You are on page 1of 24

LAPORAN PENDAHULUAN POST NATAL SC (SECTIO CAESAREA) a.

i
KEHAMILAN SEROTINUS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Maternitas


Disusun Oleh :
WINARNI,S.Kep
NIM 1708198

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG
2017
A. SECTIO CAESAREA
1. Definisi
Sectio Caesarea (SC) adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada
dinding uterus melalui dinding depan perut (Mochtar, 2000). Menurut Prawiroharjo
(2005) sectio caesarea merupakan suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim
dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram. Sectio Caesarea merupakan
pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus
atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Carpenito,
2001).
Tujuan melakukan sectio caesarea adalah untuk mempersingkat lamanya
perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim. SC
dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan hebat.
Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, SC juga dilakukan untuk
kepentingan ibu, sehingga SC dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati.

2. Indikasi Sectio Caesarea


Menurut Manuaba (2001) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur
uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin
adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio
caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
a. CPD (Chepalo Pelvik Disproportion)
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai
dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat
melahirkan secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang
yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin
ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau
panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami
sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Keadaan patologis tersebut menyebabkan
bentuk rongga panggul menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi
abnormal (Kasdu, 2003).Setiap pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas
panggul, dapat menimbulkan distosia pada persalinan. Menurut Wiknjosastro (2002)
ada beberapa kesempitan panggul, yaitu :
1) Kesempitan pintu atas panggul
Pintu atas panggul biasanya dianggap menyempit jika konjugata vera yang
merupakan ukuran paling pendek panjangnya kurang dari 10 cm atau jika
diameter transversal yang merupakan ukuran paling lebar panjangnya kurang dari
12 cm, proses persalinannya jika kelainan panggul cukup menonjol dan
menghalangi masuknya kepala dengan mudah ke dalam pintu atas panggul, proses
persalinan akan memanjang dan kerap kali tidak pernah terjadi persalinan spontan
yang efektif sehingga membawa akibat yang serius bagi ibu maupun janinnya.
2) Kesempitan panggul tengah
Bidang obstetrik panggul tengah membentang dari margo inferior simfisis pubis,
lewat spina iskiadika, dan mengenai sakrum di dekat sambungan tulang vertebra
keempat dan kelima. Meskipun definisi kesempitan pintu atas panggul, namun
panggul tengah mungkin sempit kalau jumlah diameter interspinarum dan
diameter sagitalis posterior pelvis (normalnya 10,5 plus 5 cm atau 15,5 cm)
mencapai 13,5 cm atau lebih kurang lagi.
3) Kesempitan pintu bawah panggul
Kesempitan pintu bawah panggul biasanya diartikan sebagai keadaan dimana
distansia tuberculum 8 cm atau lebih kecil lagi. Pintu bawah panggul yang sempit
tidak banyak mengakibatkan distosia karena kesempitannya sendiri mengingat
keadaan ini sering disertai pula dengan kesempitan panggul tengah.
Dalam kasus CPD, jika kepala janin belum masuk ke dalam pintu atas panggul
pada ibu hamil cukup bulan, akan dilakukan operasi sectio caesarea karena resiko
terhadap janin semakin besar kalau persalinan semakin maju (Jones, 2001).
b. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan
oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi,
pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling
penting dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu
mampu mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi (Mochtar,
1998).
c. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan
ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah
hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu tidak terlalu banyak
(Manuaba, 2001). Robeknya kantung ketuban sebelum waktunya dapat menyebabkan
bayi harus segera dilahirkan. Pecahnya kantung ketuban pada kehamilan seringkali
tidak disadari penyebabnya. Namun, biasanya hal ini terjadi sesudah trauma.
Misalnya, setelah terjatuh, perut terbentur sesuatu, atau sesudah senggama. Dengan
adanya hal ini dokter akan mempercepat persalinan karena khawatir akan terjadi
infeksi pada ibu dan janinnya (Kasdu, 2003).
d. Janin Besar (Makrosomia)
Makrosomia atau janin besar adalah taksiran berat janin diatas 4.000 gram. Di negara
berkembang, 5 % bayi memiliki berat badan lebih dari 4.000 gram pada saat lahir dan
0,5 % memiliki berat badan lebih dari 4.500 gram. Ada beberapa faktor ibu yang
menyebabkan bayi besar, yaitu ibu dengan diabetes, kehamilan post-term, obesitas
pada ibu, dan lain-lain. Untuk mencegah trauma lahir, maka bedah sesar elektif harus
ditawarkan pada wanita penderita diabetes dengan taksiran berat janin lebih dari 4500
gram dan pada wanita nondiabetes dengan taksiran berat janin lebih dari 5000 gram
(Glance, 2006).
e. Kelainan Letak Janin
f. Bayi kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran
kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu
bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang
sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
g. Faktor hambatan jalan lahir
h. Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan
adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat
pendek dan ibu sulit bernafas (Dini Kasdu, 2003).
3. Kontraindikasi Sectio Caesarea
a. Janin sudah meninggal di dalam uterus
b. Infeksi intra partum
c. Syok / Anemia berat yang belum teratasi
d. Kelainan kongenital berat : hidrosefalus, anensefalus.
e. Janin terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan.

