You are on page 1of 31

I.

DEFORMASI PADA BALOK

1.1 Macam-macam Deformasi Pada Balok

Deformasi pada balok terdiri dari :

1. Robahan Panjang
2. Putaran Sudut (Rotation)
3. Lendutan (Deflection)
4. Puntiran (Torsi)

1.2 Robahan Panjang

Robahan Panjang yaitu Perpanjangan atau perpendekan yang diakibatkan


oleh gaya aksial/gaya Normal (gaya yang bekerja sejajar sumbu batang).
Gaya Aksial Tekan mengakibatkan batang mengalami perpendekan
sedangkan Gaya Aksial Tarik mengakibatkan batang mengalami
perpanjangan.
Menurut Hukum Hooke Robahan panjang yang terjadi sebagai berikut :
a. Berbanding lurus dengan Panjang batang semula (L)
b. Berbanding lurus dengan gaya aksial yang bekerja pada batang
tersebut (P)
c. Berbanding terbalik dengan Luas penampang dari batang tersebut
(F)
d. Berbanding terbalik dengan Modulus Elastisitas bahan (E) dari
batang tersebut.

F
L

Gambar. 1 Ilustrasi Robahan panjang akibat beban aksial

Dengan demikian menurut Hukum Hooke robahan Panjang (L) adalah :

P.L
L = --------
E.F
-1-
L/L = P/F . 1/E

Jika L/L disebut robahan panjang relatif atau spesifik yang selanjutnya
disebut regangan ()
P/F disebut tegangan (),
maka Persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut :

= . 1/E, atau
= . E

Contoh soal 1 :
Diketahui sebuah batang besi dengan diameter 22 mm dengan panjang awal
10 m digunakan untuk menarik mobil sedemikian hingga gaya aksial yang
bekerja pada batang besi tersebut sebesar 0,5 ton. Tentukan besarnya
robahan panjang, regangan dan tegangan yang terjadi pada besi tersebut jika
diketahui Modulus Elastisitas besi sebesar 2,1.106 kg/cm2

Penyelesaian :

Diketahui :
F
P P

Gambar 2. Gambar Contoh Soal 1

P = 0,500 ton = 500 kg


F = ..2,22 = 3,801 cm2
L = 10 m = 1.000 cm

a. Menghitung tegangan yang terjadi ()


= P/F = 500/3,801
= 131,5 kg/cm2

b. Menghitung regangan ()
= /E = 131,5/2100000
= 0,000063
c. Menghitung perubahan panjang yang terjadi (L)
L/L =
L = .L= 0,000063 . 1000
= 0,063 cm = 0,63 mm (Perpanjangan)
3. PUTARAN SUDUT DAN LENDUTAN

-2-
Yang dimaksud dengan putaran sudut () yaitu besarnya sudut yang
dibentuk pada suatu titik antara sumbu batang setelah balok dibebani
dengan sumbu batang sebelum balok dibebani.

Sumbu Batang
sebelum dibebani
Sumbu Batang
setelah dibebani

P1 P2

K

K
Gambar 3. Ilustrasi Putaran sudut dan lendutan

Yang dimaksud dengan lendutan () yaitu jarak antara titik pada balok
sebelum dibebani dengan setelah balok dibebani.

Metode untuk menghitung putaran sudut dan lendutan adalah sebagai


berikut :

a. Metode Dobel Integrasi (Double Integration Method)


b. Metode Beban Satuan (Unit Load Method)
c. Metode Bidang Momen sebagai Beban (Momen Area Method)

5. PUNTIRAN

Sebuah batang yang dikerjakan gaya torsi, maka pada dua titik pada lokasi
penampang yang berbeda akan terjadi perputaran sudut relatif satu sama lain
yang disebut dengan sudut puntiran yang dinotasikan dengan Penurunan
Rumus untuk menentukan besarnya ditentukan berdasarkan pembahasan di
bawah ini.

-3-
Gambar 4. Sebuah kantilever yang mendapat beban Torsi sebersar T

Dengan adanya puntiran maka unsur-unsur dalam penampang sepanjang


bentang mengalami putaran sebesar . Besarnya ditentukan sebagai
berikut :

max

Gambar 5. Bagian balok sepanjang L yang mengalami puntiran

max .L
Busur QQ = max.L = c. -----
c
Untuk distorsi elastis pada batang yang mengalami puntiran, gaya geser
maksimum dalam batas elastis dan menurut Hukum Hook berlaku :

max T .c
max ; dengan G = Modulus Geser
G Ip.G
-4-
Dengan mensubstitusikan nilai max ke persamaan didapat :

max .L T .c . L T .L
= Ip.G c
c Ip.G

Untuk Torsi yang bekerja sepanjang L dari Suatu titik tetap akan berlaku :

T T
Ip.G .L Ip.G
L ; L=L

Sehingga :

T .L

Ip.G

Dimana :
= Putaran sudut pada lokasi torsi dalam radian
T = Torsi
L = Panjang Batang dari ujung batang yang dianggap tetap
(perletakan) ke lokasi Torsi
Ip = Inersia Polar
G = Modulus geser (tergantung jenis bahan)
Gbaja = 8,1.105 kg/cm2
Gkayu = 6.104 kg/m2

Contoh Soal 2 :
Diketahui sebuah konsol kayu seperti gambar :

T= 20 kgm (pada ujung konsol)

h =12cm

b=8cm
L = 2m

Gambar 6. Gambar contoh soal 2

Gkayu = 6.104 kg/cm2


Hitunglah besarnya sudut puntiran pada ujung konsol!

