You are on page 1of 19

I.

Permodelan Tsunami dan Implikasinya Terhadap Mitigasi Bencana di Kota


Palu
Kota Palu Sulawesi Tengah adalah salah satu wilayah di Indonesia yang rentan terhadap
bencana tsunami dan perlu memiliki suatu rencana tindakan preventif dan mitigasi untuk
mengurangi potensi resiko. Studi ini menganalisa zona genangan tsunami dan implikasinya
terkait kegiatan mitigasi bencana di Kota Palu. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif
menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan wilayah yang rawan
bencana tsunami. Studi ini menggunakan cost distance untuk memodelkan bencana tsunami,
serta menggunakan spatial analyst dan network analyst untuk menganalisa tingkat bahaya,
kerentanan, dan resiko bencana tsunami, serta penentuan rute evakuasi. Analisis
mengindikasikan berikut ini: (1) Kota Palu memiliki potensi yang besar terhadap rendaman
tsunami, (2) kawasan bahaya tsunami mencakup 9,63% dari total luas kota, (3) kawasan rentan
tsunami 9,83% total luas kota, (4) kawasan resiko tsunami 3,83% total luas kota, dan (5)
terdapat 50 shelter sebagai lokasi evakuasi dan 108 rute evakuasi di seluruh kota. Kawasan
terbangun di wilayah pesisir Teluk Palu teridentifikasi memiliki tingkat resiko bencana tsunami
yang tinggi. Jalur evakuasi yang ada tersebar melalui kawasan terbangun dengan jumlah rute
yang berbanding lurus dengan kepadatan penduduk

PENDAHULUAN
Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara yang paling sering dilanda tsunami
dengan 71 kejadian atau hampir 9% dari jumlah tsunami di dunia. Penyebab kenapa Indonesia
menduduki peringkat kedua tersebut karena letak geografis Indonesia yang berada pada
pertemuan tiga lempeng utama pembentuk kerak bumi, yaitu Lempeng Eurasia yang bergerak
ke arah tenggara dan Lempeng Indo-Australia yang bergerak memanjang di Samudera Hindia
dari arah utara (Aceh) hingga sekitar Laut Timor di timur dan Lempeng Pasifik yang bergerak
di sekitar Samudera Pasifik hingga utara Papua. Berdasarkan pengalaman historis, kejadian
tsunami sangat membahayakan bagi komunitas masyarakat di wilayah pesisir pantai, meskipun
daerah tersebut jauh dari kawasan yang rawan gempa bumi (tektonik maupun vulkanik) bawah
laut. Dampak yang dapat ditimbulkan akibat bencana tsunami sangatlah besar, yaitu dapat
berupa kematian, kehilangan harta benda, kehancuran sarana dan prasarana khususnya di
daerah pesisir pantai, menimbulkan gangguan ekonomi dan bisnis, bahkan dapat mengganggu
keadaan psikologis (traumatic) masyarakat. Negara-negara atau kota yang rentan terhadap
bencana tsunami sudah selayaknya memiliki suatu tindakan preverentif dan mitigasi untuk
menghadapi serangan tsunami baik itu pra maupun pasca agar mengurangi resiko yang
ditimbulkan bencana tsunami, sesuai dengan Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana. Tindakan yang dapat dilakukan antara lain dengan pembuatan
dokumen mitigasi bencana, pembangunan lokasi evakuasi yang dapat digunakan baik yang
bersifat alamiah berupa bukit, maupun buatan berupa bangunan khusus untuk penampungan
masyarakat saat terjadi bencana. Selain itu, pembuatan rambu evakuasi dan rute evakuasi serta
penyuluhan kepada masyarakat agar masyarakat menjadi terlatih dan tidak panik saat bencana
tsunami benar-benar terjadi. Salah satu dari sekian banyak wilayah di bagian timur Indonesia
yang menyimpan potensi tsunami yang cukup besar adalah Kota Palu dan sekitarnya. Tercatat
telah terjadi tiga kali kejadian di sekitar Teluk Palu, yaitu pada tahun 1927, 1968 dan 1996,
sementara sekitar Kota Palu (Sulawesi Tengah) terdapat 6 kejadian. Wilayah Kota Palu dan
sekitarnya terdapat beberapa potongan sesar yang sangat berpotensi membangkitkan gempa
bumi yang cukup kuat. Sesar tersebut adalah Sesar Palu-Koro yang memanjang dari Palu ke
arah Selatan dan Tenggara melalui Sulawesi Selatan bagian Utara menuju ke selatan Bone
sampai di Laut Banda. Khusus kejadian-kejadian tsunami di Kota Palu dan sekitarnya, belum
ada suatu kajian model bahaya bencana tsunami berupa jangkauan rendaman tsunami yang
merupakan hal penting dalam kegiatan mitigasi. Karena sebelum melakukan kegiatan mitigasi,
diperlukan suatu pendekatan ilmiah terhadap potensi bahaya tsunami yang dapat terjadi di
sekitar Kota Palu. Untuk itu, dibutuhkan suatu kajian berupa permodelan tsunami dan
implikasinya terhadap mitigasi bencana di Kota Palu yang diharapkan dapat menjadi masukan
dalam kegiatan mitigasi bencana di Kota Palu. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk
mengetahui zona genangan tsunami dan implikasinya terhadap kegiatan mitigasi bencana di
Kota Palu dengan beberapa sasaran yaitu membuat permodelan zona genangan tsunami yang
ada di sekitar Kota Palu dengan skenario variasi ketinggian run-up pada garis pantai,
mengetahui daerah resiko bencana tsunami di Kota Palu, menemukan lokasi evakuasi apabila
terjadi bencana tsunami di Kota Palu, serta menentukan rute evakuasi tsunami di Kota Palu.
Sejarah Gempa Bumi danTsunami di Kota Palu
Daerah Palu merupakan salah satu kawasan seismic aktif di Indonesia karena dilalui
segmentasi sesar yang sangat berpotensi membangkitkan gempa bumi kuat, yaitu Sesar Palu-
Koro yang memanjang dari Palu ke arah Selatan dan Tenggara. Ditinjau dari kedalaman gempa
buminya, aktivitas gempa bumi di zona ini tampak didominasi oleh gempa bumi kedalaman
dangkal antara 0 hingga 60 kilometer. Dengan demikian, aktivitas tersebut beresiko untuk
menimbulkan tsunami. Kerawaan gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan sekitarnya ini
terbukti dengan beberapa catatan sejarah gempa bumi dan tsunami yang berlangsung sejak
tahun 1927, seperti gempa bumi dan tsunami Palu 1927, gempa bumi dan tsunami Tambu
1968, dan gempa bumi dan tsunami Toli-Toli dan Palu 1996 (Daryono, 2011). Berikut
merupakan lokasi episentrum kejadian gempa bumi yang membangkitkan tsunami yang
menyerang Kota Palu.