4. Manifestasi klinis
Persalinan dengan Sectio Caesarea, memerlukan perawatan yang lebih koprehensif yaitu:
perawatan post operatif dan perawatan post partum. Manifestasi klinis sectio caesarea
menurut Doenges (2001), antara lain :
a. Nyeri akibat ada luka pembedahan
b. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea tidak banyak)
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800ml
f. Emosi labil/perubahan emosional dengan mengekspresikan ketidakmampuan
menghadapi situasi baru
g. Biasanya terpasang kateter urinarius
h. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan muntah
j. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
k. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang paham prosedur
l. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.
5. Jenis Sectio Caesarea
a. Abdomen (Sectio caesarea Abdominalis)
1) Sectio caesarea Transperitonealis
a) Sectio cesaria klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri
sepanjang 10 cm.
Kelebihan :
- Mengeluarkan janin lebih cepat
- Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
- Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan:
- Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada
retroperitonealisasi yang baik
- Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan
b) Sectio caesarea Ismika atau profunda atau Low Cervical dengan insisi pada
segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.
Kelebihan :
- Penjahitan luka lebih mudah
- Penutupan luka dengan retroperitonealisasi yang baik
- Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran
isi uterus ke rongga peritoneum
- Perdarahan kurang
- Resiko terjadi ruptura uteri spontan lebih kecil
Kekurangan :
- Luka dapat menyebar ke kiri, kanan, dan bawah, sehingga mengakibatkan
perdarahan yang banyak
- Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi.
c) Sectio caesarea Ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum
parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.

b. Vagina (Sectio caesarea Vaginalis)


Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Sayatan Memanjang (Longitudinal) menurut Kronig
2) Sayatan Melintang (Transversal) menurut Kerr
3) Sayatan Huruf T (T-Incision) (Mochtar, 1998)
6. Jenis anestesi yang digunakan dalam operasi Sectio Caesaria
Anastesi adalah suatu tindakan untuk menghilangkan kesadaran disertai hilangnya
rasa sakit yang sifatnya sementara.
Menurut teknik pemberian anastesi dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Anastesi Umum
Adalah suatu cara untuk menghilangkan kesadaran disertai rasa sakit di seluruh tubuh
disebabkan pemberian obat-obatan anastesi. Cara pemberiannya antara lain adalah:
1) Metode tetes terbuka (open drop methode)
Prinsipnya adalah inhalasi vasopresi cairan anastesi dengan jalan tetesan, obat-
obatan yang dipakai adalah obat untuk anastesi umum, dibagian obstretri dipakai
eter.
2) Metode separuh tertutup (semi closed methode)
Cara ini memakai alat yang disebut inhaler yang tertutup terhadap udara luar
melalui suatu katup (valve), ada 2 jenis tipe semi closed inhaler yaitu non
rebreathing dan rebreathing.
3) Intubasi tracheal (tracheal intubation)
Cara ini sering dipakai pada anastesi seimbang yaitu dengan memakai campuran
beberapa macam gas.
4) Metode tertutup (closed methode)
Dengan cara ini anestetika dan oksigen dapat diatur sebaik-baiknya melalui suatu
sistem antara klien dan alat pemberian dengan dua sistem yaitu to dan fro, serta
circle. Sirkulasi dan pernapasan dapat diatur bahkan dengan mempergunakan alat-
alat yang lengkap, TTV dari klien dapat dicatat secara langsung dan mudah.
b. Anastesi Regional dan Lokal
Adalah suatu cara untuk mengilangkan rasa sakit pada sebagian dari tubuh atau pada
daerah tertentu dari tubuh. Cara pemberiannya adalah:
1) Anastesi spinal (lumbal)/Epidural
Anastesi spinal, epidural dan lumbal dalam pemberian. Obat dapat diberikan
secara dosis tunggal atau tetesan bersambung. Jarum dimasukkan kira-kira 1 cm
di bawah prosesus spinosus L3 menuju ke arah atas medial sampai pada epidural.
2) Blok sub arakhnoid
Blok sub arachnoid cukup efektif untuk mengendalikan sensasi nyeri dan relaksasi
otot perineum. Blok ini sering digunakan pada kala II persalinan.
3) Blok kaudal
Blok ini mengenai semua saraf yang dating ke sacrum atau yang muncul dari
foramina sakralis sehingga rasa sakit sewaktu persalinan ditiadakan.
4) Blok pudendal
Daerah perlaliannya pada perineum saja karena itu harus ditambah dengan
infiltrasi local untuk menghasilkan perlalian yang sempurna.
5) Infiltrasi Lokal dengan cara vagino-perineal dan abdominal
Infiltrasi local dapat diberikan pada beberapa tempat, menurut daerah mana yang
akan dihilangkan rasa sakitnya. 3 lokasi yang sering diberikan infiltrasi lokal
adalah infiltrasi lokal pada perineum, infiltrasi para servikal dan infiltrasi dinding
perut pada operasi per abdominal.
6) Blok paraservikal dan uterosakral
Cara ini mengenai daerah lateral uterus dan parametrium sehingga akan
melalaikan hampir semua persarafan ke uterus dan serviks, tetapi tidak pada
ovarium dan perineum.

