You are on page 1of 31

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang melimpah. Alam Indonesia dengan
keanekaragaman hayati merupakan sumber kecantikan yang tidak ada habisnya. Pada zaman
yang sudah serba modern ini, ternyata jamu masih diakui keberadaannya oleh masyarakat
Indonesia. Seruan kembali ke alam atau istilah back to nature menjadi bahan pembicaraan
seiring dengan semakin dirasakannya manfaat ramuan alam tradisional. Mengingat potensi
yang sangat membantu meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat, pemanfaatan ramuan
tersebut seharusnya terus digalakkan (Tilaar, 1998).
Pemanfaatan produk alam yang lebih dikenal dengan istilah jamu guna untuk
penyembuhan dan pemeliharaan kesehatan di kalangan masyarakat Indonesia memegang
peranan yang sangat besar. Hal ini terjadi karena sebagian besar dari produk alam merupakan
warisan nenek moyang yang tidak diragukan lagi khasiatnya dan terus dikembangkan
pemanfaatannya di berbagai daerah. Peranan jamu akan semakin terasa pada daerah-daerah
terpencil, dimana sulit diperoleh pelayanan medis atau obat- obat modern. Disamping itu
sebagian masyarakat masih banyak mencari pengobatan tradisional dan mencoba melakukan
pengobatan sendiri dengan cara tradisional bila menderita sakit (Tilaar, 1998).
Obat tradisional berkembang dari dan oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu
pengembangan obat tradisional pada prinsipnya menggunakan strategi pemberdayaan potensi
yang ada di masyarakat dalam bidang obat tradisional, dimana dalam penerapannya dilakukan
kegiatan yang berpijak pada dua hal (Hutapea, 1998), yaitu:
a. Pembinaan dan pengawasan obat tradisional yang ada dan beredar di Indonesia.
b. Pemanfaatan obat tradisional bagi kesehatan dan kesejahteraan rakyat.

Menurut World Health Organization (WHO), pengobatan tradisional adalah jumlah


total pengetahuan, keterampilan, dan praktek-praktek yang berdasarkan pada teori- teori,
keyakinan, dan pengalaman masyarakat yang mempunyai adat budaya yang berbeda, baik
dijelaskan atau tidak, digunakan dalam pemeliharaan kesehatan serta pencegahan, diagnosa,
perbaikan atau pengobatan penyakit secara fisik dan juga mental (WHO, 2004).

1
2

Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik


Indonesia, Nomor: HK.00.05.4.2411 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokkan dan
Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, obat tradisional yang ada di Indonesia dapat
dikategorikan menjadi Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka.
Kulit merupakan bagian tubuh penting yang berperan sebagai indra peraba sekaligus
penunjang penampilan pada manusia. Terkadang kulit juga digunakan sebagai interaksi antar
manusia seperti berjabat tangan, bersentuhan, dan sebagainya. Oleh karena itu kulit harus
selalu dijaga kesehatanya. Pada manusia kulit bisa mengalami gangguan kesehatan seperti
mulai dari yang berdampak ringan sampai berdampak parah.
Sebagian besar orang lebih memilih untuk berkonsultasi dengan seorang pakar atau
dokter bila mengalami gangguan pada kulit. Mereka akan menanyakan bagaimana cara
penanganannya. Kemudian dokter akan memberikan obat atau resep untuk menangani
gangguan kulit tersebut. Tetapi jika penderita memilih untuk pergi ke dokter, maka pasien
membutuhkan waktu untuk perjalanan menuju rumah sakit atau dokter. Namun jika gangguan
terjadi pada malam hari atau tempat praktek dokter sedang tutup maka penderita harus
membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk mengobati gangguan yang terjadi pada kulitnya.
Padahal gangguan pada kulit bisa terjadi kapan saja.
Pengobatan secara alternatif harus segera dilakukan. Akan tetapi pada kenyataanya
sering kali orang tidak mengetahui cara mengatasi keadaan tersebut. Padahal pengobatan
alternatif bisa digunakan untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih buruk sebelum
penderita dibawa ke dokter atau rumah sakit.
Permasalahanya adalah kebanyakan orang awam tidak tahu cara mengatasi keadaan
yang terjadi pada penderita dan jenis obat yang dibutuhkan juga tidak selalu ada saat penderita
membutuhkanya. Selain itu untuk pengobatan alternatifagar lebih cepat dilakukan maka kita
harus menemukan jenis obat untuk gangguan kulit secara cepat dan tepat. Jenis obat yang
lebih cepat ditemukan tak lain lagi adalah obat tradisional.
3

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Obat herbal apa saja yang dapat menjadi alternatif dalam pengobatan penyakit kulit ?
1.2.2 Bagaimana mekanisme kerja dari obat- obat tersebut ?

1.3 Tujuan Penulisan


Agar pembaca dapat mengetahui jenis obat- obatan herbal yang dapat digunakan sebagai
alternatif dalam pengobatan penyakit kulit dan bagaimana cara kerjanya.

1.4 Manfaat Penulisan


Para pembaca dapat mengetahui jenis obat- obatan herbal yang dapat digunakan sebagai
alternatif dalam pengobatan penyakit kulit dan bagaimana cara kerjanya.
4

