You are on page 1of 17

TINEA KAPITIS

1.1 Pendahuluan
Tinea kapitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur
superfisial pada kulit kepala, bulu mata dengan kecenderungan menyerang
tangkai rambut dan folikel folikel rambut. Penyakit ini termasuk kepada
mikosis superfisialis atau dermatofitosis. Beberapa sinonim yang digunakan
termasuk ringworm of the scalp dan tinea tonsurans. Di Amerika Serikat dan
wilayah lain di dunia insiden dari tinea kapitis meningkat (Madani, 2000)
Dermatofitosis mempunyai beberapa gejala klinik yang nyata,
tergantung pada letak anatomi dan etiologi agents. Secara klinis
dermatofitosis terdiri atas tinea kapitis, tinea favosa (hasil dari infeksi oleh
Trichophyton schoenleinii), tinea corporis ( ringworm of glabrous skin ),
tinea imbrikata ( ringworm hasil infeksi oleh T. concentrikum ), tinea
unguium ( ringworm of the nail ), tinea pedis ( ringworm of the feet ), tinea
barbae ( ringworm of the beard ) dan tinea manum ( ringworm of the hand)
(Who, 2003)
Di klinis tinea kapitis ditemukan berbeda beda dari dermatofitosis
non inflamasi dengan sisik mirip dermatitis seboroik sampai inflamasi dengan
lesi bersisik yang eritematous dan kerontokan rambut atau alopesia dan dapat
berkembang menjadi inflamasi yang berat berupa abses yang dalam disebut
kerion, ysng mempunyai potensi menjadi jaringan parut dan menyebabkan
alopesia yang menetap. Keadaan penyakit ini tergantung pada interaksi antara
host dan agen penyebab (Jewets , 2007)
Infeksi jamur dapat superfisial, subkutan dan sistemik, tergantung
pada karakteristik dari host. Dermatofita merupakan kelompok jamur yang
terkait secara taksonomi. Kemampuan mereka untuk membentuk lampiran
molekul keratin dan menggunakannya sebagai sumber nutrisi memungkinkan
mereka untuk berkoloni pada jaringan keratin, masuk kedalam stratum
korneun dari epidermis, rambut kuku dan jaringan pada hewan. Infeksi
superfisial yang disebabkan oleh dermatofit yang disebut dermatofitosis

1
mengacu pada infeksi superfisial yang disebabkan oleh dermatofit yang
disebut dermatofitosis, dimana dermatomikosis mengacu pada infeksi jamur
(Fitzpatrick, 2008)
Banyak cara untuk mengklasifikasikan jamur superfisial,
tergantung habitat dan pola infeksi. Organisme geofilik berasal dari tanah dan
hanya sesekali menyerang manusia, biasanya melalui kontak langsung
dengan tanah. Infeksi jamur biasanya disebarkan oleh spora yang mana dapat
bertahan hidup untuk satu tahun ataupun lebih pada selimut dan barang-
barang yang terbuat dari kain. Infeksi didapatkan dari organisme
dermatofita yang nantinya menyebabkan proses inflamasi. Microsporum
canis merupakan pathogen umum yang dapat dikultur dari tubuh manusia,
dan bersifat lebih virulen dibandingkan organisme lain yang hidup di tanah
(harijono, 2006)
Latar belakang penulisan referat ini ditujukan untuk
mengetahui pola penyebaran infeksi tinea kapitis. Penyebaran infeksi tinea
kapitis dapat disebarkan oleh spesies zoofilik, geofilik, dan
antropofilik. Spesies zoofilik umumnya ditemukan di tubuh binatang,
tetapi ditransmisikan ke tubuh manusia. Binatang maupun hewan peliharaan
merupakan sumber utama infeksi di daerah perkotaan (contoh: M.canis pada
anjing dan kucing). Transmisi dapat terjadi melalui kontak langsung dengan
binatang yang spesifik atau secara tidak langsung ketika rambut binatang
yang terinfeksi terbawa di baju atau terdapat pada gedung atau makanan yang
terkontaminasi. Daerah yang terekspos seperti kulit kepala, jenggot, muka,
dan tangan merupakan daerah favorit untuk organisme jamur tersebut
Dermatofita yang meradang biasanya disebabkan oleh infeksi yang
disebabkan organisme zoofilik (Djuanda, 2002)
Spesies antropofilik merupakan organisme yang sudah beradaptasi
terhadap manusia sebagai host-nya. Tidak seperti zoofilik sporadik dan
infeksi zoofilik, spesies antropofilik lebih endemis di lingkungan. Mereka
ditransmisikan dari orang ke orang melalui kontak langsung. Infeksi

2
yang disebabkan olehspesies antropofilik dapat bervariasi mulai dari yang
asimtomatik sampai yangmempunyai tingkat virulensi tinggi (Sukanto, 2005).