7. Komplikasi dan efek samping anestesi


Komplikasi dan efek samping dari tindakan pemberian anastesi adalah:
1. Gangguan pernapasan
2. Kerja jantung berhenti
3. Regurgitasi
4. Muntah-muntah
5. Perdarahan
6. Reaksi toksik sistemik
7. Ileus paralitik

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio caesarea (Prawirohardjo,
2005), yaitu :
a. Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat.
b. Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap
berkontraksi dengan kuat.
c. Pemberian analgetik dan antibiotik.
d. Periksa aliran darah uterus paling sedikit 30 ml/jam.
e. Pemberian cairan intra vaskuler, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24 jam
pertama setelah pembedahan.
f. Ambulasi satu hari setelah pembedahan klien dapat turun sebentar dari tempat tidur
dengan bantuan orang lain.
g. Perawatan luka : insisi diperiksa setiap hari, jahitan kulit (klip) diangkat pada hari ke
empat setelah pembedahan.

B. KEHAMILAN SEROTINUS
1. Pengertian
Menurut Manuaba (1998), kehamilan lewat waktu merupakan kehamilan yang melebihi
waktu 42 minggu dan belum terjadi persalinan. Kehamilan umumnya berlangsung 40
minggu atau 280 hari dari Hari Pertama haid terakhir.
Menurut Muchtar (1998), kehamilan postmatur adalah kehamilan yang berlangsung lebih
lama dari 42 minggu, dihitung berdasarkan rumus Neagele dengan siklus haid rata rata
28 hari. Menurut Parwirohardjo (2005), kehamilan lewat waktu atau post term adalah
kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu. Jadi dari pengertian diatas
dapat disimpulkan serotinus adalah kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu.
2. Etiologi
Etiologi belum diketahui secara pasti namun faktor yang dikemukaan adalah hormonal,
yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan
sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain seperti herediter,
karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu (Rustam, 1998).
Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh dan
reseptor terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan.
Pada kehamilan lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap
rangsangan, karena ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim (Manuaba, 1998).
Menurut Sujiyatini (2009), etiologinya yaitu penurunan kadar esterogen pada kehamilan
normal umumnya tinggi. Factor hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat turun
walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin
berkurang. Factor lain adalah hereditas, karena post matur sering dijumpai pada suatu
keluarga tertentu.
3. Patofisiologi Serotinus
Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan
adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu
adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga janin
mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim ( Manuaba, 1998). Sindroma
postmaturitas yaitu : kulit keriput dan telapak tangan terkelupas, tubuh panjang dan
kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang, tali pusat
selaput ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada
kehamilan 34 36 minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan
post term dapat terjadi penurunan fungsi plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat
janin. Bila keadaan plasenta tidak mengalami insufisiensi maka janin post term dapat
tumbuh terus namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat
menyebabkan distosia bahu ( reproduksiumj.blogspot.com/2009/09).
4. Tanda Dan Gejala Serotinus
Tanda dan gejala tidak terlalu dirasakan, hanya dilihat dari tuanya kehamilan. Biasanya
terjadi pada masyarakat di pedesaan yang lupa akan hari pertama haid terakhir. Bila
tanggal hari pertama haid terakhir di catat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak
sukar, namun bila wanita hamil lupa atau tidak tahu, hal ini akan sukar memastikan
diagnosis. Pada pemeriksaan USG dilakukan untuk memeriksa ukuran diameter
biparietal, gerakan janin dan jumlah air ketuban (Muchtar, 1998). Menurut Achdiat
(2004), umur kehamilan melewati 294 hari/ genap 42 minggu palpasi bagian bagian
janin lebih jelas karena berkurangnya air ketuban. Kemungkinan dijumpai abnormalitas
detak jantung janin, dengan pemeriksaan auskultasi maupun kardiotokografi (KTG). Air
ketuban berkurang dengan atau tanpa pengapuran (klasifikasi) plasenta diketahui dengan
pemeriksaan USG.
5. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sujiyatini dkk (2009), pemeriksaan penunjang yaitu USG untuk menilai usia
kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta. KTG untuk menilai ada atau
tidaknya gawat janin. Penilaian warna air ketuban dengan amnioskopi atau amniotomi
(tes tanpa tekanan dinilai apakah reaktif atau tidak ada dan tes tekanan oksitosin).
Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kariopiknotik. Menurut Mochtar (1998),
pemeriksaan penunjang sangat penting dilakukan, seperti pemeriksaan berat badan ibu,