Batas Administrasi dan Letak Geografis Kota Palu


Kota Palu secara geografis berada di tengah wilayah Kabupaten Donggala. Tepatnya sepanjang
bibir pantai Teluk Palu atau memanjang dari timur ke barat, terletak di sebelah utara garis
katulistiwa pada koordinat 0,351,20 Lintang Utara dan 120 122,09 Bujur Timur. Luas
wilayah Kota Palu adalah 369,46 km2 atau 36.946 ha dan terdiri atas 8 Kecamatan. Lebih jelas
mengenai batas administrasi dan letak geografis Kota Palu, dapat dilihat pada Gambar 2.

Penggunaan Lahan Kota Palu


Penjelasan mengenai jenis dan luasan penggunaan lahan Kota Palu dapat dilihat pada Tabel 1.

Permodelan zona genangan tsunami di sekitar Kota Palu


Permodelan zona genangan tsunami dilakukan dengan menggunakan lima scenario ketinggian
run-up pada garis pantai, yakni 1m, 2m, 5m, 10m, dan 15m. Dari permodelan tersebut
ditunjukkan bahwa pada skenario ketinggian run-up 1 meter, rendaman tsunami menggenangi
wilayah Kota Palu seluas 328,2 Ha dimana mayoritas wilayah yang tergenang masih berupa
lahan kosong dan sedikit permukiman. Genangan terluas terdapat di Kecamatan Palu Utara
dengan luas 112,06 ha atau 34,14% dari total luas wilayah yang tergenang tsunami dengan
ketinggian 1 meter. Wilayah genangan terkecil berada di Kecamatan Palu Timur, yang hanya
seluas 14,60 ha atau 4,45% dari total luas wilayah genangan tsunami 1 meter. Pada permodelan
tsunami dengan ketinggian run-up 2 meter ini, genangan tsunami menjalar hingga tambak-
tambak penduduk. Total luas wilayah yang tergenang dalam skenario ini adalah 706,25 Ha atau
meningkat 53,52 % dari luasan genangan tsunami pada skenario run-up 1 meter. Kecamatan
dengan wilayah genangan terbesar adalah Kecamatan Palu Utara seluas 202,5 ha atau 30,09%.
Sedangkan wilayah genangan terkecil adalah Kecamatan Palu Timur dengan luasan 33,85 ha
dengan persentase 4,79%. Pada permodelan tsunami dengan ketinggian run-up 5 meter,
genangan tsunami semakin menjalar ke wilayah daratan. Berdasarkan hasil permodelan
diperoleh hasil bahwa genangan tsunami dengan ketinggian 5 meter telah memasuki wilayah
permukiman penduduk ke arah pusat Kota Palu. Wilayah dengan luas genangan terkecil adalah
Kecamatan Palu Timur dengan luas 117,29 Ha, sedangkan wilayah dengan genangan terluas
adalah Kecamatan Palu Utara dengan luas 428,47 Ha (28,12% dari total luas wilayah genangan
pada ketinggian run-up 5 meter). Pada ketinggian 10 meter, genangan tsunami telah menjalar
hingga Sungai Palu, wilayah permukiman di sekitar sungai, sebagian permukiman dan lahan
kosong di sepanjang pantai bagian barat sisi timur, dan permukiman-permukiman lain yang
mengarah ke arah pusat kota. Luas genangan pun semakin besar, yaitu 2380, 59 Ha, dimana
luas genangan terbesar berada di Kecamatan Palu Utara (619,39 Ha). Bahkan, Kecamatan Palu
Selatan dan Kecamatan Tatanga yang sebelumnya tidak tergenang tsunami, diprediksikan turut
tergenang seluas 0,10 Ha dan 7,92 Ha jika terjadi tsunami dengan ketinggian 10 meter.
Permodelan tsunami dengan ketinggian run-up 15 meter tergolong tingkat bahaya sangat
tinggi. Hasil permodelan pada ketinggian 15 meter menunjukkan bahwa genangan tsunami
semakin meluas dan menjalar ke arah pusat Kota Palu. Luasan genangan tsunami mencapai
3458,56 Ha atau meluas 31,16% dari luasan genangan tsunami pada ketinggian 10 meter. Luas
genangan terbesar berada di Kecamatan Palu Utara dan luas genangan terkecil berada di
Kecamatan Palu Selatan dengan luas masing-masing 842,84 Ha dan 34,94 Ha. Permodelan
tsunami dengan ketinggian run-up 15 meter dapat dilihat pada Gambar 3A.

