You are on page 1of 57

Cara Mastering Dan Mixing di Nuendo & Wave Lab

PEMULA

Persiapan software :
Software software yang di butuhkan untuk membuat sebuah lagu ialah, Nuendo, Cubase,
FruityLoop, Protools, Sonar, Sony Sound forge, Wavelab dan masih banyak software
software lainnya. Disini saya mengunakan software nuendo dan wavelab untuk mixing dan
mastering.

Untuk Lebih lanjut baca selengkapnya

Nuendo :
Ialah software yang memiliki banyak plugins audio tetapi software ini lebih baik dalam
pengambilan take audio dari drum, bass, gitar, keyboard, vocal dan masih banyak instrument
lainnya. Selain untuk merekam suara software ini juga berfungsi lebih cenderung untuk
pengeditan audio, seperti mixing. Software nuendo ini juga sebenarnya sudah sangat lengkap
hanya saja cukup sulit apalagi untuk pemula , jika ingin membuat drum midi dan mastering
lebih baik beda software. Dan kelebiihan nuendo ialah support dengan berbagai macam
soundcard.

Wave Lab :
Software yang sangat penting dalam proses mastering audio yang suaranya masih rendah di
mastering dengan plugin plugin yang ada di wavelab akan menjadi besar akan tetapi dasar
plugin atau standar plugin yang harus di gunakan untuk mastering di wavelab belum ada di
wavelab sendiri, plugin yang digunakan untuk mastering ialah PSP Vintage Meter untuk
kalibrasi dan monitoring audio dan plugin TLS one untuk menaikan suara atau gain audionya.

PROSES AWAL TAKE AUDIO

Langkah Langkah

Take Audio

1/ Gunakan software nuendo, cubase, protools, atau lainnya. Tetapi kita coba pakai nuendo
dulu saja, kerena software ini sangat mudah didapat / di beli. Begitu juga support dengan
macam macam soundcard

2/ Settinglah. ( dalam hal ini ), jika anda sedang take gitar setting volume gitar anda, anda
harus banyak melakukan experiment atau percobaan, beberapa kali untuk menyetel suara
volume pada gitar anda karena beda gitar beda spull nya.

3/Anda mau mengunakan software atau effeck gitar asli, jika mengunakan software
contohnya software Guitar Rig maka anda harus membeli hardware Guitar Rig nya juga.
Karena kalau hanya beli softwarenya saja di jamin pasti suaranya pecah pada saat mastering,
kalau mau mengunakan effeck manual. Dalam hal ini anda juga harus banyak percobaan
dalam mengatur volume pada effeck anda, dan ingat pre amp pada computer atau audio di
computernya jangan pernah di ubah ubah biarkan settingannya pada 0.00 db. Agar tidak
terjadi noise atau cliiping dan juga peak.
4/Ada banyak cara atau biasanya disebut scema dalam proses pengambilan suara, ada yang
dari gitar lalu di hubungkan ke effeck gitar lalu di hubungkan ke sound yang besar lalu taru
mic di depannya/di sampingnya/dibelakanngnya/ di taru agak jauh dari sound dan setelah itu
di pasangkan mic, lalu dari mic itu dihubungkan ke line in computer langsung. ( dalam hal ini
) tergantung pilihan anda dan kreatif anda serta percobaan anda dalam mencari kualitas sound
atau rekaman yang baik untuk di mixing sampai mastering.
Pada proses mastering selainmenggunakan wavelab kita juga dapat menggunakan software T-
RACK 3 software ini memang khusus digunakan untuk pembuatan master lagu,,,,,
(langkah-langkahnya nyusul yahh,,,saya coba uplod gambar print screen dulu,,,) semoga
bermanfaat.

langkah pertama buka aplikasi T-Rack 3

Setelah aplikasi T-rack 3 jalan (aktif), atur sound card yang digunakan, caranya dengan
Masuk ke Menu AUDIO pilih HARDWARE SETTING lihat gambar di bawah ini

Kemuadian akan muncul tampilan menu HARDWARE SETTING, lalu ubah setingan
TEKNOLOGY-nya,,, bisa pakai DIRECTX maupun ASIO. pilih DIRECTX bila
menggunakan sound card default baawan PC/laptop anda, dan pilih ASIO bila anda
menggunakan sound card external khusus recording.
Setelah selesai klik tombol OK akan muncul tampilan seperti ini.

Untuk memulai melakukan mastering lagu anda maka kita harus membuka file lagu yang
dibelum dimastering, caranya dengan mengklik menu LOAD (pojok kanan bawah), setelah
itu akan mencul menu OPEN seperti dibawah ini, kemudian pilih lagu anda yang akan
dimastering lalu tekan OPEN.

Setelah itu waveform dari lagu tersebut akan muncul seperti tampilan dibawah ini

Untuk memulai mastering sederhana, kita dapat menggunakan preset-preset yang telah ada.

Misal kita gunakan preset T-RACK 3 DELUXE -> MASTERING #1 (lihat gambar
dibawah)

Setelah preset lagi tersebut di pilih akan muncul efek rak seperti dibawah ini.
Atur (kalibrasi) seluruh menu-menu yang ada pada setiap preset efek racak yang ditampilkan.
misal atur setingan equalizernya agar mendapatkan kejelasan suara yang diinginkan, atur
kompressornya, atur limmiternya,dll sehingga nantinya audio mastering yang dihasilkan jadi
enak untuk didengar (lebih banyak experimen)
selain dari preset yang telah ada kita juga dapat menambahkan efek yang lainnya secara
manual, caranya dengan mengklik menu list efek rack, lalu akan muncul berbagai jenis efek
yang dapat dimasukkan.. pilih salah satu (lihat gambar)
misal kita memilih OPTO COMPRESSOR makan nantinya akan muncul efek compressor
seperti gambar dibawah ini
Atur seluruh efek efek yang anda pasang agar mencapai tinggat kejelasan dan loudness
(kekerasan) suara yang diinginkan.
untuk besarnya LOUDNESS (kekerasan level suaranya) bisa kita lihat pada VU METER
yang ada dibawah efek rack,,,,, perlu diingat bahwa LEVEL bar nya agar tidak menunjukkan
warna merah (bisa terjadi overload)
Setelah proses mastering dianggap selesai, maka lagu tersebut harus kita render.dengan cara
mengklik tombol PROCESS (pojok kanan bawah) lihat gambar
Setelah diklik akan muncul tampilan menu seperti dibawah ini
Atur tempat penyimpanan file anda dengn cara klik BROWSE, simpat di tempat favorit anda
bila sudah tekan NEXT, maka akan muncul tanda proses seperti gambar dibawah.

Setelah selesai klik END, proses mastering selesai


SEMOGA TUTORIAL SINGKAT INI DAPAT BERMANFAAT BAGI REKAN-REKAN

2 Komentar

Jenis dan Fungsi Window Wavelab


19 September 2011 pada 02:43 (Digital Mixing and Mastering)

Studio rekaman atau home recording umumnya menggunakan software wavelab untuk
melakukan mastering audio. Ketika anda bekerja dengan Wavelab, Anda akan menemukan
sejumlah window/halaman kerja yang berbeda-beda yang memungkinkan Anda melakukan
pekerjaan mastering audio seperti mengedit file audio, membuat/management kompilasi file
untuk burning CD atau DVD, menerapkan efek dan lain-lain. Ini adalah gambaran umum,
jenis dan fungsi dari window utama pada software ini.

Wavelab merupakan aplikasi audio editing khususnya untuk mastering audio. Window yang
sangat penting dalam melakukan berbagai proses mastering tersebut adalah:

Wave window
Tampilan utama wavelab, yang memperlihatkan representasi grafis dari file audio. Window
tersebut secara default akan terlihat ketika anda memasukkan file (menu file > new wave)
atau men-drag file ke wavelab. Tampilan wave window tersebut terdiri dari dua bagian:

wave window wavelab

Yang di bawah adalah tampilan utama, dan disitulah di mana anda dapat melakukan
berbagai operasi editing audio seperti copy, cut, paste, menggeser, menghapus, dll.
Bagian atas adalah Ikhtisar dan berfungsi untuk memudahkan menavigasi melalui file view
yang lebih panjang.

Master Section
Ini adalah bagian yang sangat penting dari Wavelab, disebut Master Section. Ini memiliki
beberapa manfaat antara lain:
Menambah real-time efek plug-in prosesor.
Memantau dan mengendalikan level output dari setiap cahanel Wavelab.
Melakukan dithering.
master section

Audio Montage
Window Montage Audio memungkinkan anda mengkompilasi dan mengedit (mastering)
beberapa file sekaligus. Anda dapat langsung membuat/burning CD atau DVD dengan Audio
Montage tersebut.

audio montage

Wavelab juga memfasilitasi berbagai fitur untuk management file audio anda, fitur tersebut
adalah:

Audio Database Window


Database Audio adalah cara mudah untuk menyimpan dan mengatur audio file dalam
perpustakaan dan kategori yang terhubung ke hardisk computer anda, sehingga dapat dengan
mudah untuk dicari/di akses kembali.

audio database

Workspace window
Jika anda membutuhkan wavelab untuk melakukan fungsi tertentu terhadap data yang lebih
dari 1 track, dan masing-masing file tersebut terkait, anda dapat menggunakan workspace
agar lebih mudah mengaturnya.

workspace

Proses mastering merupakan proses akhir dalam audio recording, hal ini dilakukan sebelum
file audio tersebut diburning dan digandakan. Oleh karena itu, wavelab memiliki fitur untuk
melakukan burning:

Basic Audio CD window


Untuk burning CD sederhana, misalkan hanya membat kompilasi dengan file lagu yang
sudah ada anda cukup menggunakan fitur ini, dan anda pun masih dapat melakukan beberapa
pengaturan seperti menentukan urutan lagu, menentukan lamanya jeda, dan sebagainya.

basic audio cd
DVD-Audio Project Window
Di sinilah anda membuat berbagai pengaturan untuk project DVD-Audio sebelum rendering
dan memburningnya ke DVD. Fitur ini dapat didasarkan pada satu atau lebih montages
Audio. Setelah anda menentukan suatu Montage sebagai dasar untuk fitur ini, anda dapat
membuat menu visual untuk DVD-A, menambahkan teks DVD, membuat grup bonus dan
menentukan efek transisi gambar.

dvd audio project

Data CD/DVD Project Window


Seperti halnya software burning CD/DVD, wavelab juga dapat memburning CD/DVD dalam
bentuk data. Anda dapat dengan mudah men-drag file yang hendak di burn.

data cd dvd project

CD/DVD Label Editor


Window ini adalah tempat Editor Label. Di sini Anda dapat mendesain dan mencetak label
kustom untuk CD atau DVD yang anda burn. Anda dapat membuat label depan dan belakang.

CD DVD label

Backup Plan Window


Wavelab menyediakan fitur untuk membackup/plan data burning anda.
backup plan

Dengan berbagai fitur, tool dan window wavelab di atas, anda dapat menggunakan wavelab
untuk proses mastering audio sekaligus memburningnya ke CD/DVD.

Tinggalkan sebuah Komentar

Mixing Lagu (part 1)


17 September 2011 pada 01:35 (Digital Mixing and Mastering)

mixing Dasar
Pada Dasarnya, mixing merupakan campuran dari unsur seni dan teknis. Oleh karena itu
didalam mixing tidak ada istilah kata baku a.k.a lo salah, gw bener karena taste yang kita
miliki satu sama lain berbeda-beda.

Tujuan utama mixing yaitu untuk mendapatkan kualitas yang bagus dari segi balance dan
clariity (kejernihan suara)

Persiapan Mixing
-Jika kita membuat lagu dalam format MIDI, diubah dulu menjadi wav.

Coba didengerin keseluruhan track dalam satu lagu, sampe dimana kita bener2 tau apa yang
kurang dan harus diberi bumbu (bumbu masak kalee)

Setelah itu kita pikirkan, mana instrument yang harus lebih menonjol atau tidak

Lakukanlah balance Volume dan Panning pada masing2 track. Ditujukan untuk
mendapatkan gambar kotor akan lagu kita nantinya gan

Processing
Dalam tahap ini, kita dituntut untuk memproses/istilah kerennya mempercantik masing-
masing track

Agar cantik, tambahkan EQ dan effect lainnya. Untuk EQ biasanya pake Nomad, Sonnox
dll.