diikuti kapan berkurangnya berat badan, lingkaran perut dan jumlah air ketuban.
Pemeriksaan yang dilakukan seperti:
a) Bila wanita hamil tidak tahu atau lupa dengan haid terakhir setelah persalinan yang
lalu, dan ibu menjadi hamil maka ibu harus memeriksakan kehamilannya dengan
teratur, dapat diikuti dengan tinggi fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya
janin dapat membantu diagnosis.
b) Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan untuk memeriksa ukuran diameter biparietal,
gerakan janin dan jumlah air ketuban.
c) Pemeriksaan berat badan ibu, dengan memantau kenaikan berat badan setiap kali
periksa, terjadi penurunan atau kenaikan berat badan ibu.
d) Pemeriksaan Amnioskopi dilakukan untuk melihat derajat kekeruhan air ketuban
menurut warnanya yaitu bila keruh dan kehitaman berarti air ketuban bercampur
mekonium dan bisa mengakibatkan gawat janin (Prawirohardjo, 2005).
6. Pengaruh Serotinus
Menurut Muchtar (1998), pengaruh dari serotinus adalah :
a) Terhadap Ibu :
Pengaruh postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir,
maka akan sering dijumpai patus lama, inersia uteri, dan perdarahan postpartum.
b) Terhadap Bayi :
Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari
kehamilan 40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin.
Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi seperti berat badan janin dapat
bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu. Ada
pula yang terjadi kematian janin dalam kandungan, kesalahan letak, distosia bahu,
janin besar, moulage.
7. Komplikasi
a) Menurut Mochtar (1998), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu:
1) Komplikasi pada Ibu
Komplikasi yang terjadi pada ibu dapat menyebabkan partus lama, inersia uteri,
atonia uteri dan perdarahan postpartum.
2) Komplikasi pada Janin
Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti berat badan janin bertambah besar, tetap
atau berkurang, serta dapat terjadi kematian janin dalam kandungan.
b) Menurut Prawirohardjo (2006), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus
yaitu komplikasi pada Janin. Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti gawat janin,
gerakan janin berkurang, kematian janin, asfiksia neonaturum dan kelainan letak.
c) Menurut Achdiat (2004), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu
komplikasi pada janin. Komplikasi yang terjadi seperti : kelainan kongenital, sindroma
aspirasi mekonium, gawat janin dalam persalinan, bayi besar (makrosomia) atau
pertumbuhan janin terlambat, kelainan jangka pangjang pada bayi.
8. Penatalaksanaan Serotinus
Menurut Mochtar (1998), setelah usia kehamilan lebih dari 40 42 minggu adalah
monitoring janin sebaik baiknya. Apabila tidak ada tanda tanda insufisiensi plasenta,
persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat. Apabila ada insufisiensi
plasenta dengan keadaan serviks belum matang, pembukaan belum lengkap, persalinan
lama, ada tanda-tanda gawat janin, kematian janin dalam kandungan, pre-eklamsi,
hipertensi menahun dan pada primi tua makan dapat dilakukan operasi seksio sesarea.
Keadaan yang mendukung bahwa janin masih dalam keadaan baik, memungkinkan untuk
menunda 1 minggu dengan menilai gerakan janin.
Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode :
a) Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon) Persalinan anjuran dengan infus
oksitosin, pituitrin, sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%, banyal digunakan.
Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhanan dan mulai dengan 8 tetes
dengan maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan 4 hingga 8 tetes setiap 5 menit
sampai kontraksi optimal. bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai,
maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi
kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu sampai 48 jam.
b) Memecahkan ketuban Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk
mempercepat persalinan. setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam
dengan harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belaum berlangsung
kontraksi otot rahim dapa diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang
mengandung 5 unit oksitosin.
c) Persalinan anjuran yang menggunakan prostaglandin Prostaglandin berfungsi untuk
merangsang kontraksi otot rahim. pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan
dapat dalam bendtuk infus intravena dan perwaginam (prostaglandin vagina
suppositoria).
Menurut Achadiat (2004), tata laksana kehamilan post term tanpa patologi lain, yaitu :
1) Pasien dirawat
2) Pemeriksaan laboratorium Non Stres Test (NST) dan USG
3) NST reaktif periksa keadaan servik
4) Servik matang (BS) lebih dari 9 dapat langsung diinduksi
5) Jika servik belum matang, perlu dimatangkan dulu
6) Bila terdapat patologi lain (misalnya preeklamsi berat, bekas SC, dsb)
7) maka dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan dengan SC.
8) Jika induksi gagal/terjadi gawat janin dilakukan SC

