You are on page 1of 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan
yang terjadi secara dinamis dan pesat baik fisik, psikologis, intelektual, sosial, tingkah
laku seksual yang dikaitkan dengan mulai terjadinya pubertas (Marcell, et. al., 2011).
Masa ini adalah periode transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pola
karakteristik pesatnya tumbuh kembang ini menyebabkan remaja memiliki rasa
keingintahuan yang besar, menyukai petualangan dan tantangan serta cenderung berani
mengambil risiko tanpa pertimbangan yang matang (Soetjiningsih, 2004).
Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari
penduduk dunia. Data WHO pada tahun 1995, sekitar seperlima penduduk dunia adalah
remaja berumur 10-19 tahun. Penduduk Asia Pasifik merupakan 60% dari penduduk
dunia, seperlimanya adalah remaja. Di Indonesia, data Biro Pusat Statistik (2009)
kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar 22%, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki
dan 49,1% remaja perempuan. Berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes)
Republik Indonesia tahun 2006, remaja Indonesia berjumlah sekitar 43 juta jiwa atau
sekitar 20% dari jumlah penduduk. Ini sesuai dengan proporsi remaja di dunia, yaitu
sekitar 1,2 miliar atau sekitar 1/5 dari jumlah penduduk dunia. Pada tahun 2008, jumlah
remaja di Indonesia diperkirakan sudah mencapai 62 juta jiwa.
Banyaknya permasalahan dan krisis yang terjadi pada masa remaja menjadikan
banyak ahli dalam bidang psikologi perkembangan menyebutnya sebagai masa krisis.
Berbagai permasalahan yang terjadi pada remaja dipengaruhi oleh berbagai dimensi
kehidupan dalam diri mereka, baik dimensi biologis, kognitif, moral dan psikologis
serta pengaruh dari lingkungan sekitar. Saat ini hal yang menonjol pada remaja adalah
dari sudut pandang kesehatan (Howard, et al., 2010). WHO (2003) menyebutkan
semakin berkembangnya permasalahan kesehatan reproduksi remaja, terutama yang
menyangkut seks bebas, penyebaran penyakit kelamin, kehamilan di luar nikah atau
kehamilan tidak diinginkan, aborsi, dan pernikahan usia muda.
Salah satu upaya pemerintah dalam menangani permasalahan remaja adalah
dengan pembentukan Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Program
ini dapat dilaksanakan di Puskesmas, Rumah Sakit atau sentra-sentra dimana remaja
berkumpul seperti mall (Depkes, 2005). Dalam pelaksanaan PKPR di Puskesmas, remaja
diberikan pelayanan khusus melalui perlakuan khusus yang disesuaikan dengan
keinginan, selera dan kebutuhan remaja. Secara khusus, tujuan dari program PKPR
adalah meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja yang berkualitas,
meningkatkan pemanfaatan Puskesmas oleh remaja untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pencegahan
masalah kesehatan dan meningkatkan keterlibatan remaja dalam perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan remaja. Adapun yang menjadi sasaran
program ini adalah laki-laki dan perempuan usia 10-19 tahun dan belum menikah.
Untuk meningkatkan status kesehatan remaja yang bersekolah maupun tidak
bersekolah, Kementrian Kesehatan RI telah mengembangkan Pelayanan Kesehatan
Peduli Remaja (PKPR) yang menekankan kepada petugas yang peduli remaja, menerima
remaja dengan tangan terbuka dan menyenangkan, lokasi pelayanan yang mudah
dijangkau, aman, menjaga kerahasiaan, kenyamanan dan privasi serta tidak ada stigma.
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) adalah pelayanan kesehatan peduli remaja
yang melayani semua remaja dalam bentuk konseling dan berbagai hal yang
berhubungan dengan kesehatan remaja. Disini remaja tidak perlu ragu dan khawatir
untuk berbagi/konseling, mendapatkan informasi yang benar dan tepat untuk berbagai
hal yang perlu diketahui remaja (Fadhlina, 2012).
PKPR adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau oleh
remaja, menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja,
menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif
dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Pelayanan kesehatan peduli remaja
(PKPR) dilayani di Puskesmas PKPR (Puskesmas yang menerapkan PKPR) (Direktorat

2
Bina Kesehatan Anak, 2011). Kegiatan PKPR diantaranya penyuluhan, pelayanan klinis
maupun konseling oleh pelaksana program, serta melatih konselor sebaya. Konselor
sebaya yang dimaksud adalah kader kesehatan remaja yang telah diberi tambahan
pelatihan interpersonal relationship dan konseling.
Pada miniproject ini, penulis ingin mengetahui gambaran cakupan program
penatalaksanaan PKPR di Puskesmas Suak Ribee periode Januari Mei 2016.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana gambaran cakupan program penatalaksanaan PKPR di Puskesmas
Suak Ribee periode Januari Mei 2016.

1.3 Tujuan Penelitian


Mengetahui gambaran cakupan program penatalaksanaan PKPR di Puskesmas
Suak Ribee periode Januari Mei 2016.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Peneliti
Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang
didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan pengalaman dalam
membuat penelitian ilmiah.
2. Bagi instansi terkait
Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan-
kebijakan dibidang kesehatan di masa mendatang khususnya dalam progam
penatalaksanaan PKPR
3. Bagi ilmu pengetahuan
Sebagai bahan masukan atau referensi bagi peneliti lain yang akan melakukan
penelitian tentang PKPR. Diharapkan ada penelitian selanjutnya yang lebih mendalam
untuk membahas tentang PKPR.