Tiap instrument memiliki EQ yang harus di otak-atik berbeda-beda


Bass drum : 30Hz 400Hz
Bass : 30Hz 1kHz
Snare drum : 220Hz 6kHz
Keyboard / gitar : 100Hz 8kHz
Vocal : 100Hz 16kHz
Hi-hats: 3kHz 6kHz

-setelah itu masuk ke Dynamic Processing dimana track2 kita butuh di compress, gate dll.
tujuannya mengatur dinamika dan punch pada suara instrument kita.

Atur panning masing2 tracknya mana yang harus di taruh Left-Center-Right. Bisa diacu
pake lagu idola kita, biar lebih gampang

Kasih bumbu lagi pada track untuk effectnya, seperti Delay, Reverb, Chorus, Phaser dll.
(jgn tlalu over ngasih effectnya, biasanya kita kesenengen dan over effect jadinya)

Beberapa Plug-ins yg sering dipake :


-Nomad Factory (compressor, Delay, Echo, Limiter)
-Amplitube (untuk effect gitar)
-Ampeg (untuk effect Bass)
-Wave Diamond Bundle (segala macam effect ada semua kebanyakan disini)
Antares Autotune (digunakan untuk Vocal)
-Melodyne (untuk edit vocal biar g fals) *makanya bnyk artis dadakan skrg
-Hypersonic, Sample Tank (untuk synthesizer effect)

Semoga tips sederhana ini bisa membantu agan-agan semuaklo ada yg salah mari di repiew
bersama-sama.

Mari kita berbagi ilmu

Tinggalkan sebuah Komentar

Cara Sederhana mixing DRUM


17 September 2011 pada 00:27 (Digital Mixing and Mastering)

Mixing Drum
MIXING DRUM.
Biasanya yang pertama kita mix adalah drum. Dalam memixing drum yang perlu kita
perhatikan adalah Panning. Untuk kick atau bassdrum posisi pan ditengah. Sedangkan
overhead disisi kiri dan kanan.
Level kick dengan level bass guitar disesuaikan. Karena drum dan bass guitar yang
akan membentuk rhytm sebuah lagu.
Sekarang kita coba mulai dari mix kick . Saya ada contoh kick yang belum di apa-
apakan atau masih mentah. Setelah di compres dan sedikit gate hasilnya Kick sudah di
mix.
Berikutnya adalah snare. Waktu merekam biasanya snare dibagi 2,snare atas dan
snare bawah. Setelah di compres dan diberi sedikit gate serta diberi reverb
hasilnya Snare sudah di mix.
Begitu juga dengan tom, selain seperti yang diatas dimain pula pannya. Tujuannya
biar lebih hidup. Hasilnya tom sudah di mix.
Begitu juga dengan overhead dan hihat. Setelah semuanya oke hasilnya full drum
mix.
Catatan semua effex yang dipakai oleh penulis adalah menggunakan plug in dari
software.
Demikian cara mixing drum yang masih sangat sederhana.

Tinggalkan sebuah Komentar

Proses Take Audio,Editing,Mixing,Mastering


15 September 2011 pada 06:15 (Digital Mixing and Mastering)
Tags: recording

TAKE AUDIO

1./ Gunakan software Nuendo, Cubase, Pro Tools, atau yang lainnya. Tapi kita coba pakai
Nuendo dulu saja. Karena softwarenya mudah didapat dan support dengan macam-macam
soundcard.

2./ Settinglah dalam hal ini anda sedang take gitar, setinglah volume gitar anda. Anda harus
banyak melakukan eksperimen atau percobaan, berapa yang baiknya untuk menyetel suara
volume pada gitar anda, karena beda gitar beda suara yang disebabkan beda pick up atau
biasa disebut spull.

3./ Anda mau menggunakan software atau effect gitar asli, jika menggunakan software
contohnya software Guitar Rig maka ada baiknya anda beli hardware Guitar Rignya juga,
karena kalau hanya pakai softwarenya saja dijamin pasti suaranya pecah pada saat mastering.
Kalau menggunakan effect eksternal, Carilah effect yang bagus yang noisenya sedikit dan
suaranya bulat, sesuaikan volume effect anda, dalam hal ini anda juga harus banyak
percobaan dalam mengatur volume pada effect anda, dan ingat preamp pada computer atau
audio di computer jangan pernah diubah-ubah, biarkan settingannya pada 0 db agar tidak
terjadi noise atau peak.

4./ Ada banyak cara atau biasa disebut skema dalam proses pengambilan suara. Ada yang dari
gitar lalu dihubungkan ke effect gitar lalu dihubungkan ke line in computer langsung. Ada
juga dari gitar dihubungkan ke effect gitar lalu dihubungkan ke sound yang besar lalu taruh di
depannya mic, baik di depan sound, di samping sound, agak jauh dari sound, atau dibelakang
sound dan dari mic itu baru dihubungkan ke line in computer langsung. Dalam hal ini
tergantung pilihan anda dan kreatif anda serta percobaan anda dalam mencari kualitas sound
atau rekaman yang baik, baik mixing sampai mastering.

PROSES EDITING DAN MIXING

1./ Satu persatu anda dengarkan audio mana yang hasil takenya kurang bagus atau ada yang
fals, bila nada fals anda bisa menggunakan pitch shift untuk memperbaiki nadanya. Jika
sound gitar anda rasa kurang dapat seperti yang anda inginkan, anda bisa mengedit dengan
equalizer yangt telah disediakan software atau anda gunakan plugin tambahan pada sound
gitar.
2./ Jika anda kesulitan untuk take drum, mungkin karena kemahalan membeli sebuah drum
yang bagus dan soundcard khusus drum yang harganya memang cukup mahal, anda bisa
memanfaatkan software Fruity Loops. Setelah anda membuat take drum pada Fruity Loops,
anda bisa memindahkannya ke Nuendo bersama take gitar yang telah anda buat.

3./ Banyak sekali kesalahan-kesalahan take dapat anda edit di Nuendo (dalam hal ini), Dari
mencopy file, memotong audio yang tidak perlu, membuat fade out/suara yang semakin lama
semakin menuju rendah, atau fade in/suara yang menuju keras. Mengedit suara kiri suara
kanan atau left and right yang akan membuat audio lebih terasa nuansa stereonya. Cukup
anda coba-coba dan anda ingat masing-masing fitur yang telah disediakan software.

4./ Mixing, penyelarasan suara, proses mixing ini sangat penting karena lagu enak didengar
atau tidaknya sebagian besar dari mixingan anda. Jangan suara vocal menutupi suara gitar
dan drum atau juga sebaliknya suara vocal tidak terdengar jelas karena tertutup distorsi gitar
yang tinggi atau gain drum yang tinggi. Yang paling sulit itu mixing drum antara snare drum,
kick, hit-hat, cymbal. Dalam hal ini anda harus lebih-lebih sering melakukan pengamatan dan
ujicoba, jangan lupa dengarkan lagu-lagu yang sudah jadi sebagai bahan referensi anda dalam
mixing sebuah lagu, gunakan telinga anda sebaik-baiknya.

PROSES MASTERING

Jika lagu yang anda mixing sudah sesuai menurut telinga anda, tetapi masih kurang besar
gainnya, maka gunakanlah software wavelab (dalam hal ini) atau yang lainnya. Aturlah gain
yang ada pada wavelab dan gunakanlah plugin-plugin yang bersifat memfilterisasi audio dan
jangan lupa juga pasanglah monitoring audio untuk mencegah suara peak atau lebih dari 0 db.
Bila anda rasa sudah cukup dengan hasil mastering, maka batch proseslah dan save/simpan
dalam format wav. Dan lagu anda kini telah siap untuk dikonsumsi sendiri atau dijual.

Tinggalkan sebuah Komentar

5 Langkah penting dalam mixing lagu


13 September 2011 pada 23:14 (Digital Mixing and Mastering)
Tags: recording

Mixing merupakan sebuah proses pengaturan agar track-track audio terdengar balance satu
sama lain. Proses ini merupakan sebuah proses kreatif yang sebenarnya sangat subjektif, serta
bergantung pada genre musik yang sedang dikerjakan. Dengan demikian tutorial cara mixing
lagu ini tidak dimaksudkan untuk menjadi aturan baku yang membuat anda dapat secara
instant memiliki kemampuan mixing lagu secara sempurna ( karena mixing sempurna
tergantung dari taste, art, telinga yang baik, latihan, jumlah sachet kopi instant serta batang
rokok :)), namun paling tidak dapat dijadikan sebagai sebuah panduan umum untuk
mengetahui darimana memulai, serta menentukan arah proses tersebut.
Langkah langkah yang akan saya bahas dibawah merupakan cara mixing lagu yang biasa
saya lakukan di studio (dan rasanya sebagian besar studio engineer menggunakan langkah
yang sama) hanya secara garis besarnya . Langkah-langkah detail cara mixing drum, cara
mixing bass guitar, cara mixing vocal dan lain-lain dapat anda temukan pada artikel saya di
sini.
Langkah pertama mixing drum

Langkah pertama adalah mixing drum. Berikut adalah cara yang biasa saya gunakan untuk
mixing drum :
Pertama mute semua track yang ada, kemudian aktifkan semua track drum kit (cymbals, hi-
hat, tom dsb). Geser slider pan pada kedua track overhead cymbal ke kiri dan ke kanan sesuai
urutannya. Biarkan slider pan pada snare dan kick tetap di tengah. Kemudian geser pan dari
elemen drum lain sesuai dengan posisi standarnya, misalnya suara hi-hat di sebelah suara
snare, tom 1 di sebelah tom 2, dst.
Compress semua track drum tersebut, kecuali track cymbals. Kemudian atur equalizer semua
track drum tadi satu persatu.
Hal yang perlu diingat ketika mengatur equalizer drum, bahwasanya instrument-instrument
lain seperti vocal, guitar, piano, keyboard dll nantinya harus memiliki frekuensi tersendiri.
Dengan demikian akan jauh lebih baik jika frekuensi dari setiap elemen drum yang nantinya
akan digunakan oleh instrument lain dipotong terlebih dahulu.
Setelah proses Compress dan EQ selesai, atur level volume semua track drum sehingga
terdengar balance. Effect reverb biasanya diberikan hanya jika benar-benar dibutuhkan.
Sebisa mungkin drum tidak diberikan effect apapun agar pukulannya tedengar jelas.
Kalaupun terpaksa memberikan effect karena perlu memberikan kesan live biasanya reverb
hanya diberikan pada snarenya saja.

Langkah kedua mixing bass guitar

Langkah berikutnya adalah mixing bass guitar kedalam lagu. Cara mixing bass guitar
didalam sebuah lagu adalah sebagai berikut:
Nyalakan track bass dan biarkan pan tetap ditengah. Compressing pada track bass ini
sebenarnya tidak terlalu perlu (kecuali jika suaranya benar-benar terdengar naik turun).
Andaikan terpaksa mengcompress track ini, maka konfigurasi compressor harus diatur secara
hati-hati agar suara dentuman dari petikkan senar bass tidak terdengar lemah.
Setelah selesai dikompresi, berikutnya adalah mengatur EQ untuk bass tersebut. Mengatur
EQ pada bass biasanya akan sedikit lebih sulit dikarenakan range frekuensi yang ditempati
bass guitar hampir sama dengan range frekuensi yang ditempati oleh kick drum. Pada kondisi
ini biasanya saya bereksperimen disekitar frekuensi low mid untuk membuat kedua
instrument tersebut tetap terdengar terpisah satu sama lain.
Terakhir, mengatur level volume bass tersebut hingga sama keras dengan level volume drum.
Pada tahap ini biasanya suara bass akan terdengar terlalu keras, namun anda tidak perlu kuatir
karena ketika semua instrument selesai di mix, maka hal tersebut tidak akan terlalu
mencolok.

Langkah ketiga mixing vocal

Setelah bass dan drum selesai di mixing, proses berikutnya adalah mixing vocal.
Pada saat mixing vocal, compressor mungkin diperlukan untuk mengatasi fluktuasi suara
yang terjadi pada saat proses perekaman.
Atur EQ sehingga suara vocal berada disekitar range frekuensi 2500 Hz. Frekuensi dibawah
80 Hz biasanya perlu dipotong untuk menghilangkan noise.
Track vocal mungkin akan terdengar lebih baik jika diberikan sedikit reverb atau delay,
namun reverb/delay tersebut harus diatur agar tidak terlalu panjang ataupun terlalu berlebihan
Beberap musisi biasanya menggunakan effect plate reverb atau slapback delay pada track
vocal, namun hal tersebut bukan suatu acuan karena akan sangat bergantung pada selera anda
serta kebutuhan lagu.

