You are on page 1of 9

Jurnal ADHUM Vol. VII No.

1, Januari 2017 44

PENGELOLAAN LINGKUNGAN AREAL TAMBANG BATUBARA


(Studi Kasus Pengelolaan Air Asam Tambang (Acid Mining Drainage) di PT. Bhumi Rantau
Energi Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan)

Oleh:
Luthfi Hidayat *)

Absrtak
Kegiatan pertambangan batubara berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan. Salah satu kerusakan lingkungan
adalah munculnya Air Asam Tambang (AAT) atau Acid Mining Drainage (AMD). AAT dicirikan dengan pH air yang
sangat rendah (pH antara 3-5), warna perairan yang kuning kemerahan, dan berpengaruh buruk terhadap biota air. AAT
muncul dari adanya singkapan tanah yang mengandung pirit, bereaksi dengan udara dan air hujan. Reaksi AAT Reaksi
pertama adalah reaksi pelapukan dari pirit disertai proses oksidasi. Pirit dioksidasi menjadi sulfat dan besi ferro (Pyrite +
oxygen + water ferrous iron + sulfate + acidity). Reaksi lanjutan dari pirit oleh besi ferri lebih cepat (2-3 kali)
dibandingkan dengan oksidasi dengan oksigen dan menghasilkan keasaman yang lebih banyak (Pyrite + ferric iron +
water ferrous iron + sulfate + acidity). Penanganan secara prefentif (menghindari singkapan batuan pirit) adalah
pengelolaan yang paling baik. Jika Air Asam Tambang sudah terjadi, pengelelolaan dilakukan dengan beberapa langkah.
Pertama; pengaliran air asam tambang, Kedua, pemompaan ke tempat perlakukan, ketiga; penetralan air asam tambang
di kolam pengendap.

I. PENDAHULUAN Pada awal kegiatan tambang, yaitu sejak


1.1. Latar Belakang penyelidikan (eksplorasi) atau tahap perencanaan
Pertambangan merupakan suatu bidang usaha perlu dilakukan untuk mengetahui dan
yang karena sifat kegiatannya pada dasarnya selalu menghitung besarnya potensi air asam tambang
menimbulkan dampak pada alam lingkungannya yang akan ditimbulkannya. Mengetahui potensi
(BPLHD Jabar, 2005). Aktivitas penambangan keasaman dari suatu tambang sangat penting
selalu membawa dua sisi. Sisi pertama adalah karena keasaman batuan tersebut baru merupakan
memacu kemakmuran ekonomi negara. Sisi yang potensi yang kehadirannya belum tentu akan
lain adalah timbulnya dampak lingkungan. menjadi persoalan setelah dilakukan pengambilan
Salah satu komoditi yang banyak diusahakan (eksploitasi).
saat ini, untuk memenuhi kebutuhan energi di Timbulnya air asam tambang (Acid Mine
Indonesia adalah batubara. Pada saat ini Drainage) bukan hanya berasal dari hasil pencucian
Indonesia memiliki potensi sumber daya batubara batubara, tetapi juga dari dibukanya suatu potensi
sekitar 60 miliar ton dengan cadangan 7 miliar ton keasaman batuan sehingga menimbulkan
( Witoro, 2007 ). Dilain pihak tambang batubara permasalahan kepada kualitas air dan juga tanah.
pada umumnya dilakukan pada tambang terbuka Potensi air asam tambang harus diketahui dan
(open mining), sehingga akan berdampak terhadap dihitung agar langkah langkah preventif serta
perubahan bentang alam, sifat fisik, kimia, dan pengendaliannya dapat dilakukan.
bioligis tanah, serta secara umum menimbulkan Pengendalian terhadap air asam tambang
kerusakan pada permukaan bumi. Dampak ini merupakan hal yang perlu dilakukan selama
secara otomatis akan mengganggu ekosistem di kegiatan penambangan berlangsung dan setelah
atasnya, termasuk tata air (Subardja, 2007). kegiatan penambangan berakhir. Air asam
Salah satu permasalahan lingkungan dalam tambang (Acid Mine Drainage) dapat
aktivitas penambangan batubara adalah terkait mengakibatkan menurunnya kualitas air, air
dengan Air Asam Tambang ( AAT) atau Acid permukaan dan air tanah. Selain itu jika dialirkan
Mine Drainage (AMD). Air tersebut terbentuk ke sungai akan berdampak terhadap masyarakat
sebagai hasil oksidasi dari mineral sulfida tertentu yang tinggal di sepanjang aliran sungai serta akan
yang terkandung dalam batuan, yang bereaksi mengganggu biota yang hidup di darat juga biota
dengan oksigen di udara pada lingkungan berair perairan.
(Sayoga, 2007). Penampakan air asam tambang di
tahap awal adalah adanya air di pit tambang yang 1.2. Rumusan Masalah
berwarna hijau. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah;
Jurnal ADHUM Vol. VII No. 1, Januari 2017 45

