You are on page 1of 17

ARTIKEL PENELITIAN

Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi


Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia
SHINTA NATALIA ADRIANI1, MONTY P. SATIADARMA2
1Master Program of Psychology, Majoring in Clinical Child Psychology, Tarumanagara University
2Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara

Diterima tanggal, 14 Januari 2011, Direview 15 Januari 2011, Disetujui 21 Januari 2011.

ABSTRACT
Leukemia is a form of cancer that mostly suffered by children under 16 years of age. When a adolescent is being
diagnozed to suffer from leukemia, there will be several emotional reactions following the diagnoses; one of them is
anxiety. Art therapy is one therapeutic modality to reduce anxiety, and this research is aimed at finding the use of art
therapy in reducing anxiety on adolescence of leukemia patients. Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A), and
Revised Childrens Manifest Anxiety Scale (RCMAS) were used to measure anxiety associated on the physiological,
cognitive and behavioral impact. Five adolescents participated in this research, 2 of them received art therapy, 1
subject attended 22 art therapy sessions and another attented 24 sessions. The result indicates that attending art
therapy reduced the anxeity on both patients; they became more positive on themselves in dealing with their illness.
Family and environmental supports influence the impact of therapy.

Key word : Art therapy, Anxiety, Adolesence, Leukemia

ABSTRAK
Leukemia adalah jenis kanker yang paling banyak dialami oleh anak-anak di bawah usia 16 tahun. Ketika remaja, didi-
agnosis menderita leukemia, ada beberapa reaksi emosional yang menyertainya, salah satunya adalah kecemasan.
Kecemasan pada remaja penderita leukemia ini diukur dengan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A), Revised
Childrens Manifest Anxiety Scale (RCMAS), dan melihat gejala kecemasan dari segi fisik, kognitif, serta tingkah laku.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggambarkan kecemasan remaja penderita leukemia dan
metode kuantitatif untuk melihat efektivitas art therapy dalam mengurangi kecemasan pada remaja penderita
leukemia. Subjek dalam penelitian ini adalah 5 remaja penderita leukemia dengan 2 subjek diberikan art therapy.
Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling. Pemberian art therapy pada subjek 1
sebanyak 22 sesi dan subjek 2 sebanyak 24 sesi. Dalam penelitian ini, art therapy telah terbukti efektif mengurangi
kecemasan pada remaja penderita leukemia dengan menunjukkan perubahan ke arah yang positif pada keduanya.
Keberhasilan art therapy ini juga dipengaruhi oleh dukungan dari keluarga dan lingkungan.

Kata kunci: Terapi seni, Kecemasan, Remaja, Leukemia

PENDAHULUAN

KORESPONDENSI:
L eukemia merupakan jenis penyakit kanker dengan adanya keganasan sel darah yang berasal
dari sumsum tulang yang ditandai oleh proliferasi sel-sel darah putih, dengan manifestasi
munculnya sel-sel abnormal dalam darah tepi.11 Kanker mempengaruhi segi fisik dan psikolo-
Shinta Natalia Andriani, gis.22 Ketika seseorang pertama kali didiagnosis menderita kanker, timbul beberapa reaksi
Sp. PSi. emosional, seperti terkejut, takut, cemas, sedih, putus asa, marah, merasa bersalah, malu, lega
Cibubur Country Cluster setelah cukup lama khawatir dengan diagnosis yang tidak pasti, menolak, dan menerima.1
Cotton Field CF2 No. 19 Masalah fisik biasanya berasal dari rasa sakit dan ketidaknyamanan akibat kanker yang bisa
Cikeas 16966. E-mail: diatasi secara medis untuk mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh
yashinta_81@yahoo.com remaja penderita leukemia. Sedangkan masalah psikologis dapat muncul selama proses pen-