Langkah keempat mixing guitar

Proses selanjutnya adalah mixing track guitar. Pada saat mixing guitar, track rhythm guitar
umumnya diduplikasi menjadi dua track yang kemudian di-pan ke kiri dan kanan agar
terdengar lebih tebal, sementara lead gitar di duplikasi menjadi dua track yang diposisikan
sedikit ke kiri dan sedikit ke kanan.
Suara gitar memiliki peak natural pada frekuensi sekitar 4 kHz, hal tersebut dapat dijadikan
acuan pada saat menggunakan EQ. Compressor yang digunakan secara berlebihan pada track
guitar dapat membuat noise.
Terakhir, atur level volume guitar sehingga tidak bertabrakan dengan suara vocal.

Langkah kelima mixing instrument keyboard, piano dan instrument lainnya

Langkah kelima adalah mixing keyboard, piano, serta instrument-instrument lainnya. Pada
saat mixing dilakukan pada sisa track-track instrumen tersebut, nyalakan satu persatu dan
bereksperimenlah dengan posisi panning. Satu hal yang harus dipehatikan adalah : pada saat
setiap kali salah satu instrument ditambahkan kedalam lagu, maka natural peak dari
instrument tersebut akan bercampur dengan track lain. Untuk mengatasi situasi ini , yang
biasanya dilakukan adalah mencoba menambah maupun mengurangi level volume track,
mengatur ulang equalizer ataupun effect lain sesuai kebutuhan, namun dengan tetap menjaga
eksistensi suara drums, bass dan vocal.

Semoga bermanfaat
Salah satu software yang dapat dipergukan untuk melakukan proses mastering
audio/musik/lagu adalah Steinberg Wave-lab, yang cukup mudah dipergunakan dan mudah
didapatkan, serta cukup fleksibel karena dapat mengakomodir plugin-plugin tambahan
semacam TLS Pocket Limiter, PSP Vintagemeter, BX Solo, Magneto, Analog Mastering Tools
(AMT), EMI TG 12413-limiter dan masih banyak plugin-plugin lainnya. Walhasil, dengan
tambahan plugin-plugin tersebut kita dapat memperoleh hasil mastering yang maksimal dan
cenderung setara dengan hasil mastering studio-studio besar lainnya.
Pertanyaan yang muncul di benak kita selanjutnya adalah , "Bagaimana cara atau proses
mastering dengan menggunakan software ini ?

Pertama-tama adalah jalankan software


Wavelab tersebut dan akan muncul tampilan seperti gambar di atas, kemudian open file
audio/musik/lagu yang telah selesai di mixing ada akan di mastering, dengan cara menekan
icon open Wave-file yang ada di sebelah kiri atas layar. Dan bila lagu yang akan kita mastering
telah masuk, maka akan muncul gambar seperti disamping ini. Judul lagu yang akan kita
mastering pun akan muncul dibagian atas.

Langkahberikutnya adalah memasang


plugin-plugin yang akan kita pergunakan untuk mendukung proses mastering kita, yaitu pada
bagian effectnya isikanlah plugin-plugin Resampler 192 KHz (untuk mengakomodir file-file
digital), BX Solo (untuk sedikit melebarkan nuansa stereo dan menaikkan gain), VST Dynamic
(untuk mengurangi clipping), PSP Vintagemeter (untuk memantau proses mixing kita) dan
TLS Pocketlimiter (untuk menaikkan gain secara umum), sehingga akan muncul tampilan
seperti disamping ini.

Mainkan audio/musik/lagu yang akan kita


mastering tersebut, dan perhatikan bagian bawah sebelah kiri, disana muncul digital detection
atas kekerasan lagu yang akan kita mastering tersebut. Maka akan tampak seperti gambar di
samping ini.
Perhatikan bagian bawah, yaitu terdapat 3 kotak yang berwarna hitam, kotak yang paling kiri
menunjukkan gain/level (kekerasan audio/lagu/musik kita), bagian tengah atau kkotak kecil
menunjukkan spectrum analizer (cakupan ruang dari audio/musik kita), dan kotak yang paling
kiri menunjukkan real time frekwensi analizer (analiza frekwensi-frekwensi yang terreproduksi
dalam komposisi audio kita (mulai 20 Hz sampai dengan 20 KHz) yang terintegrasi dengan
indikator kekerasan untuk tiap-tiap frekwensi (dalam ukuran db), hal ini sesuai dengan batas
ambang pendengaran manusia.

Berikutnya atur PSP Vintagemeter pada posisi -6 db, caranya klik


tulisan PSP Vintage meter, maka akan muncul knob-knob dan aturlah knob OVU refer-level
pada posisi -6 db. Klik kembali tulisan PSP Vintage-meter untuk mengembalikannya ke posisi
level meter.
Naikkan gain level pada TLS Pocket-limiter sampai
jarumnya bergerak mendekati angka nol, tetapi perlu diwaspadai, jangan sampai led warna
merah menyala. Hal ini menunjukkan bahwa musik kita mengalami clipping atau melebihi
ambang batas kekerasan dan bisa menyebabkan pecahnya suara audio/musik yang kita
mastering.
Setelah semuanya sesuai dengan yang kita inginkan,
kemudian renderlah musik kita, dengan cara meng-klik tombol render yang ada di bagian
bawah.

Lakukan analisa terhadap proses mastering


kita dengan meng-klik tombol Analysis - Global Analysis - Loudness - Analyse, maka akan
ditunjukkan kepada kita RMS Power yang terbagi untuk bagian Kanan dan Kiri yang masing-
masing menunjukkan Maksimum, Minimum, Average dan Around Cursor. Perhatikan bahwa
pada Average RMS Power hendaknnya kita atur sampai menunjukkan angka antara -12 db
sampai dengan -10 db. Inilah standar kekerasan (RMS Power) yang biasanya dipergunakan
dalam produk-produk mastering dari luar negeri. Tetapi tidak menutup kemungkinan kita
naikkan sampai menembus -9 db, asalkan kita bisa mengatur plugin-plugin yang kita pakai
agar jangan sampai terjadi clipping.
Agar proses mastering kita tidak
mengandung audio-error, maka lakukan proses pendeteksian dan correction terhadap audio
error tersebut, yaitu klik tombol Analysis - Audio error detection and correction - Detect all
errors - Correction all errors. Maka akan tampak seperti gambar di samping ini.

Selanjutnya simpan file kita dengan klik


tombol File - Save As dan Setting nama file - Save as type Wav atau MP3 128 kbps. Perlu
kiranya diperhatikan, agar hasil mastering ini dapat diperdengarkan lewat media-player atau
VCD/DVD player, maka untuk penyimpanan file secara wav-file, gunakanlah setting WAV
(PCM)/setting/stereo/44100 Hz/16 bit.

Selesai sudah proses mastering kita, selamat mencoba semoga berhasil baik

ref : http://www.dolananmusik.blogspot.com
- See more at: http://musikdigital67.blogspot.com/2011/02/mastering-dengan-wave-
lab.html#sthash.Xg1PRvPo.dpuf
Kali ini saya akan memberikan tutorial mastering menggunakan steinberg wavelab. Ingat,
tutorial ini hanya diberikan pemula seperti saya. Mengapa saya mengucapkan untuk
pemula? Karena ditutorial ini saya hanya akan menjelaskan bagaimana membuat hasil
mixing-an menjadi lebih loud atau keras. Yup, membuat hasil mixing kita menjadi lebih loud
mungkin hanya salah satu proses dalam mastering. Namun proses inilah yang paling
dibutuhkan

Yuk langsung kita mulai

Langkah pertama

Buka / jalankan software steinberg wavelab anda


Setelah itu klik menu FILE - OPEN - WAVE (shortcut key Ctrl+O)
Lalu pilih audio (dengan format wav) yang ingin di naikan level loudness nya

Langkah kedua

Setelah file audio (dengan format wav) sudah di import atau terbuka, select semua
audio wav tersebut dari awal sampai akhir (shortcut key Ctrl+A)
Setelah itu klik menu ANALYSIS - AUDIO ERROR DETECTION AND AND
CORECTION (shortcut key Shift+R)
Lalu prose selanjutnya kita akan masuk kedalam proses Declick wave secara otomatis

Klik DETECT ALL ERRORS


Pilih OPTIMAL FOR SMALL CLICKS - 1ms
Klik CORRECT ALL ERRORS

Langkah ketiga oke kita lanjut langkah ketiga, pada langkah ketiga ini prosesnya adalah:

pasang lah sebuah TLs-pocket limiter pada slot Effect


Lalu pasanglah plugins PSP vintage meter (ref -6dBFS) yang tepat di tempatkan di
bawah plugins TLs-pocket limiter
jangan lupa untuk menurunkan master fader wavelab pada level -0,3dB
Pada bagian DITHERING nya di pasang INTERN
o NOISE TYPE di angka 1
o NOISE SHAPING di angka 2
o OUTPUT BIT RESOLUTION di angka 3

Langkah keempat
Nah sebelum mengubah level loudnessnya, kita diharuskan menyetel kalibrasi plugins
PSP VU meter ke -6dBFS dulu

Langkah kelima
Dan pada langkah kelima, saatnya untuk mengubah level loudness lagu anda!
Putar/mainkan wave audio anda.

Pilih pada bagian yang menurut anda paling kencang, biasanya sih ada di bagian reff
akhir, atau lihat di grafik nya aja

Sambil melihat PSP-VintageMeter naikan gain pada TLs-pocket limiter. Dan apa bila
jarum pada PSP-VintageMeter sudah bergoyang-goyang di angka nol dB (0dB), maka
stop! Jangan tambah gain nya lagi.

Kenapa?, karena akan membuat wave lagu anda terdengar distorsi (pecah).
Tapi bisa saja sih lebih dari 0dB, triknya adalah kurangi frequensi low (rendah) pada
mixingan anda.

Sudah puas akan hasil loudnessnya? oke saatnya untuk menekan tombol RENDER

Setelah itu pilih WHOLE FILE dan PROCESS IN PLACE lalu klik OK
Kemudian klik menu FILE - SAVE AS - Masukan nama file baru, dan setalah itu
pilih output menjadi WAV/AIFF 16-bit 44.1KHz.
CATATAN!:
langkah-langkah yang saya tulis diatas itu hanya khusus untuk file wave audio yang
memang dari awalnya memiliki sample rate 44.1KHz.

Terus gimana kalau bukan 44.1KHz, contoh kaya 4.8KHz, 88.2KHz, 96KHz,
176.4KHz, hingga 192KHz dsb?

Yuk kita lanjut.


Untuk file wave audio yang memiliki sample rate diatas 44.1KHz, seperti 44.8KHz,
88.2KHz, 96KHz, 176.4KHz, hingga 192KHz kita harus mengconvertnya dahulu.

Caranya hanya menambahkan plugins RESAMPLER

o untuk mendownload TLs Pocket Limiter KLIK DISINI


o untuk mendownload PSP-VintageMeter KLIK DISINI
Seperti janji saya kepada kawan saya disini, saya ingin memberi tutorial mastering untuk
pemula dengan menggunakan software dari steinberg yaitu wavelab. Mengapa saya menulis
untuk pemula? Karena saya hanya akan memberi tutorial bagaimana cara untuk membuat
hasil mixing kita menjadi lebih keras atau loud. Ya mungkin itulah salah satu yang dilakukan
dalam proses mastering. Ide menulis ini saya ambil dari artikel di forum musiktek yang
ditulis oleh mas indra Q. Namun di sini saya mencoba menerangkan ulang dengan tutorial
yang langsung saya praktekan sendiri dirumah.