1. Bagaimana persoalan Air Asam Tambang di kondisi jalan beraspal, kemudian jarak dari kota
tambang batubara yang saat ini terjadi di PT. Rantau sampai lokasi kegiatan pertambangan
Bhumi Rantau Energi. sepanjang 12 Km.
2. Bagaimana upaya pengelelolaan pengelolaan
air asam tambang yang ada di PT. Bhumi 2.2. Kondisi Penambangan
Rantau Energi. Sistem penambangan batubara di wilayah Izin
Usaha Pertambangan (IUP) dengan kode wilayah
1.3. Metode Penelitian TP10A02OP ditentukan atas beberapa
Penelitian ini pada prinsipnya dilakukan pertimbangan sebagai berikut :
dengan dua tahapan metode. Pertama adalah 1) Kondisi geologi dan endapan batubara
melakukan studi pustaka terkait persoalan Air 2) Kondisi daerah prospek
Asam Tambang, dan tahapan kedua adalah 3) Rencana dan skala produksi
mengamati realitas pengelolaan Air Asam 4) Kondisi lapisan penutup
Tambang yang dilakukan di perusahaan Tambang 5) Pertimbangan dampak lingkungan
PT. Bhumi Rantau Energi. Kondisi geologi, topografi dan lingkungan di
daerah tapak proyek adalah sebagai berikut :
1.4. Tujuan Penelitian 1) Cadangan batubara yang prospek untuk di
Tujuan Penelitian adalah; tambang
1. Untuk memahami persoalan lingkungan akibat 2) Kemiringan daripada singkapan batubara
adanya Air Asam Tambang di areal berkisar antara 25-40
Pertambangan Batubara di PT. Bhumi Rantau 3) Kondisi topografi
Energi.
2. Untuk memahami gambaran tahapan 2.3. Keadaan Lingkungan Tambang
pengelolaan Air Asam Tambang di PT. Bhumi Batubara
Rantau Energi. Morfologi di daerah pengamatan mempunyai
penampakan yang relatif sama berupa perbukitan
II. KEADAAN LINGKUNGAN LOKASI bergelombang dengan kondisi topografi yang
TAMBANG tidak terlalu menonjol di setiap daerahnya.
2.1. Lokasi Penelitian Namun, sebagai akibat adanya tambang rakyat,
PT. Bhumi Rantau Energi merupakan jenis disekitar singkapan batubara banyak gundukan-
perusahaan PerseroaanTerbatas (PT). Kantor gundukan tanah, sehingga kondisi topografi
pusatnya terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda mengalami perubahan.
Pondok Indah Kavling V-TA Jakarta Wisma Dibanding keadaan saat studi tahun 2000
Pondok Indah 2, sedangkan kantornya terletak di (rona lingkungan awal), maka perkembangan
Jalan Jend. Sudirman By Pass RT.02 RW.01 Desa lingkungan sekitar relatif tidak banyak perubahan.
Bungur, Kecamatan Bungur Kabupaten Tapin, 1. Sebelah utara: pertanian (sawah dan
Kalimantan Selatan. Perusahaan ini bergerak di kebun)
bidang pertambangan. 2. Sebelah selatan: pertanian(sawah dan
Sebagaimana Surat Keputusan (SK) Analisis kebun) serta pemukiaman
Dampak Lingkungan (ANDAL) yang disetujui 3. Sebelah timur: sungai bahalayung dan
oleh SK Bupati Tapin Nomor pemukiman
188.45/048/KUM/2011 tanggal 21 Maret 2011 4. Sebelah barat: jalan raya dan pertanian
tentang persetujuan Kelayakan Analisis Mengenai Kualitas air yang dikelola oleh air limbah yang
Dampak Lingkungan (ANDAL), RKL dan RPL berasal dari tambang dan stockpile (tempat
pada kegiatan penambangan batubara di PT. penumpukan batubara), mengacu pada kriteria
Bhumi Rantau Energi. baku mutu air limbah batubara.
Lokasi kegiatan pertambangan terletak 108 Pengelolaan yang dilakukan yaitu mengelola air
Km sebelah timur laut kota Banjarmasin dan limbah dari tambang tersebut dengan pembuatan
dapat di tempuh dari kota Banjarmasin lewat jalur settling pond pada stockpile PT. Bhumi Rantau
darat sepanjang 102 Km sampai Rantau (ibu kota Energi. Di dalam pengelolaan air limbah pada
kabupaten Tapin) selama 3 jam dengan settling pond terdapat proses pengendapan
Jurnal ADHUM Vol. VII No. 1, Januari 2017 46

