memberikan reinforcement positif
x. Perawat menyimpulkan jawaban dan tanggapan dari
anggota kelompok yang lain tentang langkah-langkah dalam menyapu
lantai
y. Perawat menjelaskan ulang dan memperagakan cara
menyapu lantai:
siapkan alat alat kebersihan
menyapu mulai dari sudut sudut ruangan
kemudian kumpulkan debu kotoran ke tengah ruangan
angkut kotoran dengan ikrak
buang kotoran ke tempat sampah
Bereskan alat-alat
z. TAK sesi atau pertemuan ini dapat dilakukan sesuai
dengan jumlah anggota kelompok, sehingga setiap anggota kelompok
dapat mencobanya secara mandiri, kemudian sarankan klien untuk
mencatat kemampuannya menyapu lantai dalam jadual kegiatan sehari-
hari di rumah
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
Perawat menanyakan perasaan klien setelah mengikuti kegiatan terapi
aktivitas kelompok
Minta salah satu pasien untuk menyebutkan cara menyapu lantai
Perawat memberikan pujian pada semua klien atas keberhasilan
kelompok
b. Tindak lanjut
Perawat meminta pasien mempraktikkan menyapu lantai jika sudah
pulang
c. Kontrak yang akan datang
Menyepakati terapi aktivitas kelompok yang akan datang, yaitu
melatih hal positif diri memasak air dan membuat kopi/teh
Bersama klien menyepakati waktu dan tempat Terapi aktivitas
kelompok yang lain pada waktu yang akan datang

M. Tata tertib Terapi Aktivitas Kelompok


1. Minta klien untuk BAK atau minum dulu sebelum kegiatan kelompok
dimulai
2. Sarankan minta ijin jika klien ingin meninggalkan kelompok
3. Setiap klien mengikuti kegiatan sampai selesai dan semua anggota
kelompok harus berperan serta aktif selama kegiatan
4. Menjelaskan lama permainan atau kegiatan 45 menit
N. Antisipasi Yang disiapkan
1. Ruang : rencana awal di ruang makan, karena pada saat jam 09.00-09.45
wib sering ada acara yang bersamaan yaitu visit dokter maka untuk antisipasi
akan dilakukan di ruang dapur atau ruang teras depan
2. Lamanya: Karena topik yang akan didiskusikan topik yang panjang, maka
mengingat klien yang dilibatkan dalam TAK pasien dengan HDR dan
mengalami skizofrenia yang rata-rata mengalami kesulitan memahami
informasi, maka lama TAKSP akan diantisipasi selama 60 menit.
3. Topik : Jika sampai waktu habis 45 menit tetapi masih membahas topik
pengertian cara menyapu lantai, tujuan dan manfaat menyapu lantai ,alat yang
dibutuhkan dalam menyapu lantai, langkah-langkah menyapu lantai maka
pertemuan dengan sepakatan dari anggota kelompok kegiatan TAK akan
dihentikan dan untuk latihan demonstrasi dilakukan pada pertemuan
berikutnya
4. Materi latihan: Jika ternyata alat alat untuk menyapu lantai belum lengkap
untuk antisipasi akan digantikan dengan berlatih membuat nasi goreng
O. Evaluasi dan dokumentasi
a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses terapi aktivitas kelompok berlangsung,
khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah sesuai tujuan terapi aktivitas kelompok
Evaluasi dilakukan menggunakan formulir evaluasi yang telah dibuat:

Stimulasi Persepsi : Harga diri rendah


Melatih hal positif diri Menyapu lantai

Nama klien
no Aspek yang dinilai
1. Menyebutkan pengertian menyapu
lantai
2. Menyebutkan tujuan dan manfaat
mempunyai kemampuan menyapu
lantai
3. Menyebutkan alat yang dibutuhkan
dalam menyapu lantai
4. Menyebutkan langkah-langkah
menyapu lantai
5. Menyebutkan kemampuan dalam
Menyapu lantai
6. Memperagakan cara membereskan
alat-alat setelah selesai menyapu
lantai
7. Menuliskan kemampuannya
menyapu lantai dalam jadual
kegiatan sehari-hari
8. Mampu terlibat serta aktif dalam
kelompok
Jumlah
Persentase