BAB II
ISI

2.1 Penyakit Kulit


Penyakit kulit merupakan suatu penyakit yang menyerang penyakit kulit permukaan tubuh,
dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab. Penyakit kulit yang dibahas disini adalah
penyakit kulit yang tidak berbahaya atau dalam arti kata lain tidak akan menimbulkan
dampak buruk terhadap kelangsungan hidup orang terkena penyakit kulit tersebut, namun
cenderung lebih kepada rasa gatal-gatal yang dialami oleh si penderita penyakit kulit atau
mungkin juga barakibat rasa malu atau kurang percaya diri.
Penyakit kulit adalah penyakit infeksi yang paling umum, terjadi pada orang-orang dari
segala usia. Sebagian besar pengobatan infeksi penyakit kulit membutuhkan waktu lama
untuk menunjukkan efek ( Indrayatna, 2010).
Penyakit kulit adalah penyakit infeksi yang paling umum, terjadi pada orang-orang dari
segala usia. Sebagian besar pengobatan infeksi kulit membutuhkan waktu lama untuk
menunjukkan efek. Masalahnya menjadi lebih mencemaskan jika penyakit tidak merespon
terhadap pengobatan. Tidak banyak statistik yang membuktikan bahwa frekuensi yang tepat
dari penyakit kulit, namun kesan umum sekitar 10-20 persen pasien mencari nasehat medis
jika menderita penyakit pada kulit. Matahari adalah salah satu sumber yang paling menonjol
dari kanker kulit dan trauma terkait ( Fenissa, 2004).
Penyakit kulit untuk sebagian orang terutama wanita akan menghasilkan kesengsaraan,
penderitaan, ketidakmampuan sampai kerugian ekonomi. Selain itu, mereka menganggap
cacat besar dalam masyarakat.
Adapun jenis- jenis dari penyakit kulit ini yaitu :
A. Eksim (ekzema)
Merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan kulit kemerah-merahan, bersisik, pecah-
pecah, terasa gatal terutama pada malam hari (eksim kering), timbul gelembung-
gelembung kecil yang mengandung air atau nanah, bengkak, melepuh, tampak merah,
sangat gatal dan terasa panas dan dingin yang berlebihan pada kulit (eksim basah). Bagian
tubuh yang sering diserang eksim yaitu tangan, kaki, lipatan paha, dan telinga .

4
5

Eksim disebabkan karena alergi terhadap rangsangan zat kimia tertentu seperti yang
terdapat dalam detergen, sabun, obat-obatan dan kosmetik, kepekaan terhadap jenis
makanan tertentu seperti udang, ikan laut, telur, daging ayam, alkohol, vetsin (MSG), dan
lain-lain. Eksim juga dapat disebabkan karena alergi serbuk sari tanaman, debu,
rangangan iklim, bahkan gangguan emosi. Eksim lebih sering menyerang pada orang-
orang yang berbakat alergi. Penyakit ini sering terjadi berulang-ulang atau kambuh. Oleh
karena itu harus diperhatikan untuk menghindari hal-hal atau bahan-bahan yang dapat
menimbulkan alergi (alergen.)

B. Kudis (skabies)
Merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit/tungau yang gatal yaitu Sarcoptes
scabiei var hominis. Kudis lebih sering terjadi di daerah yang higienisnya buruk dan
menyerang orang yang kurang menjaga kebersihan tubuhnya. Gejala yang timbul antara
lain : timbul gatal yang hebat pada malam hari, gatal yang terjadi terutama di bagian sela-
sela jari tangan, di bawah ketiak, pinggang, alat kelamin, sekeliling siku, aerola (area
sekeliling puting susu), dan permukaan depan pergelangan. Penyakit ini mudah sekali
menular ke orang lain secara langsung misalnya bersentuhan dengan penderita, atau tidak
langsung misalnya melalui handuk atau pakaian.

C. Kurap
Merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur. Gejalanya antara lain yaitu ; kulit
menjadi tebal dan timbul lingkaran-lingkaran, bersisik, lembab, berair, dan terasa gatal,
kemudian timbul bercak keputih-putihan. Kurap biasanya timbul karena kurang menjaga
kebersihan kulit. Bagian tubuh yang biasanya terserang kurap yaitu tengkuk, leher, dan
kulit kepala.

D. Bisul (furunkel)
Bisul merupakan infeksi kulit berupa benjolan, tampak memerah, yang akan membesar,
berisi nanah dan terasa panas, dapat tumbuh di semua bagian tubuh, namun biasanya
tumbuh pada bagian tubuh yang lembab, seperti : leher, lipatan lengan, atau lipatan paha,
kulit kepala. Bisul disebabkan karena adanya infeksi bakteri Stafilokokus aureus pada
6

kulit melalui folikel rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat yang kemudian
menimbulkan infeksi lokal. Faktor yang meningkatkan risiko terkena bisul antara lain
kebersihan yang buruk, luka yang terinfeksi, pelemahan diabetes, kosmetika yang
menyumbat pori, dan pemakaian bahan kimia.

E. Ketombe (seboroid)
Penyebab penyakit ini diduga erat kaitannya dengan kegiatan kelenjar sebasea dikulit.
Seboroid yang terjadi pada kulit kepala kerap di sebut juga dengan nama
ketombe. Gejala : merah, bersisik, berminyak, bau.
F. Campak (Rubella)
Merupakan penyakit akut menular yang disebabkan oleh virus, dan biasanya menyerang
anak-anak. Gejala dari penyakit ini adalah demam, bersin, pilek, sakit kepala, badan
terasa lesu, tidak napsu makan, dan radang mata. Setelah beberapa hari dari gejala
tersebut timbul ruam merah yang gatal, bertambah besar, tersebar ke beberapa bagian
tubuh (Indrayatna, 2010)

G. Lepra
Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan penyebabnya ialah mycobacterium
leprae yang bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit
dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali
susunan saraf pusat.
Gejala : umumnya gejala awalnya kulit tampak mengkerut apalagi bila penyakit tersebut
telah akut kumannya perlahan- lahan akan mengonsumsi kulit dan daging, bila sudah
terkena penyakit kulit tipe ini segera berobat ke dokter.