(sedimentasi),penggumpalan (koagulasi), Kondisi fauna darat secara keseluruhan


pencampuran (flokasi) serta netralisasi. Pada memberikan gambarn fauna yang menempati
koagulasi bahan yang digunakan berupa tawas lokasi penambangan dan sekitarnya seperti jenis
untuk menjernihkan air serta mengendapkan mamalia, reftil dan ampibi dapat dilihat pada tabel
lumpur dan bahan untuk netralisasi berupa kapur berikut :
tohor yang berfungsi untuk menetralkan air
sehingga pH memenuhi baku mutu pemerintah Tabel 3. Jenis Burung yang terdapat pada areal
yaitu 6-9, kapur juga berfungsi menghilangkan penambangan
Besi (Fe) dan Mangan (Mn) sehingga air yang No Nama local Nama latin
keluar melalui outlet kebadan sungai memenuhi 1 Burung Hantu Strix leptogrammice
baku mutu yang dipersyaratkan. 2 Bubut Centropus sinensis
Kondisi flora lokasi pemantauan dilakukan 3 Cekaka kecil Todirhampus
pada areal sarana prasarana bekas tambang yang 4 Codet Lanius sach
telah direvegetasi. Beberapa tipe penutupan 5 Curiak Gerygone sulphurca
6 Darakuku Streptopelia chinensis
vegetasi yang terdapat pada lokasi pemantauan
7 Elang Harliantos Indus
adalah hutan skunder dan vegetasi belukar, 8 Keruang Pycnonotus goiavier
vegetasi kebun karet rakyat dan alang-alang dan 9 Layang-layang Delichon dasypus
vegetasi tanaman yang terdapat pada areal 10 Pipikau Coturnik chinensis
revegetasi. 11 Pilatuk Dryocopus jevensis
Lokasi flora didalam proyek terdapat vegetasi 12 Pipit habang Lonchura mallanca
jenis pepohonan peneduh dan tanaman hias. 13 Pipit hirang Neiglyptes triptis
Kekayaan jenis pada lokasi ini masih termasuk 14 Punai Triton vernan
sedikit. Berdasarkan hasil survey yang dicatat 15 Burung Sikatan Ficedula dumetoria
terdapat 9 jenis. 16 Burung Tinjau Copsychus saularis
Berdasarkan tabel diatas memberikan
Tabel 1. Flora di dalam lokasi gambaran bahwa habitat daerah pertambangan
No Nama Tanaman Nama Latin dan sekitarnya merupakan rumah tinggal burung.
1 Alaban Vitex pubescent Beberapa jenis dari burung tersebut bersifat
2 Jati Tektona grastis migran, sehingga pada saat pengamatan jenis
3 Palam Palmae spp tersebut tidak ditemukan.
4 Ketapang Terminalia
5 Akasia daun kecil Acacia Tabel 4. Fauna jenis mamalia yang terdapat di
6 Karet Hevea wilayah studi
7 Pinus Pinus mercusi No NamaLokal Nama Latin
8 Jenis tanaman - 1 Babihutan Sus barbutas
9 Akasi daun lebar Accacia decurens 2 Cerucut Suncus sp.
3 Kelelawar Suku pretopodidae
Tabel 2. Flora darat yang ditemukan 4 Musang Paradaxarus sp.
diluar/disekitar lokasi 5 Warik Macaca fascicularis
No NAMA NAMA LATIN 6 Trenggiling Manis javanica
1 Kelapa Cocos mucifera 7 Tupai Glyphates sumus
2 Nangka Artocarfus integra 8 Kukang Nycticebus caucang
3 Kuini Mangifera odorata 9 Bekantan Nasalis larvatus
4 Hampalam Licuala spinas
5 Keladi Colocasia escolenta Jenis reptil yang ditemukan setempat
6 Jeruk Citrus SP adalah Biawak (Varanus Salvator), Ular Daun
7 Rambutan Nephelium (Bungarus Fasiatus), Bunglon (Mabouyo Multifasciata)
8 Mengkudu Morinda citrifolia dan Bingkarungan (Tiliqua sp).
9 Paku-pakuan Nephrolepis exaltata
10 Ubi kayu Manihot utilisima
Jurnal ADHUM Vol. VII No. 1, Januari 2017 47

