You are on page 1of 4

Nama Maba : Mochamad Ainawastra Pribadi

Nama Amerta : Otolaryngology

ABSES RETROFARINGEAL

Abses Retrofaringeal adalah suatu penimbunan nanah di dalam jaringan


tenggorokan bagian belakang. Abses biasanya disebabkan oleh infeksi
streptokokus yang berasal dari amandel, tenggorokan, sinus, adenoid, hidung atau
telinga tengah. Kadang cedera pada tenggorokan bagian belakang akibat tertusuk
duri ikan juga bisa menyebabkan abses retrofaringeal. Meskipun jarang, abses
retrofaringeal juga bisa disebabkan oleh tuberkulosis.

Pada umumnya sumber infeksi pada ruang retrofaring berasal dari proses
infeksi di hidung, adenoid, nasofaring dan sinus paranasal, yang menyebar ke
kelenjar limfe retrofaring. Oleh karena kelenjar ini biasanya atrofi pada umur 4
5 tahun, maka sebagian besar abses retrofaring terjadi pada anak-anak dan relatif
jarang pada orang dewasa. Abses pada ruang ini merupakan kegawatdaruratan
yang mengancam kehidupan dengan segera, baik dalam hal menyumbat saluran
napas maupun komplikasi bahaya lainnya.

Akhir akhir ini abses retrofaring sudah semakin jarang dijumpai. Hal ini
disebabkan penggunaan antibiotik yang luas terhadap infeksi saluran nafas atas.
Pemeriksaan mikrobiologi berupa isolasi bakteri dan uji kepekaan kuman sangat
membantu dalam pemilihan antibiotik yang tepat. Walaupun demikian, angka
mortalitas dari komplikasi yang timbul akibat abses retrofaring masih cukup
tinggi sehingga diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat sangat
dibutuhkan. Penatalaksanaan abses retrofaring dilakukan secara medikamentosa
dan operatif . Insisi abses retrofaring dapat dilakukan secara intra oral atau
pendekatan eksternal bergantung dari luasnya abses. Pada umumnya abses
retrofaring mempunyai prognosis yang baik apabila didiagnosis secara dini dan
dengan penanganan yang tepat sehingga komplikasi tidak terjadi.

Abses retrofaringeal biasanya menyerang anak yang berumur kurang dari


5 tahun. Jaringan pada tenggorokan bagian belakang anak-anak memungkinkan
terbentuknya rongga berisi nanah (dimana hal ini tidak terjadi pada orang
dewasa).Infeksi di daerah ini bisa terjadi selama atau segera setelah infeksi
tenggorokan oleh bakteri.

Gejalanya berupa: Riwayat nyeri tenggorokan, infeksi hidung atau abses


gigi, Demam tinggi, Nyeri tenggorokan hebat, Pembengkakan kelenjar getah
bening leher, Kesulitan menelan,Ngiler, Gangguan pernafasan, Retraksi
interkostal (penarikan otot sela iga ketika penderita berusaha keras untuk
bernafas), Stridor (suara pernafasan yang kasar).Untuk mengatasi infeksi
dilakukan pembedahan drainase (untuk membuang nanah) dan diberikan
antibiotik dosis tinggi melalui infus.

Daftar Pustaka

(1) Wendy. 2013. Abses Leher Dalam.

http://yuhardika.blogspot.co.id/2013/06/abses-leher-dalam.html. Diakses

Tanggal 11 Agustus 2017


(2) Rambre, A. 2015. Abses Retrofaring.

https://www.researchgate.net/publication/42321392_Abses_Retrofaring.

Diakses Tanggal 11 Agustus 2017


(3) Anggreyani, D. 2013. Abses Retrofaringeal.

http://danggreyanii.blogspot.co.id/2013/04/abses-retrofaringeal.html. Diakses

Tanggal 11 Agustus 2017


(4) Ningrat, H. 2014. Standar Penatalaksanaan Abses Retrofaringeal.

http://kumpulantipskesehatan9.blogspot.co.id/2014/10/standar-

penatalaksanaan-abses.html. Diakses Tanggal 11 Agustus 2017


(5) Reby. 2016. Pengobatan Abses Retrofaringeal.

http://pengobatanpenyakittbctulanggwini26.blogspot.co.id/2016/12/pengobata

n-abses-retrofaringeal.html. Diakses Tanggal 11 Agustus 2017

Nama Maba : Mochamad Ainawastra Pribadi


Nama Amerta : Otolaryngology

RETROPHARYNGEAL ABSCESS
Retrofaringeal abscess is a hoarding of pus in the back of the throat tissue.
Abscesses are usually caused by a streptococcal infection originating from the
tonsils, throat, sinuses, adenoid, nose or middle ear. Sometimes injury to the back
of the throat from a fish's thorn can also cause retrofaringeal abscess. Although
rare, retrofaringel abscess can also be caused by tuberculosis.

In general, the source of infection in the retrofaring chamber comes from


the infection of the nose, adenoid, nasopharyngeal and paranasal sinus, which
spreads to the retrophary lymph nodes. Because these glands are usually atrophic
at 4 to 5 years of age, most retrophary abscesses occur in children and are
relatively rare in adults. The abscess of this space is an immediate life-threatening
emergency, both in terms of obstructing the airways and other hazard
complications.

Lately retrophary abscesses are becoming increasingly rare. This is due to


the widespread use of antibiotics against upper respiratory tract infections.
Microbiological examination in the form of bacterial isolation and the sensitivity
test of germs is helpful in the selection of appropriate antibiotics. Nevertheless,
the mortality rate of complications arising from retrofaring abscesses is still high
enough that prompt and prompt diagnosis and treatment are needed. Management
of retrofaring abscess is done medically and operatively. Retrofaring abscess
incisions may be performed intra orally or by an external approach depending on
the extent of the abscess. In general, retrophary abscesses have a good prognosis if
diagnosed early and with appropriate treatment so complications do not occur.

Retrofaringeal abscess usually affects children aged less than 5 years. The
tissue in the back of the child's throat allows the formation of pus-filled cavities
(which is not the case in adults). Infection in this area may occur during or shortly
after a bacterial throat infection.

Symptoms include: History of sore throat, nasal infection or dental


abscess, High fever, Severe sore throat, Swollen neck lymph nodes, Difficulty
swallowing, Ngiler, Respiratory disorders, Intercostal retraction (withdrawal of
ribs when the patient tries hard to breathe), Stridor (A rough breathing sound). To
treat the infection is done surgery

References
(1) Wendy. 2013. Abses Leher Dalam.

http://yuhardika.blogspot.co.id/2013/06/abses-leher-dalam.html. Diakses

Tanggal 11 Agustus 2017


(2) Rambre, A. 2015. Abses Retrofaring.

https://www.researchgate.net/publication/42321392_Abses_Retrofaring.

Diakses Tanggal 11 Agustus 2017


(3) Anggreyani, D. 2013. Abses Retrofaringeal.

http://danggreyanii.blogspot.co.id/2013/04/abses-retrofaringeal.html. Diakses

Tanggal 11 Agustus 2017


(4) Ningrat, H. 2014. Standar Penatalaksanaan Abses Retrofaringeal.

http://kumpulantipskesehatan9.blogspot.co.id/2014/10/standar-

penatalaksanaan-abses.html. Diakses Tanggal 11 Agustus 2017


(5) Reby. 2016. Pengobatan Abses Retrofaringeal.

http://pengobatanpenyakittbctulanggwini26.blogspot.co.id/2016/12/pengobata

n-abses-retrofaringeal.html. Diakses Tanggal 11 Agustus 2017