You are on page 1of 6

POTENSI PERIKANAN

DI INDONESIA
Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah perairan yang
sangat luas. Wilayah perairan yang sangat luas tersebut menyimpan bermacam-macam
potensi yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan penduduknya.
Potensi utama dari wilayah perairan adalah perikanan, baik itu perikanan tangkap
maupun perikanan budidaya. Pengertian potensi sumberdaya perikanan adalah
merupakan suatu kemampuan suatu perairan untuk dimanfaatkan dalam usaha
perikanan sehingga menghasilkan suatu jumlah tertentu berat basah yang berupa hasil
perikanan yang secara ekonomisberkepentinan, menguntungkan dan berkelanjutan
(sustainable).
Potensi perikanan di Indonesia memiliki potensi lestari ikan laut sebesar 4,4 juta ton.
Sedangkan produksi dari potensi perikanan di Indonesia bisa mencapai 6,2 juta ton.
Walaupun potensi perikanan di Indonesia sangat besar, akantetapi jika terus menerus
dieksploitasi kita harus mencari potensi baru perikanan. Apalagi negara-negara yang
konsumen sekaligus produsen di dunia mulai beralih ke ikan laut dalam karena para
nelayannya terlalu mengeksploitasi perairan dangkal. Selain itu, mereka pun mulai
beralih ke perikanan budidaya, tidak hanya mengandalkan perikanan tangkap saja.
Potensi perikanan di Indonesia tidak hanya bermanfaat dari segi ekonomi saja, tapi
juga dari segi kesehatan sebagai sumber protein hewani, lemak hewani, sumber vitamin
(terutama vitamin A, D, dan E), sumber mineral (Ca, Fe, I, dsb) dan lain-lain.
Ironisnya, walaupun potensi perikana Indonesia melinpah ruah dan dapat
dimanfaatkan di berbagai bidang, konsumsi ikan Indonesia justru rendah bahkan di
bawah standar konsumsi ikan yang ditetapkan FAO sebesar 30% per kapita per tahun.
Hal diatas disebabkan belum maksimalnya pemanfaatan potensi perikanan
di Indonesia sehingga ketersediaan ikan belum bisa diandalkan. Justru ikan lebih
banyak dilepas keluar negeri, padahal di dalam negeri masih kekurangan.
Potensi perikanan Indonesia terbagi dua, yakni potensi perikanan Demersial dan
perikanan Pelagis yang hampir tersebar di semua bagian laut di Indonesia seperti
perairan laut teritorial, laut nusantara dan ZEE. Pada perikanan demersial, ikannya
hidup terikat denga dasar perairan (hidup didasar), contoh ikan demersial yakni ikan
kakap, udang, bawal, lele, belut, kerang-kerangn, rumput laut, gabus dan lain-lain.
Sedangkan pada perikanan pelagis ikannya hidup diantara kolom dan permukaaan air.
Ikan demersial terbagi dua, yaitu:
a. Ikan Sedenter : ikan yang hidp dan dapat berpindah-pindah tempat tapi dalam
lingkup yang sempit,
b. Ikan Penden : ikan yang terikat dan tidak dapat berpindah-pindah.
Ikan pelagis juga terbagi dua, yaitu :
a. Pelagis kecil : contohnya ikan lemuru, ranjang, sapu, layang, dll.
b. Pelagis besar : contohnya ikan tuna, cakalang, tongkol,dll.
Ikan pelagis besar dikenal juga dengan Highly Migratory Species
http://deapensieve.blogspot.co.id/2010/11/potensi-perikanan-di-indonesia-negara.html

http://deapensieve.blogspot.co.id/2010/11/potensi-perikanan-di-indonesia-negara.html

Indonesia Memiliki Potensi Perikanan Terbesar di Dunia


o SUKA ARTIKEL INI?

o Retweet Link Ini


o Bagikan di Facebook
Indonesia merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia. Sayangnya bangsa Indonesia belum
memanfaatkan secara maksimal potensi yang ada. Indonesia punya potensi produksi perikanan terbesar di
dunia sekitar 65 juta ton per tahun dan baru 20%-nya yang dimanfaatkan, kata Prof Dr Ir Rokhmin Dhanuri MS
guru besar Fakultas Pertanian dan Ilmu Kelautan IPB, di auditorium FTP UGM dalam pembekalan calon
wisudawan pascasarjana UGM.

Dikatakan, sumberdaya kelautan selama ini hanya dipandang sebelah mata dan dalam pemanfaatan
sumberdaya kelautan tidak dilakukan secara profesional dan ekstraktif, sehingga tidak mengherankan apabila
sektor ekonomi kelautan hanya berkontribusi kecil terhadap PDB Indonesia yakni sekitar 25 persen. Angka ini
jauh lebih kecil ketimbang negara-negara yang wilayah lautnya lebih sempit dari pada Indonesia seperti
Thailand, Jepang, Korea Selatan, China, Selandia, dan Norwegia yang justru sektor ekonomi kelautannya
menyumbang kontribusi lebih besar antara 30-60% dari PDB masing-masing negara. Kalau melihat fakta
tersebut maka kinerja pembangunan kelautan Indonesia sampai sekarang masih jauh dari optimal, urainya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan sektor-sektor kelautan hanya dinikmati oleh sebagian kecil
masyarakat Indonesia dan orang-orang asing yang terlibat dalam berbagai kegiatan ekonomi kelautan modern.
Sementara mayoritas penduduk pesisir lokal masing berada dalam kemiskinan. Rendahnya kinerja
pembangunan wilayah pesisir dan kelautan Indonesia, lanjutnya, salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan politik
ekonomi yang tidak kondusif.

Dampaknya, potensi ekonomi kelautan yang cukup besar tersebut baru dalam jumlah kecil yang dimanfaatkan
untuk menyejahterakan rakyat. Ditambah lagi dalam pengelolaan sektor ekonomi kelautan dilakukan secara
tradisional dan berorientasi mendulang keuntungan finansial sebesar-besarnya tanpa memperdulikan kelestarian
lingkungan.
http://www.bibitikan.net/indonesia-memiliki-potensi-perikanan-terbesar-di-dunia/
Potensi Perikanan
27 Juni 2011 07:15 Diperbarui: 26 Juni 2015 04:08 6876 0 1

Perikanan adalah suatu kegiatan perekonomian yang memanfaatkan sumber daya alam perikanan
dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan manusia dengan
mengoptimalisasikan dan memelihara produktivitas sumber daya perikanan dan kelestarian
lingkungan. Sumber daya perikanan dapat dipandang sebagai suatu komponen dari ekosistem
perikanan berperan sebagai faktor produksi yang diperlukan untuk menghasilkan suatu output yang
bernilai ekonomi masa kini maupun masa mendatang. Disisi lain, sumber daya perikanan bersifat
dinamis, baik dengan ataupun tanpa intervensi manusia. Sebagai ilustrasi, pada sumber daya
perikanan tangkap, secara sederhana dinamika stok ikan ditunjukkan oleh keseimbangan yang
disebabkan oleh pertumbuhan stok, baik sebagai akibat dari pertumbuhan individu (individu growth)
maupun oleh perkembangbiakan (recruitment) stok itu sendiri. Dengan keterbatasan daya dukung
lingkungan sumber daya di suatu lokasi, maka stok ikan akan mengalami pengurangan sebagai akibat
dari kematian alami (natural mortality) sampai keseimbangan stok ikan sesuai daya dukung tercapai.
Adanya intervensi manusia dalam bentuk aktivitas penangkapan pada hakekatnya adalah
memanfaatkan bagian dari kematian alami, dengan catatan bahwa aktivitas penangkapan yang
dilakukan dapat dikendalikan sampai batas kemampuan pemulihan stok ikan secara alami.

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia dengan panjang mencapai lebih dari
95.181 kilometer (Suara Pembaruan edisi5/2/09). Sejalan dengan arti penting sumber daya, potensi
tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Beberapa pernyataan tentang kondisi perikanan
indonesia yang dilansir oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor
kep.18/men/2011 adalah sebagai berikut

Luas laut Indonesia 5,8 juta km2 atau 2/3 luas wilayah RI dan panjang pantai 95.181 km, akan tetapi
PDB perikanan baru sekitar 3,2%.
Potensi sumberdaya perikanan tangkap 6,4 juta ton per tahun, akan tetapi nelayan masih miskin.
Produksi perikanan tangkap di laut sekitar 4,7 ton per tahun dari jumlah tangkapan yang
diperbolehkan maksimum 5,2 juta ton per tahun, sehingga hanya tersisa 0,5 juta ton per tahun.
Produksi Tuna naik 20,17% pada tahun 2007, akan tetapi produksi Tuna hanya 4,04% dari seluruh
produksi perikanan tangkap.
Jumlah nelayan (laut dan perairan umum) sebesar 2.755.794 orang, akan tetapi lebih dari 50% atau
1.466.666 nelayan berstatus sambilan utama dan sambilan tambahan.
Jumlah nelayan naik terus, yaitu 2,06% pada tahun 2006-2007, sedangkan ikan makin langka.
Jumlah RTP/Perusahaan Perikanan Tangkap 958.499 buah, naik 2,60%,akan tetapi sebanyak 811.453
RTP atau 85% RTP berskala kecil tanpa perahu, perahu tanpa motor, dan motor tempel.
Armada perikanan tangkap di laut sebanyak 590.314 kapal, akan tetapi 94% berukuran kurang dari 5
GT dengan SDM berkualitas rendah dan kemampuan produksi rendah.
Potensi tambak seluas 1.224.076 ha, akan tetapi realisasi baru seluas 612.530 ha.
Potensi budidaya laut seluas 8.363.501 ha, akan tetapi realisasi hanya seluas 74.543 ha.
Jumlah industri perikanan lebih dari 17.000 buah, akan tetapi sebagian besar tradisional, berskala
mikro dan kecil.
Tenaga kerja budidaya ikan sebanyak 2.916.000 orang, akan tetapi kepemilikan lahan perkapita
rendah dan hidupnya memprihatinkan.
Industri pengalengan ikan yang terdaftar lebih dari 50 perusahaan, akan tetapi yang berproduksi
kurang dari 50% dengan kapasitas produksi maksimum sekitar 60%.
Ekspor produk perikanan 857.783 ton dengan nilai US$ 2.300.000, akan tetapi produksi turun 7.41%
pada tahun 2006-2007, bahkan volume ekspor udang turun 5.04% dan nilainya pun turun 6.06%.

Sebuah ironi bila melihat potensi sumber daya yang besar di Indonesia dan sebuah tantangan
tentang kondisi perikanan Indonesia menurut keputusan Mentri Perikanan dan Kelautan nomor
kep.18/men/2011. Diperlukan sebuah bahwa penanaman pola pikir bahwa sumberdaya perairan
nasional memerlukan system pengelolaan yang seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian,
karena ia rentan terhadap kerusakan.

Sumber: Josupeit & Franz (2003) Peluang optimalisasi sumberdaya perairan nasional
terbuka sangat luas dari berbagai sisi pemanfaatan dan penggelolaan. Pada masing masing
lini dapat dijadikan sebuah komoditas yang mengguntungkan. Diagram batang diatas
menunjukan sebuah proyeksi menggenai permintaan ikan dunia yang semakin
meningkat dalam skala 5 tahunan. Sebuah tantangan yang yang seharusnya dapat kita jawab,
melihat potensi perairan kita yang bias diwujudkan melalui perikanan tangkap,budidaya, dan
industry pengolahan.

Tingkat Konsumsi dan Produksi Perikanan DIY, 2006

Kabupaten/

Kota

Jumlah

Penduduk

(jiwa)

Konsumsi Ikan(kg/kap/th)

Kebutuhan Ikan(ton/th)
Produksi Ikan(ton/th)

Defisit Produk(ton/th)

Bantul

813 087

8.28

6 732

Gunung Kidul

760 128

4.50

3 421

Kulon Progo

457 779

8.95

4 097

Sleman

907 904

20.30

18 430

Yogyakarta

521 499

38.80

20 234

Prov. DIY

3 460 397

15.33

53 048

12 470
-40 577

Standard FAO

25.03

Sumber: Triyanto & Dwijono 2010

Dalam matriks permintaan dan produksi ikan yang lebih spesifik di Indonesia yakni di Daerah
Istimewa Yogyakarta, menurut data yang diperoleh, Ternyata produksi ikan masih mengalami defisit.
Defisit disini artinya peluang pasar dan prospek bidang perikanan khususnya di DIY masih terbuka
sangat luas. Sebuah tindakan peningkatan produksi diperlukan guna mencukupi kebutuhan ikan
domestic untuk kemudian merambah pasar luar negri. Revolusi Biru akan memberikan peluang
optimalisasi pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan dengan inovasi dan terobosan, yaitu
melalui percepatan peningkatan produksi, baik penangkapan ikan maupun perikanan
budidaya.Revolusi Biru mempunyai 4 pilar, yaitu : 1) Perubahan cara berfikir dan orientasi
pembangunan dari daratan ke maritim 2) Pembangunan berkelanjutan. 3) Peningkatan produksi
kelautan dan perikanan. 4) Peningkatan pendapatan rakyat yang adil, merata, dan pantas.

Dengan adanya perubahan pola pikir Revolusi Biru, diharapkan akan menambah cerah prospek
bidang kelautan dan perikanan di Indonesia nantinya Selain itu, peningkatan produksi kelautan dan
perikanan diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pembangunan ekonomi
secara nasional.

http://www.kompasiana.com/dimasyuniardi/potensi-perikanan_5500ea5fa33311177351259d

Definisi potensi lestari adalah pemanfaatan perikanan yang berkelangsungan dan tak pernah habis
sehingga dapat di ambil hasil panen di tahun berikutnya.