You are on page 1of 7

TUGAS PRESENTASI SOSIOLOGI

" BAB VII KEKUASAAN, WEWENANG DAN KEPEMIMPINAN "

DISUSUN OLEH KELOMPOK IV A


1. IWIN S ITAAR
2. LISINA WENDA
3. EILES KOGOYA
4. NIUS JIKWA
5. GELIUS TABUNI
6. OMI JIKWA

SEKOLAH TINGGI THEOLOGI BAPTIS PAPUA


AGUSTUS 2015

1|Page K E L O M P O K I V A
ISI PEMBAHASAN BAB VII

KEKUASAAN, WEWENANG DAN KEPEMIMPINAN

E. BEBERAPA BENTUK LAPISAN KEKUASAAN

Bentuk-bentuk kekuasaan pada masyarakat tertentu di dunia ini beraneka macam dengan
masing-masing polanya. Menurut Mac Iver ada tiga pola umum sistem lapisan kekuasaan
atau piramida kekuasaan, yaitu:
1. Tipe Kasta adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku.
2. Tipe Oligarkis kekuasaan yang sebenarnya berada di tangan partai politik yang
mempunyai kekuasaan yang menetukan.
3. Tipe demokratis, kekuasaan yang tidak mementingkan kelahiran seseorang yang
terpenting adalah kemampuan dan faktor keberuntungan.

F. WEWENANG

Menurut Max Weber, wewenang adalah suatu hak yang telah ditetapkan dalam suatu tata
tertib sosial untuk menetapkan kebijaksanaan, menentukan keputusan mengenai persoalan
yang penting, dan untuk menyelesaikan pertentangan. Wewenang ada tiga macam, yaitu:

1. Wewenang kharismatis (charismatic authority),


2. Wewenang tradisional (traditional authority),
3. Wewenang rasional/legal (rational/legal authority).

1. Wewenang Kharismatik, Tradisional dan Rasional (Legal)

Perbedaan antara wewenang kharismatik, tradisional dan rasional didasarkan pada


hubungan antara tindakan dengan dasar hukum yang berlaku. Wewenang kharismatik
merupakan wewenang yang didasarkan pada kharisma, yaitu suatu kemampuan
khusus yang ada pada diri seseorang. Wewenang kharismatik tidak diatur oleh kaidah-
kaidah, baik yang tradisional maupun rasional. Wewenang tradisional dapat dipunyai

2|Page K E L O M P O K I V A
oleh seseorang maupun sekelompok orang. Wewenang tersebut dimiliki oleh orang-
oranng yang menjadi anggota kelompok. Ciri-ciri utama wewenang tradisional
adalah:

a. Adanya ketentuan-ketentuan tradisional yang mengikat penguasa yang mempunyai


wewenang, serta orang-orang lainnya dalam masyarakat.

b. Adanya wewenang yang lebih tinggi ketimbang kedudukan seseorang yang hadir
secara pribadi.

c. Selama tak ada pertentangan dengan ketentuan-ketentuan tradisional, orang-orang


dapat bertindak secara bebas.

Wewenang rasional/legal adalah wewenang yang disandarkan pada sistem hukum


yang berlaku dalam masyarakat. Sistem hukum di sini difahamkan sebagai kaidah-
kaidah yang telah diikuti serta ditaati masyarakat, dan bahkan yang telah diperkuat
oleh negara.

2. Wewenang Resmi dan Tidak Resmi

a) Wewenang tidak resmi, bersifat spontan, situasional dan didasarkan pada faktor
saling mengenal. Wewenang tidak resmi biasanya timbul dalam hubungan
antar pribadi yang sifatnya situasional dan sangat ditentukan oleh kepribadian
para fihak.
b) Wewenang resmi, sifatnya sistematis, diperhitungkan dan rasional. Wewenang
tersebut dapat dijumpai pada kelompok-kelompok besar yang memerlukan aturan-
aturan tata tertib yang tegas yang bersifat tetap.

3. Wewenang Pribadi dan Teritorial

Perbedaan antara wewenang pribadi dengan territorial sebenarnya ditimbulkan dari


sifat dan dasar kelompok-kelompok social tertentu.

3|Page K E L O M P O K I V A
a) Wewenang pribadi, sangat tergantung pada solodaritas antara anggota-anggota
kelompok, dan di sisni unsur kebersamaan sangat memegang peranan. Para individu
dianggap lebih banyak memiliki kewajiban ketimbang hak.
b) Wewenang territorial, wilayah tempat tinggal memegang peranan yang sangat penting.
Pada kelompok territorial unsur kebersamaan cenderung berkurang, karena desakan
faktor-faktor individualisme.

4. Wewenang Terbatas dan Menyeluruh

a) Wewenang terbatas adalah wewenang yang tidak mencakup semua sektor


atau bidang kehidupan. Akan tetapi hanya terbatas pada salah satu sektor atau bidang
saja.
b) Wewenang menyeluruh berarti suatu wewenang yang tidak dibatasi oleh bidang-
bidang kehidupan tertentu.

