You are on page 1of 7

Abuya prof

Menyelamatkan Nilai-Nilai Syariat Islamiyah dan Aqidah Ushuluddin (Ahlussunah


Waljamaah)

Oleh :
Alm. Abuya Profesor DR Tgk. H. Muhibbuddin Muhammad Waly, Ph.D

Sumber pertanyaan:
Abuya Yml, Abuya kami mohon penjelasan Abuya mengenai nilai-nilai syariat Islam
dan aqidah Islam yang lurus bersama dengan tuntunan sejarah Aceh?
Terima kasih atas tuntunan Abuya.
Wassalam kami, Ulama pengajian bulanan Mesjid Baiturrahman Banda Aceh

Jawaban Almarhum Abuya

Berkenan dengan judul yang tercantum diatas dalam surat Yaasiin telah diungkapkan
oleh Allah SWT untuk dapat dipelajari oleh umat manusia agar menjadi pedoman
padanya. Maka karenanya, marilah kita melihat tentang apa yang terkandung dalam
surat Yaasiin tersebut, sehingga kita dapat mengambil beberapa hikmah darinya.

Muqaddimah Surah Yaa-Siin :

1. Surat Yaa-sin adalah surat ke -36 dalam kitab suci Al- Quran, mengandung 83
ayat.

2. Surat Yaa-siin diturunkan Allah SWT di Mekkah. Isinya mengandung tiga pokok
utama, yaitu:
- Iman dengan kebangkitan pada hari kiamat
- Kisah tentang penduduk kampung Intakiyah
- Dalil-dalil yang menunjukan atas kemahaesaan Allah SWT.

3. Surat Yaa-siin dimulai dengan ungkapan sumpah dengan kitab suci Al-Quran
atas kebenaran wahyu Ilahi, kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. Surat
ini juga mengungkapkan mengenai orang-orang kafir dari suku Quraisy yang
keras berpegang dalam kesesatan dan mereka membohongi dan tidak
menerima nabi Muhammad bin Abdullah selaku pemimping segala rasul. Karena
itu mereka berhak mendapat azab Allah dan kebenaran-Nya.

4. Surat Yaa-siin juga membeberkan kejadian sejarah pada penduduk daerah yang
bernama Intakiyah, dimana mereka membohongi segala Rasul Allah. Ayat itu
mengancam akibat mereka terhadap wahyu dan kerasulan Nabi Muhammad,
karena mereka tidak dapat menerima sejarah tersebut melalui kitab suci Al-
Quran selaku pelajaran dan perhatian yang harus diterima.

5. Surat Yaa-siin juga mengungkapkan pendirian seorang pemimpin yang beriman


kepada Allah yang bernama Hubib Najjar, dimana dia telah menyampaikan
nasehatnya kepada kaumnya. Dimana akhirnya kaum dari Hubib Najjar
membunuhnya. Dan Allah mengungkapkan imbalan kepada pemimpin kaum
tersebut Syurga jannatun nain. Dan Allah dengan segala pula menghacurkan
kaum itu melalui pekikan yang mematikan dan membinasakan.

6. Surat Yaa-siin, juga mengungkapkan dalil-dalil kekuasaan Allah dan


kemahaesaan-Nya dalam menciptakan makluk dengan keseluruhan dalil- dalil
yang luar biasa mencengangkan manusia-manusia zaman itu. Kekuasaan Allah
yang di mulai dari bukti-bukti ciptaan Allah pada bumi kosong kemudian hidup
subur dengan berbagai ciptaan Allah.
Kemudian Allah Taala juga mencinptakan gelap pada siang hari yang terang
benderang tapi tiba- tiba datang kegelapan yang luar biasa dimana Allah taala
serta merta menciptakan matahari yang menerangi bumi, yang beredar dari timur
kebarat dengan kudrah Allah pada angkasa yang tidak terbayangkan pada akal
manusia.
Kemudian Allah menghadirkan ciptaan pada bulan yang senantiasa naik-naik
hingga pada titik bulan penuh dan kemudian turun-turun hingga pada tenggelam
bulan dalam falaknya. Demikian juga kekuasaan Allah dalam menghadirkan
manusia dan keterunannya sejak zaman dahulu kala, yaitu mulai dari penciptaan
terhadap asal- usulnya, dimana semuanya ini merupakan bukti-bukti yang begitu
gamblang dan jelas selaku dalil atas kekuasaan Allah SWT.