3
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)


Masa remaja adalah masa terjadinya peralihan terhadap perubahan secara fisik
dan psikologis dari masa anak-anak ke masa dewasa (Hurlock, 2003). Perubahan
psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual, kehidupan emosi, dan
kehidupan sosial. Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alat-alat reproduksi
sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik (Sarwono, 2005).
Remaja adalah fase peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, dimana mulai
timbul ciri-ciri seks skunder, terjadi pacu tumbuh, tercapainya fertilitas dan terjadinya
perubahan-perubahan kognitif dan psikologik. Remaja sebenarnya berada diantara masa
anak-anak dan masa dewasa sehingga berada dalam tempat yang tidak jelas, oleh karena
itu masa remaja sering disebut masa pencarian jati diri (Rohan & Siyoto, 2013).
Remaja dapat diartikan sebagai masa peralihan dari perkembangan antara masa
anak dan masa dewasa yang mencakup perkembangan biologis, kognitif, sosial dan
mental-emosional (Santrock, 2003). WHO ( 2009 ) menyebutkan, yang dimaksud
dengan usia remaja yaitu antara usia 12 sampai usia 24 tahun. Menurut Menteri
Kesehatan RI (2010), batasan usia remaja adalah antara usia 10 sampai 19 tahun dan
belum kawin. Remaja dibagi menjadi tiga tahap yaitu masa remaja awal (usia 10-13
tahun), masa remaja tengah yaitu (usia 14-16 tahun) dan remaja akhir (usia 17-19 tahun)
(Rohan & Sayito, 2013). Masa remaja menurut Santrock (2003), yaitu usia 10-13 tahun
dan berakhir saat menginjak usia 18-22 tahun.
Remaja berada dalam masa transisi / peralihan dari masa kanak-kanak untuk
menjadi dewasa. Secara fisik, remaja dapat dikatakan sudah matang tetapi secara psikis /
kejiwaan belum matang. Beberapa sifat remaja yang menyebabkan tingginya resiko
antara lain rasa keingintahuan yang besar tetapi kurang mempertimbangkan akibat dan
suka mencoba hal-hal baru untuk mencari jati diri.

4
Bila tidak diberikan informasi / pelayanan remaja yang tepat dan benar, maka
perilaku remaja sering mengarah kepada perilaku yang beresiko, seperti penyalahgunaan
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya), perilaku yang menyebabkan
mudah terkena infeksi HIV/AIDS, Infeksi menular seksual (IMS), masalah gizi (anemia
/ kurang darah, kurang energi kronik (KEK), obesitas / kegemukan) dan perilaku seksual
yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Sejak tahun 2003, model pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat
dijangkau remaja, menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai
remaja, menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta
efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan dan selera remaja diperkenalkan dengan
sebutan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).

1. PENGERTIAN
PKPR adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau oleh
remaja, menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja,
menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif
dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Pelayanan kesehatan peduli remaja
(PKPR) dilayani di Puskesmas PKPR (Puskesmas yang menerapkan PKPR) (Direktorat
Bina Kesehatan Anak, 2011).

2. TUJUAN
Meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja yang berkualitas.
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pencegahan masalah
kesehatan khusus remaja,
Meningkatkan keterlibatan remaja dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi
pelayanan kesehatan remaja.
Menambah wawasan dan teman melalui kegiatan-kegiatan penyuluhan, dialog
interaktif, Focus Group Discussion (FGD), seminar, jambore, dll

5
Konseling / curhat masalah kesehatan dan berbagai masalah remaja lainnya (dan
kerahasiaannya dijamin)
Remaja dapat menjadi peer counselor / kader kesehatan remaja agar dapat ikut
membantu teman yang sedang punya masalah

3. SASARAN
Semua remaja dimana saja berada baik di sekolah atau di luar sekolah seperti
karang taruna, remaja mesjid / gereja / vihara / pura, pondok pesantren, asrama, dan
kelompok remaja lainnya.
A. Batasan remaja
Remaja adalah mereka yang berada pada tahap transisi anatara masa kanak
kanak dan dewasa. Menurut WHO, remaja adalah anak yang berusia antara 10-19 tahun.
Terdiri dari :
1. Masa remaja awal yaitu 10 14 tahun.
2. Masa remaja pertengahan yaitu 14 17 tahun.
3. Masa remaja akhir yaitu 17 19 tahun.
Sedangkan menurut Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI,
2007) remaja adalah laki-laki dan perempuan yang belum kawin dengan batasan usia
meliputi 15-24 tahun.
B. Citra diri seorang remaja
Tiap orang mempunyai pandangan tentang apa, siapa dan bagaimana dirinya
sendiri. Ketiga hal tersebut menyatu sehingga setiap orang memiliki gambaran tentang
dirinya sendiri yang disebut citra diri. Pada usia remaja citra diri yang terbentuk selama
masa kanak kanak tidak cocok lagi dengan masa remaja dikarenakan remaja
mengalami perubahan jasmaniah yang cepat dan mendadak. Citra diri pada masa remaja
merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku remaja.