Oke langsung saja. tapi sebelumnya,


bila anda ingin gambar-gambar yang ada terlihat jelas
dan besar, di klik saja gambar-gambarnya
Step 1:
Bukalah software wavelab
Lalu pilih tab FILE -OPEN - WAVE (Ctrl+O)
Lalu pilih wav yang ingin di mastering

Step 2:
Setelah terbuka, select semua wave dari awal hingga akhir (Ctrl+A)
Lalu pilih tab ANALYSIS - AUDIO ERROR DETECTION AND AND CORECTION
(Shift+R)
Lalu kita akan meng-Declick wave secara otomatis
1. Klik DETECT ALL ERRORS
2. Pilih OPTIMAL FOR SMALL CLICKS - 1ms
3. Klik CORRECT ALL ERRORS

Step 3:
nah setelah itu:
-Kita pasang TLs-pocket limiter di slot Effect
-Lalu setelah itu pasang PSP vintage meter (ref -6dBFS) di bawah plugins TLs-pocket limiter
-turunkan master fader wavelab di -0,3dB
-setelah itu di DITHERING nya di pasang INTERN,
-NOISE TYPE di angka 1,
-NOISE SHAPING di angka 2,
-OUTPUT BIT RESOLUTION di angka 3
Step 4:
Nah sebelum kita membuat loud wave nya kita harus stel kalibrasi PSP VU meter ke -6dBFS
dulu
Nah sekarang VU meter nya sudah ter-kalibrasi ke 0VU = -6dBFS.

Step 5:
Saat nya membuat loud lagu anda!
mainkan/putar wave lagu anda, dan pilihlah bagian yang menurut anda paling keras (biasanya
terlihat di grafik), sambil melihat PSP-VintageMeter naikan gain pada TLs-pocket limiter.
Dan apa bila jarum pada PSP-VintageMeter sudah bergoyang-goyang di angka nol dB (0dB),
maka stop! Jangan tambah gain nya lagi.
Kenapa?, karena akan membuat wave lagu anda terdengar distorsi (pecah).
Tapi bisa saja sih lebih dari 0dB, triknya adalah kurangi frequensi low (rendah) pada wave
lagu anda.
Jika sudah puas akan hasilnya tekan RENDER

Lalu pilih WHOLE FILE dan PROCESS IN PLACE lalu klik OK

Kemudian klik tab FILE - SAVE AS - Masukan nama file baru, kemudian stel output
menjadi WAV/AIFF 16-bit 44.1KHz.

CATATAN!:
Proses diatas itu hanya khusus untuk file wave yang memang dari awalnya memiliki sample
rate 44.1KHz.

Lalu kalau bukan 44.1KHz?

Yuk kita teruskan.


Untuk file wave yang memiliki sample rate diatas 44.1KHz, seperti 44.8KHz, 88.2KHz,
96KHz, 176.4KHz, hingga 192KHz kita harus mengconvertnya dahulu.

Caranya hanya menambahkan RESAMPLER

-untuk mendownload Steinberg Wavelab KLIK DISINI


-untuk mendownload TLs Pocket Limiter KLIK DISINI
-untuk mendownload PSP-VintageMeter KLIK DISINI
Proses mixing dalam dunia audio recording merupakan salah satu proses yang paling susah,
memusingkan dan paling rumit menurut saya. Begitu banyak plugins atau efek yang harus dipakai
dan tentu saja harus dimengerti untuk proses ini. Salah satu pedoman saya dalam proses me-mixing
adalah, jangan memasukan suatu plugins / efek yang tidak diketahui kegunaan nya atau tidak
dimengerti cara penggunaannya. Selain sia-sia dan memberatkan kinerja komputer, juga bisa
merusak sound atau suara pada track anda.

Pada tutorial ini, saya hanya membahasa secara umum bagaimana proses mixing yang biasa saya
lakukan. Dan juga karena saya pemula atau newbie dalam hal ini, maka postingan ini saya pun saya
beri judul "Tutorial mixing secara mudah untuk pemula"

Oke langsung saja pada tutorialnya.

1. Bukalah project atau track yang anda rekam sebelumnya di sebuah software daw atau software
multi track recording.

2. Setelah terbuka, coba play dan lihat meter pada master track / master fader nya (untuk software
stenberg cubase dan steinberg nuendo, bisa menekan tombol shortcut F3 dan lihat paling kanan
pada mixer nya).

Apabila clip atau peak (biasanya akan ada tanda berwarna merah atau meter nya melebihi 0db)
silahkan untuk menurunkan masing-masing track (track gitar, track bass, track vocal dan seterusnya),
ingat seluruh tracknya, bukan master track / master fader nya yang diturunkan.

3. Setelah aman / tidak clip atau peak, cobalah untuk mem-balancing dengan menurun atau
menaikan volume pada track masing-masing. Dalam proses balancing saat ini, anda tidak perlu untuk
mem-balancing secara detail, apabila sudak terdengar enak dikuping anda, maka sudah cukup.

4. Coba dengarkan beberapa kali dari awal sampai akhir lagu, hal ini bertujuan agar anda dapat
mengenal materi-materi yang anda ingin mixing. Bahasa kerennya adalah, agar lebih familiar dengan
materi setiap track dan instrument yang sedang anda mixing. Pada tahap ini jangan atau tidak perlu
memasang efek atau plugins.

5. Nah setelah anda mengenal dan lebih familiar dengan track-track instrument yang sedang anda
mixing, maka cobalah untuk mengkelompokkannya, hal ini bertujuan agar anda tidak bingung nanti
saat anda me-mixing lebih jauh.

Yang biasa di kelompokkan:


-drum (snare, kick dan seterusnya) dengan perkusi
-low instrument seperti bass dan lain-lain
-guitar bisa distorsi, struming, arpegio, wah-wah dan lain-lain
-vocal (alangkah baiknya vocal di kelompokan kembali, antara lead vocal dan backing vocal)

6. Setelah mengelompokkan atau grouping, cobalah untuk panning (kanan, tengah, kiri) track-track
instrument yang anda sedang mixing hingga tercipta suatu stereo imager atau terdengar lebih luas
(stereo), perhatikan pada saat melakukan panning agar tidak ada suara atau instrument yang terlalu
memihak ke kanan ataupun ke kiri (bahasa inggrisnya adalah timplang :D ). Yaitu tidak terlalu banyak
instrument yang berada di kiri maupun di kanan, seimbang deh pokoknya :) .

7. Setelah itu saat nya untuk me-mute semua channel kecuali drum. Saat nya menyiapkan plugins
compressor, compress track-track drum yang memiliki dinamika yang luas (bahasa gampangnya,
memiliki suara yang kadang besar, dan kadang kecil). Biasanya untuk drum memakai ratio yang
besar seperti 8:1, namun juga tergantung pada sumber atau source suara / materi yang kita mixing,
begitu pula dengan threshold. Untuk attack nya bisa memakai auto (apabila plugins yang di pakai
memiliki fitur tersebut) apabila tidak coba di setting tergantung pada tempo lagu materi yang sedang
di mixing. Beri gain apabila diperlukan.

Agar memudahkan, kita dapat melihat di tampilan gelombangnya, track-track mana yang
memerlukan peng-compress-an.

Begitu pula dengan track bass dan vocal, buka track tersebut satu-persatu lalu stabilkan dengan
memakai plugins atau efek compressor.

Ingat, jangan terlalu meng-compress terlalu over, sebuah lagu memerlukan dinamika agar terdengar
lebih "hidup". Jadi pakai plugins compressor ini bila hanya dibutuhkan dan gunakanlah dengan bijak
:D

8. Masih dengan tiga track diatas (drum, bass dan vocal). Siapkan sebuah reverb. Tapi reverb ini tidak
digunakan untuk bass yah, hanya untuk drum dan vocalnya. Gunakan dua buah reverb yang
dipasang di send aux atau send fx. Satu untuk drum nya dan satu lagi untuk vocalnya. Saya biasa
menggunakan reverb hall untuk vocal, tapi tergantung genre dan karakteristik vocal nya. Apabila
masih kurang atau tidak cocok dengan preset bawaan dari plugins atau software reverb yang anda
pakai, coba untuk men-setting reverb timenya, hpf / low cut nya, lpf atau hi cut nya, pre delay dan
lain-lain.

Ingat! Kesalahan atau salah setting pada efek reverb membuat sound atau lagu anda terdengar
amatir. Contoh nya suara vocal seperti di dalam sumur, suara drum seperti didalam gua dan lain-
lain. Gunakan dengan bijak plugins reverb ini.

Setelah memberi reverb, coba untuk dengarkan kembali. Biasanya sesudah memakai fx reverb ini
balancing nya jadi berubah, atur atau balancing kembali dengan menaik dan menurunkan volume
pada masing-masing track. Sesekali lihat juga master fader atau master tracknya, jangan sampai
peak atau clip atau melebihi dari batas 0db.

9. Nah apabila ketiga element diatas sudah terdengar bagus, anda sudah mempunyai pondasi nya.
Selanjutnya tinggal buka satu persatu track instrument lainnya sambil di balancing kembali.

10. Masukan compressor lagi apabila ada instrument selain ketiga elemen diatas yang terlalu luas
atau lebar dinamikanya (kadang besar, kadang kecil suaranya)

11. Apabila ada sound / bunyi dari track yang tidak diinginkan bisa memakai equalizer untuk
mengcut atau memboost di frequency yang mengganggu. Apabila dari kesemua track low nya
terdengar menggulung, coba di low cut atau HPF (high pass filter) menggunakan equalizer. Apabila hi
nya ada yang menyerang atau terlalu sakit di telinga, cut di frequency yang dimaksud menggunakan
equalizer juga.
12. Ada bunyi click yang mengganggu? Gunakan declicker

13. Ada bunyi noise yang mengganggu? Gunakan denoiser

14. Di vocal, saat pengucapan huruf "S" "C" berlebihan dan menyakitkan telinga, bisa menggunakan
deesser

15. Dan sebagai nya, dan sebagainya, dan sebagainya :)

Ingat dan perhatikan, gunakan plugins yang anda masukan dengan bijak, jangan terlalu over!
Sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik bukan?
APA & BAGAIMANA MIXING MASTERING YANG BAGUS ITU
Kebanyakan dari mereka yang bertanya kepada saya "Gimana sih cara melakukan proses Mixing &
Mastering yang benar dan bagus itu??yang bisa terdengar bagus disemua audio player tanpa adanya
penurunan kualitas audionya??well...sebelum kita melangkah lebih jauh ada baiknya kita
mengetahui alat-alat apa saja yang kita butuhkan serta software-software apa saja yang kita akan
pakai.

ALAT-ALAT ( Hardware )

1. komputer baik OS (operating System) nya berbasis Windows ataupun MACHINTOSH

2. Instrument ( guitar , midi controler/keyboard ,drum etc.)

3. Soundcard yang memang diperuntukkan bagi Pro Audio ( Jangan pakai souncard bawaan karna
kualitasnya akan beda dengan yang benar-benar untuk Pro Audio)

4. Speaker Flat ( flat dalam arti jujur ,soundnya real ) , ini tidak harus mahal contohnya yang bagus
namun harga terjangkau ESI series harga kisaran 2-5jtaan , lalu anda bisa menggunakan headphone
"Flat" yang kata orang dibeberapa "forum" mengatakan tidak ada headphone yang flat ,
recomended philip Shp 2500 only 230ribuan rupiah. namun memang untuk pemula tidak disarankan
menggunakan headphone terlebih dahulu untuk melakukan proses recording , mixing & mastering.

SOFTWARE & PLUGIN-PLUGIN

Ada berbagai macam Software-software editing audio ( DAW= DIGITAL AUDIO WORKSTATION),
mulai dari proses recording sampai mastering seperti misalnya :

* Nuendo & Cubase ( Music Production & Mixing production ) serta Wavelab ( Mastering production
) yang didirikan oleh KARL STEINBERG & MANFRED RUNP pada tahun 1983 dikota Hamburg
Jerman.Mereka banyak menciptakan software-software editing.Pada tahun 2005 sebagian saham
mereka dibeli oleh perusahaan raksasa YAMAHA.

selanjutnya ada juga :

* Presonus studio One

* Reaper

* Sony acid dan soundforge

* Calkwalk

* Sonar dan sebagainya ( cari sendiri hehehhe)

Untuk plugin-plugin biasanya sudah ada didalam software-software tersebut ataupun ada yang
standalone alias berdiri sendiri.Plugin dibagi dengan nama VST ( Virtual Studio Technology ),Sbb :
*Vsti = Virtual Tech.Instrument.contoh virtual bassist , Virtual guiatrist etc.

* Vst Effect : Reverb , delay, dsb.

* Vst Midi : Perpaduan antara vsti dan vst effect..contoh : Hypersonic sudah ada reverb , delay nya
juga ).