H. Panu atau Panau


Panau atau panu adalah salah satu penyakit kulit yang dikarenakan oleh jamur, penyakit
panu ditandai dengan bercak yang ada pada kulit dibarengi rasa gatal pada waktu
berkeringat. Bercak- bercak ini dapat berwarna putih, coklat atau merah bergantung warna
kulit si penderita. Panau sangat banyak didapati pada remaja usia belasan. Walau
demikian panau juga dapat ditemukan pada penderita berusia tua.
7

I. Infeksi jamur kulit


Jamur dapat tumbuh dipermukaan kulit kita, dan mengakibatkan kerusakan tekstur kulit
hingga tampak buruk.
Belum lagi, rasa gatal yang kerap menyerang menyertai infeksi jamur tersebut. Bila tidak
selekasnya diatasi, jamur kulit dengan cepat menyebar kejaringan kulit yang lebih luas

2.2 Herbal sebagai alternatifnya


A. Sediaan Herbal sebagai Obat Penyakit Kulit
1. Super Green Plus G2

Manfaat dari Super Green Plus G2, dapat mengatasi:


Gatal jamur Eksim basah
Panu Eksim kering
Kadas Kaki pecah-pecah dan bersisik
Kutu air

Komposisi:
Nigella sativa
Alstonia sholaris

Cara Penggunaan :
a. Bersihkan terlebih dahulu bagian tubuh yang ingin diobati.
b. Kemudian teteskan Super Green Plus G2 pada bagian tubuh yang ingin diobati.
c. Tunggu hingga 7 menit dan rasa gatal pun akan hilangan dalam hitungan menit.
d. Gunakan 2x sehari, secara teratur untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
8

2. Kapsida

KAPSIDA (Kapsul bersih darah) Kembang Bulan dibuat untuk membantu


meringankan gatal-gatal, bisul, korengan dan jerawat, mengandung ekstrak buah
ketumbar dan sambiloto yang diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, serta bahan-
bahan lain yang membantu melancarkan peredaran darah dan memelihara kesehatan kulit.

Komposisi :
Coriandri Fructus
Centellae Herbal
Imperatae Rhizoma
Amomi Fructus
Languatis Rhizoma
Curcumae domesticae Rhizoma
Zingiberis aromaticae Rhizoma
Burmani Cortex
Andrographidis Herba

Cara Pemakaian :
Minumlah secara teratur sehari 3 kali, tiap minum 2 kapsul sebelum makan dan
menjelang tidur malam.
9

3. Prosince
Herbal Prosince Herbamed adalah produk Herbamed yang bermanfaat untuk menjaga
kesehatan kulit dan membantu mengatasi penyakit kulit.

Komposisi Tiap Kapsul Herbal Prosince Herbamed :


Centellah asiatica Herba 15 mg
Amdrographis Paniculata Herba 20 mg
Oldenlandia Corymbosa Folium 45 mg
Azadirachta Indica Folium 50 mg
Curcumae Xanthorhize Rhizoma 55 mg
Curcuma domestica Rhizoma 65 mg

Khasiat Herbal Prosince Herbamed :


Membantu mengatasi penyakit pada kulit
Mengatasi campak, kudis dan kurap
Mengurangi gatal-gatal, biang kering dan radang kulit
Mengatasi psoriasis, abses kulit daneksim erysifelas

Aturan Pakai Herbal Prosince Herbamed :


Minum 3 2 Kapsul sehari 30 menit sebelum makan

B. Mekanisme Kerja dari Obat Penyakit Kulit


1. memperlambat pelepasan obat dan mengurangi toksisitas sistemik (niosom)
2. memungkinkan obat mencapai lapisan kulit dalam dan / atau sirkulasi sistemik
(etosom)
3. memberikan stabilitas jangka panjang dan kapasitas solubilisasi tinggi untuk hidrofilik
dan lipofilik
4. memperpanjang masa kerja obat pada kulit.

Mekanisme penghambatan pertumbuhan jamur oleh produk herbal berasal dari kandungan
senyawa fitokimia. Senyawa flavonoid dan tanin yang terkandung dalam herbal termasuk
10

golongan senyawa fenolik. Senyawa fenolik dan saponin bersifat larut dalam air dan
mengandung gugus fungsi hidroksil (-OH), sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel dan
membentuk kompleks dengan protein membran sel. Senyawa fenolik berinteraksi dengan
protein membran sel melalui proses adsorpsi yang melibatkan ikatan hidrogen dengan
cara terikat pada bagian hidrofilik dari membran sel. Kompleks protein-senyawa fenolik
terbentuk dengan ikatan yang lemah, sehingga akan segera mengalami peruraian
kemudian diikuti penetrasi senyawa fenolik ke dalam membran sel yang menyebabkan
presipitasi dan terdenaturasinya protein membran sel. Kerusakan pada membran sel
menyebabkan perubahan permeabilitas pada membran, sehingga mengakibatkan lisisnya
membran sel jamur.

Protein dapat mempengaruhi tingkat dan kualitas penyembuhan luka, diperlukan dalam
proses inflamasi untuk respon kekebalan tubuh dan pengembangan jaringan granulasi dan
juga protein utama disintesis selama proses penyembuhan kolagen dan kekuatan kolagen
menentukan kekuatan luka. Lemak dapat mensintesis sel-sel baru, sebagai anti-inflamasi
dalam membantu penyembuhan luka dan memiliki peran dalam struktur dan fungsi sel.
Vitamin C memiliki peran penting dalam sintesis kolagen, dalam pembentukan ikatan
antara helai serat kolagen dimana kolagen merupakan protein yang membantu
pembentukan jaringan ikat dikulit ligament. Sedangkan vitamin A yang terlibat dalam
silang kolagen dan proliferasi sel epitel (Anonim1, 2000). Dan juga basis salep berlemak
yaitu campuran vaseline album dan adeps lanae yang dapat menarik lebih banyak air
sehingga luka cepat kering, tidak membusuk dan menutupi luka (Anief, 1997).

Zat yang terkandung dalam produk herbal tersebut berperan dalam peremajaan sel,
meregenerasi sel yang rusak serta meningkatkan kerja sel. Dengan demikian dapat
meregenerasi sel yang rusak akibat terbakar sehingga luka dapat sembuh.
11

C. Review Jurnal terkait penyakit Kulit


1. Formulation and Evaluation Of Herbal Anti- Acne Facial Wash
Judul : Formulasi dan Evaluasi Herbal Pencuci Wajah Anti Jerawat
Peneliti :
Dhanashri Sanjay Koli
Abhyangshree Nandkumar Mane
Vinayak Balu Kumbhar
Kalyani Sanjay Shaha
Sumber : World Journal Of Pharmacy And Pharmaceutical Sciences, Volume 5,
Issue 6, 2016
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk membuat suatu formulasi kosmetik berupa pencuci wajah
yang berasal tumbuh-tumbuhan, walaupun dipasaran sudah beredar pencuci wajah yang
berasal dari sintetis,selain itu formulasi ini untuk menghindari atau mengurangi efek
samping dari pencuci muka yang berasal dari pasaran.