Surat Yaa-siin mengungkapkan tentang hari kiamat degan segala kejadian-


kejadian yang menakutkan seluruh alam. Bahkan juga Allah taala
menggambarkan tentang kebangkitan makhluk bernyawa (khususnya manusia)
dari kubur mereka. Allah menggambarkan tentang ahli syurga, ahli neraka, dan
perbedaan nasib antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang
berdosa., dimana gambaran yang demikian digambarkan pada hari kiamat yang
mengerikan hingga berakhir kebahagiaan orang-orang yang bahagia dalam
taman-taman syurga yang penuh nikmat, dan orang-orang yang celaka yang
berada dalam berbagai lapisan neraka jahannam.

7. Surat Yaa-siin menutup ayat-ayatnya dengan mengungkapkan pokok utama


tentang kebangkitan dan balasan terhadap yang baik atau tidak baik, sekalian
dengan dalil-dalil dan bukti-bukti kejadiannya.

Penamaan Surat Yaa-Siin

Surat ini dinamakan surat Yaa-siin karena Allah SWT telah memulai surat ini
dengan kalimat yaa-siin. Ini menunjukkan kemukjizatan kitab suci Al-Quran yang
tak dapat dijangkau oleh akal manusia.

Kelebihan Surat Yaa-Siin

Tentang kelebihan surat yaa-siin dapat kita pahami berdasarkan sabda


Rasulullah SAW yang artinya :
Sesungguhnya bagi setiap sesuatu ada hati (jantung), sedangkan hati atau
jantung kitab suci Al-Quran adalah surat yaa-siin itu (nilai-nilainya) berada dalam
hati (jantung) setiap manusia dari umatku.

Tafsir Surat Yaa-Siin :

Yaa Siin (QS. Yaa-siin, Ayat 1).

These letters are one of the miracles of the Quran, and none but Allah (alone)
knows their meanings.

Kalimah ini terdiri dari huruf-huruf potongan sebagaimana terlihat juga dalam
pangkal suratsurat yang lain. Hikmah dari kalimat seperti ini adalah untuk
membangun hati manusia, bahwasanya surat Yaa-siin pada khususnya dengan
ayat pertamanya menggambarkan bahwa kitab suci Al-Quran mengandung
mukzijat dan mukzijat itulah yang terkandung dalam sebagian huruf-huruf
hijaiyah yang dikenal oleh bangsa arab dan mereka berbicara melalui huruf-huruf
haijaiyah itu. Akan tetapi susunan sebagian huruf dengan huruf yang lain
menggandung mukjizat yang tertutup bagi manusia pada khususnya terkecuali di
ungkapkan oleh Allah SWT .

Ibnu Abas berkata: makna kalimah Yaa-siin adalah hai manusia. Demikaian
dalam kalaimah bahasa arab dari suku Thai-un. Namun ada juga yang
menggungkapkan bahwa kalimah yaa-siin adalah salah satu nama dari nama-
nama Nabi Muhammad SAW. Hal ini di ungkapkan berdasarkan makna dari ayat
ketiga, yaitu Sesungguhnya engkau adalah sebagian dari rasul-rasul Allah SWT
.

Pendapat lain mengungkapkan bahwa makna kalimah Yaa-siin ialah wahai


pemimpin umat manusia (Ya Saidal Basyar ), demikian tersebut dalam tafsir
Qurthubi.
Wal-Quraanil-hakiim (QS. Yaa-siin ayat 2).
Demi Al-Quran yang penuh hikmah
By the Al-Quran, full of Wisdom ( i.e.full of laws, evidences, and proofs).

