You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawat sebagai tenaga kesehatan yang profesional mempunyai
kesempatan paling besar untuk memberikan pelayanan/asuhan keperawatan
yang komprehensif dengan membantu klien memenuhi kebutuhan dasar
yang holistik, salah satunya dalam pemenuhan kebutuhan keselamatan dan
keamanan.
Keperawatan gerontik secara holistik menggabungkan aspek
pengetahuan dan keterampilan dari berbagai macam disiplin ilmu dalam
mempertahankan kondisi kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual
lansia. Hal ini diupayakan untuk memfasilitasi lansia ke arah perkembangan
kesehatan yang lebih optimum, dengan pendekatan pada pemulihan
kesehatan, memaksimalkan kualitas hidup lansia baik dalam kondisi sehat,
sakit maupun kelemahan serta memberikan rasa aman, nyaman, terutama
dalam menghadapi kematian.
Hal yang pertama perawat lakukan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada lansia adalah pengkajian. Menurut Potter & Perry,
(2005), pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan,
verifikasi dan komunikasi data tentang klien. Proses keperawatan ini
mencakup dua langkah yaitu pengumpulan data dari sumber primer (klien)
dan sumber sekunder (keluarga, tenaga kesehatan), dan analisis data sebagai
dasar untuk diagnosa keperawatan.
Tujuan dari pengkajian adalah menetapkan dasar data tentang
kebutuhan, masalah kesehatan, pengalaman yang berkaitan, praktik
kesehatan, tujuan, nilai dan gaya hidup yang dilakukan klien. Pengumpulan
data harus berhubungan dengan masalah kesehatan terutama dengan
masalah kesehatan utama yang dimiliki pasien, sehingga data yang
didapatkan relevan dengan asuhan keperawatan yang akan dijalankan pada
pasien tersebut. Penggunaan format pengkajian standarisasi dianjurkan,

1
karena dapat memberikan tanggung gugat minimal dari profesi
keperawatan. Penggunaan format pun memastikan pengkajian pada tingkat
yang komprehensif (Potter & Perry, 2005).

B. Rumusan Masalah
1. Apa tujuan pengkajian keperawatan pada lansia?
2. Apa saja aspek-aspek yang harus dikaji pada lansia?
3. Bagaimana pemeriksaan fisik pada lansia?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui dan memahami pengkajian dalam asuhan
keperawatan lansia, untuk mengetahui apa saja yang perlu dikaji dalam
asuhan keperawatan lansia, dan mengaplikasikan teknik hasil pengkajian
dalam asuhan keperawatan.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

Pengkajian pada lansia merupakan langkah penting dalam memberikan asuhan


keperawatan. Data multidimensional yang dikaji akan memberikan gambaran
mengenai status kesehatan lansia secara menyeluruh baik kondisi kesehatan fisik,
mental, sosial, maupun fungsi tubuh secara keseluruhan sehingga diharapkan
intervensi yang dilakukan akan lebih terarah dan komprehensif, untuk
mengoptimalkan derajat kesehatan lansia di masa mendatang. Pengkajian ini dapat
dilakukan di rumah, rumah sakit, pusat perawatan sehari, maupun di fasilitas
perawatan jangka panjang (panti).
Selama proses pengkajian, perawat perlu menciptakan lingkungan yang
kondusif selama pengkajian, meliputi:
1. Penggunaan ruangan yang adekuat, terutama apabila klien menggunakan
alat bantu mobilisasi
2. Minimalkan kebisingan dan distraksi
3. Suhu ruangan cukup hangat dan nyaman
4. Beri tempat dengan penerangan yang cukup
5. Beri posisi duduk yang nyaman selama pengkajian
6. Sediakan air minum di dekat klien
7. Jaga privasi klien
8. Pengkajian harus dilakukan dengan relaks, sabar dan tidak tergesa-gesa
9. Berikan klien banyak waktu untuk berespon terhadap pertanyaan dan
petunjuk
10. Waspadai adanya tanda keletihan seperti mengeluh, menyeringai, peka,
bersandar ke objek, kepala dan bahu terkulai, serta kelambanan progresif
11. Lakukan pengkajian selama puncak energi klien, biasanya pada pagi hari