1.2 Morfologi
Menurut (Fardias 1992) Spesies dermatofit umumnya dapat sebagai
penyebab,kecuali E.floccosum, T.concentricum dan T.mentagrophytesva
.interdigitale (T.interdigitale) yang semuanya jamur antropofilik tidak
menyebabkan tinea kapitis dan T.Rubrum jarang. Tinea kapitis disebabkan
oleh trychopphyt canis T. Tonsurans ditularkan melalui kontak antara anak
dengan anak yang dapat menyerang batang rambut yang menyebabkan
kerontokkan secara klinis yang akan dijumpai sebuah atau beberapa bercagak
yang budar, berwarna kemudian rambut menjadi rapuh dan patah atau didekat
sehingga meninggalkan bercak bercak kebotakan. Tiap negara dan daerah
berbeda-beda untuk spesies penyebab tinea kapitis , juga perubahan waktu
dapat ada spesies baru karena penduduk migrasi. Spesies antropofilik (yang
hidup di manusia) sebagai penyebab yang predominan.

Menurut (Harjadi,1990) Berdasarkan gambaran klinisnya, tinea kapitis


dapat dibagi menjadi sebagai berikut :
1. Gray pacth ring worm
Penyakit ini dimulai dengan papel merah kecil yang melebar
kesekitarnya dan membentuk bercak yang berwarna pucat dan bersisik.
Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak mengkilat lagi dan mudah patah
dan terlepas dari akarnya, sehingga menimbulkan alopesia setempat.
Dengan pemeriksaan dengan sinar wood tampak flourisensi kekuning-
kuningan pada rambut yang sakit melalui batas gray pacth tersebut. Jenis
ini biasanya disebabkan spesies mikrosporon dan trikofiton.
2. Black dot ring worm
Terutama disebabkan oleh trikofiton tonsuran, T.Violaseum dan
T.Mentagrofites. Infeksi jamur terjadi dalam rambut (endotrik) atau diluar
rambut atau (ektotrik) yang menyebabkan rambut putus tepat pada

3
permukaan kulit kepala. Ujung rambut tampak sebagai titik-titik hitam
diatas permukaan kulit yang bewarna kelabu, sehingga tampak sebagai
gambaran black dot. Biasanya bentuk ini terdapat pada orang dewasa
dan sering terjadi pada wanita. Rambut sekitar lesi juga jadi tidak
bercahaya lagi disebabkan kemungkinan sudah terkena infeksi.
3. Kerion
Bentuk ini adalah bentuk yang serius, karena disertai radang yang
hebat yang bersifat lokal, sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul
kecil yang berkelompok dan kadang-kadang ditutupi sisik-sisik tebal.
Rambut di daerah ini putus-putus dan mudah dicabut. Bila kerion ini
menyembuh akan meninggalkan suatu daerah yang botak permanen oleh
karena terjadi sikatrik. Bentuk ini disebabkan oleh mikrosporon kanis,
M.gipseum , trikofiton tonsuran dan T.Violaseum.
4. Tinea favosa
Kelainan dikepala dimulai dengan bintik-bintik kecil dibawah kulit
yang bewarna merah kekuningan dan berkembangan menjadi krusta yang
berbentuk cawan (skutula), serta memberi bau busuk seperti bau tikus
moussy odor. Rambut diatas skutula putus-putus dan mudah lepas dan
tidak mengikat lagi Bila menyembuh akan meninggalkan jaringan parut
dan alopesia yang permanen. Penyebab utamanya adalah trikofiton
schoenleini, T.violaseum, dan T.gipsum. oleh karena tinea kapitis ini
sering menyerupai penyakit-penyakit kulit yang menyerang daerah kepala,
maka penyakit ini harus dibedakan dengan penyakit-penyakit bukan oleh
jamur seperti :Tsoriasis vulgaris Seboroika Trikoti.