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 31


Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia. 3147

gobatan, yaitu remaja harus berada di rumah sakit untuk kegelisahan9 sebagai respons terhadap situasi tertentu
jangka waktu yang cukup lama sehingga remaja harus ber- yang dirasakan mengancam.7
jauhan dengan anggota keluarga, teman-teman, dan harus Kecemasan ini terdiri atas state anxiety (keadaan
absen dari sekolah.15 Remaja yang tugas perkembangan- cemas) dan trait anxiety (sifat cemas). Keadaan cemas
nya adalah mencari identitas diri merasa terancam den- menunjuk pada kondisi emosional sementara yang
gan lingkungan rumah sakit dan kebutuhan untuk selalu dicirikan dengan ketegangan, kekhawatiran, ketakutan,
tergantung selama menjalani pengobatan.13 Kondisi ini kegelisahan, dan keresahan yang disertai dengan psycho-
dapat menimbulkan kecemasan pada remaja. Kecemasan logical arousal berhubungan dengan sistem syaraf
merupakan salah satu masalah psikologis yang perlu otonom yang diterima sebagai pengalaman tidak me-
diatasi dengan pemberian terapi, seperti art therapy. nyenangkan. Kecemasan bisa ditimbulkan karena adanya
Art therapy dapat membantu diri para remaja agar rangsangan yang berasal dari luar atau rangsangan dari
merasa lebih baik dan lebih positif. Art therapy dapat dalam yang diterima dan diinterpretasikan sebagai
menjadi cara yang aman bagi remaja penderita kanker bahaya atau ancaman. Sedangkan sifat cemas menunjuk
dan keluarganya untuk mengungkapkan emosi, seperti pada kecenderungan seseorang untuk merasa cemas dan
marah, takut, dan cemas mengenai kanker serta peng- sensitif dalam menerima suatu situasi sebagai bahaya
obatannya.3 Kegiatan dalam art therapy, seperti meng- atau ancaman dan direspons dengan meningkatnya
gambar merupakan kegiatan yang menyenangkan, tidak keadaan cemas.9
berbahaya untuk dilakukan oleh remaja penderita Kecemasan dapat dikenali karena biasanya disertai
leukemia, serta memiliki nilai terapeutik. Gambar-gambar dengan berbagai tanda kecemasan secara fisik, kognitif,
dapat membantu terapis untuk memahami persepsi dan dan tingkah laku.15 Tanda-tanda kecemasan secara fisik,
perasaan penderita kanker mengenai apa yang terjadi yaitu meningkatnya detak jantung, pernafasan menjadi
pada diri mereka dan menggali alternatif penyelesaian lebih cepat, munculnya rasa mual, munculnya masalah
masalah.20 Pada akhirnya, proses art therapy diharapkan pencernaan, merasa pusing, pandangan kabur, mulut
dapat membantu partisipan untuk beralih dari kondisi iso- kering, otot tegang, jantung berdebar, permukaan wajah
lasi ke kondisi koneksi, dari ketidakberdayaan menjadi in- menjadi lebih merah, muntah, mati rasa, dan berkeringat.
dividu yang kuat, dan dari penolakan menjadi harapan.19 Tanda-tanda kecemasan secara kognitif, yaitu berpikir
takut atau tersakiti, berpikir/membayangkan monster atau
LANDASAN TEORI binatang buas, berpikir untuk mengkritik diri sendiri,
Art Therapy berpikir tidak mampu, sulit berkonsentrasi, lupa, berpikir
Art therapy adalah bentuk psikoterapi yang meng- kelihatan bodoh, berpikir tubuh tersakiti, membayangkan
gunakan media seni, material seni, dengan pembuatan disakiti oleh orang yang dicintai, berpikir menjadi gila,
karya seni untuk berkomunikasi. 2 Media seni dapat dan berpikir terkontaminasi. Tanda-tanda kecemasan
berupa pensil, kapur berwarna, warna, cat, potongan- secara tingkah laku, yaitu menghindar, manangis atau
potongan keratas, dan tanah liat.8 Kegiatan art therapy menjerit, menggigit jari, suara bergetar, gagap, bibir
mencakup berbagai kegiatan seni seperti menggambar, bergetar, perasaan melayang, tidak dapat bergerak,
melukis, memahat, menari, gerakan-gerakan kreatif, gugup, menghisap jempol, menghindari kontak mata,
drama, puisi, fotografi, melihat dan menilai karya seni menghindari kedekatan fisik, merasa rahang terkunci,
orang lain. 3 Dalam penelitian ini, peneliti memilih gelisah.
menggambar sebagai bentuk kegiatan dalam art therapy.
Art therapy telah banyak digunakan di lingkungan Leukemia
medis, seperti pada pasien kanker, penyakit ginjal, Tanda dan gejala leukemia bisa berbeda dari satu
penderita rematik, penyakit kronis, dan luka bakar yang penderita dengan penderita lainnya. Gejala yang umum
parah. 14 Penderita kanker dapat memanfaatkan art terjadi adalah: a) lemah, pucat, mudah lelah, serta denyut
therapy untuk membantu diri mereka guna merasa lebih jantung yang meningkat. Keadaan ini terjadi karena jum-
baik dan lebih positif. Art therapy dapat menjadi cara lah sel darah merah yang berkurang akibat terdesak oleh
yang aman untuk penderita kanker dan keluarga mereka selsel leukemik; b) sering demam dan mengalami infeksi.
untuk mengungkapkan emosi-emosi seperti marah, takut, Keadaan ini disebabkan oleh karena berkurangnya jumlah
dan cemas tentang kanker dan pengobatannya.3 sel darah putih yang baik yang bertugas untuk melawan
organisme-organisme penyebab penyakit; c) terlihat biru-
Kecemasan biru di beberapa bagian tubuh, bintik-bintik merah,
Kecemasan adalah suatu perasaan yang ditandai mimisan, serta gusi berdarah. Keadaan ini terjadi karena
adanya emosi negatif yang kuat dan simptom ketegangan berkurangnya jumlah trombosit; d) merasakan nyeri-nyeri
tubuh 15 , menyangkut rasa ketakutan, distress, dan pada tulang. Keadaan ini terjadi akibat sudah menye-