Pendahuluan
Acne vulgaris atau yang biasa dikenal dengan jerawat adalah suatu kelainan kulit yang
ditandai dengan erupsi komedo yang terbuka, komedo yang tertutup ddan jerawat, diikuti
dengan kulit kemerahan yang bersisik. Biasanya terjadi selama masa remaja, umumya
berlanjut sampai masa dewasa. Penyebab munculnya acne vulgaris yaitu kulit yang
berminyak, perubahan hormonal, produk kosmetik, dan kulit mati yang tidak lepas dengan
semestinya.

Acne vulgaris ini dapat dihilangkan atau dihambat penyebabnya, yaitu dengan
menggunakan produk kosmetik yang khusus untuk acne vulgaris,mekanisme penghambatan
atau penghilangan acne vulgaris,yaitu :
a. Kontrol sekresi sebum.
b. Antibiotik yang menghambat jerawat Propionoibacterium & Staphylococcus
epidermidis,organisme penyebab utama jerawat.
12

c. Keratolitik yang menghilangkan lapisan keratin & mencegah perangkap sebum di


bawah kulit.
d. Antiinflamasi yang memburuknya kondisi akibat peradangan atau kemerahan, dll.

Beberapa sediaan anti jerawat yang beredar dipasaran,seperti gel, cream, face wash atau
cleanser. Neem (Azadirachta indica, Meliaceae), kunyit (Curcuma longa) & pala
(wewangian Myristica, Myristicaceae) yang memiliki efek antiinflamasi, anti mikroba dan
anti oksidan yang sangat baik.

Metodologi
Bahan : daun neem/nimba (Azadiractha indica), kunyit (Curcuma longa), pala (Myristicae
fragrans), akar manis (Glycyrrhiza glabra), madu, jinten, jus lemon, xhantan gum, ekstrak
kulit jeruk, air mawar, kenari.
Cara Penelitian :
1. Persiapan Ekstrak
Daun nimba, akar manis, kunyit dan kulit jeruk dipanaskan dengan oven pada suhu
450C, setelah itu dikeringkan dan digiling menjadi potongan-potongan kecil. Pala dan
jinten dihaluskan untuk membuat bedak. Lalu bahan yang telah dikering dan
dihaluskan di maserasi dengan air mawar selama 3 hari, setelah itu disaring dengan
metode filtrasi sederhana dan filtrat ditampung ddi baeker glass yang lainnya
2. Penyaringan
Ekstrak yang telah didapat lalu disaring ddengan kertas saring sederhana dan corong
sebanyak 2 kali.
3. Penguapan
Ekstrak yang telah disaring lalu diuapkan menggunakan water bath elektronik pada
suhu 600 C sampai diperoleh konsentrasi yang diinginkan.
4. Pengembangan Formulasi
Xanthum gum yang telah ditimbang lalu dikembangkan dengan air mawar yang telah
dipanaskan.(M1) Jus lemon dan madu dicampurkan dan diaduk hingga tercampur.(M2)
Ekstrak yang telah didapat ditambahkan dengan air mawar yang masih tersisa lalu
dicampurkan dengan M2 dan M1 lalu diaduk hingga terbentuk massa gel.
13

Komposisi Formulasi yang dikembangkan

Evaluasi Formulasi
Evalusi yang dilakukan yaitu evaluasi secara fisik yaitu warna, penampilan dan
konsistensi yang diperiksa secara visual.
1. Washability
Formulasi diaplikasikan pada kulit, kemudian kemudahan ddan jumlah pencucian
dengan air, yang diperiksa secara manual
2. pH
pH larutan berair 1% dari formulasi yang diukur dengan pH digital yang dikalibrasi
pada suhu konstan.
3. Spreadability
Adalah banyaknya area dimana gel dapat menyebar pada kulit atau bagian yang
terkena. Efisiensi bioavaibilitas formulasi gel tergantung pada penyebaran nilai.
Penyebaran nilai dinyatakan dalam bentuk waktu (detik).

Hasil dan Pembahasan


Formulasi berwarna orange,padahal formulasi yang dipasarka berwarna hijau. F1-F4
ditemukan memiliki konsistensi yang semi padat, homogen, mudah dicuci dengan air
serta memiliki Ph basa.
Diantara F1.F2 dan F5 memiliki penyebaran yang optimal, tetapi hanya F2 yang
menunjukkan penyebaran yang relatif banyak dan memiliki hasil yang hampir sama
dengan formulasi yang dipasaran.
14

Kesimpulan
Pengobatan alami lebih mudah diterima dipasaran baik didalam negeri ataupun diluar
negeri,karena lebih aman dengan efek samping yang sedikit ataupun tidak ada dari
pada sintetis. Formulasi ini merupakan upaya yang bagus untuk menciptakan pencuci
muka yang bersifat herbal.

2. Topically Used Herbal Products for the Treatment of Psoriasis Mechanism of


Action, Drug Delivery, Clinical Studies

(Produk Herbal Yang Digunakan Secara Topikal Untuk Pengobatan Psoriasis,


Mekanisme Tindakan, Pemberian Obat Dan Studi Klinis)

Pendahuluan
Psoriasis adalah penyakit kulit inflamasi kronis ditandai histologis oleh hiperproliferasi
dan diferensiasi menyimpang dari keratinosit epidermis. Psoriasis merupakan
gangguan sistem autoimun secara kronis pada kulit manusia. Gangguan yang ditandai
dengan proliferasi yang berlebihan, seperti : keratinosit, plak bersisik, peradangan
parah, dan eritema.
Terapi untuk mengobati psoriasis sudah dalam bentuk terapi topikal dan obat sistemik
melalui fototerapi atau kombinasi itu. Namun, sebagian besar terapi ini memiliki
efikasi terbatas dan bisa menyebabkan sejumlah sisi efek, termasuk atrofi kutaneous,
toksisitas organ, karsinogenisitas, dan imunosupresi broadband, yang membatasi
jangka panjang mereka menggunakan. Oleh karena itu, akan sangat diinginkan untuk
menggunakan herbal produk sebagai pengobatan alternatif untuk psoriasis yang
menyebabkan lebih sedikit efek samping.
15

Mekanisme kerja obat herbal yang dibahas pada jurnal ini adalah :
(1) penghambatan hiperproliferasi keratinosit dan menginduksi apoptosis
(2) penghambatan reaksi imun-inflamasi
(3) penindasan aktivitas fosforilase kinase (PhK)
(4) penghambatan pensinyalan landak (Hh) jalan.