Kalimah ini adalah sumpah Allah dengan kitab suci Al-Quran Yang penuh
dengan hikmah- hikmah. yang bermakna bahwa Allah menciptakan yang
sesuatu pada tempatnya yang sesuai, cocok dan tepat. Maka adalah perintah
dan larang Allah terletak pada sesuatu yang sejalan dengannya. Allah taala
memberikan ganjaran pada kejahatan. Kesemuanya ini adalah tepat, sesuai dan
mengandung hikmah-hikmah.
Maka adalah hukum-hukum baik pada nilai-nilai syariat dan juga pada nilai-nilai
pada pembalasan sama sekali mengandung hikmah yang luar biasa. Setengah
dari hikmah itu.Allah ciptakan kitab suci Al-Quran yang didalam mengandung
hukum-hukum atau nilai-nilai atas kebaikan dan pelanggaran. Karena itu maka
akal manusia dapat menerima kesesuaian-kesesuaian pada hukum dan juga
pada hikmahnya.
Demikian juga pada nilai-nilai yang teratur hukum atas nilai-nilai ciptaanNya.
Maka wajarlah apabila Allah Taala bersumpah dengan kitab suci Al-Quran.

Innaka la-minal-mursalin (QS. Yaa-Siin, Ayat 3)


Sesunnguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul (Allah).
Truly, you (O Muhammad) are one of the Messengers.

Inilah sumpah Allah itu. Bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar di angkat
Allah sebagai Rasul-Nya. Dan sesungguhnya Nabi Muhammad itu bukan satu-
satunya Rasul Allah adalah salah satu dari sejumlah para nabi yang diangkat
Allah selaku rasul.Maka wajarlah nabi Muhammad adalah sebagian dari para
rasul. Dan hal keadaan ini merupakan ketetapan Allah.

Karena itu pula, maka kepada Nabi Muhammad Allah taala berikan apa yang
telah di berikan kepada rasul-rasul sebelumnya, seperti mengenai pokok-pokok
agama, baik dalam bidang syariat maupun dalam bidang aqidah, dan lain-
lain.maka ummat Muhammad mengembangkan pokok-pokok agama itu dalam
bidang masing-masing, yakni bidang syariat dan bidang aqidah. kedua bidang
tersebut secara global sudah ada dalam kitab suci Al-Quran.
Dan kedatang para rasul seperti Nabi Muhammad SAW adalah menafsirkan
pokok-pokok syariat dan aqidah itu kedalam bahasa yang bersifat pokok-pokok
keagamaan baik melalui jibril atau melalui ijtihad Rasulullah SAW. Kemudian
berlanjut pada pemahaman para sahabat Nabi baik berdasarkan pada kenyataan
yang mereka lihat (terima) pada diri nabi (perbuatan-perbuatan atau ucapan)
amupun berdasarkan ijtihad mereka apabila mereka tidak langsung menerima
dari pada Nabi dalam bentuk ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan Nabi.

Begitulah seterusnya pada setiap zaman yang di mulai dari zaman tabiin dimana
umat lslam yang tidak bertemu dengan rasul dan tidak mendengar amanah,
ucapan atau perbuatan Rasul, maka mereka berijtihad melalui kaedah-kaedah
hukum selaku hasil yang telah dipikirkan oleh para mujtahid sebelumnya.
Juga berdasarkan kaidah-kaidah pengalian hukum syariat dan kaidah-kaidah
pengalain nilai-nilai aqidah itu sendiri. Dan nilai-nilai inilah yang kita terima dari
lapisan-lapisan para ulama yang ahli dalam bidangnya.
Maka karenanya, kemudian timbullah kaidah-kaidah dalam fiqh Islam dan
kaidah-kaidah dalam aqidah islam, sehingga ini menjadi nilai-nilai yang baku dari
zaman ke zaman hingga pada zaman sekarang ini dan akan berkelanjutan
sesudahnya.
Maka adalah kaidah-kaidah hukum yang di kenal dari mazhab Hanafi, mazhab
Maliki, mazhab SyafiI dan mazhab Hanbali telah di sepakati oleh ulama islam
sebagai kaidah hukum yang diakui sekarang ini.
Demikian pula kaidah-kaidah hukum dalam bidang Aqidah, tauhid, dan
ushuluddin tidak boleh dipertengkarkan lagi, karena hal keadaan ini para ilmuan
dunia Islam sejak ratusan tahun yang lalu telah mensahkan dan menetapkan
kaidah-kaidah itu. Maka adalah sangat berbahaya apabila sebagian kita yang
kebanyakan para juhalak (orang jahil) yang tidak memahami kaidah-kaidah
istinbat mereka.
Maka mereka merdeka semaunya dalam menetapkan suatu hukum apalagi
menciptakan suatu kaidahnya, padahal kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang
dikaitkan dengan Quran, Hadits, Ijma, dan Qiyas serta kedalaman dalam
memahami bahasa Arab dalam berbagai fak, mereka jahil dan berpura-pura
mengerti, yang akhirnya membuat kacau dunia ini, sehingga timbullah kelompok-
kelompok yang 72 yang dikatakan sesat dan menyesatkan oleh Rasulullah SAW.
Mereka telah menyimpang dari dari pada sunnah Nabi, sunnah para sahabat
pada nilai-nilai kaidah yang telah disusun sedemikian rupa oleh para ilmuwan
dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Maka kalau hal keadaan ini tidak dicegah, akan jadilah negeri kita ini sebuah
negeri Islam yang baku nilai-nilai hukumnya, namun kebakuan itu hanya terlihat
pada lahiriah belaka, tetapi jahil dalam kandungan isi pemahamannya.
Sebagaian dari pada kaidah-kaidah yang dipegang oleh umat Islam negeri kita
sekarang ini tergambar dalam kalimat, adat bak po teumeuruhom, hukom bak
syiah kuala.

