You are on page 1of 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk
mencegah terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi ini bertujuan untuk
menurunkan angka kematian bayi akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi (PD3I), diantaranya tuberculosis, difteri, pertusis, tetanus,
poliomyelitis, campak, dan hepatitis B (Hidayat, 2008).
Dari data terakhir WHO, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa per
tahun akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, misalnya: batuk
rejan 294.000 (20%); tetanus 198.000 (14%), campak 540.000 (38%). Indonesia
sendiri, UNICEF mencatat sekitar 30.000-40.000 anak di Indonesia setiap tahun
meninggal karena serangan campak. Jumlah kasus campak di Provinsi Jawa
Tengah pada tahun 2009 terdapat sebanyak 3.614 kasus. Ini berarti setiap dua
puluh menit seorang anak Indonesia meninggal karena campak (IDAI, 2010).
Departemen Kesehatan RI telah mencanangkan Pengembangan Program
Imunisasi (PPI) secara resmi pada tahun 1997, yang menganjurkan agar semua
anak diimunisasi enam macam penyakit yaitu difteri, pertusis, tetanus,
tuberkulosis, polio, campak. Tahun 1991/1992, Departemen Kesehatan RI telah
mulai mengembangkan program imunisasi hepatitis B dengan
mengintegrasikannya ke dalam program imunisasi rutin yang telah ada di empat
propinsi yaitu Nusa Tenggara Barat, Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa
Timur, yang terus dikembangkan ke propinsi lainnya dan akhirnya pada tahun
1997/1998 imunisasi hepatitis B sudah dapat menjangkau seluruh bayi di
Indonesia (Depkes RI, 2008).
Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari kuman atau virus yang menjadi
penyebab penyakit yang bersangkutan, yang telah dilemahkan atau dimatikan
atau diambil sebagian atau tiruan dari kuman penyebab penyakit, yang sengaja
dimasukkan ke dalam tubuh seseorang atau kelompok orang yang bertujuan
untuk merangsang timbulnya zat anti penyakit tertentu pada orang-orang
tersebut. Melalui studi yang mendalam vaksin dianggap menjadi alat yang paling
efektif (Hidayat, 2008). Jenis atau macam imunisasi vaksin yang wajib pada
anak antara lain BCG, DPT/ DT, polio, campak/ measles, hepatitis A dan B,
typhoid dan paratyphoid dan varisella atau cacar air (CPDDI, 2008).
Penyakit campak secara klinik dikenal dengan memiliki 3 stadium yaitu
stadium kataral, stadium erupsi (keluar bercak-bercak) dan stadium
konvalesensi. Penyebab penyakit campak adalah virus yang masuk ke dalam
genus Morbillivirus dan keluarga Paramyxoviridae. Penyakit ini merupakan
penyakit yang bersifat akut dan menular lewat udara melalui system pernafasan,
terutama percikan ludah (cairan yang keluar ketika seseorang bersin, batuk atau
berbicara) seorang penderita (Hidayat, 2008).