Patologi Psoriasis
Patofisiologi psoriasis melibatkan sel-sel kulit dan kekebalan tubuh sel. Psoriasis
biasanya ditandai sebagai kulit yang meradang dengan sisik permukaan, penebalan
epidermis (acanthosis; lapisan granular berkurang atau tidak ada) yang disebabkan oleh
parakeratosis, diferensiasi abnormal dan hiperproliferasi epidermis keratinosit sehingga
menyebabkan penurunan psoriatis fungsi penghalang kulit, ketidakseimbangan lipid
kulit (naik ditingkat kolesterol dan turun di tingkat ceramides), dankulit menjadi kering
dan sensitif.

Penelitian
1. Penelitian berbasis hewan
Studi yang dilakukan pada hewan didasarkan pada model ekor tikus, diperkenalkan
oleh Jarrett dan Spearman. Modelnya adalah berdasarkan induksi orthokeratosis
pada bagian - bagian dari ekor tikus dewasa, yang biasanya memiliki diferensiasi
parakeratotik.
Aktivitas obat antipsoriatik didefinisikan dengan kenaikan persentase daerah
ortokeratotik setelah pengobatan obat topikal pada ekor tikus. Berikut merupakan
herbal-herbal yang digunakan dalam penelitian ini :
Ekstrak etanol dari gel daun lidah buaya
Ekstrak etanol dari Nigella sativa
Ekstrak etanolat Rubia cordifolia
Ekstrak metanol porselen Smilax dan flavonoid terisolasi quercetin
Ekstrak Thespesia populne
Ekstrak alkohol hidro dari Wrightia tinctoria
Baicalin diisolasi dari Scutellaria baicalensis
16

2. Uji Klinis
Dalam prakteknya, tahap pertama uji klinis yang terlibat biasanya 100-500 peserta,
karena hanya studi yang diusung dengan lebih dari 100 pasien memberikan
kesempatan untuk analisis statistik. Hanya satu di atas yang dijelaskan secara
klinis sehingga percobaan dilakukan pada 200 subjek.
Penelitian mencakup uji coba secara acak yaitu :
pengendalian kendaraan
komparatif
pengamat buta
buta tunggal
percobaan klinis double blind

Diketahui hanya uji coba klinis double blind yang terkontrol dengan baik dapat
membuktikan khasiatnya produk herbal dalam pengobatan psoriasis
Berikut merupakan herbal-herbal yang digunakan dalam penelitian ini :
10% ekstrak Mahonia aquifolium
0,03% Camptotheca acuminate
ekstrak lidah buaya
oleoresin dari Copeifera langsdorffii (5%)
Persea American
Baphicacanthus salep cusia
ekstrak kacang Camptotheca acuminata dalam tinktur / gel / salep
Curcuma longa microemulgel
salep perforatum hipertikum
salep Indigo naturalis
ekstrak Indigo naturalis dalam minyak
Mahonia aquifolium krim
salep ekstrak kulit Mahonia aquifolium
krim dengan capsaicin dari Capsicum frutescens
17

Penetrasi Produk Herbal Melalui Kulit Psoriasi


Sistem pengiriman obat baru seperti liposom, niosom, etosom, mikroemulsi,
nanoemulsi, nanopartikel lipid padat (SLNs), dan sistem pembawa lipida
berstrukturnano (NLC). Atribut yang diinginkan untuk penggunaan sangat
dehidrasi dan Kulit psoriatis menebal yang memiliki ketidakseimbangan lipid dan
sensitif untuk iritasi.
Studi dilakukan pada vesikula liposomal (kombinasi metotreksat dan mentol) yang
tergabung dalam basis gel vesikular, formulasi liposom elastis colchicine yang
diisolasi dari Colchicum dan mengandung capsaicin dan berpotensi untuk
meningkatkan akumulasi kulit, memperpanjang pelepasan obat, dan meningkatkan
spesifisitas situs dari unsur aktif yang efektif obat dalam pengobatan psoriasis.
18

3. KRIM KULIT BUAH DURIAN (Durio zibethinus L.) SEBAGAI OBAT HERBAL
PENGOBATAN INFEKSI JAMUR Candida albicans
1. METODE

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi, Laboratorium Teknologi


Farmasi, dan Laboratorium Mikrobiologi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan
Pharmasi Semarang pada bulan Maret-Juli 2013.

A. Alat dan Bahan


Perangkat maserasi, rotary evaporator, waterbath, alat-alat gelas, otoklaf, Laminair Air
Flow (LAF), neraca digital, jangka sorong, jarum ose, plat tetes, inkubator, otoklaf, alat uji daya
sebar, alat uji daya lekat, alat uji daya proteksi dan lempeng kaca.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak kulit buah Durian, etanol 96%,
emulgide, paraffinum liquidum, aquades, Saboroud Dextrose Agar (SDA), Ketokonazol, dan
jamur Candida albicans.