Lingkungan yang kondusif akan memungkinkan pengkajian dapat berjalan


dengan baik dan lancar. Selain itu, untuk mendapatkan hasil pengkajian yang
optimal, perawat harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

3
1. Kaji lebih dari satu kali dan pada waktu yang berbeda setiap hari
2. Pastikan bahwa alat bantu sensori sensitif (kacamata, alat bantu dengar) dan
alat mobilitas (tongkat, walker) tersedia dan berfungsi dengan tepat
3. Wawancarai keluarga, teman dan orang terdekat yang terlibat dalam
perawatan klien untuk memvalidasi pengkajian
4. Gunakan bahasa tubuh, sentuhan, kontak mata, dan berbicara untuk
meningkatkan tingkat partisipasi maksimum klien
5. Sadari keadaan dan perhatian emosional klien, misalnya takut, ansietas
dan bosan, karena hal ini dapat menimbulkan kesimpulan pengkajian yang
tidak akurat mengenai kemampuan fungsional.

A. Pengkajian Riwayat Kesehatan


Pengkajian riwayat kesehatan ini meliputi pengkajian umum, riwayat
dan status kesehatan, dan pengkajian sistem tubuh (format terlampir).

B. Pengkajian Status Fungsional


Pengkajian status fungsional merupakan pengukuran kemampuan
seseorang dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri
dan dinilai dengan menggunakan Indeks Katz.
Indeks Katz dalam aktivitas sehari-hari merupakan alat yang
digunakan untuk menentukan hasil tindakan dan prognosis pada lanjut usia
dan penyakit kronis serta menggambarkan tingkat fungsional klien (mandiri
atau tergantung). Penilaian pada Indeks Katz meliputi enam fungsi yaitu
mandi, berpakaian, toileting, berpindah, kontinen, dan makan.
Menurut Lueckenotte, 1998, kriteria kemandirian lansia sebagai
berikut:
Kriteria kemandirian pada Indeks Katz meliputi:
1. Mandi
Mandiri : Bantuan hanya pada satu bagian tubuh/ mandi
sendiri sepenuhnya

4
Tergantung : Bantuan lebih dari satu bagian tubuh, bantuan
diberikan saat masuk dan keluar bak mandi, tidak mandi sendiri

2. Berpakaian
Mandiri : Mengambil baju dari kloset dan laci (berpakaian,
melepaskan pakaian), mengikat (mengatur pengikat, melepas ikatan
sepatu)
Tergantung : Tidak memakai baju sendiri/sebagian masih tidak
menggunakan pakaian

3. Toileting
Mandiri : Ke kamar kecil (masuk dan keluar dari kamar kecil),
merapikan baju, membersihkan organ ekskresi, dapat mengatur bedpan
sendiri yang hanya digunakan pada malam hari.
Tergantung : Menggunakan bedpan atau menerima bantuan saat
masuk dan menggunakan toilet

4. Berpindah
Mandiri : Berpindah ke dan dari tempat tidur secara mandiri
serta berpindah duduk dan bangkit dari kursi secara mandiri
Tergantung : Bantuan dalam berpindah naik/turun dari tempat
tidur dan atau kursi (tidak melakukan satu atau lebih perpindahan)

5. Kontinen
Mandiri : Berkemih dan defekasi dikontrol sendiri
Tergantung : Inkontinensia parsial atau total pada perkemihan /
defekasi (kontrol total atau parsial dengan kateter atau penggunaan
urinal/bedpan teratur)

5
6. Makan
Mandiri : Mengambil makanan dari piring, ketepatan
memasukkan ke mulut
Tergantung : Bantuan dalam hal makan, tidak sama sekali, atau
makan parenteral

Skala penilaian:
A: Kemandirian dalam hal mandi, berpakaian, toileting, berpindah,
kontinen, dan makan
B: Kemandirian dalam semua hal, kecuali satu dari fungsi tersebut
C: Kemandirian dalam semua hal, kecuali mandi dan satu fungsi
tambahan
D: Kemandirian dalam semua hal kecuali mandi, berpakaian dan satu
fungsi tambahan
E: Kemandirian dalam semua hal kecuali mandi, berpakaian, toileting dan
satu fungsi tambahan
F: Kemandirian dalam semua hal kecuali mandi, berpakaian, toileting,
berpindah dan satu fungsi tambahan
G: Ketergantungan pada keenam fungsi tersebut