4
Microsporum Trichophyton

Epidermophyton

5
1.3 Klasifikasi
Jamur Trichophyton Canis Menurut Ganiswara (2007) Adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Fungi
Divisi :Ascomycota
Kelas :Eurotiomycota
Ordo :Onygenales
Famili :Arthrodermataceae
Genus :Miscrosporum
Spesies :Microsporum Canis

1.4 Epidemiologi

Menurut (Lay dan holowo,1992) Insiden tinea kapitis masih belum


diketahui pasti, tersering di jumpai pada anak-anak 3-14 tahun jarang pada
dewasa, kasus pada dewasa karena infeksi Trychophyton tonsurans dapat
dijumpai misalkan pada pada pasien AIDS dewasa. Transmisi meningkat
dengan berkurangnya hiegiene sanitasi individu, padatnya penduduk, dan
status ekonomi rendah. Insiden tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis di
medan 0,4% (1996-1998), RSCM besar Jakarta 0,61- 0,87% tahun 19989-
1992, Manado 2,2 -6 % (1990-1991) dan Semarang 0,2%. Di Surabaya kasus
baru Tinea kapitis antara tahun 2001 -2006 insiden nya dibandingkan kasus
baru dermatonikosis dipolidermatomikosis URJ kulit dan kelamin RSU Dr.
Soetomo antara 0,31 % -1,55 %. Pasien tinea kapitis terbanyak pada masa
anak-anak < 14 tahun 93,33% anak laki-laki lebih banyak (54,5%)dibanding
anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada
tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan. Spesies
penyebab Microsporum gypseum (geofilik), Microsporum ferrugineum
(antropofilik) dan Trichophyton mentagrophytes (zoofilik yang dijumpai pada
hewan kucing, anjing, sapi, kambing, babi, kuda, binatang pengerat dan kera).

6
1.5 Patogenesis

Dermatofit ektotrik (diluar rambut) infeksinya khas di stratum korneum


perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan dibatang rambut bawah
kutikula 1 dari pertengahan sampai akhir anagen saja sebelum turun ke folikel
rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun
ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan
proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-
hifa pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari sini hifa-hifa
berpolifrasi dan membagi menjadi artrokonidia yang mencapai kortek rambut
dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat
diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh
sekali. Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang tampak pada
rambut yang patah, walaupun hifa intrapilari ada juga. Patogenesis infeksi
endotrik (didalam rambut) sama kecuali kutikula tidak terkena dan
artrokonidia hanya tinggal dalam batang rambut menggantikan keratin
intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya sangat
rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding
folikuler hilang meninggalkan titik hitam kecil (black dot). Infeksi endotrik
juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke
fase telogen(Emha,2007)

1.6 Gejala Klinis


Menurut (Evelin.pearce,2006) Gejala klinis tergantung etiologinya
adalah sebagai berikut :

1. Bentuk non inflamasi, manusia atau epidemik.


Umumnya karena jamur ektotriks antropofilik, M. audouinii di
Amerika dan Eropa namun sekarang jarang atau M. ferrugineum di Asia.
Lesi mula-mula berupa papula kecil yang eritematus, mengelilingi satu
batang rambut yang meluas sentrifugal mengelilingi rambut-rambut
sekitarnya. Biasanya ada skuama, tetapi keradangan minimal. Rambut-

7
rambut pada daerah yang terkena berubah menjadi abu-abu dan kusam
sekunder dibungkus artrokonidia dan patah beberapa milimeter diatas
kepala. Seringkali lesinya tampak satu atau beberapa daerah yang berbatas
jelas pada daerah oksiput atau leher belakangKesembuhan spontan
biasanya terjadi pada infeksiMicrosporum. Ini berhubungan dengan
mulainya masa puber yang terjadi perubahan komposisi sebum dengan
meningkatnya asam lemak-lemak yang fungistatik, bahkan asam lemak
yang berantai medium mempunyai efek fungistatik yang terbesar. Juga
bahan wetting (pembasah) pada shampo merugikan jamur seperti M.
audouinii.