Kaidah baku inilah yang telah mulai diobrak-abrik oleh para ilmuwan yang tidak
tahu diri. Ilmuwan yang pengetahuannya bersifat jahil murakkab, dimana
pemikiran mereka dapat memancing kemarahan Allah SWT. Apabila hal
keadaan mereka ini masih membandel juga dan tidak mau menerima secara
akal yang waras, berbuatlah apa yang disukai hatinya, namun perlu dicatat,
bahwa perbuatan yang beranjak dari hawa nafsu dan kebodohan akan beresiko
pada diri kita, negeri kita, bangsa kita, bahkan sampai kepada anak cucu kita
selanjutnya. Naudzubillah!

Pada tanggal penulis menulis kuliah ini, telah terjadi lagi gempa bumi yang
menggoncang negeri kita ini. Maka dari itu, tidakkah kita sadar terhadap tanda-
tanda alam yang seperti ini? Boleh jadi hal keadaan ini terjadi karena
(sebelumnya-pada paginya-terdapat suatu forum agama yang membahas
masalah-masalah ushuludin) ada sebagian orang mengungkapkan secara tak
tahu diri tentang nilai-nilai agama hanya untuk kemajuan dunia yang serba tidak
menentu ini.
Maka marilah kita berlindung kepada Allah, semoga Allah taala menyelamatkan
negeri Aceh dan bangsanya dari bahaya luar maupun dari bahaya perpecahan
aqidah dan syariat yang telah menjadi pegangan bagi rakyatnya sejak zaman
dahulu kala.

Sebagai penutup dari pada pembahasan ini saya nukilkan beberapa firman Allah
SWT dalam Kitab Suci Al-Quran dan sebuah hadits Rasulullah SAW, sebagai
berikut:

Surat 4, An-Nisa : 59

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. 4 An-Nisaa : 59).

Oleh Imam Bukhari dalam kitab Al-Itisham. Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata,
bersabda Rasulullah SAW : Barangsiapa taat kepadaku, maka sungguh ia telah
taat kepada Allah SWT. Barangsiapa yang durhaka kepada Amirku, maka ia
telah durhaka kepadaku.

Setelah mempelajari ayat dan hadits Rasulullah SAW di atas, saya menganalisa
dengan pemahaman saya yang sangat sederhana sebagai berikut:

Kita rakyat Aceh bersyukur kepada Allah SWT, bahwa para ulama Aceh
pada kompak merebut kemerdekaan dari pada kaum penjajah, sejak
zaman dahulu sehingga daerah Aceh, Allah taala berikan kemerdekaan
seperti yang Allah taala berikan kepada negeri-negeri yang berada dalam
kepulauan nusantara ini. Dimana bangsa Indonesia telah
memperjuangkan pulau-pulau besar di nusantara ini yang dinamakan
dengan Indonesia. Sehingga kita bersatu dalam kemerdekaan dan
terlepeas dari segala penjajah.