32 Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011


SHINTA NATALIA ADRIANI, MONTY P. SATIADARMA. 3147

barnya sel-sel blast (sel darah yang masih muda) ke dalam masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan
tulang; e) pembesaran hati, limpa, dan kelenjar limfa. biologis, kognitif, dan sosial emosional yang dimulai kira-
Keadaan ini juga terjadi akibat sudah menyebarnya sel-sel kira usia 10 sampai 13 tahun dan berakhir antara usia 18
blast ke dalam organ-organ tersebut di atas; f) toleransi dan 22 tahun.18 Peralihan perkembangan dari fase kanak-
exercise menurun; g) kehilangan berat badan; dan h) nyeri kanak ke fase remaja meliputi perubahan fisik, kognitif,
perut.21 dan psikososial.16
Gejala yang khas adalah pucat, panas, dan pendarah- Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer
an disertai splenomegali (pembesaran limpa), kadang- dalam pertumbuhan masa remaja yang berdampak ter-
kadang hepatomegalia (pembesaran hati) serta limfa- hadap perubahan-perubahan psikologis. Perubahan-
denopatia (pembesaran kelenjar getah bening). Pucat perubahan tersebut dikelompokkan dalam dua kategori,
dapat terjadi secara mendadak. Pendarahan dapat yaitu perubahan-perubahan yang berhubungan dengan
berupa ekimosis (pendarahan), petekia (bintik-bintik pertumbuhan fisik dan perubahan-perubahan yang
merah), epistaksis (mimisan), perdarahan gusi, dan seba- berhubungan dengan perkembangan karakteristik
gainya. Pada stadium permulaan mungkin tidak terdapat seksual.5
splenomegali. Gejala yang tidak khas adalah sakit sendi Salah satu aspek psikologis dari perubahan fisik di
atau sakit tulang yang dapat disalahtafsirkan sebagai masa pubertas adalah remaja menjadi amat memper-
penyakit reumatik. Gejala lain dapat timbul sebagai akibat hatikan tubuh mereka dan membangun citranya sendiri
infiltrasi sel leukemia pada alat tubuh, seperti lesi purpura mengenai bagaiamana tubuh mereka terlihat. Perhatian
pada kulit, efusi plura, kejang pada leukemia serebral dan yang berlebihan terhadap citra tubuh sendiri amat kuat
sebagainya.17 pada masa remaja, terutama amat mencolok selama
Penyebab leukemia masih belum diketahui secara pubertas, saat remaja lebih tidak puas akan keadaan
pasti hingga kini, namun menurut hasil penelitian, orang tubuhnya dibandingkan dengan akhir masa remaja.18
dengan faktor risiko tertentu lebih meningkatkan risiko Pengobatan leukemia memberikan pengaruh ter-
timbulnya penyakit leukemia, yaitu (a) Radiasi dosis tinggi. hadap perubahan bentuk fisik remaja. Perubahan yang
Radiasi dengan dosis sangat tinggi, seperti ketika bom terlihat adalah bentuk tubuh manjadi lebih gemuk karena
atom di Jepang pada masa perang dunia ke-2 menyebab- mengkonsumsi Dexa yang dapat meningkatkan nafsu
kan peningkatan insiden penyakit ini. Terapi medis yang makan remaja. Selain itu, kerontokan rambut akibat kemo-
menggunakan radiasi juga merupakan sumber radiasi terapi juga memengaruhi penampilan fisik dari remaja.
dosis tinggi. Sedangkan radiasi untuk diagnostik (misalnya Menurut Piaget, perkembangan kognitif remaja
rontgen), dosisnya jauh lebih rendah dan tidak ber- mencapai tingkatan paling tinggi, yaitu tahap operasional
hubungan dengan peningkatan kejadian leukemia. (b) formal yang dikarakteristikkan dengan kemampuan
Pajanan terhadap zat kimia tertentu, yaitu benzene, berpikir abstrak dan pada umumnya mulai terjadi pada
formaldehida. (c) Kemoterapi. Pasien kanker jenis lain saat remaja berumur sekitar 11 tahun. Dengan kemampu-
yang mendapat kemoterapi tertentu dapat menderita an ini, remaja mampu mengolah informasi dengan lebih
leukemia di kemudian hari. Misalnya, kemoterapi jenis fleksibel.16 Individu dengan tahap operasional formal
alkylating agents. Namun, pemberian kemoterapi jenis dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari di
tersebut tetap boleh diberikan dengan pertimbangan masa lalu dengan kesempatan pada saat ini dan dapat
rasio manfaat-risikonya. (d) Sindrom Down. Sindrom membuat rencana untuk masa depan.
Down dan berbagai kelainan genetik lainnya yang dise- Sekolah adalah pusat pengalaman kehidupan pada
babkan oleh kelainan kromosom dapat meningkatkan kebayakan remaja. Sekolah menawarkan kesempatan
risiko kanker. (e) Human T-Cell Leukemia Virus-1 (HTLV-1). untuk mendapatkan informasi, mempelajari tingkah laku
Virus tersebut menyebabkan leukemia T-cell yang jarang baru, berpartisipasi dalam kegiatan olah raga, seni, dan
ditemukan. Jenis virus lainnya yang dapat menimbulkan aktivitas lainnya, sebagai dasar untuk memilih pekerjaan
leukemia adalah retrovirus dan virus leukemia feline. (e) nantinya, dan sekolah adalah tempat untuk berinteraksi
Sindroma mielodisplatik. Sindroma mielodisplastik dengan teman-teman.16 Pada saat seseorang duduk di
adalah suatu kelainan pembentukan sel darah yang bangku sekolah menengah pertama, berbagai faktor
ditandai berkurangnya kepadatan sel (hiposelularitas) seperti situasi sosial ekonomi, kualitas dari lingkungan
pada sumsum tulang. Penyakit ini sering didefinisikan rumah, pola pengasuhan orang tua memberikan penga-
sebagai pre-leukemia. Orang dengan kelainan ini berisiko ruh pada keberhasilan seseorang di bangku sekolah.16
tinggi untuk berkembang menjadi leukemia. (f) Merokok.6 Motivasi berprestasi seseorang juga dipengaruhi oleh
keinginan dan harapan orang tua terhadap mereka, tetapi
Perkembangan Remaja lebih dipengaruhi oleh keyakinannya tentang kemampuan
Remaja adalah masa perkembangan transisi antara diri sendiri.