Selain itu ada cara lain untuk mengkategorikan kemandirian lansia


dengan cara memberikan skore dari setiap aktiviatas seperti di bawah ini:
Pengukuran aktivitas sehari hari: Index KATZ
Activities Independence (1 point) Dependence (0 point)
Point (1 or 0) Tanpa pengawasan Dengan pengawasan,
langsung atau tanpa bantuan, bantuan
bantuan penuh
Mandi Tidak membutuhkan Memerlukan bantuan
Skor: ..... bantuan, atau menerima terhadap lebih dari
bantuan saat mandi hanya satu bagian tubuhnya
pada bagian tubuh

6
tertentu (seperti tungkai (atau tidak mandi sama
atau punggung) sekali
Berpakaian Mampu mengambil dan Memerlukan bantuan
Skor: ..... mengenakan pakaian mengambil dan
secara lengkap tanpa mengenakan pakaian
memerlukan bantuan atau bila tidak pasien
kecuali saat menalikan tidak akan berpakaian
sepatu lengkap atau tidak
berpakaian sama sekali
Berpindah Bergerak naik-turun dari Tidak turun dari
Skor: ..... tempat tidur dan kursi tempat tidur sama
tanpa memerlukan sekali (bila turun harus
bantuan (mungkin dengan bantuan atau
mempergunakan objek pertolongan
penopang seperti walker sepenuhnya
atau tongkat) atau naik
turun dari tempat tidur/
kursi dengan bantuan
Toileting Pergi ke toilet, membuka Tidak mampu pergi ke
Skor: ..... baju dan mengenakan kamar mandi dalam
baju dan membersihkan proses eleminasinya
genital tanpa bantuan
Kontinensia Mengendalikan Pengawasan yang
Skor: ..... perkemihan dan defekasi dilakukan merupakan
secara mandiri, atau bantuan dalam
kadang terjadi mengendalikan
ketidaksengajaan perkemihan dan
defekasi pasien, dapat
menggunakan kateter
atau dapat terjadi

7
inkontinensia
sepenuhnya
Makan Memindahkan makanan Memerlukan bantuan
Skor: ..... dari piring ke mulut tanpa sebagian atau penuh
bantuan, menyiapkan dalam pemenuhan
makanan mungkin makanan atau melalui
dibantu oleh orang lain parenteral

Penilaian:
Skor 6 : Berfungsi sepenuhnya (mandiri)
Skor 3-5 : Gangguan sedang (dibantu)
Skor 2 atau kurang : Gangguan fungsi berat (tergantung)

Depkes (2000) dalam KMS lansia mengkategorikan kemandirian lansia


menjadi 3 yaitu A (tergantung), B (dibantu) dan C (mandiri).

C. Pengkajian Status Mental dan Intelektual


Pengkajian status mental lansia perlu dilakukan perawat secara
sistematik dapat membantu perawat menentukan perilaku mana yang
terganggu dan menentukan intervensi. Di bawah ini diuraikan beberapa tes
formal dan sistematik dari status mental lansia.
1. Mini Mental State Examination (MMSE) atau Folstein Test
Diperkenalkan oleh Folstein pada tahun 1975 dan telah banyak
dipakai di dunia. Pengukuran kemampuan kognitif dengan
menggunakan MMSE ini sebaiknya dilakukan setiap 6-8 minggu,
karena adaptasi jaringan neuron saraf terjadi setelah 6 minggu. MMSE
terdiri dari 30 tes kuesioner yang meliputi:
a. Tes orientasi untuk menilai kesadaran dan daya ingat (10 poin)
b. Tes registrasi untuk menilai fungsi memori (3 poin)
c. Tes perhatian dan penghitungan (5 poin)