Penyelesaian :
-5-
diketahui :
L = 2 m = 200 cm
T = 20 kgm = 2000 kgcm
Ip = Ix + Iy = 1/12.b.h3 + 1/12.h.b3
= 1/12.8.123 + 1/12.12.83 =1664 cm4
Sudut puntiran paga ujung konsol
T .L 2000.200
= = 0,004 Radian = 0,004.180/
Ip.G 1664.6.10 4
= 0,23o

3.1 Metode Dobel Integrasi (Double Integration Method)

Untuk menjelaskan metode ini ditinjau balok dua tumpuan sebagai berikut :

P1 P2

AB

Gambar 7. Ilustrasi Peninjauan Pias untuk Penjelasan Metode Dobel


Integrasi

Tinjaulah pias AB dan jika digambar pada kondisi yang ekstrim akan
tampak seperti gambar dibawah ini :

O d X (+)

r r (jari-jari kelengkungan)

A dy
B

dx

Y (+)

Gambar 8. Peninjauan Pias AB secara ekstrim

-6-
Akibat adanya beban yang bekerja mengakibatkan perubahan
kelengkungan dari sumbu batang yang selanjutnya disebut dengan garis
elastis.

Jika dua titik A dan B mempunyai koordinat A(xa,ya) dan B(xb,yb) maka :

dx = xb xa dan dy = yb ya

Panjang garis AB (ds) dapat dihitung sebagai berikut :

ds = dx2 + dy2 = dx . 1 + (dy/dx)2

dan tan = dy/dx, Cos = dx/ds, Sin = dy/ds

jika radius pembengkokan adalah r maka panjang garis AB (ds) adalah :

ds d tan
ds = r. d dan didapat r = ds/ d = -------- . --------
d tan d

dtan d(sin/cos) cos2 + sin2 1


----------- = -------------- = ----------------- = ------------
d d Cos2 Cos2

= Sec2 = 1 + tan2 = 1 + (dy/dx)2

maka :
dx. 1 + (dy/dx)2
r = -------------------------- . { 1 + (dy/dx) 2}
d tan

dx. {1 + (dy/dx)2}3/2
r = --------------------------
d tan

sehingga :
dtan/dx d(dy/dx)/dx d2y/dx2
1/r = ---------------------- = ---------------------- = --------------------
{1 + (dy/dx)2}3/2 {1 + (dy/dx)2}3/2 {1 + (dy/dx)2}3/2

Oleh karena ordinat-ordinat dari titik sepanjang garis AB sangat kecil, maka
dy/dx juga amat kecil nilainya terhadap satuan, sehingga harga (dy/dx) 2
boleh diabaikan terhadap 1.

-7-
Jadi :

1/r = d2y/dx2 Persamaan 1

Disamping terjadi perubahan kelengkungan sumbu batas atau garis elastis


pada pias tersebut juga terjadi robahan panjang akibat timbulnya gaya
dalam. Jika digambarkan pada kondisi ektrim akan tampak sebagai berikut :

d
r

E F F max -
M

A ds B Garis netral
z
ds
C D max +
D D

Gambar 6. Ilustrasi robahan panjang serat pada pias tinjauan

Kita amati pias ds yang menahan momen lentur sebesar M dengan asumsi sisi
bidang CE dalam keadaan tetap. Serat-serat di atas garis netral memendek
dan di bagian bawah memanjang.

Menurut Hukum Bernoulli bahwa Penampang FD tetap rata, yang berarti


bahwa robahan panjang pada serat-serat itu berjalan lurus. Dengan demikian
maka robahan panjang itu berbanding lurus dengan jarak z antara serat dan
garis netral (pada tempat dimana tidak terjadi robahan panjang). Menurut
Hukum Hooke tegangan Normal itu berbanding lurus dengan robahan panjang.
Oleh karena itu maka Tegangan Normal itu juga berbanding lurus dengan z
dan dapat ditulis :

= c.z atau c = /z

dengan c adalah konstanta/faktor perbandingan yang berharga tetap (Hukum


Navier).