Zona Bahaya Tsunami


Secara umum, luas bahaya tsunami Kota Palu adalah 3558,56 ha atau 9,63% dari luas
wilayah Kota Palu (luas Kota Palu adalah 36.946 ha). Seluruh wilayah kecamatan yang ada di
Kota Palu memiliki potensi terkena bahaya tsunami, baik mulai tingkat bahaya rendah hingga
tingkat bahaya sangat tinggi, kecuali Kecamatan Palu Selatan dan Kecamatan Tatanga yang
tidak memiliki bahaya tsunami yang sangat tinggi. Kecamatan yang mempunyai luas bahaya
tsunami terbesar adalah Kecamatan Palu Utara, yaitu 842,84 Ha. Luas Kecamatan Palu Utara
adalah 3171 Ha sehingga luas kecamatan yang diprediksikan tergenang adalah 26,58% dari
luas wilayah total. Kecamatan dengan luas bahaya tsunami terkecil adalah Kecamatan Palu
Selatan.

Zona Kerentanan Tsunami


Parameter yang digunakan dalam penentuan tingkat kerentanan Kota Palu terhadap tsunami
adalah kepadatan bangunan, jumlah penduduk wanita, balita, dan manula, serta kepadatan
penduduk. Dari parameter tersebut, diperoleh 4 klasifikasi tingkat kerentanan tsunami di Kota
Palu, yaitu kerentanan rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Secara umum wilayah Kota
Palu termasuk dalam klafisikasi kerentanan tinggi terhadap tsunami. Wilayah yang mempunyai
kerentanan tinggi di Kota Palu adalah seluas 1190,91 Ha atau 32,78% dari total wilayah
rentan di Kota Palu. Wilayah dengan kerentanan rendah seluas 1103,20 Ha, wilayah
kerentanan sedang seluas 1076,50 Ha, serta wilayah kerentanan sangat tinggi seluas 262,61 Ha.
Jika dirinci per kategori kecamatan, kecamatan dengan luas kerentanan rendah terbesar adalah
Kecamatan Kecamatan Palu Utara (288,57 Ha), kecamatan dengan luas kerentanan sedang
terbesar adalah Kecamatan Mantikulore (304,61 Ha), kecamatan dengan luas kerentanan tinggi
terbesar adalah Kecamatan Mantikulore (359,87 Ha), dan kecamatan dengan luas kerentanan
sangat tinggi terbesar adalah Kecamatan Palu Selatan (179,54 Ha).

Zona Resiko Bencana Tsunami


Resiko bencana tsunami merupakan hasil interaksi antara potensi bahaya (hazard) dengan
tingkat kerentanan daerah (vulnerability). Luas wilayah beresiko tsunami di Kota Palu yang
adalah 1416l,02 Ha. Dari luas wilayah tersebut, mayoritas merupakan wilayah beresiko tinggi,
yaitu seluas 710,55 Ha. Jika dirinci per kategori, wilayah beresiko rendah mempunyai luas
90,91 Ha dengan wilayah terluas di Kecamatan Palu Utara (31,34 Ha), wilayah beresiko
sedang seluas 402,59 Ha dengan wilayah terluas di Kecamatan Ulujadi (127,15 Ha), serta
wilayah beresiko sangat tinggi seluas 211,97 Ha dengan luasan terbesar di Kecamatan Palu
Timur (126,46 Ha).
Lokasi Rawan dan Lokasi Evakuasi
Lokasi rawan yaitu merupakan lokasi kawasan terbangun yang mengalami penggenangan
(termasuk zona resiko) ataupun yang dekat dengan lokasi penggenangan. Berdasarkan kondisi
dilapangan, terdapat 108 lokasi rawan yang dijadikan bangkitan dalam penentuan rute
evakuasi. Kemudian, berdasarkan kriteria prioritas lokasi evakuasi di atas dan pengamatan di
lapangan, diperoleh lokasi evakuasi sebanyak 161 unit, dimana sebagian besar bangunan yang
dapat digunakan sebagai shelter berupa bangunan peribadatan dan juga bangunan
pemerintahan serta pendidikan.
Rute Evakuasi
Jaringan yang dipergunakan dalam pembuatan rute evakuasi tsunami yaitu jaringan jalan. Nilai
pada tiap segmen jalan adalah waktu tempuh tiap segmen dengan memasukkan nilai waktu
rata-rata orang berjalan yaitu sebesar 0,75 m/detik. Berdasarkan hasil penentuan rute evakuasi,
diperoleh sebanyak 108 rute evakuasi terpilih dan dari 161 bangunan/shelter yang dapat
dijadikan sebagai lokasi evakuasi, terdapat 50 lokasi yang terpilih. Lokasi tersebut terbagi lagi
dalam dua kelompok berdasarkan lokasinya yaitu didalam kawasan yang terkena resiko
tsunami maupun kawasan yang aman terhadap resiko tsunami.