C. PENGKAJIAN
Menurut Doenges (2001), data yang biasa ditemukan pada pengkajian kasus
persalinan dengan tindakan sectio caesarea yaitu :
1. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan Umum. Kaji kondisi ibu secara umum, apakah ibu merasa kelelahan atau ibu
dalam keadaan segar. Hal ini akan mempengaruhi penerimaan ibu terhadap bayi serta
kemampuan ibu dalam menyusui dan mengasuh bayi.
b. Jam pertama. Krisis setelah melahirkan, secara cermat kaji perdarahan dengan
melakukan palpasi fundus uteri dengan sering (interval 15 menit), inspeksi perineum
terhadap perdarahan yang tampak dan evaluasi tanda-tanda vital.
c. Kaji suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah setiap 4-8 jam selama hari pertama
postpartum. Catat khususnya :
1) Peningkatan suhu yang bisa disebabkan dehidrasi, awitan laktasi atau leukositosis
2) Hipotensi dengan nadi yang cepat dan lemah (>100x/menit) yang dapat
menunjukkan perdarahan dan syok.
3) Hipotensi ortostatik karena penyesuaian kembali kardiovaskuler ke dalam
keadaan sebelum hamil.
4) Peningkatan tekanan darah.
5) Nadi yang meningkat menunjukkan adanya perdarahan.
d. Kepala dan Wajah
1) Mata
Konjungtiva yang anemis menunjukkan adanya anemia karena perdarahan saat
persalinan.
2) Hidung
Tanyakan pada ibu apakah ibu pilek atau riwayat sinusitis. Infeksi pada ibu
postpartum dapat meningkatkan kebutuhan energi.
3) Telinga
Kaji pendengarannya telinga kanan dan kiri, adakah riwayat otitis media,
kebersihan daun telinga atau lubang telinga.
e. Mulut dan Gigi
Tanyakan pada ibu apakah ibu mengalami stomatitis atau gigi yang berlubang.
Gigi yang berlubang dapat menjadi port de entree bagi mikroorgasme dan bisa
beredar secara sistemik.
f. Leher
Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di bawah telinga dan pembesaran kelenjar
tiroid. Kelenjar limfe yang membesar menunjukkan adanya infeksi, ditunjang
dengan tanda yang lain seperti hipertermi, nyeri, bengkak.
g. Payudara
1) Kesan Umum
Peganglah payudara dengan perlahan dan kaji apakah simetris antara kanan
dan kiri, keras, ada nyeri tekan dan hangat. Kaji apakah terdapat bendungan
ASI (breast engorgement) yang menimbulkan rasa nyeri bagi ibu atau massa,
dengan palpasi. Bahkan dapat ditemukan mastitis dengan tanda-tanda merah,
bengkak, panas, nyeri.
2) Puting Susu
Kaji apakah ASI atau kolustrum sudah keluar dengan memencet puting ibu.
Kaji juga kebersihan puting. Kaji puting susu apakah mengalami pecah-pecah,
fisura dan perdarahan.
3) Pengkajian Menyusui
Kriteria untuk mengevaluasi cara menyusui adalah hubungan keterikatan ibu
dan bayi, cara menyusu bayi, posisi pada saat menyusui, let-down, kondisi
putting susu, respon bayi dan respon ibu.
Tabel LATCH Scoring
0 1 2
L Too sleepy or Repeated attempts Graspe breast
Latch reluctant Hold nipple in mouth Tongue down
No lacth Stimulate to suck Lips flanged
achieved Rhythmic sucking
A None A few with stimulation Spontaneous and
Audible intermitten < 24 hrs
swallowi old
ng Spontaneous and