Tabel 5. Fauna jenis reptil yang terdapat diareal terbentuknya air asam tambang. Beberapa
studi kegiatan seperti pertanian, pembuatan jalan,
No Jenis reptile Namalatin drainase dan pengolah tanah lainnya pada areal
1 Biawak Varanus salvator yang mengandung mineral belerang akan
2 Bingkarungan/Kadal Tiliqua sp. menghasilkan air asam, karateristiknya pun sama
3 Angui/Bunglon Gonychepalus sp dengan air asam tambang.
4 Ular Naja saputrik Air asam tambang dicirikan dengan
5 Ular sawa Phyton sp. rendahnya pH dan tingginya senyawa logam
6 Ular tadung Bungarus
tertentu seperti besi (Fe), mangan (Mn), cadmium
7 Ularpucuk Trimeresurus
8 Ular daun Leptphis (Cd), aluminium (Al), sulfate ( ). Pyrite ( )
merupakan senyawa yang umum dijumpai dilokasi
Jenis-jenis Ampibi dan Insekta yang ditemukan pertambangan. Selain pirit masih ada berbagai
adalah seperti tertera dalam tabel berikut. macam mineral sulfida yang terdapat dalam
batuan dan mempunyai potensi membentuk air
Tabel 6. Fauna jenis Amphibi yang terdapat di asam tambang seperti : marcasite ( ), pyrrotite
areal studi ( ), chalcocite ( S), covellite (CuS)
No Jenis Amphibi Nama Latin
molybdenite ( ), chalcopyrite ( ),
1 Katak hijau Rana sp.
2 Katak hijau teratai Rana limnocharis galena (PbS), sphalerite (ZnS), dan arsenopyrite
3 Katak cokelat Rana sp. (FeAsS).
Air asam yang mengandung logam berat
Tabel 7 Fauna jenis Insekta yang terdapat diareal yang mengalir ke sungai, danau atau rawa akan
studi merusak kondisi ekosistem yang ada di sungai
No Jenis Insekta Nama latin tersebut. Hal ini tentu saja akan menyebabkan
1 Capung - adanya penurunan kualitas air. Air asam tambang
2 Semut salimbada Suku formicidae dan dapat juga mempengaruhi bentang alam,
Isotera perubahan struktur tanah, perubahan pola aliran
3 Kupu-kupu - permukaaan dan air tanah serta komposisi kimia
air permukaan.
III. TINJAUAN PUSTAKA Komponen pembentukan air asam tambang
3.1. Tentang Air Asam Tambang lainnya adalah air dan oksigen. Air yang masuk
Air asam tambang (AAT) atau disebut juga kedalam cekungan berasal dari air permukaan
dengan Acid Mine Drainage (AMD) adalah air terutama dari air hujan. Curah hujan yang tinggi
yang bersifat asam (tingkat keasaman yang tinggi) menyebabkan volume air dalam cekungan
dan sering ditandai dengan nilai pH yang rendah semakin besar, sehingga cekungan membentuk
yaitu dibawah 6,karena sesuai dengan baku mutu kolam besar.
air pH normal adalah 6-9 sebagai hasil dari Proses terjadinya air asam tambang yaitu bila
oksidasi mineral sulfida yang tersingkap oleh teroksidasinya mineral-mineral sulfida yang
proses penambangan dan terkena air. terdapat pada batuan hasil galian dengan air
Air asam tambang (AAT) adalah istilah yang ( O) dan oksigen ( ). Oksidasi logam sulfida
digunakan untuk merujuk pada air asam tambang dalam membentuk asam terjadi dalam persamaan
yang timbul akibat kegiatan penambangan serta reaksi sebagai berikut :
sering juga disebut air rembesan (seepage), atau Reaksi pertama adalah reaksi pelapukan dari
aliran (drainage). Air ini terjadi akibat pengaruh pirit disertai proses oksidasi. Pirit dioksidasi
oksidasi alamiah mineral sulfida (mineral menjadi sulfat dan besi ferro.
belerang) yang terkandung dalam batuan yang 1. 2 +7 +2 2 +4
terpapar selama penambangan. Perlu diketahui air
asam tambang sebenarnya tidak terbentuk akibat +4
kegiatan penambangan saja tetapi setiap kegiatan
yang berpotensi menyebabkan terbuka dan
teroksidasinya mineral sulfida akan menyebabkan
Jurnal ADHUM Vol. VII No. 1, Januari 2017 48

