You are on page 1of 63

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini
sangat pesat. Julukan kota budaya menjadikan DIY memiliki daya tarik tersendiri
bagi para wisatawan lokal dan mancanegara. Aneka ragam wisata alam di DIY
seperti wisata pantai seperti Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul, wisata
pegunungan seperti Kaliurang di Kabupaten Sleman, dan wisata budaya yaitu
Alunalun Utara dan Selatan di lingkungan Kraton Yogyakarta, menjadikan tujuan
wisata selain Pulau Bali, Lombok, Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan
lainnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik DIY hingga tahun 2012 terjadi fluktuasi
jumlah kunjungan wisatawan ke DIY pada periode 2005-2012 yang dipengaruhi
oleh faktor perekonomian, faktor bencana gempa bumi tahun 2006, dan bencana
erupsi gunung merapi tahun 2012. Secara umum selama tahun 2012 wisatawan ke
DIY mencapai 3536 juta. Terdiri dari 3398 juta wisatawan domestik dan 148,5 ribu
wisatawan mancanegara. Dominasi wisatawan lokal mencapai 95,81% sedangkan
wisatawan mancanegara hanya 4,29%. Jumlah wisatawan domestik dan asing
diperlihatkan pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Jumlah wisatawan domestik dan asing ke DIY, 2005-2013 (ribu orang)
(Sumber : yogyakarta.bps.go.id, 2014)

1
Minat wisatawan mengunjungi DIY mempengaruhi tingkat penghunian kamar
(TPK). Nilai TPK adalah persentase penghunian kamar hotel yang dihitung dengan
cara membagi jumlah kamar terpakai dengan jumlah kamar tersedia dikalikan
100%. Semakin tinggi nilai TPK, maka produktivitas sebuah hotel semakin tinggi.
Perkembangan TPK di DIY mengalami peningkatan. Tahun 2007 tercatat TPK
hotel berbintang sebesar 46,85%, kemudian mengalami peningkatan menjadi
55,19% pada tahun 2012. Hotel nonbintang tahun 2007 tercatat sebesar 24,17% dan
meningkat mencapai 36,56% pada tahun 2012 seperti pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Jumlah tingkat penghunian kamar di DIY 2007-2012


(Sumber : yogyakarta.bps.go.id, 2014)

Permasalahan yang muncul adalah meningkatnya kebutuhan hunian bagi


pendatang, sehingga dibutuhkan berbagai alternatif hunian guna mengakomodir
berbagai kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, perusahaan developer di DIY
berlomba-lomba menawarkan konsep hunian baru dengan sistem kepemilikan yang
inovatif. Sebagai solusi adalah membangun high rise building berupa hotel,
condotel, dan apartemen dengan ciri khas multi storey building yaitu bangunan
yang bertingkat, sehingga dengan keterbatasan lahan tetap memiliki banyak
kapasitas hunian.
Multi storey building memiliki komponen yang lebih kompleks daripada
bangunan rumah sederhana seperti struktur bawah dan struktur atas. Struktur atas
berupa kolom, balok, plat tangga, plat lantai yang membentuk satu kesatuan.

2
Struktur bawah berupa fondasi dan bangunan lainnya di bawah tanah. Fondasi
memiliki peranan penting bagi bangunan di atasnya. Fondasi adalah suatu
konstruksi yang menopang beban dari atas yang kemudian meneruskannya ke
tanah atau batuan yang terletak di sekitarnya (Bowles, 1992). Analisis fondasi perlu
dilakukan agar pemilihan jenis dan desain sesuai dengan fungsi dan kegunaan
bangunan yang ditopang.
Proyek Apartemen Malioboro City bulan Januari-Mei tahun 2014 dalam fase
pembuatan fondasi. Fondasi yang digunakan adalah fondasi bor dengan
mempertimbangkan hal sebagai berikut:
1. Kemudahan dalam mobilisasi dan pengoperasian alat.
2. Tidak mengganggu bangunan sekitar akibat getaran yang muncul bila
menggunakan tiang pancang.
3. Memenuhi syarat spesifikasi bangunan.
4. Dominasi lapisan tanah pasir, sehingga untuk penggunaan tiang pancang akan
sulit dilakukan karena lapisan pasir akan semakin padat saat proses
pemancangan.
Pelaksanaan pekerjaan fondasi yang tidak selalu berjalan mulus karena
banyaknya kendala dan resiko yang fatal dikhawatirkan mempengaruhi mutu dan
kualitas fondasi yang telah dirancang kapasitasnya. Untuk itu, perlu adanya sebuah
metode evaluasi terhadap pekerjaan fondasi yang sudah jadi sehingga kelayakan
fondasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan oleh pelaksana kepada pemberi
kerja.
Perencanaan kapasitas daya dukung fondasi bor menggunakan metode Standard
Penetration Test (SPT), kemudian melakukan evaluasi nilai daya dukung tiang bor
dengan uji beban dinamis High Dynamics Pile Test (HSDPT) atau disebut dengan
Pile Driving Analyzer (PDA) test.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang laporan tugas akhir, maka dibuat rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Berapa nilai daya dukung ijin tiang fondasi bor tunggal dengan data uji SPT?

3
2. Berapa nilai evaluasi daya dukung tiang fondasi bor berdasarkan hasil uji test
PDA test?

1.3 Batasan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah laporan tugas akhir, maka dibuat batasan masalah
sebagai berikut:
1. Perhitungan kapasitas daya dukung fondasi bor pada proyek Apartemen
Malioboro City menggunakan metode Meyerhoff sesuai data yang tersedia
berupa hasil Standard Penetration Test (SPT) dan evaluasi daya dukung fondasi
tunggal dengan hasil PDA test.
2. Pelaksanaan fondasi dari proses persiapan hingga pengujian PDA test.

1.4 Tujuan Identifikasi Masalah


Tujuan penyusunan laporan tugas akhir adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui proses pembuatan fondasi bor dan pelaksanaan PDA test.
2. Mengetahui perbandingan nilai daya dukung ijin fondasi dengan nilai PDA test
untuk mengetahui keamanan fondasi yang diuji.

1.5 Metodologi Penyusunan Laporan


Metode yang digunakan dalam menyusun laporan tugas akhir yaitu:
1. Wawancara
Melakukan tanya jawab dengan manajemen konstruksi (PT.Tripanoto Sri) dan
kontraktor (PT.Borland Nusantara).
2. Observasi
Mengamati proses pelaksanaan pembuatan fondasi bor secara runtut dan teliti.
3. Studi Pustaka dan Internet
Mempelajari buku dan akses internet guna melengkapi informasi.
4. Dokumentasi
Melakukan dokumentasi berbagai kegiatan.
5. Analisis
Melakukan perhitungan dengan data yang didapatkan dari hasil uji SPT pihak
konsultan (PT. Testana Engineering).

4
1.6 Sistematika Penyusunan Laporan
Sistematika penyusunan laporan sebagai berikut:
1. Pendahuluan
Mencantumkan permasalahan yang dihadapi sekarang, mengidentifikasi
permasalahan dengan metode tertentu, kemudian menentukan langkah solutif
sesuai batasan masalah sesuai tujuan.
2. Tinjauan Umum Perusahaan
Mencantumkan profil perusahaan, lokasi, struktur organisasi, visi dan misi
perusahaan.
3. Tinjauan Pustaka
Mencantumkan pendapat mengenai fondasi oleh para ahli dan penjelasan
mengenai tipe fondasi, metode pelaksanaan, metode evaluasi dan analisis daya
dukung fondasi.
4. Hasil dan Pembahasan
Mencantumkan cara urutan pengerjaan fondasi, analisis data SPT, metode
evaluasi fondasi dengan PDA test kemudian membandingkan hasil keduanya
dan membuat kesimpulan.
5. Penutup
Rekapitulasi hasil analisis sebagai kesimpulan dari tujuan identifikasi
identifikasi permasalahan.

5
BAB II

PROFIL PERUSAHAAN
2.1 Pengantar
PT. Inti Hosmed Development adalah perusahaan yang bergerak di bidang
pengembangan dan pembangunan wilayah. PT. Inti Hosmed Development yang
memiliki pengalaman dalam pembangunan high rise building, memperkenalkan
konsep mix used building pertama kali di DIY yaitu Superblock Malioboro City.
Logo PT. Inti Hosmed Development tercantum dalam Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Logo PT. Inti Hosmed Development


(Sumber : PT.Inti Hosmed Development, 2013)

Nama Perusahaan : PT. Inti Hosmed Development.

Alamat Kantor : Jl. Laksda Adisutjipto Km. 8, Depok, Sleman.

Telepon : (0274) 485111.

Lokasi Proyek : Jl. Laksda Adisutjipto Km. 8, Depok, Sleman.


2.2 Filosofi
Hamemayu hayuning bawana, sebagai cita-cita luhur untuk menyempurnakan
tata nilai kehidupan. Cipta rasa dan karsa yang diyakini sebagai suatu yang benar
dan indah membawa alur kehidupan ayom, ayem, tata, titi, tentrem kartaraharja
yang bermuara pada kehidupan yang damai.

2.3 Visi

Mengembangkan sebuah bisnis properti dengan inovasi kreativitas yang tinggi


secara terus-menerus dalam menciptakan nilai tambah dalam penyediaan ruang

6
kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik lagi bagi masyarakat dan para
stakeholder.
2.4 Misi

Menjadi yang terbaik dan terdepan dalam bisnis properti dengan


mengembangkan pusat bisnis, komunitas dan gaya hidup yang bercorak perpaduan
budaya lokal dan modern kreatif, unggul, professional dan menguntungkan
sehingga menjadi pilihan utama bagi para konsumen, menjadi tempat paling
menarik dan menantang bagi para karyawan, menjadi investasi yang paling
menguntungkan bagi para pemegang saham dan menjadi berkat yang nyata bagi
masyarakat sekitar dan menjadi kebanggan bagi bangsa Indonesia.

2.5 Struktur Organisasi


Manajemen baru PT. Inti Hosmed Development diresmikan tanggal 1 Mei 2014
dengan tujuan meningkatkan efektifitas kerja serta memicu semangat dan energi
positif baru dalam perusahaan. Struktur organisasi dapat dilihat dalam Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Struktur organisasi PT. Inti Hosmed Development


(Sumber : PT. Inti Hosmed Development, 2014)

7
2.6 Legalitas
Legalitas PT. Inti Hosmed Development dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Legalitas PT. Inti Hosmed Development

Surat Nomor Surat Instansi

Akta Pendirian PT.Inti Tanggal 04 Oktober 2011 No.