B. Pembuatan Simplisia Kulit Buah Durian


Pembuatan simplisia kulit buah Durian dilakukan dengan tahapan:
a. Pengumpulan kulit buah Durian
b. Sortasi basah
c. Perajangan
d. Pengeringan
e. Sortasi kering

C. Metode Ekstraksi
Metode ekstraksi dilakukan dengan remaserasi. Proses remaserasi adalah modifikasi dari
maserasi. Remaserasi kulit buah Durian dilakukan dengan merendam kulit buah Durian dengan
etanol 96% selama 5 hari dengan penggantian pelarut setiap 1 hari. Setiap hari juga dilakukan
pengadukan untuk meratakan konsentrasi senyawa yang kontak dengan cairan penyari dengan
bagian lain yang tidak kontak dengan cairan penyari sehingga didapat kanhasil ekstraksi yang
maksimal.
19

Hasil ekstraksi selanjutnya dipekatkan dengan rotary evaporator dan waterbath sehingga
diperoleh ekstrak kental yang siap diformulasikan dalam sediaan krim untuk diuji aktivitas
antijamurnya terhadap spesies Candida albicans.
D. Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia senyawa dalam kulit buah Durian meliputi senyawa fenolik, flavonoid,
saponin, dan tanin. Prosedur yang dilakukan adalah
a. Uji Fenolik
Ekstrak kental sebanyak 0,5 gram ditambah dengan 2 ml methanol. Larutan kemudian
didinginkan dan disaring. Filtrat yang dihasilkan dan dicampur dengan NaOH 10% dan
dipanaskan. Bila mengandung komponen fenolik pada sampel maka akan timbul warna merah.
b. Uji Flavonoid
Ekstrak kental sebanyak 0,5 gram ditambah dengan 10 ml air panas dididihkan selama 5
menit. Setelah disaring, filtrat digunakan sebagai larutan percobaan. Ke dalam 5 ml larutan
percobaan, serbuk Zn atau Mg dan 1 ml HCl pekat. Selanjutnya ditambahkan amyl alkohol,
kocok dengan kuat dan biarkan hingga memisah. Terbentuknya warna dalam senyawa amyl
alcohol menunjukkan adanya flavonoid.
c. Uji Saponin
Ekstrak kental 0,5 gram dicampur dengan 10 ml air panas dididihkan selama 5 menit,
saring, filtrat 10 ml dimasukkan dalam tabung reaksi, kocok vertikal selama 10 detik. Kemudian
dibiarkan selama 10 menit. Terbentuknya busa yang stabil dalam tabung menunjukkan adanya
senyawa golongan saponin. Tambahkan satu tetes HCl 1%, busa stabil.
d. Uji Tanin
Ekstrak kental 0,5 gram dicampur dengan 10 ml aquadest panas dan dipanaskan kurang
lebih 1 jam. Larutan kemudian didinginkan, disaring, dan filtratnya ditambah dengan FeCl3 1%.
Bila sampel mengandung tanin maka akan terbentuk warna biru atau hitam kehijauan.

E. Pembuatan Media SDA (Saburoud Dextrose Agar)


Media SDA merupakan media pertumbuhan jamur Candida albicans. Media SDA dibuat
dengan menimbang serbuk SDA sebanyak 69, 3 g kemudian ditambah dengan aquadest hingga
1100 ml lalu dipanaskan hingga mendidih (larut). Media SDA yangsudah jadi siap untuk
dilakukan proses sterilisasi.
20

F. Sterilisasi Alat dan Media


Tujuan sterilisasi adalah untuk menjamin bahwa alat dan bahan yang digunakan terbebas
dari kontaminasi mikroba. Proses sterilisasi menggunakan otoklaf yang mencerminkan metode
panas basah dimana uapair akan menembus alat dan media yang disterilkan. Suhu pada otoklaf
adalah 121OC dengan waktu 15 menit. Uap air ini akan mengkoagulasi protein penyusun dinding
sel mikroba seperti bakteri sehingga bakteri dalam alat dan media yang disterilkan tersebut akan
mati.

G. Pengujian Aktivitas Ekstrak Kulit Buah Durian


Pada uji aktivitas ekstrak kulit buah Durian dilakukan dengan metode difusi
menggunakan kertas cakram steril. Ekstrak kental kulit buah Durian dilarutkan dalam pelarut
etanol 70% kemudian dibuat deret konsentrasi yakni 15%, 20%, dan 25%.
Adapun sebagai kontrol positif digunakan ketokonazol 2%. Tahapan uji aktivitas adalah
a. Penuangan media SDA pada cawan petri kemudian didiamkan hingga memadat.
b. Penanaman jamur Candida albicans pada media SDA. Penanaman ini menggunakan metode
streak plate yakni hasil peremajaan Candida albicans diambil sebanyak satu ose kemudian
digoreskan pada media SDA dalam cawan petri.
c. Pemberian sampel pada kertas cakram steril untuk masing-masing konsentrasi ekstrak
(15%;20%;25%), kontrol positif (ketokonazol 2%), dan kontrol negatif (etanol 70%).
d. Peletakkan kertas cakram steril yang sudah mengandung sampel, kontrol positif, dan kontrol
negatif ke dalam media suspense jamur Candida albicans.
e. Penginkubasian selama 1 hari pada suhu ruang ( 25oC)
f. Pengamatan hasil dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat yang terbentuk
disekeliling kertas cakram yang ditanam pada suspensi jamur Candida albicans.
21

H. Proses Pembuatan Serbuk Simplisia Kulit Buah Durian

I. Proses Ekstraksi
22

J. Proses Ekstraksi Pembuatan Krim Kulit Buah Durian


Pembuatan krim kulit buah Durian didahului dengan pembuatan basis krim. Adapun
formulasi basis krim yang digunakan berasal dari literatur Van Duin (1947) yakni
R/ Emulgide 15
Paraffinum Liquidum 15
Aquadest ad 100
Basis krim yang sudah jadi langsung dicampur dengan ekstrak kental yang sudah
ditimbang sesuai konsentrasi 15%;20%;25% kemudian dicampur homogen dan siap diuji
aktivitasnya.
K. Pengujian Aktivitas Krim Kulit Buah Durian
Uji aktivitas krim kulit buah Durian menggunakan prosedur yang sama dengan ekstrak
kulit buah Durian. Dari hasil uji aktivitas ini, dilakukan pengukuran diameter zona bening (zona
hambat) dari ekstrak dan krim kulit buah Durian untuk diuji secara statistika dengan ANOVA
satu arah menggunakan SPSS 16.