Ada juga beberapa DAW :

*PROPELHEAD yang producknya dikenal dengan REFILL ( REASON )

* Imageline yang dikenal dengan nama Fruity Loop

* DIGIDESIGN / AVID dengan ProTools nya ( RTAS = realtime audio streaming )

okay lanjut....!!

MIXING

Mixing adalah bagaimana anda mengendalikan pikiran dan perasaan anda!!

kualifikasi mixing yang bagus itu seperti apa sih ???


1. Bersih ??
2. jelas ??
3. detail ( jelas terdengar per instrument )
4. level / volume ??
5. Balance ( kiri kanan volume nya seimbang pada hasil Mix )
6. Warna ?
7. Test audio atau hasil Mix ??

Sebenarnya Mixing itu sangat sederhana jika anda bisa memenuhi kriteria diatas dalam melakukan
proses Mixing.
sebelum anda melakukan proses Mixing sebaiknya anda membiasakan diri mendengarkan lagu-lagu
yang hasil mixing masteringnya bagus kurang lebih 15-20 menit , tujuannya agar anda terbiasa
mendengarkan lagu-lagu yang hasil mixing masteringnya bagus sehingga akan berdampak pada hasil
Mixing anda nantinya.Gimana kalau anda mendengarkan audionya jelek-jelek??ada Filsafat yang
mengatakan : " APA YANG ANDA DENGAR DAPAT MEMPENGARUHI PERILAKU DAN HASIL KERJA
ANDA " betul atau atau tidaknya silahkan dipikir sendiri :P

EQ
Saya pribadi heran dengan beberapa sumber atau forum atau apalah namanya mengenai EQ ini . Kok
bisa yah di patok-patok kaya mau beli tanah aja , ini harus segini itu harus segitu..ehm tergantung
jenis lagunya kali.menurut saya setting EQ tidak ada pakem khusus harus seberapa-seberapa.ada
beberapa lembaga sekolah audio yang memberikan tabel EQ harus segini dan segitu .WOW!!....saya
cuma tertawa ( dalam hati mau aja dibodohin sama gurunya hahahhahaha).Sebenarnya EQ atau
equalizer sama saja seperti volume/gain atau apalah namanya.Cuman lebih detail , misalnya anda
mau nurunin bassnya atau mau diangkat tinggi-tinggi dalam dunia audio dikenal dikenal dengan kata
BOOSTING atau CUT artinya di sunat atau dipotong.

Dulu waktu awal-awal perjalanan saya dalam dunia Audio saya banyak menggunakan EQ pada setiap
track , hasilnyaoun Amazing..RUSAK semua hehhehe...karna terlalu banyak melakukan BOOST dan
CUT.Maksud hati agar Frequensinya tidak tabrakan satu sama lain malah jadi hancur semua.

REVERB
Bagi anda penggemar makanan yang satu ini pasti tahu apa itu reverb.fungsi dari Reverb sendiri
adalah untuk menambah ruang dan membuat "basah" serta sebagai perekat antara satu track
dengan track lainnya.Reverb juga bisa digunakan untuk balancing ( untuk info lebih lanjut cara
penggunaanya silahkan bayar...:P)
COMPRESSOR
Compressor??apa itu??Compressor merupakan salah satu Tool penting untuk proses Mixing
mastering maupun, baik itu secara hardware analog maupun secara software/Plugin.Fungsi
Compressor sendiri pada dasarnya untuk menjaga agar sinyal audio menjadi rata , dalam arti jika ada
sinyal yang melewati batas yang telah disetting pada compressor maka sinyal itu akan ditekan atau
dicompress.disamping itu compressor bisa juga digunakan untuk "membuat padat sebuah
lagu".namun sebaiknya anda berhati-hati dalam menggunakan Tool ini, karna jika kelebihan maka
hasil dari mixing mastering sebuah lagu akan tenggelam sehingga dinamika sebuah lagu tidak keluar
( suaranya seperti orang tercekik).Ada beberapa setting pada compressor...untuk info lebih lanjut
silahkan kirim email ke marleyfredy@yahoo.com karna info tentang cara penggunaan yang tepat
tidaklah gratis :D maaf !!hehehehe....
SPEAKER
Penempatan speaker monitor yang tepat dan enak itu bagaimana sih??
Ada beberapa orang yang menaruh Speak.monitor terlalu jauh dalam arti terlalu lebar , sudut ke
sudut seperti tendangan pojok :D sehingga kiri kanannya terlalu luas,pertanyaannya apakah dengan
cara seperti ini anda bisa mengontrol CENTER , LEFT & RIGHT sound yang keluar ???silahkan
dicoba....
sebaiknya anda menaruhnya tidak terlalu lebar karna akan terasa lebih padat dan jelas serta
Vol.monitor anda tidak perlu besar karna semua sudah terdengar dengan jelas.ga percaya??silahkan
dicoba :)
APA & BAGAIMANA MIXING MASTERING YANG BAGUS ITU
Kebanyakan dari mereka yang bertanya kepada saya "Gimana sih cara melakukan proses Mixing &
Mastering yang benar dan bagus itu??yang bisa terdengar bagus disemua audio player tanpa adanya
penurunan kualitas audionya??well...sebelum kita melangkah lebih jauh ada baiknya kita
mengetahui alat-alat apa saja yang kita butuhkan serta software-software apa saja yang kita akan
pakai.

ALAT-ALAT ( Hardware )

1. komputer baik OS (operating System) nya berbasis Windows ataupun MACHINTOSH

2. Instrument ( guitar , midi controler/keyboard ,drum etc.)

3. Soundcard yang memang diperuntukkan bagi Pro Audio ( Jangan pakai souncard bawaan karna
kualitasnya akan beda dengan yang benar-benar untuk Pro Audio)

4. Speaker Flat ( flat dalam arti jujur ,soundnya real ) , ini tidak harus mahal contohnya yang bagus
namun harga terjangkau ESI series harga kisaran 2-5jtaan , lalu anda bisa menggunakan headphone
"Flat" yang kata orang dibeberapa "forum" mengatakan tidak ada headphone yang flat ,
recomended philip Shp 2500 only 230ribuan rupiah. namun memang untuk pemula tidak disarankan
menggunakan headphone terlebih dahulu untuk melakukan proses recording , mixing & mastering.

SOFTWARE & PLUGIN-PLUGIN

Ada berbagai macam Software-software editing audio ( DAW= DIGITAL AUDIO WORKSTATION),
mulai dari proses recording sampai mastering seperti misalnya :

* Nuendo & Cubase ( Music Production & Mixing production ) serta Wavelab ( Mastering production
) yang didirikan oleh KARL STEINBERG & MANFRED RUNP pada tahun 1983 dikota Hamburg
Jerman.Mereka banyak menciptakan software-software editing.Pada tahun 2005 sebagian saham
mereka dibeli oleh perusahaan raksasa YAMAHA.

selanjutnya ada juga :

* Presonus studio One

* Reaper

* Sony acid dan soundforge

* Calkwalk

* Sonar dan sebagainya ( cari sendiri hehehhe)

Untuk plugin-plugin biasanya sudah ada didalam software-software tersebut ataupun ada yang
standalone alias berdiri sendiri.Plugin dibagi dengan nama VST ( Virtual Studio Technology ),Sbb :
*Vsti = Virtual Tech.Instrument.contoh virtual bassist , Virtual guiatrist etc.

* Vst Effect : Reverb , delay, dsb.

* Vst Midi : Perpaduan antara vsti dan vst effect..contoh : Hypersonic sudah ada reverb , delay nya
juga ).

Ada juga beberapa DAW :

*PROPELHEAD yang producknya dikenal dengan REFILL ( REASON )

* Imageline yang dikenal dengan nama Fruity Loop

* DIGIDESIGN / AVID dengan ProTools nya ( RTAS = realtime audio streaming )

okay lanjut....!!

MIXING

Mixing adalah bagaimana anda mengendalikan pikiran dan perasaan anda!!

kualifikasi mixing yang bagus itu seperti apa sih ???


1. Bersih ??
2. jelas ??
3. detail ( jelas terdengar per instrument )
4. level / volume ??
5. Balance ( kiri kanan volume nya seimbang pada hasil Mix )
6. Warna ?
7. Test audio atau hasil Mix ??

Sebenarnya Mixing itu sangat sederhana jika anda bisa memenuhi kriteria diatas dalam melakukan
proses Mixing.
sebelum anda melakukan proses Mixing sebaiknya anda membiasakan diri mendengarkan lagu-lagu
yang hasil mixing masteringnya bagus kurang lebih 15-20 menit , tujuannya agar anda terbiasa
mendengarkan lagu-lagu yang hasil mixing masteringnya bagus sehingga akan berdampak pada hasil
Mixing anda nantinya.Gimana kalau anda mendengarkan audionya jelek-jelek??ada Filsafat yang
mengatakan : " APA YANG ANDA DENGAR DAPAT MEMPENGARUHI PERILAKU DAN HASIL KERJA
ANDA " betul atau atau tidaknya silahkan dipikir sendiri :P

EQ
Saya pribadi heran dengan beberapa sumber atau forum atau apalah namanya mengenai EQ ini . Kok
bisa yah di patok-patok kaya mau beli tanah aja , ini harus segini itu harus segitu..ehm tergantung
jenis lagunya kali.menurut saya setting EQ tidak ada pakem khusus harus seberapa-seberapa.ada
beberapa lembaga sekolah audio yang memberikan tabel EQ harus segini dan segitu .WOW!!....saya
cuma tertawa ( dalam hati mau aja dibodohin sama gurunya hahahhahaha).Sebenarnya EQ atau
equalizer sama saja seperti volume/gain atau apalah namanya.Cuman lebih detail , misalnya anda
mau nurunin bassnya atau mau diangkat tinggi-tinggi dalam dunia audio dikenal dikenal dengan kata
BOOSTING atau CUT artinya di sunat atau dipotong.

Dulu waktu awal-awal perjalanan saya dalam dunia Audio saya banyak menggunakan EQ pada setiap
track , hasilnyaoun Amazing..RUSAK semua hehhehe...karna terlalu banyak melakukan BOOST dan
CUT.Maksud hati agar Frequensinya tidak tabrakan satu sama lain malah jadi hancur semua.

REVERB
Bagi anda penggemar makanan yang satu ini pasti tahu apa itu reverb.fungsi dari Reverb sendiri
adalah untuk menambah ruang dan membuat "basah" serta sebagai perekat antara satu track
dengan track lainnya.Reverb juga bisa digunakan untuk balancing ( untuk info lebih lanjut cara
penggunaanya silahkan bayar...:P)
COMPRESSOR
Compressor??apa itu??Compressor merupakan salah satu Tool penting untuk proses Mixing
mastering maupun, baik itu secara hardware analog maupun secara software/Plugin.Fungsi
Compressor sendiri pada dasarnya untuk menjaga agar sinyal audio menjadi rata , dalam arti jika ada
sinyal yang melewati batas yang telah disetting pada compressor maka sinyal itu akan ditekan atau
dicompress.disamping itu compressor bisa juga digunakan untuk "membuat padat sebuah
lagu".namun sebaiknya anda berhati-hati dalam menggunakan Tool ini, karna jika kelebihan maka
hasil dari mixing mastering sebuah lagu akan tenggelam sehingga dinamika sebuah lagu tidak keluar
( suaranya seperti orang tercekik).Ada beberapa setting pada compressor...untuk info lebih lanjut
silahkan kirim email ke marleyfredy@yahoo.com karna info tentang cara penggunaan yang tepat
tidaklah gratis :D maaf !!hehehehe....
SPEAKER
Penempatan speaker monitor yang tepat dan enak itu bagaimana sih??
Ada beberapa orang yang menaruh Speak.monitor terlalu jauh dalam arti terlalu lebar , sudut ke
sudut seperti tendangan pojok :D sehingga kiri kanannya terlalu luas,pertanyaannya apakah dengan
cara seperti ini anda bisa mengontrol CENTER , LEFT & RIGHT sound yang keluar ???silahkan
dicoba....
sebaiknya anda menaruhnya tidak terlalu lebar karna akan terasa lebih padat dan jelas serta
Vol.monitor anda tidak perlu besar karna semua sudah terdengar dengan jelas.ga percaya??silahkan
dicoba :)
Mixing merupakan sebuah proses pengaturan agar track-track audio terdengar balance satu sama
lain. Proses ini merupakan sebuah proses kreatif yang sebenarnya sangat subjektif, serta bergantung
pada genre musik yang sedang dikerjakan. Dengan demikian tutorial cara mixing lagu ini tidak
dimaksudkan untuk menjadi aturan baku yang membuat anda dapat secara instant memiliki
kemampuan mixing lagu secara sempurna ( karena mixing sempurna tergantung dari taste, art,
telinga yang baik, latihan, jumlah sachet kopi instant serta batang rokok :)), namun paling tidak
dapat dijadikan sebagai sebuah panduan umum untuk mengetahui darimana memulai, serta
menentukan arah proses tersebut.
Langkah langkah yang akan saya bahas dibawah merupakan cara mixing lagu yang biasa saya lakukan
di studio (dan rasanya sebagian besar studio engineer menggunakan langkah yang sama) hanya
secara garis besarnya . Langkah-langkah detail cara mixing drum, cara mixing bass guitar, cara mixing
vocal dan lain-lain dapat anda temukan pada artikel saya lainnya di blog ini.