Kantor Notaris Drajad Uripno, S.H.
Hosmed 01

Keputusan Menteri Hukum dan


Tentang Pengesahan No. AHU-
Hak Asasi Manusia Republik
Badan Hukum Perseroan 52112.AH.01.01.Tahun 2011
Indonesia

Penerimaan Keputusan Menteri Hukum dan


Pemberitahuan Hak Asasi Manusia Republik
AHU-AH.01.10-40841
Perubahan Anggaran Indonesia Dirjen. Administrasi
Dasar PT.Inti Hosmed Hukum Umum

No. Pemerintah Kabupaten Sleman,


Sertifikat Izin Gangguan
503/006167.68.13/HO/2013 Kantor Pelayanan Perizinan

Nomor Pokok Wajib Kementerian Keuangan Republik


NPWP : 51.542.763.3.542.000
Pajak PT. Inti Hosmed Indonesia Direktorat Jenderal Pajak

Pemerintah Kabupaten Sleman


Tanda Daftar Perseroan
No. TDP 12021680785 Dinas Perindustrian, Perdagangan
Terbatas
dan Koperasi

Pemerintah Kabupaten Sleman


Surat Izin Usaha
No. 503/00186/PM/X/2012 Dinas Perindustrian, Perdagangan
Perdagangan Menengah
dan Koperasi

Sertifikat Hak Guna


No. 12.04.07.01.3.01023 Badan Pertanahan Nasional
Bangunan
(Sumber : Company profile PT.Inti Hosmed Development, 2013)

8
2.7 Data Proyek
Data proyek Apartemen Malioboro City sebagai berikut:

Nama proyek : Pembangunan Apartemen Malioboro City

paket pekerjaan fondasi bor

Lokasi : Jl. Laksda Adisutjipto Km. 8 Depok, Sleman.

Sumber dana : PT. Inti Hosmed Development.

Kontraktor fondasi bor : PT. Borland Nusantara.

Manajemen konstruksi : PT. Tripanoto Sri.

Konsultan struktur : PT. Hadi & Associates Engineering Consultant.

Durasi pelaksanaan fondasi : 112 Hari (22 Januari 2014 sampai 13 Mei 2014).
Biaya pelaksanaan fondasi : Rp. 13.200.000.000,00 (tiga belas miliar dua
ratus juta rupiah) termasuk PPN.
Gambar 2.3 menunjukkan lokasi pelaksanaan di Jl. Laksda Adisutjipto Km.8,
Depok, Sleman, Yogyakarta.

Apartemen Batas lahan

Malioboro City Malioboro City

Jl. Babarsari

Ke Solo

Jl. Laksda Adisutjipto Km 8


Ke Yogyakarta

Gambar 2.3 Peta Malioboro City


(Sumber : Google Earth, 2014)

9
2.8 Data Teknis Fondasi Bor
Data teknis fondasi bor sebagai berikut:

Panjang : 23 m dari tanah asli.

Diameter : 80 cm dan 100 cm.

Volume beton : Diameter 80 cm.

= 0,25 x x x kedalaman fondasi

= 0,25 x 3,14 x 0,82 x 23

= 11,5 3

: Diameter 100 cm

= 0,25 x x x kedalaman fondasi

= 0,25 x 3,14 x 12 x 23

= 18 3

Mutu beton : K250.


Nilai slump : 16 2 cm.
Mutu tulangan : BJTP 24 fy =240 Mpa (Polos).
BJTD 40 fy = 400 Mpa (Ulir).

10
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Umum
Komponen struktur fondasi merupakan salah satu elemen pokok pada sebuah
proyek bangunan. Analisis sangat diperlukan mengingat fungsinya sebagai
penopang dan meneruskan beban bangunan ke tanah. Fondasi tiang adalah suatu
konstruksi yang mampu menahan gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan cara
menyerap lenturan. Fondasi tiang dibuat menjadi satu kesatuan yang monolit
dengan menyatukan pangkal tiang yang terdapat di bawah konstruksi, dengan
tumpuan fondasi (Nakazawa dan Sostrodarsono, 2000).
Fondasi tiang digunakan apabila lapisan tanah kuat terletak sangat dalam.
Fondasi jenis ini dapat juga digunakan untuk mendukung bangunan yang menahan
gaya angkat ke atas, terutama pada bangunan-bangunan tingkat yang dipengaruhi
oleh gaya penggulingan akibat beban angin. Tiang-tiang juga digunakan untuk
bangunan dermaga yang dipengaruhi oleh gaya benturan kapal dan gelombang air.
(Hardiyatmo, 2008).
Tanah yang mempunyai daya dukung yang cukup untuk memikul berat
bangunan dan seluruh beban yang bekerja berada pada lapisan yang sangat dalam
dari permukaan tanah kedalaman > 8 m (Bowles, 1991).
Fungsi fondasi adalah mentransfer beban dari struktur atas ke lapisan tanah
keras. Komponen kekuatan fondasi berasal dari kekuatan gesek tanah sesuai jenis
tanah, nilai kohesi, massa dan jenis tanah terhadap fondasi dan kekuatan tanah
pada bagian ujung fondasi yang disebut dengan daya dukung fondasi.
Secara umum fondasi mengalami beban sebagai berikut:
1. Beban horizontal
Berat horizontal berasal dari gaya tekan tanah, transfer beban angin dari dinding
dan beban horizontal yang berasal dari kolom.
2. Beban vertikal
Berat mati (berat sendiri bangunan), berat hidup (beban penghuni, beban air
hujan, beban salju), beban gempa dan gaya angkat air.
3. Momen.
4. Torsi.

11
Tujuan penggunaan fondasi tiang:
1. Memikul dan meneruskan beban dari struktur atas ke tanah pendukung yang
kuat.
2. Mengangkur bangunan yang dipengaruhi oleh gaya angkat ke atas akibat
tekanan hidrostatis atau gaya penggulingan akibat beban angin.
3. Mendukung fondasi bangunan yang permukaan tanahnya miring dan mudah
tergerus air.
4. Memadatkan tanah pasir sehingga daya dukung bertambah.
5. Menahan gaya horizontal dan gaya yang arahnya miring.

Analisis akan menunjukkan kelayakan sebuah desain fondasi terhadap beban,


dengan analisis dihasilkan pula desain fondasi tiang yang efisien guna
mempermudah dalam pemilihan tipe fondasi dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Fungsi bangunan atas yang ditopang.
2. Nilai beban yang diteruskan ke tanah.
3. Jenis tanah tempat bangunan berdiri.
4. Biaya dan waktu pembuatan fondasi.

3.2 Macam Fondasi


Fondasi yang dibedakan berdasarkan kedalaman disebut fondasi dangkal jika
kedalaman fondasi dari muka tanah adalah kurang atau sama dengan lebar fondasi
(Df B) dan disebut fondasi dalam jika perbandingan kedalaman fondasi dari muka
tanah sebesar lima kali lebar fondasi lebar fondasi (Df > 5B).
3.2.1 Fondasi Dangkal
1. Fondasi Menerus
Fondasi yang mendukung sederetan kolom dengan jarak berdekatan,
umumnya digunakan pada bangunan rumah satu lantai, berupa pasangan
batu kali yang diikat dengan adukan beton.
2. Fondasi Telapak
Fondasi setempat berbentuk telapak terbuat dari beton bertulang
yang berfungsi menahan beban kolom yang besar akibat desain
bangunan yang bertingkat.
3. Fondasi Rakit

12
Fondasi yang digunakan pada bangunan diatas tanah lunak, atau
untuk digunakan pada bangunan dengan jarak kolom ke segala arah.
3.2.2 Fondasi Dalam
1. Fondasi Sumuran
Bentuk peralihan dari fondasi dangkal dan fondasi tiang, digunakan
bila tanah keras terletak relatif dalam. Perbandingan antara nilai
kedalaman (Df) dengan lebar fondasi (B) > 4.
2. Fondasi Tiang
Fondasi tiang digunakan bila tanah keras terletak sangat dalam.
Perbandingan antara nilai kedalaman (Df) dengan lebar fondasi (B) 1.

3.3 Penggolongan Fondasi Tiang

Fondasi tiang dapat digolongkan berdasarkan:


1. Perpindahan.
2. Kualitas material dan cara pembuatan.
3. Teknis pemasangan.
4. Penyaluran beban ke tanah.
3.3.1 Penggolongan Fondasi Tiang Berdasarkan Perpindahan
1. Tiang Perpindahan Besar (Large Displacement Pile)
Tiang pejal dengan ujung tertutup yang dipancang ke dalam tanah
sehingga terjadi perpindahan volume tanah yang besar.

Contoh: tiang kayu, tiang baja silinder pejal, tiang beton prategang pejal.
2. Tiang Perpindahan Kecil (Small Displacement Pile)
Serupa dengan tipe pertama namun perpindahan volume lebih kecil
akibat kecilnya luas penampang ujung tiang.
Contoh: tiang baja profil H, tiang beton prategang berlubang dengan
ujung terbuka, tiang beton prategang dengan ujung terbuka.
3. Tiang tanpa Perpindahan (non Displacement Pile)

Terdiri dari tiang yang dipasang dalam tanah dengan cara mengebor
tanah. Contoh: fondasi bor.