(Pyrite + oxygen + water ferrous iron 5. Air Dari Tempat Penimbunan Bahan
+ sulfate + acidity) Galian/Stockpile
Reaksi lanjutan dari pirit oleh besi ferri lebih Bahan galian batubara yang dihasilkan dari
cepat (2-3 kali) dibandingkan dengan oksidasi kegiatan penambangan diangkut dan dikumpulkan
dengan oksigen dan menghasilkan keasaman yang di stockpile untuk diolah dan dipasarkan. Pada
lebih banyak. proses pengiriman batubara ke konsumen terlebih
2. + 14 + 8 15 + 2 dahulu dikecilkan ukurannya dengan metode
penghancuran (crushing). Dalam proses
+ 16 penghancuran batubara disiram dengan air untuk
mengurangi debu,dimana terkadang didalam
(Pyrite + ferric iron + water ferrous lapisan batubara terdapat mineral sulfida. Hal ini
iron + sulfate + acidity) berpotensi membentuk air asam tambang.
Air asam tambang dapat terjadi pada kegiatan
penambangan baik itu tambang terbuka maupun 3.2. Dampak Buruk Air Asam Tambang
tambang bawah tanah. Umumnya keadaan ini Terbentuknya air asam tambang
terjadi karena unsur sulfur yang terdapat di dalam dilokasi penambangan akan menimbulkan
batuan teroksidasi secara alamiah didukung juga dampak negatif terhadap lingkungan. Adapun
dengan curah hujan yang tinggi semakin dampak negatif dari asam tambang tersebut antara
mempercepat perubahan oksidasi sulfur menjadi lain yaitu :
asam. Sumber-sumber air asam tambang antara 1. Bagi masyarakat sekitar
lain berasal dari : Dampak terhadap masyarakat disekitar
1. Air Dari Tambang Terbuka wilayah tambang tidak dirasakan secara langsung
Lapisan batuan akan terbuka sebagai akibat karena air yang dipompakan kesungai telah
dari terkupasnya lapisan penutup, sehingga unsur dinetralkan dan selalu dilakukan pemantauan
sulfur yang ada dalam batuan sulfida akan setiap hari untuk mengetahui temperatur,
terpapar oleh udara maka terjadilah oksidasi yang kekeruhan, dan pH. Namun apabila terjadi
apabila hujan atau air tanah mengalir di atasnya pencemaran dan biota perairan terganggu maka
maka jadilah air asam tambang. binatang seperti ikan akan mati akibatnya mata
2. Air Dari Unit Pengolah Batuan Buangan pencaharian penduduk akan terganggu.
Material yang banyak terdapat limbah 2. Bagi biota perairan
kegiatan penambangan adalah batuan buangan Dampak negatif untuk biota perairan adalah
(waste rock). Jumlah batuan buangan ini akan terjadinya perubahan keanekaragaman biota
semakin meningkat dengan bertambahnya perairan seperti plankton dan benthos, kehadiran
kegiatan penambangan. Akibatnya batuan benthos dalam suatu perairan dijadikan sebagai
buangan yang banyak mengandung sulfur akan indikator kualitas perairan. Pada perairan yang
berhubungan langsung dengan udara membentuk baik dan subur benthos akan melimpah,
senyawa sulfur oksida, selanjutnya dengan adanya sebaliknya pada perairan yang kurang subur
air akan membentuk air asam tambang. bentos tidak akan mampu bertahan hidup.
3. Air Dari Lokasi Penimbunan Batuan 3. Bagi kualitas air permukaan
Timbunan batuan yang berasal dari batuan Terbentuknya air asam tambang hasil oksidasi
sulfida dapat menghasilkan air asam tambang pirit akan menyebabkan menurunnya kualitas air
karena adanya kontak langsung dengan udara luar permukaan. Parameter kualitas air yang
yang selanjutnya terjadi pelarutan akibat adanya mengalami perubahan diantaranya pH, padatan
air. terlarut, sulfat, besi dan mangan.
4. Air Dari Unit Pengolahan Limbah Tailing 4. Kualitas air tanah
Kandungan unsur sulfur di dalam tailing Ketersediaan unsur hara merupakan faktor
diketahui mempunyai potensi dalam membentuk yang paling penting untuk pertumbuhan tanaman.
air asam tambang, pH dalam tailing pond ini Tanah yang asam banyak mengandung logam-
biasanya cukup tinggi karena adanya penambahan logam berat seperti besi, tembaga, seng yang
hydrated lime untuk menetralkan air yang bersifat semuanya ini merupakan unsur hara mikro.
asam yang dibuang kedalamnya. Akibat kelebihan unsur hara mikro dapat
Jurnal ADHUM Vol. VII No. 1, Januari 2017 49