B. Rumusan Masalah
1) Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan kebidanan balita pada An. S dengan imunisasi
campak dengan menggunakan tujuh langkah varney secara komprehensif.
2) Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian data baik data subyektif maupun obyektif pada
By. S dengan imunisasi campak di Puskesmas Timika.
b. Dapat membuat interpretasi data dengan tepat pada pada By. S dengan imunisasi
campak di Puskesmas Timika.
c. Dapat menentukan diagnosa/masalah potensial dan
antisipasi pada By. Sdengan imunisasi campak di Puskesmas Timika.
d. Dapat menentukan tindakan segera yang tepat untuk pada By. S dengan imunisasi
campak di Puskesmas Timika
e. Dapat membuat perencanaan tindakan yang tepat untuk pada By. S dengan
imunisasi campak di PuskesmasTimika
f. Dapat melaksanakan rencana tindakan yang telah dibuat dengan baik
padaBy. S dengan imunisasi campak di Puskesmas Timika.
g. Dapat melakuakn evaluasi dari tindakan yang telah dilakukan dari awal sampai
akhir pada By. S dengan imunisasi campak di Puskesmas Timika.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Imunisasi
1. Pengertian Imunisasi
a. Pengertian Imunisasi secara Umum
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan
anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat
zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi
ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian bayi akibat Penyakit
yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) diantaranya
tuberculosis, difteri, pertusis, tetanus, poliomyelitis, campak, dan
hepatitis B (Hidayat, 2008).
b. Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah suatu pemindahan atau transfer antibodi secara
pasif, sedangkan istilah vaksinasi dimaksudkan sebagai pemberian vaksin
(antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari
sistem imun di dalam imunitas (Achmadi, 2006).
c. Tujuan Imunisasi
Tujuan imunisai adalah agar anak menjadi kebal terhadap penyakit,
sehingga dapat menurunkan angka morbilitas dan mortalitas, serta dapat
mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi. (Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008)
d. Macam-macam Imunisasi
Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan pada
semua orang, terutama bayi dan anak untuk melindungi tubuhnya dari
penyakit yang berbahaya
1) BCG
Perlindungan penyakit TBC (Tuberkolosis), penyebab bakteri
Bacillus Calmette Guerrin, kandungannya adalah Bacillus Calmette-
Guerrin yang telah dilemahkan.
2) DPT/DT
Perlindungan penyakit difteri (infeksi tenggorokan), pertusis (batuk
rejan) dan tetanus (kaku rahang), penyebab bakteri difteri, pertusis
dan tetanus.
3) Polio
Perlindungan penyakit poliomielitis/ polio (lumpuh layu) yang
menyebabkan nyeri otot, lumpuh dan kematian.
4) Campak/Measles
Perlindungan penyakit campak/tampek, efek samping yang mungkin
terjadi adalah demam, ruam kulit dan diare.
5) Hepatitis
Perlindungan penyakit infeksi hati atau kanker hati yang mematikan.
e. Jadwal Pemberian Imunisasi

B. Imunisasi Campak
1. Pengertian Imunisasi Campak
Imunisasi campak adalah cara untuk meningkatkan kekebalan seorang
secara aktif terhadap virus campak sehingga bila kelak ia terpajan pada
antigen yang sesuai serupa tidak terjadi penyakit (Hidayat, 2008).
2. Efek Samping
Efek samping setelah pemberian imunisasi campak
a. Demam ringan > 39, 50C, biasanyan setelah hari ke 5 6 selama 2 hari.
b. Diare
c. Ruam setelah 7-12 hari pasca imunisasi, dan berlangsung selama 2-4
hari.
d. Kemerahan selama 3 hari.
3. Diagnosis Penyakit Campak
Diagnosis kasus campak dibuat atas dasar kelompok gejala klinik yang
sering berkaitan, yaitu conza dan mata radang disertai batuk dan demam
yang tinggi beberapa hari diikuti ruam mukopopular pada kulit yang
memiliki ciri khas. Ruam timbul diawali dari belakang telinga kemudian
menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan dan kaki bersamaan dengan
meningkatnya suhu tubuh. Pada stadium prodromal dapat ditemukan enatem
di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomosis penyakit campak yaitu
bercak koplik. Pada saat penyembuhan, ruam merah menghitam dan
selanjutnya mengelupas.

C. TEORI MANAJEMEN KEBIDANAN 7 LANGKAH VARNEY


Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi
tanggung jawab bidan dalam memberi pelayanan kepada klien yang mempunyai
kebutuhan masalah kesehatan ibu di masa hamil, persalinan, nifas, seletah lahir,
serta keluarga berencana (Varney, 2007).
Manajemen kebidanan adalah proses pemesahan masalah yang digunakan
sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang
logis untuk pengambilan sutu keputusan yang berfokus pada klien (Varney,
2007). Manajemen kebidanan menurut Varney terdiri dari 7 langkah yaitu
pengkajian, interpretasi data, identifikasi, diagnosa potensial, antisipasi,
penyusunan rencana, pelaksanaan rencana asuhan secara efisien dan aman
kemudian evalusi.
1. Langkah I : PENGKAJIAN
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat
dari semua yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data
dapat dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik sesuai dengan
kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus dan
pemeriksaan penunjang.
Langkah ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah
berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi
akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap
selanjtnya, sehingga dalam pendekatan ini harus yang komprehensif meliputi
data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat
menggambarkan kondisi/masalah klien yang sebenarnya.