13
3.3.2 Penggolongan Fondasi Tiang Berdasarkan Kualitas Material dan Cara
Pembuatan
Material komponen fondasi berupa baja dan beton mengalami variasi
cara pembuatan sesuai dengan jenis tiang dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Tipe fondasi tiang berdasarkan kualitas material dan cara pembuatan

Kualitas Cara
Jenis Tiang Bentuk
Bahan Pembuatan

Tiang Baja Pipa tiang baja Disambung Lingkaran


secara elektris
mengelilingi
bidang

Tiang dengan flens lebar Diasah dalam H


(penampang H) keadaan panas,
dilas

Tiang Tiang beton Tiang beton Diaduk dengan Lingkaran,


Beton pracetak bertulang gaya
pracetak sentrifugal segitiga,dll
atau dengan
penggetar

Tiang beton Sistem


prategang penarikan awal
pracetak dan akhir

Tiang yang Tiang alas Sistem Lingkaran


dicor di pemancangan
tempat Tiang Beton
Raymond

Dengan Sistem
menggoyangkan pemboran
semua tabung
pelindung

Dengan membor
tanah

Dengan
pemutaran
berlawanan arah

Dengan fondasi
dalam
(Sumber: Nakazawa dan Sostrodarsono, 2000)

14
3.3.3 Penggolongan Fondasi Tiang Berdasarkan Teknis Pemasangan
Penggolongan fondasi berdasarkan teknis pemasangan dapat dilihat pada
Gambar 3.1

Gambar 3.1 Tipe fondasi tiang berdasarkan teknik pemasangan


(Sumber: Nakazawa dan Sostrodarsono, 2000)

3.3.4 Penggolongan Fondasi Tiang Berdasarkan Penyaluran Beban ke Tanah


1. Tiang dukung ujung (end bearing point) adalah tiang yang kapasitasnya
ditentukan oleh tahanan pada ujung tiang. Tiang dipancang mencapai
lapisan tanah keras yang dapat mendukung beban (Gambar 3.2a).
2. Tiang gesek (friction pile) adalah tiang yang kapasitas dukungnya
ditentukan oleh perlawanan gesek antara dinding tiang dengan tanah
sekelilingnya (Gambar 3.2b).

Gambar 3.2 Tipe fondasi tiang berdasarkan penyaluran beban ke tanah


(Sumber: Hardiyatmo, 2008)

15
3.4 Fondasi Bor
Fondasi bor merupakan salah satu jenis fondasi tiang dengan ciri menggunakan
tiang yang dicor di tempat dengan terlebih dahulu mengebor lapisan tanah hingga
kedalaman tanah keras yang diperlukan, kemudian memasukkan tulangan dan
proses pengecoran.
Tiang ini digunakan pada tanah yang keras dan stabil sehingga memungkinkan
untuk membuat lubang bor. Jika terdapat lapisan air pada lapisan tanah, maka
dibutuhkan casing guna mencegah kelongsoran dalam lubang. Dasar lubang bor
dapat dibesarkan untuk menambah tahanan ujung tiang pada kondisi tanah dasar
atau bebatuan yang lunak.

Jenis fondasi bor dapat dilihat pada Gambar 3.3:


1. Fondasi bor lurus untuk tanah keras.
2. Fondasi bor dengan ujung yang diperbesar berbentuk bel.
3. Fondasi bor dengan ujung yang diperbesar bersudut.
4. Fondasi bor lurus menembus lapisan bebatuan.

Gambar 3.3 Jenis fondasi bor


(Sumber: Das, 2007)

Keuntungan menggunakan fondasi bor:


1. Mengurangi resiko perubahan elevasi muka air tanah.
2. Kedalaman tiang bervariasi.
3. Memungkinkan melakukan investigasi tanah di laboratorium, sehingga
dilakukan optimalisasi desain fondasi.

16
4. Mengurangi resiko kerusakan tulangan akibat pemukulan dan
pengangkatan.
5. Karena dimungkinkan terjadinya pembesaran pada dasar lubang bor, maka
meningkatkan tahanan fondasi terhadap gaya angkat.

Kerugian menggunakan fondasi bor:


1. Membutuhkan pengujian lapangan secara luas.
2. Kualitas fondasi tergantung pada ketrampilan pekerja.
3. Gangguan kepadatan tanah akibat aktifitas pengeboran pada tanah
berkerikil dan tanah berbutir.
4. Mutu beton dapat terganggu air tanah, sehingga kontrol mutu lebih sulit.
5. Pembesaran ujung bawah tiang hanya dapat dilakukan pada tanah keras.
6. Membutuhkan material tambahan saat pengeboran berupa tanah merah dan
pemasangan casing bagi lokasi fondasi dengan kohesi tanah yang minimal,
guna menghindari kelongsoran di dinding lubang bor.

Perencanaan fondasi harus memenuhi syarat sebagai berikut:


1. Syarat kestabilan, yaitu tidak boleh mengalami penggulingan akibat
momen, penurunan akibat gaya vertikal, dan pergeseran oleh gaya
horizontal akibat gaya yang melebihi kapasitas daya dukung ijin.
2. Syarat kekokohan, yaitu fondasi harus terhindar dari keretakan, apalagi
kehancuran akibat gaya yang bekerja.
3. Syarat ekonomis, yaitu fondasi harus efisien secara keseluruhan baik
bentuk, ukuran, material, waktu dan biaya.
4. Syarat lingkungan, yaitu pekerjaan fondasi harus memperhatikan
lingkungan sekitar.

Proses pemasangan fondasi memberi pengaruh secara langsung pada permukaan tanah
sesuai komposisinya sebagai berikut:
1. Tiang Bor dalam Tanah Granuler
Saat pengeboran seringkali membutuhkan penggunaan casing guna
mencegah kelongsoran. Terjadi gangguan kepadatan tanah saat tabung
pelindung ditarik.

17
2. Tiang Bor dalam Tanah Kohesif
Terjadi pelunakan lempung di sekitar dinding dan dasar lubang akibat
penambahan air saat pengecoran, aliran air tanah ke daerah lebih rendah
dalam lubang bor, dan air yang dipakai dalam pembuatan lubang bor.
Pelunakan dapat dikurangi dengan cara pengeboran dan pengecoran
dilaksanakan dalam waktu 1 hingga 2 jam (Palmer dan Holland,1966)
Pelaksanaan pengeboran juga juga mempengaruhi kondisi dasar lubang
berupa pelunakan dan gangguan tanah lempung di dasar lubang.
Hal yang harus diperhatikan sebelum melaksanakan pekerjaan fondasi bor:
1. Jenis Tanah
Jenis tanah mempengaruhi kecepatan pengeboran, pada tanah berpasir
atau tanah basah, akan mudah longsor sehingga perlu ketelitian lebih pada
saat pengangkatan mata bor.
2. Elevasi Muka Air Tanah
Elevasi muka tanah dapat mengganggu dinding lubang bor dan
menyebabkan kelongsoran akibat aliran air dalam tanah dan kesulitan
pengeboran akibat tekanan air ke atas.
3. Kondisi Lokasi Pengeboran
Ada beberapa kondisi dimana fondasi bor tidak bisa diterapkan seperti
pada tanah tergenang, karena akan mengganggu faktor air semen pada
beton.
3.4.1 Metode Pengeboran Fondasi Bor
1. Konstruksi Metode Kering
Disebut metode kering karena tanah galian tidak mencapai muka
air tanah atau tanah memiliki permeabilitas yang rendah
Urutan proses dari metode kering adalah mengebor tanah hingga
kedalaman tanah keras, lalu dibuat berbentuk bel pada bagian dasar bila
perlu lalu masukkan beton kedalam lubang silinder sebanyak volume
beton pelindung ujung bawah fondasi, masukkan tulangan hingga
menancap pada lapisan beton yang dituangkan sebelumnya kemudian
selesaikan proses penuangan beton. Konstruksi jenis ini cocok untuk

18
tanah kohesif. Proses konstruksi metode kering dapat dilihat pada
Gambar 3.4.

Gambar 3.4 Metode kering


(Sumber : Das, 2007)

2. Konstruksi Metode Casing


Metode casing sering digunakan pada tanah galian yang terjadi
lekukan atau deformasi pada saat penggalian. Urutan pekerjaan adalah
dengan cara melakukan pengeboran hingga lapisan tanah keras atau
batu. Selama pengeboran lubang bor diberi tanah merah. Fungsi tanah
merah adalah mencegah terjadinya longsor di dalam lubang bor dan
mempertahankan bentuk lubang bor. Setelah terbentuk lubang bor yang
diinginkan, masukkan casing kedalam lubang bor. Apabila diperlukan
tulangan, masukkan tulangan yang sudah dirakit ke dalam lubang, dan
diberi panjang penyaluran sepanjang 40 diameter sebagai bagian yang
dilas pada tulangan lanjutan. Proses terakhir dengan cara pengecoran.
Proses konstruksi metode casing dapat dilihat pada Gambar 3.5.

19
Gambar 3.5 Metode casing
(Sumber: Das, 2007)

3. Konstruksi Metode Adonan


Konstruksi jenis ini dilakukan menggunakan konstruksi casing.
Tanah dibor dengan diberi tanah bertujuan menahan dinding bor dari
kelongsoran. Tanah merah terus disuplai selama pengeboran, setelah
mencapai kedalaman tanah keras atau batu, tulangan dimasukkan dalam
lubang bor. Proses terakhir adalah pengecoran dengan menuangkan beton
dengan pipa tremie dimulai dari dasar lubang, bersamaan dengan
keluarnya lumpur tanah merah akibat perbedaan tekanan dan berat jenis
antara lumpur tanah merah dengan beton. Perlu diperhatikan dalam
proses penuangan adalah ujung pipa tremie terendam dalam adonan
beton yang disuntikkan dari dalam agar tidak mencampuri beton dengan
lumpur,yang disebut dengan istilah beton putus. Proses konstruksi
metode adonan dapat dilihat pada Gambar 3.6.

20
Gambar 3.6 Metode adonan
(Sumber: Das, 2007)

3.4.2 Peralatan Pelaksanaan Fondasi Bor


Peralatan yang digunakan sebagai berikut:
1. Bore Crane.
2. Service Crane.
3. Auger.
4. Kelly Bar.
5. Casing.
6. Truck Mixer.
7. Total Station.
8. Concrete Bucket.
9. Tremie.
3.4.3 Metode Pelaksanaan Fondasi Bor dengan Kelly Bar
Tahapan pekerjaan fondasi bor pile adalah sebagai berikut:
1. Pembersihan Lapangan
Lokasi pekerjaan fondasi bor bersih dari gangguan bangunan, tiang
listrik, pepohonan dan aktivitas warga sekitar.