menyebabkan keracunan pada tanaman, ini Secara umum penanganan AAT yang telah
ditandai dengan busuknya akar tanaman sehingga terbentuk berpotensi keluar dari lokasi
tanaman menjadi layu dan akhirnya akan mati. penambangan, dilakukan untuk mengembalikan
nilai-nilai parameter kualitas air menjadi seperti
3.3. Pencegahan dan Pengelolaan Air Asam kondisi normalnya atau kondisi yang disyaratkan
Tambang dalam Keputusan Pemerintah Pertambangan dan
Mengingat bahaya dari air asam tambang bagi Energi No. 1211/K/008/M.PE/1995 tentang
lingkungan maka perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan perusakan serta
pencegahan dan penanganan air asam tambang. pencemaran lingkungan pada usaha
Berikut ini ada beberapa cara untuk mencegah pertambangan.
dan menghambat terbentuknya air asam tambang. Secara umum pengolahan air asam
1. Penempatan Selektif tambang dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :
Menempatkan batuan yang berpotensi Active treatment dan Passive treatment.
membentuk air asam tambang PAF (Potencial Acid 1. Active Treatment Technologies
Forming) dengan batuan yang tidak berpotensi Adalah teknologi yang memerlukan operasi,
NAF (Non Acid Forming) ke tempat yang terpisah perawatan dan pemantauan oleh manusia
dengan cara ditimbun. Kemudian lokasi berdasarkan pada sumber energi eksternal dan
penimbunan batuan yang berpotensi membentuk menggunakan infrastruktur dan sistem yang
air asam tambang ditempatkan sejauh mungkin direkayasa. Terdiri dari : Netralisasi (yang sering
dari aliran air, selanjutnya rembesan-rembesan termasuk presipitasi logam), penghilangan logam,
dikumpulkan pada satu lokasi. presipitasi kimiawi, dan penghilangan sulfat secara
2. Manajemen Tanah biologi. Penetral yang paling umum digunakan
Manajemen tanah ini bertujuan untuk : pada perlakuan AAT skala besar adalah kapur, ini
1) Memisahkan tipe tanah secara benar, karena bahan tersebut tersedia secara komersial,
sehingga pencampuran dan degradasi mudah digunakan, teknologi telah terbukti,
kualitas tanah pucuk tidak terjadi. biayanya murah dan efektif digunakan serta
2) Menjamin kualitas tanah pucuk sebagaimana dikelola dengan baik dalam hal kesehatan dan
adanya struktur, nutrisi, tersedia digunakan keselamatan kerja bagi penerapan skala besar.
dalam rehabilitasi. Menambahkan tawas pada air asam tambang
sebelum dialirkan kesungai tujuannya untuk
Pencegahan pembentukan AAT dilakukan menjernihkan air.
dengan mengurangi kontak antara mineral sulfida 2. Passive treatment technologies
dalam reaksi tersebut sebagai pirit dengan air dan Merupakan proses pengolahan yang tidak
oksigen di udara. Secara teknis, hal ini dilakukan memerlukan intervensi, operasi atau perawatan
dengan menempatkan batuan PAF (Potentially Acid oleh manusia secara reguler bahan yang biasanya
Forming) dalam kondisi dimana salah satu faktor digunakan adalah memakai tumbuhan yang dapat
tersebut relatif kecil jumlahnya. Secara umum menetralkan pH, yakni purun tikus.
dikenal dua cara untuk melakukan hal tersebut,
yaitu dengan menempatkan PAF (Potentially Acid IV. PEMBAHASAN
Forming) di bawah permukaan air di mana 4.1. Proses Pengaliran Awal Air Asam
penetrasi oksigen tehadap lapisan air sangat Tambang
rendah atau dikenal dengan wet cover system, atau Tahapan proses pengelolaan air asam
dibawah lapisan batuan atau material tertentu tambang pada PT. Bhumi Rantau Energi,
dengan tingkat infiltrasi air . Metode lainnya pengaliran yang berasal dari pit (lubang bukaan
dengan cara pencampuran (blending) beberapa tipe tambang tambang) dan juga dari unit pengolahan
batuan PAF dan NAF atau bahkan dengan batu (crusher) sampai akhirnya dikembalikan lagi ke
kapur, sehingga menghasilkan suatu timbunan lingkungan.
yang dapat menimbulkan air penyaliran dengan Lubang bukaan tambang (Pit) merupakan
kualitas yang memenuhi baku mutu. Diharapkan areal penambangan, lubang bukaan (Pit) ini
dengan menerapkan metode ini pembentukan berukuran sangat luas dan terbuka sehingga
AAT dapat dihindari. apabila hujan turun. Air yang berasal dari lubang
Jurnal ADHUM Vol. VII No. 1, Januari 2017 50