frequent >24 hrs old
T Inverted Flat Everted (after
Type of stimulation)
nipple
C Engorged, Filling Soft
Comfort cracked, Reddened/ small Tender
(breast/n bleeding, large, blisters or bruises
iple) blisters or Mild/moderate
bruises, severe discomfort
discomfort
H Full assist (staff Minimal assist (ie: No assist from staff
Hold holds infant at elevate head of bed, Mother able to
(position breast) place pillow support), position/hold infant
ing) Teach one slide,
mother does other,
staff holds and then
mother takes over
h. Abdomen
1) Keadaan
Kaji apakah terdapat striae dan linea alba. Kaji keadaan abdomen, apakah
lembek atau keras. Abdomen yang keras menunjukkan kontraksi uterus bagus
sehingga perdarahan dapat diminimalkan. Abdomen yang lembek
menunjukkan sebaliknya dan dapat dimasase untuk merangsang kontraksi.
2) Diastasis rektus abdominis
Diastasis rektus abdominis adalah regangan pada otot rectus abdominis akibat
pembesaran uterus. Jika dipalpasi regangan ini menyerupai celah memanjang
dari prosessus xiphoideus ke umbilicus sehingga dapat diukur panjang dan
lebarnya. Diastasis ini tidak dapat menyatu kembali seperti sebelum hamil
tetapi dapat mendekat dengan memotivasi ibu untuk senam nifas.
Cara memeriksa diastasis rektus abdominis adalah dengan meminta ibu untuk
tidur telentang tanpa bantal dan mengangkat kepala, tidak diganjal. Kemudian
palpasi abdomen dari bawah prosessus xiphoideus ke umbilikus kemudian
ukur panjang dan lebar diastasis.
3) Fundus uteri
Palpasi fundus uteri dari arah umbilikus ke bawah. Tentukan tinggi fundus
uteri (contoh : 1 jari di atas pusat, 2 jari di atas pusat, dll), posisi fundus,
apakah sentral atau lateral. Posisi lateral biasanya terdorong oleh bladder yang
penuh. Kontraksi juga perlu diperiksa, kontraksi lemah atau perut teraba lunak
menunjukkan kontraksi uterus kurang maksimal sehingga memungkinkan
terjadi perdarahan.
Kaji fundus uteri setiap hari yakni kekuatan dan lokasinya, pastikan bahwa
klien mengosongkan kandung kemih sebelum palpasi dilakukan.
a) Uterus tidak secara progresif menurun ukurannya atau kembali ke pelviks
bagian bawah.
b) Uterus tetap kendur atau kontraksinya buruk
c) Sakit pinggang atau nyeri pelvis yang persisten
d) Perdarahan vagina hebat
4) Kandung kemih
Kaji dengan palpasi kandungan urine di kandung kemih. Kandung kemih yang
bulat dan lembut menunjukkan urine yang tertampung banyak dan dalam hal
ini dapat mengganggu involusi uteri, sehingga harus dikeluarkan.
Kaji tingkat distensi kandung kemih secara sering dalam 8 jam pertama
setelah melahirkan, ukur haluaran urin, berkemih dalam jumlah sedikit dan
sering berkemih yang berturut-turut menandakan adanya gangguan urin.
i. Perineum
Kaji tanda dan karakter lokhea setiap hari meliputi jumlah, warna,
konsistensi dan bau lokhea ibu postpartum untuk memberikan indeks essensial
pemulihan endometrium. Perubahan warna lokhea harus sesuai, misal ibu
postpartum 7 hari harus memiliki lokhea yang sudah berwarna merah muda atau