8
d. Tes mengingat kembali (recall) untuk menilai memori mengingat
kembali (3 poin)
e. Tes bahasa yaitu menyebutkan nama benda (2 poin)
f. Tes pengulangan (1 poin)
g. Tes pengertian verbal (3 poin)
h. Tes perintah tertulis (1 poin)
i. Tes menulis satu kalimat yang mengandung subyek dan predikat,
dan memiliki makna (1 poin)
j. Tes konstruksi, yaitu menyalin gambar pentagon (1 poin)

Mini Mental State Examination (MMSE)


No Tes Skor Skor Max
1 Orientasi 5
Waktu:
Jam Hari Tanggal
Bulan Tahun
Tempat: 5
Kita sekarang ada dimana?
Dusun Kelurahan
Kecamatan Kabupaten
Provinsi
2 Registrasi 3
Pemeriksa menyebutkan 3
nama benda
Payung Pensil Meja
(Tiap benda disebutkan
dalam 1 detik kemudian
responden diminta untuk
mengingat dan mengulang 3
objek tersebut setelah

9
pemeriksa selesai
menyebutkan)
3 Perhatian dan perhitungan 5
Menghitung mundur mulai
dengan angka 100 dikurang
7, berhenti setelah jawaban
kelima
100-7 (93) 93-7 (86)
86-7 (79) 79-7 (72)
72-7 (65)
Atau
Mengeja kata KARTU
dari belakang
U T R A K
4 Mengingat kembali 3
Responden diminta
mengulang 3 nama benda
yanng disebutkan di soal
nomor 2
Payung Pensil Meja
5 Bahasa 2
Responden menyebutkan
benda yang ditunjuk oleh
pemeliti
Buku Jam tangan
6 Pengulangan 1
Responden mengulang kata-
kata yang diucapkan peneliti
namun jika akan tetapi
7 Pengertian verbal 3

10
Peneliti meminta responden
melakukan 3 perintah
Ambil kertas dengan tangan
kanan!
Lipat kertas menjadi 2
bagian!
Letakaan kertas di lantai!
8 Perintah tertulis 1
Peneliti menulis 1 kalimat
perintah tutup mata
kemudian meminta
responden melakukan
perintah tersebut
9 Menulis kalimat 1
Peneliti meminta responden
menulis 1 kalimat
(mengandung subjek dan
predikat dan harus memiliki
makna)
10 Menggambar/konstruksi 1
Responden diminta
menirukan gambar di bawah
ini

Jumlah skor 30

Interpretasi tes dikategorikan menjadi tiga, yaitu:


Skor 24-30 poin : Kognitif normal

11
Skor 17-23 poin : Gangguan kognitif ringan
Skor 0-16 poin : Gangguan kognitif berat

2. Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)


SPMSQ merupakan salah satu cara yang dipakai untuk mendeteksi
adanya gangguan kognitif meliputi orientasi, memori jauh dan
kemampuan matematis (Pfeiffer, 1975 dalam Lueckenotte, 1998). Tes
ini terdiri dari 10 pertanyaan yang meliputi:
Pertanyaan Benar Salah
Tanggal, bulan dan tahun berapa
sekarang?
Hari apa sekarang?

Apa nama tempat ini?


Berapa nomor telpon anda/dimana
alamat anda?
(pilih salah satu)
Berapakah umur anda?

Sebutkan tanggal lahir anda!

Siapa presiden Indonesia saat ini?

Siapa presiden Indonesia sebelumnya?

Siapa nama ibu anda?


Kurangi 3 dari 20 dan terus kurangi 3
dari masing-masing hasil angkanya
sampai habis!
Jumlah

Interpretasi hasil tes tersebut dikategorikan menjadi empat, yaitu:


Jumlah kesalahan 0-2: fungsi kognitif normal
Jumlah kesalahan 3-4: gangguan fungsi kognitif ringan
Jumlah kesalahan 5-7: gangguan fungsi kognitif sedang