21
2. Persiapan Rute dan Drainasi
Merencanakan alur pengeboran, mobilisasi alat dan drainasi air
bercampur lumpur.
3. Survey Lapangan Menentukan Titik Fondasi
Menentukan titik fondasi oleh surveyor dari titik acuan di lapangan
dengan mempelajari gambar kerja.
4. Setting Bore Crane
Bore crane yang sudah siap dan telah terpasang pipa kelly, diberi auger
pada ujungnya sesuai diameter fondasi yang akan dibuat, kemudian
diperiksa oleh surveyor apakah pipa kelly dan auger benar-benar tegak
dan berada pada pusat/as titik fondasi.
5. Proses Pengeboran
Setelah alat bor siap digunakan, proses selanjutnya adalah
pengeboran dengan memperhatikan hal berikut:
a. Pengeboran dilakukan dengan memutar auger ke arah kanan.
b. Pengeboran dibantu menggunakan air dan tanah merah yang
dimasukkan dalam lubang.
c. Auger digunakan sekaligus untuk membersihkan tanah di dalam
lubang bor, sehingga sesekali ditarik ke permukaan dan dijauhkan
dari lubang bor, kemudian diputar berlawanan arah agar tanah galian
di auger terbuang.
d. Saat pengeboran mencapai kedalaman casing, maka dipasang
terlebih dahulu kemudian pengeboran dilanjutkan kembali.
6. Proses Pemasangan Tulangan
Pemasangan tulangan dilakukan setelah pengeboran mencapai
kedalaman yang diperlukan. Tulangan harus dipersiapkan sebelum proses
ini dimulai sehingga dapat langsung dipasang guna mencegah
kelongsoran dalam lubang bor. Tulangan dibuat dengan ikatan spiral pada
tulangan utama dan diberi tahu beton. Hal yang harus diperhatikan dalam
proses pemasangan tulangan:
a. Posisi crane harus siap sehingga tulangan yang dimasukkan sejajar
dengan lubang bor.

22
b. Tulangan diangkat menggunakan hook pada crane dengan mengikat
pada bagian tulangan spiral, kemudian diangkat dan dimasukkan
dalam lubang. Digunakan sambungan las jika diperlukan terlebih
pada kedalaman fondasi lebih dari 12 m dan diberi tambahan besi
penggantung jika tulangan fondasi berada di bawah lapisan tanah.
7. Proses Pengecoran
Pengecoran dilakukan setelah pemasangan tulangan. Hal yang harus
diperhatikan dalam proses pengecoran:
a. Perlu diperhatikan bahwa beton harus diuji slump terlebih dahulu.
b. Pengecoran menggunakan pipa tremie yang disambung tiap
bagiannya sehingga memudahkan dalam pemotongan tremie pada
waktu pengecoran.
c. Ujung bawah pipa tremie berjarak 25-50 cm dari dasar lubang
fondasi, hal ini harus diperhatikan karena jarak kurang dari 25 cm
menyebabkan beton lambat keluar, sedangkan jarak diatas 50 cm
menyebabkan beton pertama yang mencapai dasar lubang akan
bertambah encer karena bercampur dengan lumpur. Ujung atas pipa
tremie disambung dengan bucket.
d. Awal proses pengecoran dilakukan dengan cepat sehingga air dan
lumpur segera terdesak naik oleh beton, kemudian penuangan
distabilkan agar beton tidak tumpah dari bucket.
e. Tremie yang penuh dengan beton, digerakkan naik turun oleh
service crane memanfaatkan gaya gravitasi. Pastikan ujung bawah
tremie harus selalu tertanam dalam beton sedalam 1 m, karena sekali
terlepas dari rendaman beton, maka celah akan diisi oleh lumpur
menyebabkan beton putus (tidak murni monolit) dan proses
pekerjaan dianggap gagal. Bagian tremie akan semakin dalam
terendam dalam beton, sehingga perlu dilakukan pemotongan bagian
tremie dengan memperhatikan syarat diatas.
f. Pengecoran dihentikan 0,5-1 m diatas batas beton bersih, sehingga
kualitas beton terjamin.

23
g. Setelah pengecoran selesai, pipa tremie diangkat dan dibersihkan
dilanjutkan dengan pengangkatan dan pembersihan casing.

3.5 Daya Dukung Tiang Ultimit Metode Meyerhoff


3.5.1 Kapasitas Daya Dukung Ultimit Berdasarkan Hasil Standard
Penetration Test
Metode Meyerhoff merupakan salah satu metode paling populer
dalam perhitungan kapasitas daya dukung fondasi. Meyerhoff (1976)
pertama kali memperkenalkan persamaan perhitungan kapasitas
menggunakan data SPT sebagai berikut:
1
Qu = 4. . +50 . ...................................................................(3.1)

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton).
= nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang.

= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang.

= luas selimut tiang (ft).

= luas permukaan tiang (ft).

Nilai maksimum N/50 dari suku ke-2 persamaan diatas menyatakan


tahanan gesek dinding tiang sebesar 1 Ton/ft (107 kN/m2). Penelitian
selanjutnya, Meyerhoff (1976) mengusulkan persamaan untuk
menghitung tahanan ujung tiang :

Qu = (38. ) (Lb/d) 380 ( ) ...............................................(3.2)

Dengan

= nilai N rata rata dihitung dari jumlah SPT sejauh 8d diatas


ujung tiang dan 4d dibawah ujung tiang.

Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.

24
3.5.2 Faktor Aman (Safety Factor)
Kapasitas ijin tiang didapatkan dari hasil pembagian kapasitas ultimit
dengan nilai faktor aman. Fungsi dari faktor aman adalah:
1. Memberikan keamanan terhadap ketidakpastian metode hitungan.
2. Memberikan toleransi terhadap perbedaan total penurunan tunggal
maupun kelompok tiang.
3. Meyakinkan perencana bahwa tiang mampu menahan gaya yang
bekerja.
Reese dan ONeil (1989) menyarakan faktor aman yang dapat dilihat
pada tabel 3.2 memperhatikan faktor sebagai berikut:
1. Tipe dan kepentingan struktur.
2. Variasi lapisan tanah.
3. Ketelitian penyelidikan tanah.
4. Tipe dan jumlah uji tanah yang dilakukan.
5. Ketersediaan data di tempat.
6. Kontrol kualitas di lapangan.
7. Kemungkinan beban desain aktual selama beban layan struktur.
Tabel 3.2 Faktor aman yang disarankan Reese dan ONeil (1989)
Faktor Aman (SF)
Klasifikasi Kontrol
Struktur Kontrol Kontrol Kontrol
Sangat
Baik Normal Jelek
Jelek
Monumental 2,3 3 3,5 4
Permanen 2 2,5 2,8 3,4
Sementara 1,4 2 2,3 2,8
(Sumber: Hardiyatmo, 2008)

3.5.3 Kapasitas Daya Dukung Ijin Tiang Bor Tunggal


Kapasitas ijin tiang bor, diperoleh dari jumlah tahanan ujung dan
tahanan gesek dinding dibagi dengan faktor aman.

Qa = ..........................................................................................(3.3)

Dengan
Qa = Kapasitas daya dukung ijin (Ton).
Qu = Kapasitas daya dukung ultimit (Ton).
SF = Faktor aman (Safety Factor).

25
3.6 Metode Evaluasi Daya Dukung Fondasi
Fondasi Apartemen Malioboro City dirancang menggunakan fondasi bor.
yang direncanakan menggunakan metode Meyerhoff. Kapasitas tiang tunggal dapat
berkurang jika pelaksanaan di lapangan tidak memenuhi standar. Apabila daya
dukung dan kualitas fondasi bor tidak sesuai dengan perencanaan, dikhawatirkan
terjadi kegagalan struktur mengakibatkan gedung tidak layak digunakan maka perlu
diadakan evaluasi kapasitas daya dukung fondasi.
Cara untuk mengevaluasi daya dukung fondasi tiang menggunakan metode uji
beban statik dan uji beban dinamis. Uji beban statik berupa pembebanan langsung
sebesar 200% sebagai uji kelayakan pelaksanaan konstruksi dan 300% untuk
mencari daya dukung ijin tiang.
Perkembangan teknologi evaluasi fondasi semakin maju dengan ditemukannya
metode uji dengan beban dinamis atau yang saat ini populer dengan sebutan Pile
Driving Analyzer (PDA) Test.
3.6.1 Pile Driving Analyzer (PDA) Test.
PDA test adalah metode untuk memperkirakan kapasitas daya dukung
aksial sebuah fondasi terpasang dengan beban sesuai desain perencanaan.
Sistem ini dapat digunakan untuk mengevaluasi beberapa kapasitas tiang
dalam satu hari. Prinsip kerja adalah memanfaatkan massa hammer yang
dijatuhkan ke kepala tiang guna membangkitkan gelombang tegangan
muncul akibat pantulan yang diberikan oleh reaksi tanah akibat perlawanan
geser dan tahanan ujung. Gelombang ini mengakibatkan terjadi percepatan
pada gerakan material yang digabungkan dengan waktu menjadi fungsi
kecepatan (V) dan dikonversi menjadi Gaya (F). Prosedur pengujian
dilakukan sesuai ASTM D4945-96. Jumlah beban pengujian PDA test
disarankan meliputi 1% dari jumlah tiang yang digunakan.
Keuntungan menggunakan metode PDA test:
1. Ekonomis dan efisien dibandingkan pengujian metode pembebanan
statik.
2. Lahan yang digunakan tidak seluas uji pembebanan statik.

26
Kerugian menggunakan PDA test:
1. PDA test hanya memperhitungkan daya dukung fondasi saat
pengujian, bukan pada waktu yang lama.
2. Kapasitas dapat berubah setelah pengujian akibat perubahan
perlawanan tanah.
3. PDA test membutuhkan ahli yang mendalami tentang teori gelombang
dalam menganalisis hasil uji.

Tujuan PDA test:


1. Tujuan dilakukan evaluasi menggunakan metode PDA test adalah
mendapatkan data sebagai berikut:
2. Daya dukung aksial tiang (Ton).
3. Berdasarkan data gaya (F) dan kecepatan (V) dihasilkan daya dukung
tahanan didapatkan dari tahanan selimut dan tahanan ujung tiang.
Kriteria fondasi yang aman yaitu Qu (hasil SPT) Ru (hasil Test
PDA)
4. Keutuhan tiang (BTA-%) dan lokasi kerusakan dibawah sensor (LTD
m)
5. Data gaya (F) dan kecepatan (V) yang terekam selama perambatan
sepanjang tiang juga dapat menunujukkan data lokasi kerusakan dan
luas penampang sisa yang dapat diperkirakan.
6. Pile Dynamics, Inc mengklasifikasikan kerusakan tiang pada Tabel 3.3
Tabel 3.3 Klasifikasi kerusakan tiang
BTA (%) Penilaian
100% Tidak ada kerusakan
80-99% Kerusakan ringan
60-79% Kerusakan serius

< 60% Patah


(Sumber : Pile Dynamics, Inc., 2014)
7. Penurunan maksimum tiang (Dx mm) dan Penurunan permanen
(DFNmm).