Khususnya bagi daerah Aceh dan bangsa Aceh, salah satu dari
pemimpin Aceh yang kita kenal, seorang alim yang berpendidikan dayah
menjadi salah seorang gubernur di Aceh ini yakni, Alm. Tgk. H.
Muhammad Daud Beureueh, dimana seluruh ulama menyokong beliau.
Karena nikmat demikian termasuk guru beliau, Tgk. H. Hasan Krueng
Kalee dan termasuk ulama yang termuda di Aceh, yang mansyur di
nusantara ini, Tgk. Syekh H. Muda Waly Al-Khalidy, saya pribadi turut
menyaksikan kenyataan yang demikian. Akan tetapi setelah lingkungan
Tgk. H. Muhammad Daud Beureueh sudah banyak diliputi oleh para
pemimpin yang non-ulama atau terdapat juga pemimpin agama, tetapi
dalam praktek ilmu keagamaan sudah bercampur baur antara keluaran
dayah dengan ulama yang bukan berbasis pendidikan dayah, sejak itulah
mulai terjadi penjauhan-penjauhan antara Tgk. H. Muhammad Daud
Beureueh dengan para ulama kharismatik yang mayoritas di Aceh ini.

Setelah Tgk. H. Muhammad Daud Beureueh menjadi Gubernur Aceh


sehingga sangat lengkaplah predikat beliau. Bukan hanya dalam
lingkungan daerah Aceh saja, tetapi termasuk dalam daerah Sumatera
Utara, dan beliau selaku pemimpin sipil yang begitu tinggi di dua daerah
ini. Bahkan pernah berpredikat dengan Gubernur Militer Aceh dan Tanah
Karo.

Setelah beliau kehilangan predikat yang sangat terhormat tadi dan itu
sebenarnya adalah ujian Allah taala yang harus beliau terima dengan
sabar dan harus lebih dekat lagi kepada ulama Aceh. Tetapi beliau tidak
sabar, bahkan menjauh dengan para ulama Aceh, sedangkan para ulama
Aceh boleh dikatakan pemimpin segala-galanya bagi rakyat Aceh. Maka
jadi rengganglah hubungan beliah dengan pemimpin pusat Negara ini,
sehingga beliau mendekat kepada Karto Suwiryo dalam sentuhan
memproklamirkan Negara Islam dan bersentuhan dengan para pemimpin
Masyumi yang pada masa itu antara Masyumi dengan pemerintah kurang
baik. Maka terjadilah pemberontakan di Aceh, yang menumpahkan darah
rakyat Aceh sedemikian rupa, sehingga beliau tidak memegang
kekuasaan lagi di Aceh. Maka terombang-ambinglah Aceh akhirnya
masuklah kekuatan militer baik dari dalam maupun dari luar.

Akan tetapi apabila Tgk. H. Muhammad Daud Beureueh menyampaikan


permasalahan yang beliau hadapi kepada guru beliau Tgk. Syekh Hasan
Krueng Kalee, saya yakin para ulama aceh yang sudah berumur akan
mendengar nasehat-nasehat atau petunjuk Abu Hasan Krueng Kalee.
Dan di Aceh pula, di Aceh Selatan terdapat pula ulama yang masih muda,
mempunyai ilmu agama yang mendalam, yakni Tgk. Syekh H.
Muhammad Waly Al-Khalidy (Tgk. H. Muda Waly), diajak sama oleh Tgk.
H. Muhammad Daud Beureueh antara ulama yang sudah lanjut usianya
dengan para ulama yang masih muda tetapi mempunyai ilmu
pengetahuan yang dapat dibanggakan.

Apabila mereka berkumpul dan mencari jalan keluar, bagaimana


mengatasi masalah Aceh yang kebetulan di bawah pimpinan Tgk. H.
Muhammad Daud Beureueh. Maka kami yakin akan mendapatkan jalan
keluar yang baik, karena ulama sudah berusaha untuk memperbaikinya,
dan kebetulan pula Gubernur Aceh dan Tanah Karo juga ulama, maka
tidak mustahil masalah-masalah pelik dapat teratasi.