KESIMPULAN
Permodelan tsunami merupakan suatu langkah awal untuk menilai sejauh mana potensi yang
dimiliki oleh Kota Palu terhadap bencana tsunami. Hasil dari permodelan ini dapat dijadikan
masukan secara langsung untuk mendeliniasi wilayah yang bahaya terhadap tsunami. Tindakan
yang dilakukan sebagai implikasi terhadap bentuk mitigasi bencana tsunami di Kota Palu
adalah mitigasi pasif atau non fisik yaitu berupa kajian kebencanaan meliputi analisa kawasan
bahaya tsunami, kawasan rentan tsunami, kawasan resiko bencana tsunami, dan penentuan
lokasi evakuasi berdasarkan ketentuan building code serta penentuan rute evakuasi. Secara
geografis, Kota Palu memiliki potensi yang sangat besar terhadap rendaman dari gelombang
tsunami. Kawasan terbangun di Kota Palu terutama yang terletak di wilayah pesisir Teluk Palu
yang memiliki tingkat resiko bencana tsunami yang cukup tinggi, sedangkan jalur yang
digunakan sebagai rute evakuasi tersebar melalui kawasan terbangun dengan jumlah rute yang
berbanding lurus dengan kepadatan penduduk yang ada di kawasan tersebut. Bangunan/shelter
yang terpilih sebagai bangunan evakuasi berdasarkan kriteria bangunan evakuasi tersebar
mayoritas di wilayah yang tidak beresiko tsunami. Namun, ada beberapa lokasi evakuasi yang
berada dalam wilayah yang beresiko terkena bencana tsunami. Mengutamakan pengintegrasian
tindakan mitigasi bencana tsunami di Kota Palu ke dalam bentuk dokumen tata ruang seperti
Dokumen Peraturan Daerah (Perda) RTRW Kota Palu, RDTRK, izin lokasi, dan Izin
Mendirikan Bangunan (IMB) sesuai dengan karakteristik potensi bencana tsunami di Kota
Palu. Pentingnya penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana tsunami ini juga telah
didukung dan dilandasi oleh undang-undang seperti UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, serta UU No. 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
DAFTAR PUSTAKA
ADPC. 2002. Replication of Urban Disaster Mitigation Initiatives. Bandung: ITB.
Aris, Rahmat. 2009. Arahan Penataan Guna Lahan di Kawasan sekitar Bandar Udara Mutiara
Kota Palu. Skripsi. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Tidak dipublikasikan.
Awotona, Adenrele. 1997. Reconstruction After Disaster: Issues and Practices. Aldershot:
Ashgate.
Bapeda Kota Palu. 2006. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palu Tahun 2006-2025. Palu:
Pemerintah Kota Palu.
Berryman, K. 2006. Review of Tsunami Hazard and Risk in New Zealand. New Zealand:
Institute
of Geological and Nuclear Science.
Borah, R. (2007). Tsunami Hazard and Damage Assessment. Bangkok: Geoinformatics Center,
Asian Institute of Technology (AIT).
Budiarjo, A. 2006. Evacuation Shelter Building Planning For Tsunami-Prone Area; A Case
Study
Of Meulaboh City, Indonesia. Thesis dipublikasikan. Netherlands: International Institute
For Geo-Information Science And Earth Observation
Daryono. 2011. Tataan Tektonik dan Sejarah Kegempaan Palu, Sulawesi Tengah. Artikel
Kebumian. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Davidson, Rachael A. 1997. An UrbanEarthquake Disaster Risk Index. Department of Civil
Engineering Stanford University: California.
Diposaptono, S dan Budiman. 2008. Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami. Bogor: Buku
Ilmiah Populer.
Firmansyah. 1998. Identiflkasi Resiko Bencana Gempabumi dan Implikasinya Terhadap
Penataan Ruang Di Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung. Tesis Magister Institut
Teknologi Bandung, Tidak dipublikasikan.
Illyas, Tommy. 2006. Mitigasi Gempa dan Tsunami di Daerah Perkotaan. Seminar Bidang
Kerekayasaan Fakultas Teknik-Universitas Samratulangi.
Kaharuddin, MS. 2011. Perkembangan Tektonik dan Implikasinya terhadap Potensi Gempa dan
Tsunami di Kawasan Pulau Sulawesi. Proceedings JCM Makassar.
Putra, Rudiansyah. 2008. Kajian Risiko Tsunami terhadap Bangunan Gedung Non-hunian
dengan Skenario Variasi Ketinggian Run-up pada Garis Pantai (Studi Kasus Kota Banda
Aceh, Indonesia). Tesis. Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Tidak dipublikasikan.
Sea Defence Consultants. 2007. Pedoman perencanaan Pengungsian tsunami (Tsunami Refuge
Planning). Aceh: Sea Defence Consultants.
UNESCO-IOC. 2006. Rangkuman Istilah Tsunami. Informasi Dokumen IOC No. 1221. Paris:
UNESCO.
UNDP. 2003. Tinjauan Umum Manajemen Bencana (Edisi 2). New York: UNDP.
II. A. Proses Endogen juga dikenal sebagai proses hypogene. Ini adalah proses internal
bumi. Dengan kata lain, proses yang berasal dalam kerak bumi disebut endogen. Proses ini
terjadi di dalam bumi dan diatur oleh kekuatan yang melekat dalam bumi dan terkena
dampak oleh pengaruh eksternal.