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 33


Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia. 3147

Pembentukan identitas merupakan tugas utama dalam sampling adalah penilaian dari peneliti bahwa siapa yang
perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai dapat memberikan informasi terbaik untuk mencapai
pada akhir masa remaja. Meskipun tugas pembentukan tujuan dari penelitian tersebut.12
identitas ini telah mempunyai akar-akarnya pada masa Penelitian ini menggunakan pendekatan metode
anak-anak, namun pada masa remaja pembentukan kualitatif sebagai metode utama dan metode kuantitatif
identitas ini menerima dimensi-dimensi baru karena sebagai metode pendukung. Metode kualitatif digunakan
berhadapan dengan perubahan-perubahan fisik, kognitif, untuk menggambarkan kecemasan yang dialami oleh
dan relasional.5 Selama masa remaja, kesadaran akan remaja penderita leukemia, yaitu penyebab terjadinya
identitas menjadi lebih kuat sehingga remaja berusaha kecemasan, perilaku keseharian subjek yang menun-
mencari identitas dan mendefinisikan kembali siapakah jukkan kecemasan, dan bagaimana perubahan kecemasan
dirinya saat ini dan akan menjadi apakah dirinya pada subjek setelah diberikan art therapy. Sedangkan metode
masa yang akan datang. kuantitatif melalui pre-post test digunakan untuk melihat
Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik kepada efektivitas art therapy dalam mengurangi kecemasan
kelompok teman sebaya sehingga tidak jarang orang tua pada remaja penderita leukemia. Desain pre-test/post-test
dinomorduakan sedangkan kelompok teman sebaya adalah desain yang tepat untuk mengukur pengaruh atau
dinomorsatukan. 25 Persahabatan pada masa remaja efektivitas dari suatu program intervensi.11
memiliki 6 fungsi: (a) kebersamaan, yaitu persahabatan Penelitian ini dilakukan di bangsal anak Rumah Sakit
memberikan para remaja teman akrab, yaitu seseorang Kanker Dharmais, Jakarta. Instrumen yang digunakan da-
yang bersedia menghabiskan waktu dengan mereka dan lam penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman
bersama-sama dalam aktivitas; (b) stimuli, yaitu persaha- observasi, skala pengukuran kecemasan yaitu Hamilton
batan memberikan para remaja informasi-informasi yang Rating Scale For Anxiety (HRS-A), dan Child Anxiety sub-
menarik, kegembiraan, dan hiburan; (c) dukungan fisik, scale of the Revised Childrens Manifest Anxiety Scale
yaitu persahabatan memberikan waktu, kemampuan- (RCMAS) yang diisi oleh subjek, dan tes grafis, seperti Draw
kemampuan, dan pertolongan; (d) dukungan ego, yaitu A Person (DAP), Baum, dan House Tree Person (HTP).
persahabatan menyediakan harapan atas dukungan,
dorongan, dan umpan balik yang dapat membantu ANALISIS
remaja untuk mempertahankan kesan atas dirinya sebagai Ketika seseorang pertama kali didagnosis menderita
individu yang mampu, menarik, dan berharga; (e) perban- kanker maka akan menimbulkan beberapa reaksi emo-
dingan sosial, yaitu persahabatan menyediakan informasi sional, seperti terkejut, takut, cemas, sedih, putus asa,
tentang bagaimana cara berhubungan dengan orang lain marah, merasa bersalah, malu, lega setelah cukup lama
dan apakah remaja baik-baik saja; (f) keakraban atau khawatir dengan diagnosis yang tidak pasti, menolak, dan
perhatian, yaitu persahabatan memberikan hubungan menerima.1 Pada subjek 1 (F) reaksi emosional yang di-
yang hangat, dekat, dan saling percaya dengan individu alaminya adalah perasaan sedih, cemas, merasa bersalah,
yang lain, hubungan yang berkaitan dengan peng- dan marah. F merasa sedih karena saat ini dirinya sedang
ungkapan diri sendiri.18 sakit sehingga ia tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari
secara bebas dan melakukan kegiatan yang disukainya.
METODE PENELITIAN Sedangkan anak-anak lain yang tidak sakit bisa melakukan
Subjek dalam penelitian ini memiliki karakteristik : (a) kegiatan apapun yang mereka sukai. Keadaan ini mem-
laki-laki atau perempuan, (b) berusia 11-20 tahun (adoles- buat F merasa sedih dan menganggap bahwa anak-anak
cents), (c) di diagnosis menderita leukemia, AML atau lain lebih bahagia dari pada dirinya.
ALL, dan (d) dirawat di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Kecemasan yang dirasakan oleh F berhubungan de-
Jakarta. Pada penelitian ini ada 5 subjek, yaitu 3 remaja ngan gusinya saat ini yang bengkak dan menutupi seluruh
laki-laki dan 2 remaja perempuan. Tiga subjek laki-laki permukaan giginya. F cemas memikirkan apakah nantinya
adalah F (12 tahun 1 bulan, kelas VI SD), Ar (15 tahun, giginya akan terlihat seperti sebelumnya atau tidak. F juga
kelas I SMU), dan An (13 tahun, 4 bulan kelas I SMP). Dua cemas memikirkan apakah nantinya bisa sembuh atau
subjek perempuan adalah M (13 tahun 8 bulan, kelas II tidak. F juga merasa cemas memikirkan sekolahnya
SMP) dan R (12 tahun 7 bulan, home schooling). Dari 5 karena tidak lama lagi dirinya akan menghadapi ujian
subjek penelitian, 2 subjek yang diberikan art therapy, akhir. F merasa cemas bahwa dirinya tidak bisa mengikuti
yaitu F (remaja laki-laki, berusia 12 tahun 1 bulan, kelas VI ujian akhir dan tidak lulus.
SD, menderita AML M5) dan M (remaja perempuan, ber- F juga merasakan perasaan rasa bersalah terhadap
usia 13 tahun 8 bulan, kelas II SMP, menderita AML M2). kedua orang tuanya dan juga adiknya. Rasa bersalah ini
Teknik pengambilan sampel adalah purposive sam- dikarenakan F merasa menjadi beban bagi kedua orang
pling / judgemental. Pertimbangan awal dalam purposive tuanya karena kedua orang tuanya harus menghabiskan