6
C. Perkembangan remaja

Perkembangan fisik Perkembangan psikososial ( kejiwaan )

Adanya dorongan tumbuh Perkembangan psikososial remaja awal


yang kuat. Cemas terhadap penampilan badan atau fisik
Adanya pertumbuhan dan Perubahan hormonal
perkembangan kelenjar Menyatakan kebebasan dan merasa seorang
hormon seks individu, tidak hanya sebagai seorang anggota
Meningkatnya fungsi keluarga
berbagai organ tubuh Perilaku memberontak dan melawan
sehingga menghasilkan Kawan menjadi lebih penting
kekuatan fisik yang besar. Perasaan memiliki teman sebaya.

Perkembangan psikososial remaja pertengahan


Lebih mampu berkompromi
Belajar berfikir secara independen dan membuat
keputusan sendiri
Terus menerus bereksperimen untuk mendapatkan
citra diri yang dirasakan nyaman
Merasa perlu mengumpulkan pengalaman baru,
mengujinya walaupun beresiko
Tidak lagi terfokus pada diri sendiri
Membangun norma dan mengembangkan
moralitas
Mulai membutuhkan lebih banyak teman
Mulai membina hubungan dengan lawan jenis
Intelektual lebih berkembang dan ingin tahu
tentang banyak hal
Berkembang kemampuan intelektual khusus

7
Mengembangkan minat yang besar dalam bidang
seni dan olah raga
Senang berpetualang dan ingin bepergian secara
mandiri
Perkembangan psikososial remaja akhir
Ideal
Terlibat dalam kehidupan, pekerjaan dan
hubungan diluar keluarga
Harus belajar untuk mencapai kemandirian
dalam bidang finansial dan emosional
Lebih mampu membuat hubungan yang stabil
dengan lawan jenis
Merasa sebagai orang dewasa yang setara
dengan anggota keluarga lain
Hampir siap untuk menjadi orang dewasa yang
mandiri

D. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan jiwa remaja


1. Lingkungan keluarga
Pola asuh keluarga
Kondisi keluarga
Pendidikan moral dalam keluarga, dimana dalam mendidik orang tua harus
bersikap konsisten, terbuka, bijaksana, bersahabat, ramah tegas dan dapat
memberi rasa aman.
2. Lingkungan sekolah
Suasana sekolah, meliputi kedisiplinan, kebiasaan belajar, pengendalian diri
Bimbingan guru
3. Lingkungan teman sebaya

8
4. Lingkungan masyarakat
Sosial budaya
Media masa

4. KARAKTERISTIK PKPR
Karakteristik PKPR merujuk WHO ( 2003) memerlukan :
1. Kebijakan yang Kebijakan peduli remaja bertujuan untuk :
peduli remaja Memenuhi hak remaja
Tidak membatasi pelayanan karena kecacatan, etnik, usia
dan status
Memberikan perhatian pada keadilan dan kesetaraan
gender.
Menjamin privasi dan kerahasiaan.
Mempromosikan kemandirian remaja
Menjamin biaya yang terjangkau / gratis.
2. Prosedur pelayanan Pendaptaran dan pengambilan kartu yang mudah dan
yang peduli remaja dijamin kerahasiaanya.
Waktu tunggu yang pendek
Dapat berkunjung sewaktu waktu dengan atau tanpa
perjanjian.
3. Petugas khusus Petugas yang melayani PKPR di Puskesmas bisa seorang
yang peduli remaja dokter, bidan atau perawat yang sudah terlatih. Mereka
akan melayani dengan sabar, ramah, siap menampung
segala permasalahan remaja serta siap berdiskusi
(memberikan konseling).
Petugas khusus yang peduli remaja harus memenuhi kriteria:
Mempunyai perhatian dan peduli, baik budi, penuh
pengertian, bersahabat, memiliki kompetensi teknis

9
dalam memberikan pelayanan khusus kepada remaja,
mempunyai ketrampilan komunikasi interpersonal dan
konseling.
Mempunyai motivasi untuk menolong dan bekerjasama
dengan remaja.
Tidak menghakimi, tidak bersikap dan berkomentar tidak
menyenangkan atau merendahkan.
Dapat dipercaya dan dapat menjaga kerahasiaan.
Mampu dan mau mengorbankan waktu sesuai kebutuhan.
Dapat / mudah ditemui pada kunjungan ulang.
Menunjukkan sikap menghargai kepada semua remaja
dan tidak membeda-bedakan.
Mau memberikan informasi dan dukungan yang cukup
hingga remaja dapat memutuskan pilihan yang tepat
untuk mengatasi maalahnya atau memenuhi
kebutuhannya.
4. Petugas pendukung Menunjukan sikap menghargai dan tidak membedakan.
yang peduli remaja Mempunyai kompetensi sesuai dengan bidangnya.
Mempunyai motivasi untuk menolong dan memberikan
dukungan pada remaja.
5. Fasilitas kesehatan Lingkungan yang aman berarti bebas dari ancaman dan
yang peduli remaja tekanan sehingga menimbulkan rasa tenang dan remaja
tidak segan berkunjung kembali.
Lokasi pelayanan yang nyaman dan mudah dicapai.
Fasilitas yang baik menjamin privasi dan kerahasiaan.
Jam kerja yang nyaman menyesuaikan dengan waktu
luang remaja
Tidak ada stigma misalnya kedatangan remaja ke

