You are on page 1of 14

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK I

Hipospadia

Dosen Pembimbing : Ns. Nike Puspita Alwi, M. Kep

Oleh Kelompok 2

Nama Anggota :

1. Abdul Aziz
2. Dini Islami
3. Febrio Esa Putra
4. Fitria Yusmita
5. Indah Wulan Yuli
6. Monalisa Anggraini
7. Nopi Irhamni
8. Nyak Ramadhani Tiara
9. Pramalia Puji Astuti
10. Wella Fauziah

STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG

TAHUN AJARAN 2016 / 2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan
rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai
Hipospadia

Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas yang diberikan kepada kami
sebagai bahan diskusi dalam mata kuliah KEPERAWATAN ANAK I Semoga
dengan terselesaikannya makalah ini dapat menjadi pembelajaran yang lebih baik
bagi kami dalam pembuatan makalah yang berikutnya.

Makalah ini dibuat dengan sebagaimana mestinya, dan kami berharap


makalah ini dapat memberikan wawasan baru bagi kami maupun bagi anda yang
membacanya.

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 3

A. Latar Belakang ................................................................................................... 3

B. Tujuan ................................................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 4

A. Pengertian ........................................................................................................... 4

B. Etiologi ............................................................................................................... 5

C. Patofisiologi ....................................................................................................... 7

D. Manifestasi Klinik .............................................................................................. 7

E. Komplikasi ......................................................................................................... 7

F. Penatalaksanaan ................................................................................................. 8

G. Asuhan Keperawatan ....................................................................................... 10

BAB III PENUTUP .................................................................................................... 12

A. Kesimpulan ...................................................................................................... 12

B. Saran ................................................................................................................. 12

Daftar Pustaka ............................................................................................................. 13

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kejadian hipospadia saat ini cenderung muncul pada 1 diantara 500 kelahiran
bayi laki-laki (Behrman, Kliegman, & Arvin, 2000). Di Indonesia banyak terjadi
kasus hipospadia karena kurangnya pengetahuan para bidan saat menangani
kelahiran karena seharusnya anak yang lahir itu laki-laki namun karena melihat
lubang kencing di bawah maka dibilang anak itu perempuan.
Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior
dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal
hingga glands penis. Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau
perineum. Semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakin mengalami
pemendekan dan membentuk kurvatur yang disebut chordee. Masalah yang
ditimbulkan akibat hipospadia dapat berupa masalah fungsi reproduksi, psikologis
maupun sosial. Pada kasus ringan, meatus berada tepat di bawah ujung penis, pada
sebagian kasus yang berat meatus terletak pada perineum antara dua skrotum
(Muscari, 2005). Tatalaksana pasien dengan hipospadia adalah dengan operasi, yang
bertujuan untuk memperbaiki baik fungsi maupun kosmetik. Dari berbagai metode
operasi tersebut dikenal operasi 1 tahap (onestage) dan beberapa tahap (multistage).

B. Tujuan
1. Memahami definisi Hipospadia
2. Mengetahui etiologi Hipospadia
3. Mengetahui patofisiologi Hipospadia
4. Mengetahui manifestasi klinik Hipospadia
5. Mengetahui komplikasi Hipospadia
6. Mengatahui penatalaksanaan Hipospadia
7. Asuhan keperawatan Hipospadia

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Hipospadia adalah anomali perkembangan yang ditandai dengan lokasi
abnormal meatus uretra pada permukaann ventral penis, scrotum atau perineum;
sering berhubungan dengan gryposis penis (lengkungan ventral penis) dan
abnormalitas preputium penis (Kaplan & McAleer, 1999 ; Murphy, 2000 ; Pulito,
1999)
Hipospadia terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada
kehamilan minggu ke 10 sampai ke 14. Gangguan penutupan ini mengakibatkan
orifisium uretra tertinggal di suatu tempat dibagian ventral penis antara di scrotum
dan glands penis. ( Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, A.H. Markum, 2002 )
Hipospadia adalah cacat bawaan lahir yang disebabkan oleh embriogenesis
yang berubah atau mengalami kelainan terhadap perkembangan janin selama bulan
ke-3 sampai bulan ke - 5 kehamilan ( Pediatric Nursing, Nicki L.Potts, 2007)
Hipospadia merupakan anomali penis berhubungan dengan ketidaknormalan
letak meatus uretra eksterna. Meatus dapat terletak di bawah glands penis atau
dimana saja di sepanjang permukaan ventral penis, skrotum, atau perineum tersebut.
(Maternal Child Nursing Care; Perry,dkk ; 2010).
Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe berdasarkan letak orifisium uretra
eksternum atau meatusnya.
a. Tipe sederhana
Tipe balanitik atau glandular, disini meatus terletak pada pangkal glands
penis. Pada kelainan ini secara klinis umumnya bersifat asimptomatik dan tidak
memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau
meatotomi.