L. Pengujian Fisik Krim Kulit Buah Durian


a. Pengujian Organoleptik
Pengamatan dilihat secara langsung bentuk, warna, dan bau dari krim yang dibuat. Krim yang
baik memiliki konsistensi setengah padat.
b. Pengujian Homogenitas
Pengujian homogenitas dilakukan dengan cara sampel krim dioleskan pada sekeping kaca atau
bahan transparan lain yang cocok, sediaan krim harus menunjukkan susunan homogen dan
tidak terlihat adanya butiran kasar.
c. Pengujian Daya Lekat
Pengujian daya lekat dilakukan dengan menimbang 0,5 gram krim, diletakkan diatas objek
glass kemudian ditutup dengan objek glass lagi. Kedua ujung objek glass dijepit dengan
penjepit, lalu diberi beban 50 gram. Dihitung lama waktu hingga obyek glass terlepas.
d. Pengujian Daya Sebar
23

Pengujian daya sebar dilakukan dengan menimbang 0,5 gram sampel krim diletakkan di atas
kaca bulat berdiameter 15 cm, kaca lainnya diletakkan di atasnya dan dibiarkan selama 1
menit. Diameter penyebaran krim diukur. Setelahnya, ditambahkan 50 gram, 100 gram , dan
150 gram beban tambahan dan didiamkan selama 1 menit lalu diukur diameter yang konstan.
Semakin lebar diameternya, maka semakin baik penyebaran krimnya. Selanjutnya dibuat
grafik antara beban vs luas sebaran krim.
e. Pengujian Daya Proteksi
Pengujian daya proteksi dilakukan dengan menyiapkan dua kertas saring (@ sisinya 10x10
cm). Kertas saring pertama ditetesi dengan indikator PP 1%, biarkan hingga kering. Kertas
saring kedua diberi garis ukuran 2,5x2,5 cm yang dilapisi dengan lilin di keempat sisinya.
Kertas saring kedua ditumpuk pada kertas saring pertama yang sudah diberi krim (2 gram).
Kemudian dikertas saring kedua ditetesi dengan larutan KOH 1 N. Diamati beberapa saat, jika
tidak timbul warna pink, berarti basis krim memiliki daya proteksi yang baik.

2. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Ekstraksi Kulit Buah Durian


Hasil ekstraksi maserasi 100 gram serbuk kulit buah Durian dengan pelarut etanol 96%
(10:75) diperoleh ekstrak kental sebanyak 10,152 gram dengan rendemen ekstrak kental 10, 15%.

Gambar 1. Ekstrak Kental


24

B. Hasil Skrining Fitokimia

Tabel 1. Hasil Skrining Fitokimia

C. Hasil Uji Aktivitas Ekstrak Kulit Buah Durian

Tabel 3. Diameter zona hambat uji aktivitas krim


25

D. Hasil Uji Aktivitas Krim

Tabel 3. Diameter zona hambat uji aktivitas krim

E. Pembahasan
Skrining fitokimia yang dilakukan menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah Durian
mengandung senyawa flavonoid, fenolik, saponin dan tanin. Hasil uji aktivitas antijamur ekstrak
kulit buah Durian dengan konsentrasi 15%, 20%, dan 25% menunjukkan adanya perbedaan
diameter zona hambat dimana pada konsentrasi 25% (1,15 cm) memiliki diameter zona hambat
terbesar dibanding konsentrasi 15% (0,69 cm) dan 20% (0,82). Hal ini sesuai dengan Amelia
26

yang menyatakan bahwa konsentrasi ekstrak 25% merupakan konsentrasi dengan aktivitas
antijamur terbesar terhadap Candida albicans.
Kemudian dari hasil uji aktivitas ekstrak dilanjutkan dengan uji aktivitas krim yang
menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan uji aktivitas ekstrak, dimana krim dengan
konsentrasi ekstrak 25% memiliki zona hambat terbesar (0,81 cm) dibandingkan krim dengan
konsentrasi 15% (0,62 cm) dan 20% (0,73 cm).
Pengujian secara statistika dengan SPSS 16 juga menunjukkan adanya perbedaan
signifikan diameter zona hambat antara konsentrasi 25% dengan konsentrasi 20% dan 15%.

Tabel 4. Uji ANOVA

Tabel 5. Uji Scheffe (Pasca ANOVA)

Perbedaan diameter zona hambat ini dapat disebabkan adanya perbedaan konsentrasi
senyawa aktif dalam hal ini senyawa fitokimia yang terdapat dalam krim tersebut. Hal ini sesuai
dengan pendapat Prescott yang menyatakan bahwa ukuran dari zona hambat dipengaruhi oleh
tingkat sensitivitas dari organisme uji, media kultur dan kondisi inkubasi, kecepatan difusi dari
senyawa antijamur dan konsentrasi senyawa antijamur.
Mekanisme penghambatan pertumbuhan jamur oleh krim dari ekstrak kulit buah Durian berasal
dari kandungan senyawa fitokimia. Senyawa flavonoid dan tanin yang terkandung dalam ekstrak
27