Gambar 1 Gejala Klinis Tinea Kapitis pada kepala penderita


(Krisno,2011)

2. Bentuk inflamasi
Biasanya terlihat pada jamur ektotrik zoofilik (M. canis) atau
geofilik (M.gypseum). Keradangannya mulai dari folikulitis pustula sampai
kerion yaitu pembengkakan yang dipenuhi dengan rambut-rambut yang
patah-patah dan lubang-lubang folikular yang mengandung pus3. Inflamasi
seperti ini sering menimbulkan alopesia yang sikatrik. Lesi keradangan

8
biasanya gatal dan dapat nyeri, limfadenopati servikal, panas badan dan
lesi tambahan pada kulit halus.

Gambar 2 Gejala Klinis Tinea kapitis Jaringan paru yang


menetap pada kepala penderita (Pelczar,1986)

3. Tinea Kapitis black dot/ Black dot Ring Wor


Bentuk ini disebabkan karena jamur endotrik antropofilik, yaituT.
tonsurans atau T. violaceum. Rontok rambut dapat ada atau tidak. Bila ada
kerontokan rambut maka rambut-rambut patah pada permukaan kepala
hingga membentuk gambaran kelompok black dot. Biasanya disertai
skuama yang difus; tetapi keradangannya bervariasi dari minimal sampai
folikulitis pustula atau lesi seperti furunkel sampai kerion. Daerah yang
terkena biasanya.

9
Gambar 3 Gejala Klinis Tinea Kapitis pada kepala penderita (sisi,1993)

1.7 Cara penularan


Menurut (Azman,2006 ) Cara penularan jamur dapat secara langsung
dan secara tidak langsung. Penularan langsung dapat secara
fomitis,epitel,rambut-rambut yang mengandung jamur baik dari manusia,
binatang atau dari tanah.penularan tak langsung dapat melalui tanaman,
kayu yang dihinggapi jamur,barang-barang atau pakaian, debu atau air.
Disamping cara penularan tersebut diatas, untuk timbulnya kelainan-
kelainan dikulit tergantung dari beberapa Faktor :
1. Faktor Virulensi dari dermatofita
Virulensi ini tergantung pada afinitas jamur itu, apakah jamur
Antropofilik, Zoofilik atau Geofilik. Selain afinitas ini masing-masing
jenis jamur ini berbeda pula satu dengan yang lain dalam afinitas
terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya :
Trikofiton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermotofiton
flokosum paling sering menyerang lipat pada bagian dalam
2. Faktor trauma.
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil, lebih susah untuk terserang jamur.

10
3. Faktor- suhu dan kelembaban
Kedua faktor ini sangat jelas berpengaruh terhadap infeksi
jamur, tampak pada lokalisasi atau local, dimana banyak keringat
seperti lipat paha dan sela-sela jari paling sering terserang penyakit
jamur ini
4. Keadaan social serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur di
mana terlihat insiden penyakit jamur pada golongan social dan
ekonomi yang lebih rendah, penyakit ini lebih sering ditemukan
dibanding golongan social dan ekonomi yang lebih baik.
5. Faktor umur dan Jenis kelamin
Penyakit tinea kapitis lebih sering ditemukan pada anak-anak
dibandingkan orang dewasa, dan pada wanita lebih sering ditemukan
infeksi jamur di sela-sela jari dibanding pria dan hal ini banyak
berhubungan dengan pekerjaan. Disamping faktor-fator tadi masih ada
faktor-faktor lain seperti faktor perlindungan tubuh (topi, sepatu, dan
sebagainya), faktor transpirasi serta pemakaian pakian yang serba
nilan, dapat mempermudah penyakit jamur ini.

1.8 Diagnosis
Menurut (Pelczar,1986) Diagnosa ditegakkan berdasarkan gambaran
klinis, pemeriksaan dengan lampu wood dan pemeriksaan mikroskopik
rambut langsung dengan KOH. Pada pemeriksaan mikroskopik akan terlihat
spora di luar rambut ( ektotriks ) atau di dalam rambut ( endotriks ).(4)
Diagnosis laboratorium dari dermatofitosis tergantung pada
pemeriksaan dan kultur dari kikisan lesi. Infeksi pada rambut ditandai dengan
kerusakan yang ditemukan pada pemeriksaan. Lesi dapat dilepaskan dengan
forsep tanpa disertai dengan trauma atau dikumpulkan dengan potongan
potongan yang halus dengan ayakan halus atau sikat gigi.(1)
Sampel rambut terpilih di kultur atau dilembutkan dalam 10 20 %
potassium hydroxide ( KOH ) sebelum pemeriksaan di bawah mikroskop.