-8-
Agar seimbang maka harus terpenuhi :

M =df.z =c.z2 df = c.I = /z.I

Sehingga = M.z/I dan c = M/I

dimana I = Momen Inersia tampang pada garis netralnya

Kalau diamati dua segitiga yang kongruen yaitu segitiga ABS dan segitiga
DDB didapat :

ds : x = ds : r atau : x = 1:r

/E
1/r = /z = ------------ = c/E, karena c =M/I
/c
maka 1/r = M/(EI) Persamaan 2

Dari gambar 5 dapat diamati bahwa harga tan = dy/dx berkurang seiring
dengan bertambahnya harga x dengan demikian maka :

dtan d2y
------------- = --------- itu juga berharga negatif
dx dx2
Pada gambar 5 balok yang tinjau dianggap melengkung ke bawah
(kelengkungan positif) dan momen yang menyebabkab disebut Momen Positif

Oleh karena itu dari persamaan 1 dan persamaan 2 selanjutnya dapat ditulis :

d2y M
- ------------- = ---------
Persamaan 3
dx2 EI

Untuk tinjauan balok yang melengkung ke atas (kelengkungan negatif) Momen


yang menyebabkannya disebut Momen Negatif, sedangkan harga tan =
dy/dx bertambah seiring dengan bertambahnya harga x dengan demikian
maka :

dtan d2y
------------- = --------- itu juga berharga Positif
dx dx2
Oleh karena itu dari persamaan 1 dan persamaan 2 selanjutnya dapat ditulis :
d2y M
------------- = - ----- Persamaan
4
dx2 EI

-9-
Dari Persamaan 3 dan Persamaan 4 ternyata merupakan persamaan yang
sama dan untuk selanjutnya kedua persamaan tersebut dapat ditulis seperti
pada persamaan 5 dan disebut Persamaan Diferensial Garis Elastis.

d2y Mx
------------- = - ----- Persamaan
5
dx2 EI

Contoh Soal 3 :

Tentukan Persamaan Garis Elastis dari konstruksi kantilever dibawah ini :


P

A B
EI
L

Gambar 7. Gambar untuk Contoh Soal 2

Penyelesaian :

* Persamaan umum :
d2y Mx
-------- = - -----
dx2 EI

* Menentukan Mx (Persamaan Momen Lentur)


Tinjau Potongan X X sejauh x dari A

x L-x

P
X

A B
X
L

Gambar 8. Penentuan potongan X-X


Tinjau Potongan Kanan

Maka Mx = - P(L-x)

* Persamaan Deferensial Garis Elastis


- 10 -
d2y -P(L-x)
------------- = - -------
dx2 EI
dy d2y P( L x)
dx dx 2
dx
EI
dy P
dx EI
( L x) dx
dy P
( Lx 12 x 2 C1 )
dx EI

Untuk menentukan harga C1 dipergunakan syarat batas yaitu : di A (x=0)


adalah perletakan jepit jadi putaran sudut (dy/dx) di A sama dengan 0 (nol)

Jadi :
P
0 ( L.0 12 .02 C1 ) = P/EI (0 + 0 + C1) = P/EI(C1) 0 = P/EI (C1)
EI
Sehingga C1 = 0

Dan Persamaan Putaran Sudut menjadi :

dy P
( Lx 12 x 2 )
dx EI

Untuk mendapatkan Persamaan Garis Elastis (y) maka Persamaan putaran


sudut tersebut diintegrasi satu kali lagi yaitu :

y ( Lx
dy
dx
P
EI
1
2
x2 )
y P
EI
( 12 Lx 2 12 . 13 x 3 C2 )
y P
EI
( 12 Lx 2 16 x 3 C2 )

C2 ditentukan dengan syarat batas yaitu pada titik A (x=0) besarnya lendutan
adalah 0 (nol) atau y = 0, karena pada titik A adalah merupakan titik
perletakan, sehingga :

0 P
EI
( 12 .L.02 16 .03 C2 )

maka didapat C2 =0 dan persamaan garis didapat sebagai berikut :


y EIP ( 12 Lx 2 16 x 3 )

Contoh Soal 4 :

Diketahui suatu konstruksi kantilever dengan pembebanan sebagai berikut :

P=1 ton q=1,5 t/m


- 11 -
EI
L=2,5 m

Gambar 9. Gambar untuk Contoh Soal 4

Tentukan : 1. Persamaan Putaran sudut (dy/dx)


2. Persamaan garis elastis (y)
3. Jika diketahui harga EI = 100 tm2, tentukan besarnya putaran
sudut dan lendutan pada tengah bentang

Penyelesaian :
* Persamaan umum : (untuk penyelesaian Nomor 1 dan Nomor 2)
d2y Mx
------------- = - -----
dx2 EI
* Menentukan Mx (Persamaan Momen Lentur)

Tinjau Potongan X X sejauh x dari B (selalu dihitung dari jepitan, untuk


memudahkan saat menentukan harga Konstanta sembarang C)
L-x x

P=1 ton q=1,5 t/m


X

A EI B
X
L = 2,5 m

Gambar 10. Penentuan Potongan X-X Penyelesaian Contoh Soal 3

Tinjau Potongan Kiri

Maka : Mx = -P(L-x)-1/2.q.(L-x)2
= -1.(2,5-x)-1/2.1,5.(2,5-x)2
= (-2,5 + x) 0,75.(2,5-x)2
= (-2,5+x) - 0,75.(6,25-5x+x2)
= -2,5 + x 4,6875 + 3,75x 0,75x2
= 0,75x2+ 4,75x 7,1875