2. Langkah II : INTERPRETASI DATA


Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat
merumuskan diagnosa atau masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan
masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefenisikan
seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan. Masalah sering
berkaitan dengan hasil pengkajian.

3. Langkag III : IDENTIFIKASI DIAGNOSA ATAU MASALAH


POTENSIAL
Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa
potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah
diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan
dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap
mencegah diagnosis/masalah potensial ini menjadi kenyataan.

4. Langkah IV : IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN


PENANGANAN SEGERA
Mengantisipasi perlunya tindakan segera oleh bidan dan/dokter untuk
konsultasi atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan proses manajemen
kebidanan. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap
klien untuk menentukan kepada siapa sebaiknya konsultasi dan kolaborasi
dilakukan.

5. Langkah V : PERENCANAAN ASUHAN YANG MENYELURUH


Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang
sudah teridentifikasi dari kondisi/masalah klien, tapi juga dari kerangka
pedoman antisipasi terhadap klien tersebut, apakah kebutuhan perlu
konseling, penyuluhan dan apakah pasien perlu dirujuk karena ada masalah-
masalah yang berkaitan dengan masalah kesehatan lain.
Pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan
sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama klien dan keluarga,
kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.

6. Langkah VI : PELAKSANAAN RENCANA ASUHAN


Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan
efisiensi dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan
atau sebagian dikerjan oleh klien atau petugas kesehatan lainnya.

7. Langkah VII : EVALUASI


Melakukan evaluasi hasil dari asuhan yang telah diberikan meliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi
sesuai dengan diagnosa/masalah.
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA USIA 1 Tahun 7 Bulan

DENGAN IMUNISASI CAMPAK BOOSTER

I. Pengkajian Data
Tanggal : 16 Mei 2017 Jam : 09.00 WIT
Oleh : Mhs. Kelompok 8
Tempat/ruang: PKM. Timika/ Poli Imunisasi
A. Data subyektif.
1. Biodata
Bayi / Anak
Nama : An. M
Umur : 1,7 tahun
Tgl / jam lahir : 18 November 2015/ 20.15 WIT
Jenis kelamin : Perempuan

2. Orang Tua
Nama Ibu : Ny. L Nama Suami : Tn. R
Umur : 21 thn Umur : 22 tahun
Suku / Bangsa : Ambon/ Indonesia Suku / Bangsa : Ambon/Indonesia
Agama : Kristen Protestan Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta Pekerjaan : tidak bekerja
Alamat : Jl. Kebun Sirih

3. Alasan Kunjungan
Ibu mengatakan ingin memantau perkembangan anaknya.
Ibu mengatakan ingin mengimunisasikan anaknya.

4. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan yang lalu : ibu mengatakan anaknya baru sembuh
dari demam 1 hari yang lalu.

b) Riwayat kesehatan masa lalu :


1) Prenatal Care
Tempat/ Frekuensi ANC : Pkm. Timika/3x
Penyakit penyerta kehamilan : tidak ada
Imunisasi saat ANC :Tetanus Toxoid, frekuensi : 2x
2) Natal
Tempat persalinan : Pkm. Timika
Penolong : Bidan
Cara persalinan : Normal
Komplikasi : tidak ada
3) Post Natal
Kondisi bayi waktu lahir(A/S) : 8/9
Berat badan : 2500gram
Panjang badan : 49 cm
LIKA : 33 cm
LIDA : 34 cm

5. Riwayat Imunisasi
No. Jenis Umur
Imunisasi 0-1 bln 2 bln 3 bln 4 bln 5-8 bln 9-11 bln
1. HB0 18/11/15
2. BCG 09/12/15
3. Polio 09/12/15 19/01/16 12/05/16 13/06/16
4. DPT HB hib 19/01/16 12/05/16 13/06/16
5. Campak 15/09/16

6. Riwayat Tumbuh Kembang


a. Pertumbuhan fisik
Berat Badan : 9,4 kg
Panjang badan : 62 cm
LILA : 15,9cm
LIDA : 43,7 cm
LIKA : 44 cm
b. Perkembangan
Umur anak : 1 tahun 5 bulan
Kemampuan gerak kasar : anak dapat berdiri, berjalan, dan berlari
Kemampuan gerak halus : anak sudah dapat menyusun mainannya
Kemampuan bicara, bahasa dan kecerdasan: anak sudah dapat
menyebutkan 1-2 kata
Kemampuan bergaul dan kemandirian : anak sudah bisa makan sendiri