Langkah pertama mixing drum

Langkah pertama adalah mixing drum. Berikut adalah cara yang biasa saya gunakan untuk mixing
drum :
Pertama mute semua track yang ada, kemudian aktifkan semua track drum kit (cymbals, hi-hat, tom
dsb). Geser slider pan pada kedua track overhead cymbal ke kiri dan ke kanan sesuai urutannya.
Biarkan slider pan pada snare dan kick tetap di tengah. Kemudian geser pan dari elemen drum lain
sesuai dengan posisi standarnya, misalnya suara hi-hat di sebelah suara snare, tom 1 di sebelah tom
2, dst.
Compress semua track drum tersebut, kecuali track cymbals. Kemudian atur equalizer semua track
drum tadi satu persatu.
Hal yang perlu diingat ketika mengatur equalizer drum, bahwasanya instrument-instrument lain
seperti vocal, guitar, piano, keyboard dll nantinya harus memiliki frekuensi tersendiri. Dengan
demikian akan jauh lebih baik jika frekuensi dari setiap elemen drum yang nantinya akan digunakan
oleh instrument lain dipotong terlebih dahulu.
Setelah proses Compress dan EQ selesai, atur level volume semua track drum sehingga terdengar
balance. Effect reverb biasanya diberikan hanya jika benar-benar dibutuhkan. Sebisa mungkin drum
tidak diberikan effect apapun agar pukulannya tedengar jelas. Kalaupun terpaksa memberikan effect
karena perlu memberikan kesan live biasanya reverb hanya diberikan pada snarenya saja.

Langkah kedua - mixing bass guitar

Langkah berikutnya adalah mixing bass guitar kedalam lagu. Cara mixing bass guitar didalam sebuah
lagu adalah sebagai berikut:
Nyalakan track bass dan biarkan pan tetap ditengah. Compressing pada track bass ini sebenarnya
tidak terlalu perlu (kecuali jika suaranya benar-benar terdengar naik turun). Andaikan terpaksa
mengcompress track ini, maka konfigurasi compressor harus diatur secara hati-hati agar suara
dentuman dari petikkan senar bass tidak terdengar lemah.
Setelah selesai dikompresi, berikutnya adalah mengatur EQ untuk bass tersebut. Mengatur EQ pada
bass biasanya akan sedikit lebih sulit dikarenakan range frekuensi yang ditempati bass guitar hampir
sama dengan range frekuensi yang ditempati oleh kick drum. Pada kondisi ini biasanya saya
bereksperimen disekitar frekuensi low mid untuk membuat kedua instrument tersebut tetap
terdengar terpisah satu sama lain.
Terakhir, mengatur level volume bass tersebut hingga sama keras dengan level volume drum. Pada
tahap ini biasanya suara bass akan terdengar terlalu keras, namun anda tidak perlu kuatir karena
ketika semua instrument selesai di mix, maka hal tersebut tidak akan terlalu mencolok.

Langkah ketiga mixing vocal

Setelah bass dan drum selesai di mixing, proses berikutnya adalah mixing vocal.
Pada saat mixing vocal, compressor mungkin diperlukan untuk mengatasi fluktuasi suara yang terjadi
pada saat proses perekaman.
Atur EQ sehingga suara vocal berada disekitar range frekuensi 2500 Hz. Frekuensi dibawah 80 Hz
biasanya perlu dipotong untuk menghilangkan noise.
Track vocal mungkin akan terdengar lebih baik jika diberikan sedikit reverb atau delay, namun
reverb/delay tersebut harus diatur agar tidak terlalu panjang ataupun terlalu berlebihan Beberap
musisi biasanya menggunakan effect plate reverb atau slapback delay pada track vocal, namun hal
tersebut bukan suatu acuan karena akan sangat bergantung pada selera anda serta kebutuhan lagu.

Langkah keempat mixing guitar


Proses selanjutnya adalah mixing track guitar. Pada saat mixing guitar, track rhythm guitar umumnya
diduplikasi menjadi dua track yang kemudian di-pan ke kiri dan kanan agar terdengar lebih tebal,
sementara lead gitar di duplikasi menjadi dua track yang diposisikan sedikit ke kiri dan sedikit ke
kanan.
Suara gitar memiliki peak natural pada frekuensi sekitar 4 kHz, hal tersebut dapat dijadikan acuan
pada saat menggunakan EQ. Compressor yang digunakan secara berlebihan pada track guitar dapat
membuat noise.
Terakhir, atur level volume guitar sehingga tidak bertabrakan dengan suara vocal.

Langkah kelima mixing instrument keyboard, piano dan instrument lainnya

Langkah kelima adalah mixing keyboard, piano, serta instrument-instrument lainnya. Pada saat
mixing dilakukan pada sisa track-track instrumen tersebut, nyalakan satu persatu dan
bereksperimenlah dengan posisi panning. Satu hal yang harus dipehatikan adalah : pada saat setiap
kali salah satu instrument ditambahkan kedalam lagu, maka natural peak dari instrument tersebut
akan bercampur dengan track lain. Untuk mengatasi situasi ini , yang biasanya dilakukan adalah
mencoba menambah maupun mengurangi level volume track, mengatur ulang equalizer ataupun
effect lain sesuai kebutuhan, namun dengan tetap menjaga eksistensi suara drums, bass dan vocal.

ATURAN DASAR SETTING EQ

Memang pada prakteknya cara mengatur equalizer akan sangat bergantung dari karakter sound
yang telah direkam, karakter sound yang ingin dicapai, keselarasan sebuah sound dengan sound
lainnya, genre music yang di mixing dan lain lain, namun bagaimanapun saya pikir tidak ada salahnya
untuk memberikan informasi tentang cara mengatur equalizer ini, yang paling tidak dapat dijadikan
sebagai starting point pada saat mixing track per track ataupun finalizing pada saat mastering
nantinya. Jadi pada artikel-artikel saya selanjutnya saya akan coba memberikan panduan bagaimana
cara mengatur equalizer track per track, instrument per instrument. Namun sebelum itu, terlebih
dahulu saya ingin memberikan informasi tentang beberapa jargon yang merupakan prinsip dasar
dalam mengatur equalizer yaitu memfilter, memotong dan menaikkan gain frekuensi.

Filtering

Filtering merupakan istilah untuk memangkas habis gain dari frekuensi-frekuensi tertentu. Filtering
yang paling umum digunakan adalah filter untuk memotong frekuensi low yang biasa disebut
dengan low cuts (disebut juga dengan high-pass filters) dan filter untuk memotong frekuensi high
yang disebut dengan high-cuts (disebut juga dengan low-pass filters).
Filter lain yang juga sering digunakan adalah band-pass filters yang berarti meninggalkan frekuensi
tertentu yang diinginkan sambil memangkas habis frekuensi lainnya, dan notch filters yang berarti
memangkas habis salah satu frekuensi

Cutting

Memperbaiki sound biasanya dilakukan dengan cara mencari frekuensi yang bermasalah dan
memotong atau menurunkannya menggunakan equalizer. Proses ini disebut dengan cutting. Selain
memperbaiki sound, proses cutting frekuensi menggunakan equalizer juga biasa dilakukan untuk
memberi ruang untuk ditempati oleh instrument lain agar dapat terdengar terpisah satu sama
lainnya.

Boosting atau Enhancing

Dalam sebuah lagu terkadang ada salah satu atau beberapa track instrument ataupun vocal yang
ingin lebih ditonjolkan, dipoles ataupun diberi karakter. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
menaikkan beberapa frekuensi kunci dengan equalizer, misalkan dengan menaikkan frekuensi 5
kHz agar track vocal terdengar lebih jelas, menaikkan frekuensi 2-4 kHz pada kick drum agar lebih
terdengar memiliki metal sound dan lain-lain. Proses menaikkan gain salah satu atau sebagian
frekuensi ini disebut dengan boosting atau enhancing.

PANDUAN PENGENALAN EQ SAAT MIXING


Secara definisinya, mengatur equalizer adalah proses mengangkat (boosting/enhancing) atau
menurunkan (cutting) gain dari frequency tertentu tanpa mempengaruhi frequency frequency
lainnya. Untuk dapat mengerti cara mengatur equalizer pada saat mixing maupun mastering,
sebelumnya anda perlu memahami pengaruh atau efek dari beberapa range frequency bagi sebuah
instrument ataupun lagu secara keseluruhan.
Range- range frequency tersebut dapat dijadikan sebagai acuan pengaturan equalizer pada proses
mixing maupun mastering

Range frequency 40 Hz 80 Hz : range frequency sub bass atau low bass

Range frekuensi terendah yang biasa ada dalam sebuah lagu adalah range frekuensi 40 80 hz
dengan pengaturan equalizer yang dipusatkan di sekitar 50 hz . Range frekuensi ini dinamakan range
frekuensi sub bass / low bass. Memang banyak suara yang memiliki frekuensi sekitar 20 40 hz,
namun suara tersebut biasanya bukanlah suara dari alat musik (kecuali untuk beberapa jenis pipe
organ). Kick drum, bahkan bass guitar pun tidak memiliki frekuensi di range tersebut (nada terendah
dari senar bass guitar memiliki frekuensi 41 hz). Dengan demikian pada banyak kasus, range
frekuensi 20-40 hz dipangkas habis menggunakan HPF (high pass filter) atau low cuts filter.
Range frequency sub bass / low bass umumnya diatur dengan equalizer untuk memberikan power
kedalam sebuah instrument ataupun keseluruhan lagu. Range frekuensi tersebut tidak akan
terdengar jelas ketika anda mendengarkan lagu pada level volume yang pelan ataupun
mendengarkan lagu menggunakan speaker kecil. Dengan demikian, agar anda dapat mengatur range
frekuensi sub bass / low bass dengan benar, maka anda harus mengatur equalizer sambil
mendengarkannya pada level volume yang keras, kemudian mencobanya pada level volume yang
dipelankan. Sebaiknya anda juga mendengarkannya pada speaker stereo system yang besar maupun
kecil sebagai perbandingan.

80 Hz 250 Hz : bass range frequency

Mengatur equalizer pada range frekuensi bass yang berkisar antara 80-250 hz dengan pengaturan
equalizer yang umumnya dipusatkan pada frequency sekitar 100 hz atau 200 hz, akan
mempengaruhi ketebalan dari sebuah instrument ataupun sebuah lagu .Pada track guitar dan bass
guitar, dinaikkannya gain di sekitar frekuensi 100 hz biasanya akan menambah suara terdengar lebih
bulat. Namun anda harus berhati-hati karena jika anda memberikannya secara berlebihan akan
membuat suara guitar ataupun bass guitar terdengar berdentum.
Pada beberapa kasus, gain di sekitar frekuensi 100 hz pada track guitar bahkan diturunkan untuk
membuat suara guitar tersebut terpisah dari suara bass guitar, dan mengurangi suara dentuman dari
track tersebut. Namun konsekuensinya adalah not - not yang dimainkan pada range frekuensi
tersebut menjadi terdengar samar. Biasanya, untuk membuat not not tersebut kembali terdengar
jelas, anda perlu menambahkan sedikit gain pada frekuensi disekitar 200 hz.
Pada track vocal, frekuensi di sekitar 200 hz menentukan keutuhan dari suara vocal yang direkam.
Namun frekuensi di range ini seringkali dipotong agar suara vocal terdengar terpisah dari
instrument-instrument lain. Kecuali jika anda telah mengatur equalizer dan menaikkan gain di
frekuensi high pada track vocal dan membuat suaranya terdengar tipis, dinaikkannya gain di sekitar
frekuensi 200 hz biasanya akan mengembalikan ketebalan suara vocal tersebut.