10
puskesmas semula dianggap pasti memiliki masalah
seksual atau penyalahgunaan NAPZA.
6. Partisipasi atau Remaja mendapat informasi yang jelas tentang adanya
keterlibatan pelayanan, cara mendapatkan pelayanan, kemudia
keluarga memanfaatkan dan mendukung pelaksanaannya.
Remaja perlu dilibatkan secara aktif dalam perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi pelayanan.
7. Keterlibatan Perlu dilakukan dialog dengan masyarakat tentang PKPR
masyarakat sehingga masyarakat :
Mengetahui keberadaan PKPR dan menghargai nilainya.
Mendukung kegiatannya dan membantu meningkatkan
mutumpelayanannya.
8. Berbasis Pelayanan sebaya adalah KIE untuk konseling remaja dan
masyarakat, rujukannya oleh teman sebayanya yang terlatih menjadi
menjangkau ke luar pendidik sebaya ( peer aducator ) dan konselor sebaya (
gedung, serta peer counselor )
mengupayakan
pelayanan sebaya.
9. Pelayanan harus Meliputi kebutuhan tumbuh kembang, dan kesehatan
sesuai dan fisik, psikologis dan sosial.
komprehensif Menyediakan paket komprehensif dan rujukan ke
pelayanan terkait remaja lainya.
Menyederhanakan proses pelayanan dan menghilangkan
prosedur yang tidak penting.
10. Pelayanan yang Dipandu oleh pedoman dan prosedur tetap
efektif penatalaksanaan yang sudah teruji.
Memiliki sarana dan prasarana yang cukup untuk
melaksanakan pelayanan.

11
Mempunyai system jaminan mutu untuk pelayanannya.
11. Pelayanan yang Mempunyai system informasi manajemen termasuk
efisien informasi tentang biaya dan mempunyai sistem agar
informasi itu dapat dimanfaatkan.

5. STRATEGI PELAKSANAAN DAN PENGEMBANGAN PKPR


1. Penggalangan kemitraan dengan membangun kerjasama atau jejaring kerja.
Penggalangan kemitraan didahului dengan advokasi kebijakan publik
sehingga PKPR di puskesmas dapat pula di promosikan oleh pihak lain,
selanjutnya dikenal dan di dukung oleh masyarakat.
2. Pemenuhan sarana dan prasarana dilaksanakan secara bertahap.
3. Penyertaan remaja secara aktif. Dengan dilibatkannya remaja maka informasi
pelayanan dapat cepat meluas.
4. Penentuan biaya pelayanan serendah mungkin bahkan kalau mungkin gratis.
5. Dilaksanakannya kegiatan minimal.
6. Ketepatan penentuan prioritas sasaran. Sasaran ini misalnya remaja sekolah,
remaja jalanan, karang taruna, buruh pabrik, PSK remaja dan sebagainya.
7. Ketepatan pengembangan jenis kegiatan. Perluasan kegiatan PKPR
ditentukan sesuai dengan masalah dan kebutuhan setempat serta sesuai
dengan kemampuan puskesmas.
8. Pelembagaan monitoring dan evaluasi internal. Monitoring dan evaluasi
secara periodik yang dilakukan oleh dinas kesehatan dan tim jaminan mutu
puskesmas merupakan bagian dari upaya peningkatan akses dan kualitas
PKPR (Kemenkes RI, 2011).

12
6. JENIS KEGIATAN DALAM PKPR
1. Pemberian Dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung secara
informasi dan perorangan atau kelompok
edukasi Dilaksanakan oleh guru, pendidik sebaya yang terlatih
mengunakan materi dari puskesmas
Menggunakan metode ceramah Tanya jawab, FGS ( focus
group discussion ), diskusi interaktif yang dilengkapi dengan
alat bantu media cetak atau elektronik.
Menggunakan bahasa yang sesuai denga sasaran dan mudah
di mengerti.
2. Pelayanan klinis Termasuk pemeriksaan penunjang dan rujukan
medis
3. Konseling Interaksi dinamis yang bersifat langsung dan timbal balik
Menghargai kemampuan dan potensi yang ada pada klien
Berorientasi pada pemecahan masalah, mendorong perubahan
prilaku dan pemenuhan kebutuhan klien
Bersifat pribadi namun profesional
Memberikan keterampilan, pengetahuan dan jangkauan
kepada berbagai sumber daya
Membantu klien menanggapi masalah2 dalam kehidupan
klien
Sebaiknya jangan hanya diberikan sekali, sebenarnya
merupakan proses jangka panjang
Konseling dapat diberikan secara individual, maupun
kelompok
Memakai pendekatan humanistik, yaitu individu mempunyai
kebebasan untuk memilih / menentukan yang dianggapnya
terbaik bagi dirinya sendiri