34 Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011


SHINTA NATALIA ADRIANI, MONTY P. SATIADARMA. 3147

Art Therapy Subjek 1 dan Subjek 2

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 35


Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia. 3147

36 Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011


SHINTA NATALIA ADRIANI, MONTY P. SATIADARMA. 3147

HASIL PENELITIAN SUBJEK 1

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 37


Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia. 3147

Hasil pre test : 23 artinya kecemasan sedang Hasil post test : 3 artinya tidak mengalami kecemasan

38 Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011


SHINTA NATALIA ADRIANI, MONTY P. SATIADARMA. 3147

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 39


Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia. 3147

40 Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011


SHINTA NATALIA ADRIANI, MONTY P. SATIADARMA. 3147

HASIL PENELITIAN SUBJEK 2

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 41


Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia. 3147

Hasil pre test : 38 artinya kecemasan berat Hasil post test : 15 artinya kecemasan ringan

42 Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011


SHINTA NATALIA ADRIANI, MONTY P. SATIADARMA. 3147

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 43


Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia. 3147

44 Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011


SHINTA NATALIA ADRIANI, MONTY P. SATIADARMA. 3147

dana yang cukup besar untuk biaya pengobatan F. Rasa Anxiety (HRS-A) menunjukkan bahwa F mengalami
bersalah ini sempat ditunjukkan oleh F dengan mengigau kecemasan sedang. Sedangkan berdasarkan Revised
dengan menyalahkan diri sendiri. F juga merasa bersalah Childrens Manifest Anxiety Scale (RCMAS) faktor kece-
karena dengan kondisinya yang sakit saat ini, F mengang- masan yang menonjol adalah faktor II, yaitu worry over-
gap bahwa dirinya membuat keluarganya repot karena sensitivity. Tanda-tanda kecemasan yang ditunjukkan oleh
harus menjaga dirinya di rumah sakit dan meninggalkan F adalah gangguan tidur, berkeringat, menghindari kontak
aktivitas mereka di Bogor. F juga merasa bersalah karena mata, perasaan dan pikiran tentang kekhawatiran, serta
perhatian kedua orang tuanya menjadi tertuju pada sering menggoyang-goyangkan kaki.
dirinya, sedangkan adiknya yang masih duduk di bangku Berdasarkan pengukuran Hamilton Rating Scale for
kelas III SD harus bisa mengurus diri sendiri. Anxiety (HRS-A) menunjukkan bahwa M mengalami
F merasakan adanya rasa marah, yaitu dengan mem- kecemasan berat. Sedangkan berdasarkan Revised
pertanyakan apakah Tuhan benar-benar menyayanginya Childrens Manifest Anxiety Scale (RCMAS) faktor kece-
karena F menganggap jika Tuhan benar-benar menyayangi- masan yang menonjol adalah faktor III, yaitu physilogical
nya karena ia adalah anak yang baik, kenapa Tuhan mem- concerns. Tanda-tanda kecemasan yang ditampilkan oleh
berikan penyakit yang berat kepada dirinya dan kenapa M adalah menghindar, gangguan tidur, gangguan pencer-
Tuhan seperti mengambil kebahagiaannya. Rasa marah ini naan, memiliki perasaan dan pikiran tentang kekhwatiran,
terkadang keluar melalui mimpi dan rasa mengigau kare- serta sering mengoyang-goyangkan kakinya.
na F adalah anak yang baik dan selalu memiliki kontrol. F dan M keduanya adalah remaja yang cukup tertutup
