You are on page 1of 7

2.

3 Abses paru

2.4.1 Definisi

Abses paru adalah infeksi destruksi berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang
terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim
paru pada satu lobus atau lebih.
Bila diameter kavitas <2cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses)
dinamakan necrotizing pneumonia. Abses paru dapat berhubungan dengan
infeksi yang disebabkan oleh bakteri piogenik,mycrobacteria, jamur dan parasit.

2.4.2 Faktor resiko


- Kondisi-kondisi yang memudahkan terjadinya aspirasi :
Gangguan kesadaran: alkoholisme, epilepsi/kejang, gangguan
serebrovaskuler, anestesi umum, koma, trauma, sepsis, dan penyalahgunaan
obat intravena
Gangguan esophagus dan saluran cerna lainnya : gangguan motilitas
Fistula trakeoesopageal
- Iatrogenik
- Penyakit periodontal
- Kebersihan mulut yang buruk
- Pneumonia akut
- Imunosupresi
- Bronkiektasis
- Kanker paru
- Infeksi saluran nafasatas dan bawah yang belum teratasi.pasien HIV yang
terkena abses parupada umumnya mempunyai status immunocompromised
yang sangat jelek ( kadar CD4<50/mm3), dan kebanyakan didahului oleh
infeksi terutama infeksi paru.
2.4.3 Etiologi

1
Absesparu dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme yaitu :

1. Kelompok bakteri anaerob, biasanya diakibatkan oleh pneumonia aspirasi


yaitu bacteriodes melaninogenus, peptostreptococcus spesies, basillus
intermedius, fusobacterium nucleatum, microaerrophilic streptococcus.
Bakteri anaerobic meliputi 89% penyebab abses paru dan 85-100% dari
specimen yang didapat melalui aspirasi transtrakheal.
2. Kelompok bakteri aerob (gram positif: sekunder sebab selain aspirasi) yaitu
Staphylococcus aureus, Streptococcus microaerophili, Streptococcus
pyogenes, Streptococcus pneumonia. Kelompok bakteri aerob(gram negatif:
biasanya merupakan sebab nosokomial) yaitu Klebsiella pneumonia,
Pseudomonas aeruginosa, E. Coli, H. Influenza, Nocardia spesies, Gram
negative bacilli
3. Kelompok :
Jamur : mucoraceae, aspergillus spesies
Parasite, amuba
Micobacteria

Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara yaitu aspirasi dan hematogen.
Yang paling sering dijumpai adalah kelompok abses bronkogenik yang termasuk
akibat aspirasi, stasis sekresi, benda asing, tumor, dan striktur bronkial.

2.4.4 Patofisologi
Abses paru terjadi saat terjadinya obstruksi, infeksi kemudian proses supurasi
dan juga nekrosis pada parenkim paru. Perubahan reaksi pertama dimulai dari
supurasi dan thrombosis pembuluh darah local, yang menimbulkan nekrosis dan
likuifikasi.pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses,
melokalisis proses abses dengan jaringan fibrotik. Bermacam factor yang
berinteraksi dalam terjadinya abses paru seperi daya tahan tubuh dan tipe dari
mikroorganisme pathogen yang menjadi penyebab. Terjadinya abses paru
biasanya melalui dua cara yaitu aspirasi dan hematogen. Yang paling sering

2
dijumpai adalah kelompok abses paru yang bronkogenik yang termasuk akibat
aspirasi, stasis sekresi, benda asing, tumor dan struktur bronchial. Keadaan ini
menyebabkan obstruksi bronkus dan terbawanya organism virulen yang akan
menyebabkan terjadinya infeksi pada daerah distal obstruksi tersebut. Abses
jenis ini banyak terjadi pada pasien dengan bronchitis kronik karena banyaknya
mucus pada saluran nafas bawah yang merupakan kultur media yang sangat baik
bagi organism yang teraspirasi.

Secara hematogen,yang paling sering terjadi adalah akibat septikemi atau sebagai
fenomena septic emboli, sekunder dari focus infeksi dari bagian lain tubuhnya
seperti tricuspid valve endokarditis. Penyebarab hematogen ini umumnya akan
membentuk abses multiple dan biasanya disebabkan oleh stafilokokus.
Penanganan abses multiple dan kecil-kecil lebih sulit disbanding abses single
dengan ukuran besar.secara umum abses paru bervariasi dari beberapa mm
sampai 5cm atau lebih.

Disebut abses primer bila infeksi diakibatkan aspirasi atau pneumonia yang
terjadi pada orang normal, sedangkan abses sekunder bila infeksi yang terjadi
pada orang yang sebelumnya sudah mempunyai kondisi sepertiobstruksi,
bronkiektasis dan gangguan imunitas. Selain itu abses paru dapat terjadi akibat
necrotizing pneumonia yang menyebabkan terjadinya nekrosis dan pencairan
pada daerah yang mengalami konsolidasi, dengan organism penyebabnya paling
sering adalah Staphylococcus aureus, kleibsella pneumonia dan grup
pseudomonas. Abses yang terjadi biasanya multiple dan berukuran kecil-kecil
(<2cm).

Bulla atau kista yang sudah ada bisa berkembang menjadi abses paru. Kista
bronkogenik yang berisi cairan dan elemen sekresi epitel merupakan media
kultur untuk tumbuhnya mikroorganisme. Bila kista tersebut mengalami infeksi
oleh mikroorganisme yang virulens maka terjadilah abses paru.