Proses ini menyebabkan fenomena, seperti gempa bumi, kemunculan dan perkembangan
benua, palung laut dan punggung pegunungan, pembentukan aktivitas gunung berapi,
metamorfosis dari batuan, deformasi dan pergerakan kerak bumi baik secara vertikal dan
lateral, dll.

Fitur geomorfik yang dihasilkan oleh proses ini memberikan pengaturan untuk proses
eksogen. Semua fitur yang tertinggal oleh proses endogen selalu dimodifikasi oleh proses
eksogen.

Proses endogen sebagian besar disebabkan oleh energi panas dari mantel dan kerak bumi.
Energi panas ini berasal dari pembusukan dan disintegrasi unsur radioaktif dan dari
diferensiasi gravitasi dalam mantel. Beberapa proses endogen penting dan berperan dalam
evolusi bentuk tanah seperti yang dijelaskan di bawah ini:

Gempa bumi

Gempa bumi adalah bentuk energi gerak gelombang yang ditransmisikan melalui lapisan
permukaan bumi, mulai dari tremor samar sampai gerakan liar mampu menguncangkan
bangunan hingga ambruk dan menyebabkan celah pada tanah. Gempa bumi sebagian besar
diproduksi karena dislokasi batuan bawah tanah.

Gerakan tektonik

Gerakan tektonik kerak bumi dari berbagai bentuk dan ditandai dengan kompleksitas yang
besar. Dalam perjalanan sejarah geologi kerak bumi, batu telah meremas ke dalam lipatan,
mendorong satu sama lain, pecah dll. Sehingga menimbulkan gunung, pegunungan, palung
laut dan bentang alam lainnya.
Proses tektonik mengangkat atau membangun bagian-bagian dari permukaan bumi disebut
diastrofisme, yang mencegah proses eksogen dari akhirnya mengurangi lahan bumi dengan
permukaan laut. Ini adalah dua jenis yaitu. (a) Orogeny dan (b) Epeirogeny.

Sementara Orogeny mengacu pada kegiatan pembentukan gunung dengan deformasi kerak
bumi, Epeirogeny mengacu pada pengangkatan regional dengan deformasi nyata.

Perpindahan lateral dari blok kerak yang diwujudkan dalam fenomena seperti pergeseran
benua, dasar laut, penyebaran dll

Vulkanisme

Ini adalah fenomena di mana materi ditransfer dari interior bumi dan meletus ke permukaan.
Ini adalah salah satu manifestasi penting dari sifat dinamis bumi. Proses erfusi bahan
magmatik ke permukaan bumi, sehingga membentuk berbagai struktur vulkanik dan/atau
mengalir di atas permukaan, disebut vulkanisme.

Kadang-kadang magma dalam perjalanan ke atas tidak mencapai permukaan dan


mendinginkan di berbagai kedalaman menimbulkan bentuk tubuh magmatik tidak teratur,
yang disebut intrusives atau pluton.

Fenomena ini dikenal sebagai magmatisma intrusif. Meskipun gangguan tidak langsung
bertanggung jawab untuk fitur topografi keberadaan mereka di kerak atas bumi dapat
mempengaruhi untuk sebagian besar fitur topografi daerah yang dibentuk oleh proses
eksogen

Metamorfisme

Menurut Turner & Verhoogen penyesuaian mineralogi dan struktural batuan padat dengan
kondisi fisik dan kimia yang ada pada kedalaman di bawah zona pelapukan dan penyemenan
permukaan dan yang berbeda dari kondisi di mana batu tersebut berasal dikenal sebagai
metamorfisme.

Metamorfisme melibatkan transformasi batu yang sudah ada ke dalam jenis batu baru oleh
aksi temperatur, hidrostatik serta tekanan diarahkan dan cairan kimia aktif. Fitur utama dari
proses metamorf adalah perubahan iso-kimia dan berlangsung dalam keadaan padat.
Contoh Bentang Alam yang terkait adalah Bentang Alam Vulkanisme dan Struktural

Bentuk lahan vulkanis adalah bentuk lahan hasil kegiatan gunung berapi baik yang
tersusun dari bahan gunung api yang sudah keluar ke permukaan bumi (ekstrusi) maupun
yang membeku dalam permukaan bumi (instrusi). Bentuk lahan vulkanis secara sederhana
terbagi atas dia yaitu :

a. Bentuk-bentuk eksplosif (karakter letusan, ash dan cinder cone)


b. Bentuk-bentuk effusif (aliran lava/lidah lava, bocca, plateau lava, aliran lahar dan lainnya)
yang membentuk bentangan tertentu dengan distribusi di sekitar kepundan, lereng bahkan
kadang sampai kaki lereng. Struktur vulkanik yang besar biasanya ditandai oleh erupsi yang
eksplosif dan effusif, yang dalam hal ini terbentuk volkanostrato. Erupsi yang besar mungkin
sekali akan merusak dan membentuk kaldera yang besar.