Dalam keadaan sadar ia bisa mengontrol tingkah lakunya sehingga art therapy melalui kegiatan menggambar
sehingga semua rasa marahnya ditekan ke dalam alam ba- merupakan bentuk terapi yang lebih sesuai untuk F dan M
wah sadarnya yang akhirnya muncul dalam bentuk mimpi. dalam mengurangi kecemasan yang dialami oleh F dan M.
Sedangkan pada subjek 2 (M) reaksi emosional yang Melalui kegiatan menggambar, F dan M merasa lebih
alaminya adalah rasa takut. M merasa takut dengan kon- nyaman dan aman karena mereka tidak merasa sedang
disi di rumah sakit, yaitu tentang kondisi fisik pasien. Rasa diintrograsi untuk menceritakan apa yang mereka rasakan
takut M ini ditunjukkan dengan menjaga jarak dengan dan pikirkan terkait dengan kondisi mereka saat ini yang
pasien lain yang berada satu kamar dengan dirinya, sedang menjalani pengobatan leukemia di rumah sakit.
terutama jika kondisi pasien tersebut parah. M berusaha Memaksa remaja untuk menceritakan apa yang mereka ra-
tidak terlibat interaksi dengan pasien yang kondisi fisiknya sakan dan pikirkan justru membuat mereka merasa tidak
parah karena M takut pasien tersebut meninggal dan nyaman. Ketika remaja ditanya mengenai keadaannya me-
dirinya menjadi terbayang-bayang dengan pasien terse- reka pasti akan menjawab baik-baik saja. Melalui proses
but. Ketakutan ini juga ditunjukkan oleh M dengan tidak art therapy remaja dibuat untuk merasa aman dan nyaman.
mau melihat foto-foto pasien yang telah meninggal yang Gambar-gambar dapat membantu terapis untuk me-
terpajang di dinding dekat ruang bermain. mahami persepsi dan perasaan penderita kanker menge-
Reaksi emosional lainnya yang dirasakan oleh M nai apa yang terjadi pada diri mereka dan menggali
adalah perasaan cemas. Kecemasan yang dirasakan oleh alternatif penyelesaian masalah.19 Gambar yang dibuat,
M terkait dengan kondisi fisiknya saat ini, yaitu rambut M nuansa gambar, pemilihan warna mencerminkan kondisi F
yang rontok dan mulai terlihat gundul. M merasa cemas dan M saat itu. Melalui gambar-gambar yang dibuat oleh
dengan pendapat orang-orang mengenai penampilannya. F dan M dapat menunjukkan apa yang sedang dipikirkan
Kecemasan ini membuat M malas untuk beraktivitas di dan dipikirkan oleh F dan M. Begitu juga dengan ter-
luar ruangan. M menganggap bahwa penampilannya yang jalinnya hubungan tereupatik yang hangat dengan F dan
menggunakan masker dan terlihat gundul akan dianggap M membuat F dan M menjadi terbuka untuk mencerikan
aneh oleh orang-orang yang melihat dirinya. Kondisi fisik permasalahan-permasalahan yang mereka alami terkait
ini juga membuat M merasa malu terhadap lingkungan. dengan kondisi keduanya saat ini yang sedang menjalani
M juga merasakan adanya perasaan marah terkait pengobatan leukemia di rumah sakit. Pada akhirnya
dengan kondisinya saat ini. Rasa marah M berhubungan dengan kemampuan F dan M untuk memahami per-
dengan keterbatasannya melakukan kegiatan yang masalahan yang mereka rasakan dapat menimbulkan
disukainya, yaitu bermain basket. Rasa marah M terlihat insight bagi keduanya dan menyelesaikan permasalahan
dari intonasi suaranya ketika menceritakan kebosanannya yang ada, yaitu mengurangi tingkat kecemasan yang
berada di rumah sakit dan tidak bisa bermain basket lagi dirasakan oleh F dan M.
seperti sebelumnya. M juga merasakan marah karena
banyaknya larangan untuk mengonsumsi makanan- KESIMPULAN
makanan yang disukainya. Para remaja penderita leukemia yang menjalani pe-
Berdasarkan pengukuran Hamilton Rating Scale for rawatan di rumah sakit untuk waktu yang lama mengalami