27
3.6.2 Peralatan Pelaksanaan PDA Test:
1. Pile Driving Analyzer.
2. Strain Transducer, accelerometer dan Kabel.
3. Bor tangan.
4. Kunci pas.
5. Beban uji dan service crane.

3.6.3 Metode Pelaksanaan PDA Test


1. Menentukan titik fondasi yang akan diuji dan mempersiapkan peralatan
beban uji diatas tiang dengan bantuan service crane. Beban uji yang
digunakan sebesar 1-2% dari daya dukung rencana.
2. Memasang sensor strain transducer (S), accelerometer (A) pada tiang.
Sensor dipasang dengan jarak 2 x diameter dari atas tiang dan 0,3 m
dari permukaan tanah atau air. Dengan mengebor tiang, sensor dipasang
secara berpasangan sesuai Gambar 3.7.

Gambar 3.7 Skema pemasangan sensor


(Sumber: Neoh, dkk., 2006)

3. Memasukkan data fondasi ke PDA.


4. Proses pembebanan sesuai panduan teknisi.

28
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Kegiatan Magang
Magang dilaksanakan di PT. Inti Hosmed Development selama 4 bulan
mulai tanggal 3 Maret 2014 hingga 30 Juni 2014. Kegiatan magang meliputi:
analisis struktur, perhitungan owner estimate, mengamati pelaksanaan fondasi bor,
dan checklist Ruko B. Hasil kegiatan magang fokus pada metode pekerjaan dan
metode evaluasi fondasi bor, kemudian menganalisis daya dukung fondasi
berdasarkan hasil uji SPT dan membandingkan dengan nilai hasil evaluasi fondasi.
4.1.1 Persiapan Pekerjaan Fondasi Bor
Fondasi bor Apartemen Malioboro City mulai dikerjakan pada
tanggal 22 Januari 2014 sekaligus peresmian groundbreaking. Durasi
pekerjaan menurut kontrak adalah 112 hari dari tanggal 22 Januari 2014
hingga 13 Mei 2014 berupa pekerjaan membuat fondasi bor sebanyak 316
buah dengan diameter 80 cm dan 100 cm. Hingga tanggal 30 Juni 2014,
pencapaian target PT. Borland Nusantara selaku kontraktor, hanya mampu
mencapai 67,8%. Penyebab keterlambatan pekerjaan fondasi bor sebagai
berikut:
1. Bore crane dan service crane masing-masing berjumlah 1 alat. Jumlah
fondasi bor yang mampu dibuat dengan jumlah alat tersebut rata-rata
hanya mencapai 2 buah dari target minimal 3 buah tiap hari.
2. Kapasitas alat berat yang kurang memadai untuk kondisi lapangan
sehingga alat sering rusak.
3. Kondisi tanah berpasir dan mudah longsor sehingga proses pekerjaan
lebih rumit.
4. Muka air tanah dangkal dan cuaca hujan.

Pengamatan di lapangan didampingi oleh pihak pengawas (PT.


Tripanoto Sri) dan pihak kontraktor (PT.Borland Nusantara). Pembahasan
berikut difokuskan pada pengamatan minggu ketiga magang yaitu Senin 17
Maret 2014 berupa pembuatan tiang fondasi diameter 80 cm. Kegiatan
identifikasi pengamatan meliputi identifikasi alat, standar pelaksanaan
pekerjaan fondasi seperti: pembersihan lapangan, persiapan rute,

29
menentukan titik fondasi, proses pengeboran dan proses pengecoran.
Pengamatan juga dilakukan sebagai fungsi pengawasan agar proses berjalan
pelaksanaan sesuai Rencana Kerja dan Syarat (RKS).

Keseluruhan proses pekerjaan sebuah fondasi bor dapat diamati


hanya dalam beberapa jam. Sifat pekerjaan yang cepat namun berulang
memudahkan pengamatan secara detail mengenai fungsi peralatan,
mempelajari urutan kerja fondasi bor, mengenal permasalahan dan
pemecahan masalah di lapangan.

Peralatan yang digunakan dalam pembuatan fondasi bor:


1. Bore Crane
Bore crane adalah alat berat pengeboran utama. Dilengkapi dengan
kelly bar dan auger sebagai komponen yang dikendalikan oleh bore crane
saat melakukan pengeboran. Gambar 4.1 menunjukkan bore crane yang
digunakan pada proyek.

Gambar 4.1 Bore crane


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

2. Service Crane
Service crane membantu bore crane dalam pelaksanaan
pengeboran. Alat ini digunakan untuk mobilisasi casing, tulangan, alat-alat
las dan mempersiapkan jalur yang dilewati truck mixer saat bore crane

30
sedang mengebor. Service crane juga digunakan saat pengecoran. Perbedaan
secara fisik terlihat bahwa service crane tidak memiliki kelly bar dan auger.
Sebagai alat bantu mobilisasi, hook menjadi komponen utama selain crane .
Gambar 4.2 menunjukkan service crane yang sedang menyiapkan jalur
untuk dilewati truk mixer.

Gambar 4.2 Service crane


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

3. Auger dan Kelly Bar


Auger atau bor digunakan dalam pelaksanaan pembuatan fondasi
bor. Diameter auger menyesuaikan desain diameter fondasi bor yang dapat
dilihat pada Gambar 4.3a. Kelly bar adalah pipa yang terhubung dengan
mesin bor dan auger, digunakan dalam pengeboran. Di dalam kelly bar
terdapat bagian selongsong yang akan menambah kedalaman pengeboran
sesuai kebutuhan. Gambar kelly bar dapat dilihat pada Gambar 4.3b.

Gambar 4.3a Auger Gambar 4.3b Kelly bar


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

31
4. Casing
Casing digunakan untuk mencegah kelongsoran dalam lubang bor
yang menyebabkan gangguan saat proses pengeboran dan pengecoran
karana longsoran tanah menghalangi tulangan dan beton. Casing yang
digunakan sedalam 12 m dari permukaan tanah sesuai Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Casing


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

5. Truck Mixer
Truck mixer mengantar beton dari produsen beton yaitu
Pioneer Beton, Holcim, dan Jayamix dengan mutu K250. Satu kali
proses pengecoran fondasi bor sedalam 23 meter dengan diameter 80
cm membutuhkan 2 truck mixer dengan muatan 5,5 m3 beton
sedangkan diameter 100 cm, membutuhkan 3 truck mixer dengan
muatan 6 m3. Salah satu truck mixer yang digunakan dapat dilihat pada
Gambar 4.5.

Gambar 4.5 Truck mixer dari PT.Jayamix


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

32
6. Total Station
Total station adalah alat ukur sudut dan jarak, dilengkapi dengan
prosesor sehingga dapat menghitung jarak datar, koordinat dan beda tinggi
secara langsung dalam satu alat. Total station digunakan dalam menentukan
letak fondasi bor sesuai koordinat denah dan mengecek kelurusan kelly bar
sesuai Gambar 4.6.

Gambar 4.6 Total station


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)
7. Concrete Bucket dan Pipa Tremie
Concrete bucket adalah kantong tempat menampung lalu
menyalurkan beton kedalam lubang bor. Concrete bucket pada Gambar 4.7
disambung dengan pipa tremie hingga kedalaman 23 m diatas dasar fondasi.

Gambar 4.7 Concrete bucket dan pipa tremie


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

33
4.1.2 Pelaksanaan Pekerjaan Fondasi Bor Apartemen Malioboro City
1. Pembersihan lapangan
Persiapan lokasi didahului dengan proses pembersihan
lapangan, yaitu memastikan bahwa pekerjaan tidak ada gangguan
bangunan, tiang listrik, pepohonan dan aktivitas warga sekitar.
Pembersihan lapangan secara keseluruhan dilakukan pada awal
proyek tanggal 22 Januari 2014.
2. Persiapan Rute
Merencanakan alur pengeboran sehingga pergerakan mesin
dan alat berat tidak terganggu. Persiapan rute pada Senin 17 Maret
2014 dilakukan pagi hari pukul 07.30 WIB.
3. Survey Lapangan Menentukan Titik Fondasi
Menentukan titik fondasi sesuai Gambar 4.8 menggunakan
alat total station sekaligus mengecek mesin bor sudah tegak lurus
diatas permukaan tanah. Penentuan titik oleh surveyor dilakukan
pada Senin 17 Maret 2014 pukul 08.00 WIB. Diperlukan bantuan
dari sudut pandang titik lain untuk mengecek ketegakan mesin bor
menggunakan unting-unting. Setelah titik ditentukan, kemudian
dipasang patok.

Gambar 4.8 Penentuan titik bor


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

34
4. Proses Pengeboran
Proses pengeboran dilakukan setelah auger dan kelly bar
tegak, maka dilakukan pengeboran oleh bore crane. Pengeboran
dilakukan secara terus menerus, hingga kedalaman 23 m (lapisan
tanah keras).
Kondisi tanah berpasir, menyebabkan terjadinya kelongsoran
di dinding lubang bor. Solusinya dengan menambahkan tanah merah
dan air pada lubang bor dan memasang casing sepanjang 12 m yang
dipasang saat proses bor mencapai kedalaman 12 m dengan bantuan
service crane, kemudian pengeboran dilanjutkan. Gambar 4.9
menunjukkan proses pemasangan casing dan pengeboran.
Pengeboran dilakukan pada Senin 17 Maret 2014 mulai pukul 08.15
sampai 13.00 WIB dengan durasi 4-5 jam tergantung kondisi alam,
alat dan tanah.