11
Pemeriksaan dengan preparat KOH ( KOH mount ) selalu menghasilkan
diagnosa yang tepat adanya infeksi tinea.(1)(3)
Pada pemeriksaan lampu wood didapatlkan infeksi rambut oleh M.
canis, M.ferrugineum, akan memberikan flouresensi cahaya hijau terang
hingga kuning kehijauan. Infeksi rambut oleh T. schoeiileinii akan terlihat
warna hijau pudar atau biru keputihan, dan hifa didapatkan di dalam batang
rambut. Pada rambut sapi T. verrucosum memperlihatkan fluoresensi hijau
tetapi pada manusia tidak berfluoresensi.(1)(6)
Ketika diagnosa ringworm dalam pertimbangan, kulit kepala diperiksa
di bawah lampu wood. Jika fluoresensi rambut yang terinfeksi biasa,
pemeriksaan mikroskopik cahaya dan kultur. Infeksi yang disebabkan oleh
spesies microsporum memberikan fluoresensi warna hijau.(1)

Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan Lampu Wood


Rambut yang tampak dengan jamur M.canis, M. Audouinii dan
M.ferrugineum mem-berikan fluoresen warna hijau terang oleh karena
adanya bahan pteridin. Jamur lain penyebab tinea kapitis pada manusia
memberikan fluoresen negatif artinya warna tetap unguyaitu M.
gypsium dan spesies Trichophyton (kecualiT.Schoenleinii penyebab tinea
favosa memberi fluoresen hijau gelap). Bahan fluoresen diproduksi oleh
jamur yang tumbuh aktif di rambut yang terinfeksi.

12
Gambar 4. Pemeriksaan Menggunakan Lampu wood (Pelczar, 1986)

2. Pemeriksaan sediaan KOH


Kepala dikerok dengan objek glas, atau skalpel no.15. Juga kasa
basah digunakan untuk mengusap kepala, akan ada potongan pendek
patahan rambut atau pangkal rambut dicabut yang ditaruh di objek glas
selain skuama, KOH 20% ditambahkan dan ditutup kaca penutup. Hanya
potongan rambut pada kepalaharus termasuk akar rambut, folikel rambut
dan skuama kulit. Skuama kulit akan terisi hifa dan artrokonidia. Yang
menunjukkan elemen jamur adalah artrokonidia oleh karena rambut-
rambut yang lebih panjang mungkin tidak terinfeksi jamur7. Pada
pemeriksaaan mikroskop akan tampak infeksi rambut ektotrik yaitu
pecahan miselium menjadi konidia sekitar batang rambut atau tepat
dibawah kutikula rambut dengan kerusakan kutikula. Pada infeksi
endotrik, bentukan artrokonidia yang terbentuk karena pecahan miselium
didalam batang rambut tanpa kerusakan kutikula rambut.

13
Gambar 5 Pemeriksaan Tinea kapitis menggunakan KOH
(Pelczar, 1986)

3. Kultur
Memakai swab kapas steril yang dibasahi akua steril dan digosokkan
diatas kepala yang berskuamaatau dengan sikat gigi steril dipakai untuk
menggosok rambut-rambut dan skuama dari daerah luar di kepala, atau
pangkal rambut yang dicabut langsung ke media kultur. Spesimen yang
didapat dioleskan di media Mycosel atau Mycobiotic (Sabourraud dextrose
agar + khloramfenikol + sikloheksimid) atauDermatophyte test
medium (DTM). Perlu 7 10 hari untuk mulai tumbuh jamurnya. Dengan
DTM ada perubahan warna merah pada hari 2-3 oleh karena ada bahan
fenol di medianya, walau belum tumbuh jamurnya berarti jamur dematofit
positif.