7. Riwayat nutrisi
a. Bayi pertama kali mendapat ASI dengan cara : menetek langsung pada
ibunya
b. Apakah masih menetek : anak sudah tidak menetek
c. Berapa banyak mendapat ASI : sesuka bayi dan tidak dibatasi
d. Apakah sudah diberikan MPASI : anak sudah mendapatkan
MPASI
e. Kapan mulai pemberian makanan tersebut : pada usia 7 bulan
f. Jenis makanan apa yang sudah diberikan : bubur, sayur dan ikan
g. Berapa kali sehari dapat makanan tambahan : 2 kali sehari
8. Riwayat psikososial
a. Anak ke : satu
b. Hubungan ayah dan ibu : baik
c. Hubungan ayah dan anak : baik
d. Hubungan ibu dan anak : baik
e. Pola interaksi : baik

9. Aktifitas sehari-hari
a. Nutrisi
Frekuensi : makan 2x/hari, minum 7-8 gelas/hari
Jenis : bubur, sayur dan ikan
Pantangan : tidak ada
Alergi : tidak ada
Yang memberi : ibu
Masalah, upaya mengatasi: tidak ada
b. Istirahat
Berapa lama tidur sehari : 12-13 jam
Tidur siang : 2-3 jam
Tidur malam : 10 jam
Apakah yang bisa membuat tidur : nyanyian ibunya
c. Personal hygiene
Mandi : 2x sehari
Cuci rambut : 3-4x / mgg
Ganti baju : 3-4x/hari
Pemahaman orang tua : ibu mengatakan anaknya sering
diganti bajunya apabila sudah basah karena keringat.
d. Eliminasi
1) BAB
Frekuensi : 2x/ hari
Bau : khas feses
Warna : coklat
Konsistensi : lunak
Keluhan :tidak ada
2) BAK
Frekuensi : tidak diketahui karena masih menggunakan
popok
Bau : khas urin
Warna : kuning jernih
Keluhan : tidak ada
e. Pola ketergantungan : masih dimandikan orang tuanya.
B. Data Obyektif
a. Pemeriksaan umum
1. Keadaan Umum : lemah
2. Kesadaran : comprehensif
3. TTV
Suhu : 37,8 oC
Nadi : 99 x/m
Respirasi : 34 x/m

b. Antropometri
Berat badan : 10,7 kg
Tinggi badan : 62 cm
Lingkar lengan atas : 15,9 cm
Lingkar kepala : 44 cm
Lingkar dada : 43,7 cm

c. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Kepala : bersih, rambut hitam lurus.
Wajah : kemerahan, tidak ada odema
Mata : conjungtiva sedikit pucat.
Hidung :tidak ada polip, tidak ada cairan abnormal.
Mulut :tidak ada sariawan, bersih, tidak ada karies.
Gigi : seri atas 4 buah, seri bawah 4 buah, geraham atas 2
buah, geraham bawah 2 buah.
Telinga : simetris, tidak ada cairan yang abnormal
Perut : tidak ada kembung.
Genitalia : tidak dilakukan
Ekstremitas: simetris atas bawah.
2. Palpasi
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Kulit :turgor baik
Perut :tidak ada kembung
3. Auskultasi
Dada : tidak dilakukan
Perut : tidak dilakukan
4. Perkusi
Ekstemitas : tidak dilakukan
d. Pemeriksaan Penunjang : tidak dilakukan.
II. INTERPRETASI DATA DASAR
Diagnosa : An. M umur 1 tahun 7 bulan dengan imunisasi
campak boster.
Data subyektif :
Ibu mengatakan anaknya lahir tanggal 18 November 2015
Ibu mengatakan ingin mengimunisasikan campak anaknya.
Ibu mengatakan anaknya baru sembuh dari sakit demam 1 hari
yang lalu.
Data obyektif :
Keadaan umum : lemah
Kesadaran :comprehensive
Hasil TTV : Suhu: 37,8 oC, Nadi:99 x/m, Respirasi:34 x/m
Hasil antropometri: Berat badan : 10,7 kg, Tinggi badan: 62 cm,
Lingkar lengan atas: 15,9 cm, Lingkar kepala : 44 cm, Lingkar
dada: 43,7 cm
Muka agak kemerahan
Hidung: Hidung simetris, bersih dan tidak ada benjolan.
Kulit: Bersih, tugor baik
Masalah : baru sembuh dari sakit.
Kebutuhan : istirahat untuk memperbaiki KU.