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 45


Efektivitas Art Therapy dalam Mengurangi Kecemasan pada Remaja Pasien Leukemia. 3147

kecemasan terkait dengan penyakit, proses pengobatan, masalah tersebut. Remaja setelah melakukan kegiatan art
kondisi fisik saat ini, situasi di rumah sakit, masalah therapy diharapkan mampu berdamai dengan kondisi
sekolah, keluarga, dan lingkungan. yang harus mereka jalani saat ini. Pada akhirnya, proses
Art therapy adalah salah satu bentuk terapi yang art therapy ini diharapkan dapat membantu remaja
digunakan untuk mengurangi kecemasan pada remaja penderita leukemia untuk beralih dari kondisi isolasi ke
penderita leukemia. Dari hasil penelitian yang dilakukan kondisi koneksi, dari ketidakberdayaan menjadi remaja
oleh peneliti menunjukkan bahwa art therapy efektif yang kuat, dan dari penolakan menjadi harapan.19
dalam mengurangi kecemasan pada pasien leukemia yang Di tengah proses art therapy pada penelitian ini, ter-
menunjukkan gejala-gejala kecemasan sebelum menjalani jadi perubahan dari rancangan art therapy yang telah
proses art therapy. Terjadi perubahan yang positif pada dibuat sebelumnya. Perubahan tersebut adalah adanya
dua orang pasien leukemia setelah menjalani art therapy. kegiatan menonton yang dinilai peneliti sebagai kegiatan
Mereka yang sebelumnya mengalami kecemasan proses relaksasi bagi kedua subjek yang terlihat mengalami
pengobatan dan kondisi situasional kini mampu meng- kejunuhan karena berada di dalam kamar dalam jangka
atasi kecemasan tersebut. Hal ini terjadi karena melalui waktu yang lama. Kegiatan menonton tersebut dilakukan
proses menggambar mereka mampu mengekspresikan di luar kamar dan dianggap tidak merusak proses art
gejolak perasaan cemas sehingga dengan demikian therapy yang berlangsung karena mendukung remaja
beban kecemasan mereka menjadi berkurang. Berkurang- untuk mulai berinteraksi dengan dunia luar.
nya kecemasan pada kedua subjek ini terlihat dari Selain itu, di tengah proses art therapy juga adanya
perubahan kearah positif dari sebelum, selama dan kegiatan yang harus diikuti oleh semua pasien di rumah
sesudah pemberian art therapy. sakit termasuk oleh kedua subjek. Kegiatan tersebut juga
dapat mendukung program art therapy karena mengajak
DISKUSI remaja untuk berinteraksi dengan dunia luar. Sehingga
Penelitian ini lebih difokuskan pada hasil art therapy, diharapkan remaja dapat beralih dari kondisi isolasi ke
yaitu apakah art therapy efektif dalam mengurangi kondisi koneksi.
kecemasan pada remaja penderita leukemia atau tidak. Interpretasi gambar dan alat tes tidak dijabarkan
Pada penelitian ini, dua remaja penderita leukemia yang secara detail melainkan hanya sesuai dengan keperluan
menjalankan program art therapy menunjukkan pengu- analisis hasi terapi karena dalam penelitan ini me-
rangan tingkat kecemasan mereka, Melalui art therapy nekankan pada hasil terapi yaitu art therapy efektif dalam
kedua remaja tersebut dapat mengekspresikan pikiran mengurangi kecemasan pada remaja penderita leukemia.
dan perasaan mereka. Sehingga art therapy merupakan
cara yang aman bagi penderita kanker dan juga keluarga SARAN
mereka untuk mengekspreskan emosi-emosi, seperti Orang tua disarankan untuk mengikuti konseling
marah, takut, dan kecemasan mengenai kanker dan dengan Psikolog rumah sakit karena salah satu dampak
pengobatannya.3 memiliki anak yang menderita kanker menimbulkan
Adapun bentuk kegiatan art therapy yang dilakukan masalah tersendiri bagi keluarga, mulai dari masalah
adalah menggambar. Melalui kegiatan menggambar keuangan, masalah dengan anaknya yang lain karena
terjalin hubungan tereupatik yang hangat antara peneliti menjadi terabaikan, masalah dengan pasangan hingga
dengan subjek. Hubungan antara peneliti dengan subjek menimbulkan perceraian. Orang tua yang bermasalah
menjadi bagian yang penting karena menyangkut rasa tentunya akan menghadapi anak dengan perasaan yang
percaya subjek terhadap peneliti. Ketika subjek merasa- tidak bersahabat sehingga menimbulkan permasalah
kan adanya rasa aman dan percaya terhadap peneliti, baru dengan anak yang sedang sakit.
subjek dapat menceritakan apa yang dirasakan dan Orang tua juga disarankan mengikuti kegiatan yang
dipikirkannya. Sehingga gambar menjadi penting dalam diadakan di rumah sakit yang melibatkan para orang tua
meningkatkan komunikasi verbal antara individu dengan untuk saling memberi dukungan dan semangat sehingga
terapis dalam mencapai pemahaman, penyelesaian orang tua tidak jenuh hanya di kamar saja. Sikap orang tua
konflik, memecahkan masalah, merumuskan persepsi yang relaks akan membuat anak menjadi lebih nyaman.
baru yang pada akhirnya mengarah pada perubahan Kedekatan diantara orang tua pasien juga membuat anak-
positif, pertumbuhan, dan penyembuhan.23 anak mereka menjadi saling dekat sehingga anak juga
Ketika remaja mampu mengekspresikan pikiran dan merasakan adanya dukungan dari teman sebaya dan
perasaannya sehingga memahami masalah emosional mereka yang memiliki kondisi yang sama dengan dirinya.
yang dirasakan oleh subjek saat ini yang terkait dengan Para orang tua juga diharapkan lebih bersikap dewasa
penyakit leukemia dan proses pengobatan yang dijalani- terhadap remaja dengan memberikan kepercayaan bahwa
nya, maka remaja diberi insight untuk bisa mengatasi remaja mampu untuk mengatasi permasalahan mereka.

