You are on page 1of 7

Hukum Menggerakkan Telunjuk Saat

Tasyahud dan Menepuk Pahu Imam

KAJIAN TENTANG MENGGERAKKAN TELUNJUK SAAT TASYAHUD


DAN MENEPUK BAHU IMAM

Melihat dalam praktek sholat, ada sebagaian orang yg menggerak-gerakkan jari


telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan.
Permasalahan-permasalahan seperti ini, yg berkembang ditengah masyarakat
merupakan salah satu permasalahan yang perlu dibahas secara ilmiah. Dalam
kondisi mayoritas masyarakat yg jauh dari tuntunan agamanya, ketika mereka
menyaksikan masalah-masalah sepertinya sering terjadi debat mulut dan
mengolok-olok yang lainnya yang kadang berakhir dengan permusuhan atau
perpecahan. Hal ini merupakan fenomena yang sangat menyedihkan tatkala akibat
yg terjadi hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dalam masalah furu,
padahal kalau kita mau memperhatikan penjelasan para ulama Imam Madzahib
yaitu Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hambali serta
memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab Al-Majmu Syarah Al-
Muhadzdzab karya Imam An-Nawawy. Kitab Al-Mughny karya Imam Ibnu
Qudamah, kitab Al-Ausath karya Ibnu Mundzir, Ikhtilaful Ulama karya
Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya, niscaya mereka akan
menemukan para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ibadah, muamalah
dan lain-lainnya, akan tetapi hal tersebut tidak menimbulkan perpecahan maupun
permusuhan dikalangan para ulama. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah
mengambil segala perkara dengan dalil dan penjelasannya.

Terkait hujjah mengerakkan telunjuk disaat tasyahud adalah sebagai berikut :

Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beliau berisyarat dengan


telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunan-nya no.989, An-Nasai dalam
Al-Mujtaba 3/37 no.127, Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Dua no.638, Al-
Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/177-178 no.676. Semua meriwayatkan dari
jalan Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin Ajlan dari Amir
bin Abdillah bin Zubair dari ayahnya Abdullah bin Zubair.

Dari Ibnu Umar -radhiyallahu anhu- adalah beliau meletakkan tangan kanannya
di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya diatas lutut kirinya dan
beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata :
Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaitan. Dan beliau berkata : adalah
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsir
bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi dari Ibnu Hibban.

Dari Nafi beliau berkata:







.


- -

Abdullah bin Umar apabila duduk di dalam shalat meletakkan kedua tangannya di
atas kedua lututnya dan memberi isyarat dengan jarinya, dan menjadikan
pandangannya mengikuti jari tersebut, kemudian beliau berkata: Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ini lebih keras bagi syetan dari pada besi,
yaitu jari telunjuk (HR Ahmad)

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya beliau melihat seorang laki-laki


menggerakan kerikil ketika shalat, ketika dia selesai shalat maka Abdullah berkata:
Jangan engkau menggerakkan kerikil sedangakan engkau shalat, karena itu dari
syetan. Akan tetapi lakukan sebagaimana yang telah Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam lakukan. Maka beliau meletakkan tangan kanannya di atas pahanya dan
mengisyaratkan dengan jari disamping jempol (yaitu jari telunjuk) ke arah qiblat,
kemudian memandangnya, seraya berkata: Demikianlah aku melihat Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam melakukan. (HR. An-Nasai)
Para ulama berbeda pendapat tentang masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk
ketika tahiyyat dalam shalat. Hal itu disebabkan ada beberapa hadits yang
berkaitan tesebut:

, :
: , ,
( ) ,

Dari Wail bin Hijr, bahwa Nabi saw meletakkan telapak tangan kirinya di atas
paha kirinya dan lutut kirinya, dan menjadikan batas siku kanannya di atas paha
kanannya, lalu menggenggam di antara jari-jarinya sehingga membentuk suatu
bundaran. Dalam riwayat lain: beliau membentuk bundaran dengan jari tengah dan
ibu jari, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya. Kemudian
beliau mengangkat jarinya sehingga aku melihatnya beliau menggerak-gerakkanya
sambil membaca doa (HR: Ahmad)

:
( ) ,

Dari Ibnu Umar ra: bahwa Nabi saw jika duduk untuk tasyahhud, beliau
meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut
kanannya dan membentuk angka lima puluh tiga, dan memberi isyarat
(menunjuk) dengan jari telunjuknya (HR: Muslim). Yang dimaksud membentuk
angka lima puluh tiga (dalam tulisan Arab) adalah menggenggam jari-jarinya,
dan menjadikan ibu jari berada di atas jari tengah dan di bawah jari telunjuk.