Oleh kandungan ayat di atas tidak dijadikan dasar bagi mengatasi


permasalahan, padahal sudah jelas dalam hadits di atas, bahwasanya
pemimpin itu, apabila sadar dan kembali kepada jalan yang diridhai Allah
taala, kita wajib taat dan patuh, meskipun ada cacat dan kesalahan yang
terjadi. Hal keadaan ini adalah biasa, karena pemimpin umat pada abad
yang sudah jauh daripada kurun Rasulullah SAW, lumrah tidak sunyi dari
pada kesalahan dan kesilapan.
Tetapi apa yang telah terjadi bagi kita sekarang ini melihatnya adalah
sekedar sejarah yang terjadi dalam daerah kita, dan tidak boleh terulang
lagi untuk masa-masa yang akan dating.

Inilah yang kita warisi sejak zaman kerajaan dulu, bahwa negeri ini
dipimpin oleh dua gambaran pribadi, yaitu:
Pertama, yang memimpin masyarakat dan adat, dan tidak harus dari
keturunan raja karena Islam selaku agama kita mengisyaratkan bahwa
pemimpin umat yang dipilih dari masyarakat dan diangkat oleh
masyarakat dan tidak ada sistem kerajaan dalam Islam.
Pemimpin umat kemasyarakatan itu hendaklah didampingi oleh ulama.
Karena ulama merupakan afrad yang masuk dalam kalimah ulil amri
minkum. Maka adalah nilai-nilai baku yang kita warisi dari zaman dahulu
kita kembangkan lagi dan disesuaikan seiring dengan modernisasi zaman,
tetapi awas, bahwa agama tidak ada modernitas padanya. Tetapi yang
modern tersebut adalah kulit-kulitnya saja.

Dan apabila modern kita artikan dalam kaidah-kaidah agama sehingga


kaidah-kaidah tersebut sudah tidak benar lagi menurut pemahamannya,
hal keadaan ini dalam aqidah tidak boleh keluar dari pada aqidah
Ahlussunnah wal jamaah, dan dalam syariat islam terdapat kaidah-
kaidahnya pula yang harus kita patuhi. Inilah warna Aceh sejak zaman
dulu dan itulah yang kita gembar-gemborkan sampai sekarang.

Perhatikanlah nilai-nilai ini dan pelajarilah dengan sedalam-dalamnya, Insya


Allah, Aceh ini akan dijadikan oleh Allah taala selaku negeri yang baldatun
thaybatun wa rabbun ghafur.

Hal keadaan ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surat 24 Sabaa ayat 15:

Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat


kediaman mereka yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan di sebelah kiri.
(kepada mereka dikatakan): Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan)
Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (negerimu) adalah negeri yang
baik dan (Tuhanmu) adalah tuhan yang maha pengampun.

The was for Sheba a sing in their dwelling pleace, two gardens, one on the right
and one on the left: Eat of the provisions og your Lord, and be thankful to Him, a
land of goodness, and a Lord All Forgiving. (engglish)

Bak kawom Saba na saboh tanda keubit bahgia Neubri le Allah,


bak tempat jih nyan dua boh keubon, roet wie roet uneun keubon yang luah
Pajoh raseuki nibak Po gata, tasyukor teuma kepada Allah, nanggroe nyan got
that ngon sidro Tuhan maha peungampon peu-peu yang salah. (aceh)

Saya meminta maaf pada hadirin dan hadirat pembaca sekalian apabila saya
ungkapkan sekelumit sejarah kejadian Aceh ini. Hal keadaan ini tidak lain
hanyalah sekedar ingatan penting bagi kita, sehingga tidak lagi mengurangi nilai-
nilai pada masyarakat Aceh yang sudah diberkahi oleh Allah taala dan telah
direstui oleh para syuhada Aceh dan para ulama Aceh dengan perjuangan
mereka yang tidak kenal lelah.

Ya Tuhan kami tunjuklah kami jalan yang lurus,


(yaitu) jalan-jalan orang yang telah engkau beri nikamat kepada mereka
bukan (jalan) mereka yang di murkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Guide us to the Righteous way, the way of those on whon You have endowed
Your Grace,
not the way og those who earn Your wrath, nor of those who go astray.
(engglish).

Neutunyok kamoe wahe Hadharat bak jalan teupat beu roh meulangkah
bak jalan ureung nyang neubri nikmat jalan seulamat bek jalan salah,
bek roh bak jalan ureueng nyang sisat ureueng nyang batat muruka Allah.
(aceh.)

Demikian tulisan ini yang kami kutip dari Tgk. ZulFahmi Aron. (yma)

sumber ; by.fb khairul