Gambar 4.9 Pemasangan casing dan pengeboran


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

35
5. Proses Pemasangan Tulangan
Pemasangan tulangan dilaksanakan saat proses bor mencapai
lapisan tanah keras, rangkaian tulangan dimasukkan ke dalam lubang
bor. Fungsi tulangan adalah memberi kemampuan tiang untuk
menyerap deformasi yang besar untuk mencegah terjadinya
keruntuhan, sehingga mampu mencegah terjadinya kehancuran
struktur sebelum proses redistribusi momen dan tegangan terwujud.
Tulangan yang digunakan adalah D22 dengan jumlah yang
dibagi menjadi 3 segmen. Jumlah tulangan fondasi diameter 80 cm
adalah 14D22, 8D22, 5D22 sedangkan jumlah tulangan fondasi
diameter 100 cm 16D22, 10D22, 5D22. Lubang dengan kedalaman
23 m, tulangan disambung dengan dengan cara las listrik sesuai
Gambar 4.10.
Rangkaian tulangan telah dipersiapkan beberapa hari
sebelumnya pada Jumat 14 Maret 2014. Proses pemasangan tulangan
memakan waktu 15-20 menit termasuk pengelasan. Tulangan dibuat
dengan ikatan sengkang spiral. Proses ini selesai pukul 13.20.

Gambar 4.10 Proses pemasangan tulangan


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)
6. Proses Pengecoran dengan Ready Mix Concrete
Proses pengecoran segera dilakukan setelah proses pemasangan
tulangan selesai untuk menghindari kerusakan lubang bor.

36
Pengecoran menggunakan ready mix concrete, diangkut dengan
mixer truck yang harus mencapai area lubang bor, maka diperlukan
tambahan plat baja untuk membantu akses mixer truck. Sebelum
pengecoran, diambil sampel beton untuk diuji slump dengan nilai
162 cm dan sampel untuk uji tekan beton di laboratorium.
Konstruksi fondasi bor menggunakan jenis konstruksi
adonan, sehingga proses pengecoran bersamaan dengan proses
mengeluarkan adonan lumpur di dalam lubang bor. Beton disuplai ke
pipa tremie yang ujungnya berada di atas dasar lubang bor dengan
jarak 20 25 cm dengan cara menggerakkan pipa secara naik turun
menggunakan service crane, bertujuan agar beton benar-benar
mendesak udara dan lumpur. Secara otomatis adonan lumpur akan
meluap dari lubang akibat tekanan dari dalam dan perbedaan berat
jenis antara adonan lumpur dengan beton. Pipa tremie harus berada
pada pusat lubang bor agar tidak merusak tulangan. Pengecoran
selesai saat luapan lumpur habis, menjadi luapan beton dari lubang
bor, kemudian casing dicabut.
Proses pengecoran satu buah truck mixer berdurasi waktu 10-15
menit sehingga total waktu 30 menit hingga pukul 13.50. Proses
pengecoran dapat dilihat pada Gambar 4.11.

Gambar 4.11 Proses pengecoran


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

37
4.1.3 Persiapan Pekerjaan PDA Test
PDA test dilakukan bertujuan mengevaluasi hasil pekerjaan fondasi bor
dan mengetahui nilai kapasitas daya dukung fondasi sebenarnya yang
dilaksanakan sesuai ASTM D-4945. PDA test memanfaatkan gelombang
pantul akibat tahanan ujung dan gesek fondasi menghasilkan daya dukung
ultimit.
Tes ini dilakukan dengan memasang 2 sensor strain transducer yang
berfungsi besar gelombang dan 2 accelerometer sebagai perekam kecepatan
gelombang yang dipasang pada sisi tiang secara berhadapan. Setelah
pengujian selesai, data yang direkam akan diolah menggunakan perangkat
lunak buatan Pile Dynamic, Inc., yaitu Case Pile Wave Analysis Program
(CAPWAP).
PDA test dilakukan oleh PT. Testana Engineering, Inc. yang diwakili
oleh operator alat PDA bersertifikasi tingkat internasional, seorang asisten
dan dibantu operator service crane sebagai pengatur jatuhnya beban uji.
PDA test dilakukan dilaksanakan tanggal 4-5 April 2014 di 5 titik yaitu 3
titik fondasi diameter 80 cm dan 2 titik fondasi diameter 100 cm. Hari
pertama Jumat 4 April 2014 pukul 13.00-17.30, berhasil menguji sebanyak 4
titik dan sisanya berupa fondasi diameter 100 cm dilaksanakan keesokan
hari. Selama pelaksanaan PDA test, pekerjaan fondasi dihentikan sementara.
Persiapan sebelum pengujian untuk fondasi bor :
1. Usia beton minimal 28 hari setelah terpasang.
2. Kepala tiang yang berada setinggi kurang dari 2 x diameter +0,50 m
diatas permukaan tanah, tiang perlu ditinggikan dan diberi tambahan
perkuatan pada permukaan yang terkena tumbukan.
3. Syarat penggunaan sistem pembebanan dengan drop hammer:
a. Berat hammer minimal 1-2% daya dukung rencana.
b. Tinggi jatuh minimal 8,5 % panjang tiang.
4. Crane untuk mengangkat dan menjatuhkan drop hammer.
5. Plywood setebal 5 cm sebagai bantalan kepala tiang untuk
mencegah kerusakan akibat drop hammer.

38
Peralatan yang digunakan dalam PDA test :
1. Pile Driving Analyzer
Alat untuk mengolah data besaran dan kecepatan gelombang
yang dikonversi menjadi hasil berupa keutuhan dan kapasitas daya
dukung tiang. PDA dapat dilihat pada Gambar 4.12.

Gambar 4.12 Pile driving analyzer


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

2. Strain Transducer, Accelerometer, dan Kabel


Strain transducer dan accelerometer digunakan untuk
mengirimkan data ke alat PDA melalui kabel sesuai dengan Gambar
4.13.

Kabel

Strain Transducer Accelerometer

Gambar 4.13 Strain transducer, accelerometer, dan kabel


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

39
3. Beban Uji dan Service Crane
Beban uji PDA test pada Gambar 4.14 sebesar 1-2% dari
daya dukung rencana, misal daya dukung rencana 400 ton
menggunakan beban sebesar 4 ton.

Beban

Gambar 4.14 Beban uji


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)
4.1.4 Pelaksanaan Pekerjaan PDA Test
1. Menentukan titik fondasi yang akan diuji dan mempersiapkan
peralatan beban uji diatas tiang dengan bantuan service crane dapat
dilihat pada Gambar 4.15.

Gambar 4.15 Mempersiapkan beban uji


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

40
2. Teknisi mempersiapkan dua pasang sensor yang ditancapkan pada
tiang fondasi. Tiang fondasi dibor kemudian sensor dibaut.
Pemasangan sensor dapat dilihat pada Gambar 4.16.

Gambar 4.16 Instalasi strain transducer dan accelerometer


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)
3. Data fondasi tiang dan beban dimasukkan ke dalam alat PDA oleh
teknisi sesuai Gambar 4.17.

Gambar 4.17 Masukkan data fondasi tiang dan beban


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

41
4. Proses pembebanan dilakukan dengan cara menjatuhkan beban pada
kepala tiang fondasi. Gambar 4.18 menjelaskan pengangkatan beban
dibantu dengan alat service crane. Secara perlahan, kait penahan
beban ditarik kearah atas hingga lepas sesuai Gambar 4.19.
Kemudian beban akan mengalami jatuh bebas akibat gravitasi yang
dapat dilihat pada Gambar 4.20 dan menumbuk kepala tiang yang
sudah diberi alas pada Gambar 4.21. Pembebanan dilakukan 3 kali
pada tiang yang sama.

Gambar 4.18 Crane mengangkat beban uji


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

Gambar 4.19 Crane mulai melepaskan kait penahan beban


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

42
Gambar 4.20 Kait terlepas, proses jatuh bebas dimulai
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

Gambar 4.21 Beban menumbuk kepala tiang fondasi


(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)

Proses pembebanan selesai, kemudian didapatkan data berupa daya


dukung ultimit, maka data yang terekam strain transducer dan
accelerometer akan diolah kedalam alat PDA menggunakan software
CAPWAP sehingga hasil uji yang lebih lengkap berupa penurunan,
keutuhan batang dan daya dukung selimut dan ujung tiang akan
didapatkan.

43
4.2 Pelaksanaan Standard Penetration Test
Bab ini difokuskan pada hasil magang yaitu proses pelaksanaan fondasi bor,
PDA test, membahas analisis metode SPT dari tanah yang diuji oleh PT. Testana
Engineering pada tanggal 20-23 Agustus 2013, lalu membandingkan dengan hasil
PDA test. Data yang didapatkan berupa boring log yang merepresentasikan
keadaan lapisan pada kedalaman tanah di tiap titik pengujian. Fondasi yang
digunakan adalah fondasi bor sedalam 23 m.
Uji SPT dilakukan di 4 titik kemudian dihitung kapasitas berdasarkan diameter
dan nilai yang digunakan adalah nilai kapasitas terendah. Lokasi pengujian sesuai
Gambar 4.22:

Gambar 4.22 Denah SPT

(Sumber : Testana Engineering, Inc., 2013)

Hasil pengeboran menyimpulkan bahwa lapisan didominasi oleh lapisan


pasir sedikit lanau maupun pasir sedikit lanau maupun pasir berlanau dengan
kepadatan agak padat (medium) s/d sangat padat (very dense). Diantara lapisan
pasir ini dijumpai sisipan lanau berwarna gelap di beberapa kedalaman sesuai
skema pada Gambar 4.23:

44
Gambar 4.23 Perkiraan profil tanah

(Sumber : Testana Engineering, Inc., 2013)

1. Lapisan DB-1 permukaan hingga kedalaman 2 m, tersusun lapisan pasir sedikit


lanau berwarna abu- abu dengan nilai SPT 26 s/d > 50. Termasuk dalam
ketegori pasir agak padat (medium) s/d sangat padat (very dense). Tingginya
nilai SPT dimungkinkan pada lapisan ini mengandung kerikil.
2. Lapisan DB-2 berada dibawah lapisan 1 yang dijumpai hingga kedalaman
maksimum 11 m adalah lapisan pasir halus s/d sedang berwarna abu abu
mengandung sedikit lanau dengan klasifikasi sebagai SP (pasir bergradasi
buruk) bervariasi dengan SP-SM (pasir bergradasi buruk mengandung lanau
>6%). Nilai SPT berkisar antara 11 s/d 30 (medium to dense),
3. Lapisan DB-3 tersusun oleh pasir berlanau mengandung kerikil berwarna abu-
abu kecoklatan/coklat keabuan dengan nilai SPT 16/29, termasuk pasir agak
padat (medium). Pasir ini berada di bawah lapisan 2 hingga maksimum
kedalaman 17 m. Lapisan pasir termasuk dalam klasifikasi SM (pasir dengan
kandungan lanau >12%),
4. Lapisan DB-4 berada di bawah lapisan 3 yang dijumpai hingga kedalaman 30
m, berupa lapisan pasir abu-abu sangat padat dengan nilai SPT > 50.
Klasifikasi pasir termasuk dalam kategori SP ( pasir bergradasi buruk).
Data Standard Penetration Test (SPT) dihasilkan dari data boring log yang
dilakukan PT. Testana Engineering sebanyak 4 titik yang dicantumkan pada Tabel

45
4.1 hingga Tabel 4.4 untuk mendapatkan keterangan mengenai kandungan dalam
tanah tiap lapis dan mengidentifikasi kepadatan tanah yang ditunjukkan dalam
besarnya nilai SPT.