III. DIAGNOSA MASALAH POTENSIAL


An. M umur 1,7 tahun dengan kebutuhan istirahat untuk memperbaiki
KU sebelum pemberian imunisasi campak booster.

IV. TINDAKAN SEGERA


Mandiri : memberikan obat paracetamol untuk menurunkan panas.

V. INTERVENSI
Tanggal: 16 Mei 2017 Pukul: 09.00 WIT
1. Beritahu kepada ibu tentang keadaan anaknya
R/ agar ibu mengetahui keadaan anaknya.
2. Beritahu ibu tentang pentingnya imunisasi campak
R/ agar ibu mengerti dan mengetahui tentang imunisasi campak.
3. Beritahu ibu tentang efek samping dari imunisasi campak
R/ agar jika terjadi masalah ibu dapat memahami bahwa keadaan
anaknya normal.
4. Beritahu ibu bahwa keadaan anaknya tidak diizinkan untuk diberikan
imunisasi campak
R/ Karena jika diberikan imunisasi campak akan menambah buruk
keadaan anaknya.
5. Berikan obat penurun panas
R/ untuk menurunkan panas dan mengurangi rasa nyeri
6. Beritahu cara minum obat penurun panas
R/ agar ibu tidak salah dalam pemberian obat
7. Beritahu ibu apabila keadaan anaknya tidak kunjung membaik setelah
diberikan obat segera datang ke petugas kesehatan
R/ untuk mencegah terjadinya masalah yang tidak diinginkan
8. Jadwalkan kunjungan ulang
R/ agar ibu tidak lupa untuk datang ke posyandu

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal: 16 Mei 2017 Pukul: 09.00 WIT
1. Memberitahu kepada ibu tentang keadaan anaknya
TTV : Suhu: 37,8 oC, Nadi:99 x/m, Respirasi:34 x/m
Antropometri : Berat badan : 10,7 kg, Tinggi badan: 62 cm
2. Memberitahu ibu tentang pentingnya imunisasi campak, dengan
imunisasi campak dapat mencegah adanya penyakit campak
3. Memberitahu ibu tentang efek samping dari imunisasi campak, efek
samping yaitu bisa terjadi demam, bekas suntikan bisa ruam
kemerahan, kebiruan dan bengkak.
4. Memberitahu ibu bahwa keadaan anaknya tidak diizinkan untuk
diberikan imunisasi campak karena dapat memperburuk keadaan
anaknya.
5. Memberikan obat penurun panas dilakukan untuk menurunkan
demam pada anak dan mengurangi rasa nyeri.
6. Memberitahu cara minum obat penurun panas agar ibu memberikan
obat sesuai dengan 3T (tepat waktu, tepat obat, tepat pasien)
7. Memberitahu ibu apabila keadaan anaknya tidak kunjung membaik
setelah diberikan obat segera datang ke petugas kesehatan adalah cara
agar mencegah terjadinya komplikasi lanjutan
8. Menjadwalkan kunjungan ulang adalah cara untuk mengingatkan ibu
agar memantau perkembangan anaknya dan guna memberikan
imunisasi campak booster

VII. EVALUASI
Tanggal: 16 Mei 2017 Pukul: 09.05 WIT
1. Ibu sudah mengerti dengan keadaan anaknya
2. Ibu sudah memahami pentingnya pentingnya imunisasi campak
booster
3. Ibu sudah mengerti tentang efek samping pemberian imunisasi
campak booster
4. Ibu mengerti alasan kenapa anaknya tidak diimunisasikan
5. Ibu bersedia memberikan obat penurun panas pada anaknya.
6. Ibu mengerti cara pemberian obat penurun panas
7. Ibu mengerti dan akan membawa anaknya jika keadaan anaknya tidak
membaik
8. Ibu bersedia akan melakukan kunjungan ulang