keputihan. Jika ditemukan hasil yang abnormal, misalnya perdarahan segar,
lokhea rubra yang banyak, persisten dan berbau busuk maka ibu mengalami
komplikasi postpartum. Segera laporkan karena lokhea yang berbau busuk
menunjukkan adanya infeksi di saluran reproduksi dan harus segera ditangani.
Inspeksi perineum, catat apakah utuh,terdapat luka episiotomi, ruptur. Kaji
juga adanya tanda-tanda REEDA (Redness Ekimosisi Edema Discharge
Approximation), nyeri tekan, pembengkakan, memar dan hematoma. Kaji daerah
anal dari adanya hemoroid dan fisura. Kebersihan perineum menunjang proses
penyembuhan luka. Serta adanya hemoroid derajat 1 normal untuk ibu hamil dan
pasca persalinan.
Kondisi luka
Luka episiotomi harus dikaji apakah terdapat tanda-tanda infeksi.
Kecepatan penyembuhan pada episiotomy tergantung pada letak dan kedalam
insisi. Kebanyakan episiotomy sembuh sebelum minggu keenam postpartum.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada bagian perawatan perineum, mandi
berendam, penghangatan dengan cahay lampu, dan obat-obatan topical
meningkatkan penyembuhan dan mengurangi ketidaknyamanan luka episiotomy.
Jika ada harus dilaporkan segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.
j. Ekstremitas
Kaji sirkulasi perifer, catat adanya varises, edema dan kesimetrisan ukuran dan
bentuk, suhu warna dan rentang gerak sendi. Catat khususnya tanda tromboflebitis
dan tanda homan. Tanda homan yang positif menunjukkan adanya tromboflebitis
sehingga dapat menghambat sirkulasi ke organ distal. Cara memeriksa tanda
homan adalah memposisikan ibu terlentang dengan tungkai ekstensi, kemudian
didorsofleksikan dan tanyakan apakah ibu mengalami nyeri di betis. Jika nyeri
maka tanda homan positif dan ibu harus dimotivasi untuk mobilisasi dini agar
sirkulasi lancar sehingga tromboflebitis bisa diabsorbsi.
k. Kaji status eliminasi fekal dan kembali ke pola sebelum melahirkan. Lakukan
aktivitas sehari-hari.
l. Evaluasi status nutrisi, meliputi kemampuan mengunyah, menelan makanan, serta
keadekuatan cairan dan diet untuk mendukung involusio laktasi.
m. Evaluasi tingkat pengetahuan klien tentang cara menyusui bayi baru lahir (ASI
atau dengan botol susu).
n. Riwayat kesehatan. Seharusnya berfokus pada riwayat medis keluarga, riwayat
genetik, dan reproduksi.
o. Kaji adapatasi psikososial
1. Tanda dan gejala kesedihan postpartum (postpartum blues), seperti menangis,
putus asa, kehilangan selera makan, konsentrasi buruk, sulit tidur dan cemas.
2. Evaluasi integritas bayi baru lahir dengan keluarganya.
3. Observasi interaksi ibu baru dan anggota keluarga lainnya dengan bayi baru
lahir.
2. Pemeriksaan Kebutuhan Dasar
a. Sirkulasi
Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml.
b. Integritas Ego
Klien dapat menunjukan labilitas emosional, dari kegembiraan sampai ketakutan,
marah atau menarik diri.
c. Eliminasi
Karakter urine, urine jernih, pucat.
d. Nutrisi/Cairan
1) Abdomen lunak dengan tidak ada distensi.
2) Bising usus tidak ada, samar atau jelas.