) :
-)

Dari Ibnu Zubair: bahwa Nabi saw memberi isyarat (menunjuk) dengan jarinya
jika dia berdoa dan tidak menggerakkannya. (HR Abu Daud dengan isnad yang
shahih disebutkan oleh imam Nawawi)

Dari hadits-hadits tersebut serta hadits lainnya yang berkaitan dengan posisi
tasyahhud dan tangannya, Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa hadits pertama
yang menyatakan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan saat tasyahhud
kemungkinan maksudnya adalah isyarat (menunjuk), bukan diulang-ulanginya
gerakkan, karena cocok dengan hadits ketiga yang menyatakan tidak
digerakkannya jari telunjuk tersebut.
Atas dasar itu pula, para ulama berbeda pendapat tentang apakah saat tasyahhud
jari telunjuk digerak-gerakkan atau tidak?

1. Ulama mazhab Syafii berpendapat cukup memberi isyarat (menunjuk) jari


sekali saja, yakni saat kalimat illalla ( ) diucapkan dari lafadz syahadat
(Asyhadu alla ilaaha illallah)
2. Ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa memberi isyarat (menunjuk) atau
mengangkat jari dilakukan pada saat lafadz nafi, yakni lafadz Laa (dari lafadz Laa
Ilaaha illallah), kemudian meletakkannya kembali pada saat lafadz illallah.
3. Ulama mazhab Maliki berpendapat bahwa memberi isyarat (menunjuk)
dilakukan pada lafadz nafi juga, yakni lafadz Laa, dan meletakkannya kembali
pada saat itsbat, yakni lafadz illallah, kemudian menggerak-gerakkannya ke kanan
dan ke kiri hingga selesai salat.
4. Sedangkan mazhab Hambali berpendapat bahwa memberi isyarat (menunjuk
dengan jari) dilakukan saat disebut isim jalalah/nama agung atau lafadz Allah
selama membaca tasyahhud (bukan hanya pada saat membaca syahadatain saja).
Hal itu sebagai isyarat tauhid (keesaan Allah). Dan tidak digerak-gerakkannya jari
telunjuk itu. (lihat Sayid Sabiq, fiqih Sunnah, Dar el-Fikr Beirut, Th
1995M/1415H, jilid 1, hal. 124-125)

Imam an Nawawi berkata : Disunatkan mengangkat jari telunjuk dari tangan


kanan ketika melafazkan huruf hamzah pada kalimah (Illallah) sekali saja tanpa
menggerak-gerakkanya. [Fatawa Imam an Nawawi hal.54].

Imam Al-Baihaqi mengatakan Yang dipilih oleh ahli ilmu dari kalangan sahabat
dan tabiin serta orang-orang setelah mereka adalah berisyarat dengan jari telunjuk
(tangan) kanan ketika mengucapkan tahlil (la ilaaha illallah) dan (mulai)
mengisyarat-kannya pada kata illallah.. (Syarh As-Sunnah III:177)

Syaikh Wahbah Zuhaili dalam kitabnya yang fenomenal Fiqh al Islami, ketika
menjelaskan bab sunnah meletakkan kedua tangan pada kedua paha, meskipun
beliau menyebutkan tatacara berisyarat jari dalam tasyahud menurut mazhab lain,
namun beliau awali dengan perkataan Posisi kedua tangan dipaha lurus kedepan
hingga ujung jari-jarinya diatas kedua lutut kecuali jari telunjuk kanan yang
diangkat ketika membaca syahadat dalam tasyahud. [Fiqh al Islami wa Adillatuhu
(2/89)]

Bagaimana terkait dengan gerakan menepuk pundak disaat seseorang ingin


bermakmum sebagai isyarat ia akan mengikutinya?
Tentang menepuk bahu (memberi isyarat kepada) seseorang jika kita ingin menjadi
mamum.