G. KEPEMIMPINAN (L E A D E R S H I P )

1. Umum

Kepemimpinan ( leadership) adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi


orang lain. Sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh
pimpinan tersebut. Kepemimpinan ada yang bersifat resmi (formal leadership) yaitu
kepemimpinan yang tersimpul di dalam suatu jabatan. Suatu perbedaan yang mencolok antara
kepemimpinan yang resmi dengan yang tidak resmi ( informal leadership) adalah
kepemimpinan yang resmi di dalam pelaksanaannya selalu harus berada di atas landasan-
landasan atau peraturan-peraturan resmi. Kepemimpinan tidak resmi, mempunyai ruang
lingkup tanpa batas-batas resmi, karena kepemimpinan demikian didasarkan pada pengakuan
dan kepercayaan masyarakat.

2. Perkembangan Kepemimpinan dan Sifat-sifat Seseorang Pemimpin


Menurut mitologi Indonesia, kepemimpinan yang baik tersimpul dalam Asta Brata yang
pada pokoknya menggambarkan sifat-sifat dan kepribadian dari delapan dewa. Menurut Asta
Brata tersebut, kepemimpinan yang akan berhasil, harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:

4|Page K E L O M P O K I V A
a. Indra-brata, yang memberi kesenangan dalam jasmani.
b. Yama-brata, yang menunjuk pada keahlian dan kepastian hukum.
c. Surya-brata, yang menggerakkan bawahan dengan mengajak mereka untuk bekerja
persuasion.
d. Caci-brata, yang memberi kesenangan rohaniah.
e. Bayu-brata , yang menunjukan keteguhan pendidikan dan ras tidak segan-segan
untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran pengikut-pengikutnya.
f. Dhana-brata, menunjukan pada suatu sikap yang patut dihormati.
g. Paca-brata, yang menunjukan kelebihan di dalam ilmu pengetahuan, kepandaian dan
ketrampilan
h. Agni-brata, yaitu sifat memberikan semangat kepada anak buah. yaitu sifat
memberikan semangat kepada anak buah.

3. Kepemimpinan Menurut Ajaran Tradisional

Ajaran-ajaran tradisional, misalnya di Jawa menggambarkan tugas pemimpin melalui


pepatah yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berbunyi sebagai
berikut: Di muka member tauladan Di tengah-tengah mambangun semangat Dari
belakang member pengaruh Seorang pemimpin diharapkan dapat menempati ketiga
kedudukan tersebut, yaitu sebagai pemimpin di muka I ( front leader ), pemimpin di
tengah-tengah ( social leader ) dan sebagai pemimpin di belakang (rear leader ).

4. Sandaran-sandaran Kepemimpinan dan Kepemimpinan yang Dianggap Efektif

Kepemimpinan seseorang harus mempunyai sandaran-sandaran kemasyarakatan atau


social basis yaitu kepemimpinan yang erat hubungannya dengan susunan masyarakat.
Kekuatan kepemimpinan juga ditentukan oleh suatu lapangan kehidupan masyarakat
yang pada suatu saat mandapat perhatian khusus dari masyarakat yang disebut cultural
focus.

5. Tugas dan Metode

Secara sosiologi, tugas-tugas pokok pemimpin adalah:


a. Memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pemegang bagi
para pengikut-pengikutnya.

5|Page K E L O M P O K I V A
b. Mengawasi, mengendalikan serta menyalurkan perilaku warga masyarakat yang
dipimpinnya.
c. Bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang dipimpin.
Suatu pemimpin (leadership) dapat dilaksanakan atau diterapkan dengan berbagai cara
(metode). Cara-cara tersebut lazimnya dikelompokkan ke dalam kategori-kategori
sebagai berikut:
a. Cara otoriter,
b. Cara demokratis,
c. Cara bebas.

6|Page K E L O M P O K I V A
KESIMPULAN

Kekuasaan mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia.


Sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang baik atau yang buruk. Sosiologi
mengakui kekuasaan sebagai unsur yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
Kekuasaan mencakup kemampuan untuk memerintah dan juga untuk memberi keputusan-
keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tindakan-tindakan.
Max Weber mengatakan, kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang
untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannya sendiri, dengan sekaligus
menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan
tertentu.
Karena kekuasaan bersifat netral, maka menilai baik atau buruknya harus dilihat dari
penggunaannya bagi keperluan masyarakat. Apabila kekuasaan dijelmakan pada diri
seseorang, maka biasanya orang itu dinamakan pemimpin, dan mereka yang menerima
pengaruhnya adalah pengikutnya. Bedanya antara kekuasaan dan wewenang ialah bahwa
setiap kemampuan untuk memengaruhi pihak lain dapat dinamakan kekuasaan, sedangkan
wewenang adalah kekuasaan yang pada seseeorang atau sekelompok orang, yang dapat
pengakuan masyarakat.

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
persentase ini,

kami berharap kepada para pembaca,walau singkat dapat memahami apa yang disampaikan
melalui ringkasan ini semoga tugas persentase ini berguana bagi penulis juga para pembaca.

7|Page K E L O M P O K I V A