Tabel 4.1 Hasil uji SPT DB-2


No Kedalaman (m) Jumlah SPT
1 1,25 0
2 3,25 24
3 5,25 22
4 7,25 45
5 9,25 33
6 11,25 24
7 13,25 16
8 15,25 23
9 17,25 24
10 19,25 35
11 21,25 50
12 23,25 50
13 25,25 50
14 27,25 50
15 29,25 50
(Sumber : Testana Engineering, Inc., 2013)

Tabel 4.2 Hasil uji SPT DB-1


No Kedalaman (m) Jumlah SPT
1 2 0
2 3,25 18
3 5,25 20
4 7,25 31
5 9,25 28
6 11,25 18
7 13,25 22
8 15,25 29
9 17,25 30
10 19,25 31
11 21,25 50
12 23,25 50
13 25,25 50
14 27,25 50
15 29,25 50
(Sumber : Testana Engineering, Inc., 2013)

46
Tabel 4.3 Hasil uji SPT DB-3
No Kedalaman (m) Jumlah SPT
1 2 0
2 3,25 23
3 5,25 17
4 7,25 24
5 9,25 12
6 11,25 31
7 13,25 22
8 15,25 17
9 17,25 34
10 19,25 34
11 21,25 50
12 23,25 50
13 25,25 50
14 27,25 50
15 29,25 50
(Sumber : Testana Engineering, Inc., 2013)

Tabel 4.4 Hasil uji SPT DB-4


No Kedalaman (m) Jumlah SPT
1 2 0
2 3,25 30
3 5,25 16
4 7,25 15
5 9,25 11
6 11,25 7
7 13,25 11
8 15,25 18
9 17,25 24
10 19,25 31
11 21,25 50
12 23,25 50
13 25,25 50
14 27,25 50
15 29,25 50
(Sumber : Testana Engineering, Inc., 2013)

47
4.3 Analisis Daya Dukung Fondasi
4.3.1 Perhitungan Daya Dukung Diameter 80 cm
1. Lubang DB-2
a. Tahanan gesek tiang

1
Qu=4.Nb.Ab+50 .As............................................................................(3.1)

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang
= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (ft 2 )
Ab = luas permukaan tiang (ft 2 )
D = 0,8 m = 2,63 ft
L = 23 m = 75,46 ft
Ab = D
= x 3,14 x 0,8
= 5,41 ft
As =DL
= 3,14 x 2,63 x 75,46
= 621,9 ft
0+18+20+31+28+18+22+29+30+31+50+50
= 12

= 27,15
31+50+50
Nb (N10-N12) = 3

= 43,667
1
Qult = 4. Nb . Ab +50 . As
1
= 4x43,667x5,41 + 50 27,15 x 621,49

= 1283,5 ton

Qall = ..............................................................................(3.3)
1283 ,5
= 2,5

= 513,4 ton

48
b. Tahanan ujung tiang

Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab ).....................................................(3.2)

Dengan
= nilai N rata rata dihitung dari jumlah rata rata SPT
Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.
N1 = nilai N sejauh 8D diatas ujung tiang (8x0.8 = 6,4 m)
N8N12 29+30+31+50+50
= = = 38
5 5

N2 = nilai N sejauh 4D dibawah ujung tiang (4x0.8 = 3,2 m)


N12N14 50+50+50
= = = 50
3 3
N1+N2
= = 44
2

Maka
Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab )
5,41 (38 x 44) (75,46/2,63) 380 x 43,2 x 5,41
259952 90418..... digunakan 90418

Qall = ..............................................................................(3.3)
90418
= = 36167 ton
2,5

Sehingga daya dukung ijin DB-2 sebesar 513,4 ton


2. Lubang DB-1
a. Tahanan gesek tiang
1
Qu=4.Nb. Ab +50 . As ..........................................................................(3.1)

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang
= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (ft 2 )
Ab = luas permukaan tiang (ft 2 )
D = 0,8 m = 2,63 ft
L = 23 m = 75,46 ft
Ab = D

49
= x 3,14 x 0,8
= 5,41 ft
As =DL
= 3,14 x 2,63 x 75,46
= 621,9 ft
0+24+22+45+33+24+16+23+24+35+50+50
= 12

= 28,83
35+50+50
Nb (N10-N12) = 3

= 45
1
Qult = 4. Nb . Ab +50 . As
1
= 4x45x5,41 + 28,28 x 621,49
50

= 1332 ton

Qall = ..............................................................................(3.3)
1332
= 2,5

= 532,8 ton

b. Tahanan ujung tiang

Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)......................................................(3.2)


Dengan
= nilai N rata rata dihitung dari jumlah rata rata SPT
Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.
N1 = nilai N sejauh 8D diatas ujung tiang (8x0.8 = 6,4 m)
N8N12 23+24+35+50+50
= = = 38
5 5

N2 = nilai N sejauh 4D dibawah ujung tiang (4x0.8 = 3,2 m)


N12N14 50+50+50
= = = 50
3 3
N1+N2
= = 43,2
2

Maka
Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab )
5,41 (38 x 43,2) (75,46/2,63) 380 x 43,2 x 5,41

50
255226 88774..... digunakan 88774

Qall = .............................................................................(3.3)

88774
= 2,5

= 35509,7 ton
Sehingga daya dukung ijin DB-2 sebesar 532,8 ton
3. Lubang DB-3
a. Tahanan gesek tiang
1
Qu = 4. Nb . Ab +50 . As ..........................................................................(3.1)

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang
= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (ft 2 )
Ab = luas permukaan tiang (ft 2 )
D = 0,8 m = 2,63 ft
L = 23 m = 75,46 ft
Ab = D
= x 3,14 x 0,8
= 5,41 ft
As =DL
= 3,14 x 2,63 x 75,46
= 621,9 ft
0+23+17+24+12+31+22+17+34+34+50+50
= 12

= 26,167
34+50+50
Nb (N10-N12) = 3

= 44,67
1
Qult = 4.Nb.Ab +50 .As
1
= 4x44,67x5,41 + 50 26,167 x 621,49

= 1291,7 ton

51

Qall = .............................................................................(3.3)

1291,7
= 2,5

= 516,67 ton

b. Tahanan ujung tiang


Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab )......................................................(3.2)
Dengan
= nilai N rata rata dihitung dari jumlah rata rata SPT
Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.
N1 = nilai N sejauh 8D diatas ujung tiang (8x0.8 = 6,4 m)
N8N12 17+34+34+50+50
= = = 37
5 5

N2 = nilai N sejauh 4D dibawah ujung tiang (4x0.8 = 3,2 m)


N12N14 50+50+50
= = = 50
3 3
N1+N2
= = 43,5
2

Maka
5,41 (38 x 43,5) (75,46/2,63) 380 x 43,5 x 5,41
256998 89391..... digunakan 89391

Qall = ..............................................................................(3.3)
89391
= = 35756 ton
2,5

Sehingga daya dukung ijin DB-3 sebesar 516,67 ton


4. Lubang DB-4
a. Tahanan gesek tiang
1
Qu=4.Nb.Ab+50 .As................................................................................(3.1)

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang
= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (ft 2 )
Ab = luas permukaan tiang (ft 2 )

52
D = 0,8 m = 2,63 ft
L = 23 m = 75,46 ft
Ab = D
= x 3,14 x 0,8
= 5,41 ft
As =DL
= 3,14 x 2,63 x 75,46
= 621,9 ft
0+30+16+15+11+7+11+18+24+31+50+50
= 12

= 21,917
31+50+50
Nb (N10-N12) = 3

= 43,67
1
Qult = 4. Nb . Ab +50 . As
1
= 4x43,67x5,41 + 50 21,917 x 621,49

= 1217,2 ton

Qall = ..............................................................................(3.3)

1217 ,2
= 2,5

= 486,86 ton
b. Tahanan ujung tiang
Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)......................................................(3.2)
Dengan
= nilai N rata rata dihitung dari jumlah rata rata SPT
Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.
N1 = nilai N sejauh 8D diatas ujung tiang (8x0.8 = 6,4 m)
N8N12 18+24+31+50+50
= = = 34,6
5 5

N2 = nilai N sejauh 4D dibawah ujung tiang (4x0.8 = 3,2 m)


N12N14 50+50+50
= = = 50
3 3
N1+N2
= = 42,3
2

Maka

53
5,41 (38 x 42,3) (75,46/2,63) 380 x 42,3 x 5,41
249909 86925..... digunakan 86925
Qu
Qall = ..............................................................................(3.3)
SF
86925
= 2,5

= 34770 ton
Sehingga daya dukung ijin DB-4 sebesar 486,86 ton

4.3.2 Perhitungan Daya Dukung Diameter 100 cm


1. Lubang DB-2
a. Tahanan gesek tiang

1
Qu = 4.Nb.Ab +50 .As............................................................................(3.1)

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang
= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (ft 2 )
Ab = luas permukaan tiang (ft 2 )
D =1m = 3,28 ft
L = 23 m = 75,46 ft
Ab = D
= x 3,14 x 1
= 8,45 ft
As =DL
= 3,14 x 3,28 x 75,46
= 777,37 ft
0+18+20+31+28+18+22+29+30+31+50+50
= 12

= 27,15
31+50+50
Nb (N10-N12) = 3

= 43,667
1
Qult = 4. Nb . Ab +50 . As

54
1
= 4x43,667x8,45 + 50 27,15 x777,37

= 1899,5 ton

Qall = ..............................................................................(3.3)