13
Langkah kunci konseling:
1. Great ( berikan salam )
2. Ask ( tanyakan )
3. Tell ( berikan informasi )
4. Help ( bantu )
5. Explaining ( jelaskan )
6. Return ( kunjungan )
Sifat sifat yang diperlukan dari konselor:
1. Menerima
2. Terbuka
3. Memiliki minat dan kesanggupan untuk membantu
orang lain
4. Sabar dan adil, emosi stabil, tenang dan simpatik
5. Supel, ramah, menyenangkan , perhatian terhadap
orang lain
6. Memiliki keberanian menghadapi masalah
7. Memahami batas batas kemampuan yang ada pada
dirinya
8. Mampu mengenal dan memahami klien
4. Pendidikan PKHS merupakan kemampuan psikologis seseorang untuk
Keterampilan memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah dalam
Hidup Sehat kehidupan sehari hari secara efektif.
( PKHS ) PKHS dapat diberikan secara berkelompok dimana saja
disekolah, puskesmas, rumah singgah, sanggar, dll.
Kompetensi psikososial ( PKHS ) memiliki 10 aspek yaitu :
1. Pengambilan keputusan
2. Pemecahan masalah
3. Berfikir kreatif

14
4. Berfikir kritis
5. Komunikasi efektif
6. Hubungan interpersonal
7. Kesadaran diri
8. Empati
9. Mengendalikan emosi
10. Mengatasi stress
5. Pelatihan Keuntungan melatih remaja menjadi kader kesehatan remaja
pendidik dan (pendidik sebaya) yaitu pendidik sebaya akan berperan
konselor sebaya sebagai agen perubah sebayanya untuk berprilaku sehat,
sebagai agen promotor keberadaan PKPR, dan sebagai
kelompok yang siap membantu dalam perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi PKPR. Pendidik sebaya dapat
diberikan pelatihan tambahan untuk memperdalam
keterampilan interpersonal relationship dan konseling
sehingga dapat berperan sebagai konselor remaja.
6. Pelayanan Rujukan kasus ke pelayanan medis yang lebih tinggi, rujukan
rujukan social, dan rujukan pranata hukum.

15
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Suak Ribee dalam hal ini
dilakukan di poli PKPR periode Januari - Mei tahun 2016.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi penelitian ini adalah seluruh remaja kawasan Puskesmas Suak Ribee.
Sampel dipilih secara accidental yaitu pasien yang berobat ke poli PKPR Puskesmas
Suak Ribeeyang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria Inklusi:
Remaja yang berobat ke poli PKPR
Remaja yang berusia 10 19 tahun
Kriteria Eksklusi:
Remaja usia < 10 tahun dan > 19 tahun

3.4 Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan Data Sekunder yang dikumpulkan dari data
buku poli PKPR Puskesmas Suak Ribee periode Januari - Mei tahun 2016.

16
BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Profil Komunitas Umum


4.1.1 Data Geografis
UPTD Puskesmas Suak Ribee adalah Puskesmas kedua di Kota Meulaboh yaitu
ibukota Kabupaten Aceh Barat. Luas Wilayah kerja UPTD Puskesmas Suak Ribee
seluruhnya + 6.328 km2 yang meliputi 10 desa dan kelurahan yang ada di sekitar Suak
Ribee, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Cot Darat Samatiga
b. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Ujong Baroh
c. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Laut
d. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Seuneubok

Wilayah kerja UPTD Puskesmas Suak Ribee sebagian besar merupakan daerah
dataran rendah yang meliputi areal pemukiman, pertanian dan perkebunan (hutan karet
dan sawit) yang berbatasan dengan Kecamatan Samatiga. Sedangkan sebagiannya lagi
merupakan daerah pesisir pantai yang potensial dengan hasil perikanan.

4.1.2 Kependudukan
Tabel 4.1: Distribusi dan Kepadatan Penduduk Puskesmas Suak Ribee tahun
2013
No. Desa / Kelurahan Jlh Pend. KK Lk Pr

1. Suak Indra Puri 2859 110 1063 1410

2. Kampung Pasir 326 100 167 159

3. Kampung Belakang 3115 637 1581 1534

4. Pasar Aceh 312 56 152 160

17
5. Kuta Padang 6529 1502 3289 3240

6. Ujong Kalak 7692 1384 3710 3982

7. Suak Ribee 3058 627 1367 1782

8. Suak Raya 997 301 475 528

9. Suak Nie 159 48 91 68

10. Suak Sigadeng 422 122 210 212

Jumlah 25469 4887 12249 13220

Tabel 4.2: Distribusi dan Kepadatan Penduduk Jamkesmas Tahun 2012


No. Desa / Kelurahan Jmh Penduduk
1. Suak Indrapuri 426
2. Kampung Pasir 349
3. Kampung Belakang 567
4. Pasar Aceh 52
5. Kuta Padang 686
6. Ujong Kalak 852
7. Suak ribee 503
8. Suak Raya 257
9. Suak Nie 89
10. Suak Sigadeng 107
Total 3888

18
4.1.3 Pencapaian Pembangunan Kesehatan
1. Upaya Kesehatan dan Status Kesehatan
Adapun Kegiatan yang sudah dan akan dilaksanakan di UPTD Puskesmas Suak
Ribee Tahun 2012 meliputi Upaya Kesehatan Wajib dan Upaya Kesehatan
Pengembangan.