bukaan tambang (Pit) akan bereaksi dengan dilakukan penawasan juga dilakukan pengapuran
mineral sulfida (pirit) dan oksigen yang akhirnya yaitu dengan cara ditaburkan pada setiap kolam.
teroksidasi sehingga terbentuk air asam tambang Pada kolam kedua air di alirkan menuju
(AAT). kolam ketiga, dan pada kolam ini air sudah mulai
Air yang berasal dari lubang bukaan tambang jernih. Pada kolam terakhir/kolam ke empat
(Pit) ini selanjutnya dialirkan menuju sumuran inilah kolam tempat penampungan air yang sudah
(sump). Sump merupakan kolam penampungan jernih dan sudah siap untuk dibuang kebadan
air yang dibuat sementara sebelum air itu sungai. Selain dilakukan penawasan maupun
dipompakan serta dapat berfungsi sebagai kolam pengapuran juga dilakukan pemantauan pH air
pengendapan lumpur. Pengaliran air dari sump yang keluar dari kolam ke empat (outlet). Jenis
dilakukan dengan cara pemompaan. pompa yang digunakan adalah Multiflo MF 380
Sump ini dibuat secara terencana dalam yang menggunakan tenaga mesin diesel.
pemilihan lokasi maupun volumenya. Sebelum dilakukan proses penawasan atau
Penempatannya pada jenjang tambang dan penetralan, pada kolam pertama terlebih dahulu
biasanya dibagian lereng tepi tambang. Sump ini dilakukan pengukuran pH dengan menggunakan
disebut dengan sump permanen karena dibuat pH meter.
untuk jangka waktu lama, biasanya terbuat dari Dari pengukuran pada outlet settling pond
bahan kedap air dengan tujuan untuk mencegah crusher PT. Bhumi Rantau Energi diperoleh hasil
peresapan air supaya tidak menyebabkan jenjang pH atau tingkat keasaman yang rendah. Dan
tambah longsor karena sump ini yang pertama untuk penjernihan dilakukan penawasan terlebih
menerima air. dahulu sebelum dilakukan proses penetralan
dengan menggunakan kapur.
4.2. Proses Pemompaan Air Asam Tambang
Pemompaan dalam hal ini berfungsi untuk 4.3. Proses Penetralan Pada Kolam
memindahkan atau membuang air dari tempat Pengendap
yang rendah yaitu dari sumuran (sump) pada Kolam pengendapan (Settling pond)
lantai kerja penambangan ketempat yang lebih merupakan kolam yang berfungsi untuk
tinggi/keluar tambang. menyaring dan mengendapkan lumpur-lumpur
Volume air yang tertampung dalam sumuran hasil dari penambangan yang terlarutkan oleh air
(sump) jumlahnya akan semakin bertambah jika serta sebagai tempat mengolah air sebelum
sejumlah air tersebut tidak dipindahkan ke kolam dialirkan kesungai, terutama menetralkan pH air
pengendapan yang akhirnya dapat menghambat yang bersifat asam.
kegiatan penambangan. Oleh karena itu perlu Air Asam Tambang tidak hanya berasal dari
dilakukan pemompaan menuju kolam kegiatan penambangan bisa juga dari proses
pengandapan (settling pond). penghancuran batubara. Sebelum batubara masuk
Limbah cair yang berada di tambang atau kedalam alat penghancur (Crusher) maka batubara
dari tempat pengolahan (crusher) terlebih dahulu tersebut disiram dengan air, yang bertujuan untuk
dipompa kesettling pond (kolam pengendap I). mengurangi debu yang dihasilkan ketika proses
Air yang berada pada kolam pertama mengalir ke penghancuran dilakukan serta pada saat krusher
kolam dua melalui saluran yang dibuat zig zag (crusher)beroperasi juga dilakukan penyiraman
antara kolam yang satu dengan saluran kekolam untuk membersihkan krusher (crusher) dari
yang lain. Pada kolam yang kedua dilakukan partikel-partikel batubara. Air limpasan inilah
proses pengolahan limbah atau yang disebut yang berpotensi membentuk air asam
dengan kolam penawasan atau pengapuran. tambang(AAT) karena adanya mineral sulfida
Cara penawasan yaitu dengan memasukkan yang berada dalam batubara juga berpotensi
bahan tawas/aluminium sulfate (AL_2 O_3) merusak lingkungan. Sehingga sebelum dibuang
kedalam tandon yang sudah berisi air, kemudian kelingkungan dilakukan pengolahan terlebih
diaduk-aduk setelah tawas sudah mencair dahulu.
selanjutnya air tawas dalam tandon disemprotkan Hasil pemompaan yang berasal dari kegiatan
kekolam dua dengan menggunakan pompa. Selain krusher (crusher) dialirkan ke kolam pengendapan
(Settling pond) melalui paritan yang dibuat
Jurnal ADHUM Vol. VII No. 1, Januari 2017 51