- 12 -
* Persamaan Deferensial Garis Elastis

d2y 0,75x2+ 4,75x 7,1875


------------- = - -----------------------------
dx2 EI

dy d2y (0,75x 2 4,75 x 7,1875)


2 dx
dx dx EI

dy 1 1
( .0,75.x 3 12 .4,75 x 2 7,1875.x C1 )
dx EI 3

dy 1
(0,25.x 3 2,375 x 2 7,1875.x C1 )
dx EI

Untuk menentukan harga C1 dipergunakan syarat batas yaitu : di B (x=0)


adalah perletakan jepit jadi putaran sudut (dy/dx) di B sama dengan 0 (nol)

Jadi :

1
0 (0,25.03 2,375.02 7,1875.0 C1 )
EI

Sehingga C1 = 0

Dan Persamaan Putaran Sudut menjadi :

dy 1
(0,25.x 3 2,375 x 2 7,1875.x)
dx EI

Untuk mendapatkan Persamaan Garis Elastis (y) maka Persamaan putaran


sudut tersebut diintegrasi satu kali lagi yaitu :

(0,25.x
dy
y dx 1
EI
3
2,375x 2 7,1875.x ) dx

y 1
EI (0,25. 14 .x 4 2,375. 13 x 3 7,1875. 12 x 2 C2 )

y 1
EI ( 161 x 4 0,792 x 3 3,594 x 2 C2 )

C2 ditentukan dengan syarat batas yaitu pada titik B (x=0) besarnya lendutan
adalah 0 (nol) atau y = 0, karena pada titik B adalah merupakan titik
perletakan sehingga :
- 13 -
0 1
EI
( 161 0 4 16 .03 1,25.0 2 C2 )

maka didapat C2 =0 dan persamaan garis elastis didapat sebagai berikut :

y 1
EI ( 161 x 4 0,792 x 3 3,594 x 2 )

Untuk menentukan putaran sudut dan lendutan di tengah bentang, maka


harga x pada persamaan putaran sudut dan persamaan garis elastis sama
dengan 1,25 m (x=1,25) sehingga :

- Putaran sudut di tengah bentang


dy 1
(0,25.x 3 2,375 x 2 7,1875.x)
dx EI
dy 1
(0,25.1,253 2,375.1,252 7,1875.1,25)
dx EI
dy 1
(0,488 3,71 8,98)
dx EI
dy 5,76 5,76
0,0576.Radian 0,0576. 180
3,3
o

dx EI 100

- Lendutan di tengah bentang


y EI1 ( 161 x 4 0,792 x 3 3,594 x 2 )

y 1
EI
( 161 .1,254 0,792.1,253 3,594.1,252 )

y 1
EI
(0,153 1,547 5,616)
4,22
y 1
EI ( 4,22) 0,0422.m 42,20.mm
100

3.2 Metode Beban Satuan (Unit Load Method)

Sebagai konsep dasar metode ini berikut dapat diperhatikan suatu balok
atas dua tumpuan dibebani sebagai berikut :

dL
P1 P2 P3
dx

- 14 -
S M UN S

1 C 2 3
1 3
2

Gambar 11. Lendutan dibawah beban terpusat dan pada titik C

Jika bebanbeban luar tersebut dikerjakan berangsur-angsur, maka total


usaha kerja luar balok adalah sebesar : .P1.1+.P2.2+.P3.3, dan
Usaha kerja dalam pada balok adalah : .(S.dL). Berdasarkan Hukum
kekekalan Tenaga maka :
.P1.1+.P2.2+.P3.3 =.(S.dL)

Jika pada titik C dikerjakan 1 satuan maka lendutan pada titik beban pada
gambar 11 akan menjadi sebagi berikut :
dl

dx

U M UN U

1 C 2 3
1 3
2

Gambar 12. Lendutan dibawah beban terpusat akibat beban 1 satuan di C

Berdasarkan Hukum Kekekalan Tenaga akan didapat :

. (1).() = .(U.dl)

Jika P1, P2, dan P3 dikerjakan secara berangsur-angsur pada balok yang
telah menerima beban satuan di C (gambar 12) maka lendutan pada
masing-masing titik akan tampak seperti gambar berikut :

P1 P2 P3

- 15 -
U
1 C 2 3
1+1 + 3+3
2+2

1
Gambar 13.Lendutan dibawah beban terpusat akibat beban terpusat dan
beban 1 satuan di C

Jika beban P1, P2 dan P3 ditambahkan secara berangsur-angsur dengan


beban 1 satuan bekerja penuh untuk seluruh penurunan , maka usaha
luar tambahan yang bekerja pada balok adalah :
.P1.1+.P2.2+.P3.3+1., dan usaha dalam yang tersimpan dalam balok adalah
:.(S.dL) + (U.dL). Dengan demikian total usaha kerja luar pada balok
adalah : . 1. +.P1.1+.P2.2+.P3.3+1. dan total usaha kerja dalam
=.(U.dl) + .(S.dL) + (U.dL). Berdasarkan Hukum Kekekalan Tenaga
dapat ditulis sebagai berikut :

.1. +.P1.1+.P2.2+.P3.3+1. =.(U.dl)+.(S.dL)+(U.dL).