4
b. Tipe Penil
Meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Pada tipe ini umumnya
disertai kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit preputium bagian ventral,
sehingga penis terlihat melengkung kebawah (Chordee) atau glands penis menjadi
pipih. Pada kelainan tipe penil diperlukan intervensi tindakan bedah bertahap.
Mengingat kulit dibagian ventral preputium tidak ada, sebaiknya pada anak ini
tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan
bedah plastik selanjutnya. Tindakan koreksi untuk chordee umumnya dilakukan
sekitar umur 2 tahun, sedangkan reparasi hipospadia umunya dilakukan sekitar
umur 3 5 tahun.
c. Tipe penosskrotal dan tipe perineal
Kelainan ini cukup besar, umunya pertumbuhan penis akan terganggu,
adakalanya disertai skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya
testis tidak turun. Pada kejadian ini perlu diperhatikan kemungkinan adanya
pseudohermafroditisme. Tindakan bedah bertahap dilakukan pada tahun pertama
kehidupan bayi.
d. Koronal
Meatus terletak pada leher kepala penis.
e. Skrotal
Meatus terletak pada scrotum atau kantung kemaluan.

B. Etiologi
Etiologi yang pasti untuk hipospadia belum diketahui, namun ada beberapa
faktor pencetus terjadinya hipospadia, seperti :
1. Faktor Endokrin
Terdapat kelainan pada reseptor testosteron dan juga kelainan pada hormon
androgen
2. Faktor Genetik
Berdasarkan penelitian Alexander (2007), pada keluarga yang memiliki kelainan
kelamin ( hipospadia ) , maka resiko yang akan terulang pada saudara laki-laki

5
kurang dari 7% - 9% hipospadia. Jika orang tua kandung laki-laki memiliki
kelainan kelamin ( hipospadia ) maka resiko yang akan diturunkan pada anak
kandung laki-laki kurang lebih 12% - 14. Hipospadia terjadi karena gagalnya
sintesis androgen, hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengkode
sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. Pencemaran limbah
industri berperan sebagai Endocrin discrupting chemicals baik bersifat eksogenik
maupun anti androgenik seperti polychorobiphenyls, dioxin, furan, peptisida,
organochlorin, alkiphenol polyethoxsylates dan phtalites. Sudah diketahui bahwa
setelah tingkat indefenden maka perkembangan genital eksterna laki-laki
selanjutnya dipengaruhi oleh estrogen yang dihasilkan testis primitif. Suatu
hipotesis mengemukakan bahwa kekurangan estrogen atau terdapat anti androgen
akan mempengaruhi pembentukan genetalia eksterna laki-laki
4. Faktor hormon
Faktor hormon androgen sangat berpengaruh terhadap kejadian hipospadia karena
berpengaruh terhadap proses maskulinisasi masa embrional. Androgen dihasilkan
oleh testis dan placenta karena terjadi defisiensi androgen akan menyebabkan
penurunan produksi dehidrotestosterone (DHT) yang dipengaruhi oleh 5
reduktase, ini berperan dalam pembentukan penis sehingga bila terjadi defisiensi
androgen akan menyebabkan kegagalan pembentukan bumbung uretra yang
disebut hipospadia. Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang
mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga
walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila
reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang
semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak
mencukupi pun akan berdampak sama.

6
C. Patofisiologi
1. Kelainan terjadi akibat kegagalan lipatan uretra untuk berfusi dengan sempurna
pada masa pembentukan saluran uretral embrionik
2. Abnormalitas dapat menyebabkan infertilitas dan masalah psikologis apabila
tidak diperbaiki (Muscari, 2005).
Fungsi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga
meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan
letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian
disepanjang batang penis hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada
sisi ventral dan menyerupai tapi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan
fibrosa yang dikenal sebagai chordee , pada sisi ventral menyebabkan kurvatura
(lengkungan) ventral dari penis (Anak-hipospadia).