14
1.9 Pencegahan
Menurut Gembong (1980), Pencegahan Tinea kapitis adalah
sebagai berikut :
1. Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk
mencegah infeksi pada anak anak lain.
2. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila perlu dikultur
3. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau
topi, handuk, sarung bantal dan lain yang dipakai dikepala.
4. Anak-anak kontak disekolah atau penitipan anak diperiksakan ke
dokter/rumah sakit bila anak-anak terdapat kerontokan rambut yang
disertai skuama. Dapat diperiksa dengan lampu Wood.
5. Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan,
sering perlu 3-6 bulan. Bila ada kerion dapat terjadi beberapa
sikatrik dan alopesia permanen
6. Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk,
boneka dan pakaian pasien, dan sarung bantal pasien dengan air
panas dan sabun atau lebik baik dibuang.
7. Begitu pengobatan dimulai dengan obat anti jamur oral dan
shampo, pasien dapat pergi ke sekolah.
8. Tidak perlu pasien mencukur gundul rambutnya atau memakai
penutup kepala.

1.10 Pengobatan

Menurut(Sailer,2000) Pengobatang dapat di bagi menjadi beberapa


bagian diantaranya terapi medis adalah sebagai berikut :

A. Terapi Utama
Pengobatan yang ideal dan cocok untuk anak-anak adalah sediaan bentuk
likuid, terasa enak, terapi singkat, keamanan yang baik dan sedikit
interaksi antar obat.
1. Tablet Griseofulvin

15
2. Tablet microsize (125, 250, 500mg) 20 mg / Kg BB/hari, 1-2
kali/hari selama 6-12 minggu
3. Tablet ultramicrosize (330mg) 15 mg/Kg BB/hari, 1-2 kali/hari
selama 6-12 minggu
Diminum bersama susu atau es krim oleh karena absorbsinya
dipercepat dengan makanan berlemak
4. Semua baik untuk karena Microsporum maupun Trichophyton.
Pemberian pertama untuk 2 minggu kemudian dilakukan
pemeriksaan lampu Wood, KOH dan kultur.
5. Kapsul Itrakonazol (100 mg) dosis 3-5 mg/Kg BB/hari selama 4-6
minggu.
6. Terapi denyut dosis 5 mg/Kg BB/ hari selama 1 minggu, istirahat 2
minggu/siklus.
7. Tablet Terbinafin (tablet 250 mg).
8. Tablet Flukonazo.
B. Terapi Ajuvan
1. Shampo
Shampo obat berguna untuk mempercepat penyembuhan,
mencegah kekambuhan dan mencegah penularan, serta membuang
skuama dan membasmi spora viabel, diberikan sampai sembuh klinis
dan mikologis.
a. Shampo selenium zulfit 1% 1,8% dipakai 2-3 kali/ minggu
didiamkan 5 menit baru dicuci.
b. Shampo Ketokonazole 1% 2% dipakai 2-3 kali/ minggu
didiamkan 5 menit baru dicuci.
c. Shampo povidine iodine dipakai 2 kali / minggu selama 15 menit.

Setelah menggunakan shampo diatas maka dianjurkan memakai Hair


Conditioner dioleskan dirambutnya dan didiamkan satu menit baru dicuci
air. Hal ini untuk membuat rambut tidak kering. Juga shampo ini dipakai
untuk karier asimptomatik yaitu kontak dekat dengan pasien, seminggu 2

16
kali selama 4 minggu. Karena asimptomatik lebih menyebarkan tinea
kapitis disekolah atau penitipan anak yang kontak dekat dengan karier
daripada anak-anak yang terinfeksi jelas.

C. Terapi Kerion
Pengobatan optimal kerion tidak jelas apakah perlu dengan obat
oral antibiotika dan kortikosteroid sebagai terapi ajuvan dengan
griseofulvin. Beberapa penelitian menyatakan:
a. Kerion lebih cepat kempes dengan kelompok yang menerima griseofulvin
saja.
b. Sedangkan skuama dan gatal lebih cepat bersih / hilang dengan kelompok
yang menerima ke 3 obat yaitu griseofuvin, antibiotika dan kortikosteroid
oral.
c. Kortikosteroid oral mungkin menurunkan insiden sikatrik. Juga
bermanfaat menyembuhkan nyeri dan pembengkakan3,17. Dosis
prednison 1 mg/Kg BB/pagi untuk 10-15 hari pertama terapi.
d. Pemberian antibiotika dapat dipertimbangkan terutama bila dijumpai
banyak krusta.

17