Upaya Promkes Pendataan


Kesehatan (Promosi - Posyandu
Wajib Kesehatan) - Jumlah Kader
Sosialisasi Lintas Program untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
Menyediakan Poster Kesehatan untuk tiap
desa
Membuat spanduk spanduk kesehatan
Evaluasi
Kesling Pendataan / Survey
- Jamban Keluarga setiap desa
- Limbah keluarga / Perusahaan
- Sumber Air Bersih
- Warung Sehat
Rumah Sehat
- Tempat Umum
- Tempat Pembuangan Sampah
Pengambilan Sampel Air didesa yang di
prioritaskan
Loka Karya Mini ( Lokmin )
Penyuluhan Kesehatan Lingkungan ( di
desa ) Wilayah Kerja

19
Evaluasi
Kesehatan Pendataan
Ibu - Ibu Hamil
Anak - Ibu Hamil dengan Resti
(KIA) - Ibu Menyusui
- Ibu yang bersalin
Penyuluhan tantang ibu Hamil dengan Resti
di Posyandu
Penyuluhan tentang Asi Esklusif (ASI dini)
di Posyandu
Penyuluhan tentang Perawatan Ibu Bersalin
Monitoring Evaluasi
- Angka Kematian Ibu
- Angka Kematian Anak
Keluarga Pendataan
Berencana - Wanita Usia Subur
(KB) - Pasangan Usia Subur
Penyuluhan Tentang Alat Kontrasepsi bagi
PUS didesa ( Posyandu )
Penyuluhan tentang Alat Reproduksi
Wanita
Melakukan Pelayanan KB di PKM &
Posyandu
Monitoring Evaluasi
IMUNISASI Pendataan
- Bayi
- Balita
- Sasaran bayi Imunisasi di tiap desa

20
Pelaksanaan Imunisasi di desa & Posyandu
Penyegaran tentang tekhnis Imunisasi untuk
Perawat dan Bidan Desa
Sosialisasi Pemberian Imunisasi Dasar
Monitoring Evaluasi
Sweeping Imunisasi yang tidak mencukupi
target
Pengobatan Membuat Pencatatan data
- Pengeluaran Obat
- Pemasukan Obat
Menyediakan Obat untuk Pelayanan Rutin
Menyediakan obat untuk Pengobatan missal
P2M Pendataan Penderita Diare di setiap desa
(Surveilen) Pendataan Penderita Penyakit Kulit
Penyuluhan pada Keluarga Penderita diare
Penyuluhan pada Keluarga Penderita
Penyakit Kulit
Monitoring dan evaluasi.
Upaya Unit Pendataan Sekolah Tingkat SD/MI, SMP,
Kesehatan Kesehatan SMA dan sederajat diwilayah kerja PKM
Pengembangan Sekolah Suak Ribee
(UKS) Pendataan Murid SD/MI, SMP, SMA
sederajat
Sosialisasi Lintas Sektor & Lintas Program
Mengadakan Penyuluhan PHBS bagi murid
sekolah SD/MI, SMP, SMA
Monitoring dan Evaluasi

21
Unit Pendataan Jumlah Murid SD/MI, SMP,
Kesehatan SMA di wilayah kerja Puskesmas Suak
Gigi Ribee
Sekolah Pemeriksaan dan Penyuluhan Kesehatan
(UKGS) Gigi ke sekolah-sekolah mengajarkan cara
menyikat gigi yang benar
Monitoring dan Evaluasi
UKGMD Penyuluhan di Posyandu
Monitoring dan Evaluasi
PKPR Pendataan anak sekolah tingkat
SLTP/SLTA sederajat
Sosialisasi tentang PKPR Lintas Program
dan Lintas sektoral
Penyuluhan kesekolah tentang alat
reproduksi dan penyakit seksual seperti
HIV, PMS dll.
Monitoring dan Evaluasi
Upaya Pendataan Penderita Gangguan Jiwa di
Kesehatan sepuluh desa wilayah kerja puskesmas
Jiwa Pendataan keluarga beresiko
Pendataan keluarga sehat
Assesment dan diagnosa
Terapi
Konseling
Obat obatan
Psikoterapi
Home Visite

22
Konseling Keluarga
Evaluasi hasil terapi
Upaya Data jompo di tiap desa
Kesehatan Sosialisasi pencegah osteoporosis
Usila Penyuluhan di desa (Posyandu) tentang
kesehatan pada USILA
Pemberian makanan susu untuk lansia
Evaluasi

4.2 Hasil Penelitian


Hasil data kunjungan yang didapat dari poli PKPR Puskesmas Suak Ribee
periode Januari 2016 Mei 2016 adalah sebagai berikut:

NO JENIS PENYAKIT JAN FEB MAR APR MEI JLH


1 Gangguan Haid 5 4 5 11 21 46
2 Seks Pra Nikah (SPN)
3 Kehamilan Tak diinginkan - - 1 3 4 8
4 Persalinan Remaja - - - - 1 1
5 Abortus
6 Gangguan Gizi :
a. Anemia 11 11 2 17 40 81
b. KEK 1 1 - - 10 12
c. Obesitas - - - 1 6 7
7 NAPZA :
a. Rokok 5 3 - 2 4 14
b. Alkohol
c. Selain rokok dan alkohol - - - 1 - 1
8 Infeksi Menular Seksual

