You are on page 1of 11

SATUAN ACARA BERMAIN PUZZLE

PADA ANAK DI RUANG MELATI


RSUD DR. SOEDONO MADIUN

DISUSUN OLEH KELOMPOK 12 :


1. Siti Indah Nurhavivah
2. Umi Kholipah
3. Erivia Eka Puspitasari
4. Alif Fajariyanto Nurfauzan

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES PEMKAB JOMBANG
TAHUN 2017/2018
LEMBAR PENGESAHAN

Satuan acara bermain puzzle di ruang melati RSUD DR.SOEDONO


MADIUN sesuai praktek yang dilakukan oleh kelompok 12 :
Nama Anggota :
1. Siti Indah Nurhavivah
2. Umi Kholipah
3. Erivia Eka Puspitasari
4. Alif Fajariyanto Nurfauzan
Program Studi : Pendidikan Profesi Ners
Semester : Satu ( 1 )
Sebagai pemenuhan tugas praktek Pendidikan Profesi Ners STIKES
PEMKAB JOMBANG yang dilaksanakan pada tanggal 16 s/d 28 Oktober 2017
telah disetujui dan disahkan pada:
Hari :
Tanggal :

Madiun, Oktober 2017

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

( ) ( )

Mengetahui,
Kepala Ruangan

( )
SATUAN ACARA BERMAIN

Topik : Terapi bermain pada anak di rumah sakit


Sub topik : Bermain puzzle
Sasaran : Pasien ruang melati RSUD dr.Soedono Madiun
Tempat : Ruang melati RSUD dr.Soedono Madiun
Hari/Tanggal :
Waktu : 1 x 30 menit

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mendapat terapi bermain selama 30 menit, anak diharapkan bisa
merasa tenang selama perawatan dirumah sakit dan tidak takut lagi terhadap
perawat sehingga anak bisa merasa nyaman selama dirawat di rumah sakit.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali diharapkan :
1. Anak merasa tenang selama dirawat
2. Anak bisa merasa senang dan tidak takut lagi dengan dokter dan perawat
3. Mau melaksanakan anjuran dokter dan perawat
4. Anak menjadi kooperatif pada perawat dan tindakan keperawatan
5. Kebutuhan bermain anak dapat terpenuhi
6. Dapat melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal
7. Dapat mengekspresikan keinginan, perasaan dan fantasi anak tentang
suatu permainan
8. Dapat mengembangkan kreativitas melalui pengalaman bermain yang
tepat
9. Agar anak dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena sakit
10. Anak dapat merasakan suasana yang nyaman dan aman seperti dirumah
sebagai alat komunikasi antara perawat klien

III. SASARAN
Pasien diruang melati RSUD dr.Soedono Madiun

IV. MATERI (terlampir)


1. Pokok bahasan : terapi bermain
2. Sub pokok bahasan :
a. Pengertian ispa
b. Penyebab ispa
c. Jenis-jenis ispa
d. Akibat ispa
e. Cara mengatasi ispa
f. Penanganan ispa

V. METODE
Bermain

VI. MEDIA
Puzzle (bongkar pasang)

VII. KEGIATAN PENYULUHAN


SUSUNAN ACARA PENYULUHAN
No Kegiatan Waktu Subjek terapi
1 Persiapan : 10 menit Ruangan, alat, anak dan
1. Menyiapkan ruangan
keluarga siap
2. Menyiapkan alat alat
3. Menyiapkan anak dan
keluarga
2 Proses : 18 menit Menjawab salam,
1. Membuka proses terapi
memperkenalkan diri,
dengan mengucapkan
memperhatikan
salam, memperkenalkan diri
2. Menjelaskan pada anak dan
Bermain bersama dengan
keluarga tentang tujuan dan
antusias dan mengungkapkan
manfaat bermain,
menjelaskan cara permainan perasaannya
3. Mengajak anak bermain
4. Mengevaluasi respon anak
dan keluarga
3 Penutup 2 menit Memperhatikan dan
1. Menutup dan mengucapkan
menjawab salam
salam