Telah didapat : .(U.dl) = .1.

.(S.dL = .P1.1+.P2.2+.P3.3
Sehingga jika disederhanakan akan menjadi : 1. = (U.dL) atau = (U.dL)

dan persamaan terakhir ini merupakan formula dasar dalam metode beban
satuan.

1. Aplikasi Metode beban satuan untuk menghitung lendutan

dL
P1 P2 P3
dx

S M UN S
y
C


- 16 -
1

Gambar 14. Lendutan dibawah beban terpusat 1 satuan di titik C

Jika Momen yang terjadi pada titik C akibat beban luar sebesar M dan
akibat beban terpusat 1 satuan di C disebut m maka tegangan yang
terjadi pada serat sejauh y dari garis netral
- akibat beban 1 satuan adalah : U/dA=m.y/I atau U = m.y/I.dA
- akibat beban luar sebesar : S/dA=M.y/I atau S = M.y/I.dA

dari Hukum Hook tegangan = E. = E.dx/dL = S/dA


sehingga dL = S/dA.dx/E
dengan mensubstitusikan S = M.y/I.dA didapat dL =
(M.y/I.dA)/dA.dx/E
= My/(EI).dx

dengan didapat harga U dan dL maka formula umum metode beban


satuan akan menjadi :

= (U.dL)

L A
( mI. y .dA).( MEI. y .dx )
M .m. y 2
EI 2
.dA.dx
0 0
L A L
0
M .m
E.I 2
.dx y 2 .dA
0

0
M .m
EI .dx

dimana : = Lendutan yang terjadi


M = Persamaan Momen Lentur akibat beban Luar
m = Persamaan Momen lentur akibat beban terpusat 1
satuan yang dikerjakan pada titik yang akan
dihitung lendutannya

Contoh Soal 4 :

Diketahui konstruksi kantilever dengan pembebabnan sebagai berikut


:

P=1,5 ton

A B
EI= 150 tm2
L=2m

- 17 -
Gambar 15 . Gambar untuk contoh soal 5

Hitung lendutan di B dengan metode beban satuan !

Penyelesaian :

P=1,5 t P=1,5 t P=1


X X
A B A B+ A B
B
X x X x

L=2m L=2m L=2m


(a). Kondisi asli (b). Akibat beban luar (c). Akibat beban 1 satuan

Gambar 16. Ilustrasi Penyelesaian contoh soal 4


Rumus Umum :
L
B
0
M .m
EI
.dx

- Menentukan Persamaan momen lentur akibat beban luar (M)


(perhatikan Gambar 16.b) dan tinjau potongan kanan
M = -P.x = -1,5.x

- Menentukan Persamaan momen lentur akibat beban


terpusat 1 satuan (m). Perhatikan Gambar 16.c, beban 1
satuan diberikan arah ke bawah sebagai pemisalan bahwa
lendutan terjadi ke arah bawah balok dan tinjau potongan
kanan
m = -1.x = -x

- Menentukan batas Integrasi


x bergerak dari B ke A sehingga batas awal di titik B (x=0)
dan batas akhir di titik A (x=2)

Sehingga :
L
B
0
M .m
EI
.dx
2 2
B ( 1,5EI dx 1,EI
2
x ).( x ) 5x
dx
0 0

B 1
EI
1
3
.1,5.x
3 2
0
1
EI
0,5.x 3 2
0

B 1
EI
(0,5.2 ) (0,5.0 ) 4
3 3 1
EI
4
EI

B 150
4
0,0267.m 2,67.cm

- 18 -
Contoh Soal 5 :

Diketahui konstruksi kantilever dengan pembebanan sebagai berikut :

A B
EI
L

Gambar 17 . Gambar untuk contoh soal 5

Hitung lendutan di B dengan metode beban satuan !

