You are on page 1of 6

ANALISA TINDAKAN KEPERAWATAN

RESUSITASI JANTUNG PARU DI INTENSIVE CARE UNIT


RS PANTI WILASA CITRUM SEMARANG

Disusun Oleh :

ALI IMRAN
2213135

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN S-1


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2016

Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta


Telp (0274) 4342000
LEMBAR PENGESAHAN

Telah disetujui pada


Hari :
Tanggal :

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik Mahasisawa

( ) ( ) ( )

2
ANALISA TINDAKAN KEPERAWATAN
RESUSITASI JANTUNG PARU

1. Tindakan yang dilakukan


Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan tindakan untuk
memulihkan pernafasan dan detak jantung korban saat terjadi henti
jantung (sudden cardiac arrest).
2. Dasar pemikiran
Indikasi dan hal-hal yang yang perlu diperhatikan dalam melakukan RJP
menurut Muttaqin (2009) dan Phoehrl (2009) adalah:
a. RJP hanya boleh dilakukan ketika penolong menemukan korban yang
mengalami :
1) Tak terabanya nadi karotis
2) Ketidaksadaran selama 10=20 detik
3) Dispnea, henti nafas 15-30 detik
4) Dilatasi pupil dan tak reaktif 60-90 detik
5) Keadaan penurunan mental dalam
b. Pada saat nafas dan detak jantung korban berhenti akan terjadi
kematian klinis. Sel otak akan mati dalam 10 menit setelah kematian
klinis jika tidak dilakukan pertolongan.
c. Sel otak akan mati dalam waktu 4-6 menit tanpa supply oksigen
(kematian biologis).
d. Untuk menjaga oksigenasi darah dan menjaganya tetap dalam sirkulasi.
e. Kompresi dada dapat meningkatkan tekanan dalam dada dan kompresi
pada jantung akan memaksa darah keluar dari jantung menuju sirkulasi.
f. Ventilasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen darah.
g. RJP tidak dilakukan pada korban yang memilki luka berbahaya yang
jelas dan sangat besar sehingga RJP tidak dapat dilakukan secara
efektif.
h. RJP tidak dilakukan apabila korban telah memilki garis lividitas yaitu
perubahan warna kulit menjadi warna merah atau kelabu yang terjadi

3
karena pengaruh gravitasi yang mengakibatkan darah turun ke bagian
paling terendah dari tubuh dan mengumpul disana. Lividitas
menunjukkan kematian korban lebih dari 15 menit kecuali korban
terpapar oleh suhu yang dingin.
3. Prinsip-prinsip tindakan
a. Bersih
b. Tindakan dilakukan secara tepat dan benar
c. Posisikan pasien dengan posisi supinasi
d. Perbandingan kompresi dan ventilasi yaitu pada orang dewasa 30 : 2 dan
pada bayi 15 : 2.
4. Analisa tindakan keperawatan
a. Cek kesadaran pasien dengan cara menepuk atau menggoyangkan
korban dan menanyakan keadaan korban.
b. Panggil bantuan
c. Posisikan pasien dengan supinasi
d. Cek denyut nadi karotis pada orang dewasa dan anak atau arteri
brakhialis pada bayi.
e. Jika terdapat denyut nadi namun tidak ada pernapasan, lakukan bantuan
pernapasan (ventilasi) sebanyak 10-12 x/mnt (satu kali pernapasan
diikuti dengan jeda 5 detik) pada orang dewasa, 20x/mnt (satu kali
pernapasan diikuti jeda 2 detik) pada bayi atau anak-anak.
f. Jika nadi karotis tidak teraba/tidak ada maka RJP mulai dilakukan.
g. Jongkok disebelah dada korban, pada orang dewasa letakkan satu tumit
tangan penolong sementara tangan yang lain menguncinya
dipertengahan bawah sternum.
h. Luruskan lengan dan kunci siku agar tidak tertekuk pada saat
melakukan kompresi.
i. Berikan kompresi sedalam 4-5 cm secara tegak lururs dengan kecepatan
kompresi 100 kompresi/menit selama sekitar 2 menit.
j. Cek nadi karotis pasien

4
k. Jika tidak ada denyut nadi lakukan kembali RJP sebanyak 5 siklus dan
terus dilakukan sampai muncul nadi.
l. Cek pernapasan dengan teknik look, listen, and feel. Jika pernapasan
berhenti, posisikan korban kembali telentang.
m. Bebaskan jalan nafas dengan manuver head tilt chin lift/ jaw thrust,
cross finger dan finger sweept.
n. Cek pernafasan pasien dengan teknik look, listen, and feel, jika pasien
tidak bernafas, berikan bantuan pernapasan sebanyak 2x masing-
masing selama 1,5 2 detik.
o. Jika denyut nadi muncul , cek pernapasan dengan teknik look, listen
and feel. Jika muncul napas spontan maka lakukan secobdary survey.
5. Bahaya yang mungkin muncul
a. Fraktur costa
b. Ketidakefektifan tindakan RJP karena kesalahan metode dan teknik
yang dilakukan sehingga menyebabkan kematian
c. Penularan penyakit yang diderita pasien pada penolong karena
penolong tidak menggunakan APD
6. Hasil yang didapatkan dan maknanya
Setelah dilakukan RJP diharapkan fungsi jantung paru dapat bekerja
efektif. Berdasarkan hasil tindakan RJP pada Ny. S didapatkan hasil:
a. Perubahn pupil yaitu midriasis total 5/5
b. Reflek cahaya negatif
c. Tidak ada nadi selama 5 siklus baik dalam monitor maupun karotis.
d. Tidak ada pernafasan dan SPO2 tidak muncul dalam monitor
e. Gambaran EKG dalam monitor adalah asistol

5
7. Kepustakaaan
Novianto, M. (2015). Buku Pendahuluan Praktikum Keperawatan Gawat
Darurat dan Kritis. Yogyakarta: Stikes Jenderal Achmad Yani.
Savitri, W dan Sumiyarini, R. (2012). Buku Panduan Praktik
Laboratorium Keperawatan Kritis Dan Gawat Darurat. Editor; Masta
Hutasoit. Yogyakarta: STIKES. Ahmad Yani.