= 1899,5/2.5
= 759,82 ton

b. Tahanan ujung tiang


Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)......................................................(3.2)
Dengan
= nilai N rata rata dihitung dari jumlah rata rata SPT
Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.
N1 = nilai N sejauh 8D diatas ujung tiang (8x1 = 8 m)
N8N12 29+30+31+50+50
= = = 38
5 5

N2 = nilai N sejauh 4D dibawah ujung tiang (4x1 = 4 m)


N12N14 50+50+50
= = = 50
3 3
N1+N2
= = 44
2

Maka
Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)
8,45 (38 x 44) (75,46/3,28) 380 x 43,2 x 8,45
324940 141278..... digunakan 141278

Qall = ..............................................................................(3.3)
141278
= = 56511 ton
2,5

Sehingga daya dukung ijin DB-2 sebesar 759,82 Ton

2. Lubang DB-1
a. Tahanan gesek tiang
1
Qu = 4.Nb.Ab + .As............................................................................(3.1)
50

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang

55
= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (ft 2 )
Ab = luas permukaan tiang (ft 2 )
D =1m = 3,28 ft
L = 23 m = 75,46 ft
Ab = D
= x 3,14 x 1
= 8,45 ft
As =DL
= 3,14 x 3,28 x 75,46
= 777,37 ft
0+24+22+45+33+24+16+23+24+35+50+50
=
12

= 28,83
35+50+50
Nb (N10-N12) =
3

= 45
1
Qult = 4. Nb . Ab +50 . As
1
= 4x45x8,45 + 50 28,28 x 777,37

= 1332 ton

Qall = ..............................................................................(3.3)

1332
= 2,5

= 787,69 ton

b. Tahanan ujung tiang


Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)......................................................(3.2)
Dengan
= nilai N rata rata dihitung dari jumlah rata rata SPT
Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.
N1 = nilai N sejauh 8D diatas ujung tiang (8x1 = 8 m)
N8N12 23+24+35+50+50
= = = 38
5 5

N2 = nilai N sejauh 4D dibawah ujung tiang (4x1 = 4 m)

56
N12N14 50+50+50
= = = 50
3 3
N1+N2
= = 43,2
2

Maka
Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)
5,41 (38 x 43,2) (75,46/3,28) 380 x 43,2 x 8,45
319032 138710..... digunakan 138710

Qall = ..............................................................................(3.3)
138710
= = 55483,9 ton
2,5

Sehingga daya dukung ijin DB-2 sebesar 787,69 ton

3. Lubang DB-3
a. Tahanan gesek tiang
1
Qu = 4.Nb.Ab +50 .As............................................................................(3.1)

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang
= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (ft 2 )
Ab = luas permukaan tiang (ft 2 )
D =1m = 3,28 ft
L = 23 m = 75,46 ft
Ab = D
= x 3,14 x 1
= 8,45 ft
As =DL
= 3,14 x 2,63 x 75,46
= 777,37 ft
0+23+17+24+12+31+22+17+34+34+50+50
= 12

= 26,167

57
34+50+50
Nb (N10-N12) = 3

= 44,67
1
Qult = 4.Nb.Ab +50 .As
1
= 4x44,67x8,45 + 50 26,167 x 777,37

= 1916,5 ton

Qall = ..............................................................................(3.3)

1916,5
= 2,5

= 766,6 ton

b. Tahanan ujung tiang


Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)......................................................(3.2)
Dengan
= nilai N rata rata dihitung dari jumlah rata rata SPT
Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.
N1 = nilai N sejauh 8D diatas ujung tiang (8x1 = 8 m)
N8N12 17+34+34+50+50
= = = 37
5 5

N2 = nilai N sejauh 4D dibawah ujung tiang (4x1 = 4 m)


N12N14 50+50+50
= = = 50
3 3
N1+N2
= = 43,5
2

Maka
Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)
8,45 (38 x 43,5) (75,46/3,28) 380 x 43,5 x 8,45

321248 139673..... digunakan 139673


Qall = ..............................................................................(3.3)

139673
= = 55869 ton
2,5

Sehingga daya dukung ijin DB-3 sebesar 766,6 Ton

58
4. Lubang DB-4
a. Tahanan gesek tiang
1
Qu = 4.Nb.Ab +50 .As............................................................................(3.1)

Dengan
Qu = Kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N hasil uji SPT pada dasar tiang
= nilai N rata rata uji SPT di sepanjang tiang
As = luas selimut tiang (ft 2 )
Ab = luas permukaan tiang (ft 2 )
D =1m = 3,28 ft
L = 23 m = 75,46 ft
Ab = D
= x 3,14 x 1
= 8,45 ft
As =DL
= 3,14 x 2,63 x 75,46
= 621,9 ft
0+30+16+15+11+7+11+18+24+31+50+50
= 12

= 21,917
31+50+50
Nb (N10-N12) = 3

= 43,67
1
Qult = 4.Nb.Ab +50 .As
1
= 4x43,67x8,45 + 50 21,917 x 777,37

= 1816,6 ton

Qall = ..............................................................................(3.3)
1816 ,6
= 2,5

= 726,65 ton
b. Tahanan ujung tiang

Qu = Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)......................................................(3.2)

59
Dengan
= nilai N rata rata dihitung dari jumlah rata rata SPT
Lb/d = perbandingan kedalaman dengan diameter tiang.
N1 = nilai N sejauh 8D diatas ujung tiang (8x1 = 8 m)
N8N12 18+24+31+50+50
= = = 34,6
5 5

N2 = nilai N sejauh 4D dibawah ujung tiang (4x1 = 4 m)


N12N14 50+50+50
= = = 50
3 3
N1+N2
= = 42,3
2

Maka
Ab (38. ) (Lb/d) 380 (Ab)
8,45 (38 x 43,5) (75,46/3,28) 380 x 42,3 x 8,45
312386 135819 ..... digunakan 135819

Qall = ..............................................................................(3.3)
135819
= =54328 ton
2,5

Sehingga daya dukung ijin DB-4 sebesar 726,65 ton

4.3.3 Rekapitulasi Daya Dukung Ijin


Hasil hitungan SPT digunakan sebagai pembanding dan dipilih nilai
terkecil sebagai daya dukung ultimit setiap diameter seperti pada Tabel 4.5
Tabel 4.5 Rekapitulasi nilai daya dukung ijin
Nilai daya
Ukuran Nilai daya dukung ijin
dukung ijin (ton) terpakai (ton)
DB-2 513,4
DB-1 532,8
Diameter 80 cm 486,86
DB-3 516,67
DB-4 486,86
DB-2 759,82
DB-1 787,69
Diameter 100 cm 726,65
DB-3 766,6
DB-4 726,65
(Sumber : Analisis data SPT, 2014)

60
4.3.4 Hasil Perbandingan Daya Dukung
Hasil PDA test dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil PDA test
No. Tiang 30 163 73 278 191
Penampang (cm) 80 80 80 100 100
Umur Tiang (hari) 60 50 44 53 49
Blow number 3 3 3 3 3
Tegangan Tekan
17,7 27,9 19,2 25,4 27,6
Maksimum (Mpa)
Kapasitas Selimut 254,4 423,8 470,2 293,2 830,3
Dukung Ujung 122,6 166,6 170,3 2254,8 370,8
CAPWAP
(ton) Ultimit 377 590,4 640,5 549,7 1201
Kapasitas Dukung
Rencana/Daya 486,86 486,86 486,86 726,65 726,25
Dukung Ijin (ton)
Penurunan segera
(mm) 11 12 12 20 27
TIDAK TIDAK
Klasifikasi Keamanan AMAN AMAN AMAN AMAN AMAN
(Sumber : Testana Engineering, Inc., 2014)

Hasil PDA test menunjukkan bahwa tiang nomor 30 dan nomor 278
tidak memenuhi kapasitas rencana sehingga perlu didesain ulang
penambahan titik fondasi dan perubahan bentuk pilecap akibat kegagalan
fondasi.

61
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Hasil analisis dapat disimpulkan beberapa hal:
1. Proses pembuatan fondasi bor sebagai berikut:
a. Pembersihan lapangan.
b. Persiapan rute.
c. Survey lapangan menentukan titik fondasi.
d. Proses pengeboran.
e. Proses pemasangan tulangan.
f. Proses pengecoran dengan ready mix concrete.
Proses pelaksanaan PDA test sebagai berikut:
a. Menentukan titik fondasi yang akan diuji dan mempersiapkan peralatan
beban uji diatas tiang dengan bantuan Service Crane.
b. Teknisi mempersiapkan dua pasang sensor yang ditancapkan pada tiang
fondasi.
c. Masukkan data fondasi tiang dan beban ke dalam alat PDA oleh teknisi.
d. Mulai pembebanan sesuai instruksi sebanyak 3 kali pembebanan.
2. Perbandingan nilai evaluasi daya dukung ijin fondasi dengan nilai PDA test serta
keamanan fondasi sebagai berikut:
a. Fondasi nomor 30 daya dukung ijin 486,86 ton. Hasil PDA test 377 ton,
maka fondasi tidak aman.
b. Fondasi nomor 163 daya dukung ijin 486,86 ton. Hasil PDA test 590,4
ton, maka fondasi aman.
c. Fondasi nomor 73 daya dukung ijin 486,86 ton. Hasil PDA test 640,5
ton, maka fondasi aman.
d. Fondasi nomor 278 daya dukung ijin 726,65 ton. Hasil PDA test 549,7
ton, maka fondasi tidak aman.
e. Fondasi nomor 191 daya dukung ijin 726,65 ton. Hasil PDA test 1201
ton, maka fondasi aman.

62
Dapat disimpulkan bahwa fondasi nomor 30 dan 278 tidak aman terhadap
daya dukung ijin, sehingga perlu didesain ulang penambahan titik fondasi dan
perubahan bentuk pilecap akibat kegagalan fondasi.

5.2 Saran
Saran yang perlu dikemukakan:
1. Selama pelaksanaan pekerjaan fondasi bor dan pengujian PDA test, pihak
owner dan pengawas turut mengawasi jalannya pelaksanaan fondasi bor agar
permasalahan di lapangan dapat diselesaikan dalam waktu yang cepat.
2. Perlu adanya penambahan jumlah alat berat yang lebih canggih dalam
menghadapi kondisi tanah Apartemen Malioboro City.

63