23
9 Infeksi Saluran Reproduksi
10 HIV
11 AIDS
Masalah Kejiwaan dan Retardasi
12 Mental 2 2 - 5 4 13
13 Lain-lain:
a. Infeksi usus 8 8 3 3 5 27
b. Peny. Lambung / Pencernaan 11 11 4 24 12 62
c. Peny. Bakteri
d. Peny. Virus 10 8 2 19 9 48
e. Peny. Susunan saraf 10 10 3 6 6 35
f. Peny. Mata Adneksa 7 6 1 9 3 26
g. Peny. Telinga dan Mastoid 7 6 1 3 4 21
h. Peny. Tekanan Darah
i. Peny. ISPA / Pernafasan 21 10 4 42 28 105
j. Peny. Rongga Mulut 12 11 - 18 9 50
k. Peny. Saluran Kemih 2 2 - 2 2 8
l. Kecelakaan / Keracunan 4 3 - 4 11 22
m. Peny. Kulit dan Jaringan 10 8 3 26 31 78
Jumlah 126 104 29 196 210 665

24
NO JENIS PENYAKIT JUMLAH PERSENTASE
1 Gangguan Haid 46
2 Seks Pra Nikah (SPN) 0
3 Kehamilan Tak diinginkan 8
4 Persalinan Remaja 1
5 Abortus 0
6 Gangguan Gizi :
a. Anemia 81
b. KEK 12
c. Obesitas 7
7 NAPZA :
a. Rokok 14
b. Alkohol 0
c. Selain rokok dan alkohol 1
8 Infeksi Menular Seksual 0
9 Infeksi Saluran Reproduksi 0
10 HIV 0
11 AIDS 0
12 Masalah Kejiwaan dan Retardasi Mental 13
13 Lain-lain:
a. Infeksi usus 27
b. Peny. Lambung / Pencernaan 62
c. Peny. Bakteri 0
d. Peny. Virus 48
e. Peny. Susunan saraf 35
f. Peny. Mata Adneksa 26
g. Peny. Telinga dan Mastoid 21

25
h. Peny. Tekanan Darah 0
i. Peny. ISPA / Pernafasan 105
j. Peny. Rongga Mulut 50
k. Peny. Saluran Kemih 8
l. Kecelakaan / Keracunan 22
m. Peny. Kulit dan Jaringan 78
Jumlah 665 100%

Jenis Penyakit Jumlah Persentase


ISPA 1399 73,51%
Diare 159 8,35%
Campak 17 0,9%
Infeksi Telinga 80 4,2%
Infeksi Mata 48 2,53%
Infeksi Kulit 119 6,26%
Infeksi Saluran 3,94%
Cerna 75
KLL 6 0,31%
Jumlah 1903 100%

26
Jumlah
4% 0% ISPA
3%
1% 4% 6% Diare

8% Campak
Infeksi Telinga
74% Infeksi Mata
Infeksi Kulit
Infeksi Saluran Cerna
KLL

I
I I I Kec
B IS D c nfeksi
nfeksi nfeksi nfeksi elakaan
ulan PA iare ampak saluran
telinga mata kulit lalu lintas
cerna
F
22 2 1 1
ebrua 2 7 8 3
8 4 7 1
ri
M 17 2 1
2 8 6 7 0
aret 0 4 0
A 1 1 1
72 7 5 1 1
pril 3 3 2
M 1 1 1
53 4 1 4 1
ei 2 4 5
J 11 1
8 1 5 4 2 0
uni 5 0

27
J 11 1
0 4 3 8 3 0
uli 0 9
A
13 2
gustu 0 6 2 8 2 0
0 2
s
S
10
eptem 6 1 9 2 9 6 0
0
ber
O
11 1
ktobe 1 5 2 5 5 1
5 2
r
N
11 1 1
ovem 0 4 8 8 0
9 1 0
ber
D
1 1
esem 85 3 3 7 3 0
2 3
ber
J 10 1
1 4 1 2 1 0
anuari 2 0
J 13 1 1 8 4 1 7
6
umlah 99 59 7 0 8 19 5

28
230
220
210
200
190
180 ISPA
170
160
150 Diare
140
130 campak
120
110
100 Infeksi telinga
90
80 Infeksi mata
70
60
50 Infeksi kulit
40
30 Infeksi saluran cerna
20
10 Kecelakaan lalu lintas
0

Gambar 4. Gambaran cakupan program penatalaksanaan PKPR di Puskesmas


JohanPahlawan periodeFebruari 2015 Januari tahun 2016

4.3 Pembahasan
Dari hasil miniprojek ini didapatkan hasil bahwa angka tertinggi terdapat pada
kasus infeksi saluran pernafasan akut(1399 kasus) yang selanjutnya berurutan diikuti
diare (159 kasus), infeksi kulit (119 kasus), infeksi telinga (80 kasus), infeksi saluran
cerna(75 kasus), infeksi mata (48 kasus), campak (17 kasus) dan kasus kecelakaan lalu
lintas (6 kasus) dari keseluruhan angka kunjungan selama setahun 1903 kasus.
Untuk meningkatkan penemuan penderitatuberkulosis, ISPA, Malaria, DBD
secara dini pada anakBalita diperlukan puskesmas dan Dinas KesehatanKabupaten
(DKK) setiap daerah menerapkan suatumetode yang bersifat aktif selektif, yaitu PKPR.
Aspekpositif dari data yang ada adalah walaupun Case DetectionRate (CDR) rendah