Memang tidak ada dalil yang spesifik tentang memberi isyarat dengan menepuk
seseorang jika ingin menjadi mamun. Hanya ada hadits yang mirip dengan hadits
di atas meskipun konteknya berbeda. Hadits itu adalah:






























( )

Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami, dia berkata Malik memberitakan
kepada kami dari Abi Hazim bin Dinar, dari Sahl bin Sad al-Saidi, bahwa
Rasulullah saw pernah pergi ke Bani Amr bin Auf untuk melakukan ishlah
(mendamaikan) sengketa di antara mereka. Lalu datanglah waktu shalat, sehingga
muadzin mendatangi Abu Bakar dan bertanya, Apakah engkau mau mengimami
sholat bersama orang-orang, lalu aku akan iqomah? Abu Bakar menjawab, ya.
Lalu Abu Bakar melaksanakan sholat. Kemudian datanglah Rasulullah saw sedang
orang-orang dalam keadaan sholat. Lalu Nabi datang dan berdiri di shaf (barisan).
Kemudian orang-orang menepuk tangan (memberi isyarat) namun Abu Bakar tidak
tertegur (menegok) dalam sholatnya. Kemudian ketika mulai banyak orang-orang
yang memberi isyarat tepukan tangan, barulah Abu Bakar tertegur, menengok dan
melihat Rasulullah saw. Lalu Nabi saw memberi isyarat kepada Abu Bakar agar
tetap pada tempatnya. Kemudian Abu Bakar mengangkat tangannya seraya memuji
Allah atas apa yang diperintahkan Rasulullah saw padanya tentang hal itu.
Kemudian Abu Bakar mundur hingga lurus dengan shaf (barisan), dan Rasulullah
saw maju dan melaksanakan shalat. Ketika usai shalat, Rasulullah bertanya: Hai
Abu Bakar, apa yang mencegahmu untuk tidak tetap di tempat padahal telah aku
perintahkan itu?. Abu Bakar menjawab, Tidak pantas bagi Abu Quhafah untuk
melakukan sholat berada di depan Rasulullah saw.Lalu Rasulullah saw bersabda,
Tidak pantas buatku melihat kalian banyak bertepuk. Barangsiapa ada sesuatu
yang meragukan dalam shalatnya hendaklah ia membaca tasbih karena
sesungguhnya jika ia bertasbih maka ia akan tertegur, karena isyarat tepuk tangan
hanyalah untuk kaum wanita. (HR: Bukhori Muslim).

Dari hadits ini, Sayid Sabiq mengutip pendapat Imam al-Syaukani tentang hukum
yang terkandung dalam hadits ini, antara lain:

Berjalan dari satu shaf ke shaf lain tidak membatalkan shalat


Membaca hamdalah (memuji Allah) karena ada peristiwa tertentu serta
mengingatkan dengan tasbih adalah tidak membatalkan shalat (boleh)

Menggantikan imam dalam shalat karena ada uzur tertentu diperbolehkan


1. Diperbolehkannya kondisi seseorang dalam sebagian shalatnya menjadi imam
dan pada bagian lainnya menjadi makmum
2. Diperbolehkan mengangkat tangan ketika sedang shalat saat berdoa dan memuji
Allah
3. Diperbolehkan menengok karena ada keperluan
4. Diperbolehkan mengajak bicara (mukhotobah) kepada orang yang sedang shalat
dengan isyarat
5. Diperbolehkan orang yang kurang afdhal menjadi imam (mengimami) orang
yang lebih afdhal
6. Diperbolehkan melakukan perbuatan kecil (diluar shalat) ketika shalat.

Jika kita melihat kesimpulan al-Syaukani pada point nomor 7, maka kita boleh
memberi isyarat berupa menepuk seseorang saat kita ingin menjadi makmum.
Sebagaimana juga diperbolehkan kita bermakmum kepada orang yang sebelumnya
sholat sendiri (munfarid) atau berjamaah, sebagaimana yang tercantum dalam
kesimpulan al-Syaukani di point nomor 4. (lihat Sayid Sabiq, fiqih Sunnah, Dar el-
Fikr Beirut, Th 1995M/1415H, jilid 1, hal. 173)

Singkatnya, para ulama 4 Imam Madzhab menyatakan kata yuharrikuha berarti


menggerakkan saat menunjuk dengan tanpa mengulang-ulanginya dan hanya Imam
Malik bin Annas (Imam Maliki) yg dalam memahami hadits-hadits Rasulullah
Shallallahu alaihi wa salam diatas dengan menggerak-gerakkan telunjuk jari, itu
pun bukan dengan menggerakkan ke atas dan ke bawah tetapi ke kanan dan kekiri.
Dan ulama menjelaskan waktu mengerakkannya pada lafaz Illallah.

Sementara memberi isyarat dengan menepuh bahu orang yang akan diikuti sebagai
imam dalam salat adalah diperbolehkan dan tidak membatalkan salat. Wallahu
alam bis-Shawab
Demikian Ibnu Masud At-Tamanmini menjelaskan dalam kajiannya dan semoga
bermanfaat. Aamiin