3
Abses paru biasanya satu tapibis multiple yang biasanya unilateral pada satu
paru, yang terjadi pada pasien dengan keadaan umum yang jelek atau pasien
yang mengalami penyakit menahun seperti malnutrisi, sirosis hati, gangguan
imunologis yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun, atau penggunaan
sitostatika. Abses akibat aspirasi paling sering terjadi pada segmen posterior
lobus atas dan segmen apical lobus bawah, dan sering terjadi pada paru kanan,
karena bronkus utama kanan lebih lurus disbanding kiri.

Abses bisa mengalami rupture ke dalam bronkus dengan isinya


diekspektorasikan keluar dengan meninggalkan kavitas yang berisi air dan udara.
Kadang-kadang abses rupture ke rongga pleura sehingga terjadi empiema yang
bisa diikuti dengan terjadinya fistula bronkopleura.

2.4.5 Gejala klinis

- Demam intermitten, bisa disertai menggigil dan bisa mencapai 40C


- Batuk produktif ( sputum yang berbau amis dan anchovy menunjukan penyebab
bakteri anaerob yang disebut juga putrid abscesses )
- Nyeri dada, biasanya menunjukkan keterlibatan pleura
- Batuk darah
- Gejala tambahan lain seperti lelah, penurunan nafsu makan dan berat badan,
keringat malam

2.4.6 Pemeriksaan fisik


o Inspeksi: asimetris, pada paru yang sakit lebih cembung pada keadaan
statis Pergerakan dinding dada tertinggal pada tempat lesi
o Palpasi: fremitus meningkat pada daerah yang sakit
o Perkusi: redup/ pekak pada daerah yang sakit
o Auskultasi: suara nafas bronkial atau amforik bila kavitasnya besar,
ronki, suara nafas melemah sampai menghilang pada daerah yang sakit

4
2.4.7 pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan lab
leukositosis berkisar > 11.000 mm3 dan peningkatan laju endap darah, pada
hitung leukosit didapatkan pergeseran shit to left.
Pemeriksaan kultur bakteri dan tes kepekaan antibiotik
2. Pemeriksaan radiologi (Ro Thorak)
Gambaran densitas homogen yang berbentuk bulat, kemudian akan
ditemukan gambaran radiolusen dalam bayangan infiltrat padat. Selanjutnya bila
abses tersebut mengalami ruptur sehingga terjadi drainase abses yang tidak
sempurna ke dalam bronkus, maka baru tampak kavitas yang ireguler dengan
batas cairan dan udara( air fluid level) didalamnya. Gambaran spesifik ini
tampak mudah pada posisi Ro thoraks PA. Gambaran khas abses paru anaerob
kavitas single (soliter), sedangkan abses paru sekunder (aerobic, nosocomial, dan
hematogen)lesinya bisa multiple.
3. CT Scan
Gambaran berupa lesi dens bundar dengan kavitas berdinding tebal tidak teratur,
terletak pada jaringan paru yang rusak. Pembuluh darah dan bronkusnya berakhir
pada dinding abses.

2.4.8 Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatan pasien abses paru adalah eradikasi secepatnya dari
pathogen penyebab dengan pengobatan yang cukup, drainase yang adekuat dari
empiema dan pencegahan komplikasi yang terjadi.
Pasien dengan abses paru memerlukan istirahat yang cukup. Bila abses paru pada
foto toraks menunjukan diameter 4cm atau lebih sebaiknya pasien rawat inap.
Posisi berbaring pasien hendaknya miring dengan paru yang terkena abses
berada diatas supaya gravitasi drainase lebih baik. Bila bagian segmen superior
lobus bawah yang terkena, maka hendaknya tubuh pasien/kepala berada di
bagian terbawh ( posisi trendelenberg ).

5
Penyembuhan sempurna abses paru tergantung dari pengobatan antibiotic yang
adekuat dan diberikan sedini mungkin segera setelah sampel dahak dan darah
diambil untuk kultur dan tes sensitivitas. Kebanyakan kasus abses paru yang
disebabkan bakteri anaerrob kumannya tidak dapatditentukan dengan pasti,
sehingga pengobatan diberikan secara empiric. Kebanyakan pasien mengalami
perbaikan hanya dengan antibiotic dan postural drainage, sedangkan 10 % harus
dilakukan tindakan operatif.
Tindakan operasi diperlukan pada kurang dari 10-20 % kasus. Indikasi operasi
adalah sebagai berikut :
- Abses paru yang tidak mengalami perbaikan
- Komplikasi : empiema, hemoptisis masif, fistula bronkopleura
- Pengobatan penyakit yang mendasari : karsinoma obstruksi
pimer/metastasis,dan kelainan congenital

2.4.9 Komplikasi
Komplikasi lokalmeliputi penyebaran infeksi melalui aspirasi lewat bronkus atau
penyebaran langsung melalui jaringan sekitarnya. Abses paru yang rupture ke
rongga pleura menjadi piotoraks ( empiema ). Komplikasi lainya berupa abses
otak, hemoptisis masif, rupture pleura visceralis sehingga terjadi
piopneumotoraks dan fistula bronkopleura.

2.4.10 Prognosis
Prognosis abses paru simple terutama tergantung dari keadaan umum pasien,
letak abses serta luasnya kerusakan paruyang terjadi, dan respon pengobatan
yang kita berikan.

6
DAFTAR PUSTAKA

Mason, Robert J; et al.2010. Murray and Nadels Textbook of Respiratory Medicine 5th
Ed. SudersElsevier.
Djojodibroto, R Darmanto.2009. Respirologi ( Respiratory Medicine ).Jakarta: EGC
Sudoyo,Aru. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam Jilid III. Jakarta: Interna Publishing