Penyelesaian :

q X q P=1
X
A B A B+ A B
B
X x X x

L L L

(a). Kondisi asli (b). Akibat beban luar (c). Akibat beban 1 satuan

Gambar 16. Ilustrasi Penyelesaian contoh soal 5


Rumus Umum :
L
B
0
M .m
EI
.dx

- Menentukan Persamaan momen lentur akibat beban luar (M)


(perhatikan Gambar 16.b) dan tinjau potongan kanan
M = -1/2.q.x2

- Menentukan Persamaan momen lentur akibat beban


terpusat 1 satuan (m). Perhatikan Gambar 16.c, beban 1
satuan diberikan arah ke bawah sebagai pemisalan bahwa
lendutan terjadi ke arah bawah balok dan tinjau potongan
kanan
m = -1.x = -x

- Menentukan batas Integrasi


x bergerak dari B ke A sehingga batas awal di titik B (x=0)
dan batas akhir di titik A (x=L)

Sehingga :
L
B
0
M .m
EI
.dx

- 19 -
L 2
( 12 q . x 2 ).( x )

0 , 5. q . x 3
B EI dx EI
0 0

B 1
EI 1
4 .0,5.q.x 4 L
0
1
EI 0,125.q.x 4 L
0

B 1
EI
(0,125.q.L ) (0,125.q.0 ) 0,125.q.L
4 4 1
EI
4 q . L4
8. EI

2. Aplikasi Metode Beban Satuan untuk menghitung Putaran


Sudut

Jika pada titik C dikerjakan 1 satuan maka lendutan pada titik beban
pada gambar 11 akan menjadi sebagai berikut :
Perhatikan gambar berikut :

dL
P1 P2 P3
dx

S M UN S

1 C 2 3
1 3
2

Gambar 17. Lendutan dibawah beban terpusat dan putaran sudut pada titik
C akibat beban luar

Jika bebanbeban luar tersebut dikerjakan berangsur-angsur, maka


berdasarkan Hukum kekekalan Tenaga didapat :
.P1.1+.P2.2+.P3.3 =.(S.dL)

- 20 -
Dan jika pada titik C dikerjakan beban 1 satuan momen maka
lendutan pada masing-masing titik dan putaran susdut di titik C akan
tampak seperti gambar berikut.
dl

dx

U M UN U
1
1 C 2 3
1 3
2

Gambar 18. Lendutan sudut dibawah beban terpusat dan putaran


sudut di C akibat beban momen 1 satuan di C

Berdasarkan Hukum Kekekalan Tenaga akan didapat :

. (1).() = .(U.dl)
Jika P1, P2, dan P3 dikerjakan secara berangsur-angsur pada balok
yang telah menerima beban satuan di C (gambar 12) maka lendutan
pada masing-masing titik akan tampak seperti gambar berikut :

P1 P2 P3

U
1 C 2 3
1+1 3+3
2+2

Gambar 19.Lendutan dibawah beban terpusat akibat beban terpusat dan


beban momen 1 satuan di C dan putaran sudut di titik C

Jika beban P1, P2 dan P3 ditambahkan secara berangsur-angsur


dengan beban 1 satuan bekerja penuh untuk seluruh putaran sudut
, maka usaha luar tambahan yang bekerja pada balok adalah :
.P1.1+.P2.2+ .P3.3+1., dan usaha dalam yang tersimpan dalam
balok adalah :.(S.dL) + (U.dL). Dengan demikian total usaha kerja

- 21 -
luar pada balok adalah : . 1. +.P1.1+.P2.2+.P3.3+1. dan total
usaha kerja dalam =.(U.dl) + .(S.dL) + (U.dL). Berdasarkan
Hukum Kekekalan Tenaga dapat ditulis sebagai berikut :

.1. +.P1.1+.P2.2+.P3.3+1. =.(U.dl)+.(S.dL)+(U.dL).

Telah didapat : .(U.dl) = .1.


.(S.dL) =.P1.1+.P2.2+.P3.3
Sehingga jika disederhanakan akan menjadi : 1. = (U.dL) atau

= (U.dL)

Dengan analisa yang analog untuk aplikasi perhitungan lendutan


maka didapat :

L

0
M .m
EI
dx

dimana : = Putaran sudut yang terjadi


M = Persamaan Momen Lentur akibat beban Luar
m = Persamaan Momen lentur akibat beban momen 1
satuan (M=1) yang dikerjakan pada titik yang akan
dihitung putaran sudutnya
Contoh Soal 5 :
Diketahui konstruksi kantilever dengan pembebanan sebagai berikut :

P=1,5 ton

A B
EI= 150 tm 2

L=2m

Gambar 20 . Gambar untuk contoh soal 5

Hitung Putaran Sudut di B dengan metode beban satuan !


Penyelesaian :
P=1,5 t P=1,5 t
X X M=1
A B A B+ A B

B X x X x
B
L=2m L=2m L=2m
(a). Kondisi asli (b). Akibat beban luar (c). Akibat beban 1
satuan

Gambar 21. Ilustrasi Penyelesaian contoh soal 5


- 22 -
Rumus Umum :
L
B
0
M .m
EI
.dx

- Menentukan Persamaan momen lentur akibat beban luar (M)


(perhatikan Gambar 16.b) dan tinjau potongan kanan
M = -P.x = -1,5.x

- Menentukan Persamaan momen lentur akibat beban


terpusat 1 satuan (m). Perhatikan Gambar 16.c, beban M=1
satuan diberikan searah jarum jam sebagai pemisalan
bahwa putaran sudut terjadi searah jarum jam terhadap
sumbu batang balok dan tinjau potongan kanan didapat :
m = -1