29
(karena penemuan pasif) tetapi targetcure rate tercapai, ini menunjukkan bahwa 85%
dari yangditemukan sembuh berarti ada pemutusan rantai penularandengan sekitarnya.
Selain peran para petugas kesehatan juga diperlukan peran ibu dalam menekan
kasus angka kesakitan anak.Dari aspek imunologik, ASI mengandung zat antiinfeksi,
bersih dan bebas kontaminasi. Immunoglobulin A(IgA) dalam kolostrum atau ASI
kadarnya cukup tinggi. Sekretori IgA tidak diserap tetapi dapat melumpuhkanbakteri
patogenE. coli dan berbagai virus pada saluranpencernaan. Laktoferin yaitu sejenis
protein yangmerupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zatbesi di saluran
pencernaan. Lisosim, enzim yangmelindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan
Salmonella)dan virus. Jumlah lisosim dalam ASI 300 kali lebihbanyak daripada susu
sapi. Sel darah putih pada ASI pada2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri
dari3 macam yaitu: Bronchus-Asociated Lympocyte Tissue(BALT) antibodi pernafasan,
Gut Asociated LympocyteTissue (GALT) antibodi saluran pencernaan, danMammary
Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu. Bakteri ini
menjaga keasamanflora usus bayi dan berguna untuk menghambatpertumbuhan bakteri
yang merugikan. Namun sampaisaat ini belum ada data yang menunjukkan bahwa
kualitaskolostrum dan ASI pada ibu menyusui penderita TB-Paruapakah masih sama
dengan ibu menyusui yang memilikistatus gizi dan kesehatan yang baik. Oleh karena itu,
perlupenelitian tentang kualitas kolostrum ASI pada penderitaTB Paru hubungannya
dengan status gizi bayinya.Hasil penelitian Hanim, dkk (2009) menunjukkanbahwa
pemberian ASI eksklusif enam bulan merupakanjaminan ketahanan pangan bagi bayi-
bayi yang sehatmaupun sedang sakit.Tidak ada bahan makanan yangselalu tersedia
setiap saat, terjangkau dan bernilai gizitinggi selain ASI, karena ASI saja merupakan
makananlengkap untuk bayi hingga berumur 6 bulan.Oleh karenaitu, disarankan untuk
memberi ASI eksklusif (hanya diberiASI hingga berumur 6 bulan).Penelitian ini
telahmengkaji hal tersebut pada ibu menyusui yang menderitatuberkulosis.Ternyata ada
perbedaan psikologis dalampemberian ASI eksklusif enam bulan antara penderita TBdan
ibu menyusui yang sehat.Pemberian MP-ASI yangterlalu dini mengganggu penyerapan
zat besi dalam ASI.Namun meskipun menderita anemi, ibu tetap dapatmemproduksi ASI

30
yang cukup untuk bayi mereka (WHO,2002). Begitu pula pada ibu menyusui penderita
penyakitkronis seperti tuberkulosis akan tetap dapat memproduksiASI yang cukup untuk
bayi mereka. Berdasarkan haltersebut tidak ada alasan untuk tidak memberikan
ASIsecara eksklusif selama enam bulan.Selanjutnya PKPR pada bayi yang
masihmendapat ASI ternyata bayi lebih cepat berhasil sembuh dibanding bayi yang tidak
mendapat ASI secaraeksklusif.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari mini project yang telah dilakukan di Poli Anak Puskesmas
Suak Ribee periodeFebruari 2015 - Januari 2016 dapat disimpulkan bahwa angka
kesakitan tertinggi terdapat pada kasusinfeksi saluran pernafasan akut yang selanjutnya
berurutan diikuti diare, infeksi kulit, infeksi telinga, infeksi saluran cerna, infeksi mata,

31
campak dan kasus kecelakaan lalu lintas. Untuk mengurangi jumlah angka ini, selain
peran dari tenaga kesehatan juga sangat diperlukan peran ibu dalam pemberian ASI
eksklusif.

5.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan program promosi kesehatan ke seluruh lapisan masyarakat
2. Pengadaan evaluasi dan diskusi secara berkala tentang ilmu kesehatan di
masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Chaturvedi dan Kanupriya Chaturvedi. 2003. Adaptationof the Integrated


Management of Newborn and Childhood Illness (IMNCI) Strategy for India.

Depkes RI. 2008. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.

32
Lesley Bamford. 2008. IMCI: new developments and trends. National
Department of Health.

Soenarto, Yati. PKPR: Strategi Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Anak.


Disampaikan padaSimposium Pediatri TEMILNAS 2009 Surakarta 01 Agustus 2009.

Surjono, Achmad. Endang DL, Alan R. Tumbelaka, et al.1998. Studi


Pengembangan Puskesmas ModelDalam Implementasi Manajemen Terpadu Balita
Sakit (PKPR). Dalam: http://www.chnrl.net/publikasi/pdf/PKPR.pdf (Diakses 1 Maret
2010).

WHO. 2002. Overview of IMCI strategy and implementation. Department


Child and AdolescentHealth and Development. Jeneva

Wijaya, Awi M. 2009. Manajemen Terpadu Balita Sakit(PKPR).Diunduh dari


:http://infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=37:manajem
en-terpadu-balita-sakit-PKPR&catid=27:helath-programs&Itemid=44 (Diakses 10
November 2015)

33