Bentuklahan Struktural
Pembentukan lahan pada proses geomorfologis mempunyai banyak asal yang berguna
untuk mengawali kajian tekstur lahannya. Salah satunya adalah bentuk lahan asal struktural.
Bentuk lahan asal struktural merupakan proses pembentukan lahan yang disebabkan oleh
adaya proses endogen. Misalnya proses pengangkatan, penurunan dan pelipatan kerak bumi.
Contoh dari bentuk lahan asal struktural adalah pegunungan lipatan, pegunungan patahan dan
pegunungan kubah.
bentuk lahan asal structural tersusun dari seseri lapisan, baik yang telah terusik oleh
suatu tekanan maupun yang belum terusik. terbentuk karena adanya proses endogen berupa
tektonisme atau diastropisme . proses ini meliputi pengangkatan, penurunan dan pelipatan
kerak bumi sehingga terbentuk strujtur geologi lipatan dan patahn. selain itu terdapat struktur
horizontal yang merupakan struktur asli sebelum mengalami perubahan. dari struktur pokok
tersebut dapat dirinci menjadi berbagai bentuk berdasarkan sikap lapisan batuan dan
kemiringannya.
B. Tenaga Eksogen adalah Tenaga yang berasal dari luar bumi dan bersifat merusak
atau merombak permukaan bumi yang sudah terbentuk oleh tenaga endogen.

Tenaga Eksogen dibagi menjadi 4, yaitu :

Sedimentasi
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air,
angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai adalah
hasil dan proses pengendapan material-material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan
bukit pasir (sand dunes) yang terdapat di gurun dan di tepi pantai adalah pengendapan dari
material-material yang diangkut oleh angin.
Sedimentasi dapat dibedakan menjadi:
A. Sedimentasi air terjadi di sungai.
B. Sedimentasi angin biasanya disebut sedimentasi aeolis
C. Sedimentasi gletser mengahasilkan drumlin,moraine,ketles,dan esker

Pelapukan
Pelapukan adalah proses alterasi dan fragsinasi batuan dan material tanah pada dan atau
dekat permukaan bumi yang disebabkan karena proses fisik, kimia dan biologi. Hasil
dari pelapukan ini merupakan asal (source) dari batuan sedimen dan tanah (soil). Kiranya
penting untuk ketahui bahwa proses pelapukan akan menghacurkan batuan atau bahkan
melarutkan sebagian dari mineral untuk kemudian menjadi tanah atau diangkut dan
diendapkan sebagai batuan sedimen klastik. Sebagian dari mineral mungkin larut secara
menyeluruh dan membentuk mineral baru. Inilah sebabnya dalam studi tanah atau batuan
klastika mempunyai komposisi yang dapat sangat berbeda dengan batuan asalnya.
Komposisi tanah tidak hanya tergantung pada batuan induk (asal) nya, tetapi juga
dipengaruhi oleh alam, intensitas, dan lama (duration) pelapukan dan proses jenis
pembentukan tanah itu sendiri.
Di alam pada umumnya ke tiga jenis pelapukan (fisik, kimiawi dan biologis) itu bekerja
bersama-sama, namun salah satu di antaranya mungkin lebih dominan dibandingkan dengan
lainnya. Walaupun di alam proses kimia memegang peran yang terpenting dalam pelapukan,
tidak berarti pelapukan jenis lain tidakpenting. Berdasarkan pada proses yang dominan
inilah maka pelapukanbatuan dapat dibagi menjadi pelapukan fisik, kimia dan
biologis.Pelapukan merupakan proses proses alami yang menghancurkan batuan menjadi
tanah.
Jenis Pelapukan :
A. Pelapukan biologi: merupakan pelapukan yang disebabkan oleh makhluk hidup. contoh:
tumbuhnya lumut
B. Pelapukan fisika: merupakan pelapukan yang disebabkan oleh perubahan suhu atau
iklim. Contoh : perubahan cuaca
C. Pelapukan kimia: merupakan pelapukan yang disebabkan oleh tercampurnya batuan
dengan zat zat kimia. Contoh: tercampurnya batu oleh limbah pabrik yang mengandung
bahan kimia.

Erosi
Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya)
akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain
di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang,
dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana
merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau
gabungan keduanya.
Jenis-Jenis Erosi :
A. Erosi Tanah
B. Erosi Angin
C. Erosi Es (Gletser)
D. Erosi Air

Wasting
Mass Wasting atau dalam bahasa Indonesia adalah pembuangan massa, adalah sistem
pengangkutan massa puing-puing batuan menuruni lereng akibat pengaruh langsung tenaga
gravitasi. Ketika gaya gravitasi yang bekerja pada lereng melebihi kekuatannya melawan,
kemiringan kegagalan (Mass Wasting) terjadi. Kekuatan material lereng dan kohesi jumlah
gesekan internal antara bantuan bahan menjaga stabilitas lereng dan dikenal secara kolektif
sebagai kekuatan geser lereng itu. Sudut yang curam pada kemiringan kohesi dapat menjaga
aktivitas ini tanpa kehilangan stabilitas dan juga dikenal sebagai sudut atas istirahat. Ketika
lereng memiliki sudut ini, kekuatan geser yang sempurna dapat menahan gaya gravitasi
yang bekerja di atasnya.
Contoh Bentang Alam yang terkait adalah, Bentuk Lahan Dendunasional

Definisi Bentuk Lahan Denudasional


Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi berarti
proses penelanjangan permukaan bumi. Bentuk lahan asal denudasional dapat didefinisikan
sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat proses-proses pelapukan, erosi, gerak masa
batuan (mass wasting) dan proses pengendapan yang terjadi karena agradasi atau degradasi).
Proses degradasi cenderung menyebabkan penurunan permukaan bumi, sedangkan agradasi
menyebabkan kenaikan permukaan bumi.