D. Manifestasi Klinik
Gambaran klinis Hipospadia :
1. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri
2. Chordee (melengkungnya penis) dapat menyertai hipospadia
3. Hernia inguinalis (testis tidak turun) dapat menyertai hipospadia (Corwin,
2009).
4. Lokasi meatus urine yang tidak tepat dapat terlihat pada saat lahir (Muscari,
2005).
E. Komplikasi
Komplikasi dari hipospadia antara lain :
1. Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordee nya parah,
maka penetrasi selama berhubungan intim tidak dapat dilakukan (Corwin, 2009)
2. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam
1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri seksual tertentu) (Ramali,
Ahmad & K. St. Pamoentjak, 2005)
3. Psikis (malu) karena perubahan posisi BAK

7
4. Kesukaran saat berhubungan saat, bila tidak segera dioperasi saat dewasa
(Anak-hipospadia)
Komplikasi pascaoperasi yang terjadi :
1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat
bervariasi, juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah di bawah kulit, yang
biasanya dicegah dengan balutan ditekan selama 2 sampai 3 hari pascaoperasi
2. Striktur, pada proksimal anastomis yang kemungkinan disebabkan oleh
angulasi dari anastomis
3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing
berulang atau pembentukan batu saat pubertas
4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai
parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini
angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10%
5. Residual chordee /rekuren chrodee, akibat dari chordee yang tidak sempurna,
dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan scar
yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang
6. Divertikulum (kantung abnormal yang menonjol ke luar dari saluran atau alat
berongga) (Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak, 2005), terjadi pada
pembentukan neouretra yang terlalu lebar atau adanya stenosis meatal yang
mengakibatkan dilatasi yang dilanjut

F. Penatalaksanaan
Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah
merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal
atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan
coitus dengan normal (Anak-hipospadia).
1. Koreksi bedah mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun.
Sirkumsisi harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat dapat
digunakan untuk perbaikan dimasa mendatang (Corwin, 2009).

8
2. Informasikan orang tua bahwa pengenalan lebih dini adalah penting sehingga
sirkumsisi dapat dihindari, kulit prepusium digunakan untuk bedah perbaikan
(Muscari, 2005).
3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari :
Operasi hipospadia satu tahap (One stage urethroplasty) adalah teknik operasi
sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe
distal inimeatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya
kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih
memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang
disertai dengan kelainan yang lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris
dapat dilakukan. Tipe annghipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan
kelainan-kelainan yang berat seperti chordee yang berat, globuler glands yang
bengkok ke arah ventral (bawah) dengan dorsal : skin hood dan propenil bifid
scrotum. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih ke arah
proksimal (jauh dari tempat semestinya) biasanya diikuti dengan penis yang
bengkok dan kelainan lain di scrotum

9
G. Asuhan Keperawatan
1. Analisis Data
Data Pathway Masalah Kesehatan
DS : 1.
1. Orang tua melaporkan
2.
DO :
1.

10
2. Rencana Kepeawatan

Diagnosa NOC NIC Aktivitas


keperawatan

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

12
Daftar Pustaka

Anak-hipospadia. (t.thn.). Dipetik Agustus 5, 2012, dari Scribd: http://ml.scribd.com


Barbara J. Gruendemann & Billie Fernsebner. (2005). Buku Ajar Keperawatan
Perioperatif Vol. 2. Jakarta: EGC.
Behrman, Kliegman, & Arvin. (2000). Ilmu Kesehatan Anak ed. 15 Vol 3. Jakarta:
EGC.
Corwin, E. J. (2009). Buku Saku : Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Heffiner, L. J. (2005). At a Glans Sistem Reproduksi Ed. 2. Boston: EMS.
Muscari, M. E. (2005). Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik Ed. 3 hal : 357.
Jakarta : EGC.
Nanda. (2010). Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak. (2005). Kamus Kedokteran. Jakarta:
Djambatan.
Schwartz, S. I. (2000). Intisari Prinsip - prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Tjay, Tan Hoan & Kirana Rahardja. (2007). Obat - Obat Penting. Jakarta: EMK
Gramedia.

13