Evaluasi proses:
Lembar Observasi Evaluasi Proses kegiatan TAKSP: menyapu lantai
Tanggal : 20/7/2017
Leader :WINARNI
Kualitas
No Indikator Yang diobservasi
Ya Tidak
1. Persiapan bahan, alat dan sarana TAK
2. Pasien dipersiapan sesuai rencana
3. Ruang dipersiapan dengan baik
4. Leader mampu berbicara dengan jelas dan
sistematis
5. Leader memberikan reinforcement positif setiap
mampu melakukan sesuai anjuran
6. Leader menjelaskan aturan dan tata tertib TAK
7. Fasilitator berfungsi dengan baik
8. Waktu dimanfaatkan dengan baik
9. Kegiatan dilakukan evaluasi secara proses
maupun hasil
10. Program antisipasi dilakukan dengan baik
Total

b. Hasil yang diharapkan


Hasil yang diharapkan:
Minimal 75% klien mampu menyapu lantai dengan benar sesuai yang
sudah diajarkan
Minimal 85% dari fase dalam kegiatan TAK dilakukan oleh terapis
(leader)
c. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan klien dalam mengikuti terapi aktivitas
kelompok dalam catatan perawatan klien, misalnya dengan:
Klien mengatakan ikuti terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi
harga diri rendah (melatih hal positif diri menyapu lantai)
Klien mampu bekerja sama dalam memperagakan cara menyapu lantai
sesuai yang sudah diajarkan
Klien mengikuti terapi aktivitas kelompok sampai selesai
Anjurkan klien untuk mempraktikkan kemampuannya dalam menyapu
lantai baik di rumah maupun di rumah sakit

Daftar Pustaka

Brabender, V. A., Fallon, A. E., & Smolar, A. I. (2004). Essentials of Group Therapy.
New Jersey: John Wiley & Sons, Inc
Copel, L. C. (2007). Kesehatan Jiwa dan Psikiatri: Pedoman Klinis Perawat
(Akemat, Trans. 2 ed.). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Delucia-Waack, J. L., Gerrity, D. A., Kalodner, C. R., & Riva, M. T. (2004).
Handbook of Group Counseling and Psychotherapy. California: Sage
Publications, Inc.
Findlay, L. (2001). Groupwork Occupational Therapy. United Kingdom: Standley
Thornes Publisher, Ltd.
Fontaine, K. L. (2009). Mental Health Nursing (6th ed.). New Jersey: Pearson
Publisher, Inc.
Isaacs, A. (2005). Panduan Belajar Keperawatan Jiwa & Psikiatrik (D. P.
Rahayuningsih, Trans. 3 ed.). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jacobs, E. E., Masson, R. L., Harvill, R. L., & J.Schimmel, C. (2012). Group
Counseling Strategies and Skills (Seventh ed.). Belmont: Ceange Learning.
Keliat, B. A., &Akemat. (2010). Terapi Aktivitas Kelompok: Teori dan Aplikasinya.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Kusumawati, F., & Hartono, Y. (2010). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika.
MacKenzie, K. R. (1997). Time-managed Group Psychotherapy. Washington:
American Psychiatric Press, Inc. .
Maryam, R. S., Ekasari, M. F., Rosidawati, Jubaedi, A., & Batubara, I. (2008).
Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Stuart, G. W., & Laraia, M. T. (2005). Pinciples and Practice of Psychiatric Nursing
(8 ed.). Missouri: Mosby, Inc.
Tomb, D. A. (2004). Buku Saku Psikiatri (M. Wiwie, Trans. 6 ed.). Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Townsend, M. C. (2009). Schizophrenia and Other Psychotic Disorder Psychiatric
Mental Health Nursing Concepts of Care in Evidence-Based Practice (Sixth
ed.). Philadelphia: F A Davis Company.
Townsend, M. C. (2011). Schizophrenia and Other Psychotic Disorder Essentials of
Psychiatric Mental Health Nursing Concepts of Care In Evidence-Based
Practice (Fifth ed.). Philadelphia: F A Davis Company.
Videbeck, S. L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa (R. Komalasari & A. Hani,
Trans.). Jakarta: EGC.
Yosep, I. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung: Penerbit PT Refika Aditama.
Lampiran 1
Lembar observasi Evaluasi Perkembangan kelompok

NAMA Aspek yang di Observasi


Kerjasama Komunikasi Keeratan Kel Kedisiplinan Kreatifitas
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Lampiran 2

DAFTAR ABSENSI KEGIATAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI


PERSEPSI

Tanggal
NO Nama
Paraf Paraf Paraf Paraf Paraf Paraf