46 Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011


SHINTA NATALIA ADRIANI, MONTY P. SATIADARMA. 3147

Sikap orang tua yang menutupi berita-berita sedih dan Rancangan intervensi juga dapat diubah dan disesuaikan
memperlakukan remaja berlebihan justru menimbulkan dengan kondisi subjek yang akan diterapi. Begitu juga
masalah tersendiri bahkan menimbulkan rasa ketidak dengan bentuk kegiatan dalam art therapy juga dapat
percayaan remaja terhadap orang tuanya karena marasa diubah tidak harus melalui gambar. Jika subjek dan
dibohongi, terutama mengenai berita kematian teman tempat memungkinkan bisa dalam bentuk lain, seperti
yang dikenalnya. Sikap orang tua yang terbuka justru mem- pahat dan patung. v
buat remaja juga merasa nyaman untuk terbuka men-
ceritakan mengenai perasaannya dan pikirannya termasuk DAFTAR PUSTAKA
mengenai ketakautan dan kecemasan yang dialaminya. 1. Barraclough, J. Cancer and Emotion third edition A practical guide
to psycho-oncology. UK : John Wiley & Sons, LTD. 2009.
Remaja yang menderita leukemia ataupun jenis kanker 2. British Association of Art Therapy. What is Art Therapy?. Diambil
lainnya yang harus menjalani pengobatan cukup lama di tanggal 26 September 2007, dari http://www. baat.org?art_
rumah sakit sebaiknya mau mengikuti kegiatan-kegiatan, thrapy.html.
3. CancerHelps. What is art therapy. Diambil tanggal 26 September
seperti kerajinan tangan, pelajaran tertentu, aktivitas
2007, dari http://www.cancerhelp.org,uk/help. default.asp?page=
bersama pasien lainnya yang saat ini banyak diberikan 25615.
oleh pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap kon- 4. Cole, D.,H, K., Tram, J.M & Maxwell, S.E. Structural Differences in
disi psikologis para pasien yang dirawat di rumah sakit Parent and Child Reports of Childrens Symptoms of Depression
and Anxiety. Amercian Psychological Association.Inc. 2007.
karena kegiatan-kegiatan tersebut membuat remaja ber- 5. Desmita. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
hubungan dengan dunia luar sehingga dapat mengurangi 2008.
kejenuhan bagi remaja. Selain itu, kegiatan-kegiatan 6. Detak. (2008). Leukemia. Diambil tanggal 2 Febuari 2009, dari
http://www.detak.org/aboutcancer.php?id=10&c_id=9.
tersebut membuat remaja berinteraksi dengan pasien lain 7. Fausiah,F., Julianti, W. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta :
yang juga mengalami kondisi yang sama atau bahkan Universitas Indonesia. 2006.
mengalami kondisi lebih buruk. Hal ini dapat membuat 8. Hallowell, L. (2007). Art Therapy Program-Children Cancer Centre.
remaja menyadari bahwa dirinya tidak sendiri. Selain itu Diambil dari http:///www.rch.org.au/ept/art/index.cfm?doc_id= 7693.
9. Hamama, L.,Ronen, T., Rahav, G. (2008). Self-Control, Self-Efficacy,
dengan berinteraksi dengan pasien lain, remaja dapat Role Overload and Stress Responses among Siblings of Children
saling memberikan dukungan. Dukungan teman sebaya with Cancer. Health & Social Work. Academic Research Library.
merupakan hal yang terpenting dalam masa remaja. 10. Hawari, D. (2004). Manajemen stres cemas dan depresi. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Art therapy merupakan kegiatan yang sangat 11. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku Ajar Hematologi-Onkologi
bermanfaat bagi remaja penderita leukemia dan juga para Anak. 2005.
penderita kanker lainnya. Pihak rumah sakit dapat menja- 12. Kumar, R. (1999). Research Methodology A Step by Step Guide for
dikan art therapy menjadi salah satu bentuk terapi dalam Beginners. London : Sage Publication.
13. Landgarten, H.B. Clinical Art Therapy A Comprehensive Guide.
menangani masalah emosional para pasien penderita New York : Bruner/Mazel publishers. 1981.
leukemia dan kanker lainnya. Penanganan masalah- 14. Malchiodi, C.A. (2001). Trauma and Loss : Research and Interven-
masalah emosional dari para pasien tentunya dapat mem- tions, volume 1 number 1, 2001.Malchiodi, C.A. (2003). Handbook
of Art Therapy. Guilford Publications.
buat penanganan medis menjadi lebih baik karena pasien 15. Mash, E.J and Wolfe, D.A. Abnormal Child Psychology . USA:
bisa lebih kooperatif, suasana di rumah sakit menjadi Wadswort. 2005.
lebih nyaman dengan pasien-pasien yang bisa berdamai 16. Papalia, D.E., Olds, S.W & Feldman, R.D. Human development (9th
dengan penyakit yang dideritanya. Selain itu kegiatan ed). New York : The McGraw-Hill Companies, Inc. 2004.
17. Rusepno, H., Husein, A. Buku kuliah Ilmu kesehatan anak. Jakarta :
dalam art therapy juga merupakan bentuk kegiatan bagi Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.1985.
pasien untuk mengisi waktu luang selama di rumah sakit 18. Santrock, J. Terjemahan Adolesence 6th edition. Jakarta : Erlangga.
dan hasil karya dari setiap pasien bisa dikumpulkan dan 2003.
19. Sinha, A. Art of Healing . Diambil tanggal 23 Juli 2007, dari
dibuatkan suatu pameran. Hal ini tentunya bisa mem- http://www.curetoday.com/backissues/v/n3/features/art/index.html.
berikan rasa kebanggaan bagi pasien. Dalam kegiatan 20. Stuyck, K. Art Therapy Helps Children Affected by Cancer Express
pameran, hasil karya seni para pasien juga dapat dijual Their Emotion. OncoLog, December 2003 vol 48 no. 12. Diambil
tanggal 25 September 2007, dari http://www2.mdanderson.org/
dan hasil penjualan karya seni tersebut juga dapat digu-
depts/oncolog/articles/pf/03/12-dec/html
nakan untuk membantu pengobatan pasien yang kurang 21. Tehuteru, E.S. Leukemia pada anak : selalu ada harapan. Diambil
mampu atau membeli perlengkapan yang dibutuhkan tanggal 11 Febuari 2009, dari http://www.dharmais,co,id/new/con-
oleh pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit. tent/php?page+article&lang=id&id=35.
22. Taylor, S.E. Health Psychology sixth edition. Los Angeles : Mc Graw
Art therapy ini terbukti dapat mengurangi kecemasan Hill. 2006.
pada remaja yang menderita leukemia, seperti membuat 23. Wikipedia. Art Therapy. Diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/
remaja menjadi optimis dengan pengobatan yang Art_therapy. 2007.
24. Wikipedia. Leukemia . Diambil tanggal 13 Januari 2009, dari
dijalaninya, percaya diri untuk berhadapan dengan http://id.wikipedia.org/wiki.Leukemia. 2009.
lingkungan, lebih bersemangat menjalani hari-hari di 25. Zulkifli, L. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
rumah sakit, dan aktif untuk mengikuti kegiatan-kegiatan. 2003.

Indonesian Journal of Cancer Vol. 5, No. 1 January - March 2011 47