- Menentukan batas Integrasi


x bergerak dari B ke A sehingga batas awal di titik B (x=0)
dan batas akhir di titik A (x=2)

Sehingga :

L
B
0
M .m
EI
.dx

2 2


( 1, 5 x ).( 1)
B EI
dx 1, 5 x
EI
0 0

B 1
EI
1
2
.1,5.x 2 2
0
1
EI
0,75.x 2 2
0

B 1
EI
(0,75.2 ) (0,75.0 ) 3
2 2 1
EI
3
EI

B 150
3
0,02.Radian 0,02. 180
1,146
o

3.3 Metode Bidang Momen Sebagi Beban (Moment Area Method)

Konsep dari metode ini terdiri dari dua Teorema yaitu :

1. Teorema I (untuk menghitung putaran sudut)


Perubahan sudut antara garis-garis singgung elastis di dua titik
dari suatu bidang lurus yang menerima momen adalah sama
dengan luas bidang M/EI antara kedua titik tersebut, atau secara
sederhana pernyataan tersebut sama dengan Besarnya
putaran sudut pada suatu titik pada sumbu batang sama
dengan harga Gaya lintang atau Gaya Geser akibat bidang
M/EI sebagai beban pada lokasi titik dimana akan dihitung
putaran sudutnya

- 23 -
2. Teorema II(untuk menghitung lendutan/defleksi)
Lendutan (Deflection) sebuah titik dari suatu batang lurus yang
menerima momen, kearah tegak lurus sumbu batang mula-mula
dan diukur dari garis singgung titik yang lain adalah sama dengan
momen dari bidang M/EI yang terletak antara kedua titik tersebut
terhadap titik dimana lendutan (Defleksi) terjadi, atau secara
sederhana pernyataan tersebut sama dengan Besarnya
Lendutan atau defleksi pada suatu titik pada sumbu
batang sama dengan harga Momen Lentur akibat bidang
M/EI sebagai beban pada lokasi titik dimana akan dihitung
lendutan atau defleksinya

Contoh Soal 6 :
Diketahui Konstruksi dua tumpuan dengan pembebanan sebagai berikut :

P=2 ton

EI C EI
A (Sendi) B (Rol)
4m 4m

Gambar 22. Gambar untuk contoh soal 6

Jika diketahui harga EI = 250 tm2 hitung besarnya putaran sudut di A (A)
dan besarnya lendutan maksimum yang terjadi !

Penyelesaian :

a. Menggambar bidang M/EI

P=2 ton

EI C EI
A B
4m 4m

.P.L/EI = .2.8/EI = 4/EI

- 24 -
A C B
F1 F2

RA RB
2/3.4 1/3.4 1/3.4 2/3.4

4m 4m

Gambar 23. Ilustrasi Penyelesaian Contoh soal 6

b. Menghitung Reaksi Perletakan akibat bidang M/EI sebagai beban

F1 = F2 = Luas segitiga
= . 4.4/EI = 8/EI

RA = RB = 2.F1/2 = F1 = 8/EI

c. Menghitung Putaran sudut di A (A)


A = Gaya lintang di A akibat bidang M/EI sebagai beban
= RA = 8/EI
= 8/250 = 0,032 Radian = 0,032. 180/ = 1,8225o

d. Menghitung lendutan maksimum


Lendutan maksimum terjadi pada tempat dimana beban terpusat
bekerja. Jadi lendutan maksimum terjadi pada titik C (C)
C = Momen lentur pada titik C akibat Bidang M/EI sebagai beban
= RA.4 F1.(1/3.4) = 8/EI.4 8/EI.(4/3)
= 32/EI 32/(3.EI) = 96/(3.EI) - 32/(3.EI)
= 64/(3.EI) = 64/(3.250)
= 0,0853 m = 8,53 cm

Q=q.4 = 2.4= 8t
P=2 ton
q=2t/m

EI C EI
A B
4m 4m

Ra 2 2 Rb

Ra = 6/8.Q + .P = 6/8.8 + .2 = 7 t ()
Rb =2/8.Q + .P=2/8.8+1/2.2 = 3 t ()

- 25 -
Mc/EI = Rb.4/EI = 3.4/EI =12/EI

A C B
F1 F2

4. Rangkuman

Rangkuman dari penjelasan diatas adalah :


1. Robahan Panjang (L)

l N .l
E .F
Dimana : N = gaya aksial yang bekerja pada sumbu batang
l = panjang batang awal
E = modulus elastisitas bahan
F = Luas penampang batang

