You are on page 1of 6

Klasifikasi Asma

I. Asma saat tanpa serangan

Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA) mengklasifikasikan derajat asma menjadi:

1) Asma episodik jarang

2) Asma episodik sering

3) Asma persisten

Klasifikasi penyakit derajat asma pada anak

Departemen Kesehatan 2009


II. Asma saat serangan

Global Initiative for Asthma (GINA) membuat pembagian derajat serangan asma berdasarkan
gejala dan tanda klinis, uji fungsi paru, dan pemeriksaan laboratorium. Derajat serangan
menentukan terapi yang akan diterapkan. Klasifikasi tersebut meliputi asma serangan ringan,
asma serangan sedang dan asma serangan berat.

Klasifikasi asma menurut derajat serangan


Departemen Kesehatan 2009

Manifestasi klinis asma

Batuk kering yang intermitten dan mengi merupakan gejala kronis yang sering dikeluhkan
pasien. Pada anak yang lebih tua dan dewasa mengeluhkan sukar bernafas dan terasa sesak di
dada. Pada anak yang lebih kecil sering merasakan nyeri yang nonfokal di bagian dada. Simptom
respiratori ini bisa lebih parah pada waktu malam terutamanya apabila terpapar lebih lama
dengan alergen. Orang tua sering mengeluhkan anak mereka yang asma mudah letih dan
membatasi aktivitas fisik mereka (Nelson, 2007). Manakala menurut Boguniewicz (2007), mengi
merupakan karakteristik yang utama pada pasien asma. Jika bronkokonstriksi bertambah parah,
suara mengi akan lebih jelas kedengaran dan suara pernafasan menghilang. Menurutnya lagi,
sianosis pada bibir dan nail beds akan terlihat disebabkan oleh hipoksia. Takikardia dan pulsus
paradoxus juga bisa terjadi. Agitasi dan letargi merupakan tanda-tanda permasalahan pada
pernafasan. Menurut Abbas et al (2007), pada pasien asma terjadi peningkatan produksi mukus.
Hal ini dapat menyebabkan obstruksi bronkus dan pasien mengeluhkan sukar bernafas.

Kebanyakan dari penderita asma juga mengalami alergi rinitis dan eksema (Sheffer, 2004).
Alergi rinitis merupakan inflamasi pada mukosa nasal yang ditandai dengan nasal kongesti,
rinorea, bersin dan iritasi konjuntiva. Rinorea, nasal kongesti, bersin paroxysmal dan pruritus
pada mata, hidung, telinga dan palatum merupakan tanda yang sering dikeluhkan oleh pasien
alergi rinitis. Anak yang alergi rinitis bisa juga terjadi gangguan tidur, aktivitas yang terbatas,
irritabilitas dan gangguan mood dan kognitif yang bisa menggangu prestasi anak di sekolah.
Hidung yang terasa gatal akan menyebabkan anak sering terlihat menggosok hidung dengan
tangan (Nelson, 2007). Beberapa kajian telah menyatakan bahwa alergi rinitis merupakan salah
satu faktor pemicu terjadinya asma. Prevalensi alergi rinitis pada pasien asma diperkirakan
sebanyak 80 % hingga 90% (B Leynaert, 2000).
Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan RI. (2009). Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta: Depkes RI.