250 Hz 500 Hz : lower mid range frequency

Mengatur equalizer pada frekuensi di sekitar 250 500 hz dapat memberikan aksen pada ambience
di studio rekaman anda serta menambahkan kejernihan pada suara bass dan instrument string yang
bernada rendah seperti cello, ataupun nada rendah dari piano dan organ.
Penambahan gain yang berlebihan di range frekuensi ini dapat membuat kick drum dan tom
terdengar seperti terbuat dari kardus atau karton, sehingga untuk track track tersebut serta track
cymbal frekuensi lower mid biasanya dipangkas habis.
Pada umumnya, pengaturan equalizer di low mid range dapat dilakukan di frekuensi apa saja di
sekitar 250 500 hz namun lebih sering dipusatkan disekitar frekuensi 300 dan 400 hz. Bagian
terendah dari range frekuensi lower mid ( 250 hz 350 hz ) disebut juga dengan range frekuensi
upper bass yang biasa dinaikkan pada track vocal terutama vocal wanita untuk membuat suaranya
terdengar lebih tebal.
500 Hz 2 kHz : mid range frequency
Mengatur equalizer di mid range sering di lakukan untuk membuat suara instrument terompet
ataupun yang berkarakter hampir sama terdengar jelas (biasanya sekitar 500 hz sampai 1 khz), atau
untuk membuat efek suara telephone. Penambahan gain di mid range juga dapat menambah attack
dari track bass guitar (biasanya di 800 hz dan 1,5 khz). Sama halnya dengan nada - nada rendah dari
track rhythm guitar yang juga dapat terdengar lebih memiliki attack jika gain di frequency 1,5 khz
dinaikkan.
Untuk instrument guitar, piano dan vocal, gain dari mid range frequency ini lebih sering di turunkan.
Menurunkan gain di frequency 500 800 hz untuk track gitar akustik dapat membuatnya terdengar
lebih jernih, sementara menurunkan gain di frequency 800 hz pada track vocal dapat menurunkan
suara sengau serta membuatnya terdengar lebih bulat dan jelas.
Untuk track snare drum, penurunan gain di frequency 800 hz dapat menghilangkan kesan suara
kaleng.

2 kHz 4 kHz : upper mid range frequency

Range frequency ini menentukan efek attack dari rhythm instrument juga percussive instrument.
Pengaturan equalizer dapat diaplikasikan di frekuensi mana saja di range ini, namun biasanya
dipusatkan sekitar frequency 3 kHz.
Pada kick drum, menaikkan gain di frequency 2,5 kHz dapat memberikan attack pukulan dengan
karakter felt beater, sementara 4 kHz memberikan karakter hardwood. Frekuensi frekuensi ini
dapat pula memberikan attack lebih jelas pada tom dan snare.
Track guitar pun seringkali diberikan sedikit attack dan pemisahan suara dengan cara mengatur
equalizer di range ini. Sementara untuk track vocal, sedikit boosting ( sekitar 1 dB 3 dB) di mid
range akan membuat vocal tersebut terdengar lebih menonjol. Namun menambahkan gain terlalu
berlebihan dapat membuat syllables dari vocal sulit untuk di reduksi dan membuatnya tidak enak
didengar. Pada track background vocal, umumnya mid range frequency di turunkan agar terdengar
lebih transparan.

4 kHz 6 kHz : presence range frequency

Mengatur equalizer pada frequency di range ini dapat membuat track vocal ataupun instrument
melodi lainnya terdengar lebih dekat dan lebih jelas. Namun jika berlebihan dapat membuat
suaranya terdengar kasar. Pengaturan equalizer di range ini umumnya dipusatkan disekitar
frequency 5 kHz.

6 kHz 20 kHz : treble range frequency

Pada dasarnya, range treble frequency ini menentukan kejernihan dari instrument. Pengaturan
equalizer di range ini biasanya dipusatkan di sekitar frequency 7 kHz, 10 kHz dan 15 kHz. Suara S
pada vocal biasanya memiliki frequency sekitar 7 kHz, membuat frequency tersebut biasanya
diturunkan. Namun anda harus hati-hati pada saat menurunkannya karena dapat membuat vocal
terdengar tumpul. Breath sound dari track vocal biasanya terdengar di frequency 15 kHz keatas.
Pada garis besarnya mengatur equalizer untuk track vocal adalah menghilangkan aksen S yang
terlalu kasar dan memberikan breath sound yang berkualitas.
Frequency 7 kHz juga merupakan metallic attack dari frekuensi drum, sementara 15 kHz
merupakan desisan bagi track cymbals. Ketika mengatur equalizer secara keseluruhan, frequency 10
kHz digunakan sebagai penambah level kejernihan secara umum.

FINAL MASTERING DENGAN T-RACK 3 DELUXE

Layaknya semua proses yang dilakukan pada fase recording dan mixing, proses final mastering dari
sebuah lagu memiliki banyak opsi dan alternatif, mulai dari cara dan prosedur bagaimana proses
mastering tersebut dilakukan, tools atau software yang digunakan hingga selera sound engineer
yang diaplikasikan kedalamnya. IK Media T-Racks 3 Deluxe mastering suite merupakan salah satu
software yang banyak digunakan untuk keperluan ini. Software yang merupakan salah satu software
mastering favorit saya ( disamping wave lab dan isotop ozone ), telah dilengkapi dengan komponen-
komponen canggih seperti Linear Phase EQ, Opto dan Classic Compressor, serta Soft Clipper, yang
diperlukan untuk melakukan proses mastering lagu secara professional.

Pada posting kali ini saya akan menguraikan cara-cara serta langkah yang biasa saya lakukan ketika
melakukan mastering lagu menggunakan T-Racks 3 Deluxe (yang secara umum, juga merupakan
langkah-langkah yang saya lakukan pada proses mastering menggunakan software lainnya), sebagai
tips ataupun referensi bagi anda yang sedang terjebak dalam proses mastering lagu dan mulai
kehilangan arah akan apa yang harus anda lakukan pada software yang anda gunakan :).

Langkah 1 : T-Racks Linear Phase EQ dan cara settingnya

Apapun software yang saya gunakan, saya lebih senang untuk memulai melakukan proses final
mastering lagu dengan memasukkan EQ sebagai mata rantai pertama. Pada T-Racks 3 deluxe, EQ
yang saya gunakan adalah T-Racks Linear Phase EQ. Kebiasaan saya untuk menggunakan EQ pada
rantai pertama mastering lagu tersebut, dikarenakan keinginan saya untuk memfilter frekuensi low
menggunakan low cut filter sebelum lagu tersebut memasuki compressor. Dengan urutan demikian,
compressor nantinya akan memiliki kerja yang lebih ringan dengan hanya berkonsentrasi pada
pemrosesan frekuensi mid dan high.

Konfigurasi low cut filter sendiri memang akan tergantung dari seberapa nge-bass lagu yang ingin
dihasilkan, namun biasanya konfigurasi low cut filter dengan starting point sekitar 37-38 kHz
merupakan konfigurasi umum yang digunakan lagu-lagu berbagai genre ( kecuali lagu tersebut
memiliki elemen bass yang sangat berat seperti drum kick 808 atau deep analog bass ). Faktor
lainnya yang harus diperhatikan pada low cut filter adalah bentuk kecuraman dari roll off yang
dihasilkannnya. Pada T-Racks Linear Phase EQ, misalnya, saya dapat mengatur roll off dengan
starting point 35-41 kHz dengan aman. Namun pada software EQ lain, starting point tersebut bisa
saja membuat bentuk roll off yang terlalu curam, yang juga berati bahwa pemotongan frekuensi
akan menjadi terlalu kasar. Berdasarkan kondisi demikian, maka anda dapat menganggap bahwa
starting point 35-41 kHz adalah sebuah guide line yang nantinya akan mengalami penyesuaian
bergantung jenis EQ yang anda gunakan.

Selama lagu yang saya mastering adalah lagu dengan hasil mixing yang sudah baik, selain dari
konfigurasi low cut filter, umumnya tidak terlalu banyak konfigurasi lain yang saya lakukan pada EQ.
Kalaupun beberapa frekuensi high memang harus dinaikkan, biasanya kenaikkan tersebut tidak lebih
dari 5 dB. Jika pada kondisi tertentu, frekuensi low atau mid perlu di boosting, saya selalu
memastikan bahwa pilihan Linear Phase pada EQ yang digunakan berada pada posisi aktif, agar
warna atau karakter bawaan dari EQ tersebut dapat diminimalisir

Langkah 2 :T-Racks Opto Compressor cara settingnya

Ratio
Tujuan utama yang ingin dicapai oleh proses final mastering dari sebuah lagu adalah terjaganya
kejernihan dan dinamika lagu tersebut. Untuk itu, saya selalu mengawali konfigurasi compressor
denga ratio rendah, misalnya 3 : 1. Pada ratio yang rendah tersebut, umumnya compressor masih
dapat menghasilkan suara yang relatif bersih.

Attack Time
Konfigurasi attack time harus dilakukan dengan sedikit hati-hati karena dapat berpengaruh pada
kejernihan suara hasil kompresi. Konfigurasi attack time yang terlalu cepat akan membuat
terciptanya sinyal-sinyal baru yang dapat menggangu sinyal dan dinamika lagu aslinya. Namun jika
attack time terlalu lambat (misalnya diatas 55ms) akan membuat compressor malah sama sekali
tidak bereaksi.
Konfigurasi attack time terlambat yang ada pada komponen T-Racks Opto Compressor adalah 50ms.
Namun saya tidak pernah mengkonfigurasikannya diatas 45ms, karena jika attack time lebih lambat
dari itu, maka kerja compressor tidak terasa berpengaruh. Sementara itu, attack time yang cepat
memang terkadang harus dilakukan untuk mengontrol jenis suara-suara distorsi dan overdrive,
dengan tujuan membersihkan lagu dari banyaknya sinyal yang mengalami peak. Namun pada
dasarnya, seberapa cepat attack yang harus dikonfigurasikan akan sangat bergantung dengan
ketelitian pendengaran anda.

Release Time
Untuk release time pada compressor, biasanya saya mengkonfigurasikaannya antara 83-105ms.
Konfigurasi release time yang lebih lambat dari itu akan membuat sinyal-sinyal baru hasil kompresi
terdengar semakin jelas dan semakin mengganggu.

Input level
Saat mengkonfigurasikan input level pada T-Racks Opto Compressor (pada T-Racks Classic
Compressor disebut juga dengan input drive ), saya biasanya memonitor dan memastikan
konfigurasi compressor tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi, dengan cara memperhatikan level
dari VU meter. Umumnya saya menginginkan level rata-rata di VU meter ada disekitar -5 dB dan
tidak mengalami penurunan level secara drastis hingga -10dB.
Sebagai alternatif, terkadang saya menukar T-Racks Opto Compressor dengan T-Racks Classic
Compressor yang memiliki opsi stereo enhancement untuk menentukan mana yang lebih cocok
digunakan pada lagu yang sedang saya mastering.

Langkah 3 : T-Racks Soft Clipper dan cara settingnya

Cara konfigurasi yang biasa saya lakukan pada komponen ini terhitung sangat simple. Yang pertama
saya lakukan adalah memutar tombol gain dan tombol slope ke kiri secara penuh. Kemudian
memutar tombol gain ke kanan secara bertahap untuk menaikkan gain sebesar mungkin, namun
dengan tetap memonitor kejernihan suara yang dihasilkan. Saya akan berhenti memutar tombol
tersebut pada point sebelum gain mulai terasa merusak kejernihan sinyal.
Setelah gain yang optimal didapatkan, langkah saya berikutnya adalah memutar tombol slope ke
kanan secara bertahap hingga saya mendapatkan timbre suara yang saya kehendaki. Untuk
beberapa kasus, menempatkan slope di point sekitar -6 biasanya menghasilkan effect saturation
yang cukup enak didengar.