mengelilingi tempat pengolahan (Stockpile). Pada 4. Air yang berpotensi menjadi air asam
PT. Bhumi Rantau Energi terdapat dua settling tambang yang berasal dari pit dialirkan
pond crusher yaitu settling pond crusher 1 dan menuju sumuran (sump), lalu dipompa
settling pond crusher 2. Di settling pond crusher menuju settling pond.
1 terdapat empat kolam dan settling pond crusher 5. Sebelum dilakukan proses penetralan,
2 terdapat lima kolam. Kolam pertama berfungsi terlebih dahulu dilakukan pengukuran pH
sebagai kolam pengendapan lumpur atau menggunakan pH meter.
sedimentasi, kolam kedua dan ketiga berfungsi 6. Proses menurunkan tingkat kekeruhan pada
sebagai kolam untuk penambahan tawas dan settling pond crusher adalah dengan cara
kapur, kolam ke 4 difungsikan sebagai kolam menambahkan larutan tawas.
parameter/acuan, karena air di kolam terakhir ini
akan langsung dialirkan ke badan sungai. 5.2. Saran
1. Proses pengelolaan air asam tambang agar
V. KESIMPULAN dapat dilakukan lebih efektif untuk
5.1. Kesimpulan menghindari dampak negatif bagi lingkungan
Dari uraian pada bab-bab sebelumnya dapat maupun masyarakat yang bermukim di
diambil kesimpulan, yaitu : sekitar tambang.
1. Sumber-sumber Air Asam Tambang (AAT) 2. Pemantauan pH dan debit air limbah harus
adalah air dari tambang terbuka dari unit dilakukan secara berkesinambungan untuk
pengolahan batuan buangan, air dari unit memastikan tingkat keamanan lingkungan
pengolahan limbah dan dari tempat perairan.
penimbunan bahan galian. 3. Tanggul-tanggul yang ada disettling pond
2. Metode pengolahan air asam tambang yang sebaiknya ditanami pepohonan agar lebih
ada di PT. Bhumi Rantau Energi adalah kuat.
dengan metode active treatment. 4. Untuk penambahan kapur dan tawas
3. Air yang berpotensi air asam tambang tidak dikolam (settling pond) supaya dapat dilakukan
hanya berasal dari pit tapi juga yang berasal penelitian/pengujian lebih lanjut agar dalam
dari unit pengolahan (crusher). penambahannya dapat mengetahui dosis
yang optimum.

*) Dosen Tetap Politeknik Syakh Salman Al Farisi Rantau. Kab. Tapin. Kalimantan Selatan

DAFTAR PUSTAKA

Arliani, Nurul. 2012. Aktivitas Pengolaan Air Asam Tambang PT. Bhumi Rantau Energi. Rantau
Sari, Intan Lianita. 2012. Teknologi Pengolahan Air Asam Tambang. [online] dari www. blogspot. Com
Pengelolaan Air Asam Tambang. [online] dari www. scribd. Com
Abfertiawan. 2011. Konsep Pencegahan Air Asam Tambang. [online] dari http//abfertiawan. blog. com
Metode Pengolahan Tambang Umum. 2013. [online] dari sintaloh. blogspot. com
Air Asam Tambang dan Pengelolaannya. 2013. [online] dari Tambangunsri. blogspot. com
Kerusakan Lahan Akibat Aktivitas Penambangan. 2012. [online] dari pabrisianturi. blogspot. com
Kamus Istilah Pertambangan. Energi dan Sumber Daya Mineral
Sipahutar, Renni. 2013. Analisis Pengelolaan Limbah Air Asm Tambang di IUP Tambang Air Laya PT. Bukit
Asam. Universitas Sriwijaya. Palembang
Dkk, Herniwanti. 2012. Simulasi Aliran Air Asam Tambang. Universitas Brawijaya. Malang
Gautama, R. S. 2012. Pengelolaan Air Asam Tambang. ITB. Bandung
Gautama, R. S. 2012. Pelatihan Tentang Air Asam Tambang Februari 2012. Bandung
Gautama, R. S. 2004. Pengantar Air Asam Tambang. ITB. Bandung
Nugraha, Candra. Upaya Pencegahan Pembentukan Air Asam Tambang. 2012. ITB. Bandung
Jurnal ADHUM Vol. VII No. 1, Januari 2017 52

Dkk, Wulan, Praswati. Peningkatan Efisiensi Penggunaan Kougulan pada Unit Pengolahan Air Limbah
Batubara. Depok
Notosiswoyo, sudarto. 3003. Upaya Penanganan Air Asam Pada Lahan Bekas Tambang (Kecil) Batubara.
Dkk, Enggal, Nurisman. 2012. Studi Terhadap Dosis Penggunaan Kapur Tohor pada Proses Pengolahan Air
Asam Tambang pada Kolam Pengendap Lumpur Tambang Air Laya PT. Bukit Asam Tbk. Jurnal
Teknik Patra Akedemika. Palembang Sum-Sel.
Iman, M. S. 2010. Dampak Air Asam Tambang Terhadap Kualitas Air Tanah Disekitar Area Pertambangan.
Banjarbaru
Peraturan Menteri ESDM No. 113 tahun 2003
UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
AMDAL pasal 22-23
www.airasamtambang.info