12
Jumlah kesalahan 8-10: gangguan fungsi kognitif berat

3. Inventaris Depresi Beck (IDB)


IDB berisikan 13 hal tentang gejala dan sikap yang berhubungan
dengan depresi. Setiap aspek direntang menggunakan skala 4 point
untuk menandakan intensitas gejala.
a. Kesedihan
3: Saya sangat sedih di mana saya tidak dapat menghadapinya
2: Saya galau/sedih sepanjang waktu dan tidak dapat keluar darinya
1: Saya merasa sedih atau galau
0: Saya tidak merasa sedih

b. Pesimisme
3: Saya merasa bahwa masa depan adalah sia-sia dan sesuatu tidak
dapat membaik
2: Saya merasa tidak mempunyai apa-apa untuk memandang masa
depan
1: Saya merasa berkecil hati mengenai masa depan
0: Saya tidak begitu pesimis atau kecil hati tentang masa depan

c. Rasa kegagalan
3: Saya merasa benar- benar gagal sebagai seseorang (orangtua,
suami, istri)
2: Saya melihat ke belakang hidup saya, semua yang dapat saya
lihat hanya kegagalan
1: Saya merasa telah gagal melebihi orang pada umumnya
0: Saya tidak merasa gagal

d. Ketidakpuasan
3: Saya tidak puas dengan segalanya
2: Saya tidak lagi mendapatkan kepuasan dari apa pun

13
1: Saya tidak menyukai cara yang saya gunakan
0: Saya tidak merasa tidak puas

e. Rasa bersalah
3: Saya merasa seolah-olah saya sangat buruk atau tidak berharga
2: Saya merasa sangat bersalah
1: Saya merasa buruk atau tidak berharga sebagai bagian dari waktu
yang baik
0: Saya tidak merasa benar-benar bersalah

f. Tidak menyukai diri sendiri


3: Saya benci diri sendiri
2: Saya muak dengan diri sendiri
1: Saya tidak suka dengan diri sendiri
0: Saya tidak merasa kecewa dengan diri sendiri

g. Membahayakan diri sendiri


3: Saya akan membunuh diri sendiri jika saya mempunyai kesempatan
2: Saya mempunyai rencana pasti tentang tujuan bunuh diri
1: Saya merasa lebih baik mati
0: Saya tidak mempunyai pikiran mengenai membahayakan diri
sendiri

h. Menarik diri dari social


3: Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan tidak
peduli pada mereka semua
2: Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan
mempunyai perasaan pada mereka
1: Saya kurang berminat pada orang lain daripada sebelumnya
0: Saya tidak kehilangan minat pada orang lain

14
i. Keragu-raguan
3: Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali
2: Saya mempunyai banyak kesulitan dalam membuat keputusan
1: Saya berusaha mengambil keputusan
0: Saya membuat keputusan yang baik

j. Perubahan gambaran diri


3: Saya merasa bahwa saya jelek atau tampak menjijikkan
2: Saya merasa ada perubahan yang permanen dalam penampilan
saya dan ini membuat saya tidak menarik
1: Saya kuatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik
0: Saya tidak merasa bahwa saya tampak lebih buruk dari sebelumnya

k. Kesulitan kerja
3: Saya tidak melakukan pekerjaan sama sekali
2: Saya telah mendorong diri saya sendiri dengan keras untuk
melakukan sesuatu
1: Saya merasa perlu upaya tambahan untuk mulai melakukan sesuatu
0: Saya dapat bekerja kira kira sebaik sebelumnya

l. Keletihan
3: Saya sangat lelah untuk melakukan sesuatu
2: Saya lelah untuk melakukan sesuatu
1: Saya lelah lebih dari yang biasanya
0: Saya tidak lebih lelah dari biasanya

m. Anoreksia
3: Saya tidak lagi mempunyai nafsu makan sama sekali
2: Nafsu makan saya sangat memburuk sekarang
1: Nafsu makan saya tidak sebaik sebelumnya
0: Nafsu makan saya tidak lebih buruk dari yang biasanya

15
Penilaian/interpretasi:
Skor 0-4 : Tidak ada depresi
Skor 5-7 : Depresi ringan
Skor 8-15 : Depresi sedang
Skor >16 : Depresi berat