Bentuk Lahan Denudasional


Denudasi meliputi proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan proses
pengendapan/sedimentasi
1. Pelapukan
Pelapukan (weathering) dari perkataan weather dalam bahasa Inggris yang berarti
cuaca, sehingga pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat
(fisis dan kimia) batuan di permukaan bumi oleh pengaruh cuaca. Secara umum, pelapukan
diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh tenaga Eksogen
Jenis-jenis pelapukan
Pelapukan fisik (mekanis), yaitu pelapukan yang disebabkan oleh perubahan volume
batuan, dapat ditimbulkan oleh perubahan kondisi lingkungan (berkurangnya tekanan,
insolasi, hidrasi, akar tanaman, binatang, hujan dan petir), atau karena interupsi kedalam
pori-pori atau patahan batuan.
Pelapukan kimiawi, yaitu pelapukan yang ditimbulkan oleh reaksi kimia terhadap massa
batuan. Air, oksigen dan gas asam arang mudah bereaksi dengan mineral, sehingga
membentuk mineral baru yang menyebabkan batuan cepat pecah.
Pelapukan organik,
yaitu pelapukan yang disebabkan oleh mahkluk hidup, seperti lumut. Pengaruh yang
disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi.

2. Gerakan massa batuan (mass wasting)


Yaitu perpindahan atau gerakan massa batuan atau tanah yang ada di lereng oleh pengaruh
gaya berat atau gravitasi atau kejenuhan massa air.
Klasifikasi mass wasting
Slow flowage (gerakan lambat) Rapid flowage (gerakan cepat)

3. Erosi
Erosi adalah suatu proses geomorfologi, yaitu proses pelepasan dan terangkutnya material
bumi oleh tenaga geomorfologis baik kekuatan air, angin, gletser atau gravitasi. Faktor yang
mempengaruhi erosi tanah antara lain sifat hujan, kemiringan lereng dari jaringan aliran air,
tanaman penutup tanah, dan kemampuan tanah untuk menahan dispersi dan untuk
menghisap kemudian merembeskan air kelapisan yang lebih dalam.

Klasifikasi bentuk erosi :


Erosi percik (splash erotion) ialah proses percikan partikel-partikel tanah halus yang
disebabkan oleh pukulan tetes air hujan terhadap tanah dalam keadaan
basah (Yunianto, 1994).
Erosi lembar (sheet erosion) adalah erosi yang terjadi karena pengangkutan atau
pemindahan lapisan tanah yang hampir merata ditanah permukaan oleh tenaga aliran
perluapan.
Erosi alur (rill erosion).Erosi ini terjadi karena adanya proses erosi dengan sejumlah
saluran kecil (alir) yang dalamnya <30 cm, dan terbentuk terutama dilahan pertanian yang
baru saja diolah. Erosi ini dimulai dengan genangan-genangan kecil tempat-tempat di suatu
lereng, maka bila air dalam genangan itu mengalir, terbentuklah alur-alur bekas aliran air
tersebut
Erosi parit (channel erosion) Erosi ini terbentuk sama dengan erosi alur, tetapi tenaga
erosinya berupa aliran lipasan dan alur-alur yang terbentuk sudah sedemikian dalam
sehingga tidak dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah secara biasa.

4. Sedimentasi atau Pengendapan


Sedimentasi adalah proses penimbunan tempat-tempat yang lekuk dengan bahan-bahan hasil
erosi yang terbawa oleh aliran air, angin, maupun gletser (Suhadi Purwantara, 2005:74).
Sedimentasi tidak hanya terjadi dari pengendapan material hasil erosi saja, tetapi juga dari
proses mass wasting. Namun kebanyakan terjadi dari proses erosi. Sedimentasi terjadi
karena kecepatan tenaga media pengangkutnya berkurang (melambat). Berdasarkan tenaga
alam yang mengangkutnya sedimentasi dibagi atas : Sedimentasi air sungai (floodplain dan
delta), air laut, angin, dan geltsyer.