VIII. KRITERIA EVALUASI


1. Evaluasi Struktur
Peserta hadir ditempat
Penyelenggaraan terapi bermain dilaksanakan di ruang melati
RSUD dr. Soedono Madiun
Pengorganisasian penyelenggaraan terapi bermain dilakukan
sebelumnya
2. Evaluasi Proses
Peserta antusias terhadap terapi bermain
Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat

MATERI
A. PENGERTIAN BERMAIN
Menurut Foster (1989) mengatakan bahwa bermain adalah kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri untuk memperoleh kesenangan.
B. KLASIFIKASI BERMAIN
Menurut isinya, bermain terbagi menjadi;
1. Social affective play
Pada social affectif play, anak belajar memberi respon terhadap respon yang
diberikan lingkungan terhadapnya dalam bentuk permainan, misalnya orang tua
berbicara atau memanjakan dan anak tertawa senang.
2. Sense of pleasure play
Anak memperoleh kesenangan dari satu obyek yang ada di sekitarnya misalny
bermain air atau pasir.
3. Skill Play
Permainan yang memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh
keterampilan tertentu misalnya mengendarai sepeda..
4. Dramatic play
Anak akan berfantasi menjalankan peran tertentu, misalnya menjadi ibu, perawat
atau guru.
Menurut Karakter Sosial, bermain terdiri dari:
1. Solitary Play
Dilakukan anak usia toddler dimana anak bermain sendiri walaupun ada orang
lain yang berada di sekitarnya.
2. Parallel Play
Permainan sejenis dilakukan oleh satu kelompok anak toddler atau preschool yang
masing-masing mempunyai mainan yang sama tetapi antara satu dengan yang lain
tidak ada interaksi dan tidak saling tergantung.
3. Assosiative Play
Anak bermain dalam kelompok dengan aktivitas yang sama, tetapi belum
terorganisasi dengan baik jadi belum ada pembagian tugas dan mereka bermain
sesuai dengan keinginannya.
4. Cooperative Paly
Anak bermain bersama dengan jenis permainan yang terorganisasi, terencana, dan
ada aturan-aturan tertentu yang dilakukan oleh anak usia sekolah atau
adolescence.
FUNGSI BERMAIN
1. Perkembangan Sensory Mototic
Permainan yang aktif dengan menggunakan suatu obyek adalah penting untuk
perkembangan otot-otot gerak.
2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan ini diperoleh dengan melakukan eksplorasi dan manipulasi benda-
benda di sekitarnya baik dalam hal warna bentuk, ukuran dan pentingnya benda
tersebut. Anak juga belajar bagaimana menggunakannya, menghubungkan kata-
kata dengan objek atau benda tersebut dan mengembangkan pengertian tentang
konsep yang abstrak misalnya atas, bawah, di bawah dan di atas.
3. Perkembangan kreativitas
Anak dapat melakukan percobaan tentang ide mereka dalam permainan melalui
semua media. Kreativitas terutama diperoleh sebagai hasil permainan solitary dan
group.
4. Perkembangan social
Dengan bermain anak belajar berinteraksi dengan orang lain dan mempelajari
peran dalam kelompok.
5. Perkembangan Kesadaran Diri
Anak belajar memahami kemampuan dirinya, kelemahannya dan tingkah lakunya
terhadap orang lain
6. Perkembangan Moral
Dengan bermain, anak akan bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkan,
karenanya anak akan menyesuaikan dengan aturan-aturan kelompok dan bersikap
jujur terhadap kelompok
7. Terapi
Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan perasaan
yang tidak enak misalnya marah, benci, kesal atau takut.
8. komunikasi
Bermain merupakan alat komunikasi terutama anak yang belum dapat menyatakan
perasaannya secara verbal misalnya melukis, menggambar atau bermain peran
KARAKTERISTIK BERMAIN SESUAI TAHAP PERKEMBANGAN
Adapun jenis permainan yang dapat diberikan kepada anak berdasarkan
tingkat usia adalah sebagai berikut;
1. Bayi (1 bulan)
Permainan yang dapat dilihat dalam jarak dekat misalnya dengan benda