D. Pengkajian Fungsi Sosial


Hubungan lansia dengan keluarga memerankan peran sentral pada
seluruh tingkat kesehatan dan kesejahteraan lansia sehingga tingkat
keterlibatan dan dukungan keluarga tidak dapat diabaikan pada waktu
pengumpulan data. Suatu alat skrining singkat yang dapat digunakan untuk
mengkaji fungsi sosial lansia adalah APGAR keluarga (Smilstein et.al, 1982
dalam Lueckenotte, 1998) yang melipiti aspek Adaptation (adaptasi),
Partnership (hubungan), Growth (pertumbuhan) dan Affection (afeksi).
Selain itu APGAR juga digunakan untuk menilai klien yang
mempunyai hubungan sosial intim dengan teman-temannya daripada
keluarga yang dengan sederhana menggantikan istilah teman-teman untuk
keluarga dalam pernyataan di bawah ini.
Aspek Pertanyaan Jawaban
Selalu Kadang Tidak
Adaption Saya puas bisa
kembali pada keluarga
saya untuk membantu
pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
Partnership Saya puas dengan cara
keluarga saya
membicarakan sesuatu
dan mengungkapkan
masalah dengan saya

16
Growth Saya puas bahwa
keluarga saya
menerima dan
mendukung keinginan
saya untuk melakukan
aktivitas
Affection Saya puas dengan cara
keluarga saya
mengekspresikan afek
dan berespon
terhadap emosi saya,
seperti marah, sedih
atau mencintai
Resolve Saya puas dengan cara
keluarga saya dan
saya menyediakan
waktu bersama

Penilaian:
Pernyataan dijawab dengan: Selalu (poin 2), kadang-k adang (poin 1),
tidak pernah (poin 0).
Skor <3 : Disfungsi keluarga sangat tinggi
Skor 4-6 : Disfungsi keluarga sedang
Skor 7-10 : Fungsi keluarga sehat

E. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan dilakukan dengan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi untuk mengetahui perubahan fungsi sistem tubuh.
Pendekatan yang digunakan dalam pemeriksaan fisik adalah head to toe
(dari ujung kepala sampai ujung kaki) dan sistem tubuh.

17
Keadaan umum :
Tanda-tanda vital
Tekanan darah :
Nadi :
Suhu :
Pernafasan :
Berat badan :
Tinggi badan :

Umum Ya Tidak
Kelelahan
Perubahan nafsu makan
Demam
Keringat malam
Kesulitan tidur
Sering pilek, infeksi
Penilaian diri terhadap status kesehatan
Kemampuan untuk melakukan AKS
Integumen Ya Tidak
Pruritus
Perubahan pigmentasi
Perubahan tekstur
Sering memar
Perubahan rambut
Perubahan kuku
Pemajanan lama terhadap matahari
Pola penyembuhan lesi, memar
Hemapoetik Ya Tidak
Perdarahan/memar abnormal
Pembengkakan kelenjar limfa

18
Anemia
Riwayat transfusi darah
Kepala Ya Tidak
Sakit kepala
Trauma berarti pada masa lalu
Pusing
Gatal kulit kepala
Mata Ya Tidak
Perubahan penglihatan
Kacamata/lensa kontak
Nyeri
Air mata berlebihan/pruritis
Bengkak sekitar mata
Diplopia
Kabur
Fotopobia
Telinga Ya Tidak
Perubahan pendengaran
Tinitus
Vertigo
Sensitivitas pendengaran
Alat-alat protesa
Riwayat infeksi
Tanggal pemeriksaan paling akhir
Kebiasaan perawatan telinga
Dampak pada penampilan AKS
Hidung Ya Tidak
Rinorea
Rabas
Epistaksis

19
Obstruksi
Mendengkur
Nyeri pada sinus
Alergi
Riwayat infeksi
Penilaian diri pada kemampuan olfaktori
Mulut dan tenggorokan Ya Tidak
Sakit tenggorokan
Lesi/ulkus
Serak
Perubahan suara
Kesulitan menelan
Alat-alat protesa
Riwayat infeksi
Tanggal pemeriksaan gigi paling akhir
Pola menggosok gigi
Masalah dan kebiasaan membersihkan gigi
palsu
Leher Ya Tidak
Kekakuan
Nyeri/nyeri tekan
Benjolan/massa
Keterbatasan gerak
Payudara Ya Tidak
Benjolan/massa
Nyeri/nyeri tekan
Bengkak
Keluar cairan dari puting susu
Perubahan pada puting susu
Pola pemeriksaan pada payudara sendiri