e. Neurosensori
Kerusakan dan sensasi dibawah tingkat anastesia spinal epidural.
f. Nyeri/Ketidaknyamanan
Klien mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya : trauma
bedah / insisi, distensi kandung kemih / abdomen.
g. Pernapasan
Bunyi paru jelas.
h. Keamanan
Balutan abdomen tampak kering dan utuh.
i. Seksualitas
1) Fundus kontraksi kuat dan terletak di ambilikus.
2) Aliran lochea sedang dan bebas bekuan berlebihan.
j. Pemeriksaan laboratorium : hematokrit diukur pagi hari setelah pembedahan untuk
memastikan perdarahan pasca operasi atau mengisyaratkan hipovolemia.

D. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN


Diagnosa keperawatan yang muncul, antara lain (Doenges, 2001) :
1. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin, prostaglandin)
akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri klien
berkurang / terkontrol dengan kriteria hasil :
a. Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang
b. Skala nyeri 0-1 ( dari 0 10 )
c. TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR :18-20x/menit,
Nadi : 80-100 x/menit
d. Wajah tidak tampak meringis
e. Klien tampak rileks, dapat berisitirahat, dan beraktivitas sesuai kemampuan
Intervensi :
a. Lakukan pengkajian secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan faktor presipitasi.
b. Observasi respon nonverbal dari ketidaknyamanan (misalnya wajah meringis)
terutama ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif.
c. Kaji efek pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup (ex: beraktivitas, tidur, istirahat,
rileks, kognisi, perasaan, dan hubungan sosial)
d. Ajarkan menggunakan teknik nonanalgetik (relaksasi, latihan napas dalam,, sentuhan
terapeutik, distraksi.)
e. Kontrol faktor - faktor lingkungan yang yang dapat mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan (ruangan, suhu, cahaya, dan suara)
f. Kolaborasi untuk penggunaan kontrol analgetik, jika perlu.

2. Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi


Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Kriteria Hasil : klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
Intervensi :
a. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
b. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum
c. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
d. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien
e. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas

3. Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan


Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3 x 24 jam diharapkan integritas kulit dan proteksi
jaringan membaik
Kriteria Hasil : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Intervensi :
a. Berikan perhatian dan perawatan pada kulit
b. Lakukan latihan gerak secara pasif
c. Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi
d. Jaga kelembaban kulit

4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka bekas
operasi (SC)
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan klien tidak
mengalami infeksi dengan kriteria hasil :
a. Tidak terjadi tanda - tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsio laesea)
b. Suhu dan nadi dalam batas normal ( suhu = 36,5 -37,50 C, frekuensi nadi = 60 -100x/
menit)
c. WBC dalam batas normal (4,10-10,9 10^3 / uL)
Intervensi :
a. Tinjau ulang kondisi dasar / faktor risiko yang ada sebelumnya. Catat waktu pecah
ketuban.
b. Kaji adanya tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsio laesa)
c. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
d. Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat / rembesan. Lepaskan balutan sesuai
indikasi
e. Anjurkan klien dan keluarga untuk mencuci tangan sebelum / sesudah menyentuh luka
f. Pantau peningkatan suhu, nadi, dan pemeriksaan laboratorium jumlah WBC / sel darah
putih
g. Kolaborasi untuk pemeriksaan Hb dan Ht. Catat perkiraan kehilangan darah selama
prosedur pembedahan
h. Anjurkan intake nutrisi yang cukup
i. Kolaborasi penggunaan antibiotik sesuai indikasi

5. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan,


penyembuhan, dan perawatan post operasi
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 6 jam diharapkan ansietas
klien berkurang dengan kriteria hasil :
a. Klien terlihat lebih tenang dan tidak gelisah
b. Klien mengungkapkan bahwa ansietasnya berkurang
Intervensi :
a. Kaji respon psikologis terhadap kejadian dan ketersediaan sistem pendukung
b. Tetap bersama klien, bersikap tenang dan menunjukkan rasa empati
c. Observasi respon nonverbal klien (misalnya: gelisah) berkaitan dengan ansietas yang
dirasakan
d. Dukung dan arahkan kembali mekanisme koping
e. Berikan informasi yang benar mengenai prosedur pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi.
f. Diskusikan pengalaman / harapan kelahiran anak pada masa lalu
g. Evaluasi perubahan ansietas yang dialami klien secara verbal
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, I.J. 2001. Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta : EGC


Christina, S dan Kristanti, EE. 2010. Mobilisasi Dini Berhubungan Dengan Peningkatan
Kesembuhan Luka Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesaria. Kediri : STIKES RS
Baptis Kediri.
Christine, Henderson, Kathleen, Jones. 2005. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC.
Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk. 2005. Obstetri Williams. Edisi 21. Jakarta: EGC.
Doengoes, Marylinn. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal/Bayi. Jakarta : EGC
Hidayat. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-obat/333-oksitosin.html
http://health.kompas.com.
Kasdu, Dini. 2003. Operasi Caesar Masalah dan Masalahnya. Jakarta : Puspa Swara.
Kozier, Barbara. 2004. Fundamental of Nursing Seventh Edition. Jakarta: EGC.
Manuaba, I.B. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta
: EGC.
McCLoskey, JC & Bulecheck, GM. 2000. Nursing Interventions Classification (NIC). Missouri:
Mosby, Inc.
Mochtar, Rustam. 2000. Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 1. Jakarta : EGC.
Prawiroharjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan, Cetakan ke-4. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Price, SA & Wilson, LM. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis dan Proses-Proses Penyakit. Jakarta
: EGC.
Smeltzer, Suzane C., and Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah, Volume
2, Edisi 8. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Pathway