III. Dampak Positif dan Negatif Tsunami


Dampak positif dari bencana tsunami
1.Bencana alam merenggut banyak korban,sehingga lapangan pekerjaan menjadi terbuka luas
bagi yang masih hidup.
2.Menjalin kerjasama dan bahu membahu untuk menolong korban bencana,menimbulkan efek
kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain.
3.Kita bisa mengetahui sampai dimanakah kekuatan konstruksi bangunan kita serta
kelemahannya..dan kita dapat melakukan inovasi baru untuk penangkalan apabila bencana
tersebut datang kembali tetapi dengan konstruksi
Dampak negatif dari bencana tsunami
1.Banyak tenaga kerja ahli yang menjadi korban sehingga sulit untuk mencari lagi tenaga ahli
yang sesuai dalam bidang pekerjaanya
2.Pemerintah akan kewalahan dalam pelaksaan pembangunan pasca bencana karna faktor dana
yang besar.
3.Menambah tingkat kemiskinan apabila ada masyarakat korban bencana yang
IV. A. Sumber Daya Alam di Sulawesi Tengah
Potensi sumber daya alam yang dimiliki meliputi, sektor pertanian dengan hasil
produksi mencapai 726.714 ton per tahun, kelapa188.650 ton per tahun, kakao 177.591 ton
per tahun, kelapa sawit 623.293 ton per tahun, kopi 4.887 ton per tahun, karet 7.216 ton per
tahun, vanili 92 tahun per tahun dan lada 227 ton per tahun. Untuk sektor kehutanan provinsi
ini menghasilkan kayu jenis kayu gergajian, eboni, rotan dan kayu gelondongan.
Terkait dengan potensi di sektor energi dan sumber daya mineral, potensi yang dimiliki
yaitu, nikel dengan luas areal bahan galian mencapai 322.200 Ha dengan besar cadangan
diperkirakan mencapai 8.000.000 WMT. Cadangan infered imonit 14.062,20 juta ton, gelena
potensi cadangan sebesar 100.000.000 ton, emas 16.000.000 ton, molibdenum 100 juta ton,
granit potensi cadangan terukur berdasarkan pemetaan semi mikro 1:50.000 sebesar
259.461.283.470 m3.
Potensi sumber daya mineral selain yang telah disebutkan diatas, Provinsi Sulawesi
Tengah juga memiliki cadangan dfelspar dengan potensi cadangan mencapai 71.211.000
m3 dan batubara dengan ketebalan 0,3-0,1 meter dimana pada ketebalan 0,15-3,0 meter
sebarannya mencapai sekitar 15 Ha.
Cadangan minyak dan gas bumi diketahui terdapat di dua Kabupaten yaitu, di
Lapangan Tiaka Kecamatan Bungku Utara Kabupaten Morowali dan Kecamatan Tolli Barat
Kabupaten Banggai dengan kapasitas 16,5-23 juta barel per tahun dan potensi gas bumi
terdapat di Senaro Kecamatan Taili Kabupaten Banggai dengan kapasitas 1,6 triliun kaki
kubik. Provinsi Sulawesi Tengah dikarunia dengan sumber daya air yang cukup besar yang
selanjutnya dikembangkan menjadi sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air
(PLTA) baik skala kecil (total 804,8 Mw), menengah (total 28,564,12 Mw) maupun besar
(total 714,8 Mw). Pasokan listrik juga dihasilkan melalui Pembangkit Tanaga Surya (PLTS)
dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), masing-masing memiliki kapasitas sebesar
1.650 Kw dan 2-3 m/s.
B. Potensi Rawan Bencana di Kota Palu
Kota Palu, Sulawesi Tengah menjadi wilayah di Indonesia Timur yang berada dalam jalur
rawan gempa bumi dan tsunami. Bentangan permukaan alam di Palu, Parigi Moutong, dan
sekitarnya yang berbukit dan gunung-gunung merupakan bukti fisik betapa aktifnya
aktivitas seismik di bawah permukaan kota Palu. Struktur batuan penyusun di bawah kota
Palu pun pada umumnya terbentuk oleh satuan batuan berumur dari zaman pra tersier.
Batuan zaman sebelum tersier relatif sudah lapuk dan mudah mengalami perubahan
susunan. Hal inilah yang menyebabkan efek guncangan gempa di Kota Palu dapat sangat
terasa walaupun kekuatan gempanya mnim.

Bagi warga Kota Palu dan sekitarnya, Mempelajari aktivitas kebencanaan dan
membincangkan urusan antisipasi dan kesiapasiagaannya dapat dilakukan sedini mungkin
mulai dari menilik catatan sejarah yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Berikut adalah
catatan sejarah bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat yang pernah meluluhlantakkan
wilayah Kota Palu dan sekitarnya.

Catatan pertama adalah gempa bumi dan tsunami Palu pada 1 Desember 1927. Kala itu,
gempa dangkal yang belum sempat tercatat magnitudonya mengguncang wilayah Teluk
Palu akibat pergerakan sesar Palu Koro. Guncangan gempa dahsyat ini menjalar hingga ke
wilayah timur Palu sejauh hingga 230 km dari episentrum. Selain kerusakan masif, gempa
ini pun memicu gelombang tsunami setinggi 15 meter. Berdasarkan catatan dari berbagai
sumber, populasi penduduk yang masih sedikit tak berdampak mematikan, gempa dan
tsunami dahsyat yang sempat meluluhlantakkan Pelabuhan Talise di Teluk Palu ini hanya
mengakibatkan 15 orang tewas dan 50 orang luka-luka

Kejadian gempa bumi dan tsunami kedua yang menerjang Pulau Sulawesi di awal abad 19
terjadi pada 20 Mei 1938. Kejadian gempa bumi ini lebih dahsyat dibandingkan pada
bencana gempa bumi di tahun 1927. Kala itu, guncangan bahkan dirasakan menjalar hingga
ke seluruh wilayah daratan di Pulau Sulawesi dan bagian timur Pulau Kalimantan.
Kawasan Teluk Kota Parigi Moutong di Timur Kota Palu menjadi lokasi yang paling hancu
terdampak bencana. Tsunami menggulung wilayah Parigi, merobohkan 900 lebih rumah
warga dan menewaskan 16 orang di pesisir Parigi. Dermaga, Mercusuar, dan Pohon Kelapa
di pesisir Parigi hancur total terhempas tsunami akibat patahan di dasar laut.

Catatan berikutnya terjadi pada 14 Agustus di tahun 1968. Gempa bumi sebesar 6.0 skala
richter kembali mengguncang akibat patahan Sesar Palu Koro. Memicu tsunami setinggi
lebih dari 10 meter dan menewaskan sedikitnya 200 orang. Menurut berbagai catatan,
bencana tsunami yang terjadi menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia ini melaju
sejauh 500 meter dari garis pantai Kota Tambu, Sulawesi Tengah. (ijal)