kulit buah Durian termasuk golongan senyawa fenolik. Senyawa fenolik dan saponin bersifat
larut dalam air dan mengandung gugus fungsi hidroksil (-OH), sehingga lebih mudah masuk ke
dalam sel dan membentuk kompleks dengan protein membran sel. Senyawa fenolik berinteraksi
dengan protein membran sel melalui proses adsorpsi yang melibatkan ikatan hydrogen dengan
cara terikat pada bagian hidrofilik dari membran sel. Kompleks protein-senyawa fenolik
terbentuk dengan ikatan yang lemah, sehingga akan segera mengalami peruraian kemudian
diikuti penetrasi senyawa fenolik ke dalam membran sel yang menyebabkan presipitasi dan
terdenaturasinya protein membran sel. Kerusakan pada membran sel menyebabkan perubahan
permeabilitas pada membran, sehingga mengakibatkan lisisnya membran sel jamur.
Pengujian fisik krim kulit buah Durian terdiri dari uji organoleptis, uji homogenitas, uji
daya sebar, uji daya lekat, dan uji daya proteksi. Uji organoleptis dimaksudkan untuk melihat
tampilan fisik suatu sediaan yang meliputi bentuk, warna dan bau. Hasil uji organoleptis
didapatkan bentuk krim setengah padat, warna coklat sesuai dengan warna ekstrak kental kulit
buah Durian dan bau yang dihasilkan adalah bau khas Durian. Aroma atau bau dan warna yang
dihasilkan krim kulit buah Durian tergantung dari konsentrasi krim yang digunakan. Semakin
tinggi konsentrasi ekstrak, aroma atau bau khas Durian semakin meningkat dan warna krim
menjadi lebih pekat. Uji homogenitas bertujuan untuk melihat dan mengetahui tercampurnya
bahanbahan sediaan krim. Hasil yang didapat tidak adanya gumpalan-gumpalan. Hal ini diduga
karena sifat zat akif dari ekstrak kulit buah Durian yaitu saponin, flavonoid, dan tannin mudah
bercampur dengan basis tipe minyak-air sehingga tidak terjadi penggumpalan atau pemisahan
fase.

Gambar 2. Ekstrak kulit buah Durian tersebar


Merata

Uji daya sebar dilakukan untuk mengetahui kelunakkan sediaan krim saat dioleskan ke kulit.
Daya sebar yang dihasilkan krim ekstrak kulit buah Durian yakni 4,95 cm untuk beban 50 gram,
5,45 cm untuk beban 100 gram, dan 6,00 cm untuk beban 150 gram. Krim dengan konsentrasi
28

20% dan 25% memenuhi persyataan daya sebar 5-7 cm. Hasil ini sekaligus menjelaskan bahwa
semakin besarbeban yang diberikan, maka daya sebar krimnya semakin lebar.

Gambar 3. Grafik diameter penyebaran krim


ekstrak kulit buah Durian

Uji daya lekat digunakan untuk mengetahui kemampuan melekatnya krim padakulit
setelah diberi beban. Pada pengujian didapat hasil bahwa dengan beban 50 gram, waktu
perlekatan krim dengan 3 kali replikasi berturut-turut adalah 2,67 detik, 2,75 detik, dan 2,77
detik. Uji daya proteksi ditujukan untuk menilai apakah basis krim yang digunakan melindungi
krim dari pengaruh luar. Pada pengujian ini digunakan larutan indicator PP 1% dan KOH 1 N, di
mana reaksi antara kedua senyawa tersebut akan terbentuk warna pink. Krim yang diletakkan
diatas kertas saring yang sudah ditetesi indikator PP 1% kemudian ditutup dengan kertas saring
yang ditetesi KOH 1 N dapat mencegah terbentuknya warna pink indikator PP 1% dan KOH 1 N
sehingga dapat disimpulkan bahwa basis krim mampu memproteksi krim jika ada pengaruh
senyawa kimia dari luar.

Gambar 4. Basis krim memiliki daya proteksi


yang baik
29

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit buah Durian yang
diformulasikan dalam bentuk sediaan krim memiliki aktivitas antijamur terhadap spesies Candida
albicans di mana krim dengan konsentrasi ekstrak 25% memiliki diameter zona hambat terbesar
dibanding krim dengan konsentrasi 15% dan 20%. Pada uji fisik krim dengan konsentrasi 25%
memenuhi semua parameter uji kualitas krim yaitu dari uji organoleptik (bentuknya setengah
padat, warna dan bau khas Durian), homogenitas (ekstrak tersebar merata pada basis krim), daya
sebar (6,00 cm) yang memenuhi persyaratan yakni 5-7 cm, daya lekat, dan daya proteksi yang
baik.
30

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Penyakit kulit adalah penyakit infeksi yang paling umum, dapat menyerang segala usia.
Disebabkan oleh infeksi jamur, virus, dsb.
Adapun jenis dari penyakit kulit ini antara lain : ekzema, lepra, bisul, panu, infeksi jamur
kulit, dsb.
Pada makalah ini dipaparkan 3 sediaan herbal yang dapat menjadi alternatif pengobatannya.
Karena seperti yang diketahui, obat herbal ini memiliki tingkat efek samping yang rendah.
Zat yang terkandung dalam produk herbal tersebut berperan dalam peremajaan sel,
meregenerasi sel yang rusak serta meningkatkan kerja sel. Dengan demikian dapat
meregenerasi sel yang rusak akibat terbakar sehingga luka dapat sembuh.

3.2 Saran
Diaharapkan lebih banyaknya penelitian dan pengembangan obat- obat herbal agar
pemanfaatannya lebih luas dan akan sangat berguna pada pengembangan ilmu pengetahuan
tentang obat herbal ini.

30
31

DAFTAR PUSTAKA

1. Muammar. (2006). Penyebab penyakit kulit. Diunduh pada tanggal 16 Maret 2012 dari
http://obatherbalplus.com/penyebab-penyakit-kulit/
2. Indrayatna. (2010). Penyakit kulit, tanda dan gejala, cara penularan, dampak dan upaya
pencegahan. Diunduh pada tanggal 16 Maret 2012 dari
http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/kulit.htm
3. Fenissa. (2004). Penyakit kulit. Diunduh pada tanggal 16 Maret 2012 dari
ttp://www.doctorology.com/penyakit-kulit.htmL
4. Koli ,Dhanashri Sanjay,dkk.2016.Formulation & Evaluation Of Herbal Anti-Acne Facial
Wash. India: World Journal Of Pharmacy And Pharmaceutical Sciences, Volume 5, Issue
6, 2016.
5. Herman A,dkk.2016.Topically Used Herbal Products for the Treatment of Psoriasis
Mechanism of Action, Drug Delivery, Clinical Studies.Poland:Planta med 2016, 82: 1447-
1455
6. Amelia. 2010. Pengaruh Ekstrak Kulit Durian (Durio zibethinus Murr) terhadap
Pertumbuhan Candida albicans sebagai Materi Penunjang Praktikum Mikrobiologi. Tesis.
Fakultas MIPA Universitas

31