You are on page 1of 2

antibiotik profilaksis merupakan antibiotika yang diberikan pada penderita yang belum

terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar terkena infeksi yang dapat
menimbulkan dampak buruk pada penderita. Penggunaan antibiotika profilaksis bedah
sebaiknya dipakai sebagai pedoman yang efektif dalam mengendalikan infeksi
nosokomial pada waktu pembedahan.

Tujuan penggunaan antibiotik profilaksis bedah


a. Mencegah terjadinya infeksi luka operasi
b. Mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas pasca bedah
c. Mengurangi lama perawatan dan menurunkan biaya perawatan
d. Tidak menimbulkan efek ikutan
e. Tidak menyebabkan konsekuensi ikutan pada flora normal pasien dan kuman
penghuni rumah sakit

Abortus inkomplit
Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi
(perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis).
Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai perdarahan hingga
ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum, setelah itu evaluasi
perdarahan:
Bila perdarahan berhenti, beri Ergometrin 0.2 mg IM atau Misoprostol 400 mg
per oral.
Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau
dilatasi dan kuretase (pilihan tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks, dan
keberadaan bagian-bagian janin).
Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotik profilaksis (Ampicillin 500 mg
oral atau Doxycycline 100 mg).
Bila terjadi infeksi, beri Ampicillin 1 gr dan Metronidazole 500 mg setiap 8 jam.
Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi di bawah 16 minggu, segera lakukan
evakuasi dengan AVM.
Bila pasien tampak anemik, berikan Sulfas ferosus 600 mg per hari selama 2
minggu (untuk anemia sedang) atau transfusi darah (untuk anemia berat).
Oksitosin drip
Oksitosin drip diperlukan pada evakuasi sisa konsepsi pada kasus abortus inkomplit
trimester kedua. Dosis oksitosin untuk tindakan ini dapat mencapai 200 unit oksitosin
dalam 500 ml cairan infus dengan kecepatan 30-40 tetes per menit. Ini dilakukan untuk
membuat uterus berkontraksi dengan baik agar dapat mengeluarkan sisa konsepsi dan
membuat dinding uterus tebal dan kuat (mencegah perforasi). Perhatikan timbulnya efek
samping dari pemberian oksitosin dosis tinggi ini. Sebagai pengganti, dapat diberikan
misoprostol 600 mg per oral. Setelah prosedur selesai, pantau tanda vital pasien. Pantau
tanda vital pasca tindakan hingga pasien dianggap stabil.9

Perawatan pasca tindakan


Pantau tanda vital mulai dari saat pasien masih berada di atas meja tindakan.
Berikan antibiotik sebagai upaya profilaksis, terutama apabila ditemui tanda-tanda
infeksi. Berikan penjelasan:
- Hindarkan hubungan seksual atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina (tampon,
bilasan) hingga perdarahan benar-benar berhenti (5-7 hari).
- Kesuburan dapat kembali dalam 2 minggu pasca keguguran sehingga perlu
dilakukan konseling tentang kemungkinan akan terjadinya kehamilan atau tawaran
menggunakan kontrasepsi bila pasien belum ingin hamil.
- Tempat kunjungan ulang atau fasilitas kesehatan yang dapat memberikan
pertolongan gawat darurat (bila diperlukan).9

Kontrasepsi pasca keguguran


Bila usia kehamilan di bawah 12 minggu, setelah abortus selesai, kesuburan akan
kembali (paling cepat) dalam 11 hari. Pada abortus spontan, umumnya mereka ingin
untuk segera hamil kembali. Bila tidak terdapat kelainan medik, maka keinginan tersebut
disalurkan ke bagian klinik infertilitas. Kecuali metode alamiah, hampir semua metode
kontrasepsi dapat digunakan oleh pasien pasca keguguran.9