Tips tambahan untuk final mastering


Hasil mixing dan mastering yang baik memerlukan system sound monitoring yang baik pula. Dan
untuk kepentingan tersebut, saya menyarankan anda untuk memiliki speaker monitor dengan sistem
2.1 ( 2 speaker, 1 subwoofer) yang telah ditempatkan secara benar. Anda dapat saja berpandangan
skeptis mengenai hal ini, namun bagaimanapun, anda akan dapat merasakan perbedaan antara hasil
mastering seseorang yang tidak menggunakan subwoofer dengan seseorang yang memiliki
subwoofer pada saat melakukannya. Pada hasil mastering lagu yang tidak menggunakan subwoofer,
dua alternatif yang mungkin terjadi adalah hasil mastering lagu dengan frekuensi bass yang terlalu
berlebihan atau kebalikannya, lagu dengan frekuensi bass yang terlalu flat. Tips cara melakukan final
mastering dengan T-racks diataspun memerlukan system sound monitoring yang dilengkapi
subwoofer agar konfigurasi dapat dilakukan dengan benar. Terlebih karena setiap konfigurasi yang
ada diatas hanya merupakan panduan konfigurasi mastering lagu secara umum. Detail dari
konfigurasi-konfigurasi tersebut belum tentu cocok dengan kebutuhan lagu anda, jadi
bagaimanapun, telinga anda yang akan menentukannya.

TIPS MASTERING

Pada saat melakukan proses mastering audio dari sebuah lagu yang telah di mixing, ada beberapa
prosedur yang biasa saya lakukan. Bagi saya, prosedur-prosedur tersebut telah menjadi sebuah
ritual yang merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari proses mastering audio litu sendiri,
dan bagi anda prosedur-prosedur tersebut dapat dijadikan sebagai tips n tricks mastering audio yang
akan memudahkan anda pada saat mastering.

Tips mastering 1: Perkaya telinga dengan mendengarkan CD-CD referensi.


Tentukan genre musik dari lagu yang akan anda mastering, kemudian pinjam (jika anda keberatan
membeli album band yang tidak sukai) beberapa cd album dari artis artis besar di genre tersebut
dan dengarkan lagu-lagu mereka (NOTE: referensi sebaiknya dari cd audio dan bukan mp3). Hal ini
biasa saya lakukan untuk membiasakan telinga saya dengan sound dari lagu-lagu di genre tersebut,
karena bagaimanapun setiap genre musik memiliki ciri khas sound yang dihasilkan terutama dari
settingan eq dan power RMS. Ritual mendengarkan cd lagu lainpun biasanya saya lakukan disela
sela proses mastering untuk mengistirahatkan dan merefresh telinga karena ketika anda melakukan
mastering, tentunya lagu yang anda mastering tersebut anda dengar berulang-ulang kali.

Tips mastering 2: Pada saat mastering audio, dengarkan lagu tersebut dari beberapa posisi.
Jadilah audio engineer yang lincah :), yang tidak terpaku duduk ditengah speaker monitor. Pada saat
mendengarkan lagu yan sedang anda mastering, terkadang anda harus bergeser sedikit ke kiri,
sedikit ke kanan, berdiri dan mundur kebelakang untuk mendengarkan sound dari lagu yang sedang
anda mastering dari berbagai posisi (bahkan saya biasanya sedikit menaikan volume lagu yang saya
mastering kemudian membuka pintu studio dan mendengarkan lagu yang saya mastering tersebut
dari ruangan sebelah). Hal tersebut dikarenakan speaker monitor studio merupakan speaker yang
telah diset terfokus ke telinga engineer yang pada umumnya duduk di tengah speaker-speaker
tersebut, sementara anda sebagai engineer harus membuat lagu yang sedang anda mastering tetap
terdengar baik dari posisi manapun orang lain akan mendengarnya.

Tips mastering 3: Dengarkan lagu yang sedang anda mastering pada mode mono
Terkadang (biasanya secara tidak sengaja) orang lain mendengarkan lagu anda pada mode ini, entah
karena salah satu speaker dari sound system mereka bermasalah, ataupun mereka mendengarkan
lagu dari tape deck kakek mereka :). Atau, jika anda mendaftarkan lagu yang anda mastering untuk
RBT yang dapat didownload oleh orang lain-pun, umumnya para content provider meminta lagu
anda dengan durasi 30 detik dan pada mode mono.
Pada saat anda mendengarkan lagu yang sedang anda mastering pada mode mono, jelas anda tidak
akan dapat mendengarkan lagu tersebut dengan sound yang bagus, namun konsep utamanya adalah
: membuat hasil mastering audio lagu yang meskipun didengarkan pada mode mono, tidak terlalu
terdengar berantakan. Untuk melakukan proses mono checking ini, saya biasanya menggunakan
software Izotope Ozone. Pada software tersebut, anda dapat menemukan konfigurasi mono
dibagian Multiband Stereo Imaging kemudian mencentang bagian Show Channel Ops.

Tips mastering 4: Dengarkan hasil mastering audio lagu anda pada level volume berbeda
Dengarkan lagu yang anda mastering pada volume normal, namun secara berkala dengarkan lagu
tersebut pada volume yang keras, sangat keras, pelan dan sangat pelan untuk mengetahui
bagaimana sound dari lagu tersebut ketika orang lain mendengarkannya dengan level volume yang
pastinya sangat beragam.

Tips mastering 5: Dengarkan di sound system dan speaker yang berbeda


Buatlah beberapa versi dari hasil mastering anda, kemudian burn kedalam CD audio dan dengarkan
hasilnya pada stereo system di rumah, kantor, laptop ataupun di mobil. Tidak usah terlalu terobsesi
untuk mencari detail perbedaan secara spesifik, tapi hanya sebagai gambaran hasil mastering anda
jika di dengarkan di tempat lain.

Tips mastering 6: Dengarkan lagi besok pagi


Ketika anda telah merasa puas dengan hasil mastering audio yang anda lakukan pada lagu anda (
ataupun kebalikannya, merasa frustasi karena tidak mendapatkan hasil yang anda inginkan), matikan
lagu tersebut kemudian tidur dan dengarkan kembali hasil mastering audio anda pada keesokan
paginya. Hal ini selalu saya lakukan dan terbukti telah dapat membuat saya menemukan kesalahan-
kesalahan yang saya lakukan pada saat mastering sehari sebelumnya. Bahkan pada proyek-proyek
tertentu yang tidak memiliki deadline yang mendesak, saya mematikan hasil mastering lagu tersebut
untuk mendengarkannya kembali 2- 3 hari kemudian agar telinga saya bener-benar telah ter-refresh.

Tips tambahan untuk mastering audio lagu :


Jika proyek lagu yang sedang anda kerjakan adalah proyek dimana anda adalah musisi, arranger
ataupun mixing engineer, bahkan merangkap produsernya, sebisa mungkin serahkan proses
mastering ini pada audio engineer lain. Atau paling tidak, mintalah audio engineer lain melakukan
proses mastering lagu anda sebagai perbandingan dengan hasil mastering anda sendiri. Hal ini
disebabkan karena bagaimanapun sebagai orang yang telah terlibat diproses pembuatan lagu, anda
terlalu dekat secara emosional dengan lagu anda tersebut, sehingga sulit untuk dapat
mendengarkannya secara objektif . Dan pada posisi tidak objektif ini anda bisa saja terjebak pada
kesalahan-kesalahan mendasar, seperti misalnya terlalu banyak memberikan extra treatment pada
suara-suara yang sebenarnya tidak akan terlalu didengarkan oleh orang lain, ataupun kebalikannya,
anda tidak terlalu mengekspos suara-suara yang sebenarnya terdengar jelas atau ingin didengar oleh
orang lain.

PENGATURAN PLUGIN COMPRESSOR UNTUK MIXING VOKAL

Menggunakan audio compressor pada saat merekam vocal atau menggunakan compressor tersebut
nanti pada saat mixing track vocal ?.
Hal tersebut merupakan dua opsi yang biasa dipertanyakan oleh banyak orang yang baru terlibat di
dunia rekaman. Menurut saya, opsi menggunakan audio compressor pada saat merekam trak vocal
dapat dipilih bergantung dari kondisi dari studio rekaman serta keinginan vocalist. Walaupun secara
pribadi saya lebih memilih untuk merekam track vocal secara polos tanpa menggunakan audio effect
apapun (dry signal) agar dapat mempertahankan keaslian sinyal yang direkam, baru kemudian
menambahkan audio compressor (dan audio effect lainnya ) pada saat proses mixing. Salah satu
alasan mengapa hal tersebut ssaya lakukan adalah agar pada saat mixing, saya dapat bereksperimen
dengan berbagai jenis dan merk audio compressor ( baik audio compressor hardware maupun
software ) serta konfigurasinya untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Memang ada beberapa alasan mengapa seorang mixing engineer memilih opsi pertama , salah
satunya adalah agar vocalist dapat memonitor suaranya secara jelas dan rata pada saat ia sedang
direkam. Namun sebenarnya kondisi demikian dapat diakali dengan menempatkan audio
compressor pada monitor bus sehingga vocalist tetap dapat memonitor suaranya yang telah
diberikan effect audio compressor tersebut namun dilain pihak, suara yang terekam tetap polos
tanpa effect apapun (dry signal ).
Terlepas dari opsi apapun yang anda pilih dari kedua opsi diatas, audio compressor untuk vocal tetap
harus dikonfigurasikan. Beberapa konfigurasi yang biasa saya gunakan pada audio compressor
adalah sebagai berikut:

Setting Noise Gates

Satu hal yang perlu diingat bahwa selain menghilangkan dynamic range, audio compressors juga
menambah noise pada sinyal yang direkam. Untuk menghilangkan noise tersebut, anda harus
mengakalinya dengan mengatur setting noise gate (pada beberapa jenis audio compressor bisa
disingkat dengan gates). Pada track vocal, noise gate sangat efektif untuk menghilangkan noise dari
suara suara yang tidak diperlukan seperti bocoran suara dari headphone vocalist, atau suara dari
pergerakkan tubuh vocalist, suara kertas ketika vocalist membuka catatan lyrics, dll.
Noise gates memiliki dua parameter yaitu Noise floor threshold dan Rate. Noise floor threshold
berfungsi untuk menghilangkan semua sinyal dibawah threshold yang kita tentukan. Noise floor
threshold untuk track vocal biasanya sekitar -50db sampai dengan -10db (saya pribadi umumnya
mematok level noise floor threshold sekitar -30db ). Sementara parameter Rate membuat sinyal
yang dihilangkan oleh noise gate tersebut menghilang secara fades out. Hal ini diperlukan agar
noise gate tidak memotong sinyal secara kasar yang dapat membuat ujung kalimat yang dinyanyikan
vocalist ikut terpotong. Parameter Rate untuk track vocal biasanya sekitar 1 sampai dengan 1,5 sec.

Setting Treshold

Treshold adalah batasan level yang dijadikan acuan oleh audio compressor untuk mulai bekerja. Jika
anda menset threshold di -10 misalnya, maka audio compressor akan mulai bekerja ketika level
sinyal telah melebihi -10. Level -10 sendiri merupakan setting threshold yang biasa saya gunakan
untuk track vocal.
Setting Ratio
Ratio 2:1 merupakan setting yang paling banyak digunakan untuk audio compressor pada hampir
semua track, termasuk track vocal. 2:1 berarti bahwa audio compressor memerlukan 2 db energi
suara untuk menaikkan output meter sebanyak 1 db. Untuk lebih mudahnya, anda dapat
menganggap angka didepan sebagai db In dan angka dibelakang sebagai db Out. Dengan demikian,
maka i pada setting ratio 2:1, anda dapat membacanya sebagai 2 db In = 1 db Out

Setting Attack dan Release:


Konfigurasi atau setting attack dan realese audio compressor pada track vocal merupakan satu hal
yang tidak terlalu mudah dilakukan atau dijelaskan. Jika anda salah dalam menenkofigurasikannya,
maka efek dari audio compressor dapat saja terlambat mengkompresi sinyal atau terlambat
melepaskan kompresinya. Saran saya, sebelum anda dapat memahami kedua setting tersebut ( yang
membutuhkan banyak eksperimen ), gunakan parameter fast attack , dan atur parameter realese
secukupnya agar suara dari vocal tetap terdengar natural.

Setting output
Setting output akan menentukan keluaran akhir dari sinyal suara yang keluar dari audio compressor.
Seringkali kompresi yang dilakukan oleh audio compressor membuat sinyal suara menjadi melemah
sehingga anda perlu mengangkat level output agar sinyal terdengar lebih kuat. Biasanya level output
tersebut diatur agar mendekati ( dan tidak melebihi ) 0 db.