yang terang/menyolok. Berbicara dengan bayi, menyanyi, atau bercanda dapat
merangsang pendengaran. Secara tactile dilakukan denagn memeluk dan
menggendong (memberi kehangatan). Secara kinetic permainan dapat dilakukan
dengan mengajak atau naik kereta untuk jalan-jalan.
2. Bayi (2 3 bulan)
Permainan visual dapat dilakukan dengan memasang gambar-gambar di
dinding. Untuk merangsang auditori dapat dilakukan berbicara dengan bayi,
mainan bunyi-bunyian atau mengikutsertakan bayi dalam pertemuan keluarga.
Secara tactile permainan dapat dilakukan dengan membelai pada waktu
memandikan, mengganti pakaian atau menyisir rambut. Sedangkan secara kinetic
yaitu dengan mengajak naik kereta atau gerakan-gerakan berenang pada saat
mandi.
3. Bayi (4 6 bulan)
Permainan visual dapat dilakukan dengan memberi cermin, mengajak
nonton tv, atau mainan yang berwarna terang. Permainan auditori dengan
mengajak bicara, mengulangi suara-suara yang dibuatnya atau memanggil nama.
Secara tactile anak bdiberi mainan dengan berbagai teksture baik lembut maupun
lancer. Secara kinetic dilakukan dengan membantu anak untuk tengkurap dan
menyokong waktu duduk.
4. Bayi (6 9 bulan)
Permanan visual dengan bermain warna gelap, berbicara sendiri di depan
kaca, permainan cilukba atau merobek-robek kertas. Permainan auditori dapat
dilakukan dengan mengajari anak memanggil nama, diajarkan tepuk tangan.
Tactile permainan dapat dilakukan dengan cara meraba bermacam-macam
teksture dan ukuran, main air yang mengalir atau berenang.
5. Bayi (9 12 bulan)
Permainan visual anak diperlihatkan gambar-gambar dalam buku atau
mengajak jalan-jalan. Permainan auditori dengan menunjukkan bagian-bagian
tubuh atau memperkenalkan suara-suara binatang. Secara tactile dengan memberi
makanan yang dapat dipegang atau memperkenalakan benda dingin atau panas.
Secara kinetic dapat diberikan mainan yang dapat ditarik atau didorong.
6. Toddler (2 3 tahun)
Karekteristik bermain anak usia ini yaitu paralel play, sering kali
bertengkar memperebutkan mainan. Pada usia ini anak mulai menyenangi musik
atau irama , melempar, mendorong atau mengambil sesuatu.
7. Preschool (3 5 tahun )
Karekteristik permaiana preschool adalah assosiatif play, dramatic play
dan skill play. Anak sudah dapat melompat, berlari atau main sepeda.
8. Usia Sekolah (6 12 tahun)
Anak dapat bermain dengan kelompok yang berjenis kelamin sama dan
dapat belajar untuk independent, kooperatif, bersaing atau menerima orang lain
dan tingkah laku yang diterima. Karekteristik permaianannya adalah kooperatif
play dan anak laki-laki sifatnya mechanical sedangkan anak wanita mothers rool.
9. Adolescent (3 18 tahun)
Anak bermain dalam kelompok misalnya sepak bola, basket, badminton,
mendengar musik, nonton tv serta membaca buku.

Kesimpulan
Anak berkumpul di ruang 7B. Leader dan co leader berada diantara anak-
anak yang lain. Fasilitator membagikan permainan berupa puzzle. Observer
berada diantara anak sambil mengamati jalannya proses bermain. Dengan adanya
proses bermain anak akan senang sehingga akan mengurangi sterss hospitalisasi.
Dengan adanya proses bermain juga akan membantu kasus kesembuhan penyakit
dan membantu proses tumbuh kembang anak.

Evaluasi:
Hasil permainan sesuai dengan harapan kelompok yaitu anak merasa
senang dengan terapi bermain,mengurangi sterss hospitalisasi pada balita.
Walaupun dalam kondisi sakit balita mampu beramain sesuai dengan
perkembangan usia. Dari terapi bermain yang telah dilakukan ada hasil atau
pengaruhnya terhadap balita yaitu peserta terapi bermain tidak ada yang
mengalami keterlambatan perkembangan,.

DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN

NO. NAMA PESERTA ALAMAT TTD


Madiun, Agustus 2017

Pembimbing Ruangan

( )