20
Tanggal dan hasil mammografi paling akhir
Pernafasan Ya Tidak
Batuk
Sesak nafas
Hemoptasis
Sputum
Mengi
Asma/alergi pernafasan
Kardiovaskuler Ya Tidak
Nyeri/ketidaknyamanan dada
Palpitasi
Sesak nafas
Dispnea pada aktivitas
Dispnea noktural paroksimal
Ortopnea
Murmur
Edema
Varises
Kaki timpang
Parestesia
Perubahan warna kaki
Gastrointestinal Ya Tidak
Disfagia
Tak dapat mencerna
Nyeri ulu hati
Mual/muntah
Hematemesis
Perubahan nafsu makan
Intoleran makanan
Ulkus

21
Nyeri
Ikterik
Benjolan/massa
Perubahan kebiasaan defekasi
Diare
Konstipasi
Melena
Hemoroid
Perdarahan rektum
Pola defekasi biasanya
Perkemihan Ya Tidak
Disuria
Menetes
Ragu-ragu
Dorongan
Hematuria
Poliuria
Oliguria
Nokturia
Inkontinensia
Nyeri saat berkemih
Batu
Infeksi
Genitalia Ya Tidak
Genito reproduksi pria
Lesi
Rabas
Nyeri testikuler
Massa testikuler
Masalah prostat

22
Penyakit kelamin
Perubahan hasrat seksual
Impotensi
Masalah aktivitas seksual
Genito reproduksi wanita
Lesi
Rabas
Perdarahan pasca senggama
Nyeri pelvic
Penyakit kelamin
Infeksi
Masalah aktivitas seksual
Riwayat menstruasi (usia awitan, tanggal
periode menstruasi terakhir)
Riwayat menopause (usia, gejala, masalah-
masalah pasca menopause)
Tanggal dan hasil tes pap paling akhir
G..... P..... A.....
Muskuloskeletal Ya Tidak
Nyeri persendian
Kekakuan
Pembengkakan sendi
Deformitas
Spasme
Kram
Kelemahan otot
Masalah cara berjalan
Nyeri punggung
Protesa
Pola kebiasaan latihan/olahraga

23
Dampak pada penampilan AKS
Persyarafan Ya Tidak
Sakit kepala
Kejang
Serangan jatuh
Paralisis
Paresis
Masalah koordinasi
Tic/tremor/spasme
Parestesia
Cedera kepala
Masalah memori
Endokrin Ya Tidak
Intoleran panas
Intoleran dingin
Goiter
Pigmentasi kulit/tekstur
Perubahan rambut
Polifagia
Polidipsi
Poliuria

24
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengkajian pada lansia merupakan langkah penting dalam memberikan
asuhan keperawatan. Data yang dikumpulkan harus multi dimensional
meliputi riwayat kesehatan, status fungsional, mental-intelektual serta
sosial. Data yang telah dikaji akan memberikan gambaran mengenai status
kesehatan lansia secara menyeluruh, sehingga diharapkan intervensi yang
dilakukan akan lebih terarah dan komprehensif, untuk mengoptimalkan
derajat kesehatan lansia di masa mendatang.

B. Saran
Kita sebagai mahasiswa keperawatan sebaiknya mempelajari mengenai
pengkajian gerontik karena saat kita akan melakukan asuhan keperawatan
gerontik maka kita harus mengetahui cara pengkajian pada pasien lanjut
usia.

25
DAFTAR PUSTAKA

Asfuah, Siti. 2012. Buku Klinik untuk Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Carpenito, L. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Edisi ke-
6. Jakarta: EGC.
Leeckenotte, Annete Glesler. 1997. Pengkajian Gerontologi, Edisi ke 2. Jakarta:
EGC.
Maryam Siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika.
Nugroho, Wahyudi. 2002. Keperawatan Gerontik, Edisi ke 2. Jakarta: EGC.
Nugroho, Wahyudi. 2006. Keperawatan Gerontik, Edisi ke-3. Jakarta: EGC.
Tarwoto, Wartonah. 2003. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Watson, Roger. 2003. Perawatan Pada Lansia. Jakarta: EGC.

26