2. Lendutan ( atau y) dan Putaran sudut ( atau dy/dx)

a. Dengan Metode Dobel Integrasi


Persamaan Umum :

d2y
dx 2
EI
M

- untuk mendapatkan persamaan putaran sudut (dy/dx)

ddx 2y EI
2
dy M
dx

- Untuk mendapatkan Persamaan lendutan atau garis elastis (y)


dy
y dx
M
EI

Dimana : M = Persamaan momen lentur akibat beban luar


E = Modulus elastisitas bahan
I = Momen Inersia Penampang

b. Dengan Metode Beban Satuan

- 26 -
- Untuk mendapatkan putaran sudut pada suatu titik ()
L

0
M .m
EI

Dimana : M = Persamaan momen lentur akibat beban luar


m = Persamaan Momen lentur akibat Beban Momen 1
satuan pada lokasi yang akan dihitung putaran
sudutnya
E = Modulus elastisitas bahan
I = Momen Inersia Penampang

- Untuk mendapatkan lendutan pada suatu titik ()

L

0
M .m
EI

Dimana : M = Persamaan momen lentur akibat beban luar


m = Persamaan Momen lentur akibat Beban Terpusat 1
satuan pada lokasi yang akan dihitung putaran
sudutnya
E = Modulus elastisitas bahan
I = Momen Inersia Penampang

c. Dengan Metode Bidang Momen sebagai Beban

- Untuk mendapatkan putaran sudut pada suatu titik ()


= Gaya Lintang akibat bidang M/EI sebagai beban pada titik yang
akan dihitung putaran sudutnya
- Untuk mendapatkan lendutan pada suatu titik ()
= Momen akibat bidang M/EI sebagai beban pada titik yang
akan lendutannya

- 27 -
5. Soal-soal

1. Diketahui Konstruksi Kantilever sebagai berikut :


P
q

A EI B

EI = 100 tm2
L = 2,5 m ; P = 1,5 ton
q = (1,0 + n/10) t/m

Tentukan : a. Persamaan Putaran sudut kosntruksi di atas


b. Persamaan garis elastis konstruksi di atas

2. Diketahui Konstruksi Kantilever sebagai berikut :


P
q

A C EI B
L1 L2

EI = 1,2.109.kgcm2
L1 = 1,0 m ; P = (1,5+n/5) ton
L2 = 1,5 m ; q = 1,0 t/m

Tentukan : a. Putaran sudut di C (dengan metode beban satuan)


b. Lendutan di A (dengan metode beban satuan)

- 28 -
3. Diketahui konstruksi dua tumpuan sebagai berikut :
P
q

2EI B EI C
A
L1 L2

L1 = 6,0 m ; P = 1,75 ton


L2 = 4,0 m ; q = (2,0 + n/10) t/m
Jika bahan balok adalah beton bertulang dengan Modulus elastisitas
(2.105 kg/cm2) dan penampang balok seperti gambar di bawah :

Tentukan : a. Putaran sudut di A dan di C (Nilai 50)


b. Lendutan di B (Nilai 50)
Hitung dengan metode bidang MOMEN SEBAGAI BEBAN

- 29 -
II. DEFORMASI TITIK BUHUL PADA RANGKA BATANG BIDANG

3.1 Jenis Deformasi pada Titik Buhul Rangka Batang Bidang

Deformasi titik buhul pada rangka batang bidang ada 2 yaitu :


a. Perpindahan horizontal (translasi)
b. Lendutan (defleksi)
P

K B
A K vk

hk

Rumus Umum untuk menghitung deformasi (defleksi atau translasi pada


titik buhul adalah :

Si ' i Li
k
Fi Ei

dimana :
k = Deformasi (Translasi atau defleksi) pada titik K
Si = Gaya batang pada batang ke-i akibat beban luar
i = Gaya batang pada batang ke-i akibat beban terpusat 1 satuan (arah
gaya 1 satuan menunjukkan pemisalan arah deformasi).
Li = Panjang batang ke-i
Fi = Luas penampang batang ke-i
Ei = Modulus elastisitas batang ke-i

2.2 Menghitung Gaya Batang

- 30 -
Metode untuk menghitung gaya batang secara analitis dapat dilakukan
dengan 2 cara yaitu :
a. Cara Keseimbangan titik buhul
Cara keseimbangan titik buhul dapat dipakai jika pada titik buhul yang
ditinjau hanya maksimum 2 batang yang tidak diketahui gaya batannya
dan gaya batang yang tidak diketahui tersebut untuk sementara
dimisalkan tarik (arah gaya menjauhi titik buhul yang ditinjau).
Persamaan kesimbangan yang dipakai adalah :
V = 0 dan H = 0.
Gaya batang yang didapat berupa gaya batang tekan (diberi tanda -)
dan gaya batang tarik (diberi tanda +)

b. Cara Potongan Ritter


Cara ini dilakukan dengan memotong struktur menjadi 2 bagian dan
potongan yang ditinjau harus dalam keadaan seimbang dan batang
yang terkena potongan dan belum diketahui besar serta besar gayanya
untuk sementara diaggap atau dimisalkan gaya tarik (menjauhi
potongan yang ditinjau). Persamaan Keseimbangan yang dipakai
adalah :
V = 0 ,H = 0 dan M = 0.

Gaya batang yang didapat berupa gaya batang tekan (diberi tanda -)
dan gaya